Angst · fluff · FluffyAngst · Friendship · General · One Shoot · Romance

No More (Happy Birthday Jun Hyung!)


IMG_20141220_232246

Title: No More (Happy Birthday Jun Hyung!)

Author: ts_sora

Cast: Beast’s Yong Jun Hyung

Length: oneshoot

Genre: FluffyAngst

Disclaimer: This belongs to me and the casts belong theur entertainment company. This is mine. No plagiarism juseyoo

A/N: Happy Birthday Jun Hyung oppa! XD kepikiran buat ini, karena hari ulang tahunnya. Maaf inti cerita bukan kenyataan, bila ada yang sama, mungkin suatu kebtulan/? Tp serius beda — Enjoy!

 

 

——————————————————————————————————————————————

 

 

“Ya! Buka pintunya!”

 

Laki-laki yang masih tak mau beranjak dari ranjangnya, mengerang kesal saat sekiranya seseorang tetap mengganggu tidurnya hari itu. Ia menutup kepalanya dengan bantal miliknya, mencoba meredam suara teriakan juga ketukan pintu yang dilakukan sepihak oleh orang kini berada di balik pintu kamarnya.

 

“Untuk apa? Kau mengganggu tidurku saja,”

 

“Saat itu kau sama sekali tak menggunakan pakaian, apa kau benar-benar ingin aku masuk?”

 

Laki-laki tersebut lantas terdiam, sekiranya memori memalukan itu kembali terekam, ia lantas beranjak dari ranjangnya, meraih salah satu kaos kesayangannya dan bersiap membuka pintunya.

 

‘Saengil Chukkae!”

 

Setidaknya seorang gadis yang kini berada di hadapannya tersenyum lebar saat ia baru saja berhasil menarik kaitan tali confetti kecil yang ia bawa. Beberapa kertas bewarna-warni baru saja mengotori lantai apartement milik laki-laki itu.

 

Mengetahui hal tersebut, laki-laki itu tersenyum tipis. Setidaknya kekasihnya tersebut sama sekali tak melupakan hari ulang tahunnya, padahal ia hampir saja melupakan ulang tahunnya sendiri.

 

“Untuk apa kau kemari?”

 

Gadis itu memautkan bibirnya.

 

“Ya, hari ini kau berulang tahun, tidakkah kau merasa senang?” ucap gadis itu yang sekiranya kesal.

 

“Ah tunggu,”

 

Gadis itu lantas menjinjitkan kakinya sebelum pada akhirnya ia memasangkan blind folded pada laki-laki yang lebih tinggi darinya tersebut.

 

“Y-ya, apa yang akan kau lakukan?”

 

“Tunggu saja,” ucap gadis itu dengan kekehan kecil. Ia lantas menarik lengan laki-laki itu untuk mengikuti langkahnya.

 

Saat sekiranya mereka tiba di tempat tujuan, gadis itu lantas membukakan ikatan kain yang ada pada mata laki-laki tersebut. Dan ya, sebuah ruang makan yang kini lebih dari sebuah ruang makan yang laki-laki itu punya. Setidaknya gadis itu benar mendekorasinya menjadi sebuah tempat pesta kecil. Beberapa pita kertas bewarna-warni diletakkan begitu rapi, serta tak lupa dengan cake juga beberapa buah lilin yang tertata rapi di sana.

 

“Kau tak perlu membuat ini semua,”

 

“Kubilang ini ulang tahunmu, harusnya kau berterima kasih,”

 

Gadis itu kembali memautkan bibirnya. Ia lantas berjalan menuju meja makan dimana cake yang sengaja ia siapkan. Ia meraihnya lalu berjalan menuju laki-laki itu sembari menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Baiklah, ini memalukan, karena ia bukanlah anak kecil yang ingin selalu dirayakan pada setiap ulang tahunnya dan kini gadis itu tengah menganggapnya seperti salah satu keponakannya.

 

“Tiup lilinnya,”

 

“Apa?”

 

“Kubilang tiup lilinnya,” ucap gadis itu mulai kesal. Laki-laki tersebut tertawa pelan sebelum pada akhirnya ia bersiap untuk meniup lilinnya.

 

“Oh tunggu–kita harus berfoto dulu,” potong gadis itu tiba-tiba. Ia memberikan cake itu untuk laki-laki itu bawa dan ia lantas merampas ponsel laki-laki itu pada salah satu kantung celananya. Ia lalu mengarahkan kamera ponsel tersebut agar wajah keduanya terlihat. Mereka berdua tersenyum lebar saat sekiranya mereka telah memilih pose yang mereka inginkan.

 

‘Saengil chukkae Jun Hyung!” pekik gadis itu sebelum pada akhirnya sebuah gambar baru saja mereka hasilkan.

 

 

Yong Jun Hyung membuka matanya perlahan saat sekiranya suara yang begitu melengking baru saja dihasilkan oleh ponsel miliknya. Ia menatap malas ke arah ponselnya. Bagus, tidurnya terganggu lagi.

Jun Hyung lantas meraih ponselnya yang memang tak jauh darinya tersebut sebelum pada akhirnya ia menempelkannya pada salah satu telinganya.

“Wae?”

“Ya, bagaimana bisa kau menjawab panggilan dari eomma-mu seperti itu?”

 

Yong Jun Hyung terkekeh pelan. Ia tahu bahwa ibunya yang menelponnya, namun hari ini ia begitu lelah sampai-sampai menganggap semua adalah musuhnya karena telah membuatnya bangun terlalu pagi.

“Mianhae eomma, aku berusaha tidur saat ini,”

“Kau tidak boleh tidur sekarang. Karena hari ini kau berulang tahun, Jun Hyung-ah,”

Yong Jun Hyung tertawa pelan. Jujur, ia sebenarnya lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya.

Saengil Chukkae, uri Jun Hyung-ah,”

 

“Ne, terima kasih eomma,”

“Hanya itu?”

 

Yong Jun Hyung mengenyit.

“Lalu?”

“Ya, pulanglah, kami telah menyiapkan sesuatu untukmu,”

Yong Jun Hyung menghembuskan nafasnya pelan.

“Maaf eomma, aku tidak bisa. Aku akan menelponmu nanti,” ucapnya yang pada akhirnya mengakhiri panggilan. Jujur, teekadang ia merasa bosan saat ia berada bersama keluarganya saat ulang tahunnya. Karena beberapa tahun sebelum ia menjadi seorang idol saat ini, ia selalu merayakannya bersama keluarganya. Mungkin ia semacam anak durhaka atau sejenisnya, tapi, ayolah ia terlalu tua untuk itu dan ia ingin memilih sendiri sebuah aktivitas yang ingin ia lakukan untuk saat ini.

Yong Jun Hyung mendudukkan dirinya. Kedua matanya lantas menatap pintu kamarnya yang masih tertutup, ia menyeringai tipis. Benar, beberapa tahun yang lalu seseorang begitu berisik dan begitu bersemangat untuk membangunkannya, seseorang yang telah menyiapkan sebuah pesta kecil untuknya dan seseorang yang sengaja ia berikan kepercayaan untuk memegang salah satu kunci cadangan apartment miliknya.

Entah kenapa kini ia merindukan ketukan pintu gadis itu atau sekedar teriakannya. Ini adalah tahun kedua dimana gadis itu tidak memaksanya bangun untuk merayakan ulang tahunnya bersama gadis itu. Dan anehnya, semalam ia memimpikannya.

Yong Jun Hyung meraih kembali ponsel yang tadi ia letakkan, sekiranya beberapa pesan ia dapatkan secara bersamaan. Ya, 5 pesan yang sudah bisa ia tebak pengirimnya.

‘Ya! Jun Hyung-ssi selamat ulang tahun!

 

-seobbie’

 

 

 

‘Hyung, selamat ulang tahun, aku mencintaimu!

 

-dongwonnie’

 

 

 

‘Kau semakin tua! Haha selamat ulang tahun, kau harus mentraktirku

 

-hyunseungie’

 

 

 

‘Ya, pabo! Kau berulang tahun sekarang? Aku akan membunuhmu jika kau tidak mentraktirku

 

-dujunnie’

 

Jun Hyung tertawa pelan saat membaca semua pesan yang dikirimkan temannya secara bersamaan tersebut, namun senyumnya sekiranya menghilang perlahan saat orang yang paling ia tunggu sama sekali tak mengirimkan pesannya.

Benar, gadis yang ada di mimpinya malam tadi.

Apa gadis itu melupakan hari ulang tahunnya? Ataukah, kini ia terlalu sibuk dengan aktivitasnya hingga ia lupa untuk mengirimkan ucapan selamat? Ataukah kini ia memang memiliki seseorang, sehingga memutuskan untuk melupakannya sepenuhnya?

Konyol.

Ia tahu bahwa pemikiran tersebut terasa sangat konyol, karena ia juga gadis itu memang memiliki jalan masing-masing. Seharusnya, ia tak terlalu berharap akan adanya hal itu. Dan seharusnya ia melupakan gadis itu bukan berkhayal bahwa gadis itu akan memberikan ucapan untuknya.

Sebuah foto yang saat itu ia ambil dengan gadis tersebut, kembali ia pandang. Dan tetap, ia senantiasa tersenyum tiap memandangi foto itu. Meski gadis itu selalu memaksakan pesta yang sengaja ia buat untuknya, namun jujur Jun Hyung selalu menantikannya. Menantikan saat gadis itu mengetuk pintunya dengan begitu berisik, dan menanti saat ia juga gadis itu meniup lilin bersama.

Jun Hyung menekan beberapa nomor yang entah kenapa masih begitu melekat di otaknya, hingga sebuah nama kontak muncul pada layar ponselnya saat ini. Sebuah foto sang pemilik kontak kini terlihat begitu jelas. Oh ayolah, apakah ia harus meminta gadis itu untuk mengucapkan selamat ulang tahun untuknya?

Namun jemarinya lantas menari pada keyboard ponselnya, mengetikkan beberapa huruf di sana. Meski terasa begitu canggung, meski ia berulang kali menghapusnya, namun ia berusaha mengumpulkan niatnya.

To: Goo Ha Ra

 

Aku lapar. Makan siang bersamaku?’

 

Dan sent.

Ya pesan tersebut sekiranya berhasil terkirim. Degup jantung Jun Hyung tiba-tiba saja berpacu lebih cepat dari biasanya. Sungguh, ia tak pernah mengalami ini sebelumnya. Ia memandang layar ponselnya ragu, menunggu sebuah nama untuk muncul. Tentu untuk membalas pesan darinya.

Lima belas menit berlalu, dan gadis itu sama sekali tak membalasnya. Jun Hyung lantas melemparkan ponselnya begitu saja pada sisi lain ranjangnya. Ia tahu, keputusan untuk mengirimkan pesan tersebut adalah keputusan terbodoh yang ia buat.

Namun lima menit kemudian, dering penanda pesan masuk terdengar. Ia lantas sedikit merangkak meraih ponselnya. Ia tersenyum lebar saat memandang nama yang tertera di layarnya. Benar, gadis itu memang membalasnya. Genius Jun Hyung.

‘From: Goo Ha Ra

 

Tentu. aku akan menghubungimu nanti’

 

 

Yong Jun Hyung membenahi pakaian yang ia kenakan saat ini. Hari ini, ia akan bertemu dengan gadis itu pada salah satu cafe di Myung Dong. Gadis itu memintanya untuk datang di cafe tersebut karena ia tengah memiliki hal yang harus dilakukan di sana untuk hari ini. Ya, ia tahu, gadis itu memiliki jadwal yang sangat sibuk, namun kali ini ia berharap gadis itu benar-benar datang untuknya.

Ia menatap jam tangan yang ia kenakan saat ini. Sejujurnya, ia datang lebih awal satu jam sebelum jam yang telah ditentukan dan saat ini gadis itu terlambat setidaknya setengah jam. Ia tahu ini membuang waktunya, tapi ayolah ini ulang tahunnya dan ia ingin bertemu dengan gadis itu saat ini.

Yong Jun Hyung melambaikan tangannya saat setidaknya gadis itu berjalan ke arahnya. Ia mengembangkan senyumnya saat mata mereka saling bertatap.

“Menunggu lama?” tanya gadis itu seraya tersenyum tipis. Jun Hyung menggeleng pelan, ia berkilah untuk saat ini. Ia tak mau bila gadis itu merasa bersalah karena membuatnya menunggu lama.

“Kau sudah memesan makanan?”

“Belum,”

“Oh itu bagus, kita bisa memesannya bersama,” ucap gadis itu terkekeh pelan. Ia lantas meraih buku menu yang tak jauh darinya dan membaca satu persatu nama makanan di buku tersebut. Sedangkan, Jun Hyung?

Ia tengah memperhatikan gadis itu yang masih sibuk membaca per menu makanan. Untuknya, gadis itu sama sekali tak berubah dari sejak terakhir kali mereka bertemu. Hanya saja, rambut gadis itu yang sekiranya memiliki model yang berbeda seingatnya.

“Bolognese pasta dua dan dua soda,” ucap Jun Hyung pada salah satu waitress yang datang pada meja mereka. Goo Ha Ra terdiam sesaat saat sekiranya laki-laki itu bisa menebak apa yang ingin ia pesan.

Tentu Jun Hyung mengerti itu, ia ingat saat mereka menghabiskan waktu bersama, gadis itu akan memesan menu yang sama. Ya, salah satu menu kesukaannya dan Jun Hyung hafal betul akan hal itu.

“Kau–”

“Bukankah kau menyukainya?”

“Ah iya..”

Kini mereka terdiam. Mereka tak mengelak ada kecanggungan di antara mereka. Kecanggungan akibat hubungan antar keduanya tak lebih dari sebuah hubungan pertemanan, juga terlalu lamanya waktu mereka tak bertemu antar satu dengan yang lain. Itu benar, mereka adalah idol yang jarang memiliki waktu luang.

Goo Ha Ra tengah sibuk dengan ponsel miliknya saat ini. Jun Hyung dapat melihat bagaimana gadis itu tersenyum juga terkadang menahan tawanya saat menatap layar ponselnya saat ini. Sama seperti dahulu, gadis itu akan sibuk dengan ponselnya saat mereka menghabiskan waktu bersama.

Jun Hyung tahu tentang siapa dirinya juga Goo Ha Ra. Mereka adalah seorang idol yang memiliki banyak teman. Ia bisa melihat intensitas gadis itu bertemu dengan beberapa teman laki-lakinya, yang terkadang ia tak kenal. Dan entahlah, ia sering mendapatkan perlakuan seperti sebelumnya.

“Kau terlihat sibuk akhir-akhir ini,”

“Ya?” tanya gadis itu saat sekiranya ia tidak mendengar apa yang dikatakan Jun Hyung padanya.

“Kau sibuk untuk akhir-akhir ini,”

“Ah iya. . kau tahu bagaimana ini bekerja dan ya, aku tak pernah mengira intensitas bekerja kami semakin banyak setelah comeback,”

Bukan itu. Bukan jawaban itu yang ingin Jun Hyung dengar. Ia ingin mendengar bahwa selama ini ia masih memperhatikan gadis itu dari jauh, dan meski mereka terhubung satu sama lain. Atau mungkin, sebuah pertanyaan, bagaimana ia mengetahui bajwa gadis itu sibuk untuk akhir-akhir ini.

“Jun Hyung ssi,”

Jun Hyung mendongakkan kepalanya saat gadis itu memanggilnya. Meski panggilan tersebut layaknya sebuah panggilan yang ia tujukan pada orang asing.

“Boleh kutahu kenapa kau mengajakku keluar hari ini?”

Jun Hyung terdiam sejenak saat kalimat tersebut dilontarkan. Perlahan ia menaikkan kedua ujungnya secara paksa. Ada rasa kecewa yang ia rasakan saat ini. Tentang bagaimana gadis itu tak mengingat hari ulang tahunnya saat ini, atau mungkin sejak perpisahan mereka.

“Aku hanya. . ingin bertemu denganmu. Itu saja,”

“Oh, dan akhirnya kita bisa bertemu saat ini,” ucap gadis itu canggung saat ini. Mereka terdiam sekali lagi. Setelahnya, gadis itu seakan enggan menatapnya saat ini. Ia tahu bahwa apa yang dikatakannya tadi salah, tapi hanya itu yang ingin ia sampaikan saat ini. Hal yang bahkan ingin laki-laki itu sampaikan adalah bagaiaman ia masih memikirkan gadis itu sampai detik ini dan bagaimana ia merindukan gadis itu.

Konyol, tapi itulah yang ia rasakan.

Sebuah kilatan cahaya terlihat pada salah satu jemari gadis itu. Sebuah cincin kiranya tengah terlingkar pada salah satu jarinya saat ini. Jari yang dulu menjadi tempat cincin pemberiannya dulu, dan kini telah tergantikan.

Jun Hyung menyeringai tipis. Baiklah, mungkin gadis itu telah menjadi kekasih orang lain saat ini. Mungkin gadis itu tengah memikirkan laki-laki itu, saat mereka tengah berdua. Itu hal bagus, tapi. . terasa pahit.

“Kau telah bersama seseorang saat ini?”

Goo Ha Ra mengentikan aksinya yang tadinya tengah mengetik sesuatu dengan ponselnya. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya ia menatap manik hitam laki-laki itu, meski tanpa sebuah senyum.

“Maaf,” ucap gadis itu terdengar. . menyakitkan. Jun Hyung mengembangkan senyumnya, mungkin sebaiknya gadis itu tidak bersamanya saat ini atau sebaiknya ia tak bertemu demgan gadis itu sekarang. Ia tahu, itu semua adalah hak gadis itu. Hak untuk memiliki orang lain setelahnya dan memikirkan orang lain selain dirinya, namun bagaimana dengan dirinya?

“Kau tahu, kenapa aku memanggilmu hari ini?”

Jun Hyung menghela nafasnya sebelum ia mengembangkan senyum lainnya.

“Hari ini adalah hari ulang tahunku,”

Kedua mata gadis itu membulat saat ini. Ia tertunduk malu. Bagaimana tidak, dengan entengnya tadi ia menanyakan alasan laki-laki itu memanggilnya. Jun Hyung tak berniat membuat gadis itu merasa tak enak hati atau semacamnya. Tujuan utamanya hanya untuk bertemu dengan gadis itu hari ini dan merayakan hari ini sama seperti saat itu. Saat dimana ia merasa bahwa gadis itu selalu mengingatnya dan sekiranya mengubah harinya menjadi begitu istimewa.

Jun Hyung menarik nafasnya dalam sebelum pada akhirnya ia mengeluarkannya sepenuhnya. Ia benar-benar dapat melihat gadis itu menyesal saat ini. Mungkin gadis itu tengah berpikir bahwa Jun Hyung tengah berharap lebih tentang hubungan antar keduanya saat ini, atau mungkin–entahlah. Ia tahu ia payah dalam hal ini.

“Jun Hyung-ssi, aku. .”

Yong Jun Hyung menyisip sepenuhnya sekaleng penuh beer miliknya, sedangkan salah satu tangannya masih terfokus pada benda bundar pengontrol mobil yang ia kendarai. Suara player mobilnya terdengar begitu bising dan mungkin saja semua orang bisa mendengar kebisinhan tersebut dari luar mobilnya.

Hari ini, merupakan hari yang berat untuknya. Benar saja, gadis itu tadi lantas meminta maaf sebelum akhirnya ia benar-benar meninggalkannya tadi. Ia merasa buruk saat ini. Itu di luar keinginannya, itu semua tak diharapkannya. Tentang bagaimana gadis itu pada akhirnya meninggalkannya tadi. Hari ini bukan hari yang baik untuknya, dan sekiranya ia sendiri yang telah merubahnya menjadi sangat buruk.

Yong Jun Hyung menghentikan mobilnya saat ia tiba di tempat yang ia tuju. Ya, sebuah gedung dimana ia bernaung. Benar, gedung Cube entertainment. Ia meraih sekantung beer kaleng yang ada pada kursi sampingnya sebelum akhirnya ia turun dari mobilnya.

Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Ia tahu, sebentar lagi ulang tahunnya akan berakhir pula, maka ia memutuskan untuk merayakannya sendiri. Rooftop gedung Cube merupakan tempat favoritenya selama ini, memang tak ada hal yang istimewa di sana, namun ia sering menghabiskan waktunya sekedar untuk menenangkan diri. Dan ia tahu sebentar lagi gedung tersebut sepenuhnya akan ditutup satu jam lagi, tepat tengah malam.

Ia berjalan masuk menuju dalam gedung. Beberapa lampu memang telah dimatikan, karena gedung sebentar lagi akan ditutup. Jun Hyung sengaja menyalakan ponsel miliknya, sebagai satu-satunya penerang dirinya dan tangan kirinya masih membawa setidaknya sekantung beer kaleng yang ia beli tadi.

Ia berjalan pada tangga yang akan membawanya pada rooftop, namun ya tak seperti biasanya pintu rooftop tidak terkunci. Tanpa ragu, ia membuka pintu tersebut.

“Saengil Chukkae!!” pekik beberapa orang begitu melengkingkan telinganya.

Jun Hyung terdiam di tempatnya saat ia dapat melihat roofftop kini benar-benar telah berubah bentuk. Lampu bewarna-warni sengaja ditata, beberapa meja yang penuh dengan beberapa makanan juga tengah menghiasi rooftop tersebut. Kini rooftop tersebut benar tengah dipenuhi oleh cukup banyak orang.

“Ya! Kau membuat kami menunggumu beberapa jam lamanya,” ucap sang leader yang menghampirinya. Ia lantas memasangkan sebuab topi kerucut di kepalanya sebelum pada akhirnya ia tertawa saat Jun Hyung sama sekali tak menunjukkan reaksi apapun.

“Kau membawa beer untuk kami? Itu bagus,”

Yoo Doo Joon meraih kantung plasric yang berisikan penuh kaleng beer terssebut dari Jun Hyung lalu menggiring laki-laki itu untuk berada di tengah-tengah kemeriahan. Semua teman satu groupnya berada di sana, meneriakinya dengan sebuah lagu selamat ulang tahun yang terdengar begitu sumbang. Beberapa di antara juga melakukan tarian teraneh untuk memeriahkan pesta kecil tersebut. Benar, Yang Yo Seob.

Mata Jun Hyung tiba-tiba saja membulat saat sekiranya ia melihat sosok wanita yang baru saja memasuki rooftop dimana mereka berada. Ya, sosok wanita yang memberinya ucapan untuk pertama kalinya pada hari ini. Benar, ibunya.

Jun Hyung mengembangkan senyumnya saat ini. Ia berjalan menuju wanita yang kini tengah membawa cake berukuran cukup besar pada kedua tangannya. Warna api yang terlihat begitu indah yang diakibatkan dari lilin-lilin pada cake tersebut, membuat Jun Hyung terkesan.

Percaya atau tidak, kini kedua matanya berair. Suara sumbang teman-temannya kini berubah menjadi suara yang begitu indah untuk diperdengarkan. Suara tepukan tangan yang ia dapat, membuat bulu kuduknya berdiri saat ini. Jun Hyung menarik nafasnya saat ini. Ia tidak ingin terlihat cengeng di depan teman-temannya, meskipun semua tahu bahwa ia adalah krabg yang cukup sensitive.

Ibunya sempat berkaca-kaca juga saat ini. Ia menunggu anaknya tersebut meniup lilin-lilin yang ada saat ini. Perlahan Jun Hyung menutup matanya, memanjatkan paling tidak sedikit doa yang ingin terkabulkan di hari spesial ini.

Ia tahu bahwa ia terkadang kurang bersyukur atas apa yang telah ia dapatkan selama ini. Bersikap egois untuk beberapa waktu. Sama seperti hati ini, jika ia mau mendengarkan apa yang dikatakan ibunya pagi ini, ia tak mungkin merasa bahwa hatinya begitu buruk atau membuat semua orang menunggu akan kehadirannya saat ini.

Ia juga tak perlu berbohong atau seakan menjadi anak yang durhaka karena hanya ingin bertemu dengan gadis itu. Benar, gadis yang sebenarnya tak perlu ia pikirkan lagi karena memang bukan miliknya lagi. Toh, gadis itu juga tak pernah memikirkannya. Semua sudah berakhir, ia hanya perlu mengingat hal itu.

Paling tidak ia telah memiliki keluarga yang selalu mendukungnya dan menghawatirkannya tiap saat, menunggunya sampai kapanpun juga memikirkannya setiap saat. Ia hanya perlu memikirkan hal itu. Ia berharap apa yang telah ia dapat tak pergi begitu saja. Ia ingin mereka selalu ada di sampingnya.

Amin.

Jun Hyung membuka matanya sebelum pada akhirnya ia meniup seluruh lilin yang ada pada cake tersebut. Gemuruh tepuk tangan ia dapat kembali. Kelima temannya menyerangnya dengan pelukan, jujur itu sedikit menyakitkan namun entahlah, ia menerimanya dengan senang hati. Ia juga tak lupa untuk memeluk ibunya, sebagai salah satu bentuk penyesalan tentang apa yang tadi ia perbuat pagi ini, namun ayolah, seorang ibu dapat mengerti apa yang dirasakan dan dipikirkan anaknya, maka ia memutuskan untuk datang ke sini hanya untuk merayakan pesta yang dikhususkan untuk anaknya tersebut.

“Bagaimana kalian tahu bahwa aku akan kemari?”

“Mudah, kau selalu berada di sini saat kau merasa tak baik. Dan kukira, kau akan prgi ke sini untuk hari ini juga, karena kau sama sekali tak membalas pesan kami,* ucap Yang Yo Seob.

“Dan kami sengaja menjemput ibumu kemari,” imbuh Lee Gi Kwang saat ini.

Benar, mungkin ia tak pernah mengira bahwa kelima temannya akan menyiapkan pesta seperti saat ini sebelumnya, atau tak pernah mengira bahwa ibunya yang terkadang terlihat begitu cuek, akan meluangkan waktunya untuk menemuinya di musim dingin ini.

Hari ini adalah ulang tahunnya. Berbeda dengan dugaannya sebelumnya, bahwa hari ini akan terasa begitu buruk bila gadis itu tak ada di sisinya, namun nyatanya ia mendapatkan hari yang lebih istimewa dibandingkan pada saat itu. Dan ia tahu, ia tak membutuhkan gadis itu lagi di sisinya.

Jun Hyung mencoba selalu mengembangkan senyumnya saat ini. Ia melihat sekelilingnya dan benar, rooftop bak diperuntukkan padanya hanya untuk hari ini saja. Jika ia bersabar sedikit, harinya tak seburuk yang ia pikirkan.

“Terima untuk hari ini. Aku mencintai kalian,”

.

.

.

.

.

-The End-

Advertisements

7 thoughts on “No More (Happy Birthday Jun Hyung!)

  1. YongPd ini suka galau ya , aku seneng ngelihat couple junah tapi sayang mereka udah putus. gak papa dilupain sama mantan yang terpenting sahabat dan keluarga selalu ingat . good job

    Like

  2. Baru mampir untuk pertama kali dan langsung nyari ff cast junhyung dan jjang!! Ternyata authornya ts_sora yg bikin baper ampun2an di wattpad semalem. Seneng nyasar di mari meski telat haha suka banget sm story yg bikin baper tp terselip pesan yg luar biasa menyentuh kayak gini. Great job author!! Selalu nunggu karyamu dengan cast junhyung ^^

    Like

    1. Hello! 😉 awalnya kaget ada yang komen ff lama ini wkwk. Ff lama bergalo2 Ria Dan banyak bgt typo nya ini hehe. Anyway trima kasih banyak uda mampir dan baca ff ini. Oh ya, baca di wattpad? Haha yang mana? Iya nih, authornya suka galoan/? Iya, ditunggu ya, karena mas Junhyung selalu jadi objek galo, jadi mohon ditunggu yes 😉

      Like

      1. Ini bagus ko, ku suka ku sukaaaa. Gaya penulisanmu aduhai banget, favorit!!
        Yg crosswalk, let her go, one night stand, can’t get over you di wattpad udah ku baca 😍😍 aku jg udah follow akunmu haha *berharapdifollback*
        Btw salam kenal untuk author kece satu ini, aku 96line ^^

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s