Bromance · Friendship · Length · One Shoot

The Groom’s Man (One Shoot)


B4tAXhDCcAArkd0new

Title: The Groom’s Man

Author: ts_sora

Casts: Super Junior’s Cho Kyu Hyun and Lee Sung Min

Lenght: One-shoot

Genre: Bromance, Friendship

Disclaimer: It belongs to me and the casts belong to their entertainment company. The original idea belongs to me. No plagiarisme.

A/N: Huwaaa!! Lee Sung Min kawin 😦 bete sebenarnya hehe. Galau, merana untuk beberapa minggu memikirkannya/? Haha. Tapi chukkae~^^ hehe, live well Lee sung min and Kim Sa Eun 😀

 

 

 

IMG_20141213_175923

IMG_20141213_175917

#HappyWeddingSungmin

 

 

Cho Kyu Hyun mengenakan kaos yang baru saja ia pilih dari lemari miliknya sebelum ia benar-benar telah siap untuk berangkat hari ini. Ia memang tengah menikmati hari liburnya untuk saat ini, karena memang tak ada yang harus ia lakukan, meski sebenarnya ia tahu bahwa sesuatu telah menantinya kini.

 

Cho Kyu Hyun meraih tas juga kacamata hitam miliknya sebelum ia akhirnya mengenakan keduanya. Dan kini ia terlihat sempurna.

 

“Ya Cho Kyu Hyun kau akan pergi kemana?”

 

Cho Kyu Hyun mendengus pelan sesaat seorang laki-laki lain memasuki kamarnya saat ini. Ya, Shin Dong Hee, salah satu hyung nya yang tinggal satu atap dengan dirinya bertahun-tahun lamanya.

 

“Entahlah,” ucap Cho Kyu Hyun acuh tak acuh. Ia menatap kembali cermin yang ada di hadapannya. Ia lantas tersenyum puas saat melihat bias dirinya di sana yang terlihat begitu sempurna. Sedangkan Shin Dong Hee hanya menggelengkan kepalanya melihat dongsaeng nya tersebut juga kamar dimana ia berada saat ini.

 

Ya, dahulu, seseorang yang terasa begitu rajin, selalu membersihkan juga merapikan kamar ini sebelum mereka meninggalkan dorm untuk mengerjakan aktivitas mereka. Ya, seseorang yang Kyu Hyun anggap seperti kakak kandungnya sendiri.

 

Cho Kyu Hyun bukanlah orang yang mudah patuh terhadap orang lain yang bahkan lebih tua darinya. Ia hanya akan patuh terhadap ibunya dan–orang tersebut. Ya, bahkan ia tak mematuhi ayahnya.

 

Karena keputusan laki-laki itu untuk meninggalkan dorm sejak sebulan yang lalu, kini Cho Kyu Hyun kembali menjadi orang yang keras kepala yang bahkan tak akan peduli dengan siapapun dan apapun. Seperti kamarnya saat ini. Entah apakah itu memang sifat asli laki-laki termuda itu ataukah perilakunya yang semakin menjadi tiap harinya?

 

Shin Dong Hee menatap sebuah tuxedo yang masih terlihat rapi dengan kain pembungkusnya juga kaitannya di atas salah satu ranjang di kamar tersebut. Ya, sebuah tuxedo bewarna hitam juga sebuah dasi kupu-kupu yang terlihat begitu serasi dengan sebuah kemeja putih. Meski tuxedo itu datang sejak dua hari yang lalu, sepertinya Kyu Hyun sama sekali tak menyentuhnya sejak Shin Dong Hee meletakkannya di sana dan ya–posisinya sama sekali tak berubah.

 

Shin Dong Hee berjalan menuju Cho Kyu Hyun dengan sebuah invitation card pada salah satu tangannya. Invitation card tersebut sengaja ia serahkan pada laki-laki yang kini terlihat begitu sempurna tersebut. Namun, laki-laki bermarga Cho tersebut entah kenapa malah berlalu.

 

“Kau berpura-pura lupa tentang hari ini?” ucap laki-laki bermarga Shin tersebut sebelum Cho Kyu Hyun memutar knop pintu miliknya. Namun, Cho Kyu Hyun sama sekali tak memperdulikannya hingga ia benar-benar meninggalkan laki-laki bermarga Shin tu sendiri.

 

 

Cho Kyu Hyun berusaha membuka seat belt yang ia kenakan saat ini. Bukan, lebih tepatnya ia terpaksa kenakan. Ya, kini ia benar-benar tak bisa bergerak kemana pun karena seseorang telah menculiknya. Benar, Park Jung Soo.

 

Sekiranya laki-laki tertua di grup nya tersebut sangat mengetahui apa yang Cho Kyu Hyun rencanakan beberapa jam yang lalu. Benar, hari ini ia berencana untuk pergi ke Jeju, meski ia tahu itu terasa salah. Namun–itu yang ia inginkan. Ya, sebelum laki-laki bermarga Park itu benar-benar menyekapnya saat ini.

 

“Apa kau tidak bisa diam di tempat saat ini? Dan mengikuti semua apa yang aku minta?” ucap laki-laki yang berada di balik bangku kemudi. Cho Kyu Hyun mendengus. Baiklah, ia merasa kalah saat ini. Tapi, bisakah ia lari hanya untuk hari ini saja?

 

Cho Kyu Hyun menyeringai saat ia dapat melihat tuxedo bewarna hitam yang tadinya masih ‘tertidur pulas’ di atas ranjang kamarnya kini tengah berada di kursi belakang. Ia kembali mendengus.

 

Park Jung Soo dapat melihat reaksi itu dengan baik. Ia lantas melonggarkan dasi kupu-kupu yang ia kenakan saat ini. Ia akui, ia sedikit kesusahan, oh bukan, sangat kesusahan untuk mengejar Cho Kyu Hyun hari ini. Percayalah, tak hanya dirinya saja yang tengah mencari keberadaan Cho Kyu Hyun, namun terdapat beberapa orang lagi yang tadi berusaha mati-matian mencari Cho Kyu Hyun siang ini.

 

“Bisakah kau ikut menikmati keseluruhan acara ini?”

 

“Acara yang dikhususkan untuknya maksudmu?” tanya Cho Kyun dengan nada lain. Park Jung Soo sedikit tercekat mendengarnya, namun ia berusaha mengambil nafas dalam-dalam.

 

“Ayolah kau seharusnya ikut bahagia akan adanya hal ini, bukan malah bertindak seperti ini. Apa kau tidak ingin melihatnya bahagia?”

 

Cho Kyu Hyun terdiam. Bahagia? Bisakah ia menyebut ini adalah sebuah kebahagiaan yang memang hanya dikhususkan untuk laki-laki itu saja? Bukan untuk dirinya? Jujur, ia tak merasa bahagia sekarang.

 

Cho Kyu Hyun membuang nafasnya perlahan.

 

“Tolong, kau hanya perlu mengikuti keseluruhan acara hari ini, maaf jika hari ini suasana hatimu buruk, tapi–hanya untuk kali ini saja,”

 

“Apa kau pernah berfikir tentang kemungkinan terburuk nantinya?”

 

Park Jung Soo menatap laki-laki yang lebih muda darinya tersebut bingung.

 

“Kemungkinan terburuk? Apa maksudmu?”

 

Cho Kyu Hyun memalingkan wajahnya pada bingkai jendela yang berada tepat di sampingnya. Banyak hal yang mengusik pikirannya akhir-akhir ini. Ya, tentang kemungkinan terburuk yang akan ada nantinya. Bagaimana jika ia akan pergi sepenuhnya?

 

 

Cho Kyu Hyun menatap dirinya yang kini telah mengenakan tuxedo yang sudah tertidur pulas selama dua hari belakangan dan ini benar-benar pas di tubuhnya. Ya, orang itu benar-benar tak bercanda tentang seberapa mengertinya orang tersebut terhadap Cho Kyu Hyun. Namun, Cho Kyu Hyun tak peduli akan hal itu. Lebih tepatnya mencoba untuk tidak peduli.

 

Baiklah, kini ia berada pada salah satu ruang ganti groom’s men. Dan ya, ini adalah salah satu acara yang mana Cho Kyu Hyun ingin hindari sejak sebulan yang lalu. Hari ini, ya hari ini adalah salah satu hari terbesar menurut seseorang. Seseorang tengah memutuskan untuk memulai hidup barunya dengan orang lain di hari besar ini. Ya, semua orang pantas bahagia, namun tidak untuk dirinya.

 

Lee Sung Min. Nama sang pemilik hari besar ini adalah Lee Sung Min. Salah seorang teman terdekatnya, lebih tepatnya sangat dekat pada hari ini memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya dengan seorang gadis–yang bahkan Cho Kyu Hyun tak pernah mengenalnya. Baiklah, itu adalah salah satu alasan kenapa Cho Kyu Hyun seakan tak mengamini pernikahan temannya tersebut.

 

Selain itu, laki-laki bermarga Lee tersebut tak pernah menceritakan rencana pernikahannya padanya dan seakan meminta dirinya untuk mengetahui hal itu dari bahasan artikel netizen. Ya, sebuah artikel yang ‘katanya’ berasal dari ulasan langsung dari Lee Sung Min, teman sekamarnya tersebut. Seminggu setelah ulasan itu ada, Lee Sung Min lantas memutuskan meninggalkan dorm demi mempersiapkan pernikahan yang akan ia selenggarakan.

 

Cho Kyu Hyun menarik dasi kupu-kupu yang tadinya tertata rapi di lehernya dengan begitu kasar hingga, dasi tersebut benar-benar terlepas. Sebenarnya, ada apa dengan dirinya?

 

Ia tahu alasan-alasan tersebut terdengar sinting dan kenak-kanakan tapi–itulah yang memang ia rasakan saat ini.

 

“Cho Kyu Hyun,”

 

Cho Kyu Hyun menghentikan aksinya melepas satu persatu kancing tuxedo yang ia kenakan sesaat ia mengetahui bahwa seorang laki-laki lain tengah menghampirinya. Ya, kini ia tidak berada di ruangan tersebut sendiri.

 

Laki-laki yang tengah mengenakan tuxedo bewarna putih dengan rambut yang ditata begitu rapi kini berada tepat di belakangnya. Benar, Lee Sung Min. Laki-laki itu menaikkan kedua ujung bibirnya saat mata keduanya bertatap secara tak langsung di cermin yang Kyu Hyun tatap. Namun Cho Kyu Hyun sama sekali tak membalasnya, ia malah memalingkan wajahnya.

 

Laki-laki bermarga Lee tersebut menarik nafasnya dalam sebelum ia mengeluarkannya kembali. Ia tahu bahwa laki-laki itu tak ingin berbicara saat ini, namun ia benar-benar butuh untuk membicarakan banyak hal dengan laki-laki yang ia anggap seperti adik kandungnya selama bertahun-tahun itu.

 

“Kau–marah padaku bukan?” tanya Lee Sung Min saat ini. Cho Kyu Hyun masih terpaku di tempatnya dan tanpa memberikan respon yang berarti.

 

“Maafkan aku,”

 

“Maaf karena kau menikah mendahului kami?”

 

Lee Sung Min terkejut saat laki-laki yang tadinya masih membisu mulai membuka mulutnya. Ia tahu, kata-kata yang tak dapat dikatakan baik tersebut adalah salah satu ciri khas Kyu Hyun, namun kini terasa begitu kasar.

 

“Jadi kau keberatan jika aku menikah?”

 

Cho Kyu Hyun meletakkan dasi kupu-kupu yang sedari tadi ia genggam pada meja rias dekat dirinya. Ia tahu bahwa kata-katanya kini tidak terdengar baik dan bahkan tedengar sangat kasar, namun jujur ia tak bermaksud akan hal itu.

 

Baiklah ia akui bahwa pada akhirnya semua laki-laki yang ada di dorm akan menikah, namun entah kenapa, sedikit tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa laki-laki itu yang akan mendahului mereka, bahwa laki-laki itu yang akan mengakhiri masa lajangnya, bahwa laki-laki mau atau tidak akan berhenti mempedulikannya, pikir Cho Kyu Hyun.

 

“Kau tahu bukan bahwa mimpiku adalah menikah di usia muda dengan seorang gadis yang aku cintai? Kau tak menyukai hal itu?”

 

Cho Kyu Hyun mengeratkan kepalan tangannya saat kalimat tersebut terucap. Cho Kyu Hyun merasa begitu buruk saat ini. Ya, ini salah satu hal yang tak ingin ia dapatkan saat ia datang ke sini. Maka, ia berencana untuk melarikan diri tadinya.

 

“Oh–”

 

Kedua laki-laki itu akhirnya menatap pintu ruangan yang terbuka tiba-tiba. Ya, seorang gadis dengan sebuah dress mengekor indah bewarna putih baru saja datang. Ia lantas menatap kedua laki-laki itu bingung. Dia adalah Kim Sa Eun. Ya, sang calon mempelai wanita Sung Min nantinya.

 

Baiklah, gadis itu menyadari bahwa ia datang di waktu yang salah. Ia bisa melihat kedua laki-laki itu tengah membicarakan sesuatu yang penting, namun apa yang ingin ia sampaikan tak kalah penting.

 

“Minie-ah, sebentar lagi upacara pernikahan akan segera dilaksanakan. M-maaf aku mengganggu kalian sebelumnya,” ucap gadis itu kali ini. Cho Kyu Hyun menatap gadis itu sepenuhnya, ia lantas membuang nafasnya sebelum ia benar-benar mengabaikan gadis itu sekarang.

 

“Tunggu sebentar, aku akan ke sana dalam beberapa menit lagi,” ucap Sung Min kali ini sebelum akhirnya gadis itu menuruti apa yang dikatakan calon suaminya tersebut dan pada akhirnya berjalan keluar dari ruangan tersebut.

 

Kini mereka kembali terdiam. Seakan sibuk dengan dunianya masing-masing.

 

“Dia gadis yang cantik, hyung,” ucap Kyu Hyun tiba-tiba. Sung Min hanya menyeringai tipis.

 

“Kau tahu, jika kau mengenalkannya padaku setahun yang lalu atau–memberitahuku tentang pernikahanmu, aku–mungkin tak akan seperti ini,” lanjut Kyu Hyun saat ini. Ia lantas memberanikan dirinya untuk membalikkan tubuhnya menatap teman sekamarnya tersebut, mungkin lebih tepatnya mantan teman sekamarnya.

 

“Maafkan aku,” ucap Sung Min menyesal. Cho Kyu Hyun dapat melihat wajah penyesalan di wajah hyung-nya tersebut. Namun bukan itu yang sebenarnya ia minta, ia hanya ingin laki-laki itu memberikan alasan yang gamblang mengenai rencana pernikahan ini. Ataukah ini memang sesuatu yang amat privasi sehingga laki-laki itu tak mau memberitahunya?

 

“Apa kau akan meninggalkan kami, hyung?”

 

“Apa maksudmu?”

 

Cho Kyu Hyun membuang nafasnya sekali lagi. Ia lantas menyeringai tipis.

 

“Aku tahu, kau meninggalkan dorm dan akan meninggalkanku sendiri karena kau akan mendiami kediamanmu bersama istrimu nantinya–”

 

“Cho Kyu Hyun,” potong Lee Sung Min kali ini. Paling tidak sekarang ia mengerti pokok permasalahan kenapa Cho Kyu Hyun bertindak seperti ini sejak kabar pernikahannya terdengar oleh kedua telinganya.

 

“Apa kau mempermasalahkan dimana aku meninggalkanmu sendiri?”

 

Cho Kyu Hyun kembali terdiam.

 

“Baiklah, aku minta maaaf karena aku membiarkanmu sendirian mulai saat ini. Tapi, meski aku pergi aku tak akan benar-benar meninggalkanmu sendiri bukan? Aku akan selalu mengunjungi kalian dan–”

 

Lee Sung Min menarik nafasnya kali ini. Ia tak tahu bila rencana pernikahannya bisa berdampak seperti ini bagi orang lain. Ya, bagi seorang teman yang ia telah anggap seperti adiknya sendiri.

 

“Apa kau akan meninggalkan kami sepenuhnya, hyung? karena cara berbicaramu–seperti kau akan berbuat demikian,” tanya Cho Kyu Hyun yang sedikit memksa.

 

“Kau tahu, satu hal yang mengusikku selama ini, yaitu dimana kau benar-benar akan meninggalkan kami sepenuhnya setelah kau merencanakan pernikahan ini, setelah kau pada akhirnya hengkang dari kamar kita–maksudku kamarku,” lanjut Cho Kyu Hyun kini.Lee Sung Min terdiam saat ini. Sekiranya saat ini ia tahu bagaimana perasaan Cho Kyu Hyun dan rasa khawatirnya terhadap dirinya. Ya, ia ingat dahulu, jumlah mereka sangat banyak. Bagaimana tidak, sebuah grup dengan jumlah yang tak main-main saat itu, yaitu tiga belas.

 

Namun, terlalu banyak hal yang terjadi hingga perlahan setidaknya seorang di antaranya memutuskan untuk hengkang dan satu lagi entah bagaimana kabarnya. Ya, dunia mereka tak bisa ditebak. Semua datang dan pergi dengan begitu mudah hingga tak ada yang akan bisa mengetahuinya.

 

Ia tahu bahwa bukan hanya mereka yang mengalami ini. Semua pernah mengalaminya dan akhir-akhir ini beberapa grup yang bernaung di tempat yang sama seperti mereka, juga mengalami hal tersebut. Dan kini, hal tersebut merupakan ketakutan terbesar untuk Cho Kyu Hyun.

 

Benar, sebuah rasa takut dimana ia akan juga kehilangan orang yang sangat ia sayangi selama ini, orang yang menjadi satu-satunya orang yang ia patuhi selama ini, dan orang yang sudah ia anggap sebagai salah satu orang terdekat dalam hidupnya.

 

“Aku berjanji tak akan meninggalkan kalian bukan? Bahkan itu janji yang kita buat sejak dulu, kau ingat?” ujar Lee Sung Min kali ini. Kini Cho Kyu Hyun memilih untuk berdiam diri kembali.

 

“Kau tahu, aku bukanlah orang yang akan mudah lupa atau melupakan kalian yang telah aku anggap sebagai keluargaku sendiri. Ya, sebuah keluarga yang kita bangun selama bertahun-tahun. Kau tak perlu mengkhawatirkannya Kyu Hyun-ah, sungguh,” ucap Lee Sung Min yang kini berjalan mendekati temannya tersebut. Ia membuang nafasnya yang tiba-tiba terasa berat saat ini. Ya, ada sebuah penyesalan di sana. Sebuah penyesalan dimana ia membuat seseorang yang ia sayangi tersebut sangat khawatir terhadapnya, dan kiranya yang sempat ia remehkan. Tapi kini, ia mengerti betul bagaimana perasaan Kyu Hyun saat ini. Dan rasanya, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan demi meyakinkan laki-laki itu.

 

Lee Sung Min menepuk salah satu bahu laki-laki yang lebih muda darinya tersebut. Ia lantas menyunggingkan salah satu ujung bibirnya.

 

“Kau bisa pulang, jika perasaanmu sangat tidak baik hari ini. Maafkan aku Kyu Hyun, aku tak bermaksud membuatmu khawatir. Dan–”

 

Lee Sung Min melebarkan senyumnya saat ini setelah ia menghirup nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya kembali.

 

“Doakan yang terbaik untuk pernikahan kami,”

 

 

Sebuah upacara pernikahan yang diperuntukkan oleh Lee Sung Min juga Kim Sa Eun berjalan sangat sempurna. Upacara pernikahan dilewati dengan khidmat pada tiap sesi upacara. Para tamu dapat merasakan ketulusan cinta akan keduanya. Meski sesuatu telah mengganjal pikiran salah satu mempelai.

 

Upacara pernikahan keduanya dilanjutkan dengan sebuah acara yang cukup meriah yang diperuntukkan oleh para tamu yang hadir juga khususnya sebagai pengingat bagi kedua mempelai. Ya, acara pernikahan tersebut dilaksanakan pada satu tempat dimana mereka juga melangsungkan upacara pernikahan mereka.

 

Hal ini mereka pilih akibat padatnya jadwal kedua mempelai itu sendiri. Dan setelahnya mereka dapat merencanakan liburan bulan madu bersama setelah pertimbangan pengambilan hati libur masing-masing, aku kedua mempelai beberapa minggu yang lalu.

 

“Baiklah terima kasih atas kedatangan para tamu pada hari yang paling bahagia ini,” ucap salah MC yang berada pada salah satu panggung berukuran sedang yang menjadi perhatian para tamu yang ada di sana.

 

“Pada kesempatan kali ini, seseorang akan merelakan waktunya untuk memberikan pidatonya. Berilah tepuk tangan yang meriah untuk pria yang satu ini. Kehadirannya dipersilahkan,”

 

Suara gemuruh tepuk tangan terdengar seantero hall dimana acara pernikahan tengah dilangsungkan. Semua orang tengah menunggu pria tersebut, terlebih lagi kedua mempelai. Mata mereka tiba-tiba saja tertuju pada seorang pria yang kini tengah melangkahkan kakinya dengan tegas menuju panggung.

 

Semua orang sempat terdiam saat mereka menyadari siapa yang tengah melangkahkan kakinya menuju panggung, khususnya Lee Sung Min. Namun semenit kemudian suara gemuruh tepuk tangan mulai terdengar kembali, dan kali ini semakin keras. Ya, Cho Kyu Hyun tengah melangkahkan kakinya menuju panggung tersebut.

 

Sejujurnya, Lee Sung Min terkejut akibat kedatangan laki-laki itu yang kali ini berkesempatan untuk memberikan pidatonya. Laki-laki itu memang memutuskan untuk mengikuti upacara pernikahannya tadi, namun ia tak pernah berpikir bahwa ia akan memberikan pidatonya di hari yang besar ini.

 

Cho Kyu Hyun mengembangkan senyumnya sesaat ia telah berada di pusat panggung. Ia merekahkan senyumnya dan sesekali membungkuk saat gemuruh tepuk tangan masih saja ia dengar. Ia lantas menghirup nafasnya dalam-dalam sebelum ia mendekatkan sebuah mic ke bibirnya.

 

“Terima kasih. Dan selamat atas pernikahan Lee Sung Min hyung dan Kim Sa Eun nunna pada hari ini,” ucapnya. Ia dapat melihat Lee Sung Min menatapnya dari kejauhan, dan juga menunjukkan senyumnya padanya.

 

“Sebuah pernikahan adalah sebuah hal yang amat sakral karena mempertemukan dan menyatukan cinta dua anak manusia,” lanjut Cho Kyu Hyun kali ini. Ia lantas menghentikan kalimatnya sebelum pada akhirnya ia menghirup nafasnya dan bersiap melanjutkan kalimatnya.

 

“Lee Sung Min adalah member terkuat dan paling bertanggung jawab di antara member yang lain. Meski ia memiliki outlook yang tak dapat orang katakan kuat, namun yakinlah, ia memiliki keyakinan yang kuat,”

 

Gelak tawa para tamu seketika terdengar setelah laki-laki itu menyelesaikan kalimatnya tersebut.

 

“Semua orang, khususnya aku, tak pernah berpikir sebelumnya bahwa ia akan menikah dan mendahului kami semua. Dan jujur, pada awalnya aku tak mengamini pernikahan ini,”

 

Gemuruh suaranya terdengar kembali. Namun kali ini suara tersebut lebih menunjukkan keterkejutan atas apa yang dikatakan Cho Kyu Hyun barusan. Cho Kyu Hyun hanya terkekeh pelan.

 

“Ya, jujur awalnya aku takut bila ia mulai tidak memperdulikanku. Karena selama ini, Lee Sung Min hyung adalah satu-satunya orang yang memanjakanku dan meletakkan kepentinganku sebelum kepentingannya sendiri, seseorang yang bisa kusebut salah satu orang terdekatku di dunia.”

 

Cho Kyu Hyun tersenyum tipis saat sekiranya para tamu masih saja terdiam dan menunggu kelanjutan kalimatnya.

 

“Ketakutan itu dimulai saat ia berhenti untuk tinggal dengan kami di dorm yang kami tinggali sejak bertahun-tahun lamanya. Aku tahu, ia akan tinggal bersama istrinya kelak. Ketakutan dimana ia akan–benar-benar meninggalkan kami. Sungguh,”

 

Cho Kyu Hyun menatap Lee Sung Min kembali yang berada cukup dekat dengan istrinya. Keduanya menatap Cho Kyu Hyun tanpa senyum di wajah mereka, namun ia dapat merasakan bahwa Lee Sung Min mengharapkan sesuatu di dalam pandangannya saat ini.

 

“Namun, ia berkata, bahwa pernikahan ini merupakan sebuah mimpinya sejak ia kecil. Meski ia memiliki sebuah keluarga nantinya, ia tak akan pernah meninggalkan keluarga yang sejak dulu ia bangun bersama kami, dan–saat itu ia memintaku untuk berpikir dengan matang, apakah aku harus datang atau malah memutuskan untuk tidak hadir dalam acara ini dan memintaku agar mendoakan pernikahannya,”

 

“Sejak saat itu aku berpikir bahwa, aku bukanlah seorang sahabat yang baik. Sahabat yang mengerti sepenuhnya tentang Lee Sung Min. Sahabat yang seharusnya tahu bahwa, Lee Sung Min bukanlah orang yang akan meninggalkan kami begitu saja,” lanjut Cho Kyu Hyun dimana pada akhir kalimat ia membuang nafasnya kembali dengan sebuah senyum lain.

 

“Aku tahu aku adalah seorang laki-laki yang kekanak-kanakan dan jauh dari kata dewasa, karena telah memikirkan semua kemungkinan yang sebenarnya tak perlu kukhawatirkan. Tak perlu aku bertindak seperti demikian sebenarnya,”

 

“Chukkae hamnida Lee Sung Min hyung dan Kim Sa Eun nunna. Sebagai salah satu hadiah pernikahan untuk kalian berdua, kami telah mempersiapkan sebuah hadiah untuk kalian,” ucap Cho Kyu Hyun saat ini. Ia merekahkan senyumnya seraya memandang seorang laki-laki lain yang tengah berjalan menuju sebuah piano berukuran cukup besar bewarna putih yang berada di panggung dimana Cho Kyu Hyun berdiri. Ya, Kim Ryeo Wook kini menduduki bangku piano tersebut siap memainkan tuts-tuts piano itu. Ia menatap Cho Kyu Hyun, sebagai kode bahwa ia telah siap.

 

“Kami mendoakan kebahagiaan kalian berdua. Bahagialah bersama, dan cepat jadikan kami paman dari anak-anakmu,” ucap Cho Kyu Hyun saat ini. Ia melebarkan senyumnya saat matanya bertemu dengan kedua mata Lee Sung Min. Lee Sung Min juga membalasnya. Ya, ada perasaan lega juga senang yang ia rasakan saat ini. Benar, ini adalah hari yang sangat besar untuknya.

 

Gemuruh tepuk tangan terdengar kembali saat tiba-tiba sebuah alunan musik yang berasal dari tuts piano tersebut mulai dimainkan. Cho Kyu Hyun menarik nafasnya sebelum ia memejamkan matanya sejenak. Benar, ia siap untuk bernyanyi saat ini.

 

Ia tahu bahwa ia hanya terlalu khawatir terhadap segala sesuatu yang kan terjadi nantinya. Tapi apapun yang akan terjadi nantinya, ia hanya perlu yakin dan terus meyakinkan dirinya bahwa laki-laki itu, Lee Sung Min tak akan meninggalkan mereka. Ya, laki-laki itu tak akan meniggalkan keluarga yang telah mereka bangun betahun-tahun lamanya. Cho Kyu Hyun hanya perlu meyakini itu saja.

 

Cho Kyu Hyun membuka matanya saat alunan musik tersebut terhenti dan tiba saat untuknya untuk bernyanyi. Ia mengembangkan senyumnya sebelum akhirnya ia mendekatkan kembali mic tersebut pada bibirnya.

.

.

.

.

.

-The End-

Advertisements

9 thoughts on “The Groom’s Man (One Shoot)

  1. awal aku juga gak percaya umin oppa pacaran tetapi setelah dikonfirmasi akhirnya percaya dan mendukung banget apalagi saat tau umin oppa bakal menikah hari ini tepatnya . disini kyuhyun galau banget mau ditinggal roommatenya ya ampun jangan khawatir kyupa aku nanti malam akan berangkat ke seoul untuk menemanimu menggantikan sungmin oppa #ngarep hehehe. bagus thor kyuhyun disini bener juga dia marah karena sungmin tidak mengenalkan saeun unnie terlebih dulu padanya , pokoknya aku suka kyuhyun disini bener-bener deh mereka bromance couple yang aku suka #kyuminshipper ^^. maaf ya posternya jelek 😦 #berlindung dibelakang kyuhyun.

    Liked by 1 person

    1. Astaga, ini poster bagus author vizkylee :3 aku suka. Trs makasi banget foto2 prnikahan sungmin oppa jg dsrtakan 🙂 makasi jg ud mau baca. And. . jujur, aku masih galau ini haha. Awal takut ini jdi yaoi karna brdasarkan apa yg aku rasain, tp over all, thx ud mendukung pmbuatan ff ini 😀

      Liked by 1 person

  2. Aku g nyangka sungmin juga nikah >< dan aku suka kutipan dari ffmu "dunia mereka tak bisa ditebak. Semua datang dan pergi dengan begitu mudah hingga tak ada yang akan bisa mengetahuinya."
    Dalam bngt maknanya eheeheh
    Keep writing author nim ^^
    -mf-

    Liked by 1 person

    1. Anyeong author nunna/? Haha. Makasi ud mau baca ff yg satu ini 😀 makasi hehe, iya, kata2 itu tbtb trpikirkan karna bayk banget scandal member kluar akhir2 ini. Dan serius aku khawatir kalo umin oppa. . 😦 andwae. Makasi ya uda mau baca 😀

      Like

  3. Daebaaakk…
    sblmnya aku jg galau ggra umin oppa nikah,
    tapi pas bc ff ini keknya kyu oppa lebih galau lg,
    kkkeke ini endingnya sukaa,
    umin oppa g bakal lupa suju jg elf, kyuhyun oppa tenang saja =D

    Liked by 1 person

    1. Yuk nangjs bebareng T.T mskipun uda lwat nikahnya, tapi ttep aja galau, bner gak? /? Bebe iya. Selamat atas pernikahan mereka. Makasi banget ud mau baca, kyknya aku lbh brjodoh sm kyu oppa, krna bisa baca pkirannya/? Haha

      Like

  4. FF nya cocok dg kenyataannya thor. apalagi ada foto2 pernikahannya kelihatan umin oppa bhagia. ternyata hal itu yg bikin kyuhyun sedih?
    chukkae umin oppa hahaa kyuhyun oppa jgn galau xD

    Like

    1. Hahaha iya, sungmin oppa barus bahagia dan memang dia bahagia :’) tapi gatau kenapa sakit aja sampai sekarang huhu T.T haha, but, itu hak dia. Iya, kyu janga sedih trs hehe. Makasi sudah mau baca ~^^

      Like

  5. ahh kyuhyun wae?? pasti kyu sedih bgt yach,,
    bukan hnya kyu sebagian besar elf jg sedih,,
    chukkae bwt sungmin dan sa eun,, wkwkwkwk,,
    asal bkn kyu yang nikah aku ikhlas2 az,, hehehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s