Bromance · Married Life · One Shoot · Romance

Beautiful Rainbow


BR

Title: Beautiful Rainbow

Author: ts_sora

Cast:

  • Park Jung Soo a.k.a Super Junior’s Leeteuk
  • Kim Tae Yeon a.k.a SNSD’s Taeyeon

Genre: Marriage Life, Romance, Bromance

Length: One Shoot

Disclaimer: This belongs to me and the cast belongs to their company, except the OC one. No plagiarism juseyoo

A/N: Fanfiction ini pernah dipublikasikan sebelumnya pada Facebook Author. Entah kenapa suka dengan pairing TaeTeuk setelah nnton mv infinitely yours waks. Just enjoy~

 

Seorang pria memasuki rumah berukuran sedang miliknya. Ia menatap seisi rumahnya. Ya, sepi seperti biasa. Sebuah figura berukuran cukup besar terpampang begitu kokoh pada salah satu dinding. Figura dirinya juga seorang mempelai wanita yang terlihat mungil. Ia tersenyum.

‘Park Jung Soo dan Kim Tae Yeon

17-03-2012′

Setidaknya tulisan bewarna keemasan itulah yang menghiasi figura tersebut. Ya, hampir setahun ia juga wanita itu menikah. Tapi pernikahan ini terasa berbeda dengan pernikahan yang lainnya.

Perjodohan yang terasa sangat memaksa antara kedua mempelai. Ayah Jung Soo memaksakan sebuah pernikahan yang kurang logis untuk dipikirkan. Menikahi seorang gadis bahkan ia tak pernah temui. Lebih tepatnya ia tak pernah mencintainya.

Park Jung Soo menyisip isi sebuah cangkir miliknya. Asap mengepul terlihat jelas dari sana. Rasa kecewa atau penyesalan?

Entahlah. Jika ia bisa, ia ingin mengakhiri pernikahan ini beberapa bulan yang lalu atau menolak pernikahan tersebut. Ia terlalu takut tak dianggap sebagai salah satu keturunan keluarga Park yang terpandang. Bahkan ia berani untuk memberikan sisa hidupnya hanya untuk menikahi seorang gadis biasa yang sangat membenci pernikahan ini.

Sungguh ia merasa seperti seorang pecundang. Seharusnya ia tak harus mengiyakan permintaan ayahnya untuk menikahinya dengan gadis itu. Perjodohan sebagai suatu tanda terima kasih atas bantuan salah satu sanak keluarga gadis itu terhadap tuan Park. Terlihat sangat konyol bukan?

“H-hai, kau baru pulang?” ucap Park Jung Soo sedikit canggung saat seorang gadis tengah berjalan melewatinya. Tak ada jawaban seperti biasanya. Park Jung Soo sudah terbiasa akan kondisi tersebut. Tapi di dalam hati kecilnya, ia ingin gadis itu berbicara dengannya atau sekedar tersenyum kepadanya.

Mungkinkah?

“Kau sudah makan? Kalau belum..”

“Sudah cukup dengan sikapmu yang pura-pura perhatian padaku,”

Park Jung So kembali menutup bibirnya. Ya, seperti biasanya bahkan gadis itu tidak menatapnya saat mereka berbicara. Entahlah, ia merasa sedih atau bersalah terhadap gadis itu. Karena harus menghabiskan waktu bersamanya yang sama sekali gadis itu tidak mencintainya.

Sungguh, ia ingin sekali membayar semua kesalahannya.

“A-apa?”

Park Jung Soo hampir mengagetkan semua orang yang berada di jalanan saat ini. Tangan kanannya terkontrol untuk menguasai mobil miliknya sedangkan tangan kirinya memegangi ponsel miliknya yang masih berada di telinganya.

“Iya, eomma akan menginap di rumah kalian untuk beberapa hari. Karena ayahmu akan pergi, kukira itu hal yang bagus bukan?”

Park Jung Soo dapat mendengar jelas suara ibunya di seberang. Suara wanita itu begitu lembut juga menenangkan, tapi tidak untuk saat ini. Bagaimana bisa ibunya tidur di rumahnya? Sedangkan keadaan pernikahannya dengan Tae Yeon yang sangat buruk.

Park Jung Soo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedikit bingung? Tentu. Ia sangat bingung kali ini.

“Jung Soo-ah?”

“Ah ne eomma. B-baiklah, kapan eomma ke rumah?”

“Besok siang,”

“Baiklah.. Sampai jumpa besok,” ucap Jung So mengakhiri panggilan. Baiklah apa yang akan pria itu lakukan?

Pria itu sangat tahu kalau ibunya juga ayahnya menginginkan keluarga kecil Park Jung Soo bahagia juga tentunya harmonis. Meski ia harus menikahi seorang gadis yang bahkan tidak mencintainya.

Ia adalah seorang anak tunggal dari orang tuanya. Kewajiban dirinya untuk membahagiakan kedua orang tuanya, membuatnya rela untuk meminum racun sekalipun demi kebahagiaan kedua orang tuanya. Maka dari itu, ia sama sekali tidak berkomentar tentang pernikahan konyol tersebut.

Tapi ia salah besar. Ia tak masalah menikahi seorang gadis yang ia tak cintai, tapi gadis itu? Ya, pernikahan ini terasa tak adil. Park Jung Soo mengira bahwa gadis itu akan merasa bahagia akan kekayaan yang dimiliki Park Jung Soo yang mana akan menjadi kekayaan milik gadis itu, tapi nyatanya bukan itu yang diinginkan Tae Yeon.

Park Jung Soo membuka pintu rumahnya yang memang tidak terkunci. Ia melangkahkan kakinya untuk mencari sosok Tae Yeon. Ya, sesuatu harus dikatakan segera.

“Boleh aku berbicara sebentar?” ucap pria itu memberanikan diri. Gadis itu menatapnya sebentar lalu berjalan berlalu.

“Tolonglah, aku ingin meminta tolong. Dengarkan aku,”

Park Jung Soo meraih tangan Tae Yeon agar gadis itu menghentikan langkahnya . Tae Yeon akhirnya menurut. Ia membalikkan tubuhnya dan kini mematap Jung So malas.

“Besok ibuku datang dan..”

Park Jung So menghentikan kalimatnya. Sedikit canggung untuk menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan. Ini pertama kalinya pria itu berbicara langsung dan gadis itu tengah mendengarkannya. Juga kini menatap matanya. Perasaan takut juga senang bergabung di dalam hatinya sekarang.

“Bagus,” ucap Tae Yeon singkat lalu melangkahkan kakinya pergi menuju kamar miliknya. Baiklah. Rumah tersebut memiliki tiga kamar. Rumah yang sangat sederhana untuk Park Jung Soo juga Tae Yeon. Sebagai pasangan muda, mereka masih dirasa kurang perlu untuk memiliki rumah yang mewah.

“Bagus?”

“Ya, dengan begitu ibumu tahu kalau menantunya tidak menyukai pernikahan buruk ini,”

Park Jung Soo mempercepat langkahnya dan menutup pintu kamar Tae Yeon yang tadi terbuka.

“Bukan, m-maksudku tolonglah. Tolong, berpura-puralah sebagai istriku,”

Sebuah seringaian muncul dari bibir mungil gadis itu. Ya, gadis itu adalah istrinya tapi bukan istri dalam arti yang sebenarnya. Mereka mempunyai sebuah ikatan tapi tak benar-benar memiliki sebuah ikatan.

“Kalau aku tidak mau?”

“K-kumohon. Kau punya orang tua bukan? Bagaimana jika orang tuamu yang datang? Mereka ingin anaknya hidup bahagia bukan?’

“Dan sayangnya aku tidak bahagia,”

Park Jung Soo terdiam sesaat. Ya, jawaban yang begitu menyakitkan untuknya. Memang. Memang mereka tidak pernah merasa bahagia sekalipun. Tapi jauh di alam tak sadarnya, pria itu bahagia telah menikahi seseorang. Karena menurutnya, bahagia orang tuanya adalah bahagianya juga.

“Aku tahu. Tolonglah, hanya untuk orang tuaku. Beberapa hari saja,”

Kim Tae Yeon tidak berkomentar. Ia memilih untuk menyingkirkan ‘suami’nya itu dari hadapannya dan memasuki kamarnya.

Park Jung So mendengus kesal. Entahlah apa yang harus ia lakukan sekarang. Bagaimana ibunya berpikir tentang pernikahannya ini?

“Masuklah eomma,” ucap Jung Soo membukakan pintu untuk ibunya. Nyonya Park tersenyum lalu memasuki rumah tersenyum. Park Jung Soo mencoba untuk memberikan senyum terbaiknya untuk ibunya. Ya, meski dalam hatinya ada ketakutan yang besar. Bagaimana Tae Yeon? Bagaimana gadis itu bersikap nantinya?

“Rumah ini tidak berubah dari terakhir kali aku ke sini. Oh, dimana istrimu?”

Gulp. Park Jung So menelan ludah yang terasa begitu susah untuknya. Ia meringis.

“A-ah, ada. T-Tae Yeon-ah?”

Park Jung So mencoba memanggil nama ‘istrinya’ tersebut. Meski ini pertama kalinya ia memanggil nama itu dengan nada yang terdengar ‘sok’ akrab. Jantung pria itu berdetak lebih kencang dari sebelumnya saat Tae Yeon tidak keluar dari peraduannya. Dimana gadis itu sekarang? Konyol bila ternyata gadis itu lari dari rumah ini hanya karena situasi yang dipaksakan ini.

“Dimana istrimu?”

“Anyeong haseyo,” seorang gadis keluar dari kamarnya. Dengan senyum terbaik yang bahkan tak pernah Jung Soo lihat. Terakhir ia melihatnya, yaitu saat mereka menikah. Senyum ‘fake’ yang sangat dipaksakan gadis itu. Senyum dimana terdapat tangis yang tersembunyi.

“Aigoo, bagaimana kabarmu sayang?”

“Baik eomma. Bagaimana kabarmu? Maaf, akhir-akhir ini sibuk, belum bisa menjenguk eomma,”

“Gwenchana, aku tahu kau sibuk. Jung Soo yang menceritakannya padaku,”

Park Jung Soo merasa tubuhnya sangat ringan. Ya, sangat lega. Kim Tae Yeon memenuhi permintaannya. Meskipun secara terpaksa, tapi melihat kedua wanita itu akrab, ia merasa sangat senang. Entah kenapa, Tae Yeon terlihat sangat cantik dari biasanya. Ia tahu, sebenarnya gadis itu cantik, meski tak pernah memperlihatkannya padanya.

“Ah, aku lupa. Eomma, biar aku letakkan barang-barang eomma,” ucap Jung Soo dan dengan segera ia memgangkat sebuah tas berukuran cukup besar menuju kamar dimana ia biasa tidur. Ya, kamar yang sebenarnya adalah kamar tamu. Ia dan Tae Yeon tak pernah tidur seranjang bahkan sekamar. Seharusnya, sebuah kamar untuk mereka, sebuah kamar yang sudah tersiapkan untuk seorang bayi mereka nantinya dan sebuah kamar tamu.

“Jung Soo ah, disini terdapat banyak pakaianmu?”

“A-ah, di lemari kami sudah terisi penuh jadi aku sengaja meletakkan beberapa pakaianku disini,” ucap Jung Soo yang jauh dari kenyataan yang ada. Kim Tae Yeon melihat Jung Soo malas. Tatapan yang sama, saat ibu Jung Soo tidak mengetahuinya.

“Eomma, aku sudah menyiapkan makan siang. Makanlah dahulu,” ucap Tae Yeon menggandeng lengan nyonya Park dan berjalan menuju ruang makan. Park Jung Soo tersenyum melihat keduanya. Ya, bagaikan sebuah mimpi melihat keakraban keduanya. Meski hanya sebuah kepura-puraan.

Jung Soo mengambil sebuah bangku tepat di samping ibunya lalu mendudukinya. Sedangkan Tae Yeon menduduki sebuah bangku di hadapan tepat di depan Nyonya Park.

“Ya, Jung Soo-ah, duduklah disamping istrimu. kau mau dia cemburu melihatmu denganku?”

Park Jung Soo menatap ibunya. Sebuah senyum kecanggungan ia tunjukan. Ya, ia lupa. Sebagai seorang suami, seharusnya ia duduk tepat disamping istrinya. Ia beranjak lalu duduk di samping Tae Yeon. Sangat tidak nyaman. Tatapan tajam tak luput ia dapatkan dari gadis itu.

Ya, mereka harus berpura-pura layaknya sepasang suami istri yang harmonis dan bahagia hanya untuk seorang wanita yang akan menghabiskan waktu dengan mereka untuk beberapa hari.

Nyonya Park terlihat sangat puas melihat anaknya duduk bersamanya juga istrinya pada satu meja makan.

Kim Tae Yeon telah menyiapkan satu set meal untuk masing-masing orang. Tanpa sadar, senyum tak pernah hilang dari bibir Jung Soo. Ya, kenapa tidak? Ia ingin sekali istrinya memasakkan sesuatu untuknya dan makan bersama dengan dirinya. Meski harapan itu sempat pupus untuk beberapa bulan, tapi untuk beberapa hari ini paling tidak ia bisa merasakan harapannya terjawab sudah. Tak hanya untuk beberapa hari, ia ingin ini berjalan bahkan saat ibunya tak berada di rumah ini. Jujur saja, Kim Tae Yeon tak pernah memasakkan sesuatu untuknya. Dan ini adalah kali pertama untuknya.

“Eomma merasa rumah ini sepi,”

Kalimat Nyonya Park seketika membuyarkan sibuknya pikiran Jung Soo juga Tae Yeon. Mata mereka menatap Nyonya Park serentak. Wanita tua itu tersenyum.

“Kapan kalian akan memiliki Jong Soo kecil juga Tae Yeon kecil di sini?”

Park Jung Soo sempat tersedak saat mendengarkan apa yang dikatakan ibunya barusan. Baiklah, permintaan apalagi yang dikatakan ibunya itu? Duduk berdampingan dan menikmati makan siang bersama dengan Tae Yeon saja serasa bagai sebuah mimpi, apalagi mempunyai seorang anak?

“E-eomma, masih belum saatnya. Aku sedikit, m-maksudku, kami masih terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Jadi, kami belum memikirkan itu,”

Kini Tae Yeon mengambil alih. Ya, diam bukanlah jawaban baik yang diberikan Tae Yeon juga Jung So untuk Nyonya Park. Dan ia rasa sebuah jawaban dirasa perlu untuk saat ini.

Park Jung So merasa sangat lega saat Tae Yeon mengatakannya. Ya, paling tidak kepura-puraan ini tidak terbongkar.

“Terima kasih,”

Tae Yeon melihat ke arah Jung Soo sesaat lalu beralih pada sebuah cermin di hadapannya. Menyisir rambutnya berulang. Ya, mau tidak mau, mereka harus berada di sebuah kamar. Ya, yang sebenarnya adalah kamar Tae Yeon tiap harinya. Tapi tidak untuk saat ini.

“Jangan pernah kamu menyentuh ranjang ini,”

Park Jung Soo tersenyum. Ia tahu. Ia tak mungkin tidur seranjang dengan gadis itu meski mereka resmi menikah. Park Jung Soo meniduri beberapa lembar selimut yang ia sediakan sendiri sebagai alas tidurnya di lantai.

“Kau tidak bisa tidur di tempat gelap?”

Park Jung Soo melirik Kim Tae Yeon yang sudah berada di ranjangnya. Ya tak ada jawaban. Ya, kepura-puraan hanya akan ada pada saat Nyonya Park berada di sekitar mereka.

“Kenapa kau melakukannya untukku?”

“Untukmu? Aku melakukannya untuk ibumu bukan untukmu,”

Park Jung Soo menyeringai. Ya, ia salah sangka. Seharusnya ia sadar, gadis itu tak melakukannya untuk dirinya.

“Ibumu adalah wanita yang baik. Aku juga berhutang kepadanya,”

Ya, Nyonya Park begitu baik terhadap Kim Tae Yeon juga seluruh keluarganya. Nyonya Park menjamin kehidupannya juga keluarganya. Sebuah tanda terima kasih lain karena Tae Yeon bersedia untuk menikahi Park Jung Soo.

Sebenarnya sebuah pertanyaan lain muncul di benak Jung Soo. Jika gadis itu tidak menyetujuinya, kenapa pada akhirnya ia tetap datang dan mau menjadi mempelai wanitanya saat itu.

“Kenapa kau mau menikah denganku?”

Kim Tae Yeon terdiam. Seolah ia tak memiliki jawaban untuk pertanyaan yang baru saja dilontarkan.

“Bukankah, kau sudah memiliki..”

“Sudahlah, aku lelah. Aku ingin tidur,” ucap Kim Tae Yeon memotong. Ya, pertanyaan yang tak akan pernah Tae Yeon jawab untuk ke seribu kalinya. Bahkan dunia kiamat, mungkin ia tak akan pernah mau menjawabnya.

“Bagaimana yangyeom-nya eomma?”

Nyonya Park yang tengah mengunyah sesendok yangyeom dengan gaya anggunnya tersenyum. Ia mengangguk berulang.

“Tae Yeon-ah, kau benar-benar pintar memasak,”

Tae Yeon tersenyum lebar. Ya, paling tidak ia merasa lega karena ibu mertuanya kagum dengan masakan yang ia buat.

“Jung Soo-ah, kau bangun kesiangan?” ucap Nyonya Park dengan mengusap kedua ujung bibirnya dengan sebuah kain yang telah disediakan sedari tadi. Park Jung Soo hanya tersenyum masam. Untuk ia tidak bisa tidur. Tidur di lantai hampir membunuhnya.

Park Jung Soo mengenakan jas miliknya yang ia sediakan sejak tadi. Tanpa mengenakan dasi.

“Makanlah dahulu,”

“Ne eomma,” ucap Park Jung Soo terburu-buru. Ia berjalan kesana kemari mengambil beberapa barang yang akan ia bawa ke kantor. Tanpa sadar , Nyonya Park memperhatikannya sedari tadi. Ia juga memperhatikan Tae Yeon yang masih menduduki bangkunya.

“Tae Yeon-ah, bantulah suamimu dahulu,”

Tae Yeon meletakkan sumpitnya. Ya, ia lupa kalau ia akan bersandiwara seakan-akan tak ada apa-apa di keluarga kecil mereka. Ia berjalan menuju kamar seraya membawa dua buah dasi di tangan kanannya.

“O-oppa, kau mau memakai dasi yang mana?”

Bagai mimpi, Kim Tae Yeon memanggilnya dengan sebutan oppa. Canggung sebenarnya. Tapi mereka mencoba untuk menyembunyikan semua itu. Raut wajah Tae Yeon setidaknya lebih baik dibandingkan dengan saat mereka hanya berdua di rumah.

“Biru tua saja,” ucap Jung Soo singkat. Dengan sigap Tae Yeon mengenakan dasi tersebut pada leher suaminya. Ya, bagai sebuah sengatan listrik. Perasaan senang yang meluap-luap hadir di hati kecil Jung Soo saat ini. Ingin rasanya ia memeluk soaok istri yang sangat ia dambakan itu. Tunggu..

Apa pria itu mulai mencintai istrinya?

“Makanlah dahulu. Akan aku siapkan barangmu,” ucap Tae Yeon sambil berlalu. Park Jung Soo menurut saja. Ia mendusuki bangku yang sudah beberapa hati ini sebagai singgah sananya. Menikmati sajian yang sengaja Tae Yeon buat tiap harinya (saat Nyonya Park menginap).

“Apakah tidak apa-apa, Tae Yeon bolos kerja?”

“Tidak apa-apa eomma, Tae Yeon yang memintanya sendiri. Ia ingin menemani eomma saat eomma disini,”

Nyonya Park dapat bernafas lega. Tak susah untuk Tae Yeon mendapatkan izin untuk libur atau tidak masuk hanya karena mertuanya ini. Tempat kerja Tae Yeon adalah sebuah perusahaan yang masih memiliki relasi dengan perusahaan keluarga Park.

“Aku suka yamyeonnya. Enak,” ucap Jung So seperlunya saat Tae Yeon sudah menduduki kembali bangkunya. Tae Yeon hanya mengangguk. Ya, ia beranggapan bahkan tak perlu untuk mengatakan suatu kata untuk merespon apa yang dikatakan pria itu.

Park Jung Soo menegak minumannya dan mulai beranjak dari bangkunya.

“Eomma aku berangkat dahulu,” ucap pria itu sedikit membungkuk. Nyonya Park tersenyum lebar. Membalasnya dengan sebuah anggukan.

Mata Jung Soo kini beralih pada istrinya yang tengah menatapnya. Sebuah senyum ia tunjukan pada gadis itu dan secara terpaksa gadis itu membalasnya.

“Ya, Jung Soo-ah, ciumlah istrimu,”

Mata keduanya membulat seketika. Baiklah permintaan ibunya sekarang terasa sangat berlebihan. Dan apakah harus melakukan itu di hadapan ibunya.

“Eomma, tidak seharusnya kita tunjukan bukan?”

Nyonya Park tertawa lepas. Ya, di balik kalimatnya, Nyonya Park hanya menggoda mereka. Tapi tahukah, kalau kalimat itu sangat-sangat Jung So tunggu? Dan ia juga menunggu saat dimana ia akan mencium Tae Yeon sekedar memberi tahunya bahwa ia mencintai istrinya kini.

“Tae Yeon-ah, aku berangkat,” ucap pria itu lalu meninggalkan rumahnya.

Park Jung Soo menatap sebuah kalender meja yang berukuran kecil secara saksama. Ya, sebuah tanggal sengaja dilingkari pada bulan ini.

‘My Birthday’

Setidaknya tulisan itu yang tertulis. Ya, tanggal dimana Tae Yeon akan berulang tahun.

“Sampai kapan kau akan diam di situ?”

“Oh, maaf,” ucap Park Jung Soo singkat lalu kembali membereskan barang miliknya. Ya, waktu memginap Nyonya Park sudah habis. Itu artinya hidup mereka kembali dengan sebagaimana mestinya. Hidup sebagai sepasang suami istri yang gagal.

“Kau melihat kalungku?”

Park Jung So mengernyitkan dahi. Kalung? Ya, Kim Tae Yeon selalu mengenakan kalung berliontin merah kemana saja dan kapan saja. Dan mungkin ia kehilangan benda itu sekarang.

“Tidak. Kau kehilangan benda itu?”

Kim Tae Yeon hanya mengangguk. Ia kemballi mencari barang tersebut di ranjangnya, lemarinya, kantong mantelnya, kantong celananya, di lantai, dan dimana pun. Park Jung Soo kira, barang itu sangat berharga untuk istrinya tersebut.

“Mau aku bantu?”

“Tidak usah. M-maksudku, bereskan barangmu saja. Tak usah pedulikan aku,”

Ya, kalimat ketus kembali keluar dari bibir gadis itu. Bukan suatu masalah baginya. Ia sudah terbiasa untuk itu.

“Kalung itu berharga untukmu?”

Tak ada jawaban. Kim Tae Yeon masih sibuk dengan dirinya sendiri.

“Dari seorang yang kau cintai?”

Kim Tae Yeon terdiam. Matanya tertuju pada pria yang masih berada di kamarnya.

“Ya, memangnya kenapa? Aku minta kau keluar,”

Sebuah kalimat yang sangat mengenakkan keluar dari bibir mungil gadis itu. Baiklah, tak masalah bila gadis itu menyuruhnya pergi. Toh ia sudah terbiasa. Tapi..

Kalung itu. Kalung yang berharga untuk gadia itu, adalah pemberian kekasihnya saat mereka belum menikah. Atau mungkin mereka masih sering bertemu sekarang. Entahlah.

Park Jung Soo hanya menyeringai. Di balik itu semua, sesungguhnya ia cemburu. Tapi bisa apa dia?

Park Jung Soo menata hatinya saat kakinya berada di depan pintu kini. Ia mengintip kantung mantel miliknya. Ya, sebuah kotak bludru bewarna merah. Hari ini adalah hari ulang tahun Kim Tae Yeon. Setidaknya sebagai suami ia harus memberikan sesuatu untuk istrinya.

Sebuah kalung berliontin bewarna merah. Bukan. Bukan kalung yang ia selama ini gadis itu kenakan, tapi kalung baru. Ia baru saja membelinya di toko perhiasan dekat kantornya.

Bukan apa-apa. Ia hanya sengaja memberikan kalung bertema senada dengan kalung gadis itu yang hilang. Ya, sudah seminggu kiranya kalung itu belum diketemukan. Ya, terakhir kali gadis itu mengenakannya sebelum ibunya datang ke rumah mereka.

Wajah Park Jung Soo sedikit kecewa saat ia tak menemukan sosok gadis itu di rumah. Ya, kemungkinan besar gadis itu merayakannya dengan keluarganya, atau teman-temannya atau..

Mantan kekasihnya?

Satu harapan yang selalu Park Jung Soo minta, Tae Yeon tidak bertemu atau merayakan hari ulang tahunnya dengan pria lain. Ya, dengan pria yang mungkin masih Tae Yeon cintai.

Hari sudah terlalu malam, tapi dimana gadis itu berada?

Khawatir? Tentu saja. Ia sangat khawatir tatkala gadis itu tidak berada di sampingnya.

Park Jung Soo mengintip jendela rumahnya saat suara sebuah mobil terasa asing baginya. Ya, sebuah mobil tengah berhenti tepat di depan rumahnya. Seorang pria tengah keluar lebih dahulu dan membukakan pintu tempat bangku penumpang. Dan ya, Kim Tae Yeon keluar dari pintu mobil tersebut.

Park Jung Soo merasa geram sekarang. Baiklah siapa pria itu. Park Jung Soo dapat melihat keakraban antara keduanya. Senyum, bahkan tawa terkadang gadis itu tunjukan. Jujur, gadis itu tak pernah sekalipun melakukan itu padanya.

“Siapa dia?” tanya Park Jung Soo tiba-tiba saat gadis itu kini berada di dalam rumahnya.

“Bukan urusanmu,”

“Bukan urusanku? Jelas ini urusanku. Kau istriku,”

Tae Yeon menghentikan langkahnya menuju ke kamarnya. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap Park Jung Soo yang sedang geram.

“Kau tahu, kita menikah tapi aku sama sekali tidak menginginkan ini. Jika kamu lebih berani untuk menolak, aku tahu, tak akan seperti ini,”

Ya, sekali lagi. Tae Yeon menganggap semua permasalahan dan pernikahan konyol ini adalah salah Park Jung Soo. Bahkan ia tak sadar bila ia juga ikut andil atas pernikahan ini. Alasan kenapa ia juga mengiyakan pernikahan ini.

Park Jung Soo memilih bungkam. Ia tahu, ia tak akan bisa marah kepada gadis itu.

“Kenapa? Kau tahu seberapa menderitanya aku menghabiskan sisa hidupku dengan orang sepertimu? Yang bahkan aku tidak cintai?”

“Aku punya mimpi. Mimpi dimana aku menikahi seorang pria yang aku cintai. Tapi aku harus meninggalkannya demi pernikahan konyol ini,”

Kim Tae Yeon tetap berbicara. Air matanya berhasil meluncur dari pipinya. Park Jung Soo tetap bungkam.

Ya air mata yang selalu Park Jung Soo lihat dari gadis itu. Bukan senyum atau tawa. Ia sadar, gadis itu tak pernah bahagia akan pernikahan ini. Seakan tersiksa dengan semua ini.

“Aku..”

“Kau ingin berpisah bukan?”

Park Jung So kini mulai berbicara. Dalam sekejap Tae Yeon berhenti berbicara.

“Aku akan mengurus perceraian kita secepatnya. Kau tak perlu merasa tersiksa lagi. Dan kau bisa bertemu dengan pria yang kau cintai,” ucap Jung Soo mencoba menahan amarahnya. Ya, tak mungkin ia menunjukan rasa kecewa atas apa yang diucapkan Tae Yeon. Sangat konyol bila ia menunjukan semua itu.

Park Jung Soo mengeluarkan sebuah kotak yang ia kantungi sedari tadi. Ia meletakkannya pada sebuah meja dekat dimana ia berdiri. Senyum pahit rasanya menjadi hiasan di wajahnya untuk saat ini.

“Selamat ulang tahun,” ucapnya singkat dan berlalu. Ya, sebentar lagi, semua akan berakhir. Ia tak perlu melihat gadis itu menangis karena harus menjalani sisa hidupnya dengan pria yang tidak ia cintai.

Tapi mencintainya..

Perceraian adalah hal yang terbaik diantara Jung Soo dan Tae Yeon. Ia tak perlu lagi melihat gadis itu tersiksa dan sangat dingin terhadapnya. Meskipun ia begitu ramah dengan orang lain atau bahkan dengan pria lain.

Ya, meminta izin kepada orang tuanya adalah hal pertama yang harus ia lakukan sekarang. Cuma itu awal yang harus ia lakukan pertama.

Park Jung Soo menatap ibunya yang terlihat begitu kecewa tentang apa yang baru saja ia katakan. Ya, tentang perceraan antara dia juga istrinya.

“Apa kau yakin?”

“Maaf eomma. Aku sudah berusaha untuk mempertahankan pernikahan kami. Tapi eomma tahu bukan, ini karena perjodohan. Kami menikah bukan berdasarkan cinta atau semacamnya,”

Nyonya Park berulang kali mengernyitkan dahinya. Ia tahu, sebenarnya anaknya mencintai gadis itu. Entah anaknya sadar atau tidak akan perasaannya. Satu hal. Nyonya Park sangat memikirkan anaknya. Ia merasa perceraian adalah keputusan sepihak yang mana akan melukai hati anaknya nanti.

“Ia tidak mencintaimu?” ucap Nyonya Park sedikit lancang. Park Jung Soo hanya tersenyum tipis. Dari dulu gadis itu tak pernah mencintainya. Bahkan gadia itu membencinya. Sangat membencinya. Tak mungkin gadis itu akan mencintainya.

“Kami tak saling mencintai,” ucapnya berdalih. Rasa kecewa sekali lagi dirasakan Nyonya Park. Ya, anaknya tak mengatakan hal jujur tentang perasaannya. Nyonya Parvmembuang nafas panjangnya. Putus asa terhadap pernikahan anaknya.

“Jika kau tidak mencintainya, kenapa bertahan sampai sejauh ini?”

Park Jung Soo terdiam. Ibunya benar. Ia tak mungkin bisa bertahan sampai detik ini jika ia tidak mencintai gadis itu. Ia mencintai gadis itu, maka ia bertahan.

Dan ia mundur, saat gadis yang ia cintai merasa tersiksa karena menikah dengannya. Apa yang bisa ia perbuat selain itu?

“Jika kau mencintainya, katakan padanya Jung Soo-ah. Kau bisa membicarakannya baik-baik. Tapi kalau memang kamu tidak mencintainya, kau boleh mengakhiri pernikahanmu dengannya,”

Nyonya Park mulai beranjak dari sofa miliknya. Berjalan menuju dimana Park Jung Soo duduk. Ia tahu, kondisi ini sangat membuat Park Jong Soo dilema.

“Jujurlah tentang perasaanmu. Jangan berbohong demi orang yang kau cintai,”

tambah Nyonya Park seraya menepuk bahu anaknya. Ia tersenyum. Berharap anaknya mengerti maksud apa yang ia katakan dan berlalu.

“Menunggu lama?” ucap Park Jung Soo saat melangkahkan kakinya menuju sebuah bar. Ya, seseorang yang sangat ia kenal tengah menunggunya.

Pria yang terlihat cantik itu hanya menggeleng pelan lalu meminum segelas bir yang dari tadi ia pesan. Park Jung Soo duduk menyampinginya. Mengeluarkan nafas panjangnya. Ya, ia depresi saat ini.

“Bagaimana kabarmu?”

“Kau sudah melihatnya sekarang,”

Pria cantik itu tertawa lepas. Ya, ia sangat mengenal sahabatnya tersebut. Masalah yang datang mulai beberapa bulan yang lalu. Benar, sebuah pernikahan akibat perjodohan.

“Lalu?”

“Kami akan bercerai secepatnya,”

Pria cantik itu menatap sahabatnya tak percaya. Ya, ia tahu sahabatnya bukan pria yang gegabah untuk memutuskan sesuatu. Pria cantik itu tersenyum tipis.

“Bagaimana bisa ia selalu menyalahkanku tentang pernikahan konyol ini. Ku kira, ia harus sadar, ia juga ikut andil dalam urusan ini,”

Park Jung Soo menyisip segelas beer yang baru saja datang untuknya. Ya, pria dewasa lebih suka menghabiskan waktu bersama seorang sahabat untuk meminum beberapa gelas beer dan mencurahkan apapun yang ada di pikiran mereka.

“Dia punya seorang yang ia cintai sebelum ia menikah denganku, bukan?”

Pria yang berada di sampingnya hanya tersenyum tipis.

“Ayolah, kau adalah saudaranya,”

Ya, Kim Hee Chul. Pria cantik itu adalah Kim Hee Chul. Ia adalah salah satu saudara Kim Tae Yeon. Bukan saudara kandung, melainkan saudara sepupu. Mungkin.

“Kau tahu ayahnya bukan? Seseorang yang gila harta. Ia menerima pernikahan itu hanya untuk mengiyakan segala hasrat ayahnya. Hanya sebuah batu loncatan, untuk menaikkan derajat,”

Park Jung Soo tersenyum lebar. Tak masalah baginya. Semua orang menginginkan derajat yang lebih tentunya. Yang menjadi masalah adalah tak seharusnya gadis itu masih menyalahkannya.

“Tapi kenapa kau mundur?”

“Kau tak pernah melihat saudaramu bahagia setelah menikah denganku bukan?”

Kim Hee Chul tersenyum tipis. Itu benar. Meski derajat keluarga Kim Tae Yeon lebih tinggi, ia tak pernah melihat gadis itu bahagia. Entahlah. Seperti kondisi ia sangat tersiksa.

“Kau mundur karena dia?”

Park Jung Soo mengangguk pelan seraya menghabiskan segelas beer entah ke berapa.

“Kau mencintainya?”

“Aku menyukainya,”

“Ayolah, kau tak bisa berbohong kepadaku,”

Park Jung Soo tertawa lepas. Untuk sesaat ia bisa melepaskan penatnya. Ya, Park Jung Soo memang mencintainya. Meski cinta itu terasa tak dibutuhkan.

“Kau tahu, setelah kau sadar kau mencintai seseorang, kau tak akan peduli bagaimana perasaanmu. Dan kau akan memprioritaskan kebahagiaan orang yang kau cintai. Meski kau harus kehilangannya,”

Kim Hee Chul menatapnya sedikit tak mengerti. Ya, cinta sangat membingungkan.

“Ini badai rumah tangga,”

“Dan kau akan melihat pelangi setelah badai itu,”

Pria cantik itu menambahkan. Park Jung Soo tersenyum tipis. Andai saja pelangi itu benar ada. Pelangi tersebut akan menjadi pelangi terindah yang pernah ia lihat.

Beberapa jam menjadi waktu milik mereka berdua. Ya, sudah lama mereka tidak mengabiskan waktu bersama. Sekiranya ini adalah momen yang penting bagi mereka.

“Aku harus pergi sekarang. Sudah terlalu malam,”

Kim Hee Chul tertawa.

“Ya, sejak kapan kau peduli dengan jam malam?”

“Aku mempunyai seorang istri. Aku tidak bisa terlalu lama denganmu,” ucap Jung Soo terkekeh. Sungguh, ia sebenarnya bangga atas pernikahan yang ia jalani. Membanggakan pada semua oraang bahwa ia memiliki seorang istri sekarang.

“Aku menemukan seorang Jung Soo yang baru sekarang. Seorang Jung Soo yang lebih dewasa. Ya, apa ini karena pernikahanmu?” ucap Kim Hee Chul menyindir.

“Benar. Maka berhentilah untuk menyendiri. Menikahlah, maka kau menjadi orang lebih dewasa. Kau tak bisa menunggu umurmu bertambah tua,”

“Aish jinja. Kalau aku mempunyai calon untuk dinikahi, aku akan menikah,”

Park Jung Soo tertawa lepas. Entahlah, sahabatnya ini sangat kekanak-kanakan.

“Mintalah ayahmu untuk menjodohkanmu,”

“Apa akan berakhir perceraian sepertimu?”

Park Jung Soo menutup bibirnya rapat-rapat saat kalimat tersebut dilontarkan. Ia tersenyum masam. Ya, perceraian. Sebentar lagi, mau atau tidak, perceraian sudah di depan mata.

“Kau tak seharusnya bercerai. Jika kau bisa mencintainya, tentu ia bisa mencintaimu,” tambah pria cantik itu bijak. Ya, setidaknya kalimat tersebut dapat menenangkan Park Jung Soo sejenak. Meski terdengar konyol.

“Sudahlah, aku pulang dahulu,” ucap Jung Soo seakan tak mendengarkan. Harapan itu sebenarnya ada. Tapi terasa tak mungkin. Ya, gadis itu sangat membencinya.

Entah sudah berapa lama ia dan Kim Tae Yeon tidak saling berbicara. Ya, mengingat perbincangan terakhir antara keduanya yang sangat buruk. Sungguh Jung Soo sebenarnya merindukan gadis itu. Ia ingin sekali berbicara dengan gadis itu.

Pukul 8. Setidaknya itu yang ia lihat dari jam tangan miliknya. Ini terlalu siang dan Tae Yeon tidak keluar dari kamarnya. Sebenarnya sedang apa dia? Ia seharusnya sudah bersiap-siap untuk bekerja hari ini. Bahkan gadis itu biasanya lebih awal untuk bersiap-siap.

Park Jung Soo melangkahkan kakinya menuju kamar Tae Yeon yang masih tertutup. Ya, sedikit ada rasa cemas karena Tae Yeon tak kunjung keluar dari kamarnya.

Pria itu mulai mengetuk pintu kamar ‘istrinya’ tersebut. Berharap gadis itu akan merespon pada tiap ketukan. Pria itu mencoba memutar knok pintu tersebut dan ternyata tidak terkunci.

Ia melihat Tae Yeon tengah tertidur di ranjangnya. Wajahnya tetlihat tak sehat. Park Jung Soo menghampirinya.

“Kau sakit?”

Kim Tae Yeon tak menggubris. Nafasnya terdengar begitu berat. Gadis itu mengetatkan selimutnya. Ya, cuaca begitu ekstrim baginya.

Park Jung Soo melepas jas miliknya dan merenggangkan dasi miliknya. Ia meletakkan punggung tangannya pada dahi Tae Yeon. Ya, demam. Pria itu mengusap beberapa bulir keringat di wajah Tae Yeon. Ia tersenyum tipis..

“Kau mau makan apa?”

Kim Tae Yeon masih termangu. Tak merespon sama sekali. Ya, beberapa kalipun gadis itu bersikap dingin dengannya, pria itu tetap bersikap baik. Bahkan semakin baik. Seharusnya prialitu sadar, bahwa perceraian menunggu mereka.

“Mau kubuatkan bubur atau sup?”

Konyol. Ya, pria ini sangat konyol. Tae Yeon merasa tak punya tenaga untuk menyela ataupun sekedar berkomentar tentang apa yang tengah dilakukan pria itu.

“Ayolah, aku hanya ingin menolongmu,”

“Kau tidak bekerja hari ini?”

“Tidak. Tidak ada tugas untuk saat ini. Jadi kukira aku bisa berada di rumah saat ini,”

Tae Yeon menyeringai. Ya, ia tahu pria itu berbohong. Ada sedikit rasa senang yang ia rasakan saat ini. Paling tidak pria itu tidak bekerja hanya untuk menjaganya. Ia tak mau bila ia membuat sikap pria itu terasa sia-sia.

Tunggu..

Perasaan apa ini?

“Sup saja,” ucap Kim Tae Yeon singkat. Park Jung Soo merasa puas. Ya, setidaknya ia mau menjawab pertanyaannya kali ini.

“Baiklah,” ucap pria itu seraya meninggalkan ruangan.

Pura-pura perhatiankah kali ini? Bukan. Ya, tak hanya hari ini, tapi pria itu sering mencemaskannya. Tapi mungjin ia yang terlalu ketus dan dingin menyikapi pria itu. Enathalah ada rasa dendam juga benci terhadap pria itu yang bahkan ia tak yakin apa penyebabnya

Ia terlalu berlebihan? Tidak menurutnya. Ya, jika bukan karena pernikahan ini ia tak mungkin meninggalkan pria yang ia cintai.

Tunggu, apa pria itu bisa memasak? Apa pria itu memasukkan suatu racun dan sengaja ingin membunuhnya?

Konyol. Tak mungkin pria itu akan membunuhnya. Pria itu sangat mencintai kedua orang tuanya, atau mungkin lebih tepatnya anak emas antar keduanya. Sehingga ia tak mau mengecewakan mereka. Sama sepertinya.

Tapi ia muak dengan ini semua, sangat. Ia ingin mengakhiri ini secepatnya.

“Perlu aku masukkan ginseng? Atau apa?”

Tae Yeon dapat mendengar samar suara pria itu dari luar. Ya, pria itu setidaknya sedang berusaha untuk membuatkannya sup dengan menelpon ibunya.

“Dasar anak mama,” ucapnya. Ia tersenyum tipis.

Ia tak bisa memasak tapi kenapa ia berusaha untuk memasak? Pria itu konyol menurutnya.

“Supnya sudah selesai,”

Park Jung Soo berusaha keras untuk memasuki kamar Tae Yeon dengan tangannya berisikan sebuah nampan yang terisi penuh. Ia meletakkannya pada sebuah meja kecil dekat ranjang.

“Kau gila memakai itu?” ucap Tae Yeon yang tak bisa menahan tawanya. Ya, kenapa tidak. Park Jung Soo tengah mengenakan sebuah celemek bewarna baby pink yang biasanya ia kenakan saat ia memasak.

“Ya, kalau bukan karenamu, aku tak akan memakainya,”

“Jadi kau terpaksa?”

“A-aniya.. jangan berpikir tentang hal aneh. Makanlah, lalu minum obat. Setelahnya kau bisa tidur,”

Kim Tae Yeon tersenyum. Bagaimana bisa seorang pria sangat banyak berbicara. Ya, sama seperti Nyonya Park. Bahkan ia merasa ibunya tak pernah berbuat seperti itu. Kim Tae Yeon berusaha mendudukkan dirinya yang benar-benar susah untuknya.

Dengan sigap, Park Jung Soo mendekati istrinya tersebut. Meletakkan sebuah bantal di punggung gadis itu sebagai sandaran. Merapikan beberapa rambut yang sempat berantakan di wajah istrinya tersebut. Ia tersenyum saat wajah mereka begitu dekat. Ya, ia baru sadar, ia memiliki seorang istri yang sangat cantik.

Tae Yeon menghindari pandangan mata antara keduanya. Ya, sedikit ada rasa canggung saat mereka sedekat ini.

“Mau aku suapi?”

Mata Tae Yeon membulat. Rasanya detak jantungnya lebih cepat dari sebelumnya. Ia tahu pria itu adalah suaminya. Tapi..

Tanpa aba-aba, pria itu menyendokkan sup beserta nasi untuk istrinya dan menunggu istrinya membuka mulutnya. Dengan segala rasa canggung yang ada, Tae Yeon membuka mulutnya dan melahapnya. Park Jung Soo tersenyum puas.

“Kau tak usah berpura-pura baik padaku. Perceraian akan segera dilaksanakan dan..”

“Sudahlah, apa perlu kita melanjutkan perbincangan kemarin?” ucap Park Jung Soo memotong. Kali ini ia lebih tenang. Ya, tak perku mereka berselisih terus menerus. Toh, setelah ini mereka bukan apa-apa lagi.

“40° Celcius,” ucap Jung Soo mengeja tulisan yang tertera pada termometer yang ia genggam. Pria itu tersenyum.

“Masih tinggi, tidurlah. Aku akan mencoba menurunkan demammu,”

“Tidak perlu. Kau bisa tidur sekarang,”

Jung Soo hanya tersenyum. Ia merasa sangat bertanggung jawab tentang apa yang sekarang dialami istrinya. Jika saja ia lebih memperhatikan istrinya, gadis itu tak perlu terbaring di ranjangnya seharian.

Pria itu mengambil sebuah handuk kecil yang sengaja ia basahi dengan air dingin. berusaha memerasnya sebaik mungkin, sehingga handuk tersebut tak terlalu basah. Ia meletakkannya pada dahi istrinya.

“Aku bilang tidurlah,”

“Bagaimana bisa aku tidur dengan sesuatu yang basah di dahiku?”

Park Jung Soo tertawa lepas.

“Maaf, setelah ini kau bisa tidur,” ucapnya singkat lalu mengangkat handuk tersebut. Pria itu mengelus perlahan rambut Tae Yeon lalu mengecup perlahan tepat di dahi istrinya tersebut.

Tae Yeon mengerjapkan matanya tak percaya. Apa yang telah dilakukan pria itu padanya? Jung Soo menjauhkan bibirnya dari dari Tae Yeon dan berlalu.

Kenapa ia melakukannya? Ia tahu pria itu adalah suaminya, tapi tak ada cinta diantara keduanya. Apakah ia?

Tae Yeon dapat merasakan ketulusan pada ciuman yang diberikan pria itu. Ciuman yang tak dipaksakan ataupun kepura-puraan. Pada setiap sikap yang diberikan pria itu padanya, bukanlah kepura-puraan belaka.

Kenapa pria itu baik terhadapnya? Padahal ia selalu dingin terhadap pria itu. Sedikit rasa bersalah terlintas di hati gadis itu. Ya, rasa bersalah dimana ia sama sekali tak berbuat baik pada pria itu.

Dua hari berhasil membuat Tae Yeon berada di rumah seharian akibat demam. Ya, iru tak membuatnya akan berada di rumah selamanya, bukan? Bantuan Park Jung Soo sekiranya dapat mempercepat sembuhnya ia dari sakit. Dan hari hari ini adalah adalah hari dimana ia akan kembali bekerja.

Kim Tae Yeon melangkahkan kakinya keluar dari kamar miliknya. Ya, setelan jas yang terlihat begitu anggun tengah membalutnya. Tunggu, apa ia akan meninggalkan rumah seperti ini saja?

Ia melihat jarum jam dinding yang ada di ruang tengah. Ya, pukul 6. Terlalu pagi rupanya untuk berangkat kerja. Tae Yeon melirik pintu kamar dimana Park Jung Soo biasanya tidur. Ya, seperti biasa pria itu belum bangun dari tidurnya. Bukan sebagai pemalas atau pembangkang, pria itu telah menjaganya semalaman hampir dua hari ini. Memasakkan sesuatu untuknya dimakan juga mengganti handuk basah untuk meredakan demamnya tiap malam. Sedikit ada rasa bersalah yang terbesit. Ya, pria itu terlalu baik padanya.

“Baiklah,” ucap Tae Yeon meletakkan tas miliknya. Ia berjalan ke dapur. Dan ya benar saja. Dapur sangat berantakan akibat perlakuan pria yang tak pernah tahu bagaimna cara merawat dapur dengan baik.

Ia hanya tersenyum. Rupanya dapur miliknya ini ingin dimanja sebentar. Dengan telaten, ia membersihkan beberapa kotoran yang ada di meja makan. Beberapa debu juga tak luput darinya.

Dan ya, setengah jam berlalu hanya untuk membersihkan dapur miliknya. Masih banyak waktu yang tersisa sebelum pria itu bangun kiranya. Gadis itu melihat ke dalam lemari dapur miliknya. Baiklah terdapat beberapa roti yang tersisa, beberapa butter, juga ia ingat ada beberapa bacon.

“Roti panggang? Baiklah,” ucapnya dengan sebuah senyum di wajahnya. Ia pun bergegas untuk membuatkan sarapan pertama-yang-tak-dipaksakan untuk suaminya. Senyum tak pernah hilang dari bibirnya. Ya, tulus saat ini.

Bukan apa-apa, ia hanya ingin membalas kebaikan pria itu yang telah merawatnya untuk dua hari yang lalu. Tak ada yang lain. Tak ada yang lain? Entahlah, rasanya ia ingin sekali menjadi istri yang baik untuk pria itu. Ya, meski hanya hari ini.

Tapi apa-apaan ini? Saat ia membuatkan sarapan pertama untuk suaminya tersebut, tak pernah henti-hentinya ia membayangkan pria itu dengan wajah senangnya melahap roti panggang miliknya. Ya, ia berharap bnyak pria itu akan menyukainya.

Dua buah roti panggang telah tersaji. Ya, tak perlu waktu yang sangat lama hanya untuk membuat masakan yang tak terlalu susah untuknya.

Dimana pria itu sekarang?

Apa ia harus membangunkannya?

Baiklah, ia rasa itu perlu. Mengingat ia tak mau terlambat untuk bekerja. Kim Tae Yeon melangkahkan kakinya menuju kamar suaminya. Tiba-tiba pintu kamar terbuka saat Tae Yeon belum sempat mengatuknya. Dan ya, Park Jung Soo tengah berdiri tepat di hadapan gadia itu sekarang. Untuk waktu yang cukup lama mereka hanya bertatap dan diam seribu bahasa.

“Ada apa?” ucap Park Jung Soo berusaha memecahkan keheningan.

“A-ah, iya. Aku sudah membuatkan sarapan untukmu. Jika kau mau, makanlah,”

Demi apapun yang ada di dunia ini, tak pernah sekalipun Tae Yeon merasakan malu separah ini. Sebenarnya ada apa dengan dirinya? Dan pria itu, bagaimana bisa ia bertanya ‘ada apa’ yang seakan tak terjadi apa-apa. Apa ia tidak tahu, ia sangat berusaha membuatkannya sarapan, dan tadinya ingin membangunkan pria itu dari tidurnya.

Kim Tae Yeon mengambil tas miliknya dan berencana untuk pergi secepatnya.

“Tunggu,”

Kim Tae Yeon menghentikan langkahnya dan melihat ke arah dimana pria itu berada sekarang.

“Disini ada dua roti panggang, apa kau kira aku serakus itu?”

Kim Tae Yeon memasang wajah sedikit kesalnya. Dan seketika pria itu terbahak.

“Ayolah, makanlah bersamaku. Dan kita akan berangkat bersama,”

“Baiklah,” ucap gadis itu singkat. Ya, pertama kalinya makan bersama dengan tidak dipaksakan bukan? Setidaknya menjadi suami-istri yang normal tak masalah bagi mereka berdua. Meski tanpa sadar, mereka sangat ingin melakukannya tiap hari mulai sekarang.

“Sudah lama kita tak bertemu,” ucap seorang pria yang tengah duduk pada salah satu bangku di sebuah coffee shop. Entahlah apa yang tengah membawa Tae Yeon untuk berada disini. Ya, untuk menemui pria yang mana dulu pernah bersamanya. Tepat sebelum pernikahannya dengan Jung Soo.

“Sudahlah, jangan berlebihan,”

Ya, setidaknya saat ia berulang tahun, pria itu menemaninya. Ya, baru seminggu dan ia mengatakan seakan setahun sudah tidak bertemu.

Entahlah, Tae Yeon tidak mempunyai hasrat untuk menemui pria itu sekarang. tapi sebuah janji membuatnya tetap menemui pria itu.

“Bagaimana kabarmu? Kudengar kau sakit,”

“Ya, aku sakit,”

Pria itu hanya tetsenyum. Ya, gadis itu entah kenapa menjadi dingin terhadapnya.

“Dimana kalungmu? Kau membuangnya?” tanya pria iti saat ia tak melihat kalung pemberiannya di leher gadis yang aada di hadapannya. Kim Tae Yeon hanya mengalihkan pandangannya.

“Hilang. Aku lupa menaruhnya,”

Pria itu tertawa.

“Apa karena kau menyembunyikannya saat ibu dari pria egois itu datang?”

“Egois?”

“Ya, seorang pria yang tak berani mengambil keputusan. Seorang pria pecundang dan bangga atas kekayaan yang dimiliki orang tuanya. Seakan ia bisa melakukan apapun yang ia mau,”

“Dia bukan orang seperti yang kau bilang tadi,”

Pria berbadan tegap itu tertawa lepas sekali lagi.

“Kenapa? Itu memang benar. Ia merebut orang yang paling aku cintai untuk dinikahinya. Membiarkan gadis itu terhanyut dalam penderitaan,”

“Cukup!”

Kim Tae Yeon kini berbicara lebih keras. Pria itu terdiam dan seringaian muncul dari wajahnya.

“Cukup kau menghina dia,”

“Kenapa? Kau mulai mencintainya?”

“Selama aku sah sebagai istrinya, aku tak akan membiarkanmu menghina suamiku,”

Pria itu tertawa lebih keras. Konyol rasanya. Saat itu, Tae Yeon adalah orang yang sangat bersemangat untuk menghina pria itu. Dan sekarang, ia membelanya?

“Ayolah, sebentar lagi kau akan bercerai dengannya. Tak ada gunanya kau membela dia,”

Tae Yeon terdiam. Ya, itu memang benar. Cepat atau lambat mereka akan segera berpisah. Tapi, entah kenapa, jauh di hati kecilnya, tiba-tiba ia tak ingin menyudahi peenikahan ini. Ia tak ingin berpisah dari pria yang selalu mencemaskannya dan terkesan konyol itu. Sudah cukup untuk kehilangan beberapa bulan yang terbuang sia-sia dengan keegoisannya semata. Ia ingin membayar itu semua.

“Kau mencintainya bukan? Kau tahu kalau kau egois? Seakan menginginkan semua yang kau harapkan terwujud. Dan kini kau seakan tak mau menghadapi perceraianmu dengannya?”

“Cukup. Kim Young Woon, aku muak denganmu,”

Kim Tae Yeon beranjak dari bangku ia duduk. Entahlah, dahulu ia sangat mencintai pria itu. Bahkan ia sangat bangga atas cintanya terhadap pria itu. Tapi sekarang? Sekiranya conta itu berganti menjadi kemuakan belaka. Pria itu berubah menjadi seseorang yang sangat membuatnya muak.

Muak atas kebenaran yang ia katakan. Ya, semua itu adalah kenyataan yang bahkan Tae Yeon tak ingin ingat. Ia tak mau perceraian ini. Ia sadar, ia butuh pria itu. Dia Park Jung Soo.

Hari ini, 8 Maret 2014. Ya, hati dimana pernikahannya juga Park Jung Soo genap setahun. Sungguh, ada rasa bahagia yang tersimpan di hati Tae Yeon karena pernikahan ini tak terasa sudah menginjak tahun pertama.

Kim Tae Yeon tengah memakai dress bewarna merah gelap dengan riasan yang terlihat begitu cantik untuknya. Ya, sebuah surprise party. Ia ingin menbuat sebuah pesta kecil untuk merayakan hari ini dengan pria itu. Ia senaja untuk pulang lebih awal untuk menyiapkan semua ini. Sebuah kalung berliontin merah tengah menghiasi lehernya kini. Benar kalung pemberian Park Jung Soo saat ulang tahunnya. Ia berharap pria itu akan terkejut sekaligus bahagia tentang apa yang ia siapkan ini.

“Surprise!” pekik Tae Yeon saat pria itu memasuki rumahnya. Sebuah cake berwarna cokelat mocha tengah ia genggam. Park Jung Soo tersenyum tipis saat ia melihat keadaan rumahnya berubah menjadi sebuah tempat ‘pesta’ kecil.

“Kau menyiapkan ini semua?”

Tae Yeon hanya mengangguk. Sedikit rasa kecewa terlihat di wajah gadis itu. Ya, sedikit harapannya pupus. Pria itu sama sekali tidak terlihat bahagia.

“Makanlah, aku tengah membuatkan makanan yang kau suka,”

“Yang kusuka?”

Kim Tae Yeon sekali lagi mengangguk perlahan. Ia membimbing pria itu berjalan menuju meja makan. Ya, korean tabel set . Galbi , tteok galbi , dakmaeunjjim (spicy steamed chicken) , samgyetang (chicken soup with ginseng) , yubu chobop (soybean curd with rice) , kimchi chigae (fermented cabbage soup).

Benar, tak ada spesifikasi tentang makanan yang disukai Park Jung Soo. Hampir semua makanan pria itu sukai. Kim Tae Yeon sengaja menanyai ibu Jung Soo tentang makanan favorit suaminya tersebut.

“Kau suka?” tanya Tae Yeon bersemangat. Kali ini pria tersebut tersenyum lebar, membuat Tae Yeon semakin bahagia.

Park Jung Soo memandang sebuah kalung tengah berada di leher istrinya tersebut. Ya, kalung berliontin merah pemberian darinya. Ia hanya tersenyum tipis.

Senyum Kim Tae Yeon mulai menghilang perlahan. Ya, sedikit rasa kecewa yang ia rasakan kali ini. Reaksi pria itu sangat tidak ia harapkan. Mereka terdiam cukup lama. Kim Tae Yeon merasa konyol telah mempersiapkan ini semua hanya untuk pria yang kini berada dihadapannya.

“Kau tidak menyukainya?”

“Aku menyukainya, sungguh,”

Kim Tae Yeon memilih untuk diam. Ada apa dengan dirinya sekarang? Dengan tiba-tiba ia membantah semua hinaan yang biasa ia katakan dengan Kim Young Woon, dengan tiba-tiba ia melakukan semua ini hanya untuk pria yang ada di hadapannya sekarang.

Sebuah perayaan ulangtahun pernikahan yang terasa sia-sia.

“Tae Yeon-ah?”

Tae Yeon menatap Jung Soo yang baru saja memanggilnya. Mereka bertatap cukup lama, seakan ada sesuatu yang tak bisa mereka katakan sekarang.

“Makanlah. Aku tak suka bila masakanku tidak dimakan,” ucap Tae Yeon memberikan sumpit pada Jung Soo. Pria itu hanya tersenyum tipis seraya mengeluarkan sebuah amplop cokelat berukuran sedang lalu meletakkannya tepat di depan Tae Yeon. Kali ini pria itu nampak dingin dari biasanya.

“Surat perceraian kita sudah keluar. Sesegera mungkin kita akan berpisah,” ucapnya santai. Tae Yeon terdiam. Tak ada kata yang bisa ia ucapkan sekarang.

“Semua akan berakhir. Dan kau bisa hidup dengan orang yang kau cintai,” tambah pria itu yang terasa begutu berat. Ya, berat karena harus merusak perayaan ini. Tapi ada hal yang harus membuat gadis itu sadar, ya ini akan berakhir secepatnya. Hal yang mana akan membuat gadis itu meninggalkannya.

“Besok, persidangan pertama kita. Kuharap kau datang. Dengan begitu, kau tak harus hidup tersiksa denganku,”

Park Jung Soo beranjak dari bangkunya dan mulai beranjak perg menuju kamar miliknya. Tak ada ucapan terima kasih tentang apa yang baru saja Tae Yeon siapkan untuk pria itu. Ya, hanya pria itu.

Kim Tae Yeon benar-benar membisu kali ini. Pria itu. Kenapa pria itu setega ini padanya? Di saat ia dengan sepenuh hati menyiapkan hal yang terkesan bodoh ini hanya untuk pria itu dan ia tidak mengucapkan bahkan sepatah katapun. Dan kenapa pria itu merusaknya hanya karena sebuah amplop? Amplop yang mana adalah jembatan mereka untuk bercerai.

Entah kenapa kali ini ia benci untuk mengetahui perpisahan antaranya juga Jung Soo akan dilaksanakan segera. Bukankah ini yang ia mau selama ini? Tapi kenapa kenyataan ini terasa menyakitkan untuknya?

Kim Tae Yeon membuka amplop cokelat tersebut. Dan ya, namanya juga nama Jung Soo terpampang disana. Seharusnya ia senang, seharusnya ia bahagia. Tapi kenapa..

Kim Tae Yeon meletakkan amplop tersebut. Ia menduduki bangku makannya sekali lagi. Menatap beberapa piring yang telah ia siapkan tadi juga sebuah cake yang ia beli khusus untuk hari ini. Gadis itu melahap perlahan sajian yang ia buat sendiri. Harusnya pria itu juga melahapnya. Tapi kenapa, kenapa ia begitu jahat padanya hari ini. Tahukah pria itu tentang perasaannya sekarang? Ia ingin perceraian ini tidak ada. Tapi ini keinginannya sejak dulu bukan?

Bagaimana jika ia mengatakan kalau ia sekarang tidak menginginkan perceraian? Dan ingin tetap bersama pria itu? Egoiskah ia?

‘Bagaimana jika aku masih ingin bersamamu?’

‘Bagaimana jika aku mulai membutuhkanmu untuk berada di sampingku?’

Batinnya memberontak. Sebuah bulir berhasil meluncur di pipi gadis itu. Ia mengusapnya cepat, berharap tak ada bulir lain yang jatuh. Tapi ia salah. Rasa yang menyesakkan ini tak bisa ia tahan lagi. Ia berusaha menghabiskan makanannya perlahan. Berharap tangisnya tidak berlanjut. Tapi gagal kiranya.

Kenapa perasaan ini datang begitu terlambat?

Rasa dimana ia ingin selalu bersama pria itu. Rasa dimana ia sangat membutuhkan pria itu. Ya, perasaan cinta.

“Happy first anniversary, Jung Soo-ah,”

Gadis itu tak dapat menahan tangisnya sekarang. Ini sangat menyiksanya.

Satu tahun kemudian.

Kim Tae Yeon melangkahkan kakinya menuju sebuah jalan yang begitu familiar untuknya. Ia tersenyum saat sebuah rumah berukuran sedang tengah berdiri kokoh di pinggir jalan. Ya, rumah dimana ia pernah singgahi dengan seorang pria. Ia tersenyum tipis. Matanya tak dapat luput dari rumah tersebut.

Seperti sebuah harapan yang meminta seseorang akan keluar dari rumah tersebut. Ya, seorang pria yang mana selalu bersamanya dahulu untuk setahun lamanya. Baiklah ia tak bisa mengelak bahwa ia sangat merindukan pria itu sekarang. Sebuah penyesalan karena ia membuang waktunya sia-sia dengan pria itu, pria yang mana secara tak sadar ia sangat butuhkan.

Dimana pria itu sekarang? Apa ia sudah mendapatkan seorang gadis lain dan hidup bahagia? Apakah ia tahu kalau sekarang gadis itu sedang merindukannya bahkan tiap hari memikirkannya?

Bodoh. Ya, Kim Tae Yeon merasa bodoh. Ia yakin bahkan pria itu tak tahu bagaimana perasaannya tentang pria itu. Yang pria itu kira adalah kini Tae Yeon tengah hidup bebas bahagia akibat keegoisannya. Tapi nyatanya?

Setahun lamanya setelah perceraian memisahkan mereka berdua. Bahkan mereka tak saling bertemu setelah perceraian yang memaksanya untuk berpisah.

Pria itu hanya baik, tapi tak mungkin mencintaiku, pikir Tae Yeon yang seakan merutuki hidupnya. Harapan apa yang membuatnya selalu berpikir pria itu memiliki perasaan yang sama terhadapnya? Jelas pria itu tahu , kalau ia sangat membenci pria itu. Tapi itu dulu.

Jika ia bisa, ia ingin mengulang beberapa bulan yang lalu untuk menjadi seorang istri yang baik.

Tae Yeon merapikan mantelnya dan berjalan pergi. Konyol bila ia meratapi penyesalan sekarang. Tapi setidaknya ia ingin melihat pria itu sekali saja, meski mereka bukan apa-apa lagi. Ia berharap sangat banyak tentang itu.

Tae Yeon menaiki sebuah bus yang tengah berhenti di halte bus dekat jalan yang ia tapaki sedari tadi. Sesungguhnya ini terlalu awal untuk pulang dari tempat kerjanya. Tapi entahlah, ia seakan tak mempunyai semangat untuk bekerja akhir-akhir ini. Seakan rumahnya memanggil-manggil namanya. Ya, rumah dimana ayah ibunya tinggal tentunya.

“Ah, bagaimana bisa aku memikirkannya hingga saat ini?”

Kim Tae Yeon merutuki dirinya sekali lagi. Cinta ini, cinta yang terasa berbeda baginya. Cinta yang bahkan kau akan rindu saat kau ingin melupakannya.

Kim Tae Yeon memandangi salahbsatu jendela bus dekat bangjunya. Melihat ke arah luar dengan pandangan kaku. Ya, kaku akibat beratnya pikirannya tentang pria itu. Pria itu seorang.

Jarak antara rumahnya kini juga tempat ia bekerja tak terlalu jauh kiranya. Ya, ia bekerja di tempat yang sama dan tak pernah berpindah. Berharap dimana suatu ketika ia dapat melihat pria itu. Tapi mungkinkah?

Ia ingat dulu, dimana pria itu berulang kali menawarkan kebaikannya untuk mengantarnya pulang dan dengan dinginnya ia menolak tawaran itu. Bodoh. Ya, bahkan sikap baik pria itu belum sempat ia bayar. Dan sekarang, bisakah pria itu menawarinya sekali lagi? Ia janji akan memberikan seribua kata ‘iya’ hanya untuk berada di dekat pria itu.

Kim Tae Yeon meminta bus untuk berhenti. Ya, setidaknya jalan menuju rumahnya sudah dekat kiranya.

Ia kembali melangkahkan kakinya menuju rumahnya. Setahun ini ya setahun ini, ia sangat merindukan keberadaannya di rumah dimana ia tinggal bersama pria itu. Seakan ia sudah terbiasa dengan kehadiran pria itu di sekitarnya. Meski terkadang tak ada kenangan yang harus diingat dari itu semua.

Kini kakinya berada di depan sebuah rumah sederhana. Ya, istananya sekarang. Tunggu, sebuah mobil mewah terparkir di depan rumahnya. Mobil siapa? Mobil yang terlihat begitu familiar untuk Tae Yeon. Mobil seorang pria..

“Park Jung Soo?” ucapnya menebak-nebak.

‘Apa, dia di dalam sekarang?’

‘Apa yang dilakukan pria itu di sini?’

Batinnya bergelut. Ada rasa senang di dalam hatinya. Tapi benarkah itu Jung Soo? Gadis itu memberanikan diri untuk memasuki rumahnya dengan secepat yang ia bisa. Tapi tak ada sosok pria itu di sana.

“Eomma, mobil siapa yang terparkir di depan?” ucap gadis itu tiba-tiba saat ia melihat ibunya sibuk dengan tv merek satu-satunya. Tak ada jawaban. Tak seperti biasanya, ibunya menghiraukan dirinya. Bahkan seisi rumah terlihat menghiraukannya hari ini. Ada apa sebenarnya?

Kim Tae Yeon menyerah. Ia melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Ya, singgah sana miliknya.

“K-kau?”

Betapa terkejutnya saat ia membuka pintu kamar miliknya. Seorang pria tengah duduk di ranjangnya dengan sebuah senyum familiar saat gadis itu menatapnya. Dia Park Jung Soo.

Ya, sekarang ia tahu, kenapa seisi rumah bersikap aneh terhadapnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Menjengukmu,” ucap pria itu santai. Sesungguhnya, Tae Yeon merasa bahagia saat pria itu tengah berada di kamarnya, tapi tak mungkin ia menunjukan rasa itu sekarang.

“Kuminta kau pergi,”

“Ayolah, apa setelah kita tidak memiliki hubungan apa-apa, kau tetap bersikap seperti ini padaku? Bahkan hubungan sebagai teman?”

Kim Tae Yeon sedikit tertekan dengan kata ‘teman’ tersebut. Bagaimana kalau selama ini ia merindukan masa-masa dimana mereka adalah suami istri? Bagaimana kalau ia ingin sebuah hubungan lebih dari seorang teman?

Tidak. Park Jung Soo dirasa tak perlu mengerti bagaimana perasaannya. Ia rasa tak perlu juga melihat pria itu. Ya, pria itu akan tahu bagaimana perasaannya bila menatap wajahnya. Kim Tae Yeon lantas membalikkan tubuhnya. Enggan untuk menatap pria yang ada di hadapannya.

“Aku membencimu,”

Park Jung Soo tersenyum masam saat mendengar apa yang dikatakan Tae Yeon barusan. Ya, sama seperti dulu, dimana gadis itu membencinya.

“Aku ingin berbicara sebentar saja, bolehkah?

“Tak ada yang harus dibicar..”

Kim Tae Yeon menghentikan kalimatnya saat dua buah lengan besar tengah memeluknya. Sungguh, ia tak tahan untuk menahan semua rasa rindunya. Dan ia tahu berul, bila pria itu kini juga merindukannya. Ia ingin membalas pelukan pria itu, tapi tak bisa. Ya, egonya akan terlihat nantinya. Ego yang selalu ingin dipenuhi.

Pria itu melepaskan pelukannya. Sungguh Tae Yeon ingin pelukan itu berlangsung lama. Kim Tae Yeon masih tak bergeming dari posisinya tadi bahkan ia masih tak memandang pria itu.

“Aku merindukanmu,” ucap pria itu terdengar sedih. Ada rasa bahagia di hati Tae Yeon saat mendengarnya. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Ia terlalu menjaga gengsinya untuk menunjukan itu semua.

“Ikutlah denganku sebentar saja,” imbuhnya seraya meraih pergelangan tangan Tae Yeon. Dan membimbingnya pergi dari sana. Ya, Tae Yeon hanya membiarkannya mengajaknya pergi.

Entah apa yang membuat Tae Yeon menurut apa yang dikatakan pria itu saat ini. Ya, kini ia berada di sebuah tempat dan hanya dia juga pria itu di sana. Tak ada pembicaraan di antara keduanya. Pandangan mereka lurus terhadap entah apa di depan mereka.

Ya, kini mereka berada di sebuah taman bermain. Terlalu malam kiranya, sehingga tak ada orang yang terlihat di sana. Sudah beberapa jam mereka berada di sini, tapi tetap tak ada pembicaraan atau sekedar memulai pembicaraan. Seakan sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Bagaimana kabarmu?”

Setidaknya Jung Soo berhasil memulai pembicaraan. Berharap suasana akan membaik sekarang.

“Kau pasti telah bahagia dengan pria yang kau cintai bukan?”

Tae Yeon menatap pria yang ada di sampingnya tersebut. Ya, ia bisa lihat senyum yang sangat dipaksakan dari pria itu.

Bahagia dengan pria lain? Bahkan ia tak pernah berusaha untuk menemukan pria lain ataupun mencintai pria lain setelah perpisahan mereka berdua. Apa itu disebut bahagia?

“Kau memakai kalung pemberianku?”

Kim Tae Yeon memegang kalung tersebut saat pria itu menyinggungnya. Ya, kalung pemberian pria tersebut tak pernah ia lepas sekalipun.

“Aku senang kau memakainya,”

“Aku merindukanmu Tae Yeon-ah. Kau tahu itu?”

Kim Tae Yeon tersenyum tipis. Setidaknya rindunya kini terbalaskan. Ya, pria itu juga merindukannya.

“Tapi aku tahu, kau tidak akan merindukanku,”

“Sudahlah,”

Kim Tae Yeon mencela. Pria itu seakan merendahkan dirinya terus menerus. Padahal jelas, gadis itu merindukan pria yang kini berada di sampingnya. Berharap ini bukanlah sebuah mimpi belaka. Dan berharap pria itu berada di sampingnya tak hanya hari ini.

Mata pria itu berubah. Kini Tae Yeon dapat melihat rasa kecewa di sana. Senyum pria itu tak pernah hilang. Ya, senyum kecewa dan penyesalan.Ia bisa merasakan itu. Meski pria itu tak mengatakannya.

“Maafkan aku karena merusak hari ulang tahun pernikahan kita,”

“Tidak, saat itu aku yang berlebihan. Seharusnya aku sadar kalau kita akan berpisah saat itu,”

Park Jung Soo terdiam. Rasanya apa yang dikatakan pria itu kini tak ada gunanya. Ya, itikad baik yang sama sekali tak digubris saat itu. Ia rasa Tae Yeon menyesal saat merayakannya.

“Aku senang kau merayakannya saat itu. Tapi aku tahu, yang kau inginkan hanya berpisah bukan?”

Park Jung Soo menatap Tae Yeon dengan mata sendunya. Seakan ingin sekali gadis itu mengerti bagaimana perasaannya yang tak akan pernah berubaj sampai kapanpun. Meski gadis itu tidak membalasnya.

“Aku mencintaimu,”

Kim Tae Yeon menatap pria itu sekali lagi. Degup jantungnya lebih cepat kini. Seakan tak percaya apa yang dikatakan pria itu barusan. Bibir Tae Yeon terasa begitu kaku. Ia tak bisa membalas satu katapun untuk kalimat barusan. Park Jung Soo yang menyalah artikan diam gadis itu merasa sangat putus asa. Ya, gadis itu memang tidak akan pernah mencintainya.

“Kau tahu saat aku harus berpisah denganmu, aku merasa sangat.. entahlah,”

Senyum pahit Park Jung Soo terlihat semakin jelas sekarang. Dan Tae Yeon memilih untuk tetap bungkam.

“Tapi kurasa saat itu, berpisah darimu adalah jalan terbaik. Jadi aku bisa melihat kamu bahagia tanpa harus hidup denganku,”

Kim Tae Yeon merasa sangat menyesal sekarang. Ia tak pernah mengira bila pria itu merasakan hal yang sama. Yang ia tahu saat itu, hanyalah sikap dingin Park Jung Soo. Sikap dingin dimana pria itu seakan membuangnya. Membuangnya dengan cara yang sebenarnya (sempat) sangat diinginkan Tae Yeon.

Park Jung Soo terbahak tiba-tiba. Tawa bodoh dimana sejuta sedih tersimpan rapi di dalamnya.

“Kim Hee Chul menyuruhku untuk mengatakan hal tak penting ini. Maaf membuang waktumu,”

Park Jung Soo meraih pucuk kepala Tae Yeon seakan ingin mengelusnya, tapi ia urungkan niatnya tersebut. Ingin rasanya pria itu menyentuh gadis di sampingnya tersebut. Sekedar menyalurkan rasa rindunya. Ia sangat berharap banyak kalau pelukan yang ia berikan tadi, tak disalah artikan oleh Tae Yeon. Pelukan yang bahkan tanpa sadar ia lakukan.

Park Jung Soo melangkahkan kakinya pergi, tapi sebuah tangan mungil mencegahnya. Ya, sebuah tangan mungil yang menggenggam erat tangan miliknya. Park Jung Soo menatap gadis si pemilik tangan tersebut. Gadis itu masih tertunduk tanpa satu katapun. Jung Soo hanya tersenyum tipis.

“A-aku juga mencintaimu,”

Senyum Park Jung Soo menghilang perlahan. Sekiranya ia menangkap sesuatu di telinganya. Ia menatap Tae Yeon sedikit bingung. Apa yang ia baru katakan?

“Aku juga mencintaimu,” ucap Tae Yeon lebih keras. Sekiranya kalimat tersebut dapat terdengar jelas sekarang oleh Jung Soo. Kalimat yang mewakili perasaan yang selama ini ia simpan. Perasaan yang masih tersimpan rapih meski setahun berlalu. Perasaan yang mana ia tunjukan hanya untuk pria itu seorang.

Senyum Jung Soo mengembang saat mata mereka akhirnya bertatap sangat lama. Kim Tae Yeon tersenyum tipis. Setidaknya kalimat itu keluar dari bibirnya yang sempat kaku untuk beberapa menit yang lalu.

Park Jung Soo meraih tubuh mungil yang ada di depannya tersebut. Memeluknya erat seakan tak mau kehilangan sosok yang ia cintai ini. Ingin memiliki gadis mungil itu selama yang ia bisa, selama ia hidup di dunia ini. Hanya dengan gadis yang mana juga mencintainya ini.

“Terima kasih,” ucap pria itu yang tak bisa menyembunyikan segala rasa bahagianya kini. Ya, kenapa tidak? Gadis itu, Kim Tae Yeon, juga mencintainya. Bak sebuah mimpi yang terwujud kali ini.

“Hiduplah denganku sekali lagi. Aku janji tak akan menyia-nyiakan dirimu,” imbuh pria itu yang semakin tulus dalam pelukan yang ia berikan. Kim Tae Yeon tersenyum lebar. Puas kiranya. Gadis mungil itu membalas pelukan pria itu. Berharap pria itu mengerti benar apa yang dirasakannya.

EPILOG

“Badai,” ucap seorang pria berwajah cantik menatap bingkai jendela menatap luar. Ia menyisip secangkir kopi miliknya perlahan.

“Kau akan melihat pelangi setelahnya,”

Pria bermarga Kim tersebut memandang malas pria yang entah sejak kapan berada di sampingnya.

“Ya, itu kalimatku,”

Pria yang berada di samping pria cantik itu terkekeh saat pria cantik itu sedikit kesal kiranya.

“Sudahlah, kalau bukan karena kalimatmu, tak mungkin aku seperti ini sekarang,”

“Ya, Park Jung Soo begitu besar jasaku untukmu eoh?”

Kedua pria tersebut terbahak. Enrah apa yang membuat mereka tertawa lepas di tengah badai di siang hari. Mereka tak bisa bergeming dari bilik bangunan kecil yang ia sebut rumah itu. Badai siang hari sekiranya membuat mereka mematung untuk sementara.

“Appa, appa!”

Seorang bocah kecil menarik-narik ujung pakaian salah satu pria tersebut. Pria yang mana adalah ayah bocah tersebut membungkukkan tubuhnya agar ia dapat lebih dejat dengan bocah tersebut.

“Eomma bilang, ada pelangi di luar. Bisa kita melihatnya? Hee Chul Ahjussi, ayo kita melihatnya,”

Kedua pria tersebut tersenyum bersamaan. Keduanya saling menatap sebantar lalu menggandeng kedua tangan bocah tersebut dan menggiringnya keluar. Badai entah mengapa menghilang secaepat ini. Padahal mereka ingat, ini badai yang diramalkan akan berjalan begitu lama.

“Kopi untukmu,” ucap seorang wanita dengan dress bewarna tosca miliknya. Kini ia bukanlah seorang gadis lagi, melainkan seorang wanita yang sangat bahagia dengan hidupnya dengan suaminya juga si ‘Jung Soo Jr’,

“Terima kasih sayang,” ucap pria itu seraya menerima secangkir kopi dari istrinya tersebut.

“Pelanginya!” pekik Jung Soo Jr. bahagia. Ya, ia tak pernah melihat pelangi sebelumnya.

Pria itu tersenyum lebar. Ia tak pernah melihat pelangi yang menurutnya tak pernah seindah ini sebelumnya. Pelangi yang terlihat begitu megah dengan warna anggun miliknya. Ia menyisip sedikit cairan di cangkir miliknya.

Benar apa yang dikatakan sahabatnya, ada pelangi seusai badai. Tak usah memikirkan seberapa besar badai tersebut atau bagaimana pelangi nantinya. Badai yang hebat akan memberikan pelangi yang tak kalah hebatnya.

Ini adalah pelanginya. Pelangi keluarganya. Pelangi yang ia dapat dari badai yang membuat masa-masa yang begitu sulit untuknya. Yang bahkan sempat membuatnya hampir putus asa.

This is the beautiful rainbow.

Advertisements

3 thoughts on “Beautiful Rainbow

  1. Waah daebak akhirnya happy ending,
    pdahal di awal pernikahan mreka suram skali, kelamaan mreka mnyadari kl saling cinta.. ini keren thor saya sukaa :))

    Like

  2. uri leader angel without wings aku bayangin gimana nanti kalo leadernim menyusul umin oppa buat nikah . sumpah deh leadernim masih tetep mencintai istrinya wlopun mereka udah resmi bercerai dan akhirnya mereka kembali lagi so sweet sumpah . dan heechul oppa harus segera menyusul juga , coba deh buat cerita tentang heechul maried life juga .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s