Bromance · fluff · Friendship · Genre · Length · Romance · Two Shoot

Where Are You , What Are You Doing ? (2/2)


IMG_20140826_112848

Title: Where are You, What are You Doing?

Casts:
• BAP’s Kim Him Chan,
• Woolim’s ex trainee’s Yoo Ji Ah,
• BAP’s Bang Yong Guk,
• Secret’s Jeon Hyo Sung
• And etc.

Author: ts_sora

Genre: fluff/?, romance, nah ntahlah ini apa wks

Length: Two-shoot

 

1 |

Yoo Ji Ah merengut saat Yong Guk memintanya turun dari mobil miliknya. Si laki-laki hanya terkekeh melihat ekspresi gadis itu. Yoo Ji Ah tetap tak mau bergeming dari bangkunya, sama sekali tak mau mendengar apa yang dikatakan laki-laki itu padanya.

“Oh ayolah, kemarin kau memintaku untuk menemanimu keluar, dan beginikah rasa terima kasihmu saat aku mengajakmu?” goda laki-laki itu kali ini. Pintu mobil masih saja terbuka dan gadis itu masih tak mau bergeming, padahal lali-laki itu sudah berada di luar untuk beberapa menit yang lalu.

“Kau tidak merasa kasihan melihatku kedinginan hm?” imbuh laki-laki itu kali ini. Ia merangkul tubuhnya sendiri, seolah-olah ia benar kedinginan. Yoo Ji Ah tersenyum kecil saat laki-laki itu melakukannya. Baiklah, laki-laki itu kekanak-kanakan. Yoo Ji Ah membuang nafasnya kalah, ia kemudian mengikuti laki-laki itu untuk keluar dari mobilnya. Senyum kemenangan dari laki-laki itu terlihat sangat jelas sekarang.

“Kau tak akan menyesalinya, ayo,” ucap laki-laki itu meraih sebelah tangan gadis itu dan memintanya untuk mengikutinya. Yoo Ji Ah masih merasa ragu pada setiap langkahnya. Ia mengedarkan pandangannya saat setidaknya ia baru saja memasuki bangunan dimana laki-laki itu dan kelima temannya bernaung. Benar, bangunan TS Entertainment.

Ia bukan merasa gugup karena ia bukan dari bagian mereka, namun sesuatu yang lain. Yong aguk bilang, ini adalah acara barbeque yang diadakan oleh keluarga perusahaan dimana mereka bernaung setiap tahunnya, ia tahu ini bukan pertama kalinya ia berada di sana, tapi..

Hal yang paling ia tahu adalah dimana ia sudah pasti akan bertemu dengan Kim Him Chan di sana. Ia sudah berulang kali menolak ajakan Yong Guk, namun laki-laki itu setidaknya tetap menculiknya untuk berada di sana. Yong Guk benar-benar tak mengerti apa yang sedang ia rasakan selama ini. Ia berusaha mati-matian untuk melupakan laki-laki itu, dan kini Yong Guk seakan memintanya untuk kembali mengingat.

Langkah mereka seketika terhenti, saat mereka telah berada di rooftop. Benar, tempat acara itu diadakan. Yoo Ji Ah menahan nafasnya saat ia dapat melihat laki-laki itu bersama gadis itu kini. Mereka tengah sibuk membakar beberapa daging pada api pemanggangan. Yoo Ji Ah tanpa sadar mengeratkan genggaman tangan Yong Guk.

Yong Guk tersenyum tipis saat gadis itu mulai mengeratkan tangannya, tanpa basa-basi, laki-laki itu lantas memasukkan genggaman tangan mereka pada salah satu saku mantelnya. Yoo Ji Ah tak menyadari akan hal itu.

“Oh hai Yong Guk! Oh Yoo Ji Ah, itu kau?” ucap laki-laki yang berada di dekat pemanggangan. Benar, Kim Him Chan. Laki-laki itu kemudian meletakkan benda yang ia pegang dan ia berjalan menuju Yong Guk dan Yoo Ji Ah. Senyumnya tak pernah hilang dari wajah laki-laki itu, hingga matanya tertuju pada genggaman tangan keduanya yang sengaja laki-laki itu letakkan pada salah satu saku mantelnya. Him Chan dapat merasakan senyumnya mulai menghilang saat itu tertangkap oleh matanya, namun sekali lagi senyumnya mengembang

“Oh, apa kalian berpacaran sekarang? Oh lihatlah apa mereka berpacaran?” ucap Him Chan berseru. Yoo Ji Ah lantas melepaskan genggaman tangannya dan menarik tangannya saat laki-laki itu berseru. Ia menahan nafasnya saat dadanya terasa begitu sesak. Ia tertunduk, seakan ia tak mau menatap sorot mata laki-laki yang tengah berbicara sekarang. Ia berjalan mundur, tepat di belakang Yong Guk, berusaha menyembunyikan dirinya.

Him Chan menyadari akan adanya hal itu, ia kemudian membuang nafasnya. Apakah gadis itu marah padanya sekarang? Ia kemudian mengalihkan pandangannya. Sedangkan Yong Guk seakan mengerti seakan kedua orang tersebut saling terhubung dalam diam, dan itu membuatnya sedikit terusik. Ia lantas meraih tangan Yoo Ji Ah sekali lagi, dan menggenggamnya erat. Seakan mengatakan bahwa gadis itu tak perlu takut.

“Oh ayolah Kim Him Chan, apa yang kau tahu?” ucap Yong Guk sedikit menghina, namun kemudian gelak tawa terdengar oleh keduanya dan diikuti beberapa orang yang berada di sana, namun tidak untuk Yoo Ji Ah. Tempat ini, adalah salah satu neraka untuknya mulai sekarang.

Yoo Ji Ah mengatur nafasnya sekali lagi saat ia harus berada di rooftop sekali lagi. Ya, ia baru saja keluar untuk mengambil sesuatu dan segera kembali saat ia yakin bahwa telah selesai dengan urusannya. Kini sebuah kantung kertas berada pada salah satu tangannya. Ia sengaja mengumpatkan kantung kertas itu dibalik punggungnya dan kemudian berjalan menuju laki-laki yang tengah duduk sendirian, namun langkahnya seketika terhenti saat seorang laki-laki lain menggenggam sebelah tangannya. Laki-laki itu Kim Him Chan.

“Bagaimana kabarmu?” ucap laki-laki itu. Yoo Ji Ah seketika membulatkan matanya secara sempurna saat laki-laki itu menggenggam erat tangannya. Yoo Ji Ah berusaha dengan keras untuk bernafas kembali saat setidaknya ia kesusahan bernafas untuk kesekian kalinya. Laki-laki itu menyunggingkan salah satu ujung bibirnya dan tetap tak membiarkan dirinya pergi.

Yoo Ji Ah menundukkan kepalanya, ia mencoba dengan sekuat tenaga untuk melepaskan genggaman tangan laki-laki itu, namun laki-laki itu tak membiarkannya pergi.

“Ada apa denganmu?” tanya laki-laiki itu sekali lagi. Yoo Ji Ah tetap tak menjawab sepatah katapun saat laki-laki itu mengajaknya berbicara. Ya, ia sepakat dengan dirinya sendiri untuk mulai melupakan laki-laki itu. Setidaknya laki-laki itu yang terkesan menjauhinya dan kini seakan ia tak merasa di antaranya tidak terjadi apa-apa. Bahkan tak ada penyesalan.

“Yoo Ji Ah? Ada apa kau berada di sini?”

Yoo Ji Ah kini menghentakkan tangannya dan dalam sekejap genggaman laki-laki itu terlepas. Ia kemudian berjalan menuju belakang tubuh laki-laki yang baru saja datang, Bang Yong Guk. Yoo Ji Ah menggenggam salah satu lengan laki-laki itu erat.

“Ada apa?” tanya Yong Guk pada laki-laki yang berada di hadapannya. Laki-laki itu kemudian menyeringai lalu tersenyum lebar saat Yoo Ji Ah kini bersembunyi lagi dibalik tubuh sang leader.

“Entahlah, kukira kalian pasangan yang serasi,” ucap laki-laki itu dan beranjak pergi.

Yoo Ji Ah kini dapat memastikan jantungnya dapat berdetak normal kembali dan setidaknya ia dapat bernafas dengan sangat lega untuk saat ini, namun perkataan yang baru saja laki-laki itu lakukan setidaknya membuatnya terganggu. Hal yang paling ia takutkan bukan karena Kim Him Chan berada di sampingnya, namun hal yang paling ia takutkan adalah saat ia merasa menyesal untuk meninggalkan Korea dan meninggalkan laki-laki itu. Ia juga tak ingin melihat laki-laki itu bersama dengan gadis lain, dan melupakannya. Kenayataan pahit itu dshuli sering ia kesampingan, namun kini benar-benar terjadi.

Sedari tadi, Him Chan memang berusaha untuk mengajaknya berbicara dan berusaha untuk mendekatinya, namun Yoo Ji Ah sekali lagi menghindarinya. Setidaknya dua bulan membuat keduanya jauh, dan ia tak biss menampikkan jarak yang memang telah teebangun di antara keduanya.

“Kau yakin Him Chan tak menyakitimu?”

Yoo Ji Ah terbangun dari lamunannya. Ia tersenyum tipis, ia kemudian menggelengkan kepalanya tegas. Setidaknya laki-laki yang ada di hadapannya benar-benar terlihat cemas saat ini.

Kini ia tengah duduk pada sebuah meja yang berisikan dua bangku saja. Ya benar, mereka hanya berdua, dan yakinlah sepasang mata tengah memperhatikannya dengan tatapan yang kurang menyenangkan.

“Kau menghindarinya?” tanya Bang Yong Guk sekali lagi. Yoo Ji Ah menggigit bibirnya. Apa ia memang terkesan menghindarinya?

Padahal ia sangat tahu, laki-laki itulah yang memulai perang dingin di antara keduanya, dan Yoo Ji Ah hanya menjalankannya. Tak ada rasa penyesalan pada tiap kata yang diucapkan laki-laki itu padanya tadi, bahkan tak ada kata maaf. Apa laki-laki itu mengalami amnesia atau semacamnya hingga ia lupa bahwa ia yang memulai semua ini?

Yong Guk dapat melihat mata gadis itu yang mulai meredup. Setidaknya ia merasa menyesal karena membawa gadis itu kemari. Seharusnya ia tak membawanya hari ini, meski untuk beberapa tahun yang lalu, gadis itu juga berada di sini sama seperti saat ini. Yong Guk dapat melihat keceriaan di rooftop dimana ia berada, tapi tidak untuk gadis yang berada di hadapannya. Yong Guk mendengus.

Laki-laki itu kemudian meraih sebuah daging juga selada, ia lalu membungkus daging itu dengan selada yang ia ambil. Ia memberikannya pada gadis yang ada di hadapannya. Gadis itu mengangguk dan kemudian melahap daging pemberiannya tersebut.

Ia tahu bahwa Yoo Ji Ah mungkin tengah menghindar dari Kim Him Chan, namun ia dapat melihat bahwa sedari tadi Yoo Ji Ah juga memandang laki-laki itu secara sembunyi-sembunyi. Ia tak paham atas maksud pandangan tersebut, namun gadis itu berulang kali membuang nafasnya malas setelah memandang laki-laki itu dari kejauhan.

“Jadi apa yang kau ambil tadi?” tanya Yong Guk berusaha memecah keheningan. Yoo Ji Ah terperanjat, ia kemudian mengembangkan senyumnya. Sebuah kantung kertas yang telah ia letakkan di sampingnya, ia raih dan kemudian meletakkannya di atas meja. Yong Guk menatapnya heran.

“Untukku?”

Yup, aku harap kau menyukainya oppa,” jawab Yoo Ji Ah sembari mengeluarkan kotak berukuran cukup besar dari kantung kertas tersebut. Yong Guk masih manatap benda tersebut bingung, hingga membuka kertas pembungkus yang menyelimuti kotak tersebut. Kemudian senyumnya mengembang saat ia melihat apa yang ada di dalam kotak tersebut.

“Sepatu? Tapi kenapa kau memberikan ini padaku?”

Yoo Ji Ah tertawa kecil melihat ekspresi senang dari laki-laki itu, ia laku berdehem pelan.

“Itu adalah hadiah dariku. Kuharap kau menyukainya,” imbuh gadis itu kali ini. Keramaian yang berada di sana tak ada satupun yang mengganggu mereka berdua. Senyum Yong Guk tak pernah hilang dari wajahnya, ia begitu bahagia kali ini. Yoo Ji Ah bahagia hanya dengan mendapatkan reaksi demikian dari laki-laki itu, namun entah sesuatu mengganjal di pikirannya. Ia membuang nafas panjangnya dan mengalihkan pandanganya.

Sepatu. Ya, ia teringatkan sesuatu tentang sebuah sepatu dan sebuah perpisahan. Ia tersenyum tipis. Ya, terdapat falsafah Cina yang menyebutkan jika seseorang memberikan sepatu, itu tandanya ia meminta orang tersebut untuk melepaskannya. Jika orang tersebut juga memberinya sepatu, berarti ia melepaskan orang tersebut pergi darinya, namun jika orang tersebut memberikan uang sebagai gantinya, itu tandanya tak mau orang tersebut pergi darinya.

Yoo Ji Ah tanpa sadar mengatakan apa yang dipikirannya dengan setengah berbisik. Dan percayalah laki-laki yang ada di hadapannya dapat mendengar hal itu dengan baik. Entah apa maksud yang dibicarakan Yoo Ji Ah kali ini, Yong Guk tak dapat mencerna kalimat tersebut di dalam otaknya. Tanpa sadar, sebelah tangannya meremas salah satu sisi kotak tersebut. Apa ini salam perpisahan dari gadis itu?

Yoo Ji Ah menutup bibirnya sesaat ia menyadari bahwa ia tengah bergumam pelan. Ia mendundukkan kepalanya, saat ia tahu bahwa Yong Guk memandanginya dengang tatapan sedih. “M-mianhae. M-maksudku itu hanya falsafah Cina, dan k-kau tahu kita tak bisa mempercayai itu semua,” ucap gadis itu kali ini. Ia kemudian mengembangkan senyumnya pada laki-laki di hadapannya, menegaskan bahwa apa yang ia katakan adalah ucapan biasa, tak ada makna apapun, namun untuk Yong Guk, matanya tak bisa berbohong kali ini.

Berada tak jauh dari keduanya, seseorang tengah memperhatikan keduanya.Sebuah seringaian tak luput dari wajahnya. Ya, Kim Him Chan memang sedari tadi memperhatikan keduanya.

Kim Him Chan memandangi Jeon Hyo Sung yang setidaknya telah menghabiskan dua jam untuk memilih-milih pakaian di sebuah boutique milik salah seorang temannya. Him Chan mulai menguap setidaknya. Ia merasa bosan kali ini. Tapi bukankah ia ingin dekat dengan gadis itu? Dan hal inilah yang ia tunggu-tunggu, namun kenapa ada rasa menyesal saat ini?

Kim Him Chan membuang nafasnya malas. Ia kemudian meraih ponsel miliknya di dalam kantung mantel yang ia kenakan. Ia membuka galeri ponselnya, ia mengembangkan senyumnya saat beberapa foto Yoo Ji Ah mulai terlihat. Ya, galeri ponselnya entah sejak kapan menjadi galeri pribadi foto gadis itu, ia tak mengira bahwa begitu banyak foto gadis itu di ponselnya.

Him Chan menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Apakah gadis itu kini tengah berpacaran dengan Yong Guk? Kenapa keduanya tak bercerita kepadanya? Apa hal itu sangat privasi bagi mereka, hingga mereka menutupinya?

Kim Him Chan kini merengut. Ia merindukan gadis itu sekarang. Bahkan saat acara barbeque gadis itu nampak menghindarinya dan tak menjawab apapun yang ia katakan. Ia tahu ia salah karena seakan melupakan gadis itu untuk beberapa minggu ini, ya demi sebuah keinginan untuk mendekati gadis yang kini tengah sibuk sendiri dengan pakaian-pakaiannya.

Laki-laki itu lantas mencari nama Yoo Ji Ah pada kontak ponselnya, dan dengan segera ia menempelkan ponselnya pada telinganya. Wajahnya terlihat sumringah, ia tak sabar mendengar suara gadis itu dari kejauhan dan memakinya karena ia selama ini tak menghubunginya, namun perlahan senyumnya menghilang saat sekiranya gadis itu tak menerima panggilan darinya. Ia tak menyerah begitu saja, ia lantas menekan sekali lagi ikon ‘panggil’ di ponselnya, namun tetap saja gadis itu tak mengangkat satupun panggilan darinya.

Apakah gadis itu tengah bersama Yong Guk kali ini? Sehingga gadis itu sekan tak memperdulikam panggilan darinya?

Kim Him Chan memgacak rambutnya kesal. Ada apa dengan dirinya? Kenapa sekarang ia selalu memikirkan hal itu? Bukankah itu adalah salah satu keuntungan untuknya? Dengan begitu, gadis itu tak perlu mengikutinya tiap saat, dan setidaknya kehidupannya menjadi lebih tenang, bahkan sangat senang dan membosankan.

Kim Him Chan menatap jarum jam tangan yang berdenting indah. Pukul 2 siang, biasanya beberapa jam sebelumnya, gadis itu menghubunginya, meminta dirinya untuk menemani gadis itu untuk makan siang pada salah satu cafe di Seongsandong, karena letaknya sangat dekat dengan tempat gadis itu menjalani masa training-nya. Tunggu..

Sebuah senyum lain mulai terbentuk di wajahnya sekarang. Setidaknya, ia bisa memaksakan pertemuannya dengan gadis itu tanpa sepengetahuannya. Kali ini, ia berani bertaruh, gadis itu tak akan menolak pertemuan mereka jika Him Chan berada di sana. Kim Him Chan beranjak dari bangkunya, dan mulai melangkah pergi menuju luar.

“T-tunggu, kau akan pergi kemana Him Chan?” tanya Hyo Sung mencegah laki-laki itu meninggalkannya. Him Chan memutar tubuhnya, ia kemudian mengembangkan senyumnya.

“Maaf nunna, aku tak bisa menghabiskan waktuku sia-sia disini. Ada sesuatu yang harus aku lakukan,” ucap laki-laki itu dan kembali melanjutkan langkahnya.

Kau dimana? Apa yang sedang kau lakukan? Kau tahu bagaimana perasaanku saat ini?

 

 

Kim Him Chan melangkahkan kakinya perlahan menuju dalam cafe yang sering ia datangi dulu-sebelum ia menghiraukan gadis itu beberapa minggu yang lalu-dengan santai. Kim Him Chan membenahi kaca hitamnya yang setidaknya mulai turun perlahan. Hari ini ia benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan gadis itu padanya tiap hari, yaitu menggunakan pakaian yang bukan selayaknya selebriti, karena kepercayaan diri gadis itu hilang karenanya.

Kim Him Chan berjalan menuju sebuah meja yang berada paling ujung, yang mana sering ia dan gadis itu duduki. Gadis itu selalu bilang, bahwa ia menyukai tempat itu karena kapasitas cahaya yang ia dapat lebih banyak dari jendela berukuran cukup besar dekat meja tersebut, ia juga suka memandangi pemandangan luar dari jendela tersebut. Him Chan menduduki salah satu bangku pada meja tersebut. Ia kemudian tersenyum tipis. Bagaimana jika gadis itu melihatnya sekarang? Apa gadis itu akan mengenalinya dengan kaca mata hitam yang ia kenakan sekarang? Bagaimana reaksinya?

Hanya membayangkannya saja, laki-laki itu tersenyum konyol. Baiklah, ia akui ia sangat merindukan gadis itu. Dan ia hanya ingin menemuinya hari ini. Kim Him Chan menatap luar jendela yang dulu sering gunakan gadis itu untuk memandang pemandangan luar. Ya, setidaknya ia bisa menunggu gadis itu, dan membuatnya terkejut. Ia tak sabar akan hal itu.

Kim Him Chan membuang nafasnya malas saat jarum jam setidaknya menunjukkan pukul 5 sore sekarang. Ya, gadis itu tak datang. Mungkin hari ini ia telah memiliki janji dengan seorang temannya untuk makan di luar. Kim Him Chan menyeringai, ia menghabiskan americanno latte yang kesekian kemudian beranjak pergi.

.

.

.

.

.

Kim Him Chan meniup-niup gelas americano latte-nya sebelum ia meminum setidaknya sedikit cairan tersebut, membiarkan kerongkongannya terasa hangat untuk beberapa saat. Kim Him Chan menutup mulutnya dengan sebelah tangannya sesaat setelah ia terbatuk. Hari ini adalah hari kelima dimana ia menanti gadis itu untuk datang. Pada hari ini juga, kesehatannya tengah memburuk.

Kim Him Chan menyeringai. Ia ingat bahwa gadis itu selalu memakinya saat ia menangkap basah dirinya yang sakit. Ia selalu memintanya untuk meminum air hangat, pakaian yang tebal di saat musim panas, meski ia hanya menderita flu biasa. Ya, ia merindukan hal tersebut sekarang. Kim Him Chan membuang nafasnya, gadis itu selalu mengkhawatirkannya, meski terkadang gadis itu terkesan berisik, tapi kini ia benar merindukannya.

Kim Him Chan melahap makanan miliknya pelan, ia tersenyum masam. Hari ini ia bahkan datang lebih pagi berharap ia bisa bertemu dengan gadis itu. Apakah ini terkesan konyol? Entahlah.
Ia tak pernah menganggap hal ini adalah hal konyol. Ia bahkan meminta mengkosongkan jadwalnya hanya untuk beberapa hari ini hanya untuk menemukan gadis itu yang kini terkesan menghilang darinya.

Kim Him Chan meletakkan sendok yang ia genggam pada pinggiran piring makanannya. Meski ia hanya melahap beberapa sendok makanan, tapi kini ia merasa sudah sangat kenyang. Makanan yang biasa ia makan saat gadis itu berada dekatnya, kini sama sekali tidak memiliki rasa yang sama. Dan keberadaannya berada di tempat tersebut, seakan terasa sepi.

.

.

.

.

.

Kim Him Chan menatap jam tangan yang ia kenakan, ia kemudian memasukkan kedua tangannya pada mantel miliknya. Seongsandong diguyur hujan sekali lagi. Hari ini merupakan hari ketujuh dimana ia menunggu gadis itu di depan cafe dimana gadis itu biasa kunjungi, namun setidaknya gadis itu tak terlihat hingga sekarang. Sebenarnya kemana dia?

Kim Him Chan menutup matanya sejenak, membiarkan suara hujan memenuhi pikirannya saat ini. Apa gadis itu benar-benar tak ada di sini? Ataukah ia sebenarnya tahu bahwa ia berada di sini, sehingga gadis itu memutuskan untuk tidak menghabiskan makan siangnya di sini? Ataukah kini seseorang mengajaknya makan siang? Seorang laki-laki yang mungkin saja kekasihnya? Apakah Yong Guk?

Kim Him Chan mendengus kesal. Kenyataannya, ia tak suka menerka-nerka. Ia lebih suka tahu kenyataan apa yang telah menunggunya kini, namun jika hal itu benar…Kim Him Chan mengerang. Ada apa dengan dirinya?

Ia bahkan selalu memikirkan gadis itu, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang membuat gadis itu tak mau menemuinya, dan merindukan gadis itu. Oh ayolah, demi apapun, mereka telah berteman sejak bahkan 12 tahun yang lalu. Ia mengenal baik gadis itu, gadis yang selalu mengikutinya kemanapun dan kapanpun. Dan dengan bodohnya gadis itu mengikuti jejaknya untuk mengikuti training di Korea, padahal saat itu gadis tersebut tengah tinggal di San Fransisco, hendak melakukan studinya di Stanford. Bodoh. Ya, gadis itu sangat bodoh.

Gadis itu yang bahkan layaknya sebuah bayangan miliknya, dan kini tengah menghilang. Dan rasanya bagian dari miliknya berkurang entah kemana. Kim Him Chan membuang nafasnya perlahan, hingga sebuah senyum ia coba untuk bentuk dengan kedua ujung bibirnya. Hari ini setidaknya ia gahal namun percayalah Kim Him Chan tak menyerah hingga disitu saja.

Kim Him Chan memandangi bangunan uang kini berdiri tegak di hadapannya. Benar, kini ia berada tepat di depan perusahaan hiburan dimana gadis itu menjalani masa training-nya. Kim Him Chan mendengus kesal setidaknya hari ini adalah hari ketiganya ia berada di sana berharap bertemu dengan gadis itu. Tapi nyatanya hingga kini ia tak juga bertemu dengan gadis tersebut.

Kim Him Chan menguap. Ponsel miliknya yang ia daritadi pegang, berulang kali ia tempelkan pada salah satu telinganya, ia berharap orang yang di seberang mengangkat setidaknya satu di antara puluhan panggilan yang ia lakukan hari ini. Ia berharap jejak ponsel tidak tertinggal di salah satu telinganya.

Tidak pada hari ini saja Kim Him Chan berusaha untuk menghubungi gadis itu. Bahkan sejak beberapa hari yang lalu, saat setelah ia bertemu dengan gadis itu di rooftop, ia mulai memghubungi gadis itu. Ya, ia tak bisa lupa bagaimana gadis itu bersikap dingin terhadapanya dan bersembunyi di balik punggung Bang Yong Guk saat mereka bertemu.

Ia tak tahu pasti kenapa gadis itu melakukannya. Tapi yang jelas, ia ingin berbicara dengan gadis itu, menjelaskan semua keegoisannya selama ini. Ia menyesal? Ya, sangat. Ia tak pernah bermaksud untuk menghiraukan gadis itu, tapi… dia memang melakukannya tanpa maksud apapun.

Kim Him Chan memandang ponsel milikya sekali lagi, mengetikkan sebuah pesan yang akan ditujukan pada gadis itu sekali lagi

Kau dimana? Apa yang lakukan sekarang?

Kim Him Chan membuang nafasnya kesal. Ia kemudian menambahkan,

Apa kau tahu apa yang aku rasakan?

Namun ia kemudian menghapusnya kalimat yang baru saja ia ketik. Ia tersenyum masam. Ia kemudian menekam ikon ‘kirim’ untuk mengirimkan pesan yang baru saja ia ketik. Kurasa gadis itu belum perlu untuk mengetahui apa yang ia rasakan saat ini. Ia sendiri masih belum yakin apa yang ia rasakan untuk gadis itu. Apa ia hanya merindukannya atau ia mulai mencintainya?

Kim Him Chan menyeringai. Dulu ia ingat bahwa gadis itu selalu membuat alasan bahkan tak berlogika hanya untuk bertemu dengannya. Benar, gadis itu selalu berusaha untuk menemuinya. Bahkan gadis hampir menyamai bayangan miliknya. Bayangan miliknya? Tunggu.

Kim Him Chan mengembangkan senyumnya saat sesuatu baru saja melintas di otaknya. Ia kemudian meletakkan kembali ponselnya pada mantel yang ia kenakan. Ia memandang jarum jam tangannya sekali lagi. Jika ia tak bisa menemukan gadis itu di cafe dimana mereka sering menghabiskan waktu, bahkan di perusahaan dimana gadis itu menjalani masa training-nya, maka tak ada jalan yang lain.

Benar, Kim Him Chan perlu menemui gadis itu di flat-nya. Gadis itu adalah bayangan miliknya dan ia perlu untuk mendapatkannya apa yang seharusnya ia miliki. Ya, gadis itu bayangannya, maka gadis itu adalah miliknya. Him Chan mengembangkan senyumnya.

Lihat saja.

Yoo Ji Ah melangkahkan kakinya santai pada jalan setapak. Hari ini ia berjanji pada Yong Guk akan memasakkan laki-laki itu nasi goreng kimchi. Baiklah, ia tak berbakat untuk memasak, tapi jika memasak nasi goreng bukanlah sebuah perkara yang susah untuknya. Yoo Ji Ah menatap kantung plastic yang ia bawa, ia tersenyum tipis. Laki-laki itu pasti akan menyukainya, ia yakin itu.

Ia merasa berhutang banyak pada laki-laki itu. Ia merasa melakukan hal ini bukanlah hal yang salah. Ia ingin berbuat baik pada laki-laki itu sebelum ia pergi ke San Fransisco, karena setelahnya ia tak akan pernah ke Korea. Ya, dengan begitu ia akan lebih mudah untuk melupakan segala kenaivan yang pernah ia lalui di Korea.

Bang Yong Guk setidaknya kini berada di flat-nya saat ini. Ia menolak saat laki-laki itu memintanya untuk mengantarnya. Ya, ia tak mau sekali lagi merepotkan laki-laki itu dengan alasan apapun. Laki-laki itu terlalu banyak berbuat baik untuknya, sedangkan ia? Yoo Ji Ah membuang nafasnya perlahan. Ya, selama ini sama sekali tak memberikan apapun untuk laki-laki itu.

Yoo Ji Ah sedikit terkesiap saat memandang jam digital yang diperlihatkan oleh ponselnya. Ya, setidaknya ia tak mau membuat laki-laki itu khawatir bila gadis itu berada di luar sendiri. Yoo Ji Ah memutuskan untuk berlari kecil, setidaknya sebentar lagi ia akan sampai, namun langkahnya setidaknya terhenti saat flat-nya hanya berjarak beberapa meter lagi. Ia terkesiap saat seorang laki-laki tengah berdiri pada bangunan dimana flat-nya berada. Laki-laki itu tersenyum padanya sesaat setelah masker yang ia kenakan ia turunkan. Ya, Kim Him Chan.

Apa yang ia lakukan di sini? Yoo Ji Ah dalam seketika menahan nafasnya saat ia tahu siapa laki-laki itu. ia kemudian menundukkan kepalanya sekedar menghindari sorot mata laki-laki itu. Ia tetap melangkahkan kakinya dan berusaha melewati laki-laki itu untuk memasuki flat miliknya, namun setidaknya gagal.

Kim Him Chan meraih sebelah tangan gadis itu erat. Mereka tak berucap satu sama lain, namun yakinlah Yoo Ji Ah tak dapat mengontrol detak jantungnya saat ini. Ia takut jika laki-laki itu mendengarnya saat ini. Yoo Ji Ah mengigit bibirnya saat genggaman tangan laki-laki itu semakin erat. Untuk apa laki-laki itu berada di sini, di saat ia benar-benar ingin melupakan laki-laki itu?

Kim Him Chan memutar tubuh gadis tersebut hingga mereka kini saling bertatap. Wajah Him Chan berubah serius saat ini. Tak ada senyum di wajahnya, sangat jauh berbeda dengan Kim Him Chan yang ia kenal selama ini. Mereka terdiam untuk beberapa menit.

Kim Him Chan menatap gadis yang ada di hadapannya dalam, meski gadis itu memilih untuk menundukkan kepalanya. Ia yakin, saat ini ia bisa saja menangis hanya karena laki-laki itu. Ia sudah berjanji untuk melupakan laki-laki itu, maka ia berencana untuk pulang ke San Fransisco secepatnya, tapi kenapa kali ini laki-laki itu seakan tak ingin ia lupakan?

“Kemana saja kau? Aku menghubungimu selama ini, tapi kau sama sekali tak menghiraukannya,” tanya laki-laki itu yang terasa dalam. Intonasinya sempat membuat bulu kuduk gadis itu meremang hebat. Berat suara laki-laki itu membuat detak jantungnya kali ini lebih cepat. Ia mencoba untuk melepaskan ganggaman tangan laki-laki itu, tapi laki-laki tersebut tak mau melepaskannya.

“Aku menunggu tiap hari di cafe dekat tempat dimana kau menjalani training. Apa kau tidak datang untuk berlatih lagi?” imbuh laki-laki itu kali ini. Intonasi suaranya meninggi. Ia tahu laki-laki itu geram. Yoo Ji Ah masih memilih untuk diam. Ia sama sekali tak ingin menatap laki-laki itu. Ia merasa sangat kesal dan juga kecewa dengan laki-laki itu.

Benar, bagaimana laki-laki itu selama ini memperlakukannya? Dan saat ini, ia tengah marah padanya karena ia menghiraukannya untuk beberapa hari terakhir. Apa ia tak tahu bagaimana dirinya saat ini? Ia merasa sakit saat laki-laki itu menghiraukannya demi gadis lain. Ia merasa sakit karena laki-laki itu tak mempedulikannya lagi. Padahal selama ini, tujuan ia berada di Korea bertahun-tahun hanya untuk laki-laki itu, apa laki-laki itu tak mengetahuinya? Dan saat ini ia marah karena ia menghiraukannya hanya dalam beberapa hari saja?

Yoo Ji Ah mengangkat wajahnya sesaat setidaknya air matanya tak bisa ia tahan lagi. Kim Him Chan terdiam saat ia dapat melihat gadis itu menangis di hadapannya. Apa karena intonasi suaranya yang berlebihan? Tapi itu adalah salah satu bentuk kekhawatiran darinya? Apa gadis itu tak dapat mengetahui itu semua?

Kim Him Chan membuang nafasnya perlahan sesaat sebelum ia menarik tubuh gadis yang ada di hadapannya di dalam pelukannya. Yoo Ji Ah hanya terdiam saat laki-laki itu mengeratkan pelukannya. Kim Him Chan semakin mengeratkan pelukannya saat ini. Ia tak peduli bagaimana orang-orang sekitar menilainya. Ia tak tahu mengapa ia melakukannya, tapi untuknya apa yang dilakukannya saat ini terasa benar. Terasa sangat benar ia merindukan gadis itu, terasa sangat benar saat ia mengkhawatirkan gadis itu bahkan sangat benar saat ia memeluk gadis itu.

“Aku merindukanmu Yoo Ji Ah,” ucap laki-laki itu pelan. Benar, terasa sangat benar, ia sangat membutuhkan gadis itu.

Bang Yong Guk menatap sekelilingnya. Ia kini merasa sangat bosan. Ya, bagaimana tidak ia berada pada flat seseorang yang bahkan pemiliknya tengah berada di luar. Bang Yong Guk melempar-lemparkan ponsel miliknya ke udara dengan salah satu tangannya.

Yoo Ji Ah menolak saat ia meminta untuk menemani gadis itu berbelanja. Gadis itu bilang, ia hanya membutuhkan beberapa menit saja untuk sampai di tempat perbelanjaannya, namun hingga kini gadis itu belum kembali juga. Ada rasa cemas di dirinya jika saja beberapa sasaeng itu kembali menyakitinya.

Bang Yong Guk beranjak dari sofa yang ia duduki. Ia tak tahan lagi. Ia memang harus memastikan sendiri apa gadis itu baik-baik saja. Bang Yong Guk meraih mantel yang berada di sofa dan mengenakannya cepat. Ia kemudian meletakkan ponselnya pada salah satu saku mantelnya tersebut.

Ia kemudian berjalan menuju luar flat dan hendak menuruni tangga menuju lantai paling dasar. Ya, bila gadis itu marah padanya karena ia menjemputnya, itu tak masalah. Karena bukankah ia telah berjanji pada gadis itu untuk selalu melindunginya? Maka ini adalah salah satu bentuk dari janjinya.

Langkah Yong Guk terhenti sesaat setelah ia berjalan dari bangunan flat tersebut. Ia tersentak saat ia melihat Yoo Ji Ah tengah dipeluk seorang laki-laki kini. Bang Yong Guk dapat merasakan bahwa jantungnya bekerja lebih cepat dalam mengalirkan darahnya. Laki-laki itu sempat mengepalkan tangannya, namun kepalan tangannya setidaknya merenggang saat ia tahu bahwa gadis itu tak melakukan sebuah penolakan atas pelukan tersebut. Bahkan ia yakin bahwa gadis itu terhanyut dalam pelukan tersebut.

Yoo Ji Ah menghentakkan tubuh Him Chan agar laki-laki itu melepaskan pelukannya dan menjauh darinya saat ia sadar bahwa Bang Yong Guk tengah memperhatikan keduanya. Kim Him Chan setidaknya meringis kesakitan saat hentakan yang diberikan gadis itu cukup kasar.

Yoo Ji Ah kemudian berlari menuju Bang Yong Guk dan bersembunyi tepat di belakang laki-laki itu. Kim Him Chan yang awalnya tak mengetahui bahwa seseorang tengah memperhatikan mereka, mulai memutar tubuhnya mengikuti arah langkah gadis itu. Ia menyeringai saat ia tahu gadis itu sekali lagi bersembunyi di balik punggung sang leader.

“Yong Guk hyung, jadi selama ini kau bersamanya?” tanya laki-laki itu dengan intonasi yang tak menyenangkan. Ya, setidaknya ada rasa kecewa yang ia rasakan saat gadis itu berlindung di balik punggung Bang Yong Guk untuk kesekian kalinya. Seringaian di wajahnya perlahan menghilang saat ia tahu ia merasa konyol saat ini. Ya, setidaknya ia merasa bodoh untuk mengkhawatirkan gadis itu selama ini, karena setidaknya seseorang telah lebih dulu memastikan gadis tersebut baik-baik saja.

Bang Yong Guk mengepalkan genggamannya sekali lagi. Sekiranya amarahnya belum reda juga. Apa maksud perkataan laki-laki itu barusan? Ia yakin, ia pastinya sudah meledakkan amarahnya sejak beberapa menit yang lalu jika saja gadis itu tak menggenggam lengannya begitu erat. Ia tahu bahwa gadis itu tak menginginkan sebuah perkelahian antar keduanya.

Kim Him Chan menyeringai sekali lagi saat sekiranya Yoo Ji Ah tak mau memandangnya saat ini. Tahukah dia jika hatinya sekaramg mencuas begitu sakit? Kenyataan baru kiranya. Ya, mereka tengah menjalin sebuah hubungan. Itu dapat Him Chan rasakan saat ini.

Kim Him Chan tak ingin membuka mulutnya sekali lagi. Ia kemudian memutar tubuhnya dan beranjak pergi begitu saja. Baginya itu sudah sangat jelas. Ya, seharusnya ia tak mengkhawatirkan gadis itu sekali lgi, karena seseorang telah memilikinya lebih dulu.

Yoo Ji Ah memasukkan sesendok nasi goreng kimchi pada mulutnya dan mulai mengunyahnya dengan perlahan. Tepat di depannya, Bang Yong Guk juga tengah melahap nasi goreng miliknya dan dengan memperhatikan gadis itu sejak beberapa jam yang lalu. Keduanya seakan tak memiliki topik lagi untuk dibicarakan, pertemuan kali ini serasa percuma. Bang Yong Guk meraih kain yang berada tak jauh darinya dan dengan perlahan ia membersihkan bibirnya dengan kain tersebut.

Yoo Ji Ah menatap laki-laki itu bingung, ia tahu bahwa Bang Yong Guk belum menghabiskan makanan miliknya, tidak seperti biasanya, namun entah gadis itu enggan mengomentari hal tersebut. Pikirannya tengah penuh saat ini. Bagaimana tidak, seorang laki-laki yang tengah mati-matian ia coba untuk lupakan, tiba-tiba saja datang dan seakan tak ingin dilupakan. Bagaimana ini? Hal ini semakin susah untuk dirinya melupakan laki-laki itu. Yoo Ji Ah tanpa sadar membuang nafasnya dengan begitu berat. Ia lantas membersihkan bibirnya dengan kain miliknya.

Bang Yong Guk tahu apa yang tengah gadis itu pikirkan kali ini. Namun satu hal yang menjadi pertanyaannya, kenapa gadis itu menjauhi Kim Him Chan? Apa karena membencinya? Lalu, kenapa saat laki-laki itu memeluknya, kenapa gadis itu tak mengelak?

Laki-laki itu menyeringai. Setidaknya ia tak ingin mengetahui apa yang dipikirkan juga dirasakan gadis itu saat ini. Karena hal itu sangat mengganggunya, namun satu hal yang selalu mengusik di dalam hatinya. Gadis itu memiliki perasaan lebih dari seorang teman terhadap laki-laki tersebut.

Namun bagaimana perasaan laki-laki itu terhadap gadis tersebut? Ia rasa laki-laki itu belum terlalu yakin atas apa yang tengah dirasakannya, dan menurut Bang Yong Guk, itu adalah hal baik untuknya.

Raut wajah Yoo Ji Ah masih terlihat menyedihkan. Sorot matanya lemah. Hal tersebut mengganggu dirinya.

“Kau yakin kau baik-baik saja?” tanya Bang Yong Guk tiba-tiba. Yoo Ji Ah memaksa kedua ujung bibirnya terangkat. Ia kemudian mengangguk cepat. Sebuah peyakinan bahwa ia baik-baik saja saat ini, meski tidak untuk pikiran juga hatinya.

“Apa yang Him Chan katakan?” imbuh laki-laki itu sekali lagi. Yoo Ji Ah kali ini tertunduk. Ia kemudian mengalihkan pandangannya. Apa yang Him Chan katakan padanya? Yoo Ji Ah menggigit bibirnya, yang hanya ia ingat adalah saat laki-laki itu memeluknya dan mengatakan bahwa laki-laki itu merindukannya dan seakan tak ingin dilupakan. Ya, bukan sebuah permintaan maaf tentang apa yang baru saja ia lakukan terhadapnya.

“Yoo Ji Ah?”

Yoo Ji Ah mengangkat kepalanya saat laki-laki di hadapannya memanggil namanya. Laki-laki itu setidanya mencemaskan dirinya lagi.

“Tidak, bukan apa-apa. Ia juga tak melakukan apapun,” tukas gadis itu pelan. Bang Yong Guk mendengus pelan. Tak melakukan apapun? Lalu pelukan barusan, sebuah pengartian apa?

Yoo Ji Ah menarik nafas dalam-dalam hingga sebuah senyum lain terbentuk di wajahnya. Ia kemudian mulai menatap laki-laki yang ada di hadapannya.

“Oppa,” panggil gadis itu pelan. Yoo Ji Ah mengembangkan senyumnya kali ini. Senyum yang sebenarnya tak Yong Guk sukai.

“Setidaknya seminggu lagi, aku akan kembali ke San Fransisco,” imbuh gadis itu kali ini. Yong Guk tersentak saat mendengarnya, namun ia memilih untuk diam. Hingga di antaranya terdiam cukup lama. Yoo Ji Ah tahu, bahwa Yong Guk tengah merasa kecewa dengan apa yang dikatakannya hari ini. Ia tak mau kembali mengingat Kim Him Chan dan semua rasa sakit yang terkesan konyol di Korea. Ia ingin hidup dengan cara yang baru, tanpa laki-laki itu. Ia ingin segera lepas dari ketidak-beruntungannya di Korea. Ia ingin melupakan apa saja yang terjadi Korea. Tentang sasaeng, tentang laki-laki itu, tentang training dan semuanya.

Yong Guk menahan giginya yang kini mulai gemeratak. Emosinya baru saja berada di ubun-ubun. Apakah ini jawaban yang ia dapat dari diam gadis itu yang beberapa jam yang laku ia biarkan?

“Apa karena Kim Him Chan? Maka kau mempersingkat waktumu?” tanya Yong Guk dengan nada tak terimanya. Yoo Ji Ah sempat terkejut dengan reaksi laki-laki itu, namun ia berusaha untuk mengontrol emosinya.

“Bukan, bukan karena itu. A-aku bukan mempersingkat waktuku, aku sudah mempertimbangan hal ini sejak beberapa hari yang lalu,” ucap Yoo Ji Ah yang mulai gemetar mencoba menghindari rasa takut yang mulai menghampirinya. Yong Guk menarik nafasnya dan mengeluarkannya pelan. Ia tahu, gadis itu mulai ketakutan akibat intonasi suaranya.

“Kumohon, jangan pergi,” ucap Yong Guk menyedihkan. Ia meraih salah satu tangan gasis itu yang berada di meja dan menggenggamnya erat, namun Yoo Ji Ah menarik tangannya, enggan bila tangannya digenggam oleh laki-laki itu. Bang Yong Guk menyeringai saat hal itu terjadi.

“Apa tak ada yang bisa kulakukan demi menahanmu?”

Yoo Ji Ah terdiam. Ia masih tertunduk. Selain menghindari Kim Him Chan, pergi ke San Fransisco setidaknya juga membantunya untuk menghindar dari laki-laki yang ada di hadapannya kini. Bukan, bukan karena ia takut saat berada dengan laki-laki tersebut. Ia menghindari laki-laki itu demi menjaga perasaan laki-laki itu yang tak mungkin ia balas. Ia tak ingin, laki-laki itu tersakiti hanya karena ia tak membalas perasaan laki-laki itu.

Bang Yong Guk beranjak dari bangkunya. Ia mencoba menahan emosinya kini. Emosi yang sebenarnya telah terbentuk sejak laki-laki itu datang dan memeluk gadis itu di hadapannya. Saat ia tahu, bahwa gadis itu memiliki perasaan yang sama dengan apa yang ia rasakan, hanya untuk laki-laki bernama Kim Him Chan tersebut.

Yong Guk mengerang. Apa yang selama ini ia berikan pada gadis itu tak berarti apa-apa? Apa hanya Kim Him Chan di dalam otaknya? Kim Him Chan yang seakan tak peduli dengannya itu?

Bang Yong Guk memandang Yoo Ji Ah sekali lagi, masih dengan seringaian miliknya. Ia membuang nafasnya perlahan sebelum ia mulai membuka mulutnya kembali.

“Jika, jika aku tak bisa menahanmu pergi. Apakah kau akan mendengarkan jika Kim Him Chan yang memintamu?”

Yoo Ji Ah menatap laki-laki itu dengan tatapan tak percaya. Emosinya setidaknya terpancing kali ini.

“Apa maksudmu oppa?”

Yong Guk menyunggingkan senyum pahitnya.

“Benar bukan? Jika ia yang memintamu untuk tinggal, kau akan mendengarkannya bukan?”

Yoo Ji Ah menggigit bibir bawahnya. Matanya terasa kembali panas, juga dadanya terasa sesak kembali. Bagaimana laki-laki itu mengatakannya? Seakan apa yang dikatakannya begitu mudah? Apakah ia tak tahu bagaimana ia mencoba melupakan laki-laki itu dari oraknya dan kini seakan semua mudah untuk dikatakan laki-laki itu?

Yoo Ji Ah berjalan menuju sofa miliknya, meraih mantel laki-laki itu danemberikan ma tel tersebut pada laki-laki tersebut. Setidaknya kedua matanya mulai berair, namun ia mencoba untuk menutupinya.

“Maaf oppa, aku harus istirahat. Bisakah kau pulang sekarang?”

Yong Guk tertunduk. Ia tahu ia salah saat ia meledak-ledak seperti apa yang ia lakukan tadi. Namun satu hal yang perlu gadis itu ketahui, ia mencintai gadis itu hingga ia serasa tak mampu membiarkan gadis itu menyukai laki-laki lain den pergi darinya.

Yong Guk berjalan keluar saat gadis itu mulai membukakan pintu flat-nya lebar-lebar, seakan ingin laki-laki itu pergi secepatnya dan seakan berharap laki-laki itu tak kembali.

Saat seseorang memberimu sebuah sepatu, ia tengah meminta izin untuk pergi darimu. Jika kau memberinya sepatu juga, itu artinya kau merelakannya pergi.

Yoo Ji Ah menatap kaca jendela yang menghadap dengan leluasa pada pemandangan yang ada di luar sana. Yoo Ji Ah mengembangkan senyumnya. Sepertinya ia akan merindukan saat-saat dimana ia memandang keluar jendela di saat pagi hari.

Yoo Ji Ah menghembuskan nafasnya sedikit berat, ia kemudian beralih pada beberapa buku yang berada di dalam rak bukunya, ia kemudian meraih beberapa buku dan kemudian ia memindahkannya pada kotak kardus berukuran sedang yang telah ia siapkan.

Yoo Ji Ah membuang nafasnya, rasanya ia mudah lelah untuk akhir-akhir ini. Ia memandangi flat miliknya yang kini terasa sepi, dan kosong. Ia tersenyum tipis. Beberapa barang telah ia rapikan, hanya tinggal beberapa barang lagi. Ia akan mengirimkan sisa barang-barangnya ke San Fransisco, sebelum dirinya yang berangkat. Untuk beberapa barang yang lain, ia telah mengirimkannya lebih dulu. Ia pastinya akan merindukan suasana flat-nya.

Yoo Ji Ah menatap ponsel miliknya, melihat jam digital yang berada di sana. Setidaknya dua hari lagi ia akan bertolak ke San Fransisco dan meninggalkan semuanya yang ada di Korea. Yoo Ji Ah menggigit bibirnya pelan. Setelah ini ia akan meninggalkan Bang Yong Guk juga laki-laki itu, Kim Him Chan.

Yoo Ji Ah mengelengkan kepalanya pelan. Setelah perselisihannya dengan kedua laki-laki itu beberapa hari yang lalu, ia tak pernah menghubungi keduanya. Bahkan Bang Yong Guk tak pernah datang ke flat-nya setelah gadis itu mengusirnya. Baiklah, saat itu adalah saat-saat yang sangat sulit untuknya, dan ia tak bisa menenangkan pikirannya saat itu. Lalu Kim Him Chan? Yoo Ji Ah menarik nafasnya perlahan dan mengeluarkannya.

Ia merindukan laki-laki itu. Ia tak bisa berbohong saat laki-laki itu pada akhirnya memeluknya dan saat itu ia seakan berpura-pura ia sama sekali tak merindukan laki-laki itu. Egokah dia? Bukan, tegasnya. Ia tak merasa melakukan apapun yang salah. Ia…Ia hanya menjalani apa yang diminta laki-laki itu. Saat laki-laki itu tak mempedulikannya, di saat itulah ia merasa tak dibutuhkan, maka ia menjauh.

Untuk beberapa hari yang lalu, ia mendengar kabar bahwa kedua laki-laki dan keempat laki-laki lainnya tengah berada di luar negeri untuk melakukan tour mereka, tepatnya di Los Angeles. Jadi ia pikir, ia tak perlu berpamitan pada keduanya, bukan karena ia tak mau, tapi… anggap saja akibat kesibukan mereka, maka ia tak bisa bertemu dengan mereka. Titik.

Suara bel flat-nya setidaknya terdengar. Seseorang sepertinya menanti dirinya untuk membuka pintu. Yoo Ji Ah beranjak dari sofanya dan berjalan menuju pintunya. Seorang laki-laki dengan seragam tukang pos mulai terlihat saat ia membuka pintu flat-nya. Laki-laki tersebut memberikan sebuah amplop berukuran sedang, dan Yoo Ji Ah menerimanya dengan perasaan sedikit bingung.

“T-tunggu, siapa yang mengirimkan ini?” tanya Yoo Ji Ah sesaat laki-laki itu hendak pergi. Namun, laki-laki itu hanya tersenyum lalu beranjak pergi. Yoo Ji Ah masih tak mengerti dengan amplop yang ia terima kali ini. Ia yakin, ia telah memberitahu semua sanak saudara juga semua temannya bahwa ia akan kembali ke San Fransisco.

Ponsel Yoo Ji Ah tiba-tiba saja berdering sesaat setelah ia menutup pintu flat-nya. Yoo Ji Ah menghembuskan nafasnya malas, kali ini setidaknya laki-laki itu lagi yang menghubunginya. Ya, Kim Him Chan. Laki-laki itu tak pernah patah arang untuk terus menghubunginya, dan demi apapun, ia lelah dengan nada dering ponsel miliknya. Saat dering kedua terdengar, Yoo Ji Ah baru meraih ponsel miliknya yang ia letakkan di meja dekat sofa yang tadi ia duduki. Ia mengernyit, saat ini bukan Kim Him Chan, melainkan Bang Yong Guk. Yoo Ji Ah membuang nafasnya sebelum ia menekan ikon ‘terima’ yang kemudian ponselnya tersebut ia letakkan pada salah satu telinganya.

Antar keduanya tak ada yang mengucapkan salam, hingga hening untuk beberapa menit. Yoo Ji Ah dapat mendengar suara hembusan nafas laki-laki itu yang terkesan berat. Yoo Ji Ah mengigit bibirnya, ia memaksakan bibirnya untuk terbuka, namun tak ada yang bisa ia ucapkan. Ada rasa bersalah di dalam hatinya kini.

Hai, apa kabar?” ucap laki-laki di seberang begitu berat.

Baik. Kau oppa?” balas Yoo Ji Ah yang terkesan sangat, bahkan sangat singkat.

Kurasa baik” ucap laki-laki itu sekali lagi. Yoo Ji Ah dapat mendengar kekehan kecil laki-laki itu yang terkesan pahit. Yoo Ji Ah tak merwsponnya.

“Kau mendapat amplop itu siang ini?”

Yoo Ji Ah kembali menatap amplop yang ia pegang. Baiklah, setidsknya laki-laki itulah pengirimnya.

“Uhm yea..” ucapnya getir. Entah kenapa nada bicaranya begitu tak menyenangkan. Ia tak bermaksud demikian, namun di bawah alam sadarnya, ia telah melakukannya. Ia merutuki hal tersebut.

Yoo Ji Ah lantas membuka amplop yang ia genggam. Ia terbelalak. Ya, sebuah reservasi tiket penerbangan ke Los Angeles untuk besok hari. Ia mengigit bibirnya, apa maksudnya?

Pastinya kau sudah membuka isinya bukan?”

“Oppa, ini—“

Kumohon jangan menolaknya,” potong laki-laki itu terkesan memwlas. Yoo Ji Ah menarik nafasnya dalam-dalam.

“Aku ingin kau datang ke Los Angeles secepatnya. Aku telah memesan sebuah tiket penerbangan juga sebuah kamar di hotel yang namanya tertera pada helai kertas lain di sana,”

“Aku akan kembali ke San Fransisco dua hari lagi,”
“Kumohon.”

Yoo Ji Ah membuang nafasnya yang terkesan lebih berat daribbiasanya. Suara laki-laki itu membuatnya tak bisa berkata-lata kali ini.

“Jika aku tak bisa menahanmu pergi, maka penuhilah satu peemintaanku itu. Kumohon,”

Yoo Ji Ah mengigit bibirnya sekali lagi. Ia tak suka jika laki-laki itu memelas. Bahkan ia dapat mendengar nada kesedihan dari laki-laki itu sekarang. Ia tak menyukai hal itu. Ia tak menyukai bila laki-laki itu menjadi demikian karenanya, ia juga tak mau menyakiti laki-laki itu. Percayalah.

“Baiklah,” jawab Yoo Ji Ah pasrah. Setidaknya jawaban itu yang bisa ia ucapkan. Kali ini pilihan apa yang dapat ia pilih selain mengiyakan permintaan laki-laki itu.

“Terima kasih banyak. Baiklah, jaga dirimu…….”

Yoo Ji Ah menatap lembaran yang ia pegang. Ia kemudian melemparkan tubuhnya pada sofa miliknya, ia kemudian menutup matanya perlahan. Setidaknya ia tak bisa melarikan diri dari apapun yang telah ia buat sebelumnya.

Aku akan menunggumu di lobi setengah jam lagi.

Yoo Ji Ah membuang nafasnya. Setidaknya itulah pesan Bang Yong Guk dua puluh menit yang lalu. Sebenarnya apa yang laki-laki itu inginkan darinya? Yoo Ji Ah meraih tas jinjing miliknya sebelum ia memastikan bahwa ia terlihat sangat baik hari ini. Benar, kemarin malam ia baru saja sampai di Los Angeles, ia masih lelah tapi laki-laki itu memintanya untuk menemuinya hari ini. Ia bahkan belum sempat memakan sarapam yang telah disiapkan oleh hotel dimana ia menginap hari ini. Yoo Ji Ah lantas keluar dari kamar hotelnya sesaat ia yakin bahwa ia terlihat sangat baik hari ini. Baiklah, Yoo Ji Ah menganggap ini adalah salah satu bentuk farewell party yang diberikan laki-laki itu untuknya, tapi bagaimana jika tidak? Bagaimana jika laki-laki itu memintanya untuk tidak meninggalkannya sama seperti waktu itu?

Yoo Ji Ah menggelengkan kepalanya cepat. Pikiran apa itu? Ia tak boleh berpikiran negatif tentang laki-laki itu. Laki-laki yang telah menjaganya untuk beberapa bulan itu, adalah laki-laki yang sangat baik. Dan kali ini Yoo Ji Ah berusaha untuk membalas kebaikan laki-laki itu terhadapnya.

Yoo Ji Ah menekan menekan tombol lift dan menunggu pintu lift terbuka untuk mengantarnya sampai ke lobi. Ia mengedarkan pandangannya pada sekelilingnya. Hotel dimana ia menginap sekarang adalah hotel yang cukup terkenal di Los Angeles, kamar yang ia inapi juga sangat baik, ia yakin laki-laki itu telah mengeluarkan cukup banyak uang untuk mempersiapkan semua ini.
Apa laki-laki itu masih mengharapkan hal lebih darinya hingga ia menyiapkan semua ini untuknya? Yoo Ji Ah mendengus. Banyak hal yang ada di pikirannya sekarang. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk mengiyakan permintaan laki-laki itu terakhir kalinya, setelahnya mereka tak akan bertemu lagi bukan? Dan ia tak perlu mengiyakan peemintaan laki-laki itu yang lainnya. Los Angeles bukanlah tempat yang sangat jauh dari tempat tinggalnya, San Fransisco. Ia yakin setelah semua ini, ia bisa pulang dan memulai hidup dengan sebagaimana mestinya. Ia tak sabar untuk itu.

Ting!

Yoo Ji Ah tersenyum saat setidaknya lift telah datang, namun setidaknya senyumnya menghilang saat seorang laki-laki mulai terlihat dari balik pintu lift tersebut.

Kim Him Chan.

Yoo Ji Ah menahan nafasnya saat ia mendapati laki-laki itu sekali lagi. Ia menggigit bibirnya dan dengan segera menundukkan kepalanya. Ia menghindari betul sorot mata laki-laki tersebut. Untungnya, laki-laki itu tak menyadari kehadirannya. Matanya tertuju pada layar ponsel miliknya, hingga laki-laki itu berhasil melewati dirinya.

Yoo Ji Ah memutar tubuhnya memandangi laki-laki itu yang mulai menjauh darinya dan tanpa mengetahui keberadaannya. Yoo Ji Ah tersenyum getir. Ia kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift. Yoo Ji Ah dapat mengamati laki-laki itu yang tengah menghentikan langkahnya dan menempelkan ponselnya pada salah satu telinganya. Yoo Ji Ah membuang nafasnya perlahan, ada rasa kecewa saat ini ia rasakan. Ada rasa dimana ia ingin bahwa laki-laki itu mengetahui keberadaannya.

Ponsel Yoo Ji Ah tiba-tiba saja berdering sesaat pintu lift mulai menutupkan diri. Laki-laki yang berada cukup jauh darinya seketika memutar tubuhnya saat dering ponsel sangat ia kenal terdengar olehnya, namun sayang pintu lift sudah tertutup rapat.

Yoo Ji Ah membuang nafasnya lega. Benar, terlambat semenit saja, laki-laki itu pasti menemukannya. Dan jika laki-laki itu menemukannya, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan, tapi.. bukankah tadi ia menginginkan laki-laki itu menemukannya? Tapi ia belum siap untuk itu. Ia juga tak mau melihat laki-laki itu lagi. Baginya itu semua sudah sangat cukup. Ia tak mau mengingat laki-laki itu meski itu terasa sangat susah.

Setidaknya ia sudah sampai pada lantai dasar, saat suara lift mulai terdengar kembali. Yoo Ji Ah telah bersiap untuk melangkahnkan kakinya saat pintu lift mulai terbuka perlahan, namun ia mengurungkan niatnya saat cahaya cahaya begitu terang mengenai matanya. Yoo Ji Ah mengerang, ia tahu bahwa itu adalah cahaya blitz dari sebuah kamera. Siapa yang mengerjainya?

Ia membuka matanya sesaat ia mendengar suara kekehan dari oarang yang berada di hadapannya. Setidaknya seorang laki-laki dengan sebuah kamera polaroid berada di tangannya, tengah membidik dirinya.

“Bagus, aku mempunyai foto terjelekmu sekarang,” ucap laki-laki itu mengembangkan senyumnya sesaat ia melihat gambar yang ia hasilkan. Kini keduanya saling bertatap.Yoo Ji Ah menyunggingkan senyumnya. Ia tak bisa berbohong bahwa ia merindukan senyum laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.

“Bang Yong Guk oppa, kau merindukanku?”

Kim Him Chan memandangi keempat temannya yang entah kini melakukan apa. Ia menghembuskan nafasnya malas, ia kembali memandangi ponselnya. Tadi pagi sekali ia seperti mendengarkan dering ponsel gadis itu tepat di belakangnya. Tapi itu tak mungkin bukan? Gadis itu berada di Korea. Ia menyeringai, apakah ia begitu merindukan gadis itu kini?

Kim Him Chan kembali memperhatikan keempat temannya yang tengah berfoto di depannya. Ia tersenyum tipis, sepertinya teman-temannya menghabiskan waktu yang menyenangkan kali ini. Benar, sang manager memberikan spare time setidaknya untuk hari ini, setelah kesibukan mereka melakukan tour mereka. Oh ayolah, ini Los Angeles, mereka tak bisa membuang waktu mereka dengan percuma. Dan ia tahu, bahwa keempat temannya tengah memiliki cara untuk menggunakan waktu mereka dengan benar.

Hari ini ia hanya mengiyakan ajakan keempat temannya tanpa menikmatinya dengan baik. Hari ini sama seperti hari-harinya sebelumnya. Orang yang menjadi satu-satunya penyemangat hidupnya entah kenapa menghindarinya. Yup, mungkin karena ia telah memiliki seseorang. Tapi, demi Tuhan ia adalah teman lama gadis itu, dan ia hanya ingin berbicara dengan gadis itu. Ia merindukan gadis itu. Sangat.

Bang Yong Guk. Benar, nama laki-laki yang mungkin tengah menjalani suatu hubungan dengan gadis itu adalah salah satu teman satu group-nya, Bang Yong Guk. Ia sekarang tahu apa yang menjadi penyebab laki-laki itu sering menghabiskan waktunya di luar. Ya, tak salah lagi, demi menghabiskan waktu dengan Yoo Ji Ah.

Setelah kejadian di depan flat gadis itu, ia juga Bang Yong Guk tak pernah berbicara satu sama lain. Tak pernah membahas kejadian tersebut, bahkan di antara tak pernah bertegur sapa. Laki-laki itu juga tak mengiyakan atau mengelak atas persepsinya bahwa gadis itu tengah menjalin hubungan dengannya. Hal itu, adalah hal yang paling Kim Him Chan tidak sukai.

Saat di Los Angeles, ia bahkan menolak untuk berada satu kamar dengan sang leader. Bukan apa-apa, ia tak tahu bagaimana cara mereka memperbaiki hubunagn mereka setelah kejadian itu. Padahal ia juga laki-laki itu cukup dekat. Di dorm, mereka tidur bersama, tapi kini mereka seakan tak mengenal satu sama lain.

Bahkan hari ini, ia tak tahu kemana perginya laki-laki itu. Ya, sejak pagi, ia tak bertemu dengan laki-laki itu saat memakan sarapan. Dan kini, sepertinya laki-laki itu bak ditelan bumi. Ia sama sekali tak tahu kemana perginya laki-laki itu.

Him Chan melihat sang maknae yang berjalan ke arahnya dengan sebuah pamflet di salah satu tangannya. Dengan wajah berseri-seri, ia menunjukkan sesuatu di pamflet tersebut.

“Hyung, kita ke tempat ini, otteh?” tanya laki-laki itu dengan senang. Ya, sebuah wahana sepertinya. Universal Studio. Ya, setidaknya itu yang bisa Kim Him Chan baca. Kim Him Chan menghembuskan nafasnya malas. Sungguh, ia tak memiliki semangat hidup. Sang maknae merengut melihat ekspresi hyung-nya tersebut.

“Jika saja Yong Guk hyung ada di sini,” ucap sang maknae terdengar menyedihkan. Kim Him Chan tersenyum tipis melihat reaksi laki-laki yang lebih muda di sampingnya tersebut.

“Dimana kau mendapatkan pamflet itu?” tanya Kim Him Chan yang penasaran dengan pamflet yang hanya dimiliki laki-laki tersebut.

“Oh, pamflet ini? Kemarin Yong Guk hyung memintaku untuk pergi ke recepsionist untuk mengambil pamflet tempat wisata di Los Angeles,” jawab sang maknae. Kim Him Chan mengernyit. Ia kemudian merebut pamflet tersebut tanpa ijin si empunya.

“Lalu untuk apa ia mengambil ini? Dimana Yong Guk sekarang?” imbuh Him Chan yang masih penasaran.

“Oh itu. Ia bilang, hari ini temannya datang dan kukira Yong Guk hyung tengah menemani temannya untuk mengunjungi semua tempat yang ada di pamflet ini,”

Kim Him Chan terkesiap. Teman? Apakah Yoo Ji Ah? Benar, tadi pagi ia mendengar dering ponsel milik gadis itu. Apakah itu benar Yoo Ji Ah?

“Kau tahu, Los Angeles sangat dekat dengan tempat tinggal Ji Ah nunna bukan?”

Kim Him Chan menatap sang maknae sekali lagi Masih dengan tatapan bingungnya. Sang maknae terkekeh.

“Oh ayolah, bukankah ia tinggal di San Fransisco sejak ia SMP?” imbuh laki-laki termuda tersebut. Kim Him Chan terkesiap. Ya, tidak salah lagi, teman yang dimaksud Yong Guk adalah gadis itu. Jarak San Fransisco juga Los Angeles dapat dikatakan dekat.

“Y-ya hyung! Kau mau kemana?” ucap sang maknae setengah berteriak saat setidaknya Kim Him Chan mulai memacu langkahnya menjauhi dirinya dengan sebuah pamflet pada salah satu tangannya.

Kim Him Chan menghentikan derap langkahnya yang baru saja ia mulai. Ia lantas memutar tubuhnya sebentar menghadap laki-laki termuda itu.

“Ada yang harus kulakukan,” ucapnya seperlunya hingga ia kembali memacu langkahnya.

“Sampai kapan kau akan mengambil gambarku oppa?”

Bang Yong Guk terkekeh. Ia kembali meletakkan kamera polaroid yang ia gantungkan pada lehernya. Ia lalu mengibaskan selembar foto yang baru saja hasilkan. Benar, Bang Yong Guk tak henti-hentinya mengambil gambar gadis yang ada di sampingnya tersebut. Hari ini, Bang Yong Guk meminta gadis tersebut menemaninya sejak pagi hingga senja datang. Ia tak segan menyewa sebuah mobil yang ia gunakan khusus dengan gadis itu hanya untuk hari yang baginya istimewa tersebut.

Beberapa tempat wisata ia datangi dengan gadis itu. Hingga kini, ia berada pada tempat wisata yang khusus ia kunjungi untuk menutup perjalanannya hari ini. Benar, kini mereka berada di Venice canals walkway, tepatnya Washington blvd, Dell Avenue. Salah satu tempat yang menurut Bang Yong Guk terbaik untuk mengakhiri perjalanannya hari ini.

Sebuah sungai buatan terlihat di samping kiri mereka. Angin berhembus tak terlalu keras, dibandingkan angin yang sering mereka rasakan di tepi Sungai Han. Hampir sama, namun di tempat ini, mereka dapat mencium bebauan yang memang khas di kota tersebut. Lampu-lampu yang berada di tepi sungai mulai dinyalakan, karena setidaknya langit mulai menggelapkan diri.

Bang Yong Guk menatap gadis yang kini tengah memandangi pemandangan sungai tersebut dari balik sebuah pagar besi berukuran sedang yang dapat di raihnya. Meski hari mulai gelap, entah kenapa ia masih bisa melihat binar di kedua mata gadis itu. Bang Yong Guk kembali meraih kameranya dan sekali lagi mengambil gambar gadis itu. Gadis itu hanya mengerang saat Bang Yong Guk sekali lagi tak mendengarkan apa yang ia katakan sebelumnya.

“Kau memang tak pernah mendengarkan apa yang aku katakan oppa,” ucap gadis itu sambil mengerucutkan bibirnya kesal. Bang Yong Guk hanya tersenyum tipis menanggapinya. Ia kemudian meletakkan foto yang baru saja ia tangkap pada saku mantel yang sekiranya penuh dengan foto-foto gadis itu. Hari ini ia dapat kembali melihat gadis itu tersenyum padanya. Bahkan gadis itu tak pernah henti untuk menunjukkan senyumnya. Entah bagaimana jadinya hidupnya tanpa melihat senyum gadis itu.

Perasaannya terhadap gadis itu tak pernah berubah dari dulu hingga sekarang. Ia menyukai gadis itu, meski gadis itu tak menyukainya, bahkan jika gadis itu membencinya. Dan kali ini, setidaknya adalah hari terakhir untuk dirinya menghabiskan waktunya dengan gadis tersebut.

Bang Yong Guk berjalan mendekati gadis itu yang masih berdiri di balik pagar pembatas sungai buatan Venice. Ia dapat melihat bagaimana gadis itu sangat menikmatinya, dan hal itu juga dapat dinikmati Bang Yong Guk.

Sebuah perahu dengan santai berlayar pada sungai buatan tersebut. Yoo Ji Ah terperanjat, dengan salah satu telunjuknya, menunjuk ke arah perahu tersebut dengan gembira.

“Bisakah kita menaiki itu? Dulu aku sering menaikinya,” pintanya. Bang Yong Guk hanya mengangguk, semenit kemudian gadis itu menggenggam tangannya dan meminta laki-laki itu untuk mengikuti langkahnya.

Tibalah kini mereka menaiki perahu seperti yang diminta gadis itu. Binar mata gadis itu tak pernah berubah. Kekaguman demi kekaguman diucapkan gadis itu. Entah sudah berapa lama gadis itu tak melihat langit Amerika, sehingga gadis itu merindukan tempat tinggalnya saat ini.

Gadis itu kini terdiam, sejenak ia menyunggingkan senyumnya. Setelah itu ia menghembuskannya nafasnya cukup panjang, dan berkata “aku merindukan San Fransisco. Aku tak sabar untuk berada di sana,”

“Lalu kenapa kau berada di Korea untuk beberapa tahun lamanya?” tanya Bang Yong Guk menanggapi. Yoo Ji Ah mengembangkan senyumnya tanpa memandang laki-laki itu yang berada di sampingnya. Ia terdiam cukup lama, hingga..

“Aku berada di Korea hanya karena dirinya. Kim Him Chan,” ucap gadis itu pelan. Sekian detik, Bang Yong Guk dapat merasakan hatinya mencuas begitu sakit, hingga ia hanya tersenyum sangat singkat. Ia kembali menatap gadis yang ada di sampingnya, berharap gadis itu melanjutkan ceritanya.

“Saat dia bilang, bahwa ia melakukan training di Korea untuk menjadi seorang penyanyi. Aku awalnya tak percaya, hingga saat ia begitu yakin akan melakukan debut. Kau tahu saat ia bersungguh-sungguh atas apa yang ia katakan, ia nyatanya dapat meraih itu,”

Senyum Yoo Ji Ah menghilang perlahan. Ia kemudian kembali melanjutkan ceritanya.

“Aku akhirnya memutuskan untuk datang ke Korea untuk melakukan training sama sepertinya,”

“Tapi kenapa?” ucap Bang Yong Guk kali ini. Yoo Ji Ah mulai melihat laki-laki yang ada di sampingnya. Dengan senyum yang terkesan begitu hambar ia melanjutkan perkataannya.

“Aku menyukainya sejak dulu,” ucapnya begitu tenang. Bang Yong Guk sadar, mungkin kali ini jantungnya berhenti berdetak sekian detik. Bagaimana bisa gadis itu mengatakannya dengan begitu mudah di hadapannya?

“Saat aku tahu ia akan debut sebagai penyanyi nantinya. Kukira, aku harus menjadi seorang yang setara dengannya, dengan begitu aku bisa selalu berada di samping laki-laki itu,” imbuh gadis itu kali ini. Ia menundukkan kepalanya saat ia dapat melihat wajah laki-laki itu berubah. Ia tahu, ia tak pantas mengatakannya, tapi ia yakin setelah ia mengatakannya hari ini, laki-laki itu paling tidak bisa mulai berhenti menyukainya.

“Aku selalu ingin berada di sisinya dan aku tak segan membuat alasan tak berlogika hanya untuk bertemu dengannya,” ucap gadis itu sekali lagi. Bang Yong Guk mengalihkan pandangannya. Sekiranya emosinya telah memuncak, tapi tak mungkin ia menunjukkan semua itu di hadapan Yoo Ji Ah.

“Meski kutahu, banyak hal yang mencoba menghentukan langkahku. Seperti beberapa fans kalian, tapi aku tetap bertahan pada akhirnya,”

Yoo Ji Ah memandang laki-laki itu yang tak lagi melihatnya. Ia tahu, bahwa laki-laki itu merasa kecewa, tapi hanya itu salah satu cara yang bisa ia lakukan agar laki-laki itu mulai menjauhinya. Namun sesaat setelahnya, Bang Yong Guk mengembangkan senyumnya dan kembali menatap gadis yang ada di sampingnya.

Ia lantas melepaskan tas punggung yang ia kenakan, membuka resleting tasnya dan meraih sesuatu di dalam sana. Ia lantas meletakkan kotak berukuran cukup besar di pangkuan gadis itu.

Yoo Ji Ah untuk sesaat menahan nafasnya, namun ia kemudian membuka kotak tersebut. Ia yakin matanya terasa sangat panas kini, hingga kedua matanya terasa penuh oleh bulir air. Ia menatap laki-laki yang ada di sampingnya nanar.

“Yoo Ji Ah, mari kita hentikan semua ini,” ucap laki-laki itu tenang. Dengan sebuah senyum yang terkesan begitu pahit kini terlihat di wajahnya.

Kim Him Chan baru saja turu. dari bus yang ia tumpangi. Sebelah tangannya masih memegang selembar pamflet. Ia memandangi sekali lagi pamflet tersebut, memastikan apa benar ia telah sampai pada tempat wisata terakhir yang tertera pada pamflet tersebut atau tidak. Setidaknya ia telah mengitari beberapa tempat wisata yang ada pada pamflet tersebut tanpa menghasilkan hasil yang berarti.

Benar, ia sama sekali tak menemukan Bang Yong Guk maupun Yoo Ji Ah pada rentetan tempat wisata yang ada di pamflet tersebut. Dan kini setidaknya Venice canals walkway adalah tempat terakhir yang ia harap dapat menemukan kedua orang tersebut.

Kim Him Chan memicingkan matanya, mencoba melihat dengan jelas Venice canals walkway dari jarak cukup jauh. Baiklah ia akui, sangat tak berarti bila ia mencari sosok kedua orang tersebut dari jarak sejauh ini. Ia membuang nafasnya, setidaknya ia mulai lelah mencari-cari kedua orang itu dari pagi hingga senja datang.

Kim Him Chan mengerjapkan matanya sesaat setelah kedua matanya menangkap sosok seorang laki-laki yang berjalan menuju dirinya. Laki-laki tersebut menghentikan langkahnya sesaat mereka tersadar bahwa keduanya saling mengenal. Kim Him Chan menahan gemeratak giginya, laki-laki itu Bang Yong Guk.

Keduanya hanya terdiam, membisu. Tak ada yang memulai pembicaraan di antara mereka, hingga Bang Yong Guk memilih untuk melanjutkan langkahnya melewati Kim Him Chan tanpa mempedulikannya. Kim Him Chan bersumpah ia tak menyukai hal itu dari Bang Yong Guk. Sungguh, ia ingin memukul wajah laki-laki itu sejak ia tahu bahwa tentang kedekatannya dengan Yoo Ji Ah

“Tunggu, dimana Yoo Ji Ah?” ucap Kim Him Chan setengah berteriak, namun laki-laki yang lebih tua tersebut sama sekali tak meresponnya. Kim Him Chan dapat merasakan emosinya mulai memuncak.

“Apa kau meninggalkan Yoo Ji Ah? Dimana dia?”

Ia kemudian menghampiri laki-laki yang tengah menghiraukannya dan menghentikan langkah laki-laki itu dengan menahan sebelah bahu laki-laki tersebut.

“Kumohon, dimana Yoo Ji Ah?” imbuhnya Kim Him Chan yang kali ini dengan intonasi yang begitu berat.

.

.

.

“Yoo Ji Ah, mari kita hentikan semua ini,”

Yoo Ji Ah menggigit bibirnya sesaat laki-laki yang berada di sampingnya mengatakan hal tersebut. Ia menundukkan kepalanya, ia tak bisa melihat laki-laki yang berada di sampingnya sekarang dengan keadaan seperti demikian, ia tak mampu untuk itu.

 

Bang Yong Guk membuang nafasnya yang terasa sangat berat. Ia kemudian manatap kembali pada sisi dalam kotak yang telah gadis itu buka. Sebuah sepatu setidaknya. Ia tahu, bahwa gadis itu dapat mengartikan pemberiannya tersebut dengan sangat baik.

“Kau ingat pada falsafah Cina yang kau ceritakan saat itu?” imbuh laki-laki itu saat ini. Yoo Ji Ah masih mengutuk bibirnya untuk terbuka kali ini. Laki-laki itu tersenyum saat ia tahu gadis itu membisu kali ini.

“Saat seseorang memberimu sebuah sepatu, ia tengah meminta izin untuk pergi darimu. Jika kau memberinya sepatu juga, itu artinya kau merelakannya pergi,” imbuh laki-laki itu dengan intonasi yang sangat berat. Hingga mereka terdiam kembali untuk beberapa menit.

“Aku merasa egois saat kubilang ‘aku akan melindungimu, maka tetaplah berada di sisiku’, bukan?”

Bang Yong Guk menatap kembali gadis yang berada di sampingnya tersebut. Ia mengembangkan senyumnya sebelum ia menghembuskan nafasnya kembali.

“Saat itu, aku tak bisa melihatmu menangis dan tersakiti. Kau tahu maksudku?”

Senyum laki-laki itu menghilang perlahan. Ia dapat merasakan dadanya terasa sangat sesak, bahkan sepatah kata terasa pahit untuk diucapkan.

“Saat aku melihatmu untuk pertama kali, aku tahu kau memiliki aura yang berbeda. Kau yang ceria, memberikan kehangatan untuk sekitarmu, dan kaulah satu-satunya,”

Yoo Ji Ah memberanikan diri untuk menatap laki-laki yang berada di sampingnya. Menatapnya dengan tatapan tak percaya, namun tetap ia tak suka membiarkan bibirnya terbuka saat ini.

“Aku hanya ingin menjaga kehangatam yang selalu kau bawa, dengan cara selalu membuatmu tersenyum dan menjaga kau tetap ceria. Tapi, perasaan itu nyatanya adalah sebuah pengartian yang lain. Arti bahwa..”

Bang Yong Guk kembali menundukkan kepalanya. Ia mencoba mengatur nafasnya yang terasa sangat berat saat ini. ia kemudian menatap kembali Yoo Ji Ah dengan sebuah senyum di bibirnya lalu ia berkata, “aku menyukaimu. Apa kau tahu itu?”

Yoo Ji Ah menutup bibirnya rapat-rapat. Ia juga memberanikan diri untuk terus menatap laki-laki yang ada di sampingnya tersebut yang tengah sibuk dengan perasaan juga pikirannya saat ini.

“Aku dapat memastikan untuk menjagamu, namun senyummu tak pernah sama lagi saat ini,” imbuh laki-laki itu yang kali ini meraih pucuk kepala gadis itu dan mengelusnya perlahan. Ya, ini akan menjadi elusan yang terakhir kalinya yang ia berikan kepada gadis itu. Entah apa ia akan merindukan hal tersebut atau tidak nantinya.

“Jika aku menahanmu saat kau ingin pergi, aku merasa sangat kejam bukan? Tapi itu yang selalu ingin kulakukan agar aku bisa selalu bersamamu. Tapi, aku tak mungkin bisa,”

Bang Yong Guk menarik kembali sebelah tangannya. Ia kemudian mengusapkan kedua telapak tangannya yang sekiranya membeku saat ini. Ia kembali melihat ke arah depan.

“Aku tak mungkin bisa memaksamu berada di sisiku dengan tanpa senyum di wajahmu. Aku tak bisa,”

Yoo Ji Ah kali ini membuang nafasnya sesaat sebulir air mata sekiranya tanpa izin keluar. Untuk beberapa saat, ia dapat merasakan kepedihan laki-laki itu. Ia dapat merasakan apa yang dirasakan laki-laki itu. Ia dapat merasakan betapa kejamnya ia yang tak bisa membalas ketulusan hati laki-laki itu.

Yoo Ji Ah mengusap air matanya cepat. Ia tak mau laki-laki itu melihatnya. Ia tak mau bila laki-laki itu berpikir bahwa ia tengah kasihan terhadapnya.

“Yoo Ji Ah,”

Yoo Ji Ah kembali menatap laki-laki tersebut. Laki-laki tersebut mengembangkan senyumnya saat gadis itu menoleh kepadanya.

“Terima kasih untuk hari ini. Saat perahu ini sampai di sana, aku akan membiarkanmu pergi. Lalu hiduplah dengan bahagia setelahnya. Berjanjilah,”

.

.

.

.

Yoo Ji Ah mengusap jejak air mata yang setidaknya masih tertinggal pada kedua pipinya. Ia menghirup nafasnya dalam-dalam hingga ia mengeluarkannya dengan keras. Kini ia tengah duduk pada salah satu bangku tepat di tepi sungai buatan Venice. Ia menutup matanya sejenak, membiarkan dirinya kembali tenang.

Ia masih mengingat jelas saat laki-laki itu melakukan pengakuan terhadapnya. Pengakuan yang membuatnya tak bisa berkata apa-apa. Sebuah pengakuan yang sempat membuat dirinya menangis dibuatnya. Pengakuan yang membuatnya merasa menjadi orang terkejam yang pernah ada. Tapi, ia tak pernah bermaksud demikian.

Yoo Ji Ah membuka matanya, kemudian kedua matanya menatap sebuah kotak berukuran sedang yang berada tepat di sampingnya. Ia tersenyum tipis. Sebuah sepatu. Ya, sebuah sepatu pengantar kepergiannya ke San Fransisco. Setelah ini, ia akan pulang ke hotel, mengemasi barangnya lalu kembali ke San Fransisco. Begitu mudah untuknya? Ia rasa tidak.

Sebuah perasaan masih berkecamuk di dalam hatinya. Saat dimana laki-laki itu melakukan pengakuan dan pergi meninggalkannya dengan sebuah punggung kesedihan, dimana sebuah senyum yang ia paksakan mengartikan sejuta kepedihan yang tengah laki-laki itu rasakan. Ia tak akan melupakan dirinya yang merasa begitu jahat membiarkan laki-laki itu tersakiti akibat dirinya. Ada saat dimana seseorang begitu peduli denganmu, yang bahkan kau tak menyadari hal itu. Ada pula dimana kau sangat mempedulikan seseorang yang bahkan orang tersebut mencoba untuk menghindarimu. Itu sudah cukup sebagai pembelajaran untuknya. Kini Yoo Ji Ah hanya perlu melangkah dan memulai hidupnya yang baru, meski..

Satu permasalahan belum selesai ia selesaikan. Ya, Kim Him Chan. Ia sengaja tak menjawab semua panggilan juga pesan yang laki-laki itu berikan padanya. Ia hanya ingin meringankan diri untuk kembali ke San Fransisco tanpa bayang laki-laki itu. Ia tak ingin mengingat laki-laki yang terkesan begitu jahat padanya itu. Tidak untuk beberapa hari di hidup barunya. Yoo Ji Ah beranjak dari bangku taman yang ia duduki dan segera meraih kotak yang berukuran sedang dengan kedua tangannya.

“Kau akan meninggalkanku ke San Fransisco?”

Yoo Ji Ah memutar tubuhnya sesaat seseorang tengah berteriak tepat di belakangnya. Ia terperanjat saat ia tahu bahwa laki-laki itu adalah laki-laki yang selama ini ia berusaha lupakan. Benar, Kim Him Chan.

Wajah laki-laki itu berubah menjadi sangat serius, intonasi suaranya juga sangat jauh berbeda kini. Yoo Ji Ah menggigit bibirnya, ia rasa harus menyelesaikan ini semua. Tapi dengan cara apa?

Kim Him Chan berjalan menuju gadis yang masih bersikukuh untuk berdiri di tempatnya tersebut.

“Sejak kapan kau keluar dari tempat kau melakukan training? Kau mulai berani menyembunyikan semuamya dariku?” imbuh laki-laki itu yang kini berada cukup dekat dengan Yoo Ji Ah. Gadis itu masih tak ingin berbicara. Ia bahkan menggigit bibirnya, merutuki bibirnya untuk tak terbuka.

“Apa kau bisa menjelaskan bagaiamana kau menghindar dariku? Apa guna ponselmu eo?”

Yoo Ji Ah menarik nafasnya dalam-dalam. Ya, laki-laki itu tak pernah berubah sedikitpun. Ia tak mau mengaku bahwa ia salah apalagi mengucapkan kata maaf. Apakah ia tak tahu bagaimana laki-laki itu memperlakukannya?

“Oh apakah kau hanya mempercayai Bang Yong Guk, hingga kau juga tak mau menemuiku bahkan sebentar saja? Ya! Yoo Ji Ah, kau tahu bagaimana aku khawatir denganmu–”

“Hentikan!” ucap Yoo Ji Ah sekiranya dengan suara lantangnya. Kini gadis itu mendongakkan kepalanya. Wajahnya terlihat begitu kesal. Ia tak ingin dihujani lagi oleh ucapan-ucapan laki-laki itu yang begitu menyengat di telinganya. Ia sudsh muak dengan perlakuan bodoh laki-laki itu. Ia tak menyukai laki-laki itu. Ia bahkan membencinya, meski itu terasa sangat susah untuknya.

Yoo Ji Ah mengepalkan tangannya. Ia kemudian memberanikan diri menatap kedua mata yang kini juga menatapnya.

“Kau bilang kau tak suka jika aku membuatmu khawatir? Maka berhentilah untuk khawatir terhadapku!” ucap gadis itu setengah berteriak. Ia yakin, dadanya terasa begitu sesak kembali. Terlalu lama ia menyimpan semua ini, ia tak dapat menampungnya lagi untuk waktu yang lebih lama. Cukup untuk semuanya, menurutnya.

“Saat kau menghindariku, saat kau mulai tak peduli denganku hanya karena gadis yang kau sukai, apa pedulimu tentangku? Kau bahkan tak pernah menghubungiku!”

Yoo Ji Ah dapat merasakan remang tubuhnya telah sampai pada kedua matanya yang kini terasa sangat panas.

“Apa kau tahu, bagaimana perasaanku yang kau jauhi? Bagaimana perasaanku saat kau mulai tak peduli denganku dan hanya peduli dengan gadis itu? Apa kau bodoh? Sekarang seakan kau tak ingin aku menghindarimu?” ucap Yoo Ji Ah yang kali ini bergetar. Yoo Ji Ah menarik nafasnya dalam-dalam, mencegah air matanya tumpah saat ini. Ia tak ingin dicap cengeng atau sebagainya.

“Dan kini kau bilang kau tak suka aku menghindarimu? Apa kini kau sudah merasakan bagaimana aku dulu? Kini kau memakiku, tanpa menyadari apa yang telah kau perbuat padaku sebelumnya?”

Air mata gadis itu tumpah perlahan, seiring dengan rasa sekit yang membunuhnya perlahan saat ini. Yoo Ji Ah dengan cepat menghapus bulir air matanya yang meluncur di kedua pipinya. Ia hanya ingin bertahan pada dimana ia berpijak.

Kim Him Chan membuang nafasnya pelan. Ia kemudian tertunduk.

“Meski aku keluar dari dari perusaahan tersebut, meski aku akan kembali ke San Fransisco, meski aku mati sekalipun. Kurasa kau tak akan peduli bukan, Kim Him Chan?”

Yoo Ji Ah mengembangkan senyumnya yang terkesan begitu menyedihkan. Dadanya terasa begitu sesak hingga ia mulai terisak, namun ia dengan susah payah kembali menahan itu semua.

“Tapi aku bukan dirimu. Aku tak bisa menjadi orang sekejam itu padamu. Aku masih mengkhawatirkanmu meski kau tidak, masih memikirkanmu, walau aku berusaha untuk melupakanmu,” imbuhnya dengan suara yang masih bergetar. Yoo Ji Ah berulang kali menarik nafasnya, mencoba menghentikan tangisnya. Ia tak mau terlihat konyol di depan laki-laki itu. Ia lantas menghapus jejak air matanya hingga tak bersisa. Ia laku mengembangkan senyumnya sekali lagi.

“Karena…karena aku yang bodoh ini, menyukaimu,” ucap Yoo Ji Ah begitu pelan. Laki-laki tersebut mendongakkan kepalanya tepat sesaat gadis itu berhenti menatapnya. Kim Him Chan dapat merasakan kini dadanya juga terasa sakit.

“Aku akan pergi sekarang, Him Chan-ssi,” ucap gadis itu kali ini lebih tenang. Yoo Ji Ah menyunggingkan kedua ujung bibirnya, memaksa keduanya untuk mengembang, meski perlu paksaan untuk melakukannya. Baiklah, ini adalah salah satu bentuk perpisahan darinya.

Ia lalu memutar tubuhnya dan melangkahkan kakinya pergi menjauh dari laki-laki tersebut meski kakinya masih terasa begitu lemas. Yoo Ji Ah kembali terisak di balik punggungnya. Sesak di dadanya masih saja terasa. Beginikah ia akan pergi? Beginikah akhirnya?

Bodohnya ia telah mengatakan itu semua. Mengatakan bahwa ia menyukai laki-laki itu, yang bahkan tak peduli akan dirinya lagi. Kini, ia hanya perlu melupakan laki-laki itu. Ya, mulai saat ia kembali ke San Fransisco nantinya. Ia berjanji akan melupakan laki-laki itu

Kim Him Chan mengepalkan tangannya erat. Ia sekiranya tahu bahwa nafasnya kini tertahan. Ia membuat gadis itu menangis sekali lagi dan membuatnya menderita selama ini. Ia mendongakkan kepalanya, ia sejanak dapat menatap punggung gadis itu yang mulai melangkah pergi darinya. Kim Him Chan menggigit bibirnya. Mengapa ia begitu bodoh?

Saat itu ia dengan mudah menjauhinya, terkesan tak peduli dengannya akibat sebuah perasaan palsu yang menginginkan gadis lain untuk berada di sisinya. Dengan mudah saat itu, ia melepaskan genggaman Yoo Ji Ah dan meninggalkannya. Bukan, tapi ia yang meninggalkan gadis itu lebih dulu.

Yoo Ji Ah adalah seseorang yang selalu berada di sisinya sejak dulu, memperhatikannya dan peduli akan keberadaannya. Bak sebuah bayangan yang selalu mengikutinya. Bayangan dirinya. Ya, bayangan dirinya, hanya miliknya dan hanya untuk dirinya. Kim Him Chan melohat punggung tersebut yang mulai jauh darinya. Ia menarok nafas miliknya dalam-dalam, hingga..

“Aku mencintaimu, Yoo Ji Ah!”

Ia dapat melihat Yoo Ji Ah menghentikan langkahnya dengan paksa saat ini. Kim Him Xhan sangat bersyukur saat ini, karena gadis itu mau mendengarkan apa yang ia katakan, dan mau menghentikan langkahnya. Paling tidak, ia tak kehilangan gadis itu.

“Aku mencintaimu, maka jangan pergi dariku,” imbuh laki-laki itu kali ini. Laki-laki itu, Kim Him Chan, masih terdiam di tempatnya. Sama seperti gadis itu yang masih memunggungi dirinya.

Yoo Ji Ah menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, mencoba menahan tangisnya saat ini. Apa kini laki-laki itu mengatakan omong kosong padanya? Ataukah kali ini memang laki-laki itu tak ingin pergi darinya? Ia masih enggan membalikkan tubuhnya menatap laki-laki itu. Tak mungkin bisa untuknya. Di saat ia begitu ingin untuk melupakan laki-laki itu, kenapa begitu banyak yang menghalanginya, seakan laki-laki itu tak ingin dilupakan.

Kim Him Chan masih tak bergeming di tempatnya. Ia tertunduk saat ia sadar bahwa gadis itu enggan menatapnya. Apa gadis itu masih marah terhadapnya? Apa gadis itu benar akan membencinya?

“Aku minta maaf tentang semua yang aku lakukan. Aku tahu aku begitu egois dan sangat bodoh saat itu,”

Ia kembali menatap punggung gadis itu, berharap gadis itu menerti dan memahami dengan abaik apa yang disampaikannya.

“Saat itu aku tak tahu apa yang kuinginkan. Aku salah telah menghindarimu, seakan tak peduli terhadapmu, aku tahu aku begitu kejam. Dan aku bersumpah aku menyesal melakukan itu. Percayalah,”

Kim Him Chan menarik nafasnya dalam-dalam, ia lantas mengeluarkannya perlahan. Ia memutuskan untuk berjalam mendekati gadis yang masih saja memunggunginya tanpa memberikan reaksi yang berarti.

“Saat kau menghindariku, dan tak peduli denganku, di saat itulah aku sadar…”

“Aku sadar bahwa aku mencintaimu dan membutuhkanmu,” imbuh Kim Him Chan kali ini. Sesaat kemudian punggung gadis itu bergetar entah kenapa. Kim Him Chan memutar tubuh gadis itu dengan paksa. Dan kini ia dapat melihat wajah gadis itu yang basah akan air mata miliknya. Gadis itu masih saja menangis.

Yoo Ji Ah mengusap air matanya yang setidaknya masih ingin membasahi kedua pipinya. Kim Him Chan tak menyukai air mata gadis tersebut. dan sekiranya sekian kali ia telah membuat gasia tersebut terluka, dan telah berulang kali membuatnya menangis tepat di hadapannya.

Sepasang bola mata bewarna cokelat tersebut masih saja tergenang. Kim Him Chan meraih tengkuk gadis yang lebih kecil dari dirinya tersebut untuk lebih dekat dengannya dan dalam sekejap bibir mereka terpaut.

Kim Him Chan menutup matanya. Ia merasa menyesal dengan apapun yang telah ia lakukan pada gadis itu. Tapi yakinlah, ia ingin menghentikan tangis gadis itu, ingin membayar semua kesalahannya saat itu juga. Yoo Ji Ah masih terpaku di sana, tanpa membalas pautan yang dilakukan laki-laki itu secara sepihak.

Kim Him Chan dapat merasakan bibir gadis itu yang dingin dan kaku. Ia dapat merasakan rasa kesedihan yang gadis itu rasakan saat ini. Dan yakinlah, itu membuat dadanya juga sesak. Banyak hal yang ingin ia sampaikan saat ini, tentang bagaimana ia merindukan gadis itu, tentang bagaiamana ia khawatir dengan gadis tersebut, dan bagaimana ia menderita saat gadis tersebut menghindarinya. Namun, ia tak tahu butuh berapa lama untuk mengatakannya. Dan ia juga tak tahu berapa lama lagi ia akan membuat gadis itu terdiam dengan air mata yang lebih banyak lagi.

Ia tak mau kehilangan gadis tersebut barang sedikit pun. Ia ingin bayangannya kembali, hanya untuknya dan hanya dengannya.

Sesaat, ia merasakan bahwa gadis itu juga membalas tautan bibirnya. Hingga keduanya saling menutup mata mereka, merasakan kerinduan di antara keduanya hanya dengan penyampaian yang begitu sederhana dan pemaknaan yang melebihi apapun. Kim Him Chan tersenyum dalam pautan tersebut, ia menarik tubuh gadis itu lebih dekat dengannya, dan mempererat pautan tersebut. Ya, ia mengutuk siapapun untuk mengusik momen ini.

“Tolong katakan dimana Yoo Ji Ah,” ucap laki-laki itu memelas. Sebelah tangannya masih menggenggam bahu laki-laki lain dengan sangat erat. Intonasi suara laki-laki tersebut dangat berat, wajahnya kali ni bersungguh-sungguh.

Bang Yong Guk, laki-laki yang kini bahunya tengah digenggam erat, menatap laki-laki yang kini berada di sampingnya dengan seringaian sinis. Entah sejak kapan, ia ingin sekali menghujani wajah laki-laki tersebut dengan beberapa pukulan, namun ia tahu itu tak mungkin.

“Apa kau mulai memikirkannya Kim Him Chan?” ucap Bang Yong Guk enggan suara terdengar menakutkan tersebut. Laki-laki bermarga Kim tersebut sempat merenggangkan genggamannya, namun ia lantas mengeratkannya kembali.

Bang Yong Guk memgangkat sebelah tangannya dsn menangkis genggaman laki-laki tersebut dengan kuat, hingga genggaman yang ada di bahunya terlepas. Bang Yong Guk mencoba mengatur nafasnya yang setidaknya mulai memderu akibat emosinya yang ia tahan.

“Dari mana saja kau selama ini? Kau seakan tak mempedulikannya dan kini kau mencarinya?”

Bang Yong Guk menatap laki-laki tersebut dengan senyuman sinis miliknya, hongga wajahnya kembali serius. Laki-laki bermarga Kim tersebut menundukkan kepalanya. Ada sebersit penyesalan di dalam sorot matanya. Bang Yong Guk dapat melihatnya, dan sungguh ia sangat membenci keberadaan laki-laki bermarga Kim tersebut berads di depannya.

“Dia meninggalkan Woolim dan akan kembali ke San Fransisco, apa kau tahu itu?”

Laki-laki bermarga Kim tersebut seketika mendongakkan kepalanya, matanya membulat seketika. Bang Yong Guk hanya tersenyum tipis melihatnya, benar tak ada yang laki-laki itu tahu tentang gadis itu melebihi dirinya.

“Kau juga tidak tahu saat beberapa sasaeng-mu menyakitinya? Dan tolong, itulah yang selama ini ia dapatkan,”

“Apa? Apa maksudmu?”

Laki-laki bermarga Kim setidakya menatap laki-laki itu tak mengerti. Sungguh ia tak menyukai reaksi laki-laki bodoh yang berada di hadapannya sekarang. Bang Yong Guk tertawa kecil. Benar, laki-laki tersebut sangat bodoh. Entah kenapa ia ingin sekali memukul wajah laki-laki yang ada si hadapannya tersebut.

“Bang, jelaskan padaku semuanya!” ucap laki-lali bearga Kim itu dengan nada yang meninggi. Sekiranya ia tidak main-main kini dan ia juga tak suka dipermainkan seperti ini. Laki-laki bermarga Kim tersebut meraih pucuk kain pakaian yang dikenakan Bang Yong Guk dan menariknya ke atas. Ia benar tak main-main kali ini.

Bang Yong Guk tersenyum tipis saat mengetahui reaksi tersebut, namun darahnya sekiranya memanas saat ini. Ia menepis tangan laki-laki itu yang menggenggam ujung kain pakaiannya-bagian leher-dengan keras dan mendorong tubuh laki-laki tersebut hingga membentur sebuah mobil yang tengah terparkir di sana. Hingga suara alarm mobil tersebut terdengar keras akibat benturan tersebut.

“Karena kau tak peduli dengannya! Kau hanya memikirkan dirimu saja. Apa kau tahu bagaimana ia terluka?” suara Bang Yong Guk tak kalah keras kali ini. Madanya meninggi bahkan lebih tinggi dari laki-laki bermarga Kim tersebut. Wajahnya menutup lurus pada kedua mata laki-laki bermarga Kim tersebut. Setidaknya emosinya tak tertahankan lagi.

Laki-laki bermarga Kim tersebut terdiam. Ia kembalimenundukkan kepalanya. Benar, sang leader tak pernah semarah ini sebelumnya. Ia tahu tentang itu. Sebelumnya mereka tak pernah meninggikan intonasi suara mereka, dan ini pertama kalinya untuk mereka.

Bang Yong Guk membuang nafasnya yang terasa berat, menarik kembali sebelah tangannya yang mulai terangkat yang tadinya ingin meluncurkan sebuah pukulan. akemudian ia kembali menegakkan tubuhnya. Ya, ia berlebihan saat ini.

“Temui dia di tepi sungai buatan Venice. Ia tengah menunggumu di sana,” ucap Bang Yong Guk dengan intonasi yang sengaja ia rendahkan. Laki-laki bermarga Kim tersebut masih terdiam, masih ada rasa sesal di dalam hatinya, hingga krmudian laki-laki tersebut menegakkan tubuhnya kembali.

“Bang, aku–“

“Bahagiakan dia, jika tidak, aku tak segan membunuhmu,” potong Bang Yong Guk tanpa memandang. Laki-laki bermarga Kim tersebut tertunduk sekali lagi, namun ia mendongakkan kepalanya sebelum ia mengangguk perlahan. Tanpa basa-basi lagi, laki-laki tersebut berlari meninggalkan Bang Yong Guk sendiri.

Bang Yong Guk tersenyum masam saat kedua matanya menangkap sosok Yoo Ji Ah dan sosok laki-laki lain tengah berciuman. Benar, Kim Him Chan. Salah satu tangannya mengepal sedari tadi. Ia kecewa dengan pilihan yang ia buat? Tentu tidak.

Ia memprioritaskan kebahagiaan gadis itu di atas segalanya. Dan ia yakin bahwa itu adalah satu bentuk kebahagiaan dari gadis tersebut. Ya, kedua orang tersebut saling mencintai, meski baru saja mereka menyadarinya.

Ia bisa melihat gadis itu tak mengelakkan pautan bibir yang diberikan Kim Him Chan, yang itu tandanya…gadis itu juga menginginkannya. Bang Ying Guk menatap langit Los Angeles yang kini benar-benar gelap. Ia tersenyum tipis, setidaknya gadis itu benar-benar tak akan kembali ke San Fransisco, dan akan berada di Korea setelah semua kejadian itu. Benar apa katanya bukan, jika ia yang menahannya, gadia itu tak akan mendengarkannya, namun jika laki-laki yang kini berada dengan gadia itu yang menahannya, gadis itu pasti melakukannya.

Bang Yong Guk tengah bersandar pada cap mobil yang sengaja ia sewa hari ini. Ia kemudian menegakkan tubuhnya. Jujur, ia ingin sekali berlari menuju gadis itu yang tengah bersama salah satu temannya tersebut, dan memukul keras wajah laki-laki itu.

Bang Yong Guk tertawa kecil. Bodoh, umpatnya. Mungkin kali ini ia harus benar-benar melupakan rasa sukanya terhadap gadis itu.
Bang Yong Guk malangkahkan kakinya menuju pintu mobil tersebut dan membukanya. Ia kemudian kembali menatap gadis tersebut dari kejauhan. Ia tersenyum tipis.

Bahagialah, Yoo Ji Ah.

Ia kemudian masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan tempat teraebut, sendiri.
-The End-

Advertisements

2 thoughts on “Where Are You , What Are You Doing ? (2/2)

  1. huwahhhh yong guk ternyata suka sama ji ah dan ngorbanin apapun buat dia so sweet tapi kasihan pada akhirnya ji ah tetap milih him chan . bagus agak nyesek bacanya apalagi pas ji ah tau himchan mendatanginya . Good job aku tunggu karyamu yang lain

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s