Bromance · fluff · Genre · Length · Romance · Two Shoot

Where Are You , What Are You Doing?(1/2)


IMG_20140826_112848

Title: Where are You, What are You Doing?(1/2)

Author: ts_sora

Casts:

• BAP’s Kim Him Chan,

• Woolim’s ex trainee’s Yoo Ji Ah,

• BAP’s Bang Yong Guk,

• Secret’s Jeon Hyo Sung

• And etc.

Genre: fluff , Romance , Friendship , Bromance 

Length: Two-shoot

Diclaimer: This fanfiction is pure belong to me. And still the casts belong to their entertainment’s company

A/N: Terinspirasi dari lagu BAP-1004(Angel) dan lagu dengan judul di atas. Inti carita semua tidak benar, memang direkayasa. Jika jauh dari kenyataan, saya kan sudah bilang ini rekayasa :p Terima kasih pada semua pihak yang membantu pembuatan ff ini. So, enjoy it!
———————————————————————————————————————

Seorang gadis menatap jam tangan miliknya dengan sedikit gusar. Selain itu ia menatap sekitarnya. Ia berada di depan sebuah cafe, berdiri dan tengah menunggu seseorang pastinya. Tapi entah sejak satu jam yang lalu, orang yang ia tunggu tak kunjung datang. Ia mengerucutkan bibirnya sedikit kesal.

Apakah ia melupakan janjinya lagi? Pikiran tersebut menganggunya setiap kali ia memikirkan orang tersebut. Gadis itu, Yoo Ji Ah.Gadis Korea yang sebenarnya tidak tinggal di Korea. Benar, ia tengah mengejar sesuatu di Korea. Hal tersebut yang membuatnya tinggal di Korea untuk beberapa saat.

“Lihatlah, bukankah dia Yoo Ji Ah?”

Gadis itu tersentak saat setidaknya seorang gadis berseragam sekolah menangkap basah dirinya.Dikenal, baginya bukan sebuah kebanggaan tersendiri.Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada arah lain. Berusaha menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ya, ia sangat berharap banyak bahwa tak ada setidaknya mengenalnya. Karena menurutnya itu menakutkan.

“Kurasa bukan, ia tidak terlihat seperti selebriti pada umumnya. Terlalu biasa,” ucap gadis lain. Kemudian kedua gadis berseragam sekolah tersebut meninggalkannya. Kali ini ia dapat bernafas lega. Tapi, kenapa hingga saat ini orang yang ia tunggu tak kunjung datang.

Awas saja.Ia ingat ini bukan pertama kalinya bahwa orang tersebut tak memenuhi janjinya atau bahkan mengabarinya kalaupun ia berhalangan untuk hadir. Ia membuang nafasnya perlahan. Ia terlalu biasa untuk semua ini. Kebiasan orang tersebut tak pernah berbeda.Wajahnya berubah masam.

“Hai! Maaf aku terlambat,”

Yoo Ji Ah mendongakkan kepalanya saat seseorang setidaknya berbicara padanya.Kedua sudut bibirnya terangkat saat orang tersebut berdiri tak jauh di hadapannya.

“Oppa!” ucapnya yang sekiranya berbeda dengan suasana hatinya sebelumnya.

“Oppa!” ucap gadis itu pada seorang laki-laki yang sekiranya tengah berdiri di hadapannya dengan senyum seperti biasanya. Kim Him Chan. Benar, nama laki-laki itu Kim Him Chan. Salah satu anggotagroup yang sekiranya tengah naik daun akhir-akhir ini. Benar, B.A.P. Siapa yang tak mengenal mereka?Mereka adalah salah satu groupKorea-lebih tepatnya boyband-yang perlu diperhitungkan keberadaannya.

Senyum Yoo Ji Ah setidaknya menghilang perlahan saat ia dapat melihat penampilan pria itu kali ini. Ia memicingkan matanya.

“Ya!Setidaknya kau harus mengenakan masker atau semacamnya saat kau pergi denganku,” ucap gadis itu yang kembali merengut. Laki-laki tersebut hanya menghela nafasnya saat ia tahu gadis itu akan kembali berkicau dan ia hafal betul, itu tak akan berhenti.

“Bisakah kita masuk sekarang? Aku membeku di sini,” ucapnya tenang dan dengan langkah lebar ia memasuki cafe tersebut meninggalkan gadis tersebut.
Sebuah meja yang berada paling ujung, sengaja dipilih keduanya hari itu.Dua gelas americano latte menjadi teman untuk bersantai hari itu.Kim Him Chan membuang nafasnya pasrah saat tatapan tajam tak pernah berhenti diberikan gadis yang berada di hadapannya tersebut.

“Ada apa kali ini?” ucapnya yang pada akhirnya menyerah.Gadis itu tetap saja bersungut. Sesungguhnya, wajahnya sama sekali tak terlihat menakutkan untuk laki-laki itu, tapi yang sangat ia hafal adalah, gadis itu akan tetap saja merengut sampai kapan pun bila ia tak mulai untuk menyelesaikan apa yang menyebabkan gadis itu merengut di hadapannya.

“Aku sudah menyuruhmu untuk mengenakan masker bukan?” ucap gadis itu yang mulai menjaga intonasinya.Ia kemudian membuang nafasnya. “Kau tahu kan, aku bukan selebriti sepertimu, jadi tolonglah mengerti,” imbuhnya.

Kim Him Chan hanya menyeringai menanggapinya.Ia kemudian memperhatikan pakaian miliknya lalu ia tertawa kecil. “Tak ada yang salah, dan aku yakin aku merasa tampan hari ini,” ucap laki-laki itu penuh percaya diri. Kini Yoo Ji Ah sudah bersiap dengan gelas minumannya yang kapan saja bisa ia lemparkan pada laki-laki itu. “Baiklah-baiklah, aku menyerah.Tapi, apa ada yang salah?” tanyanya sekali lagi.

Yoo Ji Ah mengigit bibirnya. Setidaknya ia ingin sekali mrngucapkan apa yang ada di dalam pikirannya kali ini, tapi entah bagaimana tak ada satupun kata yang dapat ia katakan. Ia kembali menghirup udara dan mengeluarkannya perlahan. Hal tersebut intens yang ia lakukan.

“Aku orang biasa sedangkan kau..”

“H-hei, kenapa kau bilang seperti itu, kau adalah seorang trainee pada salah satu perusahaan hiburan.Semua orang mengenalmu, Jadi kenapa kau selalu mengatakan hal itu?Kau bahkan seorang ulzzang di mata mereka,” tukas laki-laki itu cepat.Namun, hal tersebut tak membuat wajah gadis itu ceria seperti saat keduanya bertemu siang ini.Wajahnya tetap masam, dengan sebuah senyum yang terlihat dipaksakan.Pada kenyataannya bukan itulah yang terjadi padanya.

“Sudahlah. Ya! Kenapa kau terlambat lagi eo?” ucap gadis itu mengalihkan pembicaraan. Setidaknya ia tak ingin membahas hal tersebut kali ini. Apa yang dikatakan laki-laki itu memang benar. Dirinya adalah sebuah trainee pada salah satu perusahaan hiburan-dilatih untuk menjadi seorang penyanyi-tapi entah, nasibnya kini seakan terkatung-katung.Trainee tak bisa begitu saja debut sebagai seorang selebriti-penyanyi ataupun aktor-dengan mudahnya.Mereka harus menjalani masa training yang terkadang dapat bertahun-tahun.Dan bisa saja, nasib seorang trainee tak dapat mencapai tujuan mereka.Ia sangat mengetahui hal tersebut. Tapi, entahlah apa yang dipikirkannya untuk tetap mengikuti masa training tersebut.

“Kau tahu bagaimana jadwalku bukan?Kukira aku benar-benar sibuk akhir-akhir ini,” ucap laki-laki itu seraya meminum dengan perlahan americano latte miliknya.

“Kau tak merindukanku?”

Kim Him Chan terbatuk saat setidaknya americanolatte-nya memasuki saluran pernapasannya.”Maaf-maaf,” ucapnya cepat dengan sigap ia memberikan beberapa lembar tissue pada gadis yang berada di hadapannya.Demi Tuhan, wajah Yoo Ji Ah basah oleh americano latte milik laki-laki itu. Ia hanya merengut.

“Merindukanmu?Puahaha,” tawa Kim Him Chan setidaknya terdengar keras.Entahlah.Ia tertawa begitu puas akibat apa yang telah dilakukannya pada gadis itu atau memang tak pernah sedikitpun laki-laki itu memikirkannya?

“Ayolah Yoo Ji Ah, kau tak pernah berubah sejak 12 tahun yang lalu. Dan kau tahu, aku tak perlu merindukanmu.Kau tinggal di Korea sekarang, dan kita tak pernah absen untuk bertemu,” ucap Kim Him Chan dengan seringaian miliknya.Dan dengan santai ia kembali menikmati americano latte miliknya.

Yoo Ji Ah hanya tersenyum tipis saat hal tersebut disampaikan padanya.Senyum yang seakan begitu payah untuk diperlihatkan.Ia kemudian menatap lekat gelas minuman miliknya, memutar-mutar gelas tersebut perlahan.

Bagaimana jika aku yang merindukanmu selama ini?Yoo Ji Ah membuang nafasnya malas. Alasan ia selalu ingin bertemu dengan laki-laki itu hanya satu, entah kenapa ia selalu merindukan laki-laki itu. Meskipun perlakuannya tak berubah sejak 12 tahun yang lalu, tapi itulah yang paling ia rindukan. Bahkan ia tak segan membuat beribu alasan hanya untuk bertemu dengan laki-laki itu.

Aku akan membuat beribu alasan hanya untuk bertemu denganmu.

Yoo Jiah tersenyum lebar saat menatap sebuah kantung plastic yang ia bawa sedari tadi. Ya, beberapa sandwich telah ia beli pada salah satu tempat yang menjadi favoritnya. Benar, hari ini ia akan berkunjung di dorm dimana teman lamanya itu tinggal.

Setidaknya sandwich-sandwich akan menjadi sarapan bagi beberapa laki-laki yang tinggal bersama temannya tersebut. Ia menatap sekali lagi kantung plastic yang ia genggam. Senyumnya mengembang saat ia hanya membayangkan bagaimana reaksi laki-laki itu saat merasakn sandwich yang ia beli tadi. Hanya memikirkannya, pipi gadis itu sempat memerah sesaat. Ya, ia dan Kim Him Chan telah lama berteman, Dan jelas, gadis itu menyukai laki-laki itu sejak lama. Ia hanya ingin bertemu dengan laki-laki ittu. Hanya itu saja, ia tak peduli alasan-alasan yang ia buat terkesan tak berlogika, ia hanya ingin bertemu dengan laki-laki itu. Ya, hanya itu saja.

Air muka Yoo Ji Ah berubah seketika saat ia melihat beberapa gadis berseragam tengah berjalan ke arahnya. Mendadak setidaknya jantungnya berhenti seketika.Untuk sesaat kakinya terasa kaku untuk digerakkan.Dadanya terasa sesak untuk sementara.

“Lihat!Bukankah itu Yoo Ji Ah?” ucap salah seorang gadis berkepang.Kemudian dengan serentak beberapa gadis yang lain menatap gadis itu. Tatapan yang tak dapat dikatakan baik.Tatapan dimana ada rasa benci di pandangannya.

Yoo Ji Ah menahan nafasnya. Jujur, ia tak pernah menyukai tatapan-tatapan itu. Ia melangkahkan kakinya kebelakang perlahan. Ia bersyukur, setidaknya kakinya dapat digerakkan kembali. Beberapa gadis berseragam melangkahkan kaklinya menuju dirinya. Dengan susah payah, Yoo Ji Ah menelan ludahnya. Dengan sekali tarikan nafas, kemudian Yoo Ji Ah melangkahkan kakinya lebih cepat menjauhi beberapa gadis itu.

“Ya! Jangan lari!” ucap mereka serentak yang kemudian mempercepat langkah mereka untuk menyamai langkah Yoo Ji Ah.Yoo Ji Ah mempercepat langkahnya. Ya, ia sangat berharap bahwa ia tak tertangkap lagi kali ini.

Ini bukanlah pertama kalinya ia harus berlari-lari hanya untuk menghindar dari kejaran gadis-gadis berseragam tersebut. Ia tak tahu pasti masalah apa yang telah ia lakukan, sehingga bahkan semua gadis terkesan membencinya. Ia bahkan pernah menadapatkan perlakuan yang lebih buruk dari ini. Sungguh, ia tak ingin hal tersebut terulang kembali padanya.

Yoo Ji Ah menempelkan punggung tubuhnya pada dinding. Kini ia tengah bersembunyi pada sebuah gang kecil-space antara dua buah gedung-yang bahkan terlalu kecil untuknya. Ia berharap tak ada yang menemukannya sekarang.

Ia mencoba mengatur nafasnya yang sempat tersengal akibat kadar oksigen yang sekiranya menipis saat ia mencoba melarikan diri dari beberapa gadis tersebut. Hal yang paling ia takutkan adalah, dimana ia mati hanya karena perlakuan buruk gadis-gadis di luar sana. Sungguh, ia tak mau itu terjadi. Ia menatap kantung plastic yang ia genggam. Ia yakin isi kantung plastic telah hancur. Lalu apa yang harus ia lakukan?

Oh tidak, ia tak bisa berjalan menuju tempat dimana ia membeli sandwich itu dan kemudian membawanya menuju dorm dimana laki-laki itu tinggal. Ia mendongakkan kepalanya keluar, sekedar memastikan bahwa ia benar-benar aman kini. Ia lalu menengok ke kanan juga ke kiri. Rupanya gadis-gadis yang lebih muda darinya tersebut benar-benar menghilang kini.

Dengan merapikan pakaiannya yang sempat berantakan juga rambutnya yang benar-benar kusut akibat hempaan angin saat ia berlari, Ia kemudian bersiap untuk melanjutkan perjalannya lagi. Setidaknya dorm dimana laki-laki itu tinggal berjarak beberapa meter lagi. Jika saja, gadis-gadis berseragam bersekolah tadi tidak mengejarnya, ia yakin ia dapat tiba lebih awal.
Yoo Ji Ah menatap bangunan apartment yang menjulang tinggi di hadapannya.Dari tampilan apartment tersebut dapat diperkirakan bahwa biaya untuk sebuah kamar saja sangat mahal.Atau mungkin dapat dikatakan termahal di Seoul saat ini.Yoo Ji Ah melanjutkan langkahnya.Sebelumnya, tak ada satupun orang bisa yang dapat memasuki apartment tersebut dengan mudahnya. Karena sang manajer dari group dimana laki-laki itu bernaung telah memfasilitasimereka dengan keamanan yang cukup. Tak bisa seseorang seenaknya untuk masuk gedung apartment tersebut dengan alasan apapun, Hanya penghuni dan para tamu sang penghuni saja yang dapat masuk. Bahkan tamu harus mendaftarkan namanya jauh hari jika ia memiliki janji dengan para penghuni apartment tersebut.

Tapi tidak untuk Yoo Ji Ah. Ya, ia adalah salah satu nama yang terdaftar di jajaran tamu yang sangat diperbolehkan untuk memasuki gedung apartment tersebut dan menemui laki-laki itu kapan saja yang ia mau. Bnera, Kim Him Chan memang sengaja memasukkan nama gadis itu pada jajaran teman darinya.

Yoo Ji Ah mengatur nafasnya. Apakah ia sekarang tampak cukup cantik saat bertemu dengan laki-laki itu? Ia melebarkan senyumnya. Bahkan itu adalah senyum terbaiknya yang mana ia akan tunjukkan hanya untuk laki-laki itu. Dengan sekali hirupan nafas, ia kemudian menekan bel yang tersedia pada dinding apartment tersebut.

“Siapa?” ucap seorang laki-laki yang berasal dari intercomapartment tersebut.Yoo Ji Ah tak bisa menyembunyikan rasa senangnya hari ini.Ia tahu, suara laki-laki itu adalah suara teman lamanya.

“Ini aku Yoo Ji Ah, oppa,” ucap gadis itu seraya menekan sebuah tombol di intercom tersebut.

“Untuk apa kau kemari?Pulanglah,” balas laki-laki itu malas.Yoo Ji Ah merengut kali ini.Baiklah, laki-laki itu memang selalu menggodanya. Seharusnya ia sudah terbiasa akan hal itu, tapi rasa kesal selalu menghampirinya, Apa ia tidak tahu bagaiamana usahanya yang ia berikan hanya untuk menemui laki-laki itu?

Pintu dorm tersebut tiba-tiba saja terbuka.Seorang laki-laki dengan kaos putih tanpa lengan menyapanya dengan senyum hangat miliknya.Lengan dengan otot-otot indah kini terlihat dari lengan laki-laki itu.“Masuklah.Kukira aku perlu mengajari oppa-mu itu sopan santun,” ucap laki-laki itu bertindak sebagai yang tertua.Dia Bang Yong Guk.Laki-laki yang sebenarnya terlihat menakutkan itu adalah laki-laki ramah yang selalu memperlakukan Yoo Ji Ah dengan sangat baik.

Yoo Ji Ah menahan tawanya.Ia kemudian berjalan masuk menuju dalam dorm.

Yoo Ji Ah dengan senyum manisnya seperti biasa, menata perlahan beberapa sandwich yang ia beli tadi pagi dari sebuah toko. Di sampingnya, terdapat laki-laki yang berusia lebih muda darinya. Laki-laki itu menuangkan orange juice pada beberapa gelas yang telah ia siapkan sebelumnya.

“Jun Hong-ah, kau tak perlu membantuku,” ucap gadis itu yang membersihkan kedua tangannya dengan air yang mengalir di wastafel.Baiklah, mereka berada pada dapur yang ada di dorm dimana keenam laki-laki itu berada.

“Sudahlah nunna, seharusnya kau tak perlu kemari. Kami bisa memakan ramyun atau roti yang biasa Him Chan hyung siapkan,”

“A-ah tak apa. Aku senang mengunjungi kalian,” ucap gadis itu malu-malu. Benar, seharusnya ia tak perlu pergi ke dorm dimana keenam laki-laki itu tinggal. Tapi, hanya demi melihat laki-laki yang kini tengah tertidur dengan kedua tangannya di meja makan itu. Ya, hanya demi melihatnya setiap hari, ia bahkan berani melakukan apapun.

“Hmm enak,” ucap laki-laki yang bertubuh paling pendek di antara semuanya. Jong Up. Ia melahap dengan nikmat sandwich yang ia genggam. Yoo Ji Ah tersenyum puas setidaknya semua orang menikmati sandwich yang dapat dikatakan errr..setengah hancur tersebut.”Meskipun ini hancur, tapi ini enak–” ucap laki-laki itu terpotong akibat tatapan yang sengaja diberikan sang leader.

“Maaf..” ucap Jong Up menyesal.

“Sudahlah, kau tak perlu minta maaf untuk itu. Maaf sandwich-nya hancur saat di perjalanan,”Yoo Ji Ah kemudian meletakkan sebuah sandwich yang bentuknya lebih baik dibandingkan keenam sandwich lainnya pada sebuah piring yang ia siapkan. Dengan nafas yang ia atur sebelumnya, ia kemudian membawa piring tersebut pada pria yang tengah tertidur di meja makan.

“Oppa, ini sandwich milikmu. Makanlah,”

Kim Him Chan mengusap matanya malas kemudian ia menguap sebelum ia menatap Yoo Ji Ah di hadapannya. “Baiklah, terima kasih,” ucapnya singkat kemudian ia melahap sandwich miliknya.

“Terima kasih, berkatmu kami memiliki sarapan yang bergizi pagi ini. Jika tidak, kukira kita akan menghabiskan ramyun buatan Him Chan sisa kemarin,” ucap sang leader yang menahan tawanya setelah setidaknya sebuah tatapan lain telah diberikan Him Chan yang berada tak jauh darinya tersebut.

“Setidaknya kalian tidak mati kelaparan, bukan?” tukas Him Chan yang setidaknya benar-benar tersinggung kali ini.Gelak tawa terdengar cukup keras di ruangan tersebut.Him Chan yang sempat senewen, juga ikut tertawa.Yoo Ji Ah yang berada di seberang dengan menduduki bangku makannya, mencoba menahan tawanya dengan sebelah tangannya.

“Nunna, kukira kau sudah pantas untuk menjadi seorang istri,” tukas laki-laki tertua kedua dari keenam laki-laki yang berada di ruangan.Yoo Ji Ah yang mendengarnya hanya terdiam untuk sejenak. Dan entah kenapa ia menghentikan aktifitasnya memandangi teman lamanya yang berada tepat di depannya.

“Apanya? Dia sama sekali tak bisa memasak. Aku berani bertaruh, kau membeli ini semua di tempat biasa dimana kita sering makan siang bukan?” ucap Kim Him Chan menyindir.Ia menyeringai saat yang menjadi satu-satunya gadis di ruangan tersebut merengut. Yong Guk hanya menepuk bahu teman yang ada di sampingnya tersebut pelan, berharap ia menjaga perkataannya kali ini.

“Bila kita semua akan menikah, kukira Yong Guk hyung dan Him Chan hyung yang mengawali kita,” ucap salah seorang di antara mereka.Young Jae.Mereka mengangguk bersamaan.

“Oh hyung, pastinya kalian memiliki kriteria tersendiri untuk istri kalian nantinya bukan?Him Chan hyung, bagaimana denganmu?” tukas Young Jae kali ini.Si lawan bicara terdiam sejenak.Ia kemudian menempatkan salah satu jarinya pada dagunya, sebagai penegasan bahwa ia sedang memikirkan sesuatu.

Sedangkan Yoo Ji Ah, entah kenapa ia menjadi seorang penakut yang kali ini tak dapat melihat laki-laki yang berada di depannya. Setidaknya nafasnya tertahan saat laki-laki itu dihadapkan pertanyaan seperti demikian.

“Seseorang yang pintar memasak tentunya.Bagiku itu lebih dari cukup,” jawabnya santai.Kelima laki-laki yang berada dalam satu meja hanya mengangguk saat mendengar jawaban yang diberikan.Ia kemudian tersenyum kecil dan berkata “Mungkin jika Hyo Sung nunna pintar memasak, ia akan menjadi gadis yang paling sempurna untukku,”

Yoo Ji Ah masih terdiam di tempatnya.Ia tak memberikan reaksi apapun yang berarti, namun raut wajahnya adalah reaksi yang jelas atas jawaban yang diberikan laki-laki itu. Ada rasa kecewa saat laki-laki itu menyebut nama gadis lain di hadapannya.

Hal tersebut hanya diketahui oleh Yong Guk yang duduk tak jauh dari gadis itu.Ia tak tahu apa maksud ekspresi yang ditunjukkan gadis itu kali ini, tapi entah ada rasa tak senang saat raut gadis itu tak lagi ceria saat pertama ia datang pagi ini.

“Bagiku seseorang yang ceria tiap harinya, menjadi pemberi aura positif di sekitarnya adalah yang terbaik,” celetuk laki-laki tertua dari keenam laki-laki yang berada dalam dorm tersebut. Kelima laki-laki yang berada di meja makan serentk menatapanya bingung, tak luput Yoo Ji Ah yang menjadi satu-satunya gadis yang berada di sana. Laki-laki itu lantas tersenyum kemudian ia mengangguk perlahan, dan berkata, “Bagiku, seseorang yang terlihat ceria, akan menjadi sangat menyenangkan, meski ia tak pintar memasak,”.

Yoo Ji Ah yang menyadari bahwa apa yang dikatakan laki-laki itu adalah reaksi akibat raut wajahnya yang seketika berubah, ia hanya menunduk. Setidaknya ia sangat berterima kasih atas apa yang dikatakan laki-laki itu, tapi sepertinya sesuatu yang lebih dari itu yang laki-laki tersebut coba untuk sampaikan.

“Apa?”tanya Him Chan setidaknya ketus saat gadis yang berada di hadapannya memandanginya sejak beberapa menit yang lalu. Yoo Ji Ah, sang gadis membuang nafasnya malas, kemudian ia menatap luar jendela dengan tatapan tak kalah malasnya.

Hari ini, mereka tengah menghabiskan waktu mereka berdua sekali lagi.Baiklah ini juga adslah salah satu permintaan Yoo Ji Ah seperti biasa.Ia meminta laki-laki itu menemaninya sekali lagi. Ia memang sendirian di Korea. Jadi itu adalah sebuah alasan yang paling logis untuk meminta laki-laki itu menemaninya.

“Ya!” teriak gadis itu seketika saat sebuah tangan berhasil mengacak rambutnya asal.Laki-laki itu hanya tertawa saat ekspresi tersebut diberikan gadis tersebut untuknya.Yoo Ji Ah mencoba menyembunyikan senyumnya saat ini. Bagaimana tidak, setiap kali laki-laki itu memperlakukannya seperti demikian, ia rasa jantungnya bisa saja melompat keluar sekarang.

“Ada apa?Kau sama sekali tak memakan pasta milikmu,” imbuh laki-laki itu yang kali ini menghabiskan minumannya.Yup, seperti biasa americano latte.

“Kau tahu, aku tak suka kau memakai pakaian seperti demikian saat kau menghabiskan waktu denganku,” jawab gadis itu malas.Menurutnya, laki-laki itu memang tampan saat mengenakan apapun.Hanya saja, ada suatu hal yang membuatnya tak nyaman saat laki-laki itu mengenakan pakaian yang terlihat sangat attractive di saat yang tak tepat seperti sekarang ini.

“Ada apa? Aku merasa sangat baik hari ini,”

Tidak untukku.Yoo Ji Ah menghembuskan nafasnya sekali lagi.Ia dapat merasakan beberapa orang memperhatikan mereka berdua sekarang. Dan ia tahu pasti sesuatu tak benar telah beredar saat ini. Tapi entah kenapa, laki-laki itu tak pernah menyadarinya.

“Oppa, kau menyukai nunna mu itu?”

Kim Him Chan memiringkan kepalanya tak mengerti saat gadis itu bertanya kepadanya.Ia kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, agar ia dapat mendengarkan apa yang dikatakan gadis itu padanya lebih jelas. Namun, dengan sekali hentakan, laki-laki itu kembali pada posisinya.Ia hanya meringis kesakitan.

“Ada apa? Ada yang salah?”tanya laki-laki itu seakan ia tak melakukan suatu kesalahan.

Yoo Ji Ah kini dapat bernafas lega. Ya, bagaimana ia dapat berbicara dengan laki-laki itu dengan jarak sedekat itu? Bagaimana kalau ia menyadari bahwa wajahnya memerah saat ini. Ia kemudian merengut.

“T-tak perlu kau lakukan itu. M-maksudku… Hyo Sung nunna,” ucapnya yang memperkecil volume suaranya saat nama tersebut disebut. Kim Him Chan menyeringai saat wajah Yoo Ji Ah lebih serius kali ini.Ia kemudian mengangguk kecil.

Baiklah, sebuah pengakuan baru.Bukan, melainkan sebuah penegasan.Ia sebenarnya tahu bahwa laki-laki itu telah lama menyukai sunbae-nya tersebut, namun ia kira laki-laki itu hanya menyukainya sebagai seorang senior yang patut di contoh. Ya, ia tahu hal tersebut dari teman satu group laki-laki tersebut. Bahkan laki-laki itu tak sungkan untuk menyatakan bahwa ia berencana untuk mendekati senior-nya tersebut.

“Ada apa?Apa kau cemburu?” godanya kali ini.Yoo Ji Ah yang tersadar dari lamunannya, segera menggelangkan kepalanya dengan keras.Laki-laki itu kemudian tertawa lepas saat reaksi tersebut diberikan.Yoo Ji Ah hanya bisa membuang nafasnya kesal.

“Bagaimana dengan masa training-mu?Apa ada kabar kau akan debut dengan resmi?”

Yoo Jiah menggigit bibirnya saat pertanyaan itu sekali lagi diluncurkan.Ia kemudian hany tersenyum masam untuk menghadapi pertanyaan demikian. Namun, setidaknya Him Chan sudah mengetahui hal itu lebih dulu.

“Kukira kau sudah sangat jelas saat aku mengatakan bahwa hidup sebagai trainee tak semudah yang kau bayangkan. Kau tahu, aku lebih memilih kau bersekolah di Stanford daripada berada di Korea saat ini,” ucap laki-laki itu yang entah sejak kapan ada penekanan sebuah emosi di sana. Untuk sejenak mereka terdiam.Setidaknya itu yang dilakukan Yoo Ji Ah.Ia tak tahu harus berkata apa kali ini. Sedangkan laki-laki itu menunggu reaksi si lawan bicaranya.

Ya, alasan Yoo Ji Ah untuk berada di Korea tak lebih hanya ingin berada sedekat ini bersama laki-laki itu. Alasan yang terkadang tak berlogika, tapi hanya itu yang ia inginkan. Ia tahu, bahwa kini teman lamanya tersebut menjadi orang yang cukup terkenal atau dapat dikatakan sangat terkenal saat ini. Dan ia…adalah orang biasa yang kini setidaknya ‘terobsesi’ dengan laki-laki tersebut. Lalu, apakah ia ingin menjadi si bungkuk yang merindukan bulan?

Yoo Ji Ah tak mengatakan sepatah katapun hingga ia hanya biasa menatap laki-laki yang ada di hadapannya. Sedangkan Him Chan setidaknya melupakan apa yang baru saja ia katakan. Laki-laki itu tengah sibuk dengan ponsel miliknya. Entah apa yang ia lakukan.

“Apa kali ini?” ucap laki-laki itu saat ia tahu bahwa ia tengah diperhatikan oleh gadis yang berada di hadapannya. Yoo Jiah mendadak menahan nafasnya saat ia tertangkap basah kali ini. Ia kemudian menatap ke arah lain.

“Kau bosan?”

Yoo Jiah menggeleng pelan.Ia kemudian menyunggingkan senyumnya.

“Kau tahu, kau mirip tikus.Dan menurutku kau sama sekali tidak tampan,” ucapnya mengalihkan pembicaraan.Ia kemudian menjulurkan lidahnya, seolah-olah ia mengiyakan apa yang ia katakan sebelumnya. Raut wajah laki-laki itu berubah saat hal itu sampai pada kedua telinganya.Tatapan membunuh setidaknya sempat gadis itu terima. Hal yang paling sukai saat ini adalah menggoda laki-laki, setidaknya ia tak mau digoda laki-laki itu tiap harinya.

“Apa kau bilang? Ish…” ucap laki-laki itu mengangkat sebelah tangannya hendak memukul, tapi itu tak benar-benar laki-laki itu lakukan.Ia kemudian meraih ponselnya saat sebuah dering yang berasal dari ponselnya terdengar. Wajahnya kembali sumringah entah siapa yang melakukan panggilan itu.Yoo Ji Ah tak dapat mendengar dengan jelas apa yang laki-laki itu katakan, karena dengan sigap laki-laki itu menjauh saat panggilan tersebut ia terima. Untuk beberapa menit, ia hanya dapat menangkap wajahnya laki-laki itu yang berubah drastis. Hanya senyum, dan tawa yang dapat ia lihat dari laki-laki itu. Bahkan ia kira, ia kini telah dilupakan.

Yoo Ji Ah mengaduk-aduk pasta miliknya yang tengah dingin. Kemudian ia mendengus dengan berat. Ia tak memiliki nafsu makannya hari ini. Yoo Ji Ah kemudian menatap laki-laki itu yang kini berjalan menuju dirinya, tetap ponselnya tengah ia lekatkan pada salah satu telinganya. Wajahnya yang terlalu senang laki-laki itu lebih terkesan konyol untuknya.

“Apa?Baiklah-baiklah, aku akan menjemputmu nunna,” ucapnya dengan sebuah senyum yang sangat jauh berbeda dengan ekspresi laki-laki itu sebelumnya.Dan pada akhirnya, panggilan tersebut laki-laki itu sengaja hentikan.

“Kau tahu, dia memintaku menemaninya makan malam. Oh oh, apa yang harus aku kenakan hari ini? Ya! Ji Ah, menurutmu apa yang bagus?” ucapnya yang kali ini bersemangat.Bak seorang bocah kecil yang tengah menggelayut dengan manja pada salah satu tangan gadis itu.Yoo Ji Ah mendengus malas.Baiklah, Yoo Ji Ah dapat menebak dengan pasti siapa yang baru saja membuat panggilan barusan. Jeon Hyo Sung.

“Jiah-ah apa kau bisu?Menurutmu bagaimana?ucapnya kali ini. Setidaknya Yoo Ji Ah yakin bahwa telinganya tengah terbakar.Ia kemudian menatap laki-laki yang entah sejak kapan berubah menjadi anak berumur lima tahun tersebut malas.

“Entahlah, kau merasa cukup tampan dengan apapun bukan?” ucap Yoo Ji Ah acuh tak acuh.

Bang Yong Guk membenahi tali sepatunya yang sempat kendur. Ia kemudian mengerakkan kedua tangannya sekedar merenggangkannya perlahan. Ia lantas melanjutkan langkahnya. Hari ini cukup dingin untuk dirinya melakukan jogging di pagi hari seperti biasanya. Ia tak perlu khawatir bila beberapa orang akan menangkap basah dirinya sebagai seorang selebriti. Sebuah jaket bewarna gelap dengan tudung yang cukup besar, setidaknya cukup menyembunyikan dirinya dari layaknya tampilan seorang selebriti. Sepatu yang cukup usang adalah salah satu andalannya.

Ia memperhatikan jalan sekitarnya seperti biasa. Udara yang cukup dingin setidaknya berkurang dengan adanya sinar matahari pagi itu. Baiklah, sekiranya ia berada di tempat yang salah untuk melakukan jogging. Tapi itulah yang paling ia sukai. Ia sangat menyukai suasana kota di pagi hari. Tak terlalu ramai baginya, mengingat ini terlalu pagi. Bahkan sangat, sangat pagi.

Ia menghentikan langkahnya saat traffic light menunjukkan warna merahnya. Ia masih tak berhenti di situ saja, ia berlari-lari kecil di tempat saat menunggu traffic light berubah warna. Hingga ia melanjutkan laju kakinya menuju seberang jalan. Ia lalu kembali memacu laju kakinya menyusuri jalanan di pagi hari.

Ia kemudian menghentikan langkah kakinya saat setidaknya seorang gadis tengah keluar pada sebuah bangunan dengan dua buah kardus berukuran besar di kedua tangannya. Yong Guk yakin bahwa gadis itu terhalang pandangannya oleh kardus yang ia bawa, hingga..

Bruk.

Yong Guk yang melihat gadis itu terjatuh kemudian melangkahkan kakinya cepat dan membantu gadis itu berdiri.

“Yong Guk oppa?”

Gadis itu tersenyum malu saat ia sadar bahwa laki-laki yang menolongnya adalah laki-laki tersebut. Namun, dengan cekatan ia merapikan beberapa helai kertas yang tersebar ke jalanan saat kardus miliknya terjatuh. Ia kemudian memasukkan dengan cepat kertas-kertas tersebut. Gadis itu terlihat gusar dan ketakutan saat Yong Guk melihat beberapa lembar yang tersebar di jalanan. Tapi Yong Guk tak bodoh, ia mengambil sehelai kertas yang tersebar dan seketika wajah gadis itu berubah ketakutan.

“Anti fans Yoo Ji Ah?” ucap Yong Guk mengulang kata perkata pada selebaran yang basah oleh cairan merah layaknya darah. Ia menatap Yoo Ji Ah sedikit tak percaya. Yoo Ji Ah hanya menggigit bibirnya. Ia benar-benar tak tahu apa yang akan ia katakan.

Yong Guk kemudian beralih pada kardus yang terbuka lebar. Sebuah boneka teddy bear dengan sebuah topeng wajah gadis itu tengah tertusuk oleh sebuah pisau dengan lumuran cairan merah, sebuah kertas juga menyertai boneka tersebut. Yong Guk hanya bisa mengernyit. Setidaknya sebuah surat peringatan kepada gadis itu untuk berhenti mendekati salah satu teman satu group-nya. Kim Him Chan.

“Kumohon, jangan katakan ini semua pada Him Chan oppa,” ucap Yoo Ji Ah yang kali ini memelas. Ia menahan tangan laki-laki itu yang hendak meremas kertas tersebut. Yong Guk menatap gadis itu tak percaya, namun ia mengurungkan niatnya meremas kertas tersebut. Kemudian ia membuang nafasnya perlahan.

“Tolong, jelaskan ini semua,”

Yoo Ji Ah mengaduk-aduk teh miliknya yang sepertinya mulai dingin. Ia mencuri pandang dengan laki-laki yang menduduki salah satu sofa yang ada di dalam flat-nya. Ia yakin, hanya teh miliknya saja yang belum tersentuh. Sedangkan teh milik laki-laki itu telah habis beberapa menit yang lalu. Tak ada percakapan di antara mereka. Hanya dua buah teh pelengkap pertemuan mereka yang terkesan sangat dingin.

“Mau teh lagi? Akan kubuatkan–”

“Ji Ah, jangan mengalihkan pembicaraan,” ucap laki-laki itu yang jelas-jelas memotong. Suara berat laki-laki itu sempat membuat bulu kuduknya meremang. Baiklah, laki-laki itu cukup mengenalnya. Bahkan saat laki-laki itu juga teman lamanya tersebut menjadi trainee, mereka sudah saling mengenal. Maka laki-laki itu cukup mengerti bagaimana dirinya meski tak lebih dari Him Chan.

Yoo Ji Ah membasahi bibirnya. Ia kemudian menarik nafas dalam-dalam dan kemudian mengeluarkannya perlahan. Terasa sedikit sesak untuknya, bila ia memulai pembicaraan seperti hari ini. Tapi, ia harus mengatakannya, bila tidak, waktu setengah jam bisa terbuang sia-sia dan jadwal laki-laki itu akan terbuang dengan percuma.

“Mereka tak menyukaiku,” ucap gadis itu memulai. Kemudian dengan sedikit kikuk ia menunjukkan senyumnya. Tatapan laki-laki itu tetap saja sama. Benar, ia hanya membutuhkan kelanjutan kalimat dari dirinya. Yoo Ji Ah sedikit mendengus menanggapi hal itu.

“Baiklah, mereka tak menyukaiku karena aku selalu berada di sekitar Him Chan oppa,” imbuhnya. Ia menggigit bibirnya saat kalimat itu dilontarkan. Kini ia menunggu respon laki-laki yang berada tak jauh darinya tersebut.

“Sejak kapan mereka melakukan ini?”

“Aku tidak ingat,”

“Apa dia mengetahuinya?”

“…” Yoo Ji Ah mengunci bibirnya. Ia tak mau menatap laki-laki itu. Tapi laki-laki itu cukup tahu apa yang dimaksud gadis itu, tanpa harus mendengarkan jawaban darinya. Ia kemudian membuang nafasnya berat.

“Kumohon, jangan memberitahunya tentang ini semua,” ucap Yoo Ji Ah memelas kali ini. Yong Guk sama sekali tak bisa menahannya. Ia terpaksa melakukannya.

“Baiklah,” ucapnya yang setengah tak terdengar. Kemudian sebuah senyum kembali terlihat dari wajah gadis itu. Matanya kini sangat berbeda dengan matanya saat mereka membahas topik sebelumnya. Yong Guk merasa lega karena gadis itu kembali seperti biasanya. Tanpa sadar, senyumnya juga perlahan terbentuk. Tapi di lain sisi, ia tak menyukai hal itu. Ia khawatir dengan apa yang akan dilakukan gadis-gadis yang menyebut mereka sebagai sasaeng Him Chan pada gadis itu nantinya.

“Apa mereka tidak melakukan hal yang lebih buruk dari ini padamu? Maksudku–”

“Oppa,” ucap gadis itu memotong kali ini. Dengan senyum melebar, ia memandang laki-laki itu penuh arti. Ia terkekeh kecil sekedar untuk meringankan suasana. Namun hal tersebut membuat Yong Guk khawatir. Ia tahu gadis itu tak menyukai bila topik tersebut dibahas sekali lagi.

“Aku akan baik-baik saja. Bagaimana dengan jadwalmu hari ini? Bukankah kau cukup sibuk?”

Yong Guk mengangguk perlahan. Setidaknya ia cukup lama berada di flat dimana gadis itu tinggal sekarang. Flat yang dapat dikatakan jauh berbeda dengan dorm dimana ia juga kelima temannya tinggal. Laki-laki itu kemudian berdiri dari sofa yang ia tadi duduki, sebuah senyum ia sunggingkan sekali lagi.

“Baiklah, kukira aku harus pulang,” ucapnya ringan. Yoo Ji Ah mengangguk mengiyakan. Ia juga beranjak dari sofa miliknya dan mengikuti langkah Yong Guk menuju pintu utama.

“Kau tahu oppa, kau sangat berbeda dengan Him Chan oppa. Ia akan mengenakan baju sebagaimana seorang selebriti lakukan, demi pujian banyak orang untuknya. Sedangkan kau–” Yoo Ji Ah menutup mulutnya. Ia tahu bahwa apa yang ia katakan dapat terbilang bukan sebagai kalimat yang sopan. Ia menatap laki-laki yang berada di depan pintu sedikit takut.

“M-mianhae,” ucapnya takut. Namun laki-laki itu hanya tersenyum tipis menanggapinya. Sudah cukup lama ia mengenal gadis itu, tapi gadis itu tetap saja merasa takut bila ia salah berbicara.

“Aku menyukai cara pakaian seperti ini. Jadi, aku bisa pergi kemana saja yang kusuka. Dan..” Yong Guk memperlihatkan sepasang sepatu miliknya yang setidaknya telah usang, kemudian ia tersenyum usil. “Bahkan sepatu ini selalu kugunakan kemana pun. Demi sebuah penyamaran,”

Yoo Ji Ah tertawa lepas kali ini. Baiklah, laki-laki itu juga selalu membuatnya merasa nyaman, namun terkadang ia sendiri yang merasa masih menjaga jarak dengan laki-laki tersebut. Yong Guk hanya tersenyum tipis saat ia dapat melihat gadis itu tertawa karenanya. Sebelah tangannya meraih pucuk kepala gadis itu dan perlahan mengelusnya. Yoo Ji Ah tersentak dengan apa yang dilakukan laki-laki itu padanya. Ia kemudian memilih untuk berdiam diri.

“Jika kau membutuhkan bantuanku, kau bisa menghubungiku kapan saja,” ucap laki-laki itu dengan intonasi yang terdengar sangat jelas. Yoo Ji Ah menganggukkan kepalanya pelan untuk menanggapi hal itu. Kemudian laki-laki itu memutar knok pintu yang ada di hadapannya dan mulai beranjak pergi.

Yoo Ji Ah mengatur nafasnya saat ia berdiri di depan bangunan tinggi yang mana adalah bangunan dimana Kim Him Chan berada. Ya, ia sudah terlalu sering berada dbertemu dengan laki-laki sana, dengan begitu banyak cara, meski satu alasan yang sudah pasti yaitu hanya bertemu dengan laki-laki itu seperti biasanya.

Seperti biasa. Di kedua tangannya, ia tengah membawa beberapa kantung makanan dan juga minuman untuk laki-laki itu juga kelima laki-laki itu seperti biasa. Bukan, bukan karena mereka tak memiliki cukup uang untuk membeli keperluan hidup mereka. Tapi terkadang, jadwal yang mengikat membuat keenam laki-laki itu lupa untuk makan makanan sehat. Jadi, alasan yang satu ini adalah alasan yang paling rasional.

Yoo Ji Ah menekan bel seperti biasanya. Kemudian matanya beralih pada interkom yang seperti biasanya menyapa dirinya. Ia yakin, kali ini suara laki-laki itu akan terdengar. Benar, seperti biasanya.

“Ya?”

Yoo Ji Ah mengernyitkan dahinya saat kali ini yang ia dengar bukan suara laki-laki melainkan suara laki-laki lain. Baiklah, setidaknya ada rasa kecewa saat ini ia rasakan. Namun, ayolah.. mungkin laki-laki itu sedang sibuk kali ini. Yoo Ji Ah sedikit kesiangan hari ini. Ia yakin, laki-laki itu tengah menyiapkan sarapan mungkin.

“Halo. Siapa disana?”

“M-maaf. Ini aku Yoo Ji Ah,” ucap gadis itu cepat. Setidaknya ia melamun untuk beberapa menit yang lalu, hingga si pemilik sedikit geram untuk menunggu jawaban.

“Ah! Nunna! Tunggu sebentar!” ucap laki-laki di seberang kali ini.

Yoo Ji Ah menghirup nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Baiklah, setidaknya ia siap untuk bertemu dengan laki-laki itu hari ini. Apa yang dilakukannya kali ini? Yoo Ji Ah tersenyum tipis hanya untuk memikirkan hal tersebut.

“Nunna! Masuklah. Oh, itu untuk kami?” laki-laki yang lebih tinggi dari gadis itu entah sejak kapan keluar. Ya, laki-laki termuda dari kelima laki-laki yang lain.

Laki-laki itu memandsng beberapa kantung yang dibawa Yoo Ji Ah saat ini. Yoo Ji Ah mengembangkan senyumnya, kemudian mengangguk perlahan.
Laki-laki itu dengan cepat memindahkan beberapa kantung yang berada di tangan Yoo Ji Ah ke tangannya. Ia kemudian membuka lebar pintu dorm, menyilahkan gadis itu masuk. Yoo Ji Ah menurut saja.

Yoo Ji Ah meletakkan mantel miliknya pada pinggiran sofa yang berada di ruang tamu, ia kemudian mengedarkan pandangannya saat ia menapakkan kakinya di dalam dorm tersebut. Benar, ia tengah mencari dimana laki-laki itu sekarang, namun langkahnya seketika terhenti setidaknya terdapat seorang gadis lain berada di dorm tersebut. Gadis yang tengah bercanda gurau dengan kelima laki-laki yang tinggal di dorm tersebut. Termasuk laki-laki itu. Kim Him Chan.

“Oh, Yoo Ji Ah. Kau Yoo Ji Ah?” Gadis berbalut apron bewarna kuning tersebut menghampirinya. Wajah ramahnya seketika memaksa Yoo Ji Ah untuk ikut menyunggingkan senyumnya. Meski terasa sedikit tak perlu.

“Ah, Jeon Hyo Sung-ssi,” ucap Yoo Ji Ah seraya membungkukkan tubuhnya sedikit.Baiklah Jeon Hyo Sung. Ia adalah seorang penyanyi yang mana bernaung di perusahaan hiburan yang sama dengan keenam laki-laki itu. Lebih tepatnya, gadis itu adalah senior mereka.

“Oh ayolah, kau bisa memanggilku unnie. Sama seperti mereka yang memanggilku nunna,” ucap gadis itu ramah. Yoo Ji Ah mendengus perlahan. Ia berharap dengusan itu tak terdengar. Ia kemudian menganggukkan kepalanya pelan.

Baiklah, ia tak menyukai kehadiran gadis itu di sini. Ini memang terkesan bodoh atau semacamnya. Namun, sebodoh-bodohnya ia, ia sangat tahu bahwa laki-laki itu menyukai Jeon Hyo Sung. Menurutnya, gadis itu haram untuk menapakkan kakinya di sini.

“Ji Ah-ah, kau ingin sarapan dengan kami? Him Chan membuatkan sesuatu untuk kita,”

“M-maaf unnie, kukira aku harus pergi sekarang,” ucap Yoo Ji Ah tanpa berpikir. Ya, ia tak mau melihat gadis itu di dini. Tidak dengan Him Chan. Ia tak mau laki-laki itu menunjukkan berbagai cara hanya untuk dekat dengan gadis itu nantinya.

“Oh ayolah. Kau tiap hari kesini bukan? Jangan bilang kau sekarang memiliki kekasih dan lupa untuk sarapan dengan kami,” sahut Kim Him Chan yang entah sejak kapan ia mendengarkan percakapan mereka. Yoo Ji Ah melemparkan tatapannya pada laki-laki yang berjalan ke arahnya. Laki-laki itu hanya menyeringai. Sebelah tangannya ia luncurkan menuju pucuk kepala gadis yang lebih muda darinya tersebut dsn mengacaknya pelan. Yoo Ji Ah mengerang saat laki-laki itu melakukannya, namun ia sesungguhnya tak pernah mengelak saat laki-laki itu melakukannya, karena saat itu juga senyumnya tak pernah bisa ia sembunyikan.

Laki-laki itu menatapnya dekat. Kini sebuah senyum lain terlihat di wajah laki-laki itu.”Gadis kecil,” ucapnya pelan.

Yoo Ji Ah menghirup nafasnya panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia kemudian menghirup udara sekali lagi dan lagi-lagi membuangnya perlahan.

Apa-apaan ini? Setidaknya kurang dari setengah jam ia dan ketujuh orang lainnya berada di meja makan menikmati makanan mereka. Yang katanya makanan terbaik Kim Him Chan. Kalau boleh jujur, sarapan kali ini adalah roti panggang dengan selai kacang. Lalu apa istimewanya? Ia memang tak bisa memasak, namun membuat roti panggang dengan selai kacang apa susahnya? Terkadang ia memang memutuskan untuk makan pagi bersama keenam laki-laki itu, tapi entah kali ini ia merasa sangat malas.

Yoo Ji Ah menatap gadis yang berada paling ujung. Ia sedang berbicara kali ini. Dan setidaknya keenam laki-laki yang berada di sini tengah mendengarkannya. Itu terlihat dari pandangan mata mereka juga terkadang suara tawa terdengar di telinganya. Ia membuang nafasnya malas. Lalu bagaimana dengan dirinya? Ia hanya bisa menghabiskan waktunya dengan memakan sarapannya sendirian.

Matanya kemudian memandang malas ke arah Kim Him Chan yang duduk paling dekat dengan Jeon Hyo Sung. Mata laki-laki itu bahkan tak pernah beralih. Ia tersenyum dengan cara yang sangat berbeda saat ia bersama gadis itu dan bagaimana berbicara sangat jauh berbicara. Oh ayolah, orang buta sekalipun dapat melihat dengan jelas bahwa laki-laki itu menyukai gadis itu. Dan itu membuat Yoo Ji Ah malas hari ini.

Ia benar-benar kesal hari ini. Ia memotong roti panggang miliknya dengan pisau dan miliknya dengan asal, hingga dengan gaya bebas, garpu miliknya tersebut melayang dan jatuh dengan indahnya. Suara sumbang yang dihasilkan garpu miliknya membuat seluruh orang menatapnya. Ia kemudian tersenyum kikuk. Bodoh.

“Kau bisa menggunakan ini,” ucap laki-laki yang berada tepat di samping kanannya dimana seorang laki-laki dengan senyum hangatnya menatapnya. Dia Bang Yong Guk.

“T-tidak. Maksudku, biar aku mengambil garpu yang lain–”

Yoo Ji Ah kini mengurungkan niatnya untuk beranjak dari bangkunya saat sebuah tangan besar menahan lengannya. Laki-laki si pemilik lengan tersebut mengembangkan senyumnya.

“Aku tidak memakainya. Jadi, gunakan saja,” ucap laki-laki itu ramah. Kemudian ia kembali memakan roti panggang miliknya. Yoo Ji Ah akhirnya menurut saja. Ia menggunakan garpu tersebut untuk memotong roti panggang miliknya menjadi beberapa bagian dan memakannya.

Setidaknya Yong Guk menganggapnya ada saat ini. Dan ia sangat berterima kasih untuk itu. Meski sedikit kegaduhan sempat ia buat, namun setidaknya perhatian semua orang masih tertuju pada gadis yang sedari tadi memonopoli pembicaraan. Ia tak tahu apa yang dikatakan gadis itu sedari tadi.

“Kau bosan?”

Yoo Ji Ah menatap laki-laki yang berada di samping kanannya tersebut sekali lagi. Setidaknya ia tahu bahwa tak semua orang yang mengucilkan dirinya. Ia kemudian tersenyum tipis lalu menggangguk pelan, ia kemudian berbisik”sedikit,”.

Yong Guk tertawa kecil. Ia kemudian menarik sebelah tangan gadia itu dan berjalan keluar dari ruang makan di dorm menuju ruangan lain. Yoo Ji Ah hanya bisa pasrah saat laki-laki itu melakukannya. Meski semua tatapan tertuju pada dirinya juga laki-laki itu, tapi laki-laki itu seolah tak peduli.

“Bagaimana kabarmu?”

“Aku baik, Mom. Bagaimana dengan Mom dan Dad?”

“Kami juga baik. Ji Ah-ah, bagaimana dengan masa training-mu?”
Yoo Ji Ah membuang nafasnya setelah ia memastikan bahwa jarak dirinya dengan ponsel cukup jauh. Ia kemudian mengintip ke belakang, memastikan bahwa tak ada seorang pun mendengarkan percakapannya. Hanya ada seorang laki-laki yang tengah menonton tv. Ia yakin, laki-laki itu tak bisa mendengarkan percakapannya dengan jarak cukup jauh ini.

“Begitulah..” ucapnya dengan berat.

“Bagaimana kau bisa mengatakan ‘begitulah’. Ji Ah, kami sudah bilang, training bukanlah hal mudah. Dan lihat, kau terkatung-katung sekarang. Kami menghawatirkanmu, nak,”

“….”

“Pulanglah. Dan kau bisa memulai untuk kuliah di Stanford seperti permintaan kami sebelumnya,”

“Aku tidak bisa, Mom,” ucap Yoo Ji Ah dengan penuh penyesalan. Benar, sebenarnya bukan hanya sebuah debut yang ingin ia dapatkan. Tapi, sesuatu yang lain. Jika ia dapat dikatakan bodoh, mungkin ia adalah orang terbodoh yang pernah ada. Ia bertahan hingga detik ini hanya untuk selalu berada di sisi laki-laki itu. Ya, teman yang ia kenal sejak lama Kim Him Chan.

“Apa karena Him Chan?”

Dalam seketika matanya membulat. Sekiranya ibunya dapat membaca pikirannya kali ini. Yoo Ji Ah tak merespon. Bagaimana bila itu memang benar? Lalu bagaimana reaksi kedua orang tuanya saat mengetahui itu semua?

“Kau tahu, Dad tidak mengijinkanku untuk mengirimkanmu uang lagi. Dengan alasan, itu akan membuatmu pulang ke sini secepatnya. Maaf sayang,”

Yoo Ji Ah memaksa kedua ujung bibirnya terangkat, meski saat ini ia tahu dadsnya terasa sesak. Haruskah seperti itu ayahnya menghukumnya kali ini?

“Tidak apa-apa. Ada beberapa tawaran photoshoot. Jadi kukira itu sudah terbilang cukup. Baiklah, jaga kesehatan, Mom. Sampaikan salamku pada, Dad,”

Yoo Ji Ah membuang nafasnya setelah ia dengan segera mungkin menutup panggilan. Ia kemudian berjalan menuju laki-laki yang tengah menduduki sofa di ruang tamu. Laki-laki itu kemudian tersenyum hangat saat dirinya berjalan ke arahnya.

“Itu tadi Mom. O-oh maksudku eomma,” ucap Yoo Ji Ah dengan cepat membenarkan. Laki-laki itu hanya terkekeh saat melihat ekspresi gadis itu. Ya, ia memang berasal dari Korea dan untuk beberapa tahun yang lalu tinggal di Korea, namun ia melanjutkan pendidikannya di America tepatnya di San Fransisco, karena pekerjaan ayahnya. Panggilan untuk orang tuanya pun sengaja diubah sejak saat itu. Laki-laki itu kemudian mengangguk mengerti.

“Kukira, ibumu memiliki keahlian khusus. Saat aku mengajakmu kemari, ibumu langsung menelpon,”

Yoo Ji Ah tertawa kecil mendengarnya. Ia mengiyakan hal tersebut.

“Jadi ada apa? Apa kedua orang tuamu baik-baik saja?” ucap laki-laki itu menambahkan. Yoo Ji Ah terdiam untuk sejenak. Ia tahu ia tak bisa bercerita begitu saja pada laki-laki tersebut. Ia menggigit bibirnya hingga sebuah senyum lain ia tunjukkan.

“Mereka baik-baik saja. Mereka hanya menanyakan keadaanku, itu saja,” ucap Yoo Ji Ah berdalih. Bukan, bukan hanya menanyakan keadaannya saja. Tapi lebih tepatnya sebuah permohonan agar dirinya pulang secepatnya. Ya, bagaimana tidak. Beberapa tahun ia habiskan di Korea, hanya untuk masa training yang sepertinya errr tak berarti apa-apa.

Untuk beberapa saat yang lalu, ia mungkin saja dapat dikatakan debut namun tidak secara resmi. Tempat dimana ia menjalani masa trainning-nya, entah sedang mempersiapkan sebuah konsep untuk dirinya untuk debut nantinya. Ia bahkan tak mengerti bagaimana konsep itu nantinya.

Selama ini, ia mengisi waktu luangnya dengan melakukan beberapa photoshoot yang ditawarkan teman-temannya untuk beberapa brand barang baru. Ia tak pernah memasang budget yang terlalu tinggi untuk hal tersebut, tapi setidaknya itu dapat dikatakan lebih dari cukup. Dan, orang tuanya juga yang selama ini mengirimkam uang untuk dirinya di Seoul, tapi mungkin saat ini, tidak lagi.

Yoo Ji Ah menatap laki-laki yang berada jauh darinya. Bahkan sangat jauh darinya. Ya, laki-laki yang tengah tersenyum lebar menghadap seorang gadis di sampingnya. Laki-laki dengan matanya yang berbinar-binar saat menatap gadis itu, apa dia tahu bahwa kini dirinya tersiksa saat ini?

Yoo Ji Ah meniupkan kedua tangannya lalu menggosokkannya perlahan. Ia berharap udara semakin membaik. Tapi tentu tudak semudah itu. Ia berulang kali menghirup nafas dalam-dalam lalu kembali mengeluarkannya. Sekiranya kakinya terasa kaku karena ia telah lama berdiri di tempatnya. Setidaknya sudah satu jam yang lalu ia berdiri sana.

Dimana dia? Yoo Ji Ah menatap layar ponselnya. Ada sekian banyak pesan yang telah ia kirimkan pada satu nama di kontaknya, begitu banyak pula panggilan yang telah ia buat. Namun, tetap saja sekiranya orang tersebut menghiraukannya.

Yoo Ji Ah menengok ke arah kanan dan kiri jalan sekali lagi. Apakah kali ini laki-laki itu benar melupakannya? Yoo Ji Ah menggigit bibirnya, ia kemudian membuang nafasnya sekali lagi. Untuk sekian kalinya, kesabarannya diuji.

Akhir-akhir ini, laki-laki itu jarang membalas pesannya, jarang menemuinya dan jarang menghubunginya, seakan laki-laki itu memang tak membutuhkannya dan terkesan melupakannya.

Apa laki-laki itu lupa bahwa dirinya sendirian di Korea sekarang? Atau memang hal itu terlupakan karena gadis yang ia sukai itu? Jeon Hyo Sung. Ya, akhir-akhir ini mereka memang sangat dekat dan sering menghabiskan waktunya bersama, hingga laki-laki itu tak ada waktu untuk memikirkannya? Bodoh.

Ia masih ingat bagaimana laki-laki itu tergila-gila akan gadis itu. Tak segan ia selalu menjadikan gadis itu sebagai topik yang memang harus dibicarakan dan setidaknya telinga kita harus rela dijejali dengan omongan yang menurutnya tak penting.

‘Hyo Sung nunna suka ini-itu… Hyo Sung nunna tak menyukai ini-itu… Hyo Sung nunna orang yang menyenangkan.. Hyo Sung nunna sangat cantik..’

Oh ayolah, seberapa sempurnanya gadis itu di matanya? Yoo Ji Ah menutup matanya sejenak. Setidaknya tak mau rasa kesalnya meledak begitu saja di tempat yang kurang tepat. Tapi…

Apakah kali ini laki-laki itu menghabiskan waktu dengan gadis itu dan melupakan janjinya untuk menemuinya? Yoo Ji Ah menghirup nafasnya dan kali ini ia menahannya. Entah kenapa rasanya matanya terasa begitu panas. Bagaimana jika, ia lupa dengan dirinya? Dan benar-benar akan melupakannya?

Demi Tuhan, aku tak mau.

“Yoo Ji Ah?”

Yoo Ji Ah membuka matanya paksa, ia lantas mendongakkan kepalanya dan menatap bingung ke arah laki-laki yang mengenakan jaket cukup tebal dengan sebuah kaca mata hitam yang tengah dikenakannya. Yoo Ji Ah menatap laki-laki itu bingung, namun demgan segera laki-laki itu melepaskan kaca mata hitam juga masker miliknya. Hingga sebuah senyum laki-laki itu sengaja tunjukkan

“Oh, Yong Guk oppa. Kau rupanya? Apa yang kau lakukan disini?” ucap gadis itu saat dapat memastikan bahwa laki-laki adalah orang yang ia kenal.

“Seharusnya aku yang harus menanyakannya, aku hanya melihatmu berdiri di sini sedari tadi. Apa ada seseorang yang kau tunggu?” tanya laki-laki itu dengan suara berat miliknya. Yoo Ji Ah hanya tersenyum singkat bahkan singkat saat laki-laki itu menanyakannya. Ia tahu, bahkan sangat konyol jika ia mengatakan siapa yang ia tunggu kali ini.

“T-tidak. Oh, apa kau ingin makan siang? Bagaimana jika makan siang denganku?” tanya gadis itu yang setiraknya air mukanya sedikit berubah.

“Kau yang mentraktirku? Haha baiklah,” ucap Yong Guk mengiyakan. Ia kemudian membukakan pintu cafe yang seharusnya sudah dari tadi gadis itu buka jika saja ia tak menunggu laki-laki menyebalkan itu datang. Ia. berani bertaruh bahwa hari ini laki-laki yang ia tunggu tak akan pernah datang, seperti biasanya. Ya, ia akan terbiasa akan hal itu mau tidak mau.

Bang Yong Guk terus memandangi gadis yang kini berada di hadapannya. Gadis itu sama sekali tak menyentuh makanannya, ia hanya menarik nafasnya dan menghembuskan nafasnya. Hal itu terus saja gadis itu lakukan. Pandangan gadis itu juga tengah disibukkan oleh entah apa yang berada di luar. Ya, sebuah jendela berukuram cukup besar membantu gadis itu untuk memperhatikan apapun di luar jendela sana.

“Kau masih menunggu seseorang?” tanya laki-laki itu memberanikan diri, namun sekiranya gadis itu tak memperdulikannya. Ia hanya menyeringai hingga melambaikan tangannya tepat di wajah gadis itu. Gadis tersebut tersentak, dan dalam sekejap kesadarannya kembali.

“M-maaf,” ucap Yoo Ji Ah malu. Yong Guk hanya tertawa kecil menanggapinya. Kemudian salah satu tangannya menunjuk makanan yang berada di piring gadis itu yang sama sekali belum gadis tersebut sentuh.

“Kau tidak makan? Kau pasti lapar, makanlah,”

Yoo Ji Ah hanya terdiam saat laki-laki itu memintanya untuk makan. Hari ini, ia sama sekali tak memiliki keinginan untuk makan. Entahlah, padahal jelas-jelas daritadi perutnya berbunyi minta diisi, namun keinginan tersebut sepertinya menguap begitu saja. Yoo Ji Ah menyuapkan sesuap nasi ke mulutnya, dan memaksanya untuk bergerak kemudian meminta dengan paksa kerongkongannya untuk menelan. Semua terasa begitu susah untuknya.

“Kau masih menunggu seseorang?” tanya laki-laki itu sekali lagi. Yoo Ji Ah menatapnya sebentar, lalu ia menggeleng perlahan. Ia sama sekali tak memiliki semangat hidup untuk saat ini. Yong Guk meletakkan sumpit miliknya kemudian berdehem pelan. Yoo Ji Ah yang mendengarnya kini memandang sekali lagi laki-laki yang ada di hadapannya.

“Apakah mereka masih mengganggumu?”

Yoo Ji Ah terbelalak. Ia kemudian menggelengkan kepalanya begitu cepat.

“T-tidak. Apa yang kau bicarakan?” Yoo Ji Ah kemudian kembali menghentikan menatap laki-laki yang berada di hadapannya kini. Ia kembali melahap makanan miliknya secepat yang ia bisa. Yong Guk terkekeh melihat apa yang dilakukan gadis itu sekarang. Ya, gadis yang begitu menggemaskan baginya.

“Bagaimana masa training-mu?” imbuh laki-laki itu sekali lagi. Yoo Ji Ah terdiam sejenak lalu ia mencoba tersenyum kali ini.

“Baik,” ucapnya sangat singkat. Sebenarnya tidak baik-baik saja. Tapi mengatakan bahwa masa trainingnya sudah lebih dari cukup. Ia tak ingin mendengarkan pertanyaan apapun lagi tentang masa trainning-nya. Terlalu rumit untuk dijelaskan untuk saat ini.

“Lalu setelah ini kau kembali melakukan training?”

“Ya, begitulah,” jawab Yoo Ji Ah yang masih menjaga intonasinya. Sebenarnya ia merasa tidak baik hari ini. Bukan, tapi beberapa hari ini. Hal ini dikarenakan laki-laki itu. Yoo Ji Ah menghembuskan nafasnya sekali lagi. Rasanya ia ingin bertemu dengan laki-laki itu saat ini dan membunuhnya dengan segera. O-oh jangan, jika dia mati.. Yoo Ji Ah menggelengkan kepalanya cepat. Apa yang ia pikirkan sekarang?

“Kau lucu,”

Yoo Ji Ah tersenyum malu saat ia sadar bahwa ia diperhatikan selama ini. Setidaknya suasana hatinya sedikit membaik karena laki-laki itu menemaninya saat ini.

“Oppa, kau ingat pertama kali kita bertemu?” tanya Yoo Ji Ah kali ini. Laki-laki yang tengah meneguk minumannya tersenyum tipis. Ia kemudian mencoba membayangkan pertama kali ia bertemu dengan gadia yang ada di hadapannya tersebut. Ya, wajahnya yang polos tak pernah berubah hingga saat ini. Ia kemudian mengangguk perlahan.

“Tentu,” ucapnya singkat.

Yoo Ji Ah tertawa kecil kali ini, dan ia berkata, “Kau dulu sangat menakutkan, menyeramkan. Aku sempat takut saat berada di dekatmu,”
Yong Guk tertawa saat gadis itu mengucapkannya, namun mimik wajah gadis itu masih saja serius.

“Benarkah? Apa aku terlihat seperti seorang yang jahat, begitu?”

Yoo Ji Ah mengangguk cepat mengiyakan apa yang baru saja dikatakan laki-laki itu padanya. “Namun, sekarang aku tahu bahwa kau orang yang sangat baik. Bahkan lebih baik dari Him Chan oppa,” imbuh gadis itu kali ini. Itu memang benar. Yong Guk selalu memperlakukannya dengan baik. Bahkan gadis itu hanya merasa sangat dekat dengan laki-laki itu setelah Him Chan.

“Terima kasih telah menemaniku makan di sini,”

“Tak masalah,” balas laki-laki itu. “Oh ya, siapa orang yang kau tunggu sebenarnya? Him Chan?” Yoo Ji Ah menggigit bibirnya saat nama itu disebut kali ini. Ia tersenyum kaku, namun ia menganggukkan kepalanya sebentar. Ya, ia memang menunggu laki-laki itu untuk makan siang seperti biasanya. Namun, laki-laki itu telah absen seminggu lamanya. Rasanya, ia belum terbiasa akan hal itu.

Yong Guk dapat melihat raut kesedihan di wajah gadis itu kali ini. Bagaimana jika gadis itu tahu bahwa Him Chan yang memintanya untuk menemani gadis itu makan untuk siang ini? Yong Guk membuang nafasnya perlahan. Ia menatap gadis itu menyesal.

“Aku tahu bahwa Him Chan oppa tengah bersama Hyo Sung unni saat ini. Dan untuk beberapa hari yang lalu, juga sama,” ucap Yoo Ji Ah pelan. Ia kemudian menatap laki-laki yang daritadi memandangnya. Laki-laki itu tertunduk. Benar seperti dugaannya, laki-laki itu sebenarnya tahu dimana Him Chan berada, namun berpura-pura seakan ia tidak tahu.

“Jika Him Chan oppa tak mau kuganggu, maka aku tak akan mengganggunya,” imbuhnya kali ini. Benar, jika laki-laki memang tak ingin ia ganggu, maka ia akan berusaha tak akan mengganggunya. Meski itu terasa sangat berat, tapi itu yang diinginkan laki-laki saat ini kan?

Yoo Ji Ah mengusap matanya yang tiba-tiba terasa pedih entah kenapa. Ya, bagaimana ini? Apa ia bisa melakukannya?

“Ish!” rutuk seorang laki-laki yang setidaknya hampir membeku kali ini. Ia memandang jalanan yang setidaknya masih sepi. Tak ada orang dan ia rasa ia akan mati membeku di sini.

Ia memukul cap moobil miliknya kasar. Mentalnya sedang diuji sekarang. Bagaimana bisa temannya dengan mudah meminta dirinya untuk menjemput temannya atau siapalah, ia tak peduli dengan itu.

Kini ia terjebak di sebuah jalan yang begitu sepi dengan mobil persetan yang entah kenapa mogok tiba-tiba. Ia yakin, ia telah memeriksa mesinnya sebelum ia berangkat, tapi sekiranya itu tak berarti apa-apa.

“Him Chan, setelah ini kau akan mati,” rutuknya sekali lagi. Ia membuka pintu depan mobilnya dan memasuki mobilnya. Hari itu begitu dingin, dan ia yakin ia pastinya akan mati kali ini. Ia menatap ponselnya yang sepertinya bersekutu dengan iblis atau entah apa yang membuatnya terjebak di jalan di musim begitu dingin seperti ini. Musim dingin di malam hari. Lalu bagaimana dengan teman Him Chan yang berada di bandara saat ini? Argghh. Apa pedulinya?

Ia membenturkan kepalanya pada benda bendar si pengendali mobilnya. Apa yang bisa ia lakukan sekarang? Menunggu seseorang datang untuk menjemputnya? Tapi apa mungkin? Ia dapat pastikan orang-orang lebih memilih berselimut dengan tenang di rumah mereka daripada berada di luar seperti dirinya. Ia membuang nafasnya kesal. Lalu kenapa tadi dengan mudah ia mengiyakan permintaan temannya tersebut dan sekarang ia menyesalinya?

Laki-laki itu mendongakkan kepalanya saat setidaknya seseorang mengetuk kaca pintu mobilnya. Remang lampu setidaknya tidak membantu dirinya melihat ke arah luar. Ia kemudian memutuskan untuk keluar dari mobilnya. Ya, setidaknya seorang gadis yang telah mengetuk pintu kaca mobil miliknya.

“M-maaf,” ucap seorang gadis kiranya yang melangkahkan kakinya beberapa langkah ke belakang saat melihat jelas siapa pengendara mobil. Laki-laki itu mengernyitkan dahinya tak mengerti.

“K-kau teman Him Chan oppa?” tanya gadis itu kali ini. Wajahnya sedikit ketakutan saat ini, entah apa alasannya.

“Ya, benar. Ada apa?”

Setidaknya bulu kuduk gadis itu meremang saat ia mendengar suara berat dan terkesan menakitkan dari laki-laki itu, namun gadis itu dapat menaklukkan ketakutannya dengan sangat baik.

“H-him Chan oppa, takut jika kau tersesat. Jadi ia memintaku untuk menaiki taxi dan mencarimu. Aku telah meminta supir taxi untuk menghubungi mobil derek. J-jadi…”

Gadis itu menarik nafasnya dan menghembuskannya kembali. Setidaknya mantel miliknya membuatnya susah untuk berbicara, ya mantelnya begitu tebal dan hampir menutupi seluruh bibirnya saat ini.

“J-jadi aki bisa pulang denganmu dengan taxi, sedangkan mobilmu akan dibawa mobol derek menuju bengkel terdekat,”imbuh gadis itu kali ini.Laki-laki itu membuang nafasnya lega. Baiklah ia selamat kali ini. Dan untuk seorang teman yang tega memintanya untuk berada di luar, awas saja, pikirnya dalam hati. Kenapa bukan dia saja yang berada di luar dan merasakan penderitaannya?

Laki-laki itu menatap gadis yang sedari tadi berdiam diri tanpa sepatah katapun yang berada tepat di sampingnya. Ya, bahkan tanpa sepatah kata saat mereka menaiki taxi. Mantel tebalnya, membuat wajah gadis itu tak teelihat sepenuhnya. Laki-laki itu membuang nafasnya bosan.

Laki-laki itu lalu mengalihkan pandangannya pada seat belt yang belum ia kenakan, kemudian ia menggunakan seat belt miliknya. Ia lantas menatap gadis itu yang setidaknya masih berdiam diri.

“Kau tidak menggunakan seat belt milikmu?” tanya laki-laki itu mulai memecah keheningan. Dengan kegugupan yang dirasakan gadis itu, ia memasang seat belt di bangku miliknya-yang sekiranya tak bersahabat-hingga sepertinya ia gagal untuk memasangkannya. Laki-laki itu tersenyum tipis atas tingkah gadis itu.

Laki-laki itu kemudian mengulurkan kedua tangannya melewati tubuh gadis itu, guna meraih seat belt yang terasa sangat jauh dari jangkauannya. Menyilangkan seat belt tersebut pada tubuh gadis itu sebagaimana mestinya. Ia tahu, bahwa gadis itu mungkin saja menahan nafasnya ketakutan. Tapi ia tak peduli.

“Sudah,” ucap laki-laki itu singkat. Ia tertawa begitu ia melihat wajah gadis itu yang begitu pucat karena ketakutan. Mendengar tawa laki-laki itu, gadis tersebut tersenyum kikuk.

Laki-laki tersebut mengembangkan senyumnya, ia kemudian mengulurkan sebelah tangannya pada gadis itu, dan berkata, “Bang Yong Guk imnida, kau?”

Gadis itu mengatur nafasnya sejenak, ia kemudian menurunkan mantelnya yang sekiranya menutupi sebagian wajahnya. Ia kemudian juga ikut mengembangkan senyumnya.

“Yoo Ji Ah imnida,” ucapnya meraih tangan laki-laki itu. Untuk sejenak laki-laki itu terdiam dan tak mengalihkan pandangannya. Untuk sejenak entah kenapa ia menahan nafasnya. Entah kenapa aura gadis itu terasa hangat, dan bagaimana bisa tangan gadis itu terasa begitu hangat bahkan di musim dingin?

Yong Guk melepaskan genggaman tangannya, dan kini ia dspat bernafas dengan lega. Sebwnarnya, ada apa dengan dirinya?

Bang Yong Guk mengembangkan senyumnya saat ini. Ya, bagaimana ia melupakan saat dimana ia sadar bahwa ia menyukai gadis itu bahkan sejak pertama kali ia bertemu dengan gadia itu? Yong Guk mencoba menghentikan senyumnya yang terus saja berkembang.

Seperti sebuah keajaiban yang baru, ia dapat menghabiskan waktu lebih sering dengan gadis itu sekarang. Sekiranya, Him Chan telah memberikan kesempatan lebih untuknya menemui gadis tersebut. Dan itu merupakan hal baik untuknya.

Hari ini, ia akan menjemput gadis itu dan mengantarnya pada perusahaan dimana ia bernaung. Seperti biasa, ia akan melakukan training tiap harinya. Dan kini, sepertinya ia akan menjadi seorang supir pribadi gadis itu mulai sekarang.

Bang Yong Guk terkekeh pelan. Oh ayolah, ia tak pernah sebahagia ini sebelumnya. Ia menatap cermin yang berada tak jauh dari dirinya. Dengan ketangkasan yang cukup, ia dapat bercermin dengan baik meski benda bundar tengah ia kendalikan. Ia tertawa lepas setidaknya wajahnya nampak konyol saat tersenyum. Ia teringat saat gadia itu mengatakan bahwa ia terlihat sangat menyeramkan saat pertama kali mereka bertemu.

itu memang benar. Ia tahu bahwa semua orang akan berpikiran demikian saat pertama kali mereka bertemu dengannya. Wajah layaknya seorang antagonis atau seorang terorist mungkin, tapi ia tidak sepenuhnya seperti itu. Ia adalah orang yang bahkan dapat terbilang sangat konyol saat ia tertawa. Kelima temannya selalu mengatakan hal tersebut.

“Baiklah,” ucapnya kali ini. Ia memperlambat laju kendaraannya saat ia tahu bahwa flat gadis itu tak jauh lagi. Ia menghentikan laju kendaraannya saat ia yakin bahwa ia berada tepat di depan flat milik gadis itu. Bang Yong Guk meraih ponsel miliknya dan menekan nomor yang entah sejak kapan ia mengingatnya, namun tak ada jawaban. Sekali lagi ia menekan tanda ‘panggil’ pada ponselnya, namun hasilnya tetap sama. Dimana gadis itu sekarang?

Dengan tanpa ragu, ia kemudian memasuki bangunan flat tersebut. Ya, ia pernah berada di sana sebelumnya, tak susah untukknya untuk menemukan dimana tepatnya gadis itu tinggal, namun langkahnya terhenti, saat ia melihat keadaaan pintu flat gadis itu.

Sebuah boneka teddy bear tanpa kepala berada di knok pintu, cairan merah setidaknya sekali lagi pelengkap. Yong Guk dapat merasakan bahwa dadanya terasa sesak saat ia tak sengaja melihatnya.

Apa dia baik-baik saja? Ia kembali menekan nomor gadis itu sekali lagi, namun tak ada jawaban. Baiklah, dimana gadis itu sekarang? Ia kemudian memutar tubuhnya cepat dan berlari sekuat tenaga.

Yoo Ji Ah menggigit bibirnya. Entah kenapa, ia tak bisa berlari sekuat tenaga dan kini sekan pasrah dengan beberapa gadis yang mengejarnya haribini. Gasis yang menatapnya dengan tatapan kebencian. Ia yakin, ia tak melakukan apapun yang salah. Ia yakin itu, tapi mereka tak akan pernah mendengar apa yang akan ia jelaskan.

Yoo Ji Ah melangkahkan kakinya ke belakang sekali lagi, namun sekiranya dunia tak berpihak padanya. Ia terkepung sekarang dan ia tak akan bisa kemana-mana lagi. Suara ponsel yang berada di tas jinjing miliknya sedari tadi berbunyi, ia inhin mengangkatnya dan ingin mengatakan bahwa ia ketakutan sekarang dan mungkin akan mati kaki ini, namun ia tak punya keberanian seperti demikian.

Ia tahu bahwa air mata yanh entah keberapa kalinua membasahi pipinya telah mengering kali ini. Suaranya parau, entah kenapa. Ia tahu, rasa takutnya tak bisa ia hilangkan.

“Ada apa unni? Apa kau ingin menangis lagi? Menangislah!” ucap salah satu gadis dengan kejamnya. Yoo Ji Ah tak bisa membela diri. Ia kalah telak Ia sendirian, tak ada yang mau menolongnya. Ia berada pada sebuah gang kecil yang memang berada sangat jaub dari jalan. Ia yakin, suaranya tak bisa ia andalkan kali ini. Mulutnya bergetar, ia bisu seketika.

“Kami sudah memperingatkanmu untuk tidak mendekati Him Chan oppa, tapi kenapa kau tak mau dengar?” ucap gadis lain yang tak kalah menakutkannya. Baiklah, mereka memang lebih muda darinya, tapi entahlah ia tak bisa berbuat apa-apa.

“T-tapi, kami memang hanya berteman…” ucap Yoo Ji Ah yang mencoba mengendslikan rasa takutnya. Semua gadis yang berads di hadapan dirinya, tertawa lepas. Sungguh, jika ia bisa, ia ingin melarikan dari sini.

“Namun sayangnya, kami terlanjur membencimi dan ingin melenyapkanmu,” ucap salah satunya lagi. Mereka tetap memberikan tatapan seolah mereka ingin Yoo Ji Ah lenyap. Yoo Ji Ah menahan tangisnya. Demi Tuhan, ia merasa ketakutan. Ia tadinya memerjang gadis-gadis itu untuk melarikan diri, namun usahanya gagal. Gadis-gadi itu semakin kasar terhadapnya, bahkan mendoromg dirinya hingga membentur dinding.

Gadis-gadis tersebut mengeluarkan beberapa telur busuk dari salah satu ransel milik salah satu gadis. Dengan tatapan yang sangat menakutkan mereka bersiap untuk melemparkannya pada Yoo Ji Ah.

“Jangan merasa kau yang paling cantik!” ucap salah seorangmya dan melempar telut busuk tersebut hingga mengenai bahunya. Yoo Ji Ah mencoba mengindar namun, ia tak bisa. Beberapa lemparan lain ia juga terima. Yoo Ji Ah sempat meminta mereka untuk menghentikannya, sempat dirinya berteriak, namun tak ada yang menghiraukannya.

“Hentikan!”

Gadis-gadis itu serentak menghentikan aksinya dan mengalihkan pandsngannya pada sumber suara. Mata mereka membulat seketika saat melihat siapa yang mencoba mengehentikan mereka. Mereka tertunduk dan bahkan tak bisa melakukan apapun.

Yoo Ji Ah memandang laki-laki yang menatapnya khawatir. Laki-laki itu kemudian menyelimutkan mantel miliknya pada tubuhnya. Yoo Ji Ah tersenyum lemah saat laki-laki itu melakukannya. Ia memaksakan dirinya untuk berdiri tegak, memastikan bahwa ia sebenarnya baik-baik saja. Namun, tubuhnya tak bisa bersahabat kini. Ia terlalu lemas.

“Kau kemana saja Yong Guk oppa?” ucapnya lemas. Laki-laki itu mengusap wajah gadis itu yang setidsknya sedikit berdarah akibat kulit lemparan-lemparan sebelumnya. Yoo Ji Ah menyunghingkan kedua ujung bibirnya, ia yakin kini ia selamat. Ia membiarkan kedua matanya yang terasa berat untuk tertutup, hingga kesadarannya menghilang sepenuhnya.

Yoo Ji Ah mematikan keran shower miliknya, ia lalu mengeringkan tubuhnya dengan sebuah kain handuk yang telah ia sediakan sebelumnya, kemudian mengenakan pakaian miliknya. Sebenarnya, ia selalu mengenakan jubah mandi setelah ia mandi, tetapi tidak untuk kali ini. Setidaknya seorang laki-laki berada di dalam flat nya. Dan dirasa kurang sopan, jika ia mengenakannya.

Yoo Ji Ah berjalan menuju cermin yang berada si kamar mandinya. Ia menatap luka memar yang berada di dahinya. Ia meringis saat sekiranya salah satu jemarinya ia sengaja letakkan pada luka tersebut. Tak terlalu parah, menurutnya. Ia kemudian mengamhil sebuah plester pada rak obat yang berada di dalam kamar mandinya, dan meletakkannya begitu saja. Ia menarik nafasnya dan menghembuskannya sekali lagi.

Embun-embun yang menutupi sebagian cerminnya, membuat bias dirinya begitu buram. Ia kemudian membersihkan embun-embun tersebut dengan tangan kosong. Hari ini hari yang begitu berat untuknya. Ya, jika saja, jika saja laki-laki yang kini tengah menunggunya di ruang tamu kini, tak mencarinya, ia yakin ia bisa saja mati karena serangan jantung akibat tekanan yang diberikan gadis-gadis itu tadi.

Ia menggigit bibirnya. Ia tahu, setelah ini, ia akan dihujani beberapa pertanyaan oleh pria itu, mengingat tadi ia terlihat begitu khawatir saat membawa dirinya menuju rumah saki, namun dirinya meminta laki-laki itu untuk mengantarnya menuju flat miliknya. Ia tak mau laki-laki itu terligat khawatir lagi. Cukup untuk hari ini ia merepotkan laki-laki itu, meski laki-laki itu dengan senang hati menolongnya. Yoo Ji Ah menarik nafas dalam-dalam, hingga ia memaksakan kedua ujung bibirnya terangkat. Ya, dengan begini, laki-laki itu tak akan khawatir lagi terhadapnya.

Ia kemudian melangkahkan kakinya keluar. Seperti yang ia duga, laki-laki itu kembali sigap dan kemudian beranjak dari sofanya. Yoo Ji Ah hanya menggeleng perlahan, sebagai instruksi bahwa laki-laki itu tak perlu menolongnya. Ia kemudian menduduki sofa dimana laki-laki itu duduk tanpa sepatah kata. Ia tak mau memulai pembicaraan kali ini, karena entah apa yang harus ia bicarakan dengan kondisi yang memalukan ini.

“Kau yakin kita tak perlu pergi ke rumah sakit?” tanya laki-laki itu terlihat cemas. Yoo Ji Ah menyunggingkan senyumnya sekali lagi sebelum ia menggelengkan kepalanya perlahan. Ia hanya perlu menunjukkan bahwa ia baik-baik saja, dengan begitu laki-laki itu tak perlu cemas.

Namun sekiranya kekhawatiran laki-laki itu belum sirna juga. Kepalan tangannya semakin menguat saat sebuah plester di dahi gadis itu menarik perhatiannya. Bodoh, pikirnya. Jika saja ia tidak terlambat untuk menjemput gadis itu, jika saja ia dengan cepat menolong gadis itu, ini semua tak akan terjadi.

“Apa kau yakin kita tidak usah melaporkan mereka ke polisi?

Yoo Ji Ah kini menatap laki-laki yang berada tak jauh darinya.

“Tidak. Bukankah mereka adalah penggemar kalian? Bagaimana bisa kau membuatnya masuk penjara?”

“Tapi apa yang mereka lakukan terlalu berlebihan,” intonasi laki-laki itu semakin tinggi kiranya. Sempat bulu kuduk gadis itu meremang, ia kemudian menundukkan kepalanya. Ia rahu, laki-laki itu kini geram.

“Karena mereka terlalu mencintai kalian, maka mereka melakukannya,” jawab Yoo Ji Ah yang tetap menjaga intonasi suaranya. Ia kemudian mengembangkan senyumnya yang terkesan lesu. Meski ia sakit hati, namun ia dapat merasakan apa yang dirasakan gadis-gadis itu. Ya, sebuah perasaan dimana ia tak mau kehilangan orang yang mereka sukai dan bahkan cintai. Yoo Ji Ah menggigit bibirnya. Ya, seperti dirinya yang tak mau kehilangan Kim Him Chan.

Yong Guk membuang nafasnya kasar. Tempramennya belum turun juga. Ia geram, itu sudah pasti. Karena ia tak mau melihat orang yang disukai menderita seperti sekarang ini. Ia akan merasa menjadi orang yang paling buruk karena tak mampu melindunginya.

“Oppa, kau tak memberitahu Him Chan oppa bukan?”

Yong Guk kembali menatap gadis yang kini juga menatapnya. Wajahnya seakan memelas. Di saat yang seperti ini, ia bahkan tetap menanyakan laki-laki itu. Laki-laki yang bahkan terkesan tak peduli terhadap gadis itu. Laki-laki yang sekiranya sibuk dengan keperluannya sendiri.

“Aku… aku tak mau ia khawatir karenaku,” imbuh gadis itu dengan senyum yang terkesan payah. Yong Guk tak menyukai senyum itu. Sangat. Mereka sempat berdiam diri, sehingga suasana flat tersebut kembali sepi. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Maafkan aku,” ucap laki-laki itu dengan suara berat miliknya. Ada rasa penyesalan di dalam suaranya. Yoo Ji Ah kembali menatap laki-laki itu. Ia kembali tersenyum singkat. Ya, itu bukan sepenuhnya salah laki-laki itu. Bahkan ia sangat berterima kasih karena laki-laki itu menolongnya.

“Tak perlu. Aku yang harusnya berterima kasih,” ucap Yoo Ji Ah yang entah kenapa bergetar. Seharusnya, bukan laki-laki itu yang menolongnya, karena itu bukanlah tanggung jawabnya. Seharusnya, laki-laki itu yang bahkan tak pernah menghubungi tersebut yang seharusnya berada di sini.

Mencemaskannya, dan memastikan bahwa ia baik-baik saja. Ya, laki-laki itu berjanji pada kedua orang tuanya saat gadis itu berada di Korea, ia berjanji untuk menjaganya, memastikan dirinya baik-baik saja. Namun, dimana laki-laki itu sekarang?

Yoo Ji Ah memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sesak, hingga ia benar-benar tak bisa mengontrol nafasnya. Matanya terasa begitu panas saat ini. Hingga beberapa bulir bening mulai berjatuhan di kedua pipinya. Ia mencoba menutupi mulutnya dengan sebelah tangan, mencoba menahan tangisnya, namun tak bisa. Ini terlalu menyakitkan untuknya.

Yong Guk membuang nafasnya saat gadis itu mulai terisak. Ia beranjak dari tempat dimana ia duduk dan meraih tubuh yang lebih kecil darinya tersebut. Memeluk tubuh tersebut erat, meneggelamkan kesedihan gadis itu di dadanya. Ia dapat merasakan bagaimana gadis itu ketakutan saat itu. Dan ia bersumpah tak ingin melihatnya lagi.

Isakan gadis itu tak berhenti disitu saja. Setidaknya semakin menjadi. Yong Guk mengusap punggung gadis itu untuk sejenak. Berharap isakannya perlahan menghilang. Ia mempererat pelukannya, menyandarkan kepala gadis itu di dadanya. Ia tersenyum tipis, meski hal itu terasa payah, kemudian ia berkata, “Aku berjanji akan selalu melindungimu. Jadi, tetaplah berada di dekatku,”

Suara berat laki-laki itu sempat terdengar oleh Yoo Ji Ah. Dalam isakannya, ia dapat bernafas lega kini. Setidaknya, ia merasa benar-benar aman oleh rengkuhan laki-laki itu. Ya, setidaknya tanpa kehadiran laki-laki itu. Kim Him Chan.

Jika kau ingin aku menghindarimu, maka aku akan menghindarimu, meski kutahu itu akan berat untukku. Tapi ijinkan aku melakukannya.

Yoo Ji Ah memilih sebuah nama kontak yang ada di dalam ponselnya. Ia menghirup nafas dalam-dalam sebelum ia mengetikkan sebuah pesan, namun berulang kali ia menghapusnya kembali. Ia mengetikkan kembali isi pesan yang sedari tadi yang ada di pikirannya, namun ia saat ia akan mengirimkan pesan tersebut, ia mengurungkan niatnya kembali. Ia membuang nafasnya berat.

Baiklah, untuk apa ia menghubungi laki-laki itu lagi? Laki-laki yang bahkan untuk beberapa minggu ini tak pernah menemuinya juga menghubunginya lagi. Yoo Ji Ah menyunggingkan senyumnya lesu.

Sudahlah Yoo Ji Ah. Bukankah ia telah berjanji untuk menghindar? Berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan laki-laki itu?

Yoo Ji Ah menutup matanya perlahan, sejenak ia menghirup bau hujan hari itu. Benar, saat ini hujan tengah mengguyur Seongsandong begitu derasnya. Setidaknya sebagian dari bajunya telah basah akibat air hujan.

Hari ini setidaknya ia telah memutuskan untuk berhenti melakukan masa training-nya. Ya, ia bermaksud untuk menghentikan masa traning-nya yang seakan tak berarti apa-pa sejak beberapa tahun yang lalu. Seharusnya ia mendengarkan apa yang dikatakan kedua orang tuanya untuk tidak bertolak ke Korea dan mengikuti permintaan mereka untuk mengerjakan studinya di Stanford. Andai saja ia tidak dibutakan oleh laki-laki itu. Laki-laki yang bahkan seakan tak peduli akan dirinya lagi.

Ia tahu, ia akan dianggap sebagai pecundang yang kalah perang, dan tak mendapatkan apapun dari beberapa tahun yang seakan terbuang sia-sia selama ini. Ya, dahulu, mungkin lebih tepatnya beberapa hari yang lalu, ia memiliki sebuah mimpi yang terasa begitu konyol. Sebuah mimpi untuk menjadi seorang selebriti demi pantas untuk berada di sisi seorang laki-laki itu. Ia benar-benar egois saat itu, hingga ia tak memperdulikan apapun kekhawatiran yang diberikan kedua orang tuanya dan tetap pergi menuju Korea, hanya untuk selalu berada di sisi laki-laki itu, meski pada kenyataannya tak mungkin.

Yoo Ji Ah membuang nafasnya berat. Sebuah bangunan di seberang jalan, merupakan tempat yang paling sering ia kunjungi. Di sana, ia juga memperoleh banyak teman, begitu banyak pelajaran, juga pengalaman. Ya, tempat dimana ia menjalani masa training-nya selama ini. Ia pastinya akan merindukan tempat itu nantinya. Apakah ia menyesali keputusannya? Tidak. Ia telah memikirkan matang-matang apa yang ia putuskan kali ini. Ia tahu, keberuntungannya tidak begitu baik, karena dewi fortuna tak berada di pihaknya saat ia berada di Korea. Ia akan merepotkan banyak orang di sini dan setidaknya ia akan mulai memenuhi permintaan orang tuanya untuk pulang secepatmya ke San Fransisco dan memulai studinya di Stanford seperti apa yang diminta orang tuanya.Suara mesin mobil tertangkap pada kedua telinganya. Ia tersenyum tipis saat setidaknya sebuah mobil yang amat ia kenal berjalan perlahan di hadapannya dan memutuskan untuk berhenti tepat di hadapannya. Seseorang terlihat keluar dari mobil tersebut dengan sebuah payung pada salah satu tangannya. Yoo Ji Ah beranjak dari bangkunya saat laki-laki itu berjalan menuju dirinya. Ia juga mengembangkan senyumnya saat mereka bertatap, namun laki-laki itu tak membalas senyumnya. Wajahnya entah kenapa terlihat begitu cemas. Memang, laki-laki itu sering mencemaskannya, ia tak keberatan untuk hal itu, ia merasa senang karena laki-laki itu menghawatirkannya. Tapi, mungkin laki-laki itu mambaca pesannya dengan cara pandang yang salah, hingga membuatnya cemas seperti demikian.

Yoo Ji Ah tak perlu khawatir, ia telah menyiapkan segala jawaban untuk setiap pertanyaan yang akan diberikan laki-laki itu nantinya.

Yoo Ji Ah tak membuka mulutnya sejak beberapa menit yang lalu. Ia menatap laki-laki yang sedang terfokus pada benda bundar yang ia pegang. Ia mengembangkan senyumnya menghadap laki-laki itu, seakan menunggu pertanyaan yang akan diberikan laki-laki itu padanya. Wajah cemasnya tak menghilang sampai saat ini, hingga membuat gadis itu tertarik untuk menggodanya.

“Apa?” tanya laki-laki itu sedikit ketus. Yoo Ji Ah tertawa kceil menanggapinya. Laki-laki itu membuang nafasnya malas. Apa gadis itu tak tahu bahwa ia mencemaskannya? Dan sekarang, gadis itu seolah tengah bermain dengan pikirannya?

Yoo Ji Ah memang terbiasa dengan kehadiran laki-laki itu. Laki-laki yang berjanji untuk melindungiya tersebut, membuat dirinya aman selama ini. Ia tahu, sesuatu yang lain tengah dirasakan laki-laki itu padanya. Ia tak mengelaknya, ataupun menolaknya. Ia sangat menghargai perasaan laki-laki itu. Maka, ia berusaha untuk menjaga perasaan laki-laki itu hingga sekarang. Beberapa minggu, kehadirannya membuat dirinya merasa lebih baik tiap harinya, menggantikan laki-laki yang kini entah bagaimana kabarnya, Kim Him Chan.

“Jelaskan aku tentang semuanya,” ucap laki-laki itu kali ini.

Yoo Ji Ah menghirup nafasnya perlahan sebelum ia berkata, “Aku telah memikirkan hal ini jauh-jauh hari, dan aku memikirkannya dengan matang,”. Ia kembali menyunggingkan senyumnya. Yong Guk, sang laki-laki menatap gadis yang berada di sampingnya. Masih dengan tatapan kecemasan, namun ia tak menangkap kesedihan atau penyesalan pada raut wajah gadis itu. Dan ia merasa lega setidaknya sekarang.

“Aku akan kembali ke San Fransisco secepatnya. Kurasa aku harus mendengarkan apa yang dikatakan orang tuaku jauh-jauh hari. Aku akan memulai studiku di Stanford,” imbuh gadis itu dengan intonasi yang merendah. Yong Guk meraih pucuk kepala gadis itu dan mengacak rambut gadis itu asal. Gadis itu berteriak seakan tak terima dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki itu padanya, namun gelak tawa setidaknya terdengar di dalam mobil tersebut setelahnya.

“Kau tidak memberitahunya tentang ini?”

Yoo Ji Ah tak menjawab. Ia tahu, bahwa laki-laki itu sekali lagi membicarakan laki-laki yang telah lama menghindarinya tersebut. Yong Guk tahu ia salah saat menanyakan hal tersebut. Jawaban yang ia dapat akan sama saja seperti pertanyaan yang ia tanyakan sebelumnya, yaitu diam. Yong Guk menghirup nafasnya dalam-dalam saat pikirannya telah terusik kali ini. Jika gadis itu memutuskan untuk pergi ke San Fransisco, itu berarti kecil kemungkinan untuk mereka bertemu satu sama lain. Itu artinya gadis itu meninggalkannya. Yong Guk menatap gadis yang masih terdiam tersebut.

“Kau akan meninggalkanku?” tanya laki-laki itu yang kali ini serius. Yoo Ji Ah menahan nafasnya saat laki-laki itu menanyakan hal tersebut. Ia terdiam sejenak. Benar. Apa yang dikatakan laki-laki itu memang benar. Ia sengaja pergi dari Korea hanya untuk menghapuskan semua memorinya dan kenaifan dirinya, dan memulai hidupnya sebagaimana mestinya.

“Aku telah merepotkanmu selama ini, kurasa aku harus menghentikannya sebelum aku membuatmu terganggu. Lagipula, tabunganku hampir habis, jadi kurasa kembali adalah satu-satunya pilihan,” Yoo Ji Ah mengubah intonasi suaranya. Ya, kali ini suaranya terdengar lebih ceria. Yong Guk sama sekali tak merespon kalimat barusan. Wajahnya terlihat serius kali ini. Mereka terdiam sejenak.

“Jika kau butuh tempat tinggal, maka kau bisa tinggal di rumahku, jika kau lapar, aku tak segan memberimu makanan, jika kau membutuhkan sesuatu, aku bisa memberikannya padamu…”

Yong Guk menghirup nafasnya yang entah terasa susah kali ini. Yoo Ji Ah tak menanggapi hal itu kali ini. Keduanya terdiam sekali lagi. Suara hujan setidaknya menjadi penguasa hari ini.

“Aku membutuhkanmu…” imbuh laki-laki itu pelan. Yoo Ji Ah menggigit bibirnya. Ia tahu, akan seperti ini jadinya. Ia tahu bahwa laki-laki itu memiliki perasaan terhadapnya. Ia tahu, apapun yang dilakukan laki-laki itu padanya tulus, ia juga merasa aman bila berada di sampingnya, namun bisakah ia memiliki perasaan yang ia miliki dulu terhadap Him Chan hanya untuk laki-laki yang ada di sampingnya tersebut?

Yoo Ji Ah menutup matanya. Ia membiarkan suara hujan menguasai dirinya dan laki-laki itu sekali lagi. Bukan. Perasaan yang ia miliki untuk Him Chan bukan perasaan yang ia miliki dulu, tapi hingga kini.

Yoo Ji Ah memperhatikan beberapa sepatu yang ada pada etalase di hadapannya. Ia meraih sebuah sepatu dan memperhatikannya dengan baik. Kemudian ia berpikir sejenak, apa ukuran sepatu tersebut pas?

“Ada yang bisa saya bantu, nona?”

Yoo Ji Ah memutar tubuhnya, ia mengembangkan senyumnya setelah ia menyadari seorang gadis lain berada di belakangnya. Ia mengangguk pelan.

“Apakah sepatu ini hanya memiliki ukuran ini saja?” tanya Yoo Ji Ah sembari memperlihatkan sepatu yang ia genggam pada pegawai tersebut.

“Ada, saya kira ada ukuran yang lebih besar. Ukurannya tepat satu diatas ukuran ini,”

“Oh baiklah, aku akan mengambil ukuran tersebut,” ucap Yoo Ji Ah dengan yakin. Ya, sepertinya sepatu tersebut akan pas untuk laki-laki itu. Bang Yong Guk. Yoo Ji Ah sengaja membelikan laki-laki itu sepasang sepatu yang baru, karena ia tahu bahwa laki-laki itu sama sekali tak pandai dalam memilih sepatu. Oh ayolah, dia selalu mengenakan sepatu usangnya kemanapun, kecuali saat laki-laki harus berada di panggung.

Selain itu, sepasang sepatu baru yang ia beli ini adalah salah satu bentuk terima kasihnya atas segala kebaikan yan diberikan laki-laki itu padanya selama ini. Ia tak tahu, apa sepasang sepatu adalah barang yang pas sebagai salah satu bentuk terima kasih.

“Nona, silakan membayarnya di kasir ujung sana,”

“Ah baiklah,” ucapnya cepat. Setidaknya ucapan pegawai tersebut membangunkannya dari lamunannya. Ia menatap digit-digit harga yang tertera pada layar mesin kasir. Ia membuang nafasnya pasrah, sekiranya sepasang sepatu dapat berharga begitu tinggi untuk saat ini. Yoo Ji Ah membuka dompet miliknya, ia kemudian memberikan kartu gesek miliknya.

“Maaf nona, saldonya tidak cukup,”

“A-ah iya, maaf,”

Yoo Ji Ah menggigit bibirnya. Ayahnya ternyata memegang apa yang dikatakannya sebelumnya. Bahkan sampai hari ini, pria itu tak memberikannya uang. Yoo Ji Ah membuang nafasnya berat, sesaat seelah beberapa lembar uang ia berikan pada petugas kasir tersebut. Baiklah Yoo Ji Ah, kau tak bisa menjadi seseorang yang pelit untuk orang yang selama ini baik kepadamu bukan?

Yoo Ji Ah berjalan menuju luar pusat perbelanjaan dengan sebuah kantung berukuran cukup besar pada salah satu tangannya sekarang. Ia menatap kantung tersebut puas. Ia yakin, laki-laki itu akan sangat senang dengan sepatu yang ia berikan nantinya.

Ia menghentikan langkahnya saat ia kini benar-benar berada di tepi jalan. Ia kemudian meraih ponsel miliknya yang berada di dalam tas jinjingnya. Ia kemudian dengan sebuah senyum di wajahnya, menekan nomor yang kini mulai ia hafal. Ia kemudian menempelkan ponsel tersebut pada telinganya, menunggu seseorang mengangkat panggilan darinya.

Namun sesaat setelah nada terhubung mulai terdengar, matanya tertuju pada seorang laki-laki dengan sebuah masker di wajahnya tengah berjalan di seberang jalan. Yoo Ji Ah yakin ia mengenal laki-laki itu. Ya, ia sangat hafal dengan laki-laki itu bahkan wajahnya tak terlihat. Yoo Ji Ah menggigit bibirnya, sesaat seorang gadis bermasker tengah berjalan tepat di belakang laki-laki itu mengikutinya.

Yoo Ji Ah menahan nafasnya. Ia tahu bahwa laki-laki itu adalah Kim Him Chan sedangkan gadis itu mungkin kini menjadi seorang kekasihnya. Benar, mereka sedang berkencan dan kini tengah menyembunyikan diri mereka dari paparazzi. Oh apakah ini yang selama ini laki-laki itu lakukan? Yoo Ji Ah mencoba mengatur nafasnya kembali sesaat ia merasakan dadanya terasa begitu sesak kembali. Meski ia berusaha untuk menghapus bayangan laki-laki itu dalam pikirannya, namun melihatnya sekali lagi sama dengan menyakitinya.

“Ji Ah? Kau disana? Ji Ah?”

Yoo Ji Ah mengelengkan kepalanya, mencoba menyadarkan dirinya sesaat setelah suara berat laki-laki yang berada di telinganya memanggilnya namanya. Ia tersenyum lesu, ia kemudian berhenti memandangi laki-laki yang berada di seberang jalan menuju tempat lain.

“Ji Ah?” panggil laki-laki pemilik suara berat itu cemas. Yoo Ji Ah menghirup nafasnya dalam-dalam hingga ia mencoba mengembangkan senyumnya.

“Ne, Yong Guk oppa. Maaf, aku tidak mendengar suaramu tadi,”
Suara yang ada di seberang setidaknya lebih lega saat ia dapat mendengarkan suara gadis itu sekarang.

“Kau tahu, aku khawatir tadi,”

“Aku tidak apa-apa oppa. Oh ya, bisakah hari ini kita keluar bersama?” tanya gadis itu kali ini, namun entah kenapa ia kembali memutar tubuhnya mencari sosok laki-laki bermasker itu sekali lagi. Senyumnya meredup saat ia tak lagi menemukan sosok itu.

“Hari ini? Maaf, hari ini aku sibuk. Oh, bagaimana jika besok?”

“Besok?” tanya gadis itu mengulang. Ia takut bila laki-laki itu sadar bahwa ia kehilangan kefokusannya hari ini yang nantinya membuat laki-laki bertambah cemas.

“Ya, besok. Besok aku akan menjemputmu seperti biasa,”

“Baiklah. Aku harus pulang sekarang, sampai jumpa,” kata gadis itu mengakhiri panggilannya. Ia kemudian meletakkan kembali ponsel miliknya pada tas jinjingnya. Ia kembali menatap seberang jalan sekali lagi. Ya, setidaknya sosok laki-laki itu benar-benar menghilang kali ini. Kenapa ia mencari laki-laki itu? Bukankah ia telah berjanji untuk menghindari laki-laki itu?

Bodoh, umpatnya. Ia mungkin tak bisa melupakan laki-laki itu untuk saat ini, namun ia yakin setelah ia berada di San Fransisco, ia akan benar-benar melupakannya. Ya, ia berharap akan hal itu.

Advertisements

13 thoughts on “Where Are You , What Are You Doing?(1/2)

    1. kalo ttg yoo jiah ex-trainee woolim itu bener, tapi selain itu semuanya fiktif sayang 🙂 atau mungkin kbetulan sama hehe. yup, dtggu lanjutannya ya, gomawo 😀

      Like

  1. Annyeong author TS_sora jujur aku baca ini itu agak nyesek.. yoo jiah udah bela belain apapun demi himchan tapi himchamnya gitu.. sumpah ya ini nyebelin sekali..
    gk tau apa kalo jiah di teror terus sama fansnya BAP??
    Beneran ini menyakitkan thor kalo jadi yoo jiah, udah gitu himchan malah sibuk ngejar hyosung.. wkwkwk
    lanjutkan thor XD

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s