Friendship · One Shoot · Romance · sad

On Rainy Days


 

970

 

Title: On a Rainy Day

Author: ts_sora

Cast: Kim Seok Jin’s BTS, Choi Ji Hyun (OC)

Genre: sad, friendship, romance

Length: One-shoot

Disclaimer: This belongs to me and the cast belonhs to their company, except the OC one. No plagiarism juseyoo

A/N:  Terinsporasi dari beberapa lagu yaitu Beast – On rainy day juga G.Na – A bitter day dan lagu Lee Seung Gi yang saya lupa judulnya. Mungkin beberapa scene mengingatkan oleh beberapa serial drama mungkin, tapi jujur author belum pernah nonton drama yang memiliki jalan cerita seperti itu. hehe ‘-‘v Typo memang suatu kesengajaan.

 

—————————————————————————————————————

 

 

Choi Ji Hyun berlari kecil saat sekiranya hujan mulai membasahi tubuhnya perlahan tapi pasti. Suara gemericik air mulai terdengar memenuhi gendang telinganya. Ia tiba-tiba menghentikan langkahnya saat sebuah bangunan besar menyapa kehadirannya. Matanya bahkan tak berkedip sedikitpun untuk menatap bangunan tersebut.

 

‘Byunhee Junior High School’

 

Bangunan yang tak berpenghuni itu masih saja berdiri dengan kokohnya meski beberapa bagian darinya sudah menghilang. Seulas senyum entah kenapa terlihat dari bibir tipisnya tersebut, namun matanya entah terkesan nanar.

 

Hujan yang sekiranya masih tak bersahabat dengan dirinya tersebut, menuntunnya untuk berjalan menuju bangunan tua tersebut. Dengan langkah tanpa ragu ia menjajakkan kakinya menuju dalam bangunan tersebut.

 

Ia mengembangkan senyumnya. Ya, entah kenapa semua terasa begitu familiar untuknya meski ia tahu bangunan ini tak dapat ia katakan dalam kondisi yang baik. Bangunan yang terkesan pengap dan kotor tersebut menginginkannya untuk masuk.

 

Kini langkahnya terhenti tepat pada sebuah ruangan yang dapat dikatakan tak memiliki pintu. Ruangan tersebut terlihat gelap dan sunyi, namun suara gemericik hujan diluar seakan menghiburnya. Matanya masih menatap dalam ruangan tersebut tanpa ada sebuah niatan untuk menjelajahinya.

 

Ya, seakan sebuah ingatan. Ingatan yang memintanya untuk berada di sini seperti sekarang ini.

 

.

.

.

.

Tujuh tahun yang lalu. . .

 

 

 

Seorang gadis kecil berkuncir dua menghentikan kakinya tepat di hadapan sebuah pintu ruangan yang sengaja ditutup. Ia menarik nafasnya dalam, dan mengeluarkannya perlahan. Baiklah, ini hari pertamanya untuk berada di sekolah tersebut. Bukan sebagai tahun ajaran baru, melainkan ia adalah siswi pindahan dari kota yang dapat dikatakan cukup jauh dari sekolah dimana ia berada sekarang.

 

Ia lantas mengetuk pintu tersebut perlahan.

 

“Masuk,” ucap seseorang yang terdengar seperti seorang wanita dari balik pintu. Dan beberapa menit kemudian wanita tersebut benar membukakan pintu untuknya.

 

“Masuklah,” ucapnya begitu ramah. Gadis kecil itu mengangguk pelan. Ia lantas mengikuti langkah wanita itu untuk memasuki ruangan yang akan menjadi kelasnya tersebut.

 

“Baiklah perkenalkan dirimu,”

 

Gadis berkuncir dua itu pun menghirup nafasnya dalam-dalam. Belasan anak seusinya menatapnya heran. Ya, sebenarnya dapat dikatakan sangat terlambat untuk memasuki pertengahan semester. Dan hal tersebut membuat gadis tersebut canggung.

 

“C-Choi Ji Hyun imnida,” ucap gadis kecil itu malu-malu sedikit menundukan kepalanya. Ia menutup matanya. Entah kenapa ia terlalu takut untuk melihat respon anak-anak lain terhadapnya. Dan benar saja, semua anak melihatnya dengan pandangan heran.

 

Ji Hyun kecil membuang pandangannya ke lain arah. Jujur, ia tak menyukai diskriminasi yang ia rasakan saat ini.

 

“Baiklah kau bisa duduk—ah, di sana,” ucap sang guru dengan menunjuk sebuah bangku yang berada paling belakang. Dan sesaat, gadis kecil lain yang tengah duduk sendiri di bangku tersebut tersenyum menyapanya.

 

Namun, pandangannya tiba-tiba tertuju pada laki-laki yang berada di seberang bangkunya. Laki-laki yang terlihat sedikit menakutkan bahkan saat Ji Hyun menunjukkan senyumnya, laki-laki itu hanya berpaling. Baiklah, apa lagi yang akan ia alami di sini?

 

 

“Baiklah keluarkan tugas kalian,” ucap salah seorang guru kini berada di depan. Choi Ji Hyun meraih tas miliknya dan meraih buku miliknya, tapi–tunggu.

 

Choi Ji Hyun mengeluarkan semua buku miliknya dan meletakkannya di meja. Namun, buku yang sedari tadi ia cari tak ia temukan. Ia menggigit bibirnya ketakutan. Oh bagus Choi Ji Hyun baru dua minggu ia berada di sini, dan sekarang ia berani berulah.

 

“Ada apa?”

 

Choi Ji Hyun menatap teman sebangkunya ketakutan. Kemudian ia berbisik,

 

“Aku tak menemukan bukuku. Sungguh aku memasukannya di tas kemarin malam, dan sekarang aku tak menemukannya,” terangnya masih ketakutan. Rupanya sang guru memperhatikan percakapan antar keduanya.

 

“Ada apa Choi Ji Hyun?”

 

Choi Ji Hyun terkejut saat suara yang kini mulai familiar untuknya berada tak jauh darinya. Choi Ji Hyun menundukkan kepalanya kali ini.

 

“M-maaf P-park Seongsaenim. Sepertinya saya lupa membawa tugas saya,”

 

Sang guru berdehem cukup keras hingga semua orang yang ada di kelas tersebut dapat mendengarnya dengan begitu jelas. Choi Ji Hyun memaksakan kedua matanya tertutup, ia yakin jantungnya berdetak begitu cepat kali ini, dan sungguh ia ingin menangis hanya karena satu gertakan yang sebenarnya tak dapat dikatakan sebuah gertakan.

 

“Choi Ji Hyun-ssi, silakan keluar,”

 

Choi Ji Hyun menggigit bibir bawahnya sekali lagi. Ia hanya mengangguk perlahan dan berjalan menuju luar ruangan.

 

“Apakah ada di antara kalian seperti Choi Ji Hyun?”

 

Untuk beberapa detik mereka terdiam. Namun, seorang siswa menaikkan salah satu tangannya tepat sebelum sang guru kembali melanjutkan pelajaran.

 

“Kim Seok Jin? Apa kau juga tidak mengerjakan tugasmu semalam?”

 

“Maaf songsaenim, saya lupa mengerjakan tugas saya,”

 

Sang guru menggeleng perlahan, suara helaan nafas juga tak luput dari bibir sang guru kali ini.

 

“Baiklah, Kim Seok Jin, silakan keluar,”

 

 

Choi Ji Hyun menatap temannya yang kini berada di sampingnya sedikit heran. Ya, laki-laki bernama Kim Seok Jin sama sekali tak mengucapkan apapun sejak tadi dan itu membuatnya sedikit khawatir. Namun, Choi Ji Hyun mengalihkan pandangannya seketika laki-laki itu menatapnya.

 

Ya, memang aneh. Ia tahu ia adalah siswi baru, sedangkan laki-laki di sampingnya tidak. Meski ia tahu siapa nama laki-laki itu dan jarak bangku keduanya dapat dikatakan sangat dekat, tapi mereka tak pernah berbicara satu sama lain.

 

“Apa kau juga lupa membawa buku tugasmu?”

 

Kim Seok Jin menatapnya sebentar lalu mengangguk pelan. Dan itu saja. Choi Ji Hyun sedikit mendengus karenanya. Baiklah, di lain sisi ia senang karena seseorang menemaninya menjalani hukuman bersama. Yup, berada di lorong sekolah dengan posisi jongkok dan kedua tangan yang diharuskan terangkat.

 

Choi Ji Hyun menurunkan sebelah tangannya, Ya setidaknya ia butuh beberapa menit untuk beristirahat. Namun, ia kembali menaikkan kedua tangannya saat sang guru keluar dari ruangan dimana ia mengajar.

 

“Choi Ji Hyun-ssi, Kim Seok Jin-ssi,” ucapnya saat ia berada tepat di hadapan mereka berdua.

 

“Kalian boleh beristirahat sekarang,” lanjutnya yang disusul oleh nafas lega yang ditunjukkan oleh Choi Ji Hyun, kini keduanya serempak untuk menurunkan kedua tangannya dan beranjak dari tempat mereka.

 

“Tapi–“

 

Keduanya menahan langkahnya bersamaan saat sang guru menahan kepergian mereka berdua.

 

“Tolong kalian bersihkan kelas setelah jam pulang sekolah nanti,”

 

“B-baik Songsaenim,”

 

 

Choi Ji Hyun membuang nafasnya lega. Ia menghapus beberapa keringat yang ada di dahinya. Baiklah, setidaknya ia telah membersihkan kelas dengan sangat baik. Mungkin bukan dirinya sepenuhnya karena Kim Seok Jin juga ikut serta. Namun, sejak tadi laki-laki itu tak mengucapkan apapun.

 

Park Songsaenim bukan seorang guru biasa. Ya, sekali seseorang membuat kesalahan, ia akan membuat orang tersebut merasa jera akan apa yang telah dilakukannya. Dan Ji Hyun setidaknya sudah merasa seperti itu.

 

Choi Ji Hyun meletakkan penghapus papan tulis yang ia genggam dan meletakkannya pada meja guru. Matanya kembali liar seakan mencari sesuatu. Benar, laki-laki itu sudah tidak ada. Baiklah, laki-laki itu benar tak ingin mengucapkan apapun padanya saat ini

 

Choi Ji Hyun berniat untuk mengambil beberapa barang miliknya dan beranjak pergi karena waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore saat ini. Dan ia tahu, ia harus lekas pulang. Namun, langkahnya terhenti saat sesuatu menarik perhatiannya. Ya, sesuatu yang terlihat tengah bersembunyi pada salah satu kolong meja dekat meja miliknya. Ya, meja Kim Seok Jin. Mungkin barang laki-laki itu tertinggal di sana.

 

Tunggu.

 

Sebuah buku bersampul hijau tua terlihat begitu familiar untuknya.

 

“I-ini–”

 

Choi Ji Hyun hafal betul dengan buku tersebut. Ya, setidaknya itu adalah buku tugas yang seharusnya dikumpulkan laki-laki itu hari ini. Tapi, bukankaha laki-laki itu menjalani hukuman bersamanya? Dan bukankah tadi ia bilang bahwa ia juga lupa membawa tugasnya hari ini?

 

Choi Ji Hyun memasukkan beberapa barangnya asal ke dalam tas miliknya. Ia lantas membawa buku bersampul bewarna hijau tua tersebut untuk mengejar laki-laki tersebut.

 

Ia sempat kesusahan untuk mengejar laki-laki itu yang kini mulai menjauh darinya.

 

“T-tunggu–“

 

“Kim Seok Jin tunggu!” teriak Choi Ji Hyum di sela pacuan kakinya, namun sesaat setelahnya gadis tersebut kehilangan keseimbangan dan—

 

‘Bruak!’

 

Bagus. Kali ini Choi Ji Hyun terjatuh. Baiklah sedikit bodoh saat ia harus terjatuh saat ini. Tapi, demi Tuhan, ia jatuh begitu saja. Ia lantas berusaha bangkit dari posisi dimana ia terjatuh. Ia mendudukkan dirinya, membersihkan seragam yang ia kenakan dan bagus salah satu telapak tangannya terluka. Ia sedikit merintih karenanya.

 

“Namaku Kim Seok Jin,”

 

Choi Ji Hyun mendongakkan kepalanya, dan kini laki-laki itu tengah berdiri tepat di hadapannya dengan salah satu tangan yang sengaja diulurkan. Choi Ji Hyun terpaksa menutupi rasa sakitnya dan mencoba membalas uluran tangan gadis itu dengan tersenyum.

 

Baiklah, sebenarnya itu tak terlalu penting saat laki-laki itu mengenalkan dirinya, karena Choi Ji Hyun sudah mengetahui nama laki-laki itu bahkan tak perlu laki-laki itu memberitahunya.

 

“Berikan tanganmu,”

 

Choi Ji Hyun menyembunyikan telapak tangannya di balik punggungnya. Laki-laki itu mendengus pelan. Kini mereka tengah menduduki bangku pada salah satu pemberhentihan bus dekat sekolah mereka.

 

“Apa kau ingin lukanya memburuk?”

 

“T-tidak. T-tapi,”

 

Kim Seok Jin menarik tangan Ji Hyun yang terluka dengan terkesan sedikit terpaksa. Ji Hyun awalnya memberontak, namun apa yang ia bisa? Laki-laki itu tersenyum tipis melihat luka gadis itu yang sebenarnya tak seburuk dibandingkan dengan ekspresi-yang-sedikit-berlebihan yang ditunjukkan Ji Hyun tadi.

 

“Kau bilang ini sakit?” tanya Seok Jin sedikit menggoda.

 

“Ini sakit! Jika saja kau tidak meninggalkan bukumu tadi, jika saja kau tidak pergi begitu saja tadi, jika—tunggu, kenapa kau–maksudku apa kau sengaja untuk-“

 

Choi Ji Hyun berdehem pelan, dan entah kenapa kedua pipinya mulai memerah. Ya, bagaimana tidak. Laki-laki itu, Kim Seok Jin, merelakan dirinya untuk dihukum dengannya. Baiklah itu–terdengar sedikit aneh, tapi itu yang sempat terlintas di pikirannya sekarang.

 

“Jadi kau pikir aku rela dihukum karenamu?”

 

Choi Ji Hyun kembali mendongakkan kepalanya. Laki-laki itu tertawa pelan kali ini. Dan sungguh, itu membuat Ji Hyun malu.

 

“Baiklah,” ucap laki-laki itu beranjak dari tempat ia duduk.

 

“Kau mau pulang?”

 

Kim Seok Jin mengangguk pelan, ia lantas melangkahkan kakinya pergi. Choi Ji Hyun merengut karenanya. Baiklah, apa laki-laki itu juga akan meninggalkannya setelah secara tidak langsung ia membuatnya jatuh tadi?

 

“Hei!”

 

Choi Ji Hyun kembali menatap laki-laki yang kini berada tak jauh darinya sedikit bingung.

 

“Mau sampai kapan kau berada di sana?”

 

“A-aku?” tanya Ji Hyun masih bingung. Kim Seok Jin tertawa pelan di sana.

 

“Kau ingin aku mengantarmu pulang? Ayolah,”

 

Choi Ji Hyun masih menatapnya bingung, namun beberapa detik kemudian senyumnya merekah. Ia mengenakan kembali tas ransel miliknya dan berlari ke arah laki-laki itu. Ya, setidaknya persepsi akan laki-laki itu mulai berubah saat ini.

 

 

Choi Ji Hyun melipat kedua tangannya di atas meja, meletakkan kepalanya di sana dan menatap laki-laki yang kini tengah tertidur pulas dengan posisi yang sama. Ya, Kim Seok Jin. Entah apa yang dilakukannya semalam, ia terlihat begitu kelelahan hari ini. Oh bukan. Kim Seok Jin memang mudah untuk tertidur di saat apapun. Ia akan tertidur saat ia merasa lelah, merasa terlalu bosan, dan saat perutnya terasa begitu penuh.

 

Choi Ji Hyun tertawa pelan. Ia tak peduli jika sekarang sang guru yang tengah menjelaskan salah satu materi bahasa Inggris itu, marah pada mereka atau marah pada salah satu antar keduanya. Ia juga tak takut bila ia harus dihukum, atau Kim Seok Jin harus dihukum, karena yang ia tahu, mereka akan menjalani hukuman bersama. Dan itu yang ia tunggu.

 

Choi Ji Hyun tertawa sekali lagi. Ia tahu, terdengar begitu konyol saat ini. Tapi, itu memang kenyataan. Kim Seok Jin bukanlah laki-laki dingin yang dulu sering ia bayangkan. Kim Seok Jin adalah laki-laki baik, yang selalu menemaninya kapanpun dan tertawa bersamanya. Ia lebih sering menghabiskan waktunya dengan laki-lali yang kini ia perhatikan sedari tadi tersebut. Laki-laki itu juga yang selalu mengajaknya untuk pulang bersama sejak kejadian itu.

 

Choi Ji Hyun mengembangkan senyumnya saat laki-laki yang ia perhatikan sedari tadi menggeliat kecil. Entahlah, laki-laki itu seakan memiliki pesona lain saat tidur, dan percayalah Choi Ji Hyun sangat menyukai kegiatannya sekarang. Ya, mengamati laki-laki yang tengah tertidur pulas dengan lipatan tangan miliknya.

 

Tanpa sadar, Choi Ji Hyun mengulurkan salah satu tangannya, hendak meraih beberapa helai rambut yang menghalangi wajah laki-laki itu, tapi dengan cepat ia mengurungkan niatnya. Choi Ji Hyun sedikit terkecat saat ia sadar dengan apa yang baru saja ia akan lakukan. Ya, ada apa dengannya?

 

Kedua pipi Choi Ji Hyun mulai bersemu. Apa mungkin. . apa mungkin ia mulai menyukai laki-laki itu?

.

.

.

.

.

.

.

 

Choi Ji Hyun membuka matanya. Senyum di bibirnya perlahan menghilang saat ia sadar dimana ia berada saat ini. Ia berada di sebuah ruangan yang cukup gelap dan kumuh. Cahaya matahari masih bersembunyi di balik awan, sehingga cahaya enggan menyapa ruangan tersebut.

 

Choi Ji Hyun melipat kedua tangannya di atas meja dan meletakkan kepalanya sejenak di sana. Ia memandangi meja yang berada kini berada di seberangnya. Benar, sebelumnya, ia sengaja meletakkan hanya dua meja dan dua bangku pada ruangan tersebut. Meletakkannya berada paling belakang.

 

“Sama seperti saat itu,” ucapnya lirih. Ia mengulurkan salah satu tangannya pada meja seberang. Dan ia baru menyadari bahwa tangannya tak sependek dahulu dan ia bersumpah, ia kini dapat meraih bangku seberang dengan begitu mudah. Namun, meja dan bangku itu tak berpenghuni. Ya, ia merindukan penghuni meja juga bangku seberang tersebut. Hanya laki-lali itu yang boleh menghuninya. Hanya Kim Seok Jin.

 

 

Choi Ji Hyun mengusap matanya perlahan. Ia lantas menggeliat pelan. Setidaknya ia tertidur di sini. Entah kenapa ia bisa tertidur di tempat seperti ini sekarang. Tempat itu tak dapat dikatakan nyaman, tapi untuknya ada sesuatu yang membuatnya ingin selalu berada di sana.

 

Ia menatap meja seberang yang berada tepat di sebelah kanannya. Ya, hanya dua meja dan dua bangku yang ada di ruangan tersebut. Dan percaya atau tidak, Ji Hyun lah yang meletakkan itu semua sendiri tadi.

 

Ji Hyun beranjak dari bangkunya. Pada ujung ruangan tersebut, sebuah papan bewarna hijau yang tak dapat dikatakan baik kondisinya, masih setia menyapanya bahkan hingga saat ini. Ia lantas berjalan ke arahnya, menatapnya sebentar.

.

.

.

.

 

“Apa yang kau tulis?”

 

“Entahlah,” ucap gadis yang masih menarikan spidol yang ada di tangan kanannya pada papan besar bewarna hijau tua tersebut. Gadis itu tersenyum tipis saat sebuah tulisan sengaja ia tulis.

 

‘Kim Seok Jin dan Choi Ji Hyun’

 

Ya, setidaknya itu yang tertulis saat ini. Sebuah gambar hati sengaja gadis itu letakkan pada akhir kalimat.

 

“Kau menulis apa?”

 

Gadis itu terkejut saat kini temannya bermarga Kim tersebut berada tepat di sampingnya. Dan ia yakin, laki-laki itu kini membaca apa yang telah ia tulis. Gadis tersebut merasa sedikit ketakutan atas jenis respon apa yang akan ia dapat dari laki-laki itu. Gadis itu lantas berlari menuju dimana tasnya diletakkan dan berlari keluar tanpa mengatakan apapun.  Laki-laki itu lihat adalah semu merah di kedua pipi gadis itu yang terlihat sangat jelas oleh laki-laki bermarga Kim tersebut.

 

“Kim Seok Jin dan Choi Ji Hyun,” ucap laki-laki itu mengeja per kata. Sebuah senyum lantas mulai terbentuk saat ia melihat sebuah gambar hati pada akhir kalimat.

.

.

.

.

.

.

Choi Ji Hyun melanjutkan langkahnya kembali menuju luar sekolah. Hujan belum saja berhenti. Ia mendengus pelan saat hujan masih menampakkan dirinya. Tapi ia bersyukur, hujan tak seburuk tadi. Hanya beberapa titik hujan yang masih enggan berhenti menjatuhkan diri ke bumi.

 

Choi Ji Hyun mengulurkan salah satu tangannya untuk menangkup air hujan. Ia tersenyum saat beberapa titik air hujan kini memenuhi tangkupan tangannya. Dan dengan perlahan ia membiarkan titik-titik hujan itu pergi.

 

Halaman sekolah yang kini tak terawat membuatnya tersenyum getir. Padahal dahulu, halaman sekolah ini adalah favoritnya. Terkadang ia juga laki-laki itu memghabiskan waktu di halaman sekolah tersebut.

.

.

.

.

“Seok Jin-ah, kukira kita harus pulang sekarang?”

 

“Kenapa?”

 

“Langitnya gelap, sepertinya akan turun hujan–ah tunggu, ini memang hujan,”

 

“Benarkah?” ucap laki-laki yang kini tengah terfokus untuk mengendalikan sepeda yang ia tumpangi dengan gadis yang kini berada di bangku belakang.

 

“Huaa! Hujannya deras!” ucap gadis itu keras saat beberapa titik hujan menyerang dirinya. Laki-laki bermarga Kim tersebut lantas mengayuh sepedanya lebih cepat dan lebih cepat. Ya, jam untuk bersenang-senang kini sudah habis.

 

“H-hati-hati,” ucap gadis itu ketakutan dan tanpa sadar memeluk dengan erat pinggang laki-laki yang kini tengah mengayuh sepedanya. Gadis itu menutup matanya saat ia sadar laki-laki itu kehilangan keseimbangannya akibat laju sepeda yang terlalu cepat, dan. .

 

‘Bruak!’

 

Gadis kecil itu merintih pelan. Ya, ia tahu bahwa ia jatuh saat ini karena ia bisa merasakan punggungnya terasa begitu sakit saat ini. Ia membuka matanya perlahan saat beberapa titik hujan menyerang wajahnya.

 

“Kau baik-baik saja?” tanya laki-laki itu kini entah kenapa berada di atas tubuh gadis itu. Gadis kecil itu tersenyum namun kemudian ia tertawa kecil. Laki-laki itu juga lantas tertawa. Baiklah, mereka terlihat begitu bodoh sekarang. Ia tahu, ia tak akan lepas dari amuk ibunya karena seragam yang ia kenakan berubah warna akibat lumpur.

 

Gadis itu menghentikan tawanya saat sadar akan posisinya juga laki-laki itu sekarang. Laki-laki itu entah sejak kapan menatap kedua matanya dan perlahan mendekatkan wajahnya padanya. Gadis kecil itu seakan mengunci bibirnya saat ini, sedangkan degup jantungnya berdetak tak terkendali. Gadis kecil itu lantas memaksakan kedua matanya tertutup seakan takut tentang apa yang akan laki-laki itu lakukan padanya.

 

Sebuah sentikan jari gadis itu dapat di dahinya. Ia mengelus dahinya dan membuka matanya cepat akibat sentikan tersebut. Laki-laki itu tertawa pelan seakan kini ia menertawakannya.

 

“Babo ya. Choi Ji Hyun babo ya,”

 

 

Choi Ji Hyun melangkahkan kakinya perlahan menuju jalanan yang kini menyapanya. Ya, keluar dari bangunan sekolah tersebut. Hujan masih enggan untuk menghentikan dirinya hingga tak membuat dirinya basah kuyup kini.

 

Langkah Choi Ji Hyun makin memperlambat lajunya hingga kini ia menghentikan langkahnya kembali. Sebuah halte pemberhentian bus menantinya disana. Ia kembali menampakkan senyumnya. Halte tersebut sama sekali tak berubah bahkan sejak pertama kali ia melihatnya.

 

Entahlah, sampai kapan hujan akan mengulang semua memorinya saat ini.

.

.

.

Choi Ji Hyun kecil menatap rintik di hadapannya. Ia menengadahkan salah satu telapak tangannya untuk menangkup air hujan. Akhir-akhir hujan selalu datang ke Seoul. Choi Ji Hyun memeluk dirinya, berharap bahwa udara dingin yang ia rasakan menghilang perlahan. Ia membalik tubuhnya. Matanya kini terpaku pada sebuah bangku yang beada di sana. Ya, bangku saat pertama kali laki-laki itu mengenalkan dirinya.

 

Choi Ji Hyun memutuskan untuk menduduki bangku tersebut kembali. Namun, kini terasa beda. Ya, sosok laki-laki itu tak ada.

 

Dua minggu berlalu saat Kim Seok Jin tiba-tiba saja menjaga jaraknya. Laki-laki sama sekali tak mengajaknya berbicara ataupun saat ia mengajaknya bicara, laki-laki itu sama sekali tak meresponnya.

 

Hari ini, adalah kelima laki-laki itu tidak hadir di sekolah demi mengikuti pelajaran. Bahkan tak ada yang mengetahui alasan laki-laki itu tak hadir.

 

Choi Ji Hyun seringkali menatap bangku yang berada di seberang kanannya tanpa bosan. Meja tersebut memang terisi. Benar, terisi dengan satu orang dan satu lagi–ia tak tahu pasti kemana laki-laki itu pergi. Dan berharap–laki-laki itu ada di sana.

 

Choi Ji Hyun menarik nafasnya begotu berat dan mengeluarkannya perlahan. Ia merindukan laki-laki itu. Apa kini laki-laki itu memang sengaja menjauhinya? Apa karena laki-laki itu membencinya? Bukankah ia dulu–

 

Bukan.

 

Ya, laki-laki itu tak pernah menyukainya. Tapi–apakah itu benar?

 

Ia menyukai laki-laki itu karena laki-laki itu peduli dengannya. Karena laki-laki itu selalu bersamanya. Karena laki-laki itu selalu menghiburnya. Karena ia–membutuhkan laki-laki itu.

 

Dan mungkinkah kini laki-laki itu merasa terganggu olehnya?

 

Choi Ji Hyun menarik nafasnya perlahan saat sekiranya matanya mulai berair sekarang.

 

Bagaimana jika laki-laki itu memang menjauhinya karena terganggu olehnya? Bagaimana jika laki-laki itu benar pergi darinya dan tak akan kembali menjadi Kim Seok Jin yang ramah?

 

Choi Ji Hyun menghapus air matanya yang tiba-tiba saja memaksakan dirinya untuk terjun bebas dengan serempak. Baiklah ia akui, usahanya benar-benar gagal dan kini tangisnya berubah menjadi sebuah isakan.

 

Sebuah pemikiran bahwa laki-laki itu akan pwrgi dan menjauhinya, entah kenapa sibuk berada di otaknya sekaramg. Bagaimana jika ia tak mau itu? Bagaimana jika ia ingin laki-laki itu berada di sisinya?

 

Ada apa dengan dirinya?

 

“Hei,”

 

Choi Ji Hyun membuka matanya yang sempat tertutup untuk sementara waktu. Genangan air di pelupuk matanya masih menghalangi pandangannya, maka ia memutuskan untuk menghapusnya. Ia sedikit terkejut saat sekiranya seseorang kini berada di hadapannya kini. Tepatnya seorang laki-laki–dia Kim Seok Jin.

 

Choi Ji Hyun kembali menundukkan kepalanya tanpa membalas sapaan laki-laki itu padanya. Jujur, ada rasa kesal saat laki-laki itu kini berdiri di hadapannya dengan sebuah payung pada salah satu tangannya dan kini menatapnya tanpa merasa bersalah.

 

Laki-laki itu membuang nafasnya pelan. Ia lantas menutup payungnya dan memilih untuk duduk di bangku dimana gadis itu duduki saat ini. Dan mereka terdiam.

 

Kim Seok Jin seringkali mencuri pandang menatap gadis yang ada di sampingnya. Ya, kedua mata yang berair tak bisa berbohong kali ini. Ia tahu pasti bahwa gadia itu baru saja menangis dan ia tak tahu apa alasannya.

 

Hujan masih saja enggan untuk berhenti. Suara gemericik air masih saja terdengar. Hembusan angin bisa saja merasuk ke dalam tulang keduanya, namun mereka tak peduli akan hal itu.

 

Kini keduanya seakan tak mengenal satu sama lain, membiarkan angin menguasai mereka tanpa sebuah kata apapun. Padahal, ada banyak hal yang sebenarnya mereka ingin katakan satu sama lain, namun mereka menyimpannya untuk diri mereka sendiri.

 

“Kau tahu, tak banyak orang merasakan hujan, tapi banyak orang yang basah karenanya,”

 

Choi Ji Hyun kembali menyeka air matanya. Ia menatap laki-laki yang tak jauh darinya tersebut. Laki-laki itu menatap arah depan. Ya, menatap hujan yang masih senantiasa di sana.

 

“Apa kau merasakan hujan saat ini?” ucapnya menarik kedua ujung bibirnya untuk tersenyum.

 

Choi Ji Hyun memalingkan wajahnya. Setidaknya laki-laki itu baru saja sadar bahwa ia menangis, tapi bodohnya ia tahu bahwa laki-laki itu tak mengetahuu alasan kenapa ia menangis seperti saat ini. Atau mungkin. . sebaiknya laki-laki itu tak mengetahui perasaan bodoh yang ia rasakan saat ini.

 

“When the world turns dark

And the rain quietly falls

Everything is still

 

Even today, without a doubt

I cant get out of it

I cant get out from the thoughts of you,”

 

Choi Ji Hyun kembali menatap laki-laki itu saat sekiranya ia baru saja mendengar sebuah nyanyian terdengar lembut dari bibirnya. Laki-laki itu menatapnya. Ia lantas mengembangkan senyumnya.

 

“Kau tahu, aku sangat menyukai lagu itu. Dan. . . kuharap kau juga menyukainya,” ucapnya kini. Matanya terlihat nanar entah kenapa. Ia kembali menatap titik-titik hujan itu kembali, menarik nafasnya perlahan.

 

“Now

I know that its the end

I know that its all just foolishness

Now I know that its not true. .”

 

Kim Seok Jin terlingat menutup kedua matanya saat bait tersebut ia nyanyikan. Choi Ji Hyum tanpa sadar juga mengikuti apa yang dilakukan laki-laki itu kini. Suara yang terdengar begitu lembut perlahan benar membuatnya merasa lebih baik, atau mungkin kehadirannyalah yang membuat ia merasa jauh lebih baik.

 

“I am just disappointed in myself for

Not being able to get a hold of you because of that pride

 

On the rainy days you come and find me

Torturing me through the night

When the rain starts to stop, you follow

 

Slowly, little by little, you will stop as well. .”

 

 

“On the rainy days you come and find me

Torturing me through the night

When the rain starts to stop, you follow

 

Slowly, little by little, you will stop as well. .”

 

 

Langit mulai meredup. Sudah berjam-jam Choi Ji Hyun berada di sana.

 

Choi Ji Hyun melepas ear phone yang ia kenakan. Bukan, bukan lagu itu yang tengah kini dengarkan lewat iphone miliknya, namun bait itu masih saja terulang tiap kali ia merindukan masa itu.

 

Ya, ia sangat ingat hal itu. Ia sangat ingat bahkan setelah laki-laki itu menyanyikannya untuknya–

 

Laki-laki itu benar pergi.

 

Saat itu, adalah tahun kedua di sekolah menengah pertama mereka.

 

Layaknya sebuah nyanyian perpisahan yang memang ditujukan padanya saat itu. Dan ia benar pergi hingga saat ini.

 

Choi Ji Hyun tersenyum tipis saat air matanya entah kenapa kembali terjatuh. Sama seperti waktu itu, ia sangat merindukan laki-laki itu. Sebuah pemikiran tentang laki-laki itu akan meninggalkannya, memang benar terjadi. Dan kini, ia kembali berada di sini sama seperti beberapa tahun yang lalu.

 

Seharusnya ia tak berada di sini saat ini, seharusnya ia melupakan semua itu, dan seharusnya ia membuang semua bayangan laki-laki itu. Namun–

 

Ia tak bisa.

 

Hujan tak seburuk saat ia datang kemari. Setidaknya hujan mulai mereda sejak beberapa menit yang lalu.

 

Suara langkah kaki terdengar perlahan mendekat. Choi Ji Hyun mengangkat kepalanya. Untuk sesaat raut wajahnya berubah. Si pemilik langkah tersebut menarik kedua ujung bibirnya sedikit terpaksa saat ia bertemu pada kedua mata gadis yang kini menatapnya dengan mata sembabnya. Namun senyumnya menghilang saat gadis itu memutuskan untuk memalingkan wajahnya.

 

Si pemilik langkah tersebut, menurunkan payungnya dan lantas memutuskan untuk menduduki bangku yang gadis itu juga duduki.

 

“Suasananya tak berubah sedikit pun,” ucap laki-laki itu dengan senyum di wajahnya. Senyum yang entah terlihat begitu menyedihkan.

 

“Kau ingat padaku, Choi Ji Hyun?”

 

Choi Ji Hyun menggigit bibirnya saat ini seakan menahan semua emosi yang ada di dalam dirinya sekarang. Kim Seok Jin berada di sini bersamanya.

 

Choi Ji Hyun menarik nafasnya, mencoba menahan tangisnya untuk tidak kembali pecah seperti tadi atau seperti beberapa tahun yang lalu. Ia kembali menyeka air matanya saat perlahan air matanya mulai turun.

 

Laki-laki itu tersenyum getir saat gadis itu kembali menangis di hadapannya. Ia menarik nafasnya perlahan.

 

“Aku merindukanmu. Apa kau juga?”

 

Choi Ji Hyun beranjak dari bangkunya saat kalimat tersebut ditujukan padanya. Tanpa memandang, ia melanjutkan langkahnya menuju rintik hujan dan membiarkan dirinya basah.

 

Laki-laki itu sadar bahwa itu bukan pertanyaan yang baik. Ia lantas beranjak dari bangkunya dan mencegah kepergian gadis itu dengan menggenggam erat tangan gadis itu.

 

“Maafkan aku,” ucapnya begitu singkat. Gadis itu masih berada di posisinya dengan salah satu tangan yang masih tergenggam, ia masih enggan untuk memutar tunuhnya untuk memandang laki-laki itu, menatap kedua manik cokelat indah milik laki-laki itu, dan hanyut di dalamnya.

 

Choi Ji Hyun juga mengutuk dirinya untuk menunjukkan emosinya pada laki-laki itu. Ya, rasa rindu, marah dan entahlah. Ia tak ingin laki-laki itu berpikir bahwa ia lah yang selalu merindukan laki-laki itu, layaknya seseorang yang ingin dibalas perasaannya.

 

“Bisakah aku menjelaskan semuanya?”

 

Choi Ji Hyun terlihat mencoba menjaga emosinya saat ini. Ia memutar tubuhnya sejenak, membiarkan dirinya memandang laki-laki itu yang terlihat menyedihkan sekarang ini. Tak begitu menyedihkan seperti dirinya selama ini.

 

Tanpa tersenyum, Choi Ji Hyun melepaskan genggaman tangan laki-laki itu paksa dan berjalan pergi meninggalkan laki-laki itu sendiri. Baginya sudah cukup baginya untuk berada di sana. Ia tak ingin membuat dirinya tenggelam sekali lagi dalam masa lalunya. Ia membutuhkan ruang untuk melupakan semuanya.

 

“Akh!”

 

Choi Ji Hyun menghentikan langkahnya saat sekiranya ia mendengar laki-laki itu merintih saat ini. Laki-laki itu tengah menahan sesuatu pada salah satu sisi dadanya. Ia tersenyum menahan rasa sakit saat Choi Ji Hyun berbalik arahnya.

 

“K-kau baik-baik saja?”

 

Choi Ji Hyun terlihat khawatir saat ini. Kim Seok Jin mengembangkan senyumnya di tengah rasa sakitnya. Sungguh, wajahnya terlihat sangat bodoh saat ia berusaha menutupi rasa sakitnya saat ini.

 

“Aku baik-baik saja,”

 

 

Kini Choi Ji Hyun juga Kim Seok Jin menduduki bangku halte sekali lagi. Ya sama dengan beberapa tahun yang lalu, keduanya juga menduduki bangku tersebut saat pertama kali mereka dekat. Meski keadaannya sudah jauh berbeda.

 

Mereka berada di sana layaknya dua orang yang tak kenal satu sama lain. Jarak waktu yang terlalu lama membuat keduanya canggung, sehingga tak ada satupun dari mereka yang membuka mulut. Jika saja tadi laki-laki itu tidak terlihat begitu kesakitan, Choi Ji Hyun tak mungkin memaksa diri untuk berada di sini.

 

Beberapa tahun yang lalu, sudah cukup membuatnya siap untuk melupakan semuanya. Mungkin–

 

Pada akhirnya, usahanya sama saja. Memori tak pernah ia lupa dan berakhir sama. Ya, ia sama sekali tak bisa melupakan apa yang terjadi saat itu. Dimana ia dekat dengan laki-laki itu, menghabiskan waktu bersama dan pada akhirnya saat laki-laki meninggalkannya begitu saja tanpa berkata apapun. Ia ingat itu.

 

“Maaf,”

 

Choi Ji Hyun menatap laki-laki itu yang memang sedari tadi tak menatapnya sejak ia merasa kesakitan. Ya, entah kenapa laki-laki itu merasa kesakitan tadi. Sebelumnya ia tak pernah melihatnya demikian.

 

“Aku pergi begitu saja saat itu,” lanjut laki-laki itu yang kini berani melakukan kontak mata dengannya. Choi Ji Hyun bisa menangkap penyesalan dari mata laki-laki itu kali ini. Choi Ji Hyun memalingkan wajahnya.

 

Apakah baru sekarang laki-laki itu menyesal? Bagaimana dengan beberapa tahun yang lalu? Dan percayalah, Choi Ji Hyun menahan seluruh emosinya saat ini.

 

“Apa kau tahu, aku memiliki kanker paru-paru?”

 

Choi Ji Hyun kembali menatap laki-laki itu tak percaya. Ia berharap kali ini ia salah mendengar apa yabg baru saja laki-laki itu katakan. Namun, senyum lain laki-laki itu sengaja ia tampakkan.

 

“Aku menjalani perawatan akan hal itu. Memang membutuhkan waktu yang lama, hingga aku benar-benar pulih seperti saat ini,”

 

Kim Seok Jin menarik nafasnya saat ini.

 

“Kenapa kau tak memberitahuku tentang ini semua?”

 

Choi Ji Hyun mulai membuka mulutnya. Nadanya terdengar tak baik saat ini. Kim Seok Jin dapat merasakan emosi pada pertanyaannya saat ini.

 

“Aku tak ingin membuatmu khawatir,”

 

“Dan kau membuatku merasa tak dibutuhkan selama bertahun-tahun? Menunggu dirimu untuk beberapa tahun? Berharap kau datang tiap harinya?”

 

Nada gadis itu meninggi seiring emosinya yang tersulut. Wajahnya memerah entah kenapa, dan Kim Seok Jin dapat melihat genangan di kedua matanya. Kim Seok Jin yakin itu adalah jawaban dari seberapa kecewanya gadis itu padanya saat ini.

 

“Aku minta maaf,”

 

Kim Seok Jin mengulurkan salah satu tangannya hendak meraih sslah satu pipi gadis itu, ya berusaha untuk menyeka air mata gadis itu, namun dengan tegas gadis itu menepisnya.

 

“Aku bukan siapa-siapamu, kau tak perlu minta maaf,”

 

Kim Seok Jin membulatkan matanya saat mendengar kalimat tersebut dari bibir gadis yang sungguh ia rindukan selama beberapa tahun terakhir. Salah satu alasan ia ingin bertahan hidup dari penyakitnya agar ia bisa bertemu dengan gadis itu, meski terasa sangat terlambat.

 

Senyum yang terasa begitu pahit kembali terlihat di paras laki-laki bermarga Kim tersebut. Ia menarik nafasnya dalam. Entahlah, dadanya terasa sesak saat ini. Namun ia tahu, tak sesakit yang dirasakan gadis itu selama bertahun-tahun karenanya.

 

“Kau tahu, aku berusaha datang seperti ini hanya untuk bertemu denganmu,” ucap Kim Seok Jin dengan suara yang begitu berat.

 

“Kau lihat bagaimana sekolah dimana kita bersekolah dulu menjadi sebuah bangunan bekas tanpa penghuni. Apa sama seperti perasaanmu?”

 

Kim Seok Jin menembangkan senyumnya yang terasa menyesakkan.

 

“Aku tahu aku sangat memuakkan, karena seringkali membuatmu menangis, bukan?”

 

“Aku tahu aku seharusnya tak berharap banyak saat aku bisa menemuimu saat ini,”

 

Kim Seok Jin beranjak dari bangkunya. Hujan memang sudsh berhenti sepenuhnya saat ini. Kini jalanan dipenuhi oleh remang lampu. Ya, setidaknya langit benar-benar menggelapkan dirinya.

 

“Yang ingin kukatakan adalah. . . Kau tahu, kau yang membuatku bertahan saat ini. Memikirkanmu adalah peganganku untuk hidup. Tapi. . jika kau ingin aku pergi, aku benar-benar akan pergi,”

 

Kim Seok Jin mengambil payung yang kini sudsh terlipat. Ia memandang gadia itu yang sama sekali tak ingin menatapnya lagi sebentar. Ia membuang nafasnya panjang sebelum ia melangkahkan kakinya pergi.

 

Choi Ji Hyun memandang punggung laki-laki itu yang menjauh pergi darinya. Apa beginikah akhirnya? Beginikah ia? Kehilangan laki-laki itu sekali lagi? Membuat dirinya menderita sekali lagi dengan membiarkan laki-laki itu pergi darinya sekali lagi?

 

Tidak. Ia tak ingin itu. Ia tak ingin laki-laki itu pergi. Ia ingin laki-laki itu berada di sampingnya sekali lagi. Memgulang momen bahagianya bersama laki-laki itu.

 

Choi Ji Hyun beranjak dari bangkunya. Ia menatap punggung laki-laki itu yang benar-benar jauh kali ini. Ia meraih tas miliknya, memacu kakinya untuk berlari ke arah laki-laki itu sekarang. Ia mempercepat langkah kakinya saat sekiranya sedikit lagi ia dapat meraih laki-laki itu kembali.

 

Choi Ji Hyun mengulurkan kedua lengannya dan mendekap laki-laki itu dari belakang dengan sekejap. Si pemilik tubuh itu terkejut saat ia merasakan seseorang memeluknya dari belakang, maka ia memutuskan untuk menghentikan langkahnya saat itu juga.

 

Choi Ji Hyun mengeratkan pelukannya. Ia memang meresa kecewa demgan laki-laki tersebut, tapi ia tak ingin kehilangan laki-laki itu untuk kedua kalinya. Ya, ia tak ingin.

 

Choi Ji Hyun menenggelamkan wajahnya pada punggung laki-laki itu.

 

“Jangan tinggalkan aku. Kumohon jangan tinggalkan aku,”

 

Suara Ji Hyun terdengar sedikit bergetar saat ini. Kim Seok Jin tersenyum tipis saat ia tahu bahwa Choi Ji Hyun lah yang memeluknya.

 

“Kau berani meninggalkanku lagi?”

 

Kim Seok Jin mengembangkan senyumnya. Sama seperti posisi dimana gadis itu masih memeluknya erat saat ini. Kim Seok Jin menggenggam kedua lengan yang memeluknya tersebut.

 

“Aku tak akan meninggalkanmu. Aku janji,”

 

.

.

.

.

.

.

-The End-

Advertisements

34 thoughts on “On Rainy Days

    1. Anyeong armyswag~^^ Wah bkin nangis? Hehe. Hehe. Sampai trharu kalo bisa bkin nangis nih, haha. Makasi sudah mau baca~^^ oke. Dtggu ya

      Like

  1. baguuus thor sad’nya dapet banget,
    suka pembawaan flashback’nya… aku kira jin g akan balik tp ga nyangka dy balik nemui jihyun,
    suka thor..

    Like

    1. Pembawaan flashback ya? Hehe. Iya, karena aku pkir kalau pakai ‘flashback on’, kesannya kasar. Soalnya byk bgt flashbacknya. Haha awalnya bkin sad bneran, sad ending pula-_- tp ga tega sma jihyun nih hehe. makasi uda baca~^^

      Like

    1. Huwaaa~ aku dimarahin/? Hehe. Iya, kasihan ya/? Tapi sengaja/? Hehe. Soalnya emang lagi pgen bkin sad dan nyatanya jadi juga hehe. Sequel? Wah~ blm prnah bkin, tp cb lihat nnti. Hehe makasi ud mau baca~^^

      Like

  2. Seokjiiiinnnn….ini kereen thor
    aku udah mikir aneh* tentang mreka, aku kira sadending akhirnya bukan..

    suka thor endingnya…aku lega bca nya 😀

    Like

    1. Anyeeong nabilah~^^ bingo! Awalnga ini bkin ff cengeng yg ga ada happy ending dan seok jin ga dtg/? Hehe. Tapi mgkin bakal biasa aja dan stagnant, jd akhirnya dbkim ketemu seok jin. Mkasi uda mau baca~^^

      Like

    1. Anyeong xksjk~^^ haha iya, gatau knp pgen bkin yang sad. Dan kelihatannya brhasil bawa perasaan readers. Hehe. Okay dtggu ya, ff lainnya. Makasi ud mau bca~^^

      Like

  3. ini fanfic keren thor ngga bohong…
    aq hampir nangis di buatnya /? *lebay
    apalagi kl knyataan jin dsitu prgi gak balik smakin nyesek, squeeelll butuuuh bget!!! *gwiyeomi wkkk

    Like

    1. Anyeong ksj~^^ wah nangis bneran juga gapapa :3 hehe. Sengaja buat gni, dan serius pengen bgt bkin readers nangis, tp kyknya blm sukses~^^ wah sequel? Haha. Blm pernah bkin sbenarnya, tp ya nnti dtggu ya ff lainnya~^^

      Like

  4. guuilaaa aku menangis… seokjiiinn payungin…rainy heart nichh /? hahahaahaa daebak thor suka endingnya,
    trharu pas baca jin brjuang hidup buat jihyun…

    Like

    1. Haha makasi sudah baca sayang~^^ ah jangan seok jinnya sibuk/? Haha iya ya, krna takut seok jin ga berarti dsna, jd bkin sperti itu #eh. Hehe. Dtggu ya ff lainnya~^^ sarang sarang :3

      Like

  5. Ini aslinya ga ada happy happy nya ;_; /? Haha. Tapi sadar aja, jelek banget kalo sad trus. Dan akhirnya bkin happy yg kenyataannya hrs brulang diganti. Waks. Makasi uda mau baca~^^ stay trs di wp kita ya~^^ calang calang ❤

    Like

  6. Setiap baca fanfic author TS_sora sadnya itu berasa banget.. selalu nangis dan ini juga nangis.. huahuaaa keren beneran aku bacanya sampe nahan tangis gara2 takut di sangka stres sama orang rumah..
    beneran daebak, untungnya happy ending kalo gk aku gk mau baca (?) #Loh wkwkwk keren beneran jin di sini sweet banget walau di awal tampak menyebalkan,
    Keep writing thor XD

    Like

    1. Hai hai :3 hehe~ wah makasih unnie hehe. Tapi srius, ini masih susah buat membawa prasaan readers. Kalau ud bs bkin nangis alhamdulillah hehe. Makasibunni uda mau baca.

      Like

    1. Wah jinja? Hehe. Wah seneng bisa bikin nangis/? Hehe. Yang sekolahnya? Well. Awalnya bingung bkin alur, biar trkesan gloomy, jadi bgitu deh /? Hehe

      Like

    1. Wah jinja? Hehe. Trima kasih uda mau baca 🙂 iya, tapi masih blm bisa bawa perasaan readers sayang 🙂 maunya sih smpai nangis yg gmn gtu/? #eh. Haha. Stay tune on our wp~^^

      Like

    1. Wah makasi ud baca dan dibilang keren :3 kkk~ mewek? Yes! /? Hehe. Tapi mnrtku ini masih blm bisa bkin orang nangis, maunya bkin org mewek semewek2nya hehe :p tggu ff lainnya ya~^^

      Like

    1. Kamu nangis bneran? :3 wah. . hehe. Seneng kalau bisa bkin orang nangis :p /? Hehe. Misi utama sih. Cuman, mnrtku masih blm bisa bkin nyesek bgt. Hehe. Tggu ff lainnya ya~^^

      Like

  7. kuereenn sekali…
    gak hbs pikir pasti perasaannya jihyun ‘sakitnya tuh disini di dlm hatiku’ / wkkekeke jujur td aku nangis thor /? *lapor

    Like

    1. Makasi 😀 iya jihyun kasian 😦 awalnya mau bkin jihyun mrnderita tiada tara/? #eh. Tapi karena ga tega, jadi bkin happy hehe. Anw, makasi ud mau baca 😀 tunggu ff lainnya dr kita ya~^^

      Like

  8. mianhae author aku baru baca hehehe , alurnya bener2 pakai lagunya lee seung gi (judulnya return baru inget aku) ya tapi bagus banget pembawaannya bisa bikin hanyut dalam kesedihan juga . Good job thor , aku tunggu karyamu yang lain

    Like

    1. Haha gwenchana author vizkylee~^^ makasih ud mau bca. Haha iya, aku ska bgt sma itu mv. Tp ga smua inti yg aku masukin :p thanks once again~^^

      Like

  9. Hhuaaaaa… daebak author Sora!!! Pas sekali. Saya bacanya waktu hujan turun. FFnya mengingatkan saya pada seseorang yg dekat namun rasanya jauh sekali utk digapai. Tanggungjawab Sora-nim saya sampai mewek2 ㅠ.ㅠ tapi endingnya hemm… saya agak kurang puas.

    Like

    1. Holla~^^ aigoo hehe makasi uda mau baca 🙂 wah pernah ngrasain hal yg sama kah? Pasti nyesek 😦 hehe. Awalnya ending mau bkin ga kyk gni, bkin yg bnr2 angst. Tapi krna jihyun ksian, jadi bkin kyk gni 😀

      Like

      1. Iya soranim 😦 huhu… nyesek bgt tp bedanya Ceritaku sad ending nim.
        Untung cerita yg kamu bikin happy ending jd seneng bacanya 🙂

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s