fluff

Just One Day (Jimin Version)


FORFF

Tittle : Just One Day
Author : ts_sora
Cast : Park Ji Min, and The Girl as You
Length : one-shoot
Genre : fluff
Disclaimer: “This belongs to me and Ji Min belongs to BigHit! No plagiarism juseyoo
A/N : “Anyeong haseyooo. ts_sora here! Jeongmal mianhae karena fanfic jadinya lama sekali 😦 hari-hari dipenuhi oleh tugas2 dan memang susah untuk mengatur wajtu -_- Baiklah, awalnya bukan seperti ini ff nya haha. Karena berpikir, dan berpikur, akhirnya, say merombak total ini semua :p Baiklah, saya sengaja menggunakan sudut pandang orang kedua, supaya lebih dpat feelnya buat ArmySwag. Sekali lagi, bayangkan itu kalian :3 Enjoy it~

Kau mengusap matamu pelan, saat cahaya matahari mulai menulusup tirai jendela kamarmu dengan paksa. Kau membuka matamu yang sekiranya terada begitu berat. Tidak. Melainkan kepalamu yang terasa begitu berat dan pandanganmu yang terasa kacau. Oh bagus, kau kini terkena demam.

Dengan pandangan yang tidak seimbang, kau mulai mengedarkan pandanganmu menuju ruangan kamarmu. Sebuah jam weker yang sengaja kau letakkan di meja dekat lampu tidurmu, menunjukkan 10 pagi. Oh bagus, sekiranya kau kesiangan hari ini dan kau tak bisa berangkat kuliah hari ini. Ya, kau tak mungkin berangkat kuliah dengan kondisi tubuhmu yang sangat buruk ini.

Kau meraih ponselmu yang kau letakkan tak jauh dari dimana kau membaringkan tubuhmu.

‘5 pesan masuk dan 10 panggilan tidak terjawab.

Park Ji Min’

Kau mengerang pelan saat kau mencoba menahan tawamu dan rasa sakit di kepalamu kembali kau rasakan. Ya, kepalamu terasa begitu berat. Sepertinya suhu tubuhmu diatas suhu normal kini. Ya, bagaimana tidak. Kemarin, ya kemarin, kau baru saja menghabiskan waktumu dengan laki-laki bermarga Park itu untuk berkencan. Namun, semua gagal akibat hujan lebat yang melanda Seoul, sehingga kau mendapati dirimu basah kuyub di sore hari dan berakhir…seperti sekarang ini.

Sebuah dering yang terdengar begitu sumbang mulai kau dengar. Ya, kau tak mengira bahwa ponselmu memiliki suara sesumbang itu sebelumnya. Dan demi Tuhan, suara sumbang tersebut membuat kepalamu kesakitan. Kau pun menekan ikon ‘angkat’ dari ponsel touch screen milikmu.

“Jagiya kau disana? Jagiya kenapa kau tidak masuk? Kau sakit? Kau ada di rumah saat ini—”

Kau menjauhkan telingamu dari ponsel milikmu. Kau terkekeh pelan. Baiklah, kini laki-laki bermarga Park itu kembali membuat kebisingan. Ya, kau tahu bahwa ia sangat merindukanmu saat ini. Dan tentunya ia juga khawatir. Kau kembali mendekatkan ponselmu saat sekiranya kau tak mendengar suara bising laki-laki itu lagi.

“Aku baik-baik saja,” ucapmu dengam sedikit batukan pada akhir kalimat. Suara paraumu tak bisa kau sembunyikan kali ini.

“Hei hei, kau sakit? Kau dimana sekarang?”

Kau tersenyum tipis saat sekali lagi laki-laki di seberang sana terdengar begitu khawatir terhadapmu.

“Aku hanya pusing, itu saja. Kau tak perlu khawatir,” ucapmu berbohong. Tapi memang itu yang kau rasakan saat ini. Jadi tak sepenuhnya itu adalah suatu kebohongan.

“Apa karena kemarin? Kalau begitu, aku minta maaf,”

“A-apa yang kau katakan? Aku benar baik-baik saja, jadi tenanglah,” ucapmu yang mencoba membuatnya tak terlalu khawatir. Namun sekaki lagi, kalimatmu terpotong akibat sebuah batuk yang sangat kau benci. Fine, kau benar-benar sakit hari ini.

“Ayah dan ibumu sudah pulang?”

“S-sudah,” ucapmu kembali berbohong.

“Jangan berbohong. Aku tahu mereka akan pulang minggu depan. Baiklah tunggu disana. Aku akan mengunjungimu,”

“T-tapi bukankah kau ada kelas? Aku baik-baik saja–”

“Tidak, jadi tunggu aku di sana, okay?”

——-dan panggilan terputus.

Park Ji Min memang sangat mengkhawatirkanmu. Tapi… Oh ayolah, ibumu sudah melarangmu untuk membawa seorang laki-laki ke dalam rumah, termasuk laki-laki itu. Ya, laki-laki yang kau sudah kencani sejak dua tahun terakhir. Kau ingin sekali melarang laki-laki itu untuk datang, tapi laki-laki itu bukan orang yang mudah dibujuk. Percayalah.

Kau tahu bahwa laki-laki itu tidak berbahaya, dan kau yakin ia tak akan melakukan apapun yang ‘salah’ padamu, tapi..tetap saja. Orang tuamu pastinya akan membakar laki-laki itu hidup-hidup. Oh ayolah, itu berlebihan. Tapi mungkin saja.

Ya, semoga saja orang tuamu tak datang seperti yang kau bayangkan saat ini. Ya, semoga saja.

Kau membuka matamu perlahan, sekiranya seseorang tengah menunggumu di pintu depan. Ya, karena kau tahu bahwa orang tersebut termasuk orang yang tak sabaran, ya itu terlihat dengan jelas dari cara laki-laki itu menekan tombol bel rumahmu berulang-ulang.

Oh baiklah.

Kau berusaha beranjak dari ranjang tidurmu dan berjalan menuju pintu depan. Sebuah lubang berukuran kecil membantumu untuk melihat siapa yang berada di balik pintu. Senyummu terkembang saat kau tahu siapa yang berada di balik pintu tersebut.

“Hai,” ucapmu parau saat kau membuka pintu dsn mencoba menyapa laki-laki yang kini terlihat sangat khawatir terhadapmu. Laki-laki itu menatapmu dari atas hingga bawah, tanpa memperlihatkan senyum apapun.

“Dan kau berbohong padaku jika kau baik-baik saja?”

Kau tersenyum kikuk saat laki-laki itu mengkhawatirkan keadaanmu sekali lagi. Laki-laki itu lantas meraih dahimu dan menyentuhnya pelan. Wajahnya terlihat lebih khawatir.

“Kau demam,” ucapnya begitu singkat. Baiklah, kau tahu bahwa ia kesal karena kau berbohong padanya. Tapi kau mempunyai alasan untuk itu.

“Kau tak perlu berada di sini, sungguh,”

Park Ji Min melangkahkan kakinya menuju dalam rumahmu tanpa instruksi apapun. Ia lantas meletakkan beberapa kantung plastic bewarna putih di atas meja makanmu, tanpa mengatakan apapun. Ia lantas berjalan menuju dapurmu.

“Kau belum sarapan bukan? Kau ingin makan apa saat ini?”

“Hei, aku bicara denganmu, sekarang jawab aku,” ucapmu sedikit kesal dengan reaksi Ji Min. Ya, ia sama sekali tak mwnjawab pertanyaanmu.

“Apa kau sudah meminum sesuatu yang hangat? Sudahkah kau meminum obatmu?” lanjut laki-laki itu yang berkutat pada salah satu kantung plastic yang ia bawa tadi tanpa melihatmu. Baiklah, ia sangat menjengkelkan.

“Kau menyebal–”

Kau kembali terbatuk. Ya, hingga kau tak bisa melanjutkan kalimatmu. Kau tetap terbatuk dan buruknya kepalamu terasa semakin sakit saat kau terbatuk. Beberapa kali kau mengerang sembari memegangi kepalamu yang terasa begutu berat.

“Sudah kubilang, kau harus istirahat. Aku tak bisa meninggalkanmu sendiri,”

Kau menatap laki-laki bermarga Park yang kini berdiri di sampingmu dengan sebuah gelas berisikan susu hangat di dalamnya. Kau menerimanya dan menyisipnya sedikit.

“Tapi kau harus meninggalkan kelasmu demi aku,”

Laki-laki bermarga Park tersebut menarik salah satu bangku yang berada tak jauh dari tempat kau duduk sekarang. Ia lantas mendudukinya. Sebuah senyum kini terlihat dari laki-laki itu.

“Aku bisa meninggalkan apapun, drmi memastikan kau baik-baik saja,” ucapnya negitu lembut seraya melebarkan senyumnya padamu.

Kau tertunduk. Oh baiklah, kini kau sadar bahwa pipimu memerah saat ini. Ya, kau mengetahuinya saat kau dapat merasakan aliran darahmu yang mengalir begitu cepat memuju kedua pipimu saat ini.

Baiklah, kau berharap banyak bahwa laki-laki itu tak menyadarinya.

“Baiklah, kau bisa mandi sekarang, sedangkan aku membuatkanmu sarapan, okay?” ucapnya seraya mengelus pucuk kepalamu singkat. Ia lantas beranjak menuju dapur.

Kau mengeringkan wajahmu dengan handuk yang kau genggam. Kau menarik nafasmu perlahan dan mengeluarkannya perlahan juga. Ia merasa gugup saat ini. Bagaimana tidak? Seorang laki-laki kini berada di luar sana. Dia kekasihmu, tapi–entahlah, ada rasa takut saat kau berada di rumah sendiri bersama seorang laki-laki.

Kau memutuskan untuk keluar dari kamar mandimu. Kau sedikit terkejut saat kau sebuah aroma ‘terbakar’ menyapa hidungmu. Kau mempercepat kakimu menuju dapur dsn kau menemukan Ji Min dengan dua buah roti yang terlihat sangat hitam di atas penggorengan yang laki-laki itu genggam.

“Apa yang kau lakukan?”

“T-tidak ada..” ucap laki-laki itu dengan sedikit canggung. Ia lantas mengambil sebuah roti di atas penggorengan tersebut hendak ia letakkan pada salah satu piring yang telah di sediakan, namun nyatanya, ia malah melemparkannya akibat suhu panas yang dihasilkan.

“Oh baiklah, aku gagal membuatkanmu sarapan,” ucapnya kali ini. Kau tertawa pelan saat melihat ekspresinya juga melihat dapurmu yang terlihat seperti sebuah bencana. Ya, kau bisa melihat beberapa buah roti yang terlihat sangat hitam di beberapa tempat, dan kau bisa melihat beberapa selai kacang yang menodai meja makanmu. Park Ji Min memang payah dalam hal ini.

“Kau bisa menggunakan toaster,” ucapmu menunjuk toaster yang berada tak jauh darimu. Laki-laki itu mengerjapkan matanya, ia yakin ia tak melihatnya tadi, maka ia menggunakan cara kuno ini untuk membuat sebuah roti bakar. Ah bukan, beberapa rorti bakar yang gagal tepatnya.

“Aku tadi tak menemukannya, percayalah,” ucapnya yang mengerucutkan bibirnya. Kau terbahak melihatnya. Oh ayolah, kau tak tahu bagaimana bisa kau mengencani laki-laki yang terlihat begitu cute dibandingkan dirimu.

“Tak apa, aku akan membuatkanmu sarapan,”

“T-tidak,” ucap Ji Min menolak. Ia lantas mengambil sebuah kotak sereal yang ada di dalam kantung plastik yang tadi ia bawa juga sebuah kotak susu di dalamnya.

“Biarkan aku yang membuatkan sereal untukmu, karena…”

Ji Min meraih sebuah tempat sampah yang memang berada di sana, meraih sebuah plastic dan menunjukkannya padamu.

“Kita kehabisan roti dan untung aku membeli sereal tadi,” ucapnya dengan tawa kecilnya. Kau terkekeh pelan. Baiklah, dia orang yang payah bukan?

Ji Min meraih sebuah kain dan menghapus sebuah noda susu pada ujung bibirmu. Kau hanya tersenyum saat ia melakukan hal itu padamu.

“Terima kasih,”

“Tidak. Anggap saja ini adalah ssbuah permintaan maaf dariku,” ucapnya kali ini.

Kau mengernyitkan dahimu tak mengerti.

“Jika saja kau bilang tidak kemarin. Ah tidak, bila saja aku tak memintamu menemaniku untuk menonton film, kau tak akan kehujanan dan demam seperti saat ini,” ucapnya yang lantas beranjak dari tempat ia duduk dan kembali berjalan menuju dapur untuk meletakkan mangkuk juga gelas yang baru saja kau gunakan.

“Hey, jangan minta maaf sekali lagi, atau aku benar-benar akan marah,” ucapmu kesal. Kau mengerucutkan bibirmu kesal. Ia tertawa saat kau melakukannya.

“Hentikan itu, kau terlihat menggemaskan, kau tahu itu?” ucapnya yang masih sibuk di dapur. Kau tertawa atas reaksi yang diberikan laki-laki itu padamu. Bukan, mungkin lebih tepatnya atas penampilan laki-laki itu saat ini.

Ya, entah apa yang tengah laki-laki itu pikirkan saat ini. Ia mengenakan sebuah celemek bewarna biru muda yang biasa kau gunakan saat di dapur. Dan astaga, apa yang ia pikirkan sekarang? Merawat seorang bayi?

“Kau ingin aku mengupaskanmu buah? Kau suka apel? Atau jeruk? Atau–”

“Tak perlu, aku bisa mengupaskannya sendiri,”

“Tidak tidak,” ucapnya yang kini berjalan ke atau dengan sebuah pisau dan sebuah plastik lain berisikan banyak buah. Ia lantas mendusukkan dirinya kembali dekat dengan dirimu.

“Astaga, apa yang kau bawa huh? Apa kau merampok seisi supermarket untukku?”

“Ya, aku perampok yang jahat. Merampok seisi supeemarket untuk keperluanmu,” ucapnya sambil terkekeh. Kau pun ikut tertawa atas apa yang dilakukan laki-laki itu padamu.

Ji Min juga mengeluarkan sebuah kantung lain dari sana. Ya, sebuah kantung obat-obatan. Kau bisa melihat dengan jelas jenis obat yang ia bawa untukmu. Ya, obat sakit kepala, obat penurun suhu badan, obat batuk, obat flu, obat—datang bulan?

“T-tunggu, kau membawakanku obat—itu?” ucapmu menunjuk salah satu obat yang sangat kau hafal. Ya, obat yang kau konsumsi hampir tiap sebulan sekali. Ia kemudian tertawa pelan.

“Bukankah obat ini yang kau bawa di tasmu tiap hari?”

Kau mengangkat salah satu tanganmu hendak memukul laki-laki yang kini tertawa lepas dihadapanmu. Oh baiklah, laki-laki itu sangat menyebalkan. Mengejekmu dengan cara yang sangat memalukan. Bagaimana ia bisa melakukannya pada seorang gadis? Argh.

“Baiklah, minumlah obatmu,” ucapnya yang lantas mengupas sebuah apel.

“Tidak mau,”

Ia lantas memandangmu.

“Kenapa?”

“Rasanya pahit,”

“Kubilang minum,”

“Aku tidak mau,” ucapmu dengan nada menggoda. Kau menjulurkan lidahmu ke arahnya. Dan kini ia terlihat kesal.

“Baiklah, bagaimana bisa aku membuatmu sembuh?”

Kau tersenyum tipis, menatap ke langit-langit mencari sesuatu. Bukan, mungkin lebih tepatnya sebuah ide untuk mengerjai laki-laki yang ada di hadapannya tersenyum. Kemudian sebuah senyum lain mulai kau perlihatkan. Senyuman dengan maksud lain.

Ia melihatmu tak mengerti, dan sekiranya ia tahu bahwa kau akan mengerjainya.

“Apa?” tanyanya penasaran.

“Lakukan sebuah tarian, maka aku akan meminum obatku,” ucapmu jahil. Ia mengernyitkan dahinya, namun ia lantas beranjak dari tempat dimana ia duduk. Ia lalu melakukan dance-nya. Baiklah sebuah dance yang terlihat sangat keren sebenarnya, namun bukan itu yang kau minta.

“Bukan!”

Ji Min menghentikan aksinya.

“Lalu apa?” tanyanya tak mengerti. Kau terkekeh pelan.

“Lakukan tarian seorang ahjumma mabuk,”

“Mwo—”

Kau tertawa terbahak-bahak atas ekspresinya saat ini. Tapi kau mencoba menahannya saat sakit menyerang kepalamu sekali lagi.

“Ya, itu sangat cocok dengan celemek yang kau gunakan,”

“Tapi, bagaimana caranya?” ucapnya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.

“Kau kan penari, lakukan sekarang! Atau aku tak mau meminum obatku,” ucapmu mengerucutkan bibirmu kesal. Baiklah, kau sebenarnya hanya berpura-pura agar laki-laki itu melakukan apa yang kau minta.

Ji Min menghirup nafanya perlahan, lalu ia mulai menggerakkan tubuhnya. Ya, ia mulai menari layaknya seorang ahjumma yang mabuk. Kau menahan tawamu saat laki-laki itu memang mengabulkan permintaanmu.

“Stop stop,” ucapmu tiba-tiba. Layaknya sebuah robot, ia benar-benar mendengarkan apa yang kau minta. Ia menatapmu bingung.

“Sekarang, ahjumma yang sedang mabuk yang melakukan sexy dance,” ucapmu sambil terkekeh.

“Mwo? Apa kau gila—”

“Baiklah, aku tak mau meminum obatku,”

Ji Min terlihat membuang nafasnya. Namun sedetik kemudian ia mulai menggerakkan tubuhnya. Ya, layaknya seorang ahjumma mabuk…dan melakukan sexy dance. Kau terbahak atas apa yang dilakukannya. Sungguh, entah kenapa ia benar-benar melakukan apa yang kau katakan saat ini.

Kini kau tengah menduduki sofa ruang tengahmu. Sebuah jendela yang berada di sampingmu sengaja tak kau tutup, sehingga cahaya bulan benar-benar memasuki rumahmu dan menerangi sebagian dari ruang tengahmu. Dan Ji Min?

Ya, Ji Min kini berada di sampingmu. Ia masih mengenakan celemek biru milikmu. Dan kini ia benar-benar terlihat lelah. Ya, bagaimana tidak, seharian ia memang berada di rumahmu, merawatmu dan melakukan apapun yang kau minta. Terdengar gila, tapi itu memang yang dilakukan laki-laki itu hari ini.

“Maaf,”

Ji Min memandangmu bingung saat kau baru saja mengucapkan sesuatu padanya. Kau berdehem pelan sebelum kau membuka mulutmu.

“Kau harus meninggalkan kelasmu. Padahal kau tahu bahwa hari ini tutor yang mengajarmu adalah tutor favoritmu dan mata kuliah itu–”

Ji Min meraih pucuk kepalamu dan mengelusnya pelan. Kini matamu juga mata laki-laki itu saling berpandang. Kau mati-matian untuk menahan nafasmu akibat itu, lalu kau memilih untuk menundukkan kepalamu.

“Kau tak perlu berkata demikian. Kau tahu, aku yang seharusnya minta maaf,” ucapnua kali ini. Kau mengangkat kepalamu dan kembali menatap laki-laki itu yang kini tak menatapmu.

“Kenapa?” tanyamu kali ini. Ia tersenyum tipis.

“Seharusnya kemarin aku tak mengajakmu untuk keluar, kau tak harus kehujanan saat di perjalanam dan pada akhirnya kita membatalkan rencana kita,”

Kau terkekeh pelan.

“Kau tak perlu minta maaf,” balasmu. Kali ini kaliam terdiam sekali lagi.

“Kau tahu, aku ingin menolak saat kau bilang akan kesini,”

Ji Min menaikkan salah satu alisnya sembari menatapmu.

“Kenapa?”

“Kau tahu, orang tuaku melarang laki-laki manapun untuk berada di dalam rumah bersamaku. Aku yakin mereka akan membunuhmu saat ini,”

Ji Min tertawa lepas saat mendengarnya. Sedangkan kau masih terdiam, karena menurutmu itu adalah pembicaraan yang serius.

“Lalu apakah kau berpikir aku adalah orang jahat yang bermiat memang tidak baik padamu?”

Kau mengerjapkan matamu saat laki-laki itu menanyakan hal tersebut. Kau berdehem canggung. Kau lantas menjauhkan dirimu sedikit dari laki-laki itu.

“T-tentu,” ucapmu sedikut terbata. Tanpa kau sadari, Ji Min tersenyum lebar. Laki-laki itu lantas menatapmu sekali lagi. Menatap matamu dalam dan perlahan mendekatkan dirinya perlahan padamu.

“Kau yakin?” tanyanya dengan senyumnya yang lain. Senyum yang terlihat mengerikan. Kau menutup matamu saat jaraknya sudah teramat dekat. Kau tahu bahwa detak jantungmu mungkin akan terdengar saat ini. Namun dengan cepat, kau mendorong tubuh laki-laki itu menjauh darimu dengan kedua kakimu yang sedari tadi terdiam di atas sofa. Dan ia terjatuh dari sofa dengan bodohnya.

“Akh! Sakit,”

“A-apa yang ingin kau lakukan eoh?! Kau pervert!” ucapmu berteriak. Kau melihat ke arah Ji Min yang masih tersungkur di lantai sembari mengelus dadanya yang kau tendang tadi. Ia tersenyum juga menahan rasa sakitnya.

“Kau tahu, aku tak seburuk itu,” ucap Ji Min membela. Ia lantas beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju dapur.

Kau membuang nafasmu, mencoba mengatur nafasmu kali ini. Oh ayolah, kau bisa mati jika laki-laki itu benar melakukannya. Dan meski laki-laki itu berniat untuk bercanda, itu sudah membuatnya hampir mati kehabisan nafas.

“Kau mau es krim?”

Kau kembali menatap laki-laki yang berada di dapur milikmu. Ia membawa sebuah es krim berukuran sedang di kedua tangannya. Kau mengangguk gembira menyambutnya.

“Hey, tapi apa kau benar-benar sembuh?” tanyanya menggoda. Kau mengerucutkan bibirmu sekali lagi, ia lantas terbahak mendengarnya. Ya, ia akui, kehadiran laki-laki itu hari ini, membuat keadaanmu membaik. Bahkan sangat baik.

Ji Min menempelkan punggung kepalanya pada dahimu saat ia menduduki sofa milikmu kembali. Ia melebarkan senyumnya.

“Ya, kau benar sembuh,” tandasnya kali ini. Ia lantas membuka kotak es krim yang ia genggam dan membiarkan dirimu memakannya dengan sendok ysmg ia beriksn tadi. Kau memakannya dengan senang hati.

“Kau tahu, meski kemarin kita terpaksa membatalkam kencan kita, namun kukira, hari ini adalah kencan terbaik kita,”

Kau menghentikan aktivitasmu memakan es krim. Ji Min menatapmu kali ini dengam kekehan kecil. Ia meraih salah satu ujung bibirmu yang kotor akibat noda es krim yang tertinggal. Matanya menatap dalam pada kedua matamu. Kali ini ksu tak merespon apapun saat laki-laki itu perlahan mendekatkan wajahnya pada wajahmu. Ksu hanya menutup kedua matamu saat kau merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirmu. Ya, hal ini lumrah kau rasakan, namun kau merasa begitu senang untuk hari ini.

Bagaimana tidak. Hari ini ia menyempatkan waktu untuk berada di rumahmu. Merawatmu, menghiburmu, bahkan melakukan apapun yang kau minta. Kau tak bisa memungkiri bahwa kau benar menyukai hari ini dibandingkan hari-hari lain saat kau berkencan dengannya.

Ya, hanya satu hari saja. Ia merasa begitu senang. Merasakan kebersamaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Merasakan bahwa satu hari ini hanya diperuntukkan untuknya dan laki-laki itu. Hanya satu hari saja.

“Chagiya, apa kau tak takut tertular?”

============

EPILOG

Kau meihat diam-diam ke arah dalam sebuah kelas yang setidaknya mulai dipenuhi banyak orang kini. Ya, sebuah kelas tari modern dimana kekasihmu belajar. Namun sayang, kau sama sekali tak melihat batang hidungnya kali ini.

Kau berjalan menuju sebuah bangku tak jauh dari kelas tersebut. Meletakkan beberaoa kertas partitur yang kau genggam. Dan meraih ponsel yang kau letakkan di dalam tas milikmu. Kau lalu menekan beberapa nomor yang sangat kau hafal.

Benar, nomor Ji Min. Apakah laki-laki itu tak mengikuti kelas sekali lagi? Ataukah kini laki-laki itu masih terlrlap dan masih berads di alam mimpi? Sleepyhead.

“Halo,”

Kau sedikitmengernyit saat seseorang menjawab panggilan darimu. Kau menjauhkan ponselmu sejenak, memperhatikan nomor yang kini kau panggil. Memastikan bahwa nomor yang kau panggil bukan nomor yang salah.

“Park Ji Min?” tanyamu memastikan.

“Kau kira siapa lagi?” jawab laki-laki itu yang berhasil membuatmu tersenyum. Tapi tunggu, suaranya terdengar parau saat ini.

“Kau tidak masuk lagi hari ini?”

“Yeah. Kukira begitu–”

Ucapan laki-laki itu terputus akibat batuk. Kau terliht khawatir saat mendengar suara laki-laki itu kali ini. Baiklah, sepertinya laki-laki itu sakit sekarang. Dan ia tahu pasti bahwa laki-laki itu tertular karenamu.

“Kau sakit karenaku?”

“T-tidak–” ucapnya kali ini disusul dengan batukan yang lain. Kau mendengus pelan. Baiklah, ini salahnya.

“Baik, tunggu aku disana,” ucapmu membereskan beberapa kertas partitur ke dalam tasmu.

“A-apa? Apa kau ingin melewatkan kelasmu hari ini?”

Kau tersenyum tipis.

“Kenapa tidak?”

“Tapi, bukankah mata kuliah hari ini penting bagimu, dsn kau bilang—”

“Oh ayolah, aku bisa meninggalkan apapun, demi memastikan kau baik-baik saja—” ucapmu yang lantas mengakhiri panggilanmu dengannya. Ya, setidaknya satu hari yang lain. Benar, satu hari yang lain untuk menghabiskan waktu bersamanya.

Advertisements

30 thoughts on “Just One Day (Jimin Version)

  1. kyaaaa jiminnn, sweet skali ff nya thor, suka ma sifat cute jh gaya pcaran mrka wkwkwkwwkwk jimin bakar roti ampe hangus –” cm klo pcar cwe itu jin pasti ga bakal sburuk itu/? tp jimin jjang!! pngn pnya pcar kyak jiminn xD

    Like

    1. Hahaha benarkah? Iya makasi kalau suka :p ini ngetiknya bener2 ngebut, jadi fanficnya sedikit dan pemdek sekali. Tapi syukurlah suka. Haha. Buat ini ngakak sebenarnya, jimin disini dbuat bodoh ‘-‘v haha. Makasi armyswag~^^ iya, jadi ngebayangin jd pcarnya jimin hehe. Dtunggu ff lain ta? ~^^

      Like

  2. kyaaaa jiminnn, sweet skali ff nya thor, suka ma sifat cute jg gaya pcaran mrka wkwkwkwwkwk jimin bakar roti ampe hangus –” cb klo pcar cwe itu jin pasti ga bakal sburuk itu/? tp jimin jjang!! pngn pnya pcar kyak jiminn xD

    Like

  3. 😁😁😁😁Kyaaaaaaa ini jimin banget xD lolololol aku sampai guling2 di kasur pas baca ini hahahaha another simple fict from you yet its so awsome one ^^
    Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

    Like

    1. Hahaha iya, cute but totally pervert!!! >< makasi author minarifini~^^ haha. Serius ya, ini beda banget sama ide awal. Dan kemarin akhirnya brusaha buat cepet dan alhamdulillah selsai juga ahahaha XD makasi~^^ stukur bisa buat fluff/? Haha karna moodnya bner2 angst -_- makasi~^^ dtggu ffnya :3

      Like

      1. Kkkkkkk ciiieee yg ngefluff hahahah
        Angst tp bisa jd kyk gini hahahaa
        Lucuuu ini jimin pea pas joget gaya ahjumma ahjumma xD
        Perv g ah g perv mana bagian pervnya hahaa

        Like

  4. Omo omo uri jiminie so sweet banget disini keren keren cerita cinta mereka . Author tsara ffnya selalu bagus suka suka , great job ditunggu karyamu yang lain

    Like

    1. Hahaha makasi jagiya~^^ astaga aku bner2 gatau mau buat apa kmren. trus tbtb kepikiran buat ini l. Astaga bnyak typo dan byk yg salah -_- makasi skali lagi jagiya~^^ hehe, mari kita tggu ff yg lain~^^

      Like

  5. Akhirnyaaaa ff ini keluar juga.. hahaha yaampun ini lucu sekali kisah cinta mereka.. bagus ini ceritanya simpel tapi sweetnya dapet banget, jimin astaga nurut banget sama cwenya.. XD
    di tunggu next versionnya nih semangat semangat!!

    Like

    1. Hahaha makasi unni~^^ serius ya, aku ngubah crtanya kualahan. Dari abis kita kluar knren, langsung dpt inspirasi ini masa /.\ haha. Makasi unnie~^^ iya nih, dtggu versi slnjutnya

      Like

  6. jiminnnnn…jiminnmmm aduuhh aq mau jd pcarnya nie thor kekekeeke
    thor suka ceritanya singkat padat jelas, pcaran mrka cute gmn gtu>\\<
    ohiya buat author rapmon ver, mianhee mianhee aq sudah bca uda komen tp gbisa msuk komen q, aq uda blg admin sandra. pdhal aq suka bgt yg rapmon jg, ceritanyaa daebak.. next version thor segera =)

    Like

    1. Hahaha makasi~^^ iya, maaf mmbuat menunggu lama. Akhir2 ini banyak tgas hehe. Oh iya she’s minarifini ~^^ skali lagi makasi ya, dtggu versi lain, ok? :3

      Like

    1. Hahaha makasi ya~^^ iya, sengaja banget bikin jimin manis disini haha. Soalnya, kehabisan ide/? Haha. Tapi alhamdulillah kalau suka :3

      Like

    1. Makasi uda suka /.\ hahaha. Iya, sngaja buat sudut pandang kedua, spayabisa byangin. Skali lgi makasi ne :3 dtggu next version nya ya ;D

      Like

    1. Haha iyaya~ disini author sengaja buat kocak. Karakternya disini, diusahakan buat sama krakternya hehe. Makasi~^^ dtggu next versionnya ya? 😀

      Like

    1. Mianhae~~~ seluruh author mngucapkan minta maaf sebesar-besarnya /bows deeply. Karena banyaknya tugas yang melanda, kesibukan yang tak ada hentinya dan ada beberapa accident. Kami belum bisa mepati janji kami. Tapi kami berudaha untuk menyelesaikan project secepatnya, jadi tunggu saja 🙂 ga bkal lama kok~ skli lg jeongmal mianhae

      Like

    2. Saya mewakili sel author, meminta maaf svsar2nya. Tanggal project kami undur, dikarenakan tgas2 yg mnumpuk dan kesibukan masing2 😦 jeongmal mianhae. Tgl project kami undur, tapi tnang saja, tidak akan memakan waktu yang lama. Jadi mhon maklum, ditunggu next version ne~^^

      Like

  7. Hahah.. Jimin itu pacar serba ada. Buah ada, obat-obatan ada. Dan itu obat yang biasa d bawa 1 bulan sekali apa? Obat PMS? Bhhaaq.. :v

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s