Fantasy · Mystery · Romance · Series

Just One Day (Suga Version)


poster

Title                : Just One Day/ Haruman

Author : ts_sora

Cast                :

  • Min Yoon Gi a.k.a Suga
  • Jang Geu Rim (OC)

 

Cameo            : You’re gonna find it

Length            : One shoot (un-amounted)

Disclaimer      : The artists are belongs to their company and This story is belongs to me. The original idea came from me. No plagiarism juseyo

A/N                 : Anyeong yeorobun :> well, agak nervous buat fanfiction series. Karena waktunya yang singkat. Karena aku membawakan Suga, agak susah sebenarnya. Maaf typo bersebaran -_- Karena pada dasarnya saya lebih suka sama Taehyung *culik Taehyung* hehe. Terima kasih untuk pihak terkait yang membantu pengerjaan fanfiction ini. Dalam hal ini vizkylee, thanks sudah berbagi fact dan pembentukan karakter Suga. Dan sekiranya, mulai suka dengan Yoon Gi /.\ Armyswag Hope you can enjoy the story~

 

 

 

 

“Karena saat terlalu lama sebuah perasaan kau tutupi, maka perasaan itu pada akhirnya tak berarti apa-apa,”

tumblr_lyoer9qL4k1r63uuao1_500-1

 Seorang laki-laki menghentikan motornya sesaat ia telah berada pada sebuah perhentian dekat taman samping Han River. Laki-laki tersebut mulai turun dari motor yang ia kendarai, ia lalu meletakkan helmnya pada bangku motornya.

Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia sedikit kedinginan hari ini, mengingat hujan selalu datang di bulan ini. Ia tersenyum tipis saat sekiranya ia menangkap sosok gadis yang tengah duduk pada salah satu bangku taman di sana. Ia membenahi jaket kulit yang ia kenakan sebelum ia melangkahkan kakinya menuju gadis yang mempunggunginya. Ia memperlahan langkahnya, mengendap-endap menuju gadis itu, berharap ia dapat membuat gadis itu terkejut akan kehadirannya. Kini jaraknya hanya beberapa langkah lagi. Laki-laki itu mengangkat kedua tangannya, membuka mulutnya dan..

“Sudahlah Yoon Gi, hentikan itu,” ucap gadis itu begitu tenang. Laki-laki itu, Min Yoon Gi merengut. Ia lalu berjalan menuju gadis itu dan menduduki bangku tepat di samping gadis itu.

“Bagaimana kau tahu kalau aku di belakangmu?”

Gadis itu tersenyum tipis. Ia menghentikan salah satu tangannya yang menari-nari di atas alas kertas putih berukuran sedang itu. Kemudian ia menatap laki-laki yang ada di sampingnya.

“Mudah, kau selalu menggunakan trik yang sama bertahun-tahun. Bagaimana aku bisa lupa?”

Min Yoon Gi terkekeh pelan.

“Apa kau mengebut lagi hari ini?” tanya gadis itu kali ini dengan memicingkan matanya. Min Yoon Gi menelan ludahnya dengan susah payah. Ia tersenyum canggung. Ia lantas menggelengkan kepalanya.

“T-tidak, aku tidak mengebut. Kau tahu kan ibuku selalu marah bila aku mengebut,” ucap Yoon Gi berdalih. Gadis itu masih menatap laki-laki tersebut dengan pandangan menyelidik.

“Kau berbohong kan? Kau bilang kau berada di Myungdong dan sekarang kau berada di sini dalam waktu yang singkat. Kau tidak bisa berbohong,” ucap gadis itu sedikit kesal. Jang Geu Rim. Ya, nama gadis itu Jang Geu Rim.

Ia dan Min Yoon Gi bersahabat sejak kecil. Ya, kedua orang tua mereka bersahabat sejak di bangku sekolah, hingga mereka memiliki anak masing-masing, mereka masih bersahabat. Itulah alasan mengapa mereka bersahabat. Alasan terlalu realistis bukan?

Min Yoon Gi mendengus kesal. Setidaknya ia sama sekali tak bisa berbohong pada gadis itu. Ya, waktu yang membuat mereka mengenal satu sama lain. Mereka terlalu hafal dengan tingkah laku satu sama lain, sifat satu sama lain.

Min Yoon Gi sengaja mempercepat laju kendaraannya saat gadis itu memintanya untuk menemaninya. Ya, entah kenapa saat gadis itu yang meminta, ia seakan mau saja melakukan apa saja. Bahkan, ia datang untuk menemui gadis itu saat ia berada di tempat yang cukup jauh sekalipun.

“Selesai,” ucap gadis itu tiba-tiba. Yoon Gi menatap gadis tersebut tak mengerti. Dengan sebuah senyum lain di wajah gadis itu, ia lantas memperlihatkan alas putih yang kini telah berubah tak semulus yang semula. Beberapa goresan pensil terlihat begitu sempurna membuat sebuah gambaran baru. Ya, gambar seorang gadis kecil dan seorang bocah terlihat di sana.

Min Yoon Gi tersenyum tipis. Ia tahu siapa kedua orang itu.

“Ya, lumayan,”

Gadis itu merengut seketika saat mendengar komentar laki-laki itu. Ia lantas menutup note menggambarnya cepat.

“Apa?”

“Kau tak pernah memuji apapun yang kugambar bukan?”

Min Yoon Gi terkekeh pelan, namun ia menyembunyikannya lagi. Bagaimana gadis itu bisa semakin menggemaskan tiap harinya?

Sebenarnya ia hanya ingin berkata jujur. Ya, ia tak tahu apapun yang berhubungan dengan menggambar atau semacamnya. Ia bahkan akan memberikan komentar yang sama untuk gambaran atau lukisan yang lain, bahkan untuk lukisan Van Gogh sekalipun. Dan gadis itu, selalu menanyakan hal sama untuk lukisan atau gambaran yang ia buat, meski jawabannya tetap sama.

Min Yoon Gi menatap gadis itu yang kini beralih pada tas miliknya. Ya, gadis itu lantas mengeluarkan sebuah tabung kaca berukuran kecil dengan tutup silver di atasnya. Gadis itu tersenyum menatap beberapa kertas bewarna-warni berbentuk bintang yang ada di dalam tabung transparan itu.

Tapi tidak untuk Yoon Gi. Wajahnya terlihat malas saat gadis itu melakukannya.

“Kau masih menyimpannya?”

Gadis itu mengangguk dengan penuh semangat. Ia membuka salah satu halaman note menggambarnya, dan kini beberapa potong kertas panjang terlihat di sana. Ia mengambil salah satu di antaranya dan mulai membentuk sebuah bintang.

“Kau percaya apapun yang dikatakannya?” tanya Young Gi sedikit geram. Jang Geu Rim menatapnya dengan tampang tak berdosa, namun ia kembali melakukan aktivitasnya.

“Ada apa? Kenapa kau begitu kesal?” tanya gadis itu polos. Min Yoon Gi mendengus mendengar apa yang dikatakan gadis itu padanya.

“Kim Seok Jin oppa bilang, jika toples ini terisi penuh bintang, maka satu persatu permintaan yang diwakili tiap satu bintang, akan terkabul. Itu yang ia katakan padaku,” imbuh gadis itu yang masih saja mengerjakan aktifitasnya. Min Yoon Gi mendengus kesal. Bagaimana bisa gadis itu mempercayai laki-laki tersebut?

Ya, Kim Seok Jin. Laki-laki itu adalah senior yang mengerjakan program studi yang sama dengan Jang Geu Rim. Laki-laki itu yang membimbing Jang Geu Rim untuk lolos pada audisi melukis di tingkat nasional. Oh, hadiahnya hanya mendapat bimbingan melukis oleh salah satu pakar melukis di Korea Selatan. Dan itu sangat sangat tidak berarti, bukan? Setidaknya itu yang ada di pikiran Yoon Gi.

“Kim Seok Jin oppa, Kim Seok Jin oppa,” ucap Yoon Gi pelan. Namun nada suaranya terdengar begitu kesal. Jujur, ia tak menyukai nama itu yang selalu disebut. Ia tak suka bila gadis itu selalu berada di samping laki-laki tersebut. Dan…argh!

Ia sama sekali tak menyukai laki-laki yang hanya berbeda umur satu tahun dengannya itu. Min Yoon Gi sedikit terkejut saat ia sadar bahwa gadis itu memperhatikannya sedari tadi.

“Wae? Kenapa kau melihatku seperti itu?”

“Kau tahu, aku daritadi hanya mendengarkan kau menghirup nafasmu dan membuangnya. Dan demi Tuhan, kau melakukannya berulang kali. Kau berisik,” ucap gadis itu begitu datar. Dan ayolah, Min Yoon Gi bertambah kesal saat gadis itu melakukannya.

Yoon Gi meraih pucuk kepala gadis itu dan mengajak rambut gadi itu gemas. Gadis itu mengerang saat laki-laki itu melakukannya. Ya, hal yang paling Yoon Gi sukai adalah mengacak rambut gadis itu saat ia merasa kesal dengan gadis itu. Menurutnya, wajah gadis itu begitu menggemaskan manakala ia mengacak rambutnya seperti saat ini.

“Ya! Hentikan!”

Min Yoon Gi tertawa pelan saat kini Jang Geu Rim memberontak. Ia lantas menghentikan aksinya. Gadis itu lantas menata rambutnya saat laki-laki itu menghentikan aksinya. Gadis itu kemudian beralih pada tas miliknya sekali lagi. Ia mengeluarkan sebuah syal bewarna abu-abu dari sana. Ia menatap Yoon Gi sesaat sebelum ia beranjak dari kursinya. Ia mendekati laki-laki tersebut dan meletakkan syal tersebut pada leher laki-laki itu dan menatanya.

Yoon Gi hanya bisa diam saat gadis itu melakukannya. Ya, seakan waktu berjalan begitu lama, hingga ia dapat melihat dengan jelas dan sempurna apa yang dilakukan gadis itu padanya. Wangi tubuh gadis itu begitu jelas ia hirup. Entah, apa gadis itu sadar bahwa sekarang jantungnya mendadak berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.

Min Yoon Gi menyadari apa yang tengah ia rasakan saat ini, ia lantas mengalihkan pandangannya dan menata kembali nafasnya yang sempat ia tahan untuk beberapa menit yang lalu.

“Sudah, kau terlihat kedinginan tadi. Apa kau tidak sadar bahwa wajahmu memerah sedari tadi?” ucap Geu Rim tertawa kecil.

Min Yoon Gi hanya tersenyum canggung saat itu juga. Ya, bagaimana bila gadis itu tahu apa yang tengah ia lakukan tadi? Ya, sekiranya ia benar-benar gila akan sahabat kecilnya itu kini.

Min Yoon Gi sedikit mendengus. Ia menatap jarum jam tangannya yang berdenting. Ya, hingga ia begutu hafal dengan suara dentingan jam tangannya tersebut. Setidaknya, ia telah berada di atas motor miliknya yang tengah terparkir sejak satu jam yang lalu. Ya, hari ini ia berjanji akan menjemput Jang Geu Rim di kampusnya, tapi sampai sekarang ia tak menemukan gadis itu.

“Baiklah,” ucapnya sedikit kesal. Ia kemudian tutun dari motornya. Ia rasa, ia harus mencari gadis itu sekarang. Jika tidak, ia yakin ia akan mati kebosanan menunggu.

Min Yoon Gi sedikit bingung saat ia mulai menjajakan kakinya menuju dalam kampus dimana gadis itu mengerjakan studinya. Benar, meski ia sudah sering sekali menjemput gadis itu, namun baginya untuk menjajakkan kakinya sejauh ini di dalam kampus gadis tersebut, adalah kali pertama.

“Permisi,” ucapnya mencegah salah seorang mahasiswi yang tengah berjalan menuju dirinya.

“Maaf, apa kau tahu dimana Jang Geu Rim berada?”

“Ah, Jang Geu Rim unni? Aku tadi melihatnya di ruag melukis. Kau bisa pergi berjalan di sampai ujung, dan ruangan di sisi kanan adalah ruang melukis” ucap gadis yang sekiranya lebih muda dari Jang Geu Rim tersebut.

“Oh baiklah, terima kasih,” ucap Min Yoon Gi kali ini. Ia lantas melanjutkan kakinya menuju koridor. Kini ia telah berada di ujung koridor, ia lantas membuka pintu ruangan yang ada pada sisi kanannya.

Min Yoon Gi mengepalkan tangannya sesaat ia tahu bahwa Jang Geu Rim berada di sana, tapi bersama laki-laki lain. Benar, Kim Seok Jin.

“Ya! Geu Rim-ah!”

Kedua orang yang tengah berduaan dengan dua buah kanvas di hadapan mereka, kini menatap Min Yoon Gi. Jang Geu Rim tersenyum seraya melambaikan tangannya pada Min Yoon seakan memang tak terjadi apa-apa. Dan hal itu entah kenapa, membuat Min Yoon Gi bertambah kesal.

Min Yoon Gi menarik tangan Geu Rim sesaat ia telah berada di samping gadis itu kini.

“Ayo pulang,” ucap Yoon Gi yang masih saja kesal. Jang Geu Rim sedikit bingung dengan tingkah Yoon Gi, memilih untuk menurut saja. Ia lantas memasukkan barangnya asal pada tas miliknya.

“Mi-mianhae oppa, aku harus pulang dahulu,” ucap Geu Rim tergesa saat Yoon Gi memaksanya berjalan meninggalkan ruangan. Ia melambaikan tangannya pada seniornya sesaat sebelum ia benar-benar meninggalkan ruangan.

Wajah Min Yoon Gi masih saja kesal, meski kini Geu Rim sudah berada di dekatnya. Min Yoon Gi masih saja tak membuka mulutnya, ia masih saja menggengam erat tangan Geu Rim untuk berjalan menuju motornya. Geu Rim juga memilih untuk diam, ya setidaknya ia benar-benar tidak tahu apa yang tengah laki-laki itu pikrkan kali ini.

Kini mereka telah sampai pada motor Yoon Gi yang terparkir. Ia kini benar-benar melepaskan genggaman tangannya, namun wajahnya masih terlihat kesal.

“Ada apa denganmu?”

“Ada apa denganku? Kau tahu, aku telah menunggumu sejam yang lalu. Dan aku malah menemukanmu berduaan dengan dia?” ucap Min Yoon Gi dengan nada yang kali ini meninggi.

“Dia mengajariku tentang aliran baru dalam melukis. Ia hanya menunjukkannya padaku. Maaf, aku lupa saat kau berjanji untuk menjemputku,”

“Lalu, jika aku tak darang tadi. Kau akan pulang dengan siapa hah?” ucap Min Yoon Gi yang masih saja kesal.

“Seok Jin oppa,” ucap Geu Rim seakan tak terjadi apa-apa. Kini Min Yoon Gi benar-benar marah. Itu terlihat dari wajahnya yang kini memerah. Jang Geu Rim tahu hal itu. Ia sangat tahu bahwa laki-laki itu marah karena Geu Rim lupa tentang hal itu, atau..lebih dari itu.

Min Yoon Gi menghembuskan nafasnya. Sekiranya ia merasa sangat sia-sia jika ia menunjukkan rasa marahnya saat ini. Terasa…sangat konyol. Bagaimana gadis itu tidak sadar bahwa rasa marahnya adalah rasa cemburunya. Ia sangat membenci laki-laki itu saat bwrada cukup dekat dengan Jang Geu Rim.

Min Yoon Gi merogoh sakunya, sesuatu yang berkilauan kinu nampak dari sana. Ia meraih salah satu tangan Geu Rim, dan meletakkan benda berkilauan itu pada telapak tangannya.

Jang Geu Rim sedikit tak mengerti, namun seketika senyumnya mengembang saat ia sadar bahwa Min Yoon Gi memberukannya sebuah gelang bewarna silver. Wajahnya terlihat begitu bahagia saat ini.

“Aku membelinya kemarin. Aku berjanji menjemputmu hari ini untuk memberikannya,” ucap Min Yoon Gi yang masih saja dingin. Jang Geu Rim terkekeh pelan. Baiklah, apa kali ini laki-laki itu berusaha untuk menjadi laki-laki cool di hadapannya?

“Kyeopta~”

Dengan segera gadis itu memakainya pada salah satu tangannya. Min Yoon Gi tersenyum tipis saat melihat hal itu. Ya, seminggu yang lalu tepatnya, gadis di hadapannya tersebut merengek untuk dibelikan sebuah gelang yang padahal menurutnya sangat biasa itu. Namun, meski ia tak menyukai gelang tersebut, Jang Geu Rim sekiranya menyukainya dan entahlah sihir apa yang membuatnya membelikan barang yang saat itu sempat habis.

Min Yoon Gi meraih sebuah helm bewarna putih yang ia sengaja sediakan untuk gadis tersebut, ia lantas memakaikan helm tersebut pada gadis tersebut. Hal itu membuat keduanya saling menatap untuk beberapa menit hingga Geu Rim yang memutuskan untuk memalihkan pandangannya. Ya, kecanggungan selalu ada di antara mereka saat mereka saling bertatap.

Min Yoon Gi tertawa kecil. Entah kenapa ia senang melihat ekspresi gadis itu saat ini. Ya, untuk yang entah ke berapa kalinya ia juga membuat wajah gadis itu memerah. Ya, entah apa yang ada di pikiran gadis itu, yang jelas ia sangat menyukainya.

“Oke, naiklah,” ucap Yoon Gi menyadarkan lamunan Geu Rim beberapa saat yang lalu. Gadis iti tersenyum canggung sebelum ia menuruti apa yang diminta laki-laki itu padanya. Namun, untuk beberapa menit serelah mereka berada di atas motor, Yoon Gi tak kunjung melajukan motornya.

“Ya! Kenapa kita tidak berangkat?” ucap Geu Rim seraya menepuk salah satu pundak laki-laki itu. Yoon Gi menoleh ke arah belakang dengan seringaian miliknya.

“Aku tahu kalau kemampuanku dalam mengendarai motor memang tak ada duanya, tapi…”

Yoon Gi meraih kedua tangan Geu Rim tiba-tiba. Ia lantas meletakkan kedua tangan itu pada pinggangnya, menginstruksikannya untuk memeluk erat pinggangnya. Geu Rim tetap saja diam. Ia takut bahwa suara detak jantungnya terdengar oleh Yoon Gi dengan jarak sedekat ini.

“Baiklah, ayo kita pulang,” ucap Yoon Gi jahil. Ya, sebuah kemenangan baginya.

Yoon Gi menatap gadis yang tengah berjalan menghampirinya dengan dua buah cone es krim di kedua tangannya. Senyum manis gadia itu masih saja terlihat di wajahnya.

“Ini,” ucap Geu Rim memberikan salah satu cone es krim yang ia bawa pada laki-laki itu. Dan kini, es krim tersebut telah berpindah tangan.

Jang Geu Rim lalu mendudukkan dirinya pada bangku yang berada di hadapan laki-laki itu. Benar, kini mereka berada pada sebuah kedai es krim. Jang Geu Rim baru saja menyelesaikan kuliahnya pada hari ini, maka mereka sengaja untuk berada di sana. Bagaimana dengan Yoon Gi? Baiklah, ia memang kuliah, tapi entah kenapa ia bisa saja pergi dan mangkir dari kuliahnya kapan saja saat gadis itu memanggilnya.

Untuk beberapa saat yang lalu, keduanya menijmati es krim masing-masing, namun kali ini tidak untuk Geu Rim. Kini kefokusannya harus dipertimbangkan. Min Yoon Gi tahu bahwa kini gadis itu tengah memperhatikan sepasang kekasih yang berada di luar kedai es krim. Gadis itu sempat tersenyum beberapa kali saat laki-laki tengah memberikan bouquet bunga pada sang gadis.

“Ya!”

Geu Rim tersentak saat Yoon Gi mengagetkannya. Geu Rim srmpat hampit kehilangan cone es krim miliknya saat salah satu tangannya terlonjak kaget. Yoon Gi tertawa lepas saat melihat ekspresi Geu Rim saat ini. Tapi tidak untuk Geu Rim, wajahnya terlihat kesal kali ini.

“Apa yang sedang kau lihat hah?” tanya Yoon Gi yang mencoba menahan tawanya. Geu Rim masih saja merengut. Ia memakan asal es krim miliknya. Ya, suasana hatinya berubah menjadi sangat buruk saat ini.

Yoon Gi tahu bahwa Geu Rim membayangkan bahwa gadis yang tengah bersama kekasihnya itu adalah dirinya. Tapi, Young Gi tak suka hal itu. Ya, ia tak tahu apa yang dipikirkan Gei Rim saat ini. Benar, ia tak tahu siapa yang tengah gadis itu pikirkan sebagai kekasihnya nanti. Dan jujur, hal itu membuat Yoon Gi cemas.

“Kau membuatku kesal,”

“Oh benarkah?” tanya Yoon Gi jahil. Ia masih saja tertawa tpi tidak untuk Geu Rim.

“Ya, Geu Rim-ah,”

Jang Geu Rim mendongakkan kepalanya saat sahabat kecilnya itu memanggilnya. Laki-laki itu itu menyeringai padanya, sesaat kemudian salah satu tangan laki-laki itu ulurkan. Lantas salah satu tangan itu menyentuh bibir Geu Rim pelan dan mengusapnya pelan.

Geu Rim terpaku di tempatnya. Saat ia sadar bahwa ia tak berkedip untuk beberapa menit yang lalu, ia lantas mengalhkan pandangannya, mencoba mengontrol detak jantungnya kali ini. Oh baiklah, ada apa dengan dirmu Geu Rim-ah? Bukankah ini adalah hal yang sudah biasa?

“Makanlah es krimmu dengan baik,” ucap Yoon Gi dengan menyembunyikan senyumnya. Ya, ekspresi yang sama tiap kali ia melakukan itu. Entahlah, tapi ia benar-benar suka menggoda gadis itu.

“Y-yoon Gi-ah, aku punya sesuatu untukmu,” ucap Geu Rim yang mencoba menutupi rasa gugupnya. Ia lantas dengan cepat meraih tasnya dan meraih sebuah amplop bewarna biru muda dari salah satu kantungnya. Ia lalu meletakkannya di meja, lalu mendorongnya lebih dekat dengan Yoon Gi.

Yoon Gi menatapnya bingung, ia lalu meraihnya dan membukanya.

“Apa ini?”

“Ah itu. Itu adalah undangan untuk acara prom nite kampus,” ucap Geu Rim menjelaskan. Yoon Gi menatap kertas yang ada di dalam amplop tersebut dengan pandangan aneh.

Formal suit?”

Geu Rim mengangguk mendengar apa yang dikatakan Yoon Gi.

“Ya, ini adalah acara prom nite. Dan ada pesta dansa pada salah satu sesi acara,”

“Lalu?” ucap Yoon Gi masih belum mengerti.

“Tiap mahasiswa harus membawa seseorang pada pesta itu. Dan…dan aku mengajakmu,” ucap Geu Rim yang tiba-tiba saja nada suaranya merendah. Yoon Gi mengangkat salah satu alisnya, namun dengan segera seringaian muncul di wajahnya.

“Jadi… kau mengajakku berkencan?” tanya Yoon Gi dengan nada menggoda. Mata Geu Rim membulat dengan sempurna saat ini. Wajahnya kini memerah entah kenapa.

“Y-ya! Karena aku tak memiliki seseorang, j-jadi aku berniat mengajakmu. Jika kau tak mau, bilang saja!”

Yoon Gi tertawa lepas untuk sekian kalinya. Ekspresi gadis itu tetap saja menggemaskan. Ya, siapapun akan tergiur untuk menggodanya.

“Aku tidak berkata tidak bukan? Tapi.. apa harus aku mengenakan tuxedo?” ucap Yoon Gii mengeleng-gelengkan kepalanya. Ya, sejenak ia bisa membayangkan doronya mengenakan tuxedo. Oh, ia tak suka dengan jenis pakaian itu, tapi..

Yoon Gi tersenyum tipis. Ya, bagaimana dengam Geu Rim daat ia memakai dress nantinya? Yoon Gi menghembuskan nafasnya. Baiklah, ia akan datang. Ya, hanya untuk menjadi pendamping gadis itu nantinya.

“Ahh!!!”

Min Yoon Gi menutup wajahnya dengan bantal miliknya. Ia mengerang keras. Membentur-benturkan kepalanya dengan bantal miliknya.

“Ya Hyung! Bisakah kau diam?” ucap seorang laki-laki lain di dalam ruangan. Laki-laki yang lebih muda kiranya tengah fokus dengan permainan yang ia mainkan dengan pc milik Yoon Gi. Tanpa babibu, Yoon Gi melemparkan bantal miliknya pada laki-laki yang lebih mida darinya tersebut. Dan ya, ia tepat sasaran untuk kesekian kalinya.

“Ya, Hu Seok-ah, kalau kau berisik, aku akan mengusirmu. Arra!” ucap Yoon Gi unring-uringan. Laki-laki yang lebih muda tersebut terkekeh pelan. Ya, ia tak memiliki pilihan lain selain menuruti apa yang diminta seniornya itu. Benar, kini mereka berada di kamar Yoon Gi.

Min Yoon Gi memang meminta juniornya itu untuk beemain di rumahnya, tapi kini sangat teelihat bahwa hanya Jung Hu Seok lah yang menikmati waktunya, sedangkan pemilik rumah? Entah apa yang Yoon Gi tengah pikirkan. Laki-laki itu hanya menghembuskan nafasnya, lalu menariknya, lalu mengerang, lalu membentur-benturkan kepalanya dengan bantal miliknya dan demi Tuhan, bisa saja hari Jung Hu Seok senasib dengannya.

“Ada apa denganmu? Kau hanya mengerang, dan berguling-guling di ranjangmu. Kau ini memang berniat mengajakku bermain atau tidak?” protes Jung Hu Seok kali ini. Min Yoon Gi melemparkan tatapan tajam pada juniornya yang kali ini berani berbicara-yang dirasa- tak sopan. Yoon Gi mendudukkan dirinya dan menyandarkan tubuhnya pada dinding.

“Dia sedang bersama dengan laki-laki sialan itu saat ini,” ucap Yoon Gi setengah tak terdengar.

“Geu Rim nunna? Laki-laki sialan? Lalu apa masalahnya?”

“Ish!” ucap Yoon Gi kesal yang mengangkat salah satu tangannya hendak memukul juniornya tersebut. Ya benar, apa masalahnya? Lalu kenapa ia seperti ini saat ia tahu bahwa gadis itu memutuskan untuk pergi dengan seniornya?

“Itu salahmu hyung. Bukankah dia mengajakmu?”

Yoon Gi menatap juniornya kesal.

“Ya! Bagaimana aku tidak menolak? Ia mengajakku untuk datang ke pameran lukisan Leonardo siapa itu..Leonardo D’caprio atau siapalah,”

Hu Seok tertawa lepas saat laki-laki yang lebih tua darinya tersebut terlihat begitu bodoh. Dengan mencoba menghentikan tawanya, ia berkata..

“Leonardo Da Vinchi hyung. Kau memang payah dalam hal itu,”

Yoon Gi tak merespon. Ia memang akui bahwa ia benar-benar bodoh dan tak tertarik dengan hal menggambar atau semacamnya, beda halnya dengan Geu Rim yang sangat tertarik dengan hal tersebut. Bahkan, gadis itu telah memiliki bakat emas tersebut saat mereka duduk di bangku TK. Baiklah, kenapa ia kembali memikirkan gadis itu kali ini?

Min Yoon Gi mengacak rambutnya frustasi.

“Hyung, kau jelas menyukai Geu Rim nunna, kenapa kau tidak mengatakannya saja?”

Min Yoon Gi menghembuskan nafasnya. Ya, ia akui, ia memang menyukai gadis itu sejak lama, namun mengatakannya? Tak semudah itu. Mereka bertema  sejak dulu, mengerti satu sama lain, dan sangat hafal karakter masing-masing.Tidakkah terasa canggung saat ia mengatakannya?

Lagipula, seniornya itu..

“Apa kau berpikir Geu Rim juga menyukaiku? Atau ia menyukai seniornya itu?” tanya Yoon Gi tiba-tiba. Hu Seok yang mendengarnya hanya mengedikkan bahunya.

“Entahlah, kau yang selalu bersama dengannya. Apakah kau takut bersaing dengan seniornya?”

Min Yoon Gi membuang bantal miliknya yang lain pada junitonya tersebut. Takut? Mana mungkin. Ya, ia tak memiliki rasa takut untuk itu. Tapi, ia tak ingin dianggap gadis itu bodoh saat ia nantinya benar-benar serius tentang perasaannya. Ia takut saat mengetahui bahwa gadis itu tak memiliki perasaan yang sama padanya.

“Kalau begitu katakan padanya,” imbuh Hu Seok kali ini. Wajahnya kini berubah menjadi sangat-sangat serius.

“Tapi bagaimana caranya?”

Hu Seok mengembangkan senyumnya saat Yoon Gi terlihat begitu penasaran.

“Kau datang pada orang yang tepat, anak muda,” ucap Hu Seok dengan tawa kecilnya. Ya, entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.

Min Yoon Gi menatap layar ponsel miliknya. Ia mempercepat langkahnya saat ia sadar bahwa ia kini terlambat satu jam lamanya. Ya, hari ini ia berjanji untuk datang ke acara prom nite kampus Jang Geu Rim. Seharusnya, ia yang menjemput Geu Rim dan dstang ke acara prom nite bersama, tapi hal itu tak dipilih Yoon Gi.

Jang Geu Rim meminta dirinya untuk datang ke rumahnya dan mengendarai limousine untuk berangkat ke acara bersama, namun Yoon Gi membenci hal itu. Ayolah, Yoon Gi sudah membenci memakai formal suit seperti sekarang dan datang ke acara semacam itu. Ah, dia sudah cukup tersiksa dengan tuxedo milik salah satu temannya yang terlalu kecil di tubuhnya.

Yoon Gi mengerang saat setidaknya beberapa tituk hujan mengenai tuxedo miliknya. Ah, jika bukan karena permintaan Jung Hu Seok, ia tak akan keluar di malam hari untuk membeli bouquet bunga di Seoul. Percayalah, hanya seperempat toko bunga yang buka pada malam hari.

Yoon Gi tak menyukai hal itu, tapi ayolah Yoon Gi! Ini adalah hari penting baginya, karena ia bermaksud untuk mengungkapkan perasaannya pada gadis itu, dan apapun yang ia lakukan saat ini adalah bentuk pengorbanan bukan? Dan ia tak pantas untuk menyerah di awal pengorbanan ini.

Yoon Gi berjalan terbutu menuju motor yang ia parkir pada salah satu tepi jalan. Ia tengah menggenggam sebuah bouquet bunga pada salah satu tangannya. Ia lantas menaiki motor miliknya dan mulai menyalakan mesinnya. Taerdengar gila memang jika ia harus mengendarai motornya hanya dengan terfokus pada satu tangan sedangkan yang lainnya tengah sibuk dengan hal lain. Namun ia tak peduli akan hal itu.

Yoon Gi mempercepat laju motornya sesaat ia tahu bahwa ponselnya berdering. Ia sangat tahu kalau Jang Geu Rim menelponnya sedari tadi. Bagaimana tidak, ia terlambat setidaknya satu jam lebih dari sekarang, dan ia tahu bahwa Geu Rim mungkin saja akan marah besar terhadapnya. Tapi, apakah ia akan tetap marah setelah ia mendapatkan bouquet bunga darinya? Yoon Gi terkekeh pelan sesaat ia membayangkan wajah gadis itu.

Suara dering ponselnya berdering sekali lagi, salah satu tangannya yang masih terfokus dengan bouquet bunga, mencoba menggapai ponsel miliknya yang ia letakkan pada saku miliknya. Ya ia hanya ingin mematikan ponselnya yang sekiranya getaran yang dihasilkan membuatnya terganggu.

‘Tin! Tin! Tin!” Suara klakson terdengar begitu keras pada kedua telinganya.

Yoon Gi dengan cepat membelokkan arah laju motornya ke kiri sesaat ia sadar bahwa sebuah mobil berjalan dari arah kanan. Bouquet bunga yang ia genggam ternjatuh sesaat ia berusaha keras menghentikan laju motornya dan…

‘Brak!’

Bak sebuah dentuman begitu kuat terdengar sangat keras. beberapa decitan kendaraan terdengar begitu keras dari segala arah. Suara pecahan yang begitu keras terdengar dari seluruh sisi. Yoon Gi sempat terlempar begitu jauh dan jatuh menghantam tanah begitu keras. Yoon Gi sempat merintih namun sekian detik ia kehilangan kesadarannya saat ia sadar bahwa ia memuntahkan begitu banyak darah.

Gadis yang berbalut dress bewarna merah hati memandang gusar sekitarnya. Ia menggigit bibir bawahnya. Ia menatap jam tangan miliknya, kini sudah dua jam lewat, tapi orang yang ia tunggu tak kunjung datang. Ada apa dengan dirinya?

“Geu Rim-ah, kau ingin minum? Ayolah sejak tadi kau hanya berdiam diri di situ saja,” ucap gadis lain berjalan ke arahnya. Geu Rim mengangkat senyumnya singkat lalu ia menggelng perlahan. Ia tidak butuh minum, sungguh.Ia hanya butuh seseorang datang sekarang juga.

“Baiklah, ambil saja minuman milikku. Aku baru saja mengambilnya, biar aku mengambil yang baru,” ucap gadis itu memberikan segelas minuman pada Geu Rim, belum sempat gelas itu berpindah tangan, gelas tersebut terjun bebas dari pegangan gadis di hadapannya, hingga gelas tersebut hancur berkeping-keping.

Geu Rim menahan nafasnya. Entah kenapa dadanya terasa begitu sesak saat ini.

Yoon Gi-ah kau ada dimana sekarang?

Dasar tanah terasa begitu dingin. Suara angin mengutuk diri mereka untuk bernyanyi. Ya, sunyi. Namun, dingin udara sempat menyentuh tulang belulang sang laki-laki yang tengah terbaring pada entah apa. Hingga merasuk pada sela belulang dan seakan menyakiti tiap sel tulangnya. Laki-laki itu lantas merintih.

“Ah! Sakit!”

“Sakit! Apakah semua tulangku hancur?”

“Ya! Bangunlah!”

“Apa ada kemungkinan aku mati?”

“Ya!”

Laki-laki yang terbaring pada sebuah tanah lapang, Mencoba menggerakkan tangannya yang terasa begitu berat.

“Tidak. Aku benar-benar tidak bisa menggerakkan tubuhku,”

“Bukalah matamu dulu!”

“Siapa itu?”

Laki-laki yang masih terbaring tersebut berusaha keras membuka matanya yang begitu berat. Pandangannya setidaknya begitu kabur. Ia memandang sekitarnya namun hasilnya sama. Ya, hanya warna putih dan kebulan asap bewarna putih yang ada di sekitarnya. Bahkan alas dimana ia terbaring memiliki warna yang sama.

“Dimana aku?”

Laki-laki itu merintih lalu berusaha mendudukkan dirinya saat ia merasa tubuhnya kini bisa digerakkan. Ia masih terlihat bingung. Sekitarnya kosong, tak ada apapun, bahkan tak ada dinding yang membatasi dirinya. Seperti sebuah ruang angkasa tanpa batas.

“Hey, apa kau bisa melihatku?”

Laki-laki itu membalikkan tubuhnya saat sekiranya seorang laki-laki lain berbicara kepadanya. Laki-laki lain berambut putih perak tengah memandangnya dengan kacamata hitam yang ia kenakan. Laki-laki itu lantas menaikkan salah satu bibirnya menunggu laki-laki yang sedang kebingungan itu berdiri.

“S-siapa kau? D-dimana aku?” ucap laki-laki yang masih terduduk. Ia lantas merintih lagi. Ia memegangi kepakanya yang terasa begitu berat, ia sedikit tersentak saat bercaj darah segar terlihat di telapak tangannya.

Laki-laki itu lantas memaksakan dirinya untuk berdiri dan kini ia benar-benar terkejut dengan keadaannya. Ya, tuxedo bewarna putih miliknya setidaknya berubah warna. Ya, warna merah darah terlihat dari beberapa sisi pakaiannya. Tampilannta begitu acak-acakkan. Ia menyadari bahwa beberapa bagian tuxedo yang ia kenakan robek.

“A-apa aku…”

“Apa kau sudah sadar dimana kau sekarang?”

Laki-laki bertuxedo itu masih terdiam namun sesaat setelahnya ia mengepalakan kedua tangannya.

“Min Yoon Gi, kau sudah meninggal dunia sejak beberapa jam yang lalu,” ucap laki-laki yang berada di sampingnya begitu dingin.

“Tidak mungkin!” ucap laki-laki bertuxedo itu tak percaya, namun sesaat kemudian ia merintih kembali. Sebelah tangannya terasa begitu sakit, apakah kali ini tulang tangannya juga remuk?

“Kau bisa melihat bagaimana penampilanmu bukan? Min Yoon Gi,penampilanmu sungguh buruk. Akankah kau meninggalkan dunia dengan penampilan seperti ini?” ucap laki-laki yang entah siapanya itu. Laki-laki berambut putih perak itu lantas melepaskan kacamatanya. Kini pandangan mata yang terlihat sangat sinis dapat Yoon Gi lihat dengan jelas.

“Siapa kau?”

“Kuulangi Min Yoon Gi. Akankah kau meninggalkan dunia dengan seperti ini?” tanya laki-laki berambut putih itu sekali lagi. Kedua tangannya ia lipat tepat di dadanya. Kini wajahnya terlihat serius.

“Ku tanya, siapa kau? Dan kenapa kau berada disini?” tanya Yoon Gi yang masih bingung dengan apa yang ia alami. Laki-laki berambut perak itu tersenyum tipis. Lalu laki-laki tersebut menyentikkan jarinya dan tiba-tiba sebuah buku bewarna hitam berada di kedua tangannya.

“Aku salah seorang malaikat. Tugasku adalah membawamu ke dunia abadi. Sekali lagi kuulangi, akankah kau meninggalkan dunia dengan seperti ini?”

“Tidak, aku belum mau mati,” ucap Min Yoon Gi tegas. Namun, semakin ia menyanggah fakta yang ada, tubuhnya semakin terasa sakit. Sakit yang teramat luar biasa. Ia lantas merintih, mencoba menahan rasa sakit, namun gagal.

“Kau tak bisa menolak takdirmu Min Yoon Gi. Kau akan merasakan sakit saat kau sekarat seperti waktu itu. Kuulangi pertanyaanku, maukah kau…”

“Iya!” ucap Yoon Gi tegas. Dan seketika rasa sakit yang menjalar di tubuhnya menghilang. Laki-laki berambut putih perak itu kembali menyeringai.

“Adakah suatu urusan yang belum kau penuhi?” tanya laki-laki itu dengan memandang buku bewarna hitamnya dengan serius. Min Yoon Gi menatap laki-laki itu bingung. Laki-laki itu kembali menyeringai.

“Saat orang sepertimu berada di sini dengan keadaan seburuk itu, itu berarti suatu urusan belum kau penuhi atau…”

“Atau?”

“Seseorang tak ingin kau pergi,”

Min Yoon Gi mengernyitkan dahinya sejenak. Lalu ia berkata..

“Ibuku?”

Laki-laki berambut putih perak itu menggeleng perlahan. Ia kembali menatap lembaran pada buku bewarna hitam miliknya dengan sebuah senyum lain, ia kembali membuka mulutnya.

“Jang Geu Rim,”

Laki-laki bertuxedo putih itu, dapat merasakan dadanya begitu sesak tiba-tiba. Nama itu kembali teringatkan di kepalanya. Ya, urusan yang belum selesai. Janji yang belum sempat ia tepati dan.. tunggu. Laki-laki itu bilang apa?

“Ia tak ingin aku pergi?”

Laki-laki berambut putih perak itu mengangguk perlahan.

“Akan kutanya lagi, apakah kau ingin meninggalkan dunia dengan penampilan seperti ini?” tanya laki-laki berambut perak itu sekali lagi. Min Yoon Gi, laki-laki bertuxedo putih itu terdiam cukup lama, hingga..

“Tidak. Kumohon, ijinkan aku bertemu dengannya sekali lagi,”

Laki-laki berambut putih perak itu-masih dengan tatapan sinisnya- menatap Yoon Gi. Sebuah seringaian yang tak kalah dingin kini kembali terlihat di wajahnya.

.

.

.

.

.

“Kau hanya boleh diberi kesempatan dalam satu hari,”

“Satu hari?”

Laki-laki dengan rambut bewarna putih tersebut mengangguk singkat. Laki-laki itu lantas mengeluarkan sebuah jam berbahan emas putih dari salah satu kantung celananya. Kini jam tersebut juga sebuah tali berbahan sama terlihat dengan jelas. Suara jarum berdenting mulai terdengar begitu keras.

“Hanya itu yang bisa kuberikan untukmu. Dan gunakanlah 24 jam ini dengan baik,”

Laki-laki berambut putih itu terlihat begitu serius kali ini. Sebuah cahaya yang begitu menyilaukan tiba-tiba saja berada di samping laki-laki itu. Cahaya tersebut kemudian membesar dan semakin menyilaukan.

“Kau hanya diberikan waktu satu hari saja dan kau tak boleh memberitahunya tentang siapa dirimu, dan..”

“Dan?”

Laki-laki berrambut putih itu menyeringai tipis.

“Kau akan kembali dalam wajah yang berbeda jadi ia tak akan mengenalimu. Jika kau mengatakan siapa dirimu, dalam waktu itu juga aku akan menarikmu kembali di sini,”

“Kau iblis,” ucap laki-laki yang masih mengenakan tuxedo putih yang terlihat sangat kacau itu. Beberapa darah masih saja terlihat dari beberapa sissi tubuhnya. Ya, ia sangat kacau. Bahkan beberapa luka menganga terlihat di wajahnya.

Laki-laki berambut putih perak itu menaikkan salah satu ujung bibirnya mendengar apa yang dikatakan laki-laki bertuxedo itu.

“Misimu hanya satu. Membuatnya mengikhlaskan kepergianmu, lalu selesai segala urusan duniamu. Itu yang akan membuatmu kembali ke sini dengan tampilan baru,”

Laki-laki yang masih memgenakan tuxedo tersebut meringis.

“Cahaya itu adalah portal yang akan membawamu menuju ke dunia. Saat kau berada di dunia, waktu sudah berjalan satu minggu setelah kau pergi. Maka, jangan harap semua seperti keinginanmu.”

Laki-laki bertuxedo itu mengangguk perlahan. Ia lantas berjalan menuju cahaya yang begitu menyilaukan itu. Dan dalam sekejap ia menghilang begitu sempurna.

“Good luck,” ucap laki-laki berambut putih itu singkat. Ia kembali mengenakan kacamata hitam miliknya. Sebuah senyum tipis terlihat kembali di wajahnya.

.

.

.

.

.

00.10 KST

Jang Geu Rim menarik nafasnya lalu mengeluarkannya perlahan. Ia menguap. Ia lalu mengusap matanya yang terasa begitu berat. Ya, bagaimana tidak, ini sudah lewar tengah malam, dsn ia masih berada di luar rumah. Matanya kini terasa berat, namun ia berusaha untuk tetap membuka matanya. Kedua tangannya kini tengah memegangi sebuah benda bundar pengendali kendaraannya, mobil. Untuk akhir-akhir ini, ia memang selalu mengendarai mobilnya. Ya, jika dahulu seseorang selalu mengantarnya kesana kemari, untuk saat ini ia harus melakukan semuanya sendiri.

Ya, laki-laki itu tak ada lagi di sekitarnya. Tak menemaninya lagi, tak menggodanya lagi, tak berada di sisinya lagi. Tak ada. Hanya ada dirinya sekarang, tak ada sosok laki-laki itu. Ya tak ada.

“Bodoh,” umpatnya kali ini. Matanya berair untuk kesekian kalinya. Ia menghapusnya cepat. Ya, entah keberapa kalinya ia akan menangis seperti ini saat ia memikirkan laki-laki itu?

Jang Geu Rim menginjak pedal gasnya kencang kali ini. Ya, ia harus segera pulang sekarang. Jalanan terlihat sepi, dan ia selalu merasa takut untuk berada di luar sendirian seperti saat ini.

“Tidak!” teriaknya sembari menginjak rem kuat-kuat. Ya, saat ia sadar bahwa ia telah menabrak seseorang. Wajah Geu Rim ketakutan kini. Ia lantas keluar dari mobilnya cepat.

“Apa kau baik-baik saja? Oh tuan, maaf aku tak..”

“Aku baik-baik saja,”

Jang Geu Rim terdiam. Seorang laki-laki kiranya tengah berada di hadapannya. Ya, ia hampir menabrak seorang laki-laki. Laki-laki berpakaian tuxedo putih itu lantas beeanjak. Beberapa bagian pakaian laki-laki itu kotor akibat kumbangan air megenai pakaiannya saat Geu Rim menginjak remnya. Jang Geu Rim masih terdiam di tempatnya. Tak mengatakan apapun, matanya hanya terpaku pada laki-laki di hadapannya.

“Aku baik-baik saja nona,” ucap laki-laki itu kali ini. Jang Geu Rim menggelengkan kepalanya cepat. Ada apa dengan dirinya. Demi Tuhan, apa ada yang salah dengan otaknya? Ia lantas memutuskan untuk berhenti menatap laki-laki di hadapannya yang kali ini tersenyum padanya.

“M-maaf. Aku tadi ceroboh. K-ku kira aku harus pulang dan…akhirnya aku mengebut. J-jadi,”

“Ku bilang, aku baik-baik saja nona,” ucap laki-laki bertuxedo itu sekali lagi. Jang Geu Rim kembali menatap laki-laki yang ada di hadapannya. Manakala laki-laki itu menatapnya, entah kenapa ia merasa berbeda. Tapi..

Geu Rm menggelengkan kepelanya. Bukan, dia bukan laki-laki itu. Sadarlah Geu Rim!

“M-maaf, pakaianmu kotor karenaku. Ah, b-bagaimama jika… kau ikut denganku, maksudku, a-aku akan memberikan pakaian baru dan baru aku bisa memastikan kau benar baik-baik saja,”

Laki-laki yang berada di hadapannya tersenyum tipis. Ia lantas menganggukkan krpalanya singkat.

“Baiklah, jika kau memaksa,” ucap laki-laki itu begitu singkat. Wajahnya emtah kenapa terlihat begitu senang saat ini. Berbeda dengan Geu Rim. Perasaannya begitu campur aduk. Ia merasa ketakutan namun ia juga merasa bingung dalam sekali waktu.

01.05 KST

Laki-laki bertuxedo putih lantas keluar dari mobil yang ia tumpangi. Ia sedikit terkejut saat ia kini berada pada suatu tempat yang tak asing baginya, hingga sebuah senyum terlihat di wajahnya.

“Baiklah, masuklah,” ucap Jang Geu Rim membuka kunci pintu rumah dimana meteka berada sekarang. Gadis itu lalu memnukakan pintu rumah tersebut lebar-lebar, meminta laki-laki bertuxedo itu untuk masuk. Laki-laki tersebut menurut saja.

Saat berada di rumah tersebut, senyum laki-laki itu tak pernah hilang, malah senyum itu bertambah mengembang tiap gadis itu menjelaskan tiap ruangan yang ada di rumah tersebut. Beberapa bingkai foto menghiasi dinding tersebut. Laki-lali bertuxedo itu tak henti-hentinya memandangi seisi rumah dimana ia berada sekarang.

“Apa kau yakin ini tidak sakit?” tanya Geu Rim saat membersihkan salah satu luka yang cukup besar pada salah satu lengan laki-laki itu. Wajahnya terlihat khawatir.

Laki-laki itu menggelengkan kepalanya tegas. Baginya, ia memang baik-baik saja. Hingga gadis itu menabraknya. Ya, mungkin sedikit. Ia tak terlempar atau sebagainya. Hanya sebuah luka lecet pada salah satu tangannya, dan ia tak menyadari hal itu. Bahkan saat gadis itu mulai membersihkannya, semua terasa tak sakit. Ya, sama sekali.

“Ini rumah salah seorang temanku,” ucap Geu Rim memecah keheningan, namun laki-laki bertuxedo itu terdiam. Gadis itu hanya ingin menghilangkan kecanggungan di antara mereka sejak beberapa menit yang lalu.

“Ibunya memberikan kunci untukku, jadi aku bisa datang kapan saja. Ibunya berada di Busan untuk sementara waktu ini,”

“Dan temanmu?”

Geu Rim terdiam sejenak. Ia lalu menghirup nafas dan mengeluarkannya perlahan. Ia lantas tersenyum. Senyum yang menyedihkan.

“Maaf aku tak bermaksud…”

“Tak apa,” ucap Geu Rim tiba-tiba. Sebenarnya ia tak tahu mengapa ia membiarkan orang yang bahjan ia tak tahubnamanya ini untuk berada di sini. Ya, ini bukan rumahnya, tapi ia malah mempersilahkan orang asing untuk masuk dan berada di sana berdua dengannya. Ia rasa ia gila saat ini. Bisa saja orang asing itu bermaksud jahat padanya atau entahlah. Tapi, apapun yang lakukan ini terasa sangat benar, meski ia tak yakin apa maksudnya.

“Lalu, kenapa kau memakai tuxedo? Apa kau akan menghadiri sebuah acara atau…”

Laki-laki itu kini yang terdiam. Ya, terdiam cukup lama, hingga…

“Aku tersesat,” ucapnya polos. Geu Rim menatap laki-laki itu bingung. Salah satu alisnya terangkat tanpa sadar. Apakah mungkin laki-laki itu tersesat?

“Baiklah. Aku tak akan memaksamu untuk menjawab pertanyaanku. Oh, perkenalkan, aku Jang Geu Rim dan kau?”

Laku-laki itu menatap tangan gadis tersebut yang terulur. Untuk beberapa saat, laki-laki itu hanya memandangi tangan gadis tersebut tanpa melakukan apapun, namun dengan perlahan, ia meraih tangan gadis itu. Ia lantas tersenyum.

Geu Rim untuk sekian detik, ia terkejut saat tangan laki-laki itu menyentuhnya. Ya, tangannya begitu dingin, bahkan sangat dingin, bahkan ia kira ia tengah menyentuh sebuah balok es di malam hari. Namun, ia berusaha untuk menutupi perasaan itu.

“Aku…” ucap laki-laki itu sedikit berpikir. Ia lantas mengembangkan senyumnya.

“Suga,” ucapnya begitu singkat dan jelas. Jang Geu Rim hanya mengangguk. Nama yang aneh baginya. Namun, memiliki arti yang cukup dapat ia pahami. Ya, kulit laki-laki itu begitu putih, bahkan sangat putih. Putih pucat. Dan itu yang membuat laki-lali itu terlihat sangat familiar, meski mereka tak pernah bertemu sebelumnya.

“Baiklah, kukira kau harus mengganti pakaianmu sekarang. Ikut aku,”

Jang Geu Rim beranjak dari sofa dimana ia duduki dan laki-laki itu hanya menurut saja. Gadia itu sempat bingung eknapa ia melakukan semua ini. Ya, sebelumnya ia tak pernah berada berduaan dengan laki-laki lain selain temannya, dan ayolah ini pertama kali mereka bertemu, tetapi ia merasa sudah mengenal laki-laki itu sejak dulu, hingga ia tak merasakan takut yang biasa ia rasakan.

Jang Geu Rim membuka sebuah pintu kamar. Ia terdiam sejenak sesaat ia dapat melihat ruangan itu dengan sangat-sangat jelas. Ia menarik nafasnya dalam-dalam. Ruangan itu begitu sunyi. Bahkan lebih sunyi dibandingkan dengan ruangan yang lain. Ia lalu meminta laki-laki itu untuk masuk ke dalam kamar tersebut.

“Kau tahu, temanku tak suka jika aku masuk ke dalam kamar ini. Tapi… kini aku lebih leluasa untuk keluar masuk ruangan ini,” ucap Geu Rim pahit. Laki-laki bertuxedo itu tak merespom tiap kata yang diucapkan hadia itu padanya. Ia lebih tertarik untuk memandangi ruangan itu tanpa berkata apa-apa. Sebuah ranjang menjadi perhatiannya, ia lalu memutuskan untuk duduk pada ranjang itu.

Geu Rim menatap beberapa potong pakaian yang ada di dalam lemari yang kini ia buka. Ia menghirup nafasnya dalam-dalam sekali lagi. Beberapa potong pakaian membuatnya teringat tentang sosok laki-laki itu. Ya, sosok yang tak lagi bersamanya. Min Yoon Gi.

Hanya menatap. Ya, hanya menatap semua hal yang berhubungan dengan laki-laki itu, di saat itu pula ia akan merasakan kehilangan sekali lagi. Dan hal itu yang paling ia benci selama ini.

Geu Rim memilah beberapa kaos yang tertumpuk rapi pada salah satu sisi lemari tersebut. Terkadang ia menaham nafas saat menyentuh beberapa kaos yang ada di dalam lemari tersebut. Laki-laki bertuxedo itu menyadari akan hal itu  Dan sekali lagi, oa tak mau berkata apa-apa.

“Ini. Ini adalah kaos yang paling temanku benci. Jadi, kurasa ia tak akan marah jika kau memakainya,”

Geu Rim menyodorkan sebuah kaos bewarna biru tua dengan gambar mickey mouse cukup besar. Geu Rim tersenyum pahit sekarang. Bagaimana tidak, kaos itu adalah kaos hadiah ulang tahun yang ia berikan untuk Yoon Gi dua tahun yang lalu, namun laki-laki itu tak pernah menyukainya dan lantas tak peenah memakainya sekalipun. Ia hafal akan hal itu.

“Pakailah disini, aku akan menunggumu di ruang tamu,” ucap Geu Rim berlalu. Laki-laki bertuxedo itu hanya tersenyum tipis menatap kaos yang kini berada di tangannya. Ia lalu menggenggamnya erat sesaat gadia itu benar-benar meninggalkannya.

01.20 KST

Suga berjalan menuju ruang tamu sesaat setelah ia mengganti tuxedonya dengan sebuah kaos mickey mouse. Ia tersenyum tipis saat ia mendapati bahwa kini Geu Rim tertidur pulas pada salah satu sofa. Ya, ia terlihat kelelahan.

Suga mengulurkan tangannya hendak mengusap salah satu pipi gadis itu, namun ia menggagalkan rencananya tersebut. Ua sadar bahwa suhu tubuhnya begitu dingin saat ini, dan ia takut ia akan membangunkan gadis itu yang kini tidur begitu nyenyak.

“Kau meindukannya Min Yoon Gi?”

Suga membalikkan tubuhnya cepat saat seseorang dengan suara berat memanggilnya. Ya, memanggil namanya yang sebenarnya. Ia tersentak sesaat ia sadar bahwa laki-laki dengan rambut bewarna perak tengah menatapnya dengan tatapan dingin miliknya.

“Kau? B-bagaimana kau ada di sini?”

Laki-laki itu tersenyum tipis.

“Kau lupa siapa yang membuatmu berada di sini? Seharusnya kau berterima kasih padaku,”

Suga atau lebih tepatnya Min Yoon Gi menunduk sebentar lalu ia memhuka mulutnya kali ini.

“Terima kasih,” katanya singkat. Laki-laki berambut putih layaknya perak itu mengembangkan senyumnya. Namun tetap, senyumnya terasa begitu dingin.

“Apa kau membuatnya menemukanku begitu cepat?”

“Ya, untuk mempersingkat waktumu,”

“Dan merancang agar ia membawaku ke rumah ini? Rumahku?”

Laki-laki berambut putih perak itu menggelang pelan.

“Itu adalah instingnya,” ucapnya begitu sederhana.

“Insting?” tanya Suga tak mengerti. Laki-laki berambut putih perak itu mengangguk singkat.

“Insting yang membuatnya membawamu kemari. Insting yang membuatnya tanpa sadar meminta dirinya untuk membawamu ke sini. Instingnya terhadapmu sangat kuat,”

Suga tertunduk. Kini ia mengerti apa yang dimaksud laki-laki itu. Ya, sejak dulu mereka berdua selalu bersama. Bermain bersama dan selalu bersama. Keduanya sangat dekat, tak heran jika gadia itu memiliki insting hebat terhadapnya yang bahkan ia tak memilikinya.

Suga menatap gadia itu yang tengah pulas dalam tidurnya. Tanpa sadar sebuah senyum teelihat di wajahnya. Ya, ia merasa menjadi orang yang paling bahagia saat ini. Bak mimpi, kini ia dapat melihat gadis itu sekali lagi.

“Ingatlah Min Yoon Gi, kau tak boleh mengatakan siapa dirimu,”

Suga kembali menatap laki-laki berambut putih itu.

“Jangan membuatku kecewa untuk mengirimmu kesini,” ucap laki-laki berambut putih itu dengan seringaian dingin miliknya. Sebuah kebulan asap tiba-tiba saja muncul dan dalam sekejap laki-laki itu menghilang sesaat kebulan asap itu juga menghilang.

Suga menyeringai. Ya, apakah ia tetap ingat akan hal itu?

08.05 KST

“Setelah ini aku akan kuliah, maaf tapi aku harus mengantarmu pulang, Suga-ssi,” ucap Geu Rim yang kini mengontrol bunda bundarnya kembali. Ia tersenyum menyesal menatap laki-laki yang kini duduk di bangku sampingnya. Laki-laki itu mengangguk.

“Jadi, bisa kau ceritakan dimana rumahmu?” tanya gadis itu kali ini. Ia kembali memfokuskan diri pada arah depan. Laki-laki itu terlihat kaku, ia bahkan tak menjawab pertanyaan gadis itu. Geu Rim mengernyit tak memgerti.

“Jadi?” ulang gadis itu menagih jawab. Laki-laki yang berada di samping gadis tersebut memandangnya dengan bingung. Ia bahkan enggan membuka mulutnya.

“Baiklah kau bilang tersesat dan kau hanya mengenakan tuxedo tanpa membawa apapun. Sebenarnya kau berasal dari mana?” tanya Geu Rim kali ini. Ya, baginya laki-laki itu terlihat sangat mencurigakan untuk kali ini. Dan ia tak segaN akan menurunkan laki-]laki itu kapan saja atau memukupnya dengan pemukul yang ia bawa akhir-akhir ini di bagasi mobilnya.

Suga masih terdiam, matanya memandang kaca mobil yang berada tepat di sisinya. Matanya berkeliaran bak mencari sebuah jawaban pas untuk pertanyaan gadis itu.

“Busan,” ucap laki-laki itu pada akhirnya.

Jang Geu Rim masih menunggu kelanjutan jawaban laki-laki itu atas pertanyaannya, dan pada akhirnya laki-laki itu membuang nafasnya perlahan.

“Baiklah, kemarin seharusnya aku menghadiri sebuah pesta, namun nasib buruk menimpaku, hingga semua barang yang kupunya hilang,” imbuh laki-laki itu kali ini. Pada akhirnya ia dapat bernafas dengan sangat lega saat ini. Wajah Geu Rim berubah.

“Benarkah? Haruskah kita pergi ke kantor polisi hari ini? Oh ayolah, kau dirampok, dan kau tidak bosa setenang ini. Bagaimana keluargamu nanti? Temanmu…”

Suga menatap gadis itu yang tidak berhenti berbicara. Ya, entah apa yang dipikirkam gadis itu kali ini. Sama seperti dahulu, gadis itu selalu memarahinya dan mengkhawatirkan dirinya dengan berjuta-juta kata. Namun kali ini terasa beda, ia cenderung mendengarkan semua itu. Ya, memahami apapun yang dikatakan gadis itu padanya, meski bukan sebagai Min Yoon Gi.

“Jadi bagaimana? Kita ke polisi? Oh ya Tuhan!” ucap Geu Rim seraya menginjak pedal rem begitu kuat hingga sekian detik mobil yang mereka tumpangi berhenti.

“Apa?” tanya Suga yang kali ini bingung. Jang Geu Rim menggigit bibir bawahnya.

“Jeongmal mianhae Suga-ssi. Aku hanya bisa mengantarmu sampai sini. Kau bisa ke kantor polisi sendiri? Aku benar-benar terlambat untuk kuliah,”

Suga tersenyum tipis mendengarnya. Ia hanya mengangguk pelan. Geu Rim terlihat menyesal, namun dengan segera ia menepikan mobilnya.

“Maafkan aku Suga-ssi, senang bertemu denganmu,” ucap Geu Rim dari dalam mobilnya. Ya, kini Suga relah berada di luar mobil tersebut. Laki-laki itu lantas melambaikan tangannya saat mobil gadis itu beranjak pergi.

Ia terkekeh pelan.

“Bodoh, bagaimana kau bisa percaya dengan hal bodoh yang kuceritakan?”

16.00 KST

Jang Geu Rim merapikan note menggambarnya juga beberapa alat melukusnya ke dalam tasnya. Kinu, ia berads do dslam kelasnya sendirian. Ya, kuliah sudsh berakhir sejak setengah jam yang lalu. Tiba-tiba saja matanya tertuju pada sebuah tabung transparan berbahan kaca. Ia meraihnya dan tersenyum pahit. Kini tabung kaca itu dipenuhi oleh kertas-kertas yang telah berubah bentuk bintang bewarna-warni. Namun dengan cepat ia kembali memasukkannya ke dalam tas miliknya. Ya, ia rasa ia harus memhuang tabung itu secepatnya.

“Jang Geu Rim,”

Seorang laki-laki kiranya memasuki ruangan dimana ia berada tanpa ijin darinya. Laki-laki itu terlihat begitu serius kali ini, namun Geu Rim tak peduli akan hal itu. Ia lantas tak menghiraukan laki-laki itu.

“Geu Rim-ah, aku ingin berbicara sebentar saja,” ucap laki-laki itu kali ini. Namun tetap Jang Geu Rim tak memperdulikannya. Ia lantas tetap berjalan menuju tempat parkirmya.

“Aku minta maaf,” ucap laki-lali itu yang kini berhasil meraih tangan gadis itu. Geu Rim terpaksa menatap laki-laki itu. Laki-laki yang leboh tua darinya tersebut menatapnya sedih, seakan ia benar-benar menyesal dengan apa yang ia lakukan pada gadis itu sebelumnya.

“Seok Jin oppa, kumohon lepaskan aku. Aku harus pulang,” ucap gadis itu kali ini. Namun laki-laki itu tak mendengarkannya.

“Kumohon, dengarkan penjelasan dariku dahulu,” ucap laki-laki itu memelas. Namum gadis itu tak ingin mendengarkannya, hingga genggaman itu menguat.

“Dia bilang, lepaskan,” ucap laki-laki lain yang entah darimana asalnya.Keduanya terperangah menatap laki-laki yang tiba-tiba saja dstang di antara mereka. Laki-laki itu lantas melepaskan genggaman tangan Seok Jin dari tangan gadis itu. Dia, Suga.

“K-kau?”

Geu Rim sempat terkejut menatap laki-laki yang tiba-tiba saja datang menghampiri mereka berdua. Namun, laki-laki tersebuat masih terfokus dengan Seok Jin yang berada di sampingnya. Entah kenapa wajah laki-laki itu begitu serius dan kali ini menakutkan

“Kau tuli? Dia bilang lepaskan bukan?” ucap laki-laki berkulit pucat itu. Ia lantas menarik tangan gadis itu dan beranjak meninggalkan Kim Seok  Jin sendiri. Geu Rim tak banyak bicara saat ini, ia hanya menurut saja bahkan saat laki-laki berkulit pucat itu menginstruksikannya untuk membuka pintu mobilnya dan beranjak pergi.

17.10 KST

Suga a.k.a Min Yoon Gi menatap gadis yang sejak sejam yang lalu bersamanya tersebut. Wajah gadis itu tak pernah berubah, Ya bahkan setelah seminggu kepergiannya. Kini gadis itu tengah menggoreskan beberapa garis pada alas putih note menggambar miliknya. Suga tersenyum. Ya, bahkan note tersebut adalah note yang sama gadis itu pakai saat ia masih hidup.

Sejak sejam yang lalu, ia tak paham apa yang tengah ia lakukan. Ya, karena aktifitasnya termasuk monoton dan sangat membosankan. Memperhatikan Geu Rim. Benar, dam ia tak merasa hal itu membosankan. Tak pernah.

Ia yakin, suatu saat ia akan merindukan masa dimana ia akan melakukan hal itu dengan gadis tersebut. Seperti saat ini. Ia memang berada cukup dekat dengan gadis itu, tapi untuk keberatan. Ia merasakan bahwa jarak amat jauh antat keduamya kini terbentang luas.

Kini Geu Rim telah menyelesaikan gambaran miliknya. Ia lantas tersenyum puas dengan gambaran yang ia hasilkan. Ia lalu memberikannya kepada Suga. Setidaknya ia ingin laki-laki itu menilai apa yang telah ia hasilkan.

“Apa?” tanya Suga tak mengerti. Jang Geu Rim terkekeh pelan. Ya, tidak seharusnya ia melakukan itu pada orang yang dikenalnya, namun entah kenapa ia ingin memperlihatkan hasil gambarnya ada laki-laki itu.

“Tidak. Kukira kau akan berkata sesuatu tentang gambaranku,” ucap gadis itu kali ini. Benar, saat ini mereka berada pada salah satu taman dekat Sungai Han. Tempat ini, ya taman ini, menjadi salah satu tempat favorit Geu Rim untuk menggambar. Dan entah kenapa, ia membuka rahasia ini pada laki-laki yang baru ia kenal kemarin. Yang ia ingat, bahkan sangat ingat, hanya Yoon Gi lah yang mengetahui rahasia ini.

“Terima kasih,” ucap Geu Rim kali ini. Mata Suga yang tadinya menatap gambaran Geu Rim, kini serentak menatap Geu Rim secara bersamaan. Gadis itu tersenyum tipis.

“Untuk menjauhkanku dari laki-laki itu. Mungkin aku akan berteriak saat ia memperlakukanku seperti tadi, jika kau tak ada,” imbuhnya kali ini. Gadis itu lantas mengembangkan senyumnya. Suga hanya mengangguk menanggapinya. Kalau boleh jujur, hal itulah yang ia ingin lakukan sejak dulu. Ya, membuat laki-laki itu pergi dan tak pernah mendekati Geu Rim, kalau bisa selamanya.

“Apa dia menyakitimu? Atau sesuatu terjadi antara kalian?”

Geu Rim terkekeh pelan. Tapi semenit kemudian ia terdiam. Matanya tertuju pada pemandangan Sungai Han yang berada tepat di depannya. Ia lalu meraih tas miliknya dan meraih sebuah tabung transparan dari sana.

Suga sangat mengenal tabung itu. Ya, tabung yang sebelumnya pernah ditunjukkan gadis itu sebelumnya. Tabung berisikan jumlah kertas berbentuk bintang, kini benar-benar mengisi penuh tabung tersebut. Entah, berapa hari gadis itu butuhkan untuk mengisi penuh tabung tersebut.

“Laki-laki itu pernah bilang, bahwa jika kita mengisi penuh toples ini dengan kertas berbentuk bintang, maka keinginan kita akan terkabulkan,” ucap gadis itu getir. Lalu ia menghirup nafasnya dalam-dalam. Senyum lain terbenruk di wajah gadis itu sekali lagi.

“Kau tahu, mungkin aku terlalu naive, namun aku mempercayai apapun yang ia katakan padaku. Mungkin lebih tepatnya, aku memang mudah untuk percaya terhadap siapapun, tapi aku memang tak pernah brpkiran buruk tentang siapapun. Dan temanku sempat memarahiku akan hal itu,” imbuh gadis itu kali ini. Ia lantas menatap laki-laki yang duduk pada satu bangku taman dengannya tersebut.

“Mungkin ia akan memarahiku karena aku kini dekat dengan orang yang baru kukenal sepertimu,” ucapnya dengan senyum yang terkesan begitu pahit. Suga hanya bisa diam saat gadis itu mengatakannya. Ada perasaan dimana ia ingin sekali mengatakan bahwa ia adalah temannya tersebut, mengatakan bahwa ia bukan orang asing yang gadis itu katakan. Tapi, itu terasa tak mungkin.

“Sebentar lagi, aku akan membuang toples yang tak berguna ini,” imbuh gadis itu datar.

“Kau marah terhadapnya karena ia berbohong ataukah karena permintaanmu yang tak terkabulkan?” tanya Suga memberanikan dirinya. Gadis itu terdiam sejenak. Pegangan tangannya terhadap tabung itu merngerat seiring pertanyaan yang membuatnya merasa sedih itu dilontarkan.

“Tidak. Aku tidak marah dengannya. Hanya saja, aku mulai menyadari bahwa permintaanku memang tak akan pernah terkabul,” ucap gadis itu kali ini. Mereka terdiam cukup lama, hingga Suga yakin ia dapat melihat setitik air mata yang jatuh pada salah satu matanya. Ya, gadis itu menangis.

Suga meraih pucuk kepala gadis itu dan mengacak rambut gadis itu perlahan. Gadis itu sempat terkejut dengan apa yang dilakukan laki-laki itu padanya, tapi entah kenapa hal itu membuatnya sedikit tenang.

Suga mengembangkan senyumnya, seakan berkata semuanya benar-benar tak apa, dan gadis itu tak perlu sedih akan hal tersebut. Meski ia tak tahu pasti apa yang membuat gadis itu menangis.

Suga lalu meraih toples yang berada di pangkuan gadis itu dan meletakkannya di pangkuannya.

“Bolehkah aku menyimpan ini, jika kau memang tak membutuhkannya lagi. Bolehkah?”

Gadis itu terdiam, namum ia kemudian menggangguk pelan.

“Baiklah,” ucap gadis itu singkat.

Mungkin terasa aneh, jika ia mengakui bahwa ia merasa jauh lebih baik setelah ia memceritakan apa yang ia rasakan pada laki-laki itu saat ini. Ya, rasanya memang sangat aneh jika ia menceritakan semuanya pada orang yang bahkan baru sehari ia temui. Tapi, ia tak pernah menyatakan bahwa hal itu salah. Malah ia merasa bahwa apa yang ia lakukan semua terasa begitu benar.

Jang Geu Rim menarik nafasnya lalu ia mengeluarkannya perlahan. Ia kemudian beranjak dari bangkunya, menatap laki-laki itu

“Kau lapar? Bagaimana jika hari ini aku mentraktirmu Suga-ssi?”

19.15 KST

Suga menatap gadis yang ada di hadapannya yang sedari tadi terdiam dan hanya bermain dengan makanan miliknya. Hal tersebut sangat mengganggu untuknya. Bukan karena ia terganggu sehingga nafsu makannya-yang sebenarnya memang tak pernah ada akibat tubuh yang sebenarnya tak benar-benar ada-hilang akibat gadis itu, melainkan rasa khawatir dengan apa yang dilakukan gadis itu sekarang.

Ia tahu bahwa gadis itu masih merasa sedih akibat kepergiannya, merasa kesepian akibat kepergiannya, tapi setidaknya ia ingin membuat gadis tahu bahwa ia ada di sini. Bahwa Min Yoon Gi kini berada di hadapannya saat ini, dan ia tak benar-benar kesepian.

Jang Geu Rim mendongakkan kepalanua sesaat ia sadar bahwa laki-laki di hadapannya memperhatikannya sedari tadi. Kemudian, ia memaksakan kedua ujung bibirnya terangkat. Sedikit aneh memang, tapi itu adalah bentuk usaha darinya.

“Kau tidak makan?” tanya Suga memberanikan diri.

“Sudah,” ucap gadis itu begitu singkat. Suga membuang nafasnya. Ya bukan itu. Bukan itu jawaban yang ia inginkan dari gadis di hadapannya tersebut.

“Suga-ssi..”

Suga mendongakkan kepalanya dan mempertemukan kedua matanya dengan kedua mata gadis itu. Mereka terdiam sejenak.

“Apa kau pernah menyukai seseorang diam-diam?”

Mata Suga membulat sempurna seketika sesaat gadis itu mengatakan hal tersebut padanya. Suga tak menjawab pertanyaan tersebut dengan kata-kata miliknya, ia malah menghindari kontak mata dari gadis itu.

“Jika kau punya, jangan pernah memendamnya,” imbuh gadis itu kali ini. Suga menatap kembali gadis tersebut. Ia bisa melihat gadis itu tersenyum getir pada kata terakhirnya.

“Karena saat terlalu lama sebuah perasaan kau tutupi, maka perasaan itu pada akhirnya tak berarti apa-apa,”

Geu Rim memainkan kembali makanannya namun ia melahap beberapa sendok makanan miliknya perlahan.

“Apa kau pernah menyukai seseorang diam-diam Geu Rim-ssi?”

Geu Rim berhenti memainkan makanannya. Ia lantas menatap laki-laki itu lalu sebuah senyum terlihat kembali namun ia kemudian mengedikkan bahunya. Jawaban yang jujur Suga tak menyukainya.

Mereka terdiam kembali. Bahkan cukup lama, hingga mereka temggelam dalam ramainya restaurant dimana mereka berada.

“Dulu aku mempunyai teman. Kami berteman bahkan sejak kami masih kecil sekali. Apa kau juga mempunyainya?” tanya Geu Rim tiba-tiba yang berharap memecah keheningam di antara mereka berdua.

“Kami selalu bersama kemanapun dan kemanapun. Itu sangat menyenangkan bukan?”

Geu Rim terkekeh pelan. Sekelebat ingatan menghampiti dirinya, ingatam tentang Yoon Gi. Ya, memori satu sisibyangbsekiranya hanya ia yang dapat merasakannya.

Suga tak menyukai apa yang dikatakan gadis itu kali ini. Jika ia bisa, ia ingin menghentikan gadis itu, tapi itu tak mungkin.

“Lalu tepat seminggu yang lalu, kami berencana untuk mendatangi acara prom nite bersama, namun ia terlambat selama beberapa jam,”

Geu Rim menarik nafasnya dalam-dalam lalu ia kembali mencoba menaikkan kedua ujung bibirnya sekali lagi.

“Kau tahu, dia sama sekali tak menyukai hal-hal berbau pesta atau yang lainnya. Ia selalu menolak untuk datang ke acara seperti itu, sejak kami kecil. Namun, entah kemapa saat itu aku sangat yakin bahwa ia akan datang,”

Suga menggenggam gelas minumannya erat. Setidaknya perasaannya berkecamuk kali ini, sehingga ia takut bahwa gelas tersebut pecah dengan senditinya.

“Kau suka berdansa Suga-ssi? Kau tahu, aku sangat ingin berdansa suatu hari nanti bahkan saat aku akan dstang ke prom nite itu bersamanya, aku berusaha berlatih berdansa tiap harinya. Meski bukan yang terbaik, paling tidak baku ingin berusaha,” ucap gadis kali ini dengan mata setengah berkaca. Suga masih mengutuk dirinya untuk berbicara. Ya, meski ia ingin sekali memgatakan bahwa ia sangat menyesal saat itu dan ia ingin menebus semua kesalahannya saat itu. Tapi itu tak bisa ia lakukan.

“Namun, hal berkata lain. Ia.. meninggal saat ia dalam perjalanan menuju prom nite. Dan kau tahu, ia mengenakan tuxedo mirip dengan milikmu,”

Gadis itu menghapus cepat air mata yang tanpa sadar keluar sendirinya. Demi Tuhan, Suga tak menyukai hal itu.

“Boleh kutahu apa permintaanmu pada bintang-bintang di toples itu?”

Geu Rim menatap Suga bingung. Kali ini, laki-laki itu bukan hanya sebagai pendengar saja, namun kini ia mulai membuka mulutnya.

“Permintaan?”

Geu Rim tertawa kecil saat mendengar pertanyaan tersebut, namun kemudian tawa itu terdengar sangat menhmyedihkan.

“Awalnya aku tak memiliki apapun untuk diminta saat aku membuat beberapa bintang itu. Tapi kemudian aku sudah sangat yakin atas permintaanku dan memutuskan untuk membuat ratusan bintang di toples itu. Permintaanku…”

Geu Rim mengembangkan senyumnya.

“Meminta agar dirinya untuk berada di sisiku dan tidak meninggalkanku untuk selamanya,”

Suga mengunci bibirnya seketika. Ia tak bisa, ya ia tak bisa. Ia tak bisa membiarkan gadis itu terpuruk atas kesedihannya akibat kepergiannya yang begitu mendadak. Tapi ia tak bisa. Benar, ia tak bisa mengatakan siapa dirinya pada gadis itu. Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang?

Suga kembali menatap gadis yang berada di hadapamnya, kini gadis itu melahap kembali makanan miliknya yang sudah dingin itu. Wajah gadis itu tetap saja sama. Semburat kesedihan masih saja terlihat. Apa yang bisa lakukan untuk menghilangkan itu? Yang bahkan ia tak tahu harus melakukan apa sekarang.

Apa ia harus mengatakan siapa dirinya? Dan berharap gadis itu melepaskannya?

Bagaimana jika dia tak ingin gadis itu lepaskan? Bagaimana jika kematiannya ditunda dan ia bisa hidup krmbali dengan sebsgaimana mestinya?

Sungguh. Ia tak ingin mati.

Suga menarik nafasnya dalam-dalam kemudian mengeluarkannya perlahan. Ia menatap gadis yang ada di hadapannya sekali lagi. Gadis itu memang tengah melahap makanannya, namun ia seakan tak benar-benar ada dalam tubuh itu. Suga bertaruh, pikiran Geu Rim tengah melayang entah kemana.

Suga mencondongkan tubuhnya. Salaj satu tangannya ia ulurkan kemudian meraih sesuatu tepat di bibir gadis itu. Ia lantas mengusapnya pelahan. Geu Rim sempat terkejut dengan apa yang dilakukan laki-laki itu terhadapanya.

“Makanlah dengan baik, Geu Rim,” ucap laki-laki itu sambil tersenyum. Geu Rim tetap terdiam di tempatnya bahkan saat laki-laki itu kembali menarik tangannya. Namun, untuk beberapa detik, rasanya jantung Geu Rim berhenti berdetak. Tiba-tiba saja matanya membulat saat ia menangkap sesuatu pada kedua matanya.

Geu Rim mencoba mengatur nafasnya dan mencoba menyadarkan dirinya. Namun, apa yang baru ia lihat terasa begitu nyata. Geu Rim menundukkan kepalanya.

“Demi Tuhan, aku melihat Yoon Gi pada diri laki-laki itu,”

“Awalnya aku tak memiliki apapun untuk diminta saat aku membuat beberapa bintang itu. Tapi kemudian aku sudah sangat yakin atas permintaanku dan memutuskan untuk membuat ratusan bintang di toples itu. Permintaanku…”

“Meminta agar dirinya untuk berada di sisiku dan tidak meninggalkanku untuk selamanya,”

 

Suga menatap cermin bwrukuran cukup besar di hadapannya. Ia memyentuh salah satu bagian dari wajahnya dan merabanya. Sungguh, pantulan wajah yang ada di cermim itu masih tetap dirinya. Masih wajah Yoon Gi yang ia lihat bahkan seminggu yang lalum Dan ia bersumpah itu adalah wajahnya, tapi..

Gadis itu melihatnya dalam wujud yang berbeda. Gadis itu melihatnya dalam sosok yang berbeda. Sosok asing.

“Apa kau ingin mengatakan siapa dirimu Yoon Gi?”

Suga sadar siapa yang tengah berada di belakangnya. Ya, laki-laki berambut perak itu. Suga mendengus.

Kini mereka berada di dalam toilet restaurant. Dan Geu Rim tengah menunggunya di luar. Ya, ia sengaja untuk berada di sini dan bertemu dengan laki-laki berambut perak itu.

“Bisakah aku mengatakan siapa diriku?”

Laki-laki berambut perak itu menyeringai.

“Mudah, aku akan membawamu kembali,” ucapnya begitu dingin. Suga mengerang. Bayangan laki-laki berambut perak yang ia lihat di cermin begitu dingin. Ia tak mau sama sekali menatap laki-laki berambut perak itu secara langsung.

“Sudah bisa kutebak, kau tak bisa menyelesaikan misimu. Cih, dasar manusia,”

Suga menarik nafasnya dalam-dalam.

“Kau kini merasa berat untuk meninggalkannya? Percuma. Apa yang kau pikirkan percuma,”

“Apa maksudmu?”

Laki-laki berambut perak itu tersenyum tipis.

“Jika kau memintaku memperpanjang waktumu, sama saja kau memaksa gadis itu untuk berhubungan lebih lama dengan mayat hidup sepertimu,”

“Apa maksudmu?” tanya Suga dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.

“Jika kau berada di sini lebih lama, apa kau menjamin ia akan mencintaimu sebagai Yoon Gi dan pada akhirnya hidup denganmu?”

“Apa maksudmu?”

Kini wajah Suga benar-benar memerah. Nada suaranya terdengar menakutkan saat ini. Namun, laki-laki berambut berak yang membawa sebuah jam berbahan emas putih itu hanya menyeringai.

“Jang Geu Rim tidak berjodoh denganmu. Meskipun kalian saling mencintai. Pada akhirnya jodohnya tak akan berubah bahkan kau masih hidup sekalipun,”

“Lalu siapa jodohnya?”

Laki-laki berambut perak tersenyum sinis.

“Laki-laki yang kau benci. Kim Seok Jin,” ucap laki-laki berbut perak itu singkat.

“Aku tak akan membiarkan dirinya hidup berssma dengan pembohong itu!”

Sekali lagi Suga dapat merasakan tubuhnya terasa begitu sakit. Ia merintih saat sakit yang luar biasa tak berhenti di situ saja. Tubuhnya seperti dihancurkan dari dalam. Ia dapat merasakan pukulan-pukulan menerpa dirinya begitu berat dan menyakitkan.

“Lalu apa yang kau ingin perbuat Min Yoon Gi? Minta dihidupkan kembali?” tanya laki-laki berambut perak itu dingin. Suga berusaha keras mengepalkan tangannya dalam rasa sakitnya. Ia mencoba menahan semua amarah juga rasa sakit yang ada di dalam dirinya.

“Tetap saja. Kau memang ditakdirkan untuk mati pada usia muda dan…”

Laki-laki berambut perak itu menatap kedua mata Suga yang terpantul di cermin berukuran besar tersebut. Wajahnya terlihat serius.

“Kim Seok Jin bukan seorang pembohong. Apa yang ia ceritakan pada gadis itu pada saat itu, ia takini sebagai sebuah mitos dan kepercayaam Geu Rim atas perkataannya adalah kemauannya sendiri. Kemauannya untuk mempercayai yang bahkan tak perlu ia percayai,”

“Ia mempercayainya karena ia merasa yakin kau memang akan kembali untuknya,” imbuh laki-laki berambut perak itu. Suga membuang nafasnya. Ia lantas menatap cermin berukuran cukup besar itu. Menatap wajah iblis atau enrahlah yang berada di belakangnya. Ia mengangkat sebelah tangannya yang sudah terkepal sedari tadi. Ia lantas melayangkan kepalan tangannya tersebut pada cermin yang ada di hadapannya hingga suara yang begitu keras memenuhi toilet tersebut. Ya, cermin tersebut kini pecah berubahenjadi beberapa keping kaca.

Dan laki-laki berambut perak itu kembali menghilang disusul dengan menghilangnya seluruh rasa sakit di tubuhnya.

20.48 KST

Kini Jang Geu Rim kembali mengendalikam benda bundar yang ada di depannya. Sedangkan Suga berada di sampingnya. Keduanya terpaku dengan pemandangan jalanan yang ada di depannya. Mungkin lebih tepatnya mereka tengah sibuk dengan pikiran masing-masing hingga keduanya terdiam tanpa sepatah kata.

Suara radio memenuhi dalam mobil. Suara nyanyian dari salah satu enyanyi ternama di Korea trngah menyapa kedua telinga mereka. Tapi nyanyian tersebut bak suara sumbang yang sama sekali tak dipedulikan keduanya.

Jang Geu Rim masih berusaha untuk memfokuskan dirinya untuk menyetir, meski pikirannya terkesan kalut sama seperti perasaannya. Terkadang, ia menatap laki-laki yang berada di sampingnya terkadang ia berhenti memandangnya. Laki-laki berkulit putih itu juga diam, tak mengatakan suatu kata yang berarti setelah mereka menyantap makan malam mereka. Entah apa yang juga dipikirkan laki-laki itu sekarang.

Jang Geu Rim menatap gelang yang ia kenakan. Benar, gelang pemberian Yoon Gi seminggu sebelum kepergiannya. Sebelum ia memutuskan untuk pergi dari restaurant tempat mereka makan, ia sempat kehilangan benda kesayangannya tersebut. Tapi untunglah Suga menemukannya lebih dulu dan mengembalikan benda itu padanya, namun..

Hal ada satu hal yang membuatnya bingung saat laki-laki itu mengatakan bahwa gelang itu adalah gelang yang sangat diinginkannya dan ia harus lebih berhati-hati untuk menyimpannya. Bagaimana laki-laki itu tahu asal asul gelang miliknya?

Jang Geu Rim membuang nafasnya. Pikiran juga perasaannya begitu kacau saat ini. Ada sebuah keyakinan baru yang terbentuk di dalam dirinya. Keyakinan bahwa Yoon Gi kini tengah bersamanya seharian. Dan kini ia tengah duduk tepat di sampingnya.

Tidak! Itu bodoh!

Jang Geu Rm menghentikan mobilnya tiba-tiba hingga si penumpang hampir saja terjungkal jika saja mereka tak mengenakan seat belt masing-masing.

“Ada apa dengan dirimu? Kau harusnya lebih fokus dalam menyetir, Geu Rim-ah,” ucap Suga yang sekiranya mengalami trauma atas kejadian yang sama dengan yang ia alami sekarang ini. Jang Geu Rim tak mendengarnya. Ia menunduk. Mengatur nafasnya entah kenapa. Namun, ia kembali mendongakkan kepalanya saat ia sadar bahwa laki-laki di sampingnya memanggilnya dengan cara yang berbeda.

“Geu Rim-ah?” tanya Geu Rim mengulang. Ia harap ia salah mendengar tentang hal itu. Namun Suga malah terdiam kali ini. Jang Geu Rim menyandarkan tubuhnya pada kursi penumpang. Ia menutup matanya sejenak.

“Maaf Suga-ssi, aku harus mengakhiri ini,”

Suga kini menatap gadis itu sedikit tak mengerri. Gadis yang masih menutup matanya tersebut lantas perlahan membuka matanya dan kemudian ia tertunduk. Ia lalu tersenyum getir.

“Bagaimana kau bisa tahu dimana aku kuliah hari ini Suga-ssi?” tanya gadis itu tiba-tiba. Suga masih terdiam di tempatnya.

“Lalu apa alibimu untuk selalu bersamaku hari ini? Ataukah kau prang jahat yang berniat buruk padaku?” imbuh gasis itu dengan nada begitu datar. Suga masih mengunci bibirnya. Mengerti bagaimana respon laki-laki iti, Jang Geu Rim terkekeh pelan.

“Apapun alibimu, tapi yang jelas…aku tak merasa kau adalah orang jahat yang memiliki niat buruk twrhadapku. Aku yakin itu karena kau membuatku senang hari ini,”

Jang Geu Rim menyunggingkan senyumnya kali ini.

“Saat aku bertemu dengamu dengan pakaian tuxedo itu, ingatanku lalu terhubung dengan dimana saat temanku ditemukan tak bernyawa. Aku kira saat itu, aku bertemu dengan dirinya sekali lagi,” ucapnya yang kini mulai menatap laki-laki yang berada di sampingnya tersebut sedangkan laki-laki itu enggan menatapnya.

“Namun aku berusaha menampik semua itu. Kau tahu, itu adalah hal terbodoh yang pernah terpikirkan olehku,” imbuhnya dengan tawa kecilnya.

“Tapi entah kenapa kau memiliki banyak kesamaan dengan dirimya. Dan selalu membuatku berpikir bahwa kau adalah dirinya,”

Suara Jang Geu Rim merendah kali ini. Ia menggigit bibir bawahnya, rasanya saat ini matanya mulai berkaca-kaca kembali.

“Kau tahu, tak seharusnya aku seperti ini bukan? Maka, aku putuskan lebih baik, kita akhir pertemuan ini dan… berhentilah untuk menemuiku,”

“Berhenti menemuimu?” tanya Suga sedikit tak terima kali ini. Jang Geu Rim hanya mengangguk singkat menanggapinya. Ia tahu hal itu salah, namun hanya itu yang bisa ia lakukan.

“Kau adalah teman baruku yang baik Suga-ssi. Tapi, untuk saat ini aku benar-benar tak ingin diganggu, jadi kumohon berhentulah menemuiku,” lanjut gadis itu kali ini dengan mengalihkam pandangannya. Ya, ia merasa bersalah dengan apa yang ia katakan barisan, namun itu yang bisa ia lakukan.

Suga ingin mrmbuka mulutnya namun ia kembali menutup mulutnya rapat. Kini, ia tak dapat berkata-kata lagi. Saat ini, ia tahu apa yang ia lakukan saat ini. Jika seperti ini, apa lagi yang bisa ia lakukan. Jika ia tak bisa mengatakan siapa dirinya, karena itu akan membuatnya kembali? Lalu apakah ia harus meninggalkan dunia dengan tampilan buuknya dsn membiarkan urusannya terbengkalai?

“Baiklah. Terima kasih untuk semuanya Geu Rim. Kuharsp kita bisa bertemu lagi di lain waktu,” ucap Suga seraya melepaskan seat beltbyang ia kenakan. Lalu, matanya tertuju pada toples berisikan bintang yang berada di sampingnya.

“Bolehkah aku memilikinya?’

“Silakan,” ucap Jang Geu Rim sangat singkat. Namun gadis itu sama sekali tak menatap laki-laki yang akan pergi meminggalkannya tersebut. Jang Geu Rim dapat mendengarkan suara pintu terbuka lalu tertutup di sampingnya. Namun, ia bersumpah untuk todak melihatnya. Saat ia sadar laki-laki itu benar-benar menghilang, ia kembali menginjak gas mobilnya dan meninggalkan laki-laki itu.

Jang Geu Rim menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Matanya kini tak bisa berhenti untuk tetap berkaca-kaca. Ia berusaha untuk menahamnya, namun tak bisa. Hingga beberapa titik air mata membasahi kedua pipinya. Ia berusaha cepat menghapusnya namun gagal. Entah kenapa ia merasa begitu sedih saat ini.

Sebenarnya ada apa dengan dirinya?

Suga menyeringai saat mobil gadis itu pergi meminggalkannya. Kini ia berada di jalanan sendiri. Ia membuang nafasnya berat.

“Jadi misimu gagal?”

Siga membalikkan tubuhnya. Kini laki-laki berambut perak itu kembali berads di belakanhnya dengan sebuah jam di tangannya. Entah kenapa tapi suar denting jam terdengar begitu jelas.

“Beberapa jam lagi sebelum misimu selesai. Jadi apakah aku jisa katakan bahwa misimu gagal?” imbuh laki-laki itu sekali lagi. Laki-laki itu lantas tersenyum tipis sekian kalinya.

Suga menundukkan kepalanya. Ia menatap kedua tangannya yang menggenggam toples ratusan kertas berbentuk bintang di dalamnya.

“Jika misimu gagal, kau akan kembali dengan penampilan burukmu dan situasinya tak akan berubah,”

“Tunggu,” ucap Suga tiba-tiba. Ia mendongakkan kepalanya menatap laki-laki berambut perak tersebut.

“Ini belum selesai,” imbuhnya tegas. Laki-laki berambut perak itu menyeringai. Setidsknya, ia bisa melihat semangat Suga kali ini.

“Bisakah kau membantuku? Kumohon,” ucap Suga kali ini berungguh-sungguh. Laki-laki berambut perak itu mengangkat salah satu alisnya.

“Kumohon, ini permintaanku terakhir,”

23.00 KST

Jang Geu Rim menggeliat sesaat ia terbangun dari tidurnya. Ia menatap jendela kamarnya yang tertutupi oleh tirai tipis bewarna putih. Cahaya bulan masih dengan leluasa menelusup masuk ke dalam kamarnya yang sepenuhnya masih gelap.

Ia memutuskan untuk mendudukkan dirinya pada sebuah sandaran tempat tidurnya, sesekali ia menarik ujung selimutmya lebih ke atas. Ia membuang nafasnya perlahan saat jam yang ia letakkan pada salah satu bilik dinding menunjukkan pukul 23.00

Hari ini, ia memang memutuskan untuk tidur lebih awal karena ia merasa sangat lelah entah kenapa. Namun, untuk semenit saja, kedua matanya sama sekali tak bisa tertutup. Geu Rim menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Apa yang sedang laki-laki itu lakukan? Apakah ia pulang ke Busan?

Tapi, kenapa ia harus peduli dengan orang asing itu? Orang yang bahkan ia hanya mngenalnya dalam satu hari saja. Gue Rim beranjak dari tempat tidurnya. Ia lantas berjalan menuju jendela kamarnya dan menatap tirai jendelanya yang masih tertutup. Ia kemudian menarik tirai jendela itu perlahan, namun sesuatu menarik perhatiannya kini. Ia lantas membuka kaca jendelanya sesaat sesuatu terlihat bercahaya berada di tepat di luar kaca jendelanya. Ia meraih benda itu hati-hati berharap benda tersebut tak terjatuh. Karena ia berada di lantai dua, sedangkan barang tersebut berada di tempat yang sempit.

Sebuah tabung berukuran sedang memanjang kini berada di tangannya. Ya, tabung transparan itulah yang mencuri perhatiannya akibat pantulan cahaya bulan yang dihasilkan. Di dalamnya, terdapat sehelai kertas dengan beberapa kertas berbentuk bintang di dalamnya.

cute-folipops-lucky-star-origami-paper-rainbow-star-Favim.com-46730

Tunggu, kertas berbentuk bintang?

‘Jika kau percaya dengan kekuatan kertas berbentuk bintang ini,maka kuharap kau datang ke rooftop gedung kampusmu malam ini. Jangan biarkan aku menunggumu hingga larut malam………

 

SUGA….’

Geu Rim menyeringai saat membaca kata per kata dalam lembaran tersebut. Menurutnya, ini hanyalah sebuah omong kosong belaka. Menurutnya, laki-laki itu memang sengaja menjadi pahlawan keseingan karena melihat dirinya yang seakan begitu menyedihkan. Tapi…

Jang Geu Rim menarik nafasnya dalam-dalam. Ia begitu yakin dengan isi surat tersebut, Gadis itu lantas meraih mantel miliknya dan memutuskan untuk menemui laki-laki itu secepatnya.

23.23 KST

Jang Geu Rim berkali-kali memungut satuan kertas bintang yang terangkai indah pada tiap langkah yang ia lewati untuk berada di kampusnya. Ya, entah kini butir bintang yang ke berapa. Ia yakin kedua kantung mantelnya terasa menyesakkan akibat kertas bintang yang ia masukkan secara paksa.

Kini, ia berada pada anak tangga terakhir pada rooftop gedung kampusnya. Ia mengetatkan mantelnya sesaat ia dapat merasakan angin berhembus cukup kencang. Tak ada siapa pun di sana. Hanya ada dirinya dan angin yang tak kunjung berhenti untuk berhembus.

“Akhirnya kau datang,”

Jang Geu Rim menatap salah satu sisi tergelap rooftop saat ia yakin bahwa suara itu berasal dari sana. Semenit kemudian nampak seorang laki-laki dengan wajah yang sangat ia kenal tengah berjalan ke arahnya dengan senyum di wajahnya. Dan laki-laki itu mengenakan…tuxedo bewarna putih itu sekali lagi.

“Kau…Kenapa kau memanggilku kemari?” tanya Geu Rim yang sekiranya nampak begitu kesal. Suga, laki-laki itu tersenyum tipis saat ekspresi itu yang ditunjukkan gadis itu padanya. Namun, itu membuat Suga gentar untuk mendekati gadis tersebut.

“J-jangan mendekat! Kubilang tinggalkan aku,” cegah gadis itu dengan nada suara merendah. Kini, laki-laki itu menghentikan langkahnya. Gadis tersebut terlihat begitu geram kali ini, dan ini pertama kalinya Suga dapat melihatnya dengan begitu jelas.

“Jika karena kau kasihan atas yang kualami, aku tak akan memaafkanmu Suga ssi,” imbuh gadis itu setengah tak terdengar. Sekiranya hal tersebut membuat Suga tak dapat beranjak dari tempatnya, hingga gadis itu hendak beranjak pergi.

“Tunggu!” cegah Suga saat gadis itu benar-benar akan meninggalkannya. Dan beruntung, gadis itu mau mendengarkannya.

“Kau bilang, aku harus berhenti menemuimu. Jadi, ijinkan aku untuk terakhir kalinya,” ucap Suga kali ini. Gadis itu membalikkan tubuhnya. Kini ia bisa melihat wajah laki-laki itu secara utuh. Setidaknya cahaya bulan membantunya. Namun, suatu harapan lain sempat terbesit di benaknya. Suatu harapan, bahwa laki-laki itu benar Yoon Gi bukan Suga.

“Anggap ini sebuah permintaanmu yang sengaja kuusahakan untuk dikabulkan,” imbuh laki-laki itu dengan senyum mengembang. Jang Geu Rim menahan nafasmya, entah kenapa tiba-tiba saja tubuhnya tak bisa ia gerakkan. Ia membiarkan laki-laki itu berjalan ke arahnya dan kini jarak mereka begitu dekat.

Tiba-tiba saja, sebuah nyanyian klasik yang begitu lembut terdengar di pada keuda telinga mereka. Suga mengembangkan senyumnya sekali lagi atas suara yang entah dari mana asalnya tersebut.

“Kau ingin sekali berdansa bukan? Maka ijinkan aku untuk berdansa denganmu mala mini,”

Jang Geu Rim tak merespon apapun saat Suga mulai meraih salah satu tangannya dan menarik pinggang gadis itu lebih dekat dengannya. Di saat itulah, Jang Geu Rim dapat merasakan jantungnya berdebar sekali lagi. Dan hal ini, adalah hal yang sangat lumrah ia rasakan saat ia bersama Yoon Gi.

Jang Geu Rim menundukkan kepalanya, menolak untuk menatap laki-laki berkulit pucat yang ada di hadapannya tersebut. Suga hanya tersenyum meihat ekspresi gadis itu.

Suga mengajak gadis itu melangkahkan kakinya ke kiri, ke kanan, ke depan dan ke belakang. Ya, nyanyian dalam bahasa Itali tersebut adalah komando mereka untuk berdansa malam itu.

“Kau tahu, kau tak buruk dalam berdansa. Apa mungkin karena kau berlatih keras saat itu?” tanya Suga yang mencoba memecah keheningan. Jang Geu Rim mulai mendongakkan kepalanya, di saat itulah Suga dapat melihat pipi Jang Geu Rim merona.

“Saat kau tanya apa aku mempunyai seseorang yang kusuka, aku teringat dengan suatu cerita, apa kau ingin mendengarnya?” imbuh laki-laki itu menguasai pembicaraan malam itu. Gerakan mereka tetap sama.Ya, gerakan monoton untuk berdansa berdua. Gadis itu terkadang menatap atau sering kali menunduk untuk menghindari kontak mata dengan laki-laki itu.

“Suatu hari, terdapat seorang laki-laki dan seorang gadis. Mereka mengenal satu sama lain sejak mereka kecil. Ya, mereka bersahabat sejak kecil. Kau tahu tanpa sepengetahuan gadis itu, laki-laki tersebut mempunyai perasaan terhadapnya sejak dahulu,”

“Ia tak mengatakannya?” tanya Geu Rim tiba-tiba. Suga menyeringai tipis.

“Hampir. Saat itu laki-laki tersebut berpikir gadis itu tak memiliki perasaan yang sama padanya,”

Entah kenapa kini Jang Geu Rim tertunduk. Ya, entah kenapa itu juga tengah ia rasakan saat itu.

“Suatu hari mereka akan menghadiri suatu acara di malam hari. Laki-laki itu berniat untuk menyatakan perasaannya dengan sebuah bouquet bunga. Untuk itu, ia datang terlambat,”

Jang Geu Rim mendongakkan kepalanya paksa dan saat itu ia bisa melihat tatapan laki-laki itu yang terlingat sangat familiar.

“Lalu?” ucap gadis itu berharap bahwa Suga melanjutkan ceritanya.

“Lalu, sebuah kecelakaan…merengut nyawa laki-laki itu,”

Jang Geu Rim menghentikan gerakannya. Ia terdiam beberapa saat. Entah kenapa kini dadanya terasa begitu sesak.

“Laki-laki itu….?”

Suga hanya tersenyum begitu tipis dan hal itu sempat membuatnya merinding.

“Ceritaku belum selesai. Bisakah kita berdansa kembali agar aku bisa melanjutkan ceritaku?”

Jang Geu Rim menarik nafasnya perlahan. Apapun yang dikatakan yang dikatakan laki-laki itu enggan ia percayai, namun entah kenapa ia ingin sekali mempercayainya. Jang Geu Rim pada akhirnya mengiyakan permintaan laki-laki itu sekali lagi.

“Saat…bagaimana aku menjelaskannya?”

Suga terkekeh pelan. Kini mereka berdansa kembali. Entah nyanyian bdalam bahasa Itali itu belum juga terhenti.

“Saat laki-laki itu berada entahlah ia tak yakin berada dimana. Ia tiba-tiba diberikan satu kesempatan untuk kembali ke dunia. Karena gadis yang ia sukai tak mau ia tinggalkan,”

Suga menarik nafasnya dalam-dalam.

“Hanya satu hari. Dan ia tak boleh mengatakan siapa dirinya dan buruknya ia kembali dengan wajah yang jauh berbeda dengan wajah aslinya,”

Jang Geu Rim masih membisu di tempatnya, namun sejak beberapa menit yang lalu, entah kenapa matanya terus berkaca-kaca. Dadanya begitu sesak. Ya, entah kenapa keyakinannya tentang siapa laki-laki itu terusa saja ia yakini.

“Hanya sampai tengah malam. Jika ia mengatakan siapa dirinya, maka….ia akan dipanggil kembali. Tugasnya hanya membuat gadis yang ia sukai melepaskannya dirinya, maka ia bisa meninggalkan dunia dengan tenang,”

Suga menyunggingkan kedua ujungnya bibirnya.

“Namun, gadis itu seakan tak mau melihatnya. Bagaimana menurutmu akan hal itu?”

Kini laki-laki itu melepaskan sebelah tangan yang ia letakkan pada pinggang gadis itu, sedangkan tangan lainnya masih tergenggam pada tangan gadis tersebut. Mereka bertatap. Suga dapat melihat gadis itu menangis kali ini.

“Hanya sampai tengah malam, setelah itu mereka akan berpisah. Untuk selamanya,”

Kini mereka kembali berada cukup dekat dan melanjutkan dansanya. Meski kini tangis gadis itu berubah menjadi sebuah isakan. Suga tak mau menghentikan dansanya saat itu. Ya, ia tak ingin melihat gadis itu menangis. Ia hanya ingin terus berpura-pura bahwa ia tak melihat gadis itu menangis.

“Kau tahu, gadis itu memiliki kebiasaan yang sama denganmu,”

Jang Geu Rim mengusap air matanya, meski bibirnya masih bergetar  ia memaksakan dirinya untuk menatap laki-laki itu.

“Membuat ratusan kertas bintang hanya untuk bertemu dengan laki-laki yang menyukainya tersebut,”

“Cukup!” ucap Geu Rim kali ini. Ia melepaskan kedua tangan laki-laki itu yang berada di tubuhnya. Ia tak tahu apa arti apa yabg laki-laki itu ucapkan padanya. Ia tak menyukai itu. Ia tak menyukai seakan laki-laki itu memaksanya mempercayai apa yang dikatakan padanya juga meyakini harapan yang seakan tak ada artinya itu.

Suga mengembangkan senyumnya.

“Lihatlah jam pada ponsel milikmu,” ucapnya begitu singkat. Jang Geu Rim sempat tidak mengerti apa yang dikatakan laki-laki itu katakan, namun ia menurut saja. Ia terkejut saat jam ponselnya menunjukan pukul 00.00 yang tak berubah meski ia melihatnya untuk beberapa menit.

“T-tapi…”

Jang Geu Rim terkejut saat laki-laki yang ada di hadapannya berubah wajahnya. Ya, wajahnya berubah menjadi seseorang yang begutu familiar untuknya. Wajah laki-laki yang meninggalkannya. Min Yoon Gi.

“K-kau…”

Laki-laki itu mengembangkan senyumnya kini. Ia yakin, gadis itu melihatnya sebagai Min Yoon Gi lagi. Gadis itu melangkahkan kakinya lebih mendekat dan sebelah tangannya ia ulurkan dan mengusap pelan wajah laki-laki itu. Gadis itu mengembangkan senyumnya dalam tangisnya sekali lagi.

“Kau berani meninggalkanku? Kau jahat, Yoon Gi! Kau jahat!”

Geu Rim kembali terisak. Laki-laki itu lantas meraih tubuhnya dan memeluknya erat. Ia tak bisa melihat gadis itu terisak sekali lagi. Ia tak ingin sepeninggalnya, gadis itu masih terperangkap dalam kesedihannya.

“Kumohon. Kau harus merelakanku,”

“Aku tak mau!” ucap gadis itu keras dalam tangisnya. Laki-laki itu tersenyum tipis. Ia dapat merasakan tubuh gadis itu terguncang dalam tangisnya.

“Maaf, tapi aku harus pergi,”

Laki-laki itu melepaskan pelukannya. Menatap gadis itu yang masih saja terisak. Demi Tuhan, ini bukan keinginannya. Min Yoon Gi mengusap wajah Geu Rim yang basah, meski sekiranya itu sia-sia.

Laki-laki itu lantas meraih kedua tangan gadis itu dan menggenggamnya.

“Apa kau tak bisa merasakan bahwa kedua tangan ini begitu dingin? Aku sudah mati Geu Rim-ah, dan kau harus melepaskanku,”

Geu Rim mencoba menghentikan tangisnya namun berulang kali ia coba, hasilnya sama saja.

“Tapi aku membutuhkanmu,” ucap gadis itu bergetar. Min Yoon Gi tersenyum tipis.

“Aku juga. Maaf, aku harus pergi,”

Laki-laki itu mengusap pucuk kepala gadis itu perlahan.

“Kau harus berjanji, kau bisa hidup dengan sebagaimana mestinya sepeninggalku,”

Saat mendengar kalimat tersebut, Geu Rim tangisnya semakin menjadi dan hal tersebut bagai sebuah cambuk untuknya.

“Berjanjilah,”

Geu Rim menatap laki-laki di hadapannya, mencoba menghentikan air matanya dan mengontrol tubuhnya agar tidak bergetar.

“A-aku berjan-ji,” ucap gadis itu setengah terbata akibat tangisnya. Laki-laki yang ada du hadapannya tersebut tersenyum puas. Ia lantas meraih sekali lagi tubuh yang lebih kecil darinya tersebut dan mengeratkan pelukannya.

“Terima kasih,” ucap Suga singkat. Ia lantas mnegeratlkan kembali pelukannya berharap gadis itu merasa lebih tenang. Sungguh, ia pasti akan merindukan pelukan ini.

.

.

.

.

Jang Geu Rim membuka matanya paksa. Ia terkejut saat ia sadar bahwa ia berada di atas ranjangnya dengan toples transparan miliknya dengan ratusan bintang miliknya. Ia kemudian melompat dari ranjangnya. Ia berlari menuju jendela kamarnya yang masih tertutupi oleh tirai. Ia lalu membuka paksa tirai tersebut namun kini cahaya bulan sudah tergantikan oleh cahaya matahari.

Ia lalu berlari menuju cermin berukuran cukup besar miliknya. Ia dapat matanya sembab kali ini. Wajahnya sedikit kecewa namun beberapa menit kemudian senyumnya perlahan menghilang.

Ia yakin saat itu ia bersama laki-laki tersebut. Ya, Yoon Gi dalam tubuh lain. Laki-laki bernama Suga tersebut sebenarnya adalah sahabat kecilnya. Dalam satu hari penuh lali-laki itu benar-benar menemaninya, meski pada akhirnya ia baru sadar bahwa laki-laki itu adalah Yoon Gi.

Tapi, apakah satu hari itu hanyalah mimpi belaka?

Geu Rim mengembangkan senyumnya sekali lagi. Tidak, ia yakin bahwa apa yang ia lakukan kemarin, hal yang sangat ia ingat itu, bukanlah sebuah mimpi.

Geu Rim meraih toples transparan dengan ratusan bintang tersebut. Ia lantas menggenggamnya erat. Ya, permintaannya benar terkabul. Ia benar, bertemu dengan laki-laki itu, meski hanya satu hari. Hal tersebut patut ia syukuri.

Min Yoon Gi. Ya, Min Yoon Gi.

Hiduplah tenang di sana.

 

 

-The End-

 

 

Advertisements

28 thoughts on “Just One Day (Suga Version)

  1. Hwaa tanggung jawab author aku nangis nih , kisah cinta yang tragis 😦 . Mereka berdua sama-sama gak peka kalo suka satu sama lain .
    Apa yang dilakuin jin sampai geu rim marah ? Gak setuju aku kalo takdir geu rim sama jin hiks hiks , jodohnya sama suga aja . Aku bener bener envy sama author tsara selalu membuat jalan cerita yang bagus dan cerita sedihnya dapet banget . Greet job

    Like

    1. Maafkan aku yang membuat Suga mati T.T hehe. Ga bermaksud sebenernya /sobs. Hehe but thank you uda mau baca. Trima ksih komennya. Sbnernya geu rim bukan marah sma jin krna mitos itu. Tapi, dia marah sm drinya sendiri, krna prcya bhwa itu bkal ngabulin prmintaannya. Tapi nglampiasin ke jin ‘-‘v haha dtggu ff km jagii~

      Like

      1. Gak papa seh kan terserah authornya mau bikin ceritanya seperti apa . Ne cheonmana , oh gitu ya tapi si cowok berambut putih itu bilang jin jodohnya hehehehh.

        Like

  2. Huuuwwaaaaa ㅠ_ㅠ author knp km bikin min yoon gi q matiii/? hehe bguss thor nangis nie,
    suga romantis bnget suka thor.. keepwriting yaa..
    aq g bsa byangin suga matii g bsaaaa *heboh
    jjang thor ceritax mnyentuh..

    Like

    1. Jeongmal mianhae :” /kasih tisu/ hehe. Iya maaf banget uda bkin suga mati hehe. Pada awalnya ragu buat ini, krn kira bakal dbnuh sma armyswag 😦 /? Hehe. Makasi~ dtggu versi lain ya~^^

      Like

  3. Annyeong author ts_sora huaaa bener2 cerita yg gk main main daebak sekali.. sukaa fantasynya bagus banget nangis nih T.T Suga sama yoon gi itu orang yg sama tapi geurim lihat dalam bentuk berbeda.. idenya bagus jalan cerianya suka.. di tunggu karya lainnya ya author sora.. ^^

    Like

    1. Dipuji sma senior /.\ aw aw aw~ hehe makasi. Dari berbagai kegagalan dalm buat fantasy, akhirnya sekarang dapet juga~^^ hehe. Makasi sunbae komennya. Tggal dtggu krya lain nih

      Like

  4. 😭😭😭Suga suga suga andweeeeee u.u kenapa gitu u.u kenapa harus mati /sobs/ bagus ceritanya, to kyk q g terima bngt si suga mati u.u kenapa klo suka g bilang aja sih tuh suga atau ai geum rin juga T.T gak jodoh sakitnya di sini /pokes my heart/ sobs/
    Keep writing authornimmmmm ^^

    Okay nunggu lanjutan seri onedayyy jhope kkkk

    Like

    1. Intinya cinta itu ga harus memiliki :” kkk~ makasi author fini :3 awalnya aku mau bkin mreka uda pcran, tp brpkir akn tmbh seru kalo mereka blm pacarn, dan jadilah ini 😦 mianhaee~ makasih komennya~^^ hehe iya nih buat author slnjutnya fighting!

      Like

  5. Authoooorr nangisss nangiss.. npa yoon gi meninggal?
    kl aq jd geu rim g bs byangin mungkin nyusul si yoon gi>\\< daebak thor suka suka suka..
    fanfic wp ini memang sllu jjang g di ragukan lgi.. next vers dtnggu bwt para author keepwriting

    Like

    1. Hehehe mianhae 😦 kena protes karna bunuh yoon gi dsini D: hehe~ iya makasi uda baca. Alhamdulillah suka smuanya~ hehe. Iya, dtggu ya versi lainnya

      Like

  6. Aigoooo thor bgs syekaliiii aq nangis..
    yoon gi meninggalx gtu amat huuaaaahuuaaa romantis thor g tega bca kisah cinta mrka,
    sepertix project ini pda tema kematian y thor??>\\<
    bgus jln ceritax, di tnggu next vers..

    Like

  7. Sugaaaa ver sdah publish!!!! demi apa thor ceritax knp nangis trus dri mulai yg jin ver jg??? tp sukaaa jd ikutan nangis klo bca yg sad gni..
    aq suka jln ceritanya, romantis tp gaa tegaaa thor, jjang jjang…
    project ini aq bakal tnggu trs ampe hbs!! next ver aq tnggu thor keepwriting.. smua authornya fighting!!!!!!

    Like

  8. Omoooo omoooo napa abang jhope q sllu pea beud kekekeke
    thor sedih amat ceritanya g rela suga mninggal.. greatfanfic thor neomu johaaa nangis yaampunㅜ_ㅜ kasian geurim hrs nerima knyataan yoon gi mati huuaaa tdk bisa byangin/ overall keren ff nya, next chap abang jhope q dong yaaaaa??? 😀

    Like

  9. Aigoooo jinjjaaaaaa thor bguuus banget fanficnya, yoon gi jngn mati TT_TT suka skali sm ff mu thor,
    sadnya dpet banget..
    dtnggu next vers aaaaaahhhhh daebaak!

    Like

  10. baru nemu nih ff sumpah gua nangis bacanya, sedih bgt suganya knp mati????? nyesek tiada henti 😭😭😭😭
    walaupun nyesek tapi ffnya bagus kok tapi kurangin typonya yeu 👌👌 keep writing thor 💋

    Like

    1. Huah, jangan nangis 😥 hehe. Makasi sudah mau baca sayang 🙂 knp baru nemu? Hehe. Awalnya ragu mau buat suga mati, karena pasti diprotes byk orang haha. Tapi krn mksd author ini angst, jadilah suganya yg mati bukan yg cewek 😥 mian. Hahaha, astaga typo adalah budaya saya sbnernya :p tp akhir2 ini sudah berkurang kok 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s