Angst · Chaptered · Drama · PG · Romance · Two Shoot

The Pieces of Memory Chapter 2 End


The Pieces of Memory (2)

 

Author:ts_sora

 

Cast:Kim Tae Hyung, Kim Seok Jin, and Choi Ji Hyun

 

Genre:drama, too much/?

 

Length:two-shoot

 

 Chapter 1 / 2

 

“Selamatdatang!” pekik seorang gadis dari dapur. Ia tengah berdirimenyambut kedatangan beberapa pria yang baru saja menyelesaikanjadwal mereka hari itu. Beberapa pria tersebut terdiam, terkejutdengan keberadaan gadis itu yang terasa sangat tiba-tiba. Kemudian,mereka tersenyum tipis.

 

 

 

“Anyeonghaseyo Ji Hyun nunna,” ucap pria yang paling muda. Mungkin lebihtepatnya bocah. Sapaan tersebut disusul yang lain.

 

 

 

“JiHyun-ah, bagaimana kabarmu?” ucap pria yang melangkah masukdengan piercing miliknya yang mana bergoyang pada setiap langkah yangia ambil. Gadis itu tersenyum lebar.

 

 

 

“Akubaik-baik saja Suga oppa,” jawabnya senang. Gadis itumenjinjitkan kakinya. Mencoba untuk melihat beberapa pria yang beradadi belakang pria yang baru saja berbicara dengannya. Mencari sosokyang sangat ia rindukan.

 

 

 

“JiHyun-ah, kau ada disini?” tanya tiba-tiba seorang pria tertuamemasuki dapur paling terakhir. Ji Hyun mengangguk senang. Iamelangkahkan kakinya menuju pria itu dan memeluknya. Semua orangterdiam saat melihat apa yang dilakukan gadis itu.

 

 

 

“Selamatdatang. Oppa, aku merindukanmu,” ucap gadis itu serayamelepaskan pelukannya. Pria itu hanya tersenyum tipis, tanpa membalaspelukan gadis itu. Pria itu menatap seorang pria yang berdiri sangatjauh darinya. Ia yang menatapnya paling lama. Ia juga pria yangmenatapnya dengan sebuah senyum di wajahnya.

 

 

 

“Akumembuatkanmu chicken stew. Kau suka ayam kan?” imbuh gadis itumenarik lengan pria itu menuju bangku makan.

 

 

 

“Akujuga membuatkan kalian semua,”

 

 

 

Beberapapria yang berada di sana tersenyum bahagia, denan sigap merekamenduduki bangku makan mereka masing-masing. Wajah mereka sumringahsaat bau chicken stew menyambut kehadiran mereka. Tak termasukseorang pria yang hanya berdiri menatap sepasang kekasih tersebut. Iahanya berdiri dan terdiam.

 

 

 

“Ah,Tae Hyung-ah, kau sudah membaik?” ucap sang leader mendekatipria yang memang memiliki warna rambut yang paling berbeda denganyang lainnya. Ia mengedikkan bahunya. Seolah ia mengatakan iabaik-baik saja tanpa sepatah kata pun. Sang leader menghela nafas. Iakemudian menepuk pundak pria yang lebih muda darinya tersebut. Seakania tahu apa yang tengah dipikirkan pria yang lebih muda darinya itu.Tapi, apa yang tengah pria itu pikirkan.

 

 

 

“V-ah,kau tidak makan? Makanlah bersama kami,” ucap gadis itu menatappria yang berada di ujung dapur. Semua msta menatap gadis itu bingungseakan satu kesalahan tengah dilakukan gadis itu. Tapi mereka memilihdiam.

 

 

 

“Akutak lapar,” ucap pria itu singkat dan melangkah pergi. Ya,setidaknya ia merasa tidak enak badan hari itu. Semua orang terdiammelihat apa yang dilakukan pria itu. Gadis itu mengerucutkan bibirnyakesal. Yang ia tahu, pria itu tidak pernah bertindak seperti itusemenjak pertemuan pertama mereka. Bahkan, pria itu yangmenenangkannya saat listrik padam.

 

 

 

“Sudahlah.Aku akan memakan ini,” ucap pria yang duduk di sampingnya. Iameraih pucuk kepala gadis itu dan memgelusnya. Ia pun tersenyum padagadis itu. Ya, salah satu cara yang bisa menenangkan dirinya. Gadisitu mengangguk perlahan. Setidaknya, tujuannya telah terlaksana,bukan?

 

 

 

Priaitu menatap mangkuk miliknya yang sudah terisi chicken stew yangsengaja gadis itu buatkan untuknya. Ya, ia terkesan. Setidaknya gadisitu mau berusaha untuk datang ke dorm untuk membuatkannya chickenstew.

 

 

 

“Kenapadatang kesini?”

 

 

 

“Eoh?Ah iya, aku hanya memastikan kau tidak lupa untuk makan,” ucapgadiis itu dengan senyum lebarnya. Pria itu itu terdiam. Gadis itutak main-main untuk mengingatkannya untuk makan. Setidaknya gadis itutelah benar-benar berusaha untuk membawakannya makanan hanya untukitu.

 

 

 

 

 

 

JiHyun mengenakan dress santai berwarna merah miliknya dan menatanyaberulang agar terlihat rapi. Ia nampak begitu cantik hari ini. Ya,setidaknya hari itu ia memiliki janji dengan seseorang. Ya, ia adalahJin, kekasihnya.

 

 

 

Iasudah berada di depan rumahnya. Ya, menunggu seseorang untukmenjemputnya. Tak lama, seorang pria berjalan ke arahnya. Melambaikantangannya saat jarak mereka cukup dekat. Pria itu tersenyum ramahgadis itu terlihat begitu cantik hari itu.

 

 

 

“Kaumengenakan dress hari ini?”

 

 

 

Gadisitu memgangguk riang. Ya, penampilan hari ini tak main-main. Entahlahkapan terakhir kali tepatnya ia dan pria itu berkencan. Seakankejadian itu telah membuat semua kenangan itu hilang. Ya, ia takmemiliki satu kenangan yang ia kenang. Entahlah, shock yangdiakibatkan benturan masih belum hilang, meski lukanya mulai perlahanhilang.

 

 

 

“Baiklah,ayo,” ucap pria itu melangkahkan kakinya. Dengan cepat gadis itumeraih lengan pria itu dan mengaitkannya erat. Pria itu terdiamsejenak. Menatap apa yang dilakukan gadis itu padanya.

 

 

 

“Adaapa? Ada yang salah?” ucap gadis itu sedikit heran. Ia menataplengannya yang terkait dengan lengan pria itu. Pria itu tersenyumtipis.

 

 

 

“Tidak,”

 

 

 

Priaitu mengembangkan senyumnya. Membiarkan gadis itu mengaitkannya lebiherat. Gadis itu sesekali tersipu dan melangkahkan kakinya pergi. Ya,hari itu mereka ingin menghabiskan waktu bersama. Ya, waktu luangyang membuat mereka dapat menghabiskan waktu bersama.

 

 

 

 

 

 

“Ini,”ucap seorang pria menyerahkan sekaleng minuman pada gadis yang tengahmenduduki sebuah bangku taman. Gadis itu menerimanya. Pria itu lalumemilih untuk duduk di samping gadis tersebut.

 

 

 

Priaitu meminum cairan yang ada di dalam kaleng miliknya lalu memandanggadis yang ada di sampingnya. Sebuah senyum terbentuk di bibirnyasaat gadis itu juga tersenyum padanya. Tangannya meraih sebuah lukayang yang masih membekas pada dahi gadis tersebut.

 

 

 

“Apamasih sakit?”

 

 

 

Gadisitu menggeleng pelan.

 

 

 

“Tidak.Gadis itu meraih jemari pria itu dan menempelkannya pada lukanya.Menekan-nekannya. Memastikan bahwa lukanya benar-benar sudah sembuh.Gadis itu pun tersenyum.

 

 

 

“Mm–sudah teringatkan sesuatu?”

 

 

 

Gadisitu menatap pria itu bingung.

 

 

 

“Sesuatu?Tentang apa?”

 

 

 

Priaitu menatap kaleng minumannya. Ia tersenyum tipis.

 

 

 

“Entahlah,mungkin diriku? Atau seseorang yang lain? Atau mungkin sesuatu?”

 

 

 

Gadisitu terdiam. Menerawang jauh ke atas. Mencoba mengingat apapun yangada di kepalanya. Ia menggeleng pelan.

 

 

 

“Saataku bangun, aku hanya ingat ibuku dan sesuatu saat itu mengingatkankutentangmu,”

 

 

 

“Tentangku?Sebelumnya kau tak pernah mengingat orang lain?” tanya pria itusekali lagi. Gadis itu kembali mencoba mengingat. Tapi saat iamengingat, ia dapat merasakan aliran listrik yang seakan menyerangperlahan tapi pasti pada otaknya. Ia meringis kesakitan.

 

 

 

“G-gwenchana?”tanya pria itu terlihat khawatir. Gadis itu mengembangkan senyumnya,seakan memang tak terjadi apa-apa pada dirinya. Meski pria itu tahu,gadis itu tengah menahan rasa sakit. Pria itu mengeluarkan nafaspanjangnya. Ia tahu, apa yang ia katakan tadi akan membuat gadis itukesakitan karena proses mengingat.

 

 

 

“Oppa,apa ini hanya shock akibat benturan biasa? Kau tahu, terkadang akutakut dengan apa yang ada di pikiranku,” imbuh gadis itu menatappria yang ada di sampingnya. Ya, ada rasa takut yang menaunginya. Ya,bila itu shock yang dikatakan biasa akibat sebuah benturan hebat,maka apakah berdampak pada hampir semua ingatan jangka pendeknya yangtak kunjung kembali?

 

 

 

Priaitu terdiam namun sejenak, ia kembali tersenyum.

 

 

 

“Jangankhawatir,” ucap pria itu menanggapi. Gadis itu tersenyum lebar.Menurutnya, apapun yang terjadi padanya, ia tak perlu khawatir.Selama itu bersama prianya, semua akan baik-baik saja. Ya, sebuahkeyakinan baru.

 

 

 

Gadisitu mendekatkan dirinya pada pria itu dan menyandarkan kepalanya padabahu pria di sampingnya. Ya, kekasihnya seorang idola. Tak seharusnyaia melakukan itu dengan kekasihnya di tempat umum. Tapi, ia yakinkekasihnya memakai penyamaran yang hebat saat ini. Pria itutersenyum, mengusap pucuk kepala gadis tersebut pelan.

 

 

 

Gadisitu beranjak dari bangkunya tiba-tiba. Setidaknya kedua matanyamenangkap sesuatu yang begitu menarik untuknya.

 

 

 

“Oppa,aku ingin kita berfoto disana,” ucap gadis itu menunjuk ke arahsalah satu pohon oak yang terliat rimbun.

 

 

 

“Eoh?”ucap pria itu yang masih belum bisa mencerna apa yang dikatakan gadisitu padanya. Gadis itu menangguk cepat, menarik lengan pria itu untukmengikuti langkahnya. Pria itu memilih untuk mengikuti apa saja yangdikatakan gadis itu padanya. Ya, apapun.

 

 

 

Priaitu tersenyum senang saat gadis itu kembali tersenyum. Ada rasabahagia saat gadis itu kembali tersenyum. Ya, ada rasa bersalahselama ini pada gadis itu. Rasa bersalah yang bahkan tak bisadiucapkan. Masih belum bisa diucapkan.

 

 

 

 

 

 

KimSeok Jin menduduki sebuah bangku makan dorm. Ya, semua member sudahtidur pastinya, mengingat sudah terlalu malam, dan dia masih belumterlelap. Sesuatu mengganjalnya, dan sesuatu membuatnya tidak bisaterlelap atau bahkan menutup matanya. Ya, layaknya sebuah janji atausebuah permintaan yang harus ia tepati.

 

 

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

“Aku mohon hyung,” ucappria lebih muda darinya memelas. Wajahnya penuh dengan keyakinan.Matanya membuat seakan ia benar-benar meminta dengan sangat apa yangingin Jin lalukan untuknya.

 

 

 

“Ck. Jangan gegabah, kau taktahu apa yang kau minta,”

 

 

 

“Tidak, aku hanya minta satuhal saja padamu. Aku mohon,” ucap pria itu sekali lagi. Beberapapria lain tengah menatapnya, mendengar juga memperhatikan apa sajayang dikatakan keduanya.

 

 

 

Kim Seok Jin menatap pria yang lebihmuda darinya dengan sebelah mata. Seringaian juga tak luput dariparasnya.

 

 

 

“Apa kau yakin?”

 

 

 

Pria yang ada di hadapannyamengangguk pasti. Setidaknya ia sangat serius dengan apa yang iaminta. Kim Seok Jin menyerah. Lalu apa yang harus ia lakukan?

 

 

 

“A-aku akan melakukan semua apayang kau minta. Kumohon hyung,”

 

 

 

“Bagaimana jika akumenyukainya?” ucap Kim Seok Jin sambil menatap pria yang ada dihadapannya. Pria yang berdiri di hadapannya terdiam dan ia tertunduk.

 

 

 

Tak ada satu katapun yang dapatkeluar dati bibir pria yang ada di hadapan Jin. Kim Seok Jintersenyum tipis. Ia tahu pertanyaan barusan adalah pertanyaanmenjebak, tak membutuhkan sebuah jawaban. Dan ia yakin pria yang adadi hadapannya kini menyerah.

 

 

 

Kim Seok Jin kemudian melangkahkankakinya pergi. Ia memilih berjalan melewati si lawan bicaranya.

 

 

 

“T-tak apa. Jika.. jika iamenyukaimu pada akhirnya, dan ingin bersamamu.. A-aku,”

 

 

 

Kim Seok Jin menyeringai saatmendengar apa yang dikatakan pria itu padanya. Ia melangkahkankakinya menuju pria yang memohon padanya. Ia menepuk pundak pria itu.Seok Jin tersenyum.

 

 

 

“Aku akan melakukannya,”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

 

 

KimSeok Jin tersenyum tipis. Ya, layaknya sebuah janji yang harusditepati saat ini. Ia meraih ponsel miliknya. Sebuah foto yang barusaja tadi pagi ia ambil bersama seorang gadis menghiasi layarponselnya. Ia tersenyum menatapnya. Ya, gadis itu terlihat sangatsenang.

 

 

 

Bahkangadis itu yang membuatnya tersenyum akhir-akhir ini. Tunggu, apa diamulai menyukai gadis itu? Kim Seok Jin menggeleng perlahan.Seringaian terbentuk di wajahnya. Bagaimana bisa ia menyukainya? Iaharus menghentikan itu semua paling tidak. Ya, setidaknya ia harusmenghentikan itu semua sebelum terlambat.

 

 

 

KimSeok Jin menutup layar ponselnya saat sosok seseorang tengahmelangkah ke arahnya. Ia tersenyum canggung, seakan tidak terjadiapa-apa padanya.

 

 

 

“Kautidak tidur?” ucap pria yang terlihat sangat mengantuk. Jinmenggelengkan kepalanya perlahan. Pria yang tengah menjaga agarmatanya tetap terbuka memilih untuk duduk pada salah satu bangkudekat pria yang lebih tua darinya tersebut.

 

 

 

“Tidak,aku tidak bisa tidur, kau?”

 

 

 

“Entahlah,aku ingin minum tadinya, tapi entahlah, rasa hausku hilangtiba-tiba,” ucap pria itu setengah sadar. Jin tertawa kecilmelihatnya. Ya, J-hope.

 

 

 

“Kemanasaja kau tadi pagi?”

 

 

 

“Mencariudara segar” jawab Jin seperlunya. J-hope menatapnya denganekspresi menyelidik. Wajahnya terlihat serius sekarang.

 

 

 

“Dengangadis itu?”

 

 

 

Jinterdiam. Ya, ia memang pergi dengan gadis itu seharian.

 

 

 

“Kaumulai menyukainya?” imbuh pria itu. Jin hanya memandang lawanbicaranya tanda sepatah katapun. Lalu ia tersenyum, seakan itulahjawabannya. J-hope terdiam saat respon itu yang ia dapat darihyungnya. Air mukanya berubah seketika. Ia kemudian beranjak daribangkunya.

 

 

 

KimSeok Jin tahu bahwa itu bukanlah jawaban yang baik. Bukan jawabanterbaik yamg ia sampaikan. Dan ia tahu, ia akan mendapatkan respontersebut dari pria itu. Tapi itulah yang mulai ia rasakan.

 

 

 

“Hyung,jangan kecewakan temanmu,” ucapnya sambil berlalu. Benar, ia takharus mengecewakan permintaan temannya, tapi bagaimana caranya? SeokJin menatap layar ponselnya. Ia menyeringai saat walpaper itu lagiyang menyapanya. Ia kemudian meletakkan poselnya dengan keadaan layarsebagai alasnya.

 

 

 

Ya, iaharus. Harus menyudahi semua. Tapi bagaimna? Kim Seok Jin mengacakrambutnya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.

 

 

 

 

 

 

KimSeok Jin menggerakkan tangannya perlahan.Tapi sebuah genggaman tanganyang berasal dari seseorang tak mau melepaskan tangan pria tersebut.Pria itu menyerah sekarang. Kali ini, pria itu berada di rumah JiHyun. Ya, entah apa yang membuatnya menunggui gadis itu sekali lagi.Tapi, permintaannya tak main-main.

 

 

 

Ya,setidaknya ada secercah memori yang mulai terbentuk dan ia mulaiteringat akan hal itu. Ada rasa senang saat mengetahui jika memoriitu kembali pada otaknya, tapi ada hal lain yang membuatnya takut.Takut, bila gadis itu tak membutuhkannya lagi. Takut jika gadis itumeninggalkannya.

 

 

 

KimSeok Jin menatap gadis yang tengah tertidur di atas meja denganlipatan tangan miliknya. Genggaman gadis itu terkadang mengeratseiring dengan ekspresi gadis itu yang terkadang berubah. Kim SeokJin tersenyum melihat apa yang dilakukan gadis itu. Ia meraih pucukkepala gadis itu dengan tangannya yang sekiranya bebas. Iamengelusnya perlahan.

 

 

 

Iatahu gadis itu ketakutan tentang apa yang ada di kepalanya. Ia taktahu bagaimana rasanya, tapi ia tahu gadis itu selalu merasakan sakityang luar biasa saat setiap ingatan itu datang. Kim Seok Jinmenggenggam erat tangan gadis itu yang juga tengah menggenggamtangannya. Ia ingin menjaga gadis itu sebisanya. Menemaninyasebisanya. Saat gadis itu membutuhkannya. Tapi, jika tidak? Palingtidak, ia ingin menjaga gadis itu meski gadis itu tak lagimembutuhkannya nanti.

 

 

 

KimSeok Jin tersenyum lebar saat gadis itu menggeliat. Sudah satu jamlamanya, ia hanya duduk, menggenggam tangan gadis itu danmemperhatikannya tidur. Ya, ia nampak kelelahan. Kelelahan untukmenceritakan apa yang ada di dalam pikirannya. Yang membuatnyaketakutan selama ini.

 

 

 

Ya,sebuah mimpi. Mimpi dimana seorang laki-laki selalu bersamanya danmenjaganya. Mimpi dimana sosok laki-laki itu yang baru saja gadis itusadari jauh berbeda dengan dirinya. Sosok pria itu yang seharusnyaselalu bersama gadis itu. Sosok yang memintanya menggantikanposisinya tanpa ia tahu apa alasan yang sebenarnya.

 

 

 

“Eum–”

 

 

 

“Bagaimanatidurmu?” ucap pria itu menyapa saat gadis itu mulai membukamatanya. ia kemudian menata cara duduknya. Mengedipkan matanyaberulang. Ia tersipu saat ia sadar pria itu memperhatikannya saattidur dengan genggaman tangan pria itu.

 

 

 

Priaitu hanya tersenyum. Gadis itu berusaha melepaskan genggamantangannya tapi pria itu enggan melepaskannya. Ia mengeratkangenggaman tangannya dengan menatap mata gadis itu. Ia tahu, gadis itupastinya malu. Tapi, ia ingin melakukannya. Itu saja.

 

 

 

“JiHyun-ah, boleh aku tanya tentang sesuatu?”

 

 

 

Gadisitu mengerjapkan matanya heran.

 

 

 

“Jikasemua ingatanmu kembali, apa kau tetap bersamaku?” imbuh priaitu yang kali ini serius. Gadis itu terdiam. Ia masih membutuhkanbeberapa menit lamanya untuk mencerna apa yang dikatakan pria itupadanya. Tapi, sekejap sebuah senyum tampak di paras gadis itu.

 

 

 

“Tentu,karena aku hanya membutuhkanmu,”

 

 

 

Priaitu tersenyum saat mendengarnya. Mungkin lebih tepatnya seringaiandarinya. Ia berharap banyak itu bukanlah sebuah omongan belaka. Iaingin itu adalah sebuah janji yang mana membuat gadia tak akanmeninggalkannya.

 

 

 

“Akuharus pulang sekarang,” ucap pria itu beranjak. Gadis itu ikutberanjak. Wajahnya terlihat heran. Apa kali ini jawaban yang iaberikan salah? Ia mengikuti langkah pria itu yang kini sudah beradacukup dekat dengan pintu rumahnya. Ia membuka pintu tersebut danberanjak keluar.

 

 

 

Gadisitu masih tertunduk. Masih ada rasa bersalah dengan apa yang iakatakan pada pria itu. Ia merasa perlu untuk menjelaskan apa yangdikatakan barusan. Pria itu melambaikan tangannya dan mulai beranjakpergi.

 

 

 

“S-saranghaeoppa,” ucap gadis itu cepat.

 

 

 

Priaitu menghentikan langkahnya. Ia tersenyum lebar. Entah apa yangmembuat gadis itu mengatakan hal itu padanya. Ia membalikkan tubuhnyadan melangkahkan kakinya menuju gadis itu yang tertunduk. Ya, ia malutentang apa yang baru saja ia sampaikan. Apa gadis itu apa yang halitu yang ada di pikiannya juga?

 

 

 

Priaitu menarik tubuh gadis itu untuk lebih dekat dengannya danmenempelkan bibirnya pada bibir gadis itu. Ia tak peduli bagaimanagadis itu merespon. Ya, ia hanya ingin menyampaikan bahwa ia jugamenyukai gadis itu. Meski itu tak berguna nantinya. Atau mungkin iajuga muai mencintainya?

 

 

 

Iamengeratkan pelukannya juga bibirnya. Ia tak mau kehilangan satudetik pun untuk memori ini. Memori yang mungkin saja gadis itu akanmelupakannya saat memori lamanya kembali.

 

 

 

 

 

 

 

“Apa semua ingatannya akankembali?”

 

 

 

Seorang pria yang terlihat tuamenggelengkan kepalanya. Ia melepaskan kacamata miliknya. Wajahnyaterlihat serius kali ini.

 

 

 

“Entahlah. Saya tidak bisamemastikannya dengan pasti. Bisa saja ingatan lamanya kembali, tapibisa saja tidak,”

 

 

 

Si lawan bicara tertunduk. Diamberibu bahasa. Wajahnya terlihat sedih.

 

 

 

“Tapi anda bisa berusaha untukmembuatnya mengingat kembali. Meski bisa saja, ingatannya tak akanpernah kembali,” imbuh pria tua itu. Si lawan bicara hanyatersenyum. Setidaknya apa yang dikaakan pria tua itu jauh darikatakan cukup. Si lawan bicara beranjak dari bangkunya. Ya, tak perluia mendengarkan apa yang dikatakan pria tua itu padanya.

 

 

 

Ia membungkukkan tubuhnya danbersiap untuk pergi.

 

 

 

“Tunggu anak muda, apa kau siapjika dia sama sekali tidak mengingatmu?”

 

 

 

Si lawan bicara yang menghentikanlangkahnya membalikkan tubuhnya. Wajahnya terlihat murung namunsegera sebuah senyum nampak di wajahnya. Ia mengembangkan senyumnya,ia mengangguk pelan.

 

 

 

“Aku akan mencoba untukmenerimnya,” ucap anak muda itu dan kembali beranjak pergi.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Seorang pria menggelengkan kepalanyaperlahan. Ia ingin melupakan apa yang pria itu katakan padanya. Iatersenyum masam. Ya, bagaimana jika ingatan itu benar tak kembali?Dan apakah ia harus meninggalkan gadis itu saat gadis itu benar-benartak mengingatnya? Tak mengingat memori antar keduanya?

 

 

 

“Aku merindukanmu,” ucapnyatipis. Senyum masamnya mengembang. Ia kembali melangkahkan kakinyatanpa tujuan. Dan entah dimana ia berada sekarang. Ia mengedarkanpandangannya. Ya, ia baru sadar, bahwa ia tengah melangkahkan kakinyamenuju rumah gadis itu.

 

 

 

Ia tersenyum lebar. Sepertinya kakijuga otaknya berjalan seirama. Ia menatap ke arah depan dengan pasti.Ya, sebentar lagi ia akan mencapai rumah gadis itu. Tapi langkahnyaterhenti saat sesosok pria lain keluar dari rumah yang menjaditujuannya. Wajah pria yang terlihat familiar untuknya. Pria tersebutterlihat lebih tua darinya beberapa tahun.

 

 

 

Ia memilih untuk menyembunyikan diripada salah satu pohon rimbun dekat dengan posisi ia berdiri. Senyumdi wajahnya menghilang saat ia sadar siapa pria yang baru saja keluardari rumah tersebut.

 

 

 

Ia juga dapat melihat seorang gadisyang berjalan keluar dari pintu yang sama. Pria itu melangkah pergi,tetapi pria langkah itu kembali terhenti. Setidaknya gadis itumembuatnya menghentikan langkahnya.

 

 

 

Pria itu meraih tubuh gadis yang ada dihadapannya dan mencium bibir gadis yang ada di hadapannya. Untukbeberapa menit ia tetap memandang adegan sepasang kekasih tersebut.Menatapnya dengan pandangan nanar.

 

 

 

Untuk beberapa saat ia dapat menahanemosinya untuk tetap menatap adegan itu. Adegan antara kedua orangyang ia kenal. Adegan ang sebenarnya tak pantas untuk ia lihat.

 

 

 

Ia menarik nafasnya panjang danmengeluarkannya keras. Emosinya belum bisa tertahan Tapi dengan pastiia keluar dari balik pohon dimana ia bersembunyi dan berjalan pergi.Ia mengepalkan kedua tangannya geram.

 

 

 

Seringaian muncul dari bibirnya. Ya,sebah fakta baru terkuak sekarang. Dan dengan bodohnya, ia seakanmenghalalkan keyakinan tersebut. Lalu apa yang harus ia lakukan? Priaitu? Pria yang mencium gadis itu? Gadis yang ia selama ini rindukan.

 

 

 

Ia menghentikan langkahnya. Iatersenyum pahit.

 

 

 

“Benar,kau mulai menyukainyahyung,”

 

 

 

—.

 

 

 

Ji Hyun melangkahkan kakimya keluardari salah satu supermarket di Seoul. Wajahnya berbinar-binar seolahsesuatu tengah dipikirkannya. Ia menatap kantung belanja miliknya.Ya, hari ini ia akan memasak untuk kekasihnya sekali lagi. Ji Hyunsejenak menyentuh bibirnya, lalu ia menerawang jauh.

 

 

 

Ia tak bisa melupakan hari dimana priaitu menciumnya saat itu. Semburat merah kembali terlihat dari keduapipinya. Setiap kali ia mengingatnya, setiap kali itulah ia tersipu.

 

 

 

Ia kemudian melangkahkan kakinya pergi.Ya, ia harus cepat karena sebentar lagi kekasihnya akan datang. Iamempercepat langkah kakinya.

 

 

 

Tapi langkahnya terhenti saat ia merasalangkahnya menjadi ganda. Ia membalikkan tubuhnya. Melihat siapa yangmencoba menyamai langkahnya. Tapi ia tak menemukan siapa pun.

 

 

 

Ia kembali melangkahkan kakinya dansekali lagi sesuatu tengah berusaha menyamai langkahnya. Mungkinlebih tepatnya seseorang. Ia kembali membalikan tubuhnya. Dan tetapia tak menemukan orang lain di belakang punggungnya.

 

 

 

Akhir-akhir ini sesuatu mungkin lebihtepatnya seseorang berusaha selalu mengikuti kemana pun ia pergi. Ya,hanya saat ia sendiri. Ji Hyun mulai merasa sedikit ketakutan. Iamelangahkan kakinya dua kali lebih cepat sebelum akhirnya iamembalikkan tubuhnya cepat.

 

 

 

“Kau?” ucapnya bingung saatia menangkap seorang pria memang tengah membuntutinya. Ya, dia V.Pria itu tersenyum canggung dan bersiap untuk melanjutkan langkahnya.

 

 

 

“Ya! Tunggu,” ucap gadis itumencegah. Pria itu menghentikan langkahnya sama seperti apa yangdikatakan gadis itu padanya. Ia membalikkan tubuhnya kembali. Dengancanggung, ia melambaikan tangannya.

 

 

 

Ji Hyun menghela nafasnya. Ia berjalanmenuju pria itu dan menendang kakinya kesal. Pria tu merintih. Iatertawa kecil tapi berusaha menutupinya.

 

 

 

“Kenapa kau membuntutiku? Apaselama ini kau membuntutiku?”

 

 

 

“T-tidak, kau terlalu percayadiri,”

 

 

 

Ji Hyun mengerucutkan bibirnya kesal.Baiklah, jika ia salah ia akan minta maaf karena mengira pria itumengikutinya, tetapi jika tidak, pria itu harus mengakuinya. Ji Hyunkembali menapakkan kakinya menuju rumahnya. Dan benar, beberapa menitkemudian pria itu krmbali mengikutinya. Ia menghentikan langkahnyapaksa dan membalikkan tubuhnya sekali agi kesal.

 

 

 

“J-jalan yang aku tuju, samasepertimu,” ucapnya membela. Baiklah, mungkin itu memang benardan gadis itu terlalu percaya kalau pria itu mengikutinya.

 

 

 

Tibalah kini Ji Hyun pada rumahnya, iasengaja menghentikan langkahnya pada depan rumahnya dan menunggukemana pria itu akan berjalan. Ia tertawa kecil saat pria itu tahuapa yang dilakukannya. Ia menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasagatal. Lalu ia berjalan mundur, entah apa yang dipikirkannya.

 

 

 

Gadis itu teratwa lepas akibat apa yangdilakukan pria itu.

 

 

 

“Ya, jika kau ingin main ke rumah,masuklah. Kebetulan aku akan memasak, jadi kau bisa makan,” ucapgadis itu membuka pintunya lebar-lebar. Pria itu tersenyum tipis danmenurut saja.

 

 

 

 

 

 

Ji Hyun tengah sibuk dengan aksinya didapur miliknya. Sedangkan V hanya berada di salah satu makan danmemandangi gadis itu dari kejauhan. Senyumnya tak pernah hilang, saatia memandangi gadis itu. Sesekali senyumny mengembang akibat ekspresigadis itu yang terkadang berlebihan.

 

 

 

“Jadi ceritakanlah tentangdirimu,” ucap gadis itu seraya menatap pria yang ada dibelakangnya. Senyum pria itu menghilang perlahan, namun senyum lainterbentuk. Senyum masam dari bibirnya. Ia melemparkan pandangannyamenuju arah lain.

 

 

 

“Entahlah, apa yang kau ingin tahudariku?” ucapnya dengan nada yang jauh berbeda dengan nada yangsering ia gunakan saat ia berbicara dengan gadis itu sebelumnya.

 

 

 

“Hmm, dimana kau tinggal, ataumungkin apa makanan kesukaanmu, atau mungkin apa. Oh, atau kau bisamembantuku mengingat Jin oppa,”

 

 

 

Pria itu menyeringai. Tetap saja Jinyang selalu ia pikirkan. Ia membuang nafasnya sedikit kesal. Ya, iatak mau menunjukkan kekesalannya sekarang. Itu akan merusak pertemuanhari ini.

 

 

 

“Aku menyukai japchae,” ucappria itu singkat. Gadis itu memandangnya tak mengerti. Dari sekianbanyak peetanyaan, ia hanya menjawab pertanyaan yang jauh dari katanormal. Ya, sebuah basa-basi belaka.

 

 

 

“Lalu tentang Jin oppa? Berapalama kau berteman dengannya? Lalu sedekat apa?” imbuh gadis itusekali lagi. V hanya membuang nafasnya kesal. Nama itu kembali gadisitu sebut. Dahulu, ia dan pria itu sangat dekat, tapi itu semua dulu.Sangat tak sama bila dibandingkan dengan keadaan sekarang.

 

 

 

“Kau bisa menanyainya nanti,”ucapnya acuh.

 

 

 

“Ah, ada tamu?”

 

 

 

Suara seorang wanita terdengar familiaruntuk keduanya. Mereka memandang seorang wanita yang tengah memasukirumah. V beranjak dari bangkunya ia membungkuk sebagai salah satutanda hormat. Wanita tersenyum lebar saat ia menatap pria itu.

 

 

 

“Ah, eomma, perkenalkan dia V.Salah satu member BangTan Boya sama seperti Jin oppa,,” ucapgadis itu mematikan kompor dan berjalan menuju dimana ibunya berada.V tersenyum singkat.

 

 

 

“Anyeong haseyo, V imnida,”

 

 

 

Nyonya Choi memgangguk, lalu iamempersilahkan pria itu untuk duduk kembali kemudian ia melanjutkanlangkahnya menuju kamarnya.

 

 

 

“Setelah ini, Jin oppa akan makanbersama. Setelah itu kita bisa makan bersama,” ucap gadis itusenang. Lain halnya dengan pria tersebut. Ekspresinya sangat jauhberbeda saat ia pertama datang di rumah tersebut.

 

 

 

“Kau ingin makan bersama kamijuga?” ucap Nyonya Choi yang kembali dari kamarnya. V hanyamengangguk. Ia sebenarnya hanya berdalih. Bagaimana bisa ia makanbersama dengan pria itu juga gadis itu? Hal tersebut sangat iahindari.

 

 

 

V beranjak dari bangkunya.

 

 

 

“Maaf Ji Hyun-ah, aku haruspulang. Seseorang telah menungguku,”

 

 

 

“T-tapi, Jin oppa, sebentarlagi–”

 

 

 

V menggelengkan kepalanya perlahan. Iatersenyum lebar. Ya, senyum yang terliat sangat dipaksakan.

 

 

 

“Maaf, aku tidak bisa,” ucappria itu kali ini.

 

 

 

“Biar saja Ji Hyun-ah, Tae Hyungmungkin memiliki janji lain,” ucap wanita itu membela. Ji Hyunterdiam. Ia mencerna apa yang dikatakan ibunya. Tae Hyung? Apa ibunyamenyebut pria itu Tae Hyung?

 

 

 

“Baiklah, aku akan memgantarmusampai depan, V,” ucap gadis itu membenarkan. Wanita ituterdiam. Setidaknya ia baru saja membuat kesalahan, entah gadis itusadar atau tidak. Gadis itu menyilahkan pria itu untuk mengikutinyasampai depan pintu. Pria itu beranjak keluar.

 

 

 

“Baiklah, hati-hati V,” ucapgadis dan membalikkan tubuhnya untuk masuk ke dalam. Tapi sepasanglengan mencegahnya. Ya, sebuah pelukan kiranya. Ji Hyun terdiam. Iaterkejut tentang lengan yang mendekapnya erat. Ia ingin melepaskankedua lengan tersebut, tapi ia malah memilih untuk membiarkan lenganitu mndekapnya. Ia dengan sangat jelas bisa mendengar deru nafas priaitu di telinganya. Ia bahkan dapat meraskan detak jantung pria ituyang terasa dekat dengannya. Simphony yang terdengar sangat familiarbaginya.

 

 

 

“Ji Hyun-ah….” ucap priaitu berat dan penuh dengan tekanan. Ji Hyun memilih untuk diam. Iamerasa terjebak dengan kedua lengan pria itu. Maka ia memilih untukberada di posisinya. Meski detak jantungnya berpacu lebih cepat.

 

 

 

“Aku mencintaimu. Aku mohon janganpernah tinggalkan aku,” ucapnya berat. Bagi sebuah pukulan beratdi jantungnya. Bagai beberapa lingkaran yang memutar di kepalanya.Sengatan listrik yang menjalar ke oraknya, bahkan membuat otaknyamembeku seketika. Suara berat itu. Suara pria itu. Ya, V adalah priayang ada di setiap mimpinya. Mimpi yang terasa begitu nyata tiapharinya. Ji Hyun terdiam di posisinya meski engan itu tak lagimendekapnya.

 

 

 

“Dia pria itu…”

 

 

 

“T-Tae Hyung. Apa dia Kim TaeHyung…”

 

 

 

“S-siapa dia?”

 

 

 

 

 

 

“O-oppa,maafkan aku, tapi hari ini a-aku ingin sendiri. M,-maaf,”

 

 

 

“Ji Hyun-ah, g-gwenchana yo?

 

 

 

“Eoh.gwenchana,” ucap gadis itu memutuskan panggilan. Ia meletakkanposelnya di samping dimana ia duduk. Ya ia kini menduduki ranjangtidur miliknya. Wajahnya kebingungan. Keringat dingin mengalir ditubuhnya cukup banyak.

 

 

 

JiHyun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia terlihatketakutan. Sengatan-sengatan listrik di otaknya menyerangnyaberulang-ulang. Ia merintih memegangi kepalanya. Setidaknya memoriperlahan terputar kembali. Tidak.

 

 

 

JiHyun seakan tidak menginginkan itu. Itu membuat kepalanya sepertitertumbuk batu. Rasa sakitnya tak pernah bisa ia tahan. Ia menjerit,ia merintiih. Otaknya tak bisa sedikit saja memberikan dia peluanguntuk berhenti merintih.

 

 

 

“JiHyun-ah, gwenchana? Ji Hyun-ah?” ucap Nyonya Choi dari balikpintu. Ji Hyun sengaja menutup pintunya dan mengunci diri di dalamkamarnya. Ia tak mau, seorang pun melihat ia kesakitan.

 

 

 

“Ji Hyun-ah…”

 

 

 

“Aku mencintaimu. Aku mohonjangan pernah tinggalkan aku,”

 

 

 

JiHyun kembali teringat ada kalimat yang seakan menghantuinya. Iamemegangi kepalanya. Tae Hyung, Kim Tae Hyung, siapa dia? Siapa Vsebenarnya?

 

 

 

JiHyun kembali teringat siluet seorang pria yang tersenyum ke arahnya.Suara yang membuatnya teringat akan sesuatu. Waktu sekiranya seketikaterhenti. Memori perlahan kembali mengalir di otaknya. Ia berjalansedikit sempoyongan menuju sebuah lemari. Ya, ia harus mencarisesuatu yang membantunya mengingat memori tersebut. Ia membukanyakasar. Mengacak pakaiannya, mencari apa saja yang mungkin membantunyamengingat.

 

 

 

Sebuahlaci ia buka paksa. Beberapa tumpukan pakaian ia buang asal. Iamenemukan sebuah buku bewarna jingga. Ia mengambilnya. Detakajntungnya berdetak lebih cepat. Ia membukanya cepat. Ia membukatepat beberapa halaman di pertengahan buku.

 

 

 

‘5 Maret 2014

 

 

 

Tae Hyung-ah.. Kau tidak menyukaidress bewarna merahku? Menyebalkan! Aku membelinya jauh hari hanyauntuk membuatmu terkesan, tapi kau tidak…’

 

 

 

JiHyun membalik asal beberapa halaman setelahnya. Ia kembali membacacoretan berbentuk hati pada kertas tersebut. Coretan bewarna merahhati dan berukuran cukup besar.

 

 

 

“KimTae Hyun dan Choi Ji Hyun,” ucapnya mengeja. Ia menutup bukutersebut paksa. Apa Kim Tae Hyung kekasihnya selama ini? Kenapa takada yang memberi tahunya selama ini? Lalu siapa Jin?

 

 

 

ChoiJi Hyun membuka pintunya kasar. Ya, Nyonya Choi berada didepannyasekarang. Ia terkejut saat melihat penampilan Ji Hyun yang terlihatacak-acakan. Matanya terlihat kosong.

 

 

 

“JiHyun-ah, ada apa dengan dirimu?”

 

 

 

JiHyun menatap wanita yang ada di hadapannya. Ia kemudianmemperlihatkan buku diary-nya tersebut. Ia membuka salah satu halamandengan sebuah gambar berbentuk hati yang cukup besar.

 

 

 

“SiapaTae Hyung? Apa dia kekasihku? Kenapa eomma tidak memberitahukannyapadaku?”

 

 

 

Wanitaitu terdiam. Ia tertunduk. Ji Hyun terlihat sangat geram. Ia bingung.Ya, memori itu yang menuntunnya untuk perlahan membuka fakta yangsebenarnya sudah ada. Dan ia merasa dibohongi sekarang.

 

 

 

Iasadar sekarang. Ya, ia tak pernah melihat beberapa fotonya denganJin. Ia juga tak pernah mengingat memori tentang kencannya denganJin. Ya, dia memang bukan kekasihnya. Tapi ia merutuk dirinya karenamemorinya dengan Tae Hyung tak pernah ada di otaknya.

 

 

 

Sebuahketukan pintu berasal dari pintu rumah miliknya terdengar. Ji Hyunmengerti betul siapa yang berada di balik pintu kini. Ji Hyun dengancepat berjalan menuju pintu rumah itu dan membukanya. Ya, Kim SeokJin berada di hadapannya. Ia terkejut dengan apa yang ia lihat.

 

 

 

“Gwenchanayo?”ucap pria itu meraih tubuh gadis yang ada di hadapnnya. Gadis itumenepis lengan pria yang di hadapannya. Pria itu terhenyak untukbeberapa saat, tapi kemudian ia terdiam. Ia sadar, bahwa ingatan JiHyun mungkin saja kembali dan kini Ji Hyun berusaha untuk mencarijawaban dari beberapa memori yang mulai terbentuk.

 

 

 

Keduanyaterdiam hingga mata gadis itu berubah. Pandangan kebencian dan merasaterbohongi nampak di matanya. Hingga pria itu tak mampu menatapnya.

 

 

 

“Antarkanaku ke Tae Hyung sekarang,” ucap gadis itu seketika. Ji Hyunmenarik lengan pria itu, memintanya untuk segera pergi dengannya. Adarasa kecewa pada genggamannya kali ini. Jin masih tidak bergemingpada posisinya.

 

 

 

“Kauingin aku membencimu? Kenapa? Aku minta kau membantuku untuk bertemudengannya. Itu saja,” pekik gadis itu kali ini. Matanya mulaiberair. Jin dapat merasakan rasa kecewa dimana gadis itu dibohongiselama ini. Ia mengangguk dan berjalan menuju mobil miliknya.

 

 

 

 

 

 

Sejakbeerapa menit yang lalu mereka sudah berada di mobil milik Jin. tanpasepatah atapun kontak mata sekalipun. Keduanya masih sibuk denganpikiran milik mereka masing-masing. Jin masih terfokus denan bendabundar di hadapannya. Pria itu sesekali melihat gadis yang duduk disampingnya. Pandangannya kosong. Pria itu dapat melihat kerlipan airmata di mata gadis itu. Tapi ia memilih untuk diam.

 

 

 

Mobilpria itu menderu akibat kecepatan yang memang sengaja ditingkatkanpria itu untuk cepat sampai pada dorm nya. Tempat dimana orang yangingin gadis itu temui saat ini. Saat ini, ia tahu bahwa gadis itumembutuhkan penyelesaian tentang apa yang terjadi padanya.

 

 

 

Gadisitu tersentak akibat kecepatan mobil yang bertambah saat ini.

 

 

 

“Kenakanseat belt milikmu,” ucap pria itu dengan senyum. Gadis itumenghapus bulir air matanya kemudian mengenakan seat belt miliknya.Ya, semakin cepat semakin baik.

 

 

 

Kinimobilnya berada tepat pada bangunan apartment. Setelah ini merekaakan bertemu dengan Tae Hyung. Ya, pria yang dicari gadis itu saatini hanya untuk sebuah penyelesaian.

 

 

 

Langkahmereka terhenti pada salah satu kamar apartment. Pria itu membukapintu apartment tersebut. Dan membiarkan gadis itu memasukinya. Sosokpria tengah duduk pada salah satu bangku makam dengan wajahmurungnya. Ia terhenyak saat sosok gadis yang sangat familiaruntuknya mendatanginya. Gadis itu mendekatinya saat pria itu mulaiberanjak dari bangkunya. Mereka terdiam untuk beberapa saat hinggasebuah tamparan keras memgenai salah satu pipi pria itu.

 

 

 

“KimTae Hyung. Kau Kim Tae Hyung. Kenapa kau melakukan ini padaku!”ucapnya membuang buku diary miliknya pada pria di hadapannyatersebut. Karena lemparan yang cukup keras, membuat buku beberapahalaman keluar dari sumbernya. Pria itu terdiam.

 

 

 

“Kaumau membohongiku sampai kapan? Kau ingin membodohiku sampai kapan?”ucapnya yang kali ini dengan nada yang lebih tinggi kiranya. Gadisitu kembali menangis. Banyak rasa kecewa yang tak bisa gadis ituungkapkan dalam satu waktu.

 

 

 

“MaafJi Hyun-ah…”

 

 

 

“Akutidak bermaksud membohongimu atau semacamnya,” Pria itu mulaiberucap. Gadis itu tetap tegar pada posisinya.

 

 

 

“Saatkejadian itu terjadi, aku tengah bersamamu. J-jika saja akumencegahmu, kejadian itu tak akan terjadi. Aku merasa bertanggungjawab atas apa yang terjadi padamu,” imbuh pria itu kini. Iatahu ia harus menyelesaikannya sekarang. Semua sudah berakhir.

 

 

 

“Kaubahkan tidak ingat padaku bukan? Kau hanya mengingat Jin saat kaubangun. Bukan diriku,”

 

 

 

“Akubukan pria yang baik, maka.. aku minta Jin Hyung untuk menggantikanposiaiku,”

 

 

 

“Kaumengalami amnesia Ji Hyun-ah, bukan shock biasa akibat sebuahbenturan,” ucap pria itu yang kini menyentuh dahi gadis yang adadi hadapannya. Ia menghapus beberapa bulir air mata yang terlihat dipipi gadis itu, meski tak ada gunanya.

 

 

 

“Akutakut semakin kau dekat denganku, kau akan semakin terluka sepertisaat itu,” imbuhnya kali ini. Ia tersenyum tipis.Apa kini gadisitu sudah mengingat dirinya dengan jelas? Apa gadis itu akanmemaafkan segala kebodohannya? Kebodohan yang membuat posisinya untukdigantikan seseorang agar melihat gadia itu aman kiranya.

 

 

 

Gadisitu masih terisak. Ia masih terlalu muda sama sepertinya. Kejadianitu memang tak seharusnya terjadi pada gadis itu, jika saja ia lebihberhati-hati. Ia meraih tubuh gadia itu. Ya, apa gadis merindukannyasama seperti dirinya selama ini. Tae Hyung mengeratkan pelukannyaberharap gadis itu mengerti alasan ia melakukan semua ini.

 

 

 

Tangisnyatetap menderu saat gadis itu berada di dekapannya. Tae Hyungtersenyum tipis. Ya, ia ingin melindungi gadis itu sekuat yang iabisa mulaisekarabg. Tak mau kejadian yang sama terulang kembalipadanya.

 

 

 

 

 

 

Seminggu kemudian…

 

 

 

TaeHyung tengah menduduki salah satu bangku pada sebuah coffee shop.Senyum di wajahnya tak pernah hilang, mengingat ia akan bertemudengan seseorang. Seseorang yang sangat ia rindukan selama ini.Seorang pelayan memberikan dua buah cup minuman hangat pada mejanya.Ia mengangguk pada pelayan yang akan beranjak pergi. Ya, dua buah cupyang berwarna sama. Ia memang telah memesan dua buah minuman hangatuntuk dirinya juga untuk seseorang yang tengah ia tunggu.

 

 

 

Iamelihat seklilingnya. Terkadang ia beranjak dari bangkunya. Ya, bilasaja orang yang ia tunggu telah datang dan tidak mengetahui dimana iasekarang. Ia menghela nafasnya. Ya, orang yang ia tunggu belumkunjung datang. Ia menatap salah satu cup yang sengaja ia pesan untukorang yang ia tunggu. Ia tersenyum tipis saat sebuah ide baru sajadatang di otaknya.

 

 

 

“Maaf,apa bisa aku meminjam spidol atau apa?”

 

 

 

“Ah,tentu,” ucap salah satu pelayan yang tidak sengaja melewatinya.Ia kemudian kembali dengan sebuah boardmarker di tangannya, lalumenyerahknnya ada pria itu.

 

 

 

TaeHyung tersenyum memandangi cup yang ia pegang. Meski suhu di cuptersebut lumayan panas, ia mencoba untuk menahannya sebentar. Iakemudian menuliskan sesuatu pada cup tersebut dengan huruf berukuransedang. Ia tersenyum saat tulisan itu terbaca olehnya. Ia memutar cuptersebut agar orang ia tunggu tak dapat melihatnya.

 

 

 

“Maaf,apa kau sudah menunggu lama?” ucap seorang gadis tiba-tiba danmenduduki sebuah bangku yang berada di hadapannya. Tae Hyungmenggelengkan kepalanya perlahan.

 

 

 

“Tidak,aku baru saja datang,” ucapnya berdalih. Ya, tak apa baginyamenunggui gadis itu untuk beberapa menit atau bahkan beberapa jamlamanya..

 

 

 

“Kauterlihat cantik Ji Hyun dengan dress itu,” ucap pria itu padagadis yang ada di hadapannya. Gadis itu memperhatikan dressnya laluia tersenyum tipis. Ya, kebiasaan baru yang setidaknya pria itulakukan. Memuji pakaian gadis yang ada di hadapannya.

 

 

 

Untukbeberapa saat mereka kembali terdiam. Pria itu tak tahu kenapa gadisdi hadapannya berubah menjadi seseorang yang pendiam saat ini.Dahulu, ia ingat bahwa gadis itu bahkan tidak bisa diam dalam waktubeberapa menit saja.

 

 

 

Gadisitu meraih ponsel yang berada dalam tasnya. Ia tersenyum saat sebuahwallpaper menyapanya. Ia mengeluarkan nafas yang cukup panjangsebelum ia mematikan ponsel miliknya. Ia terkejut saat Tae Hyungmemperhatikannya sedari tadi.

 

 

 

Priaitu tersenyum masam. Setidaknya ia tahu siapa yang ada di wallpapertersebut tadi. Ia kemudian menggenggam tangan gadis itu yang beradadi atas meja. Gadis itu tak meresponnya. Tak memandang pria yang adadi hadapannya, ia malah sengaja menghindari kontak mata dengan priaitu. Meski ia berusaha untuk menutupi usahanya tersebut, tapi TaeHyung mngerti betul apa yang tengah gadis itu lakukan.

 

 

 

“JiHyun-ah..” ucap pria itu yang membuat gadis yang ada di depannyamulai memandangnya. Mereka terdiam cukup lama hingga pria itutersenyum cukup lebar. memang terkesan aneh, tapi sebuah maknatersimpan rapi di senyum tersebut.

 

 

 

“Jikakau ingin pergi, pergilah,” ucapnya santai. Gadis itu menatapnyaheran. Sekiranya ia masih belum bisa mencerna apa yang dikatakan priaitu barusan.

 

 

 

“Ya,apa kau tuli eoh? Kalau kau ingin pergi, pergilah.Temui dia,”

 

 

 

Gadisitu mengerucutkan bibirnya kesal. Tae Hyung kiranya kembali normal dihadapannya. Gadis itu terdiam kembali. Ada rasa bersalah saat iamemandang pria yang ada di hadapannya, ia mencoba untuk menutupinya,tapi tak mungkin. Tae Hyung mengerti betul dirinya. Ada sebuah rasadimana ia seperti mengkhianati pria itu secara terang-terangan.

 

 

 

“Ish,pergilah. Kau ingin bertemu dengan Jin hyung bukan? Aku ada janjidengan orang lain. Kau bisa pergi sekarang,” ucapnya kali inidengan wajah seperti biasanya. Ji Hyun mulai mengangkat wajahnya.Mereka bertatap cukup lama. Hingga Ji Hyun mengangguk perlahan.

 

 

 

“Maafkanaku Tae Hyung-ah,” ucap gadis itu beranjak dari bangkunya. Iamelambaikan tangannya sebagai salam terakhir darinya dan ia berlalu.

 

 

 

“Bodoh,”

 

 

 

TaeHyung tersenyum lebar saat gadis itu meninggalkannya. Bahkan dengangampangnya ia melepaskan gadis itu pergi darinya. Ya, sebuahkeputusan yang sengaja ia ambil. Ia sendiri yang meminta pria lainuntuk menggantikan posisinya saat gadisnya mengalami amnesia. Dankini, ia benar-benar kehilangan gadisnya dan posisinya benar-benartergantikan. Ia sadar, gadis itu terlihat lebih bahagia dengan priatersebut.

 

 

 

Iamenyeringai. Sebuah cup yang telah ia siapkan untuk gadis itusetidaknya sia-sia. Ia meraih cup tersebut dan menatapnya nanar. Iatahu, beberapa bulan, akan membuat seseorang berubah. Bahkancintanya… Atau mungkin, gadis itu memang lupa dengan cintanyadahulu?

 

 

 

“Saranghae…”ucapnya mengeja perlahan coretan spidol pada cup yang sengaja iapesan. Seharusnya gadis itu membacanya. Dengan begitu, gadis itutahu, bahwa perasaannya tak pernah berubah sedikit pun hinggasekarang.

 

 

 

 

 

 

Seorangpria lain menyandarkan tubuhnya pada sebuah bangku taman. Iamenghirup udara dengan satu tarikan dan menghembuskannya keras. Ya,sebuah ingatan tentang seseorang, tak pernah hilang hingga sekarang.Ia merindukan sosok itu. Tidak, dia pastinya sudah bahagia dengankekasihnya. Ya, kekasihnya yang sebenarnya.

 

 

 

Priaitu meraih ponsel miliknya, wallpaper ponselnya tetap sama hinggasekarang. Ya, sosok gadis juga sosok pria yang tak lain adalahdirinya. Ia tersenyum tipis. Sesekali ia mengelus ponsel miliknyatersebut. Ia sangat merindukan sosok itu sekarang.

 

 

 

“Ini,”

 

 

 

Priaitu mengangkat wajahnya saat seseorang seperti berbicara dengannya.Ia dapat melihat seorang gadis yang tengah berdiri di depannya dengansebuah kaleng minuman. Ia dengan cepat meletakkan ponsel miliknya didalam saku celananya dan menerima kalemg minuman tersebut canggung.

 

 

 

“B-bagaimanakau tahu aku disini?”

 

 

 

Gadisitu memilih untuk duduk di samping pria tersebut. Ia menyesap cairanyang berada di kaleng minuman miliknya.

 

 

 

“Sebuahtebakan atau mungkin lebih tepatnya sebuah memori yang menuntunkukesini,” ucap gadis itu tenang. Pria itu tersenyum lebar. Iamembuka kaleng minumannya dan meminumnya beberapa teguk.

 

 

 

“ApaTae Hyung tahu kau ada disini?”

 

 

 

Gadisitu mengangguk penuh arti. Dan sebuah senyum tipis terukir diwajahnya. Ia mengiyakan adanya hal itu.

 

 

 

“Bagaimanakabar Tae Hyung?”

 

 

 

Gadisitu menatapnya sedikit kesal.

 

 

 

“Ya,apa yang kau katakan? Kau tinggal bersamanya, bagaimana bisa kaumenanyakan kabarnya dariku? Apa kau bodoh?”

 

 

 

Priaitu tertawa tentang apa yang ia dengar dari gadis yang ada disampingnya. Ya, ia merindukan celoteh gadis itu dan kini sepertisebuah mimpi, ia kembali pada sebuah memori dimana mereka dulu dudukdi sana dan juga memgambil sebuah foto bersama.

 

 

 

Merekaterdiam. Keduanya menatap kosong sebuah pemandangan yang ada dihadapan mereka. Sesekali tersenyum karena suara alam menyapa mereka.Ya, suasana taman tak pernah berubah sejak terakhir kali merekaberada disana.

 

 

 

“Apayang membuatmu berada disini?”

 

 

 

Gadisitu tersenyum lebar.

 

 

 

“Sebuahjanji membuatku berada disini?”

 

 

 

“Janji?”ucap pria itu mengulang. Gadis itu menganggukan kepalanya sekalilagi.

 

 

 

“Jikaingatanku kembali, aku akan tetap bersama seseorang tersebut. Karenahanya dia yang aku butuhkan,”

 

 

 

Priaitu terseyum tipis. Ia meneguk kembali cairan yang ada di kalengminumannya.

 

 

 

“Saataku bilang, aku mencintaimu, apa kau.. maksudku saat kau menciumku,apakah itu sebuah jawaban?” ucap gadis itu penuh tekanan. Priaitu menatap gadis yang ada di sampingnya. Ia menatapnya heran. Iatersenyum lebar saat mencerna apa yang dikatakan gadis itu padanya.

 

 

 

Iaberanjak dari bangkunya dan hendak pergi. Gadis itu sedikit kecewamelihat reaksi pria yang ada di sampingnya tersebut. Ya, sedikitsia-sia untuk mencari-cari dimana pria itu berada hanya untukmenanyainya sebuah pertanyaan yang terkesan tolol.

 

 

 

Priaitu tak bergeming dari posisinya. Ia mengulurkan tangannya di hadapangadis yang tengah duduk di hadapannya. Ia tersenyum lebar.

 

 

 

“Ayolah,”

 

 

 

Gadisitu menatapnya bingung. Apa maksudnya?

 

 

 

“Ayolah.Apa kau pikir aku suka mencium orang seenaknya? Aku bukan orangsepervert itu,” ucap pria itu meraih tangan gadis tersebut danmenginstruksikannya untuk berdiri dekatnya. Ia tersenyum lebar saatgadis itu belum sepenuhnya mencerna apa yang dikatakan pria itupadanya. Pria itu mengeratkan genggaman tangannya. Ia pun tersenyumlebar.

 

 

 

“Nado,”ucapnya pelan. Gadis itu menatapnya tak percaya tapi sebuah tanganlain membuatnya tersadar dengan sebuah elusan tepat di pucukkepalanya. Gadis itu tersenyum lebar. Pria itu mengangguk danberjalan pergi. Tentu bersama gadis yang ada di sampingnya tersebut.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

EPILOG

 

 

 

 

 

 

 

The day when it came to them…….

 

 

 

 

 

“Apa kau bercanda mengenakandress itu?”

 

 

 

“Iya, lalu kenapa? Ish, kautahu, kau tak pernah sekalipun memuji pakaian yang aku kenakan. Kaumenyebalkan!”

 

 

 

“Mwo?! Jika aku tidakmenyukainya, aku bilang aku tidak suka. Tetapi kenapa kau malahmengenakannya hampir tiap hari?” ucap seorang pria yang beradapada salah satu bangku penumpang di sebuah mobil van bewarna hitammetalic. Si lawan bicaranya, ya seorang gadis tengah duduk tepat disampingnya. Lalu siapa yang mengendarai mobil tersebut?

 

 

 

Baiklah, seorang supir pribadi priayang berada di bangku penumpang. Supir pribadi merutuki nasibnyauntuk mendengarkan perdebatan tiada akhir sepasang kekasih tersebutdi sepanjang jalan. Tapi, ia harus menahan emosinya. Ya, ia tak maukehilangan pekerjaan berharganya.

 

 

 

“Apa yang kau bawa itu?”tanya pria itu saat ia melihat sebuah kotak makan siang yangberukuran cukup besar tengah dibawa gadis yang berada di sampingnya.

 

 

 

“Bukan urusanmu,” ucapgadis itu ketus. Pria itu menggeram kesal.

 

 

 

“Ya, kau kira akumemperbolehkanmu untuk duduk disini hanya karena kau kekasihku? Ya,aku juga perlu tahu apa yang kau bawa,” ucap pria itu dengannada yang meninggi. Gadis yang berada di sampingnya tak dapat menahanlagi emosinya. Ya, kekasihnya menjadi seseorang yang sangatsentimentil setelah ia bergabung dalam sebuah group bernama BangTanBoys. Awalnya, ia dapat memahami keadaan prianya, tapi sejauh ini,sikap pria itu tak pernah membaik.

 

 

 

Mereka selalu bertengkar tiapharinya. Apapun yang gadis itu lakukan selalu dipandang salah olehprianya. Pria yang tak pernah sekalipun memuji apapun yang iakenakan, atau sekalipun mengatakan kalau pria itu benar mencintainya.

 

 

 

“Kimbap. Untuk Jin oppa,”ucap gadis itu penuh dengan penekanan. Pria itu menatapnya tidakpercaya.

 

 

 

“Ahjussi, hentikan mobilnya,”

 

 

 

Dan beberapa detik kemudian, mobilvan tersebut berhenti dengan paksa. Gadis yang hampir jatuh daribangkunya menatap kesal pria yang ada di sampingnya.

 

 

 

“Apa aku mau mengantarmu hanyauntuk menemui Jin hyung? Kau bahkan sama sekali tak membuatkankumakanan bukan? Aku muak saat kau selalu menyebut nama Jin. Apa dimatamu hanya ada pria itu?”

 

 

 

Gadis itu mengatupkan bibirmya. Iasengaja melakukannya. Ia tak mau berdebat lebih lama dengan pria yangia sebut kekasihnya selama ini. Bagaimana bisa pria itu tidakmenyadari bahwa selama ini ia hanya ingin pria itu sadar bahwa iaselalu berusaha membuatnya cemburu dan berharap merubahnya menjadiseorang kekasih yang baik seperti dulu?

 

 

 

Ia tak hanya membuatkan untuk Jin,tapi juga beberapa kimbap yang berukuran cukup besar hanya untukkekasihnya itu? Gadis itu menahan tangisnya yang rasanya ingin segerameledak.

 

 

 

“Apa kau tahu kau berubah? Akutak menyukai rambutmu. Kau nampak aneh. Aku menyukaimu yang dulu.Bukan sebagai V, tapi sebagai Kim Tae Hyung. Apa kau tahu?”

 

 

 

Gadis itu menyeka airmatanya yangsekiranya jatuh. Ia menghirup nafas panjangnya.

 

 

 

“Jin oppa, adalah idolaku. Apaitu salah? Baiklah, aku bisa berangkat sendiri, tanpa harus kautemani,” ucap gadis itu pasti. Ia membuka pintu mobil tersebutcepat dan melangkah keluar. Pria itu menghela nafas panjangnya. Ya,apa kali ini ia berlebihan? Jadwal yang mencekiknya membuatnya takmemiliki banyak waktu untuk bersama gadis itu, bahkan untuk istirahatsaja. Ya, ia harus meminta maaf paling tidak.

 

 

 

“Tuan, kekasih anda…”

 

 

 

“Biarkan saja, ia bisaberangkat sendiri. Dan ikuti saja kemana ia pergi, ia akan memanggiltaxi seperti biada,” jawabnya santai. Santai? Bukan, ia pikirini bukan waktu yang tepat untuk meminta maaf. Mengingat, gadis itusempat menangis karenanya.

 

 

 

Sebuah taxi berhasil gadis itupanggil. Gadis itu mulai menaikinya dan kemudian taxi tersebut mulaiberjalan. Mobil van milik pria tersebut mengikutinya dari belakang.Tapi kecepatan taxi tersebut terlalu tinggi, hingga ia dapat melewatibeberapa mobil sekaligus. Padahal kondisi jalan lumayan sibuk. Hinggasi supir kehilangan jejak taxi gadis tersebut. Mobil van tersebutterhenti oleh traffic jam saat itu.

 

 

 

“Tuan, taxinya tidak terlihatlagi,”

 

 

 

Pria itu keluar dari mobil vanmiliknya. Ia memastikan bahwa taxi tersebut memang menghilang.Hingga..

 

 

 

‘Brak!!’

 

 

 

Sebuah suara hebat terdengar hinggatelinga pria tersebut. Suara tabrakan kiranya tak berhenti sampai disitu saja. Beberapa suara dentuman luar biasa terdengar ditelinganya. Pria itu mulai mengigit jarinya. Apa itu Ji Hyun?

 

 

 

Pria itu berlari sekuat tenagamenuju sumber suara. Ia semakin mempercepat langkah kakinya agar iabisa melihat apa yang telah terjadi. Ia menghentikan langkahnya paksasaat ia melihat sebuah mobil sedan terbalik dengan keadaan setengahhancur. Matanya terbelalak saat ia ingat bahwa mobil sedan itulahyang dinaiki gadisnya. Ia melangkahkan kakinya lebih cepat. Iamelewati beberapa kerumunan orang yang berada di sekitar mobil sedantersebut.

 

 

 

Ia menelusupkan dirinya pada jendelayang sudah tidak memiliki kaca. Ya, kaca sudah hancurberkeping-keping akibat kecelakaan. Matanya terbebelak saat iamelihat seorang gadis di dalam mobil sedan yang terbalik tersebut.Gadis yang tengah kehilangan kesadarannya.

 

 

 

“Anak muda, jauhi mobil itu.Bisa saja mobil itu meledak,”

 

 

 

“Anak muda!”

 

 

 

Pria itu tak mendengarkan apapunyang dikatakan orang sekitar padanya. Ia masih terpaku pada sosokgadis yang bahkan tak bisa ia jangkau dengan jemarinya.

 

 

 

“Ji Hyun-ah, bangun!”pekiknya keras. Ia berharap gadis itu bangun. Dan keluar dari mobiltersebut. Tapi hasilnya nihil.

 

 

 

“Ji Hyun-ah, bangun!”ucapnya yang kini setengah menangis. Bagaimana jika hari itu adalahhari terakhirnya melihat gadis itu? Hari dengan akhiran yang teramatmenyedihkan?

 

 

 

Ia merutuki kesalahannya. Takseharusnya gadis itu mengalami kecelakaan. Tak seharusnya gadis ituberada di mobil sedan tersebut.

 

 

 

Dadanya terasa begitu sesak. Matanyananar saat ia tak dapat melihat gadis itu merespon tiap panggilannya.Ia menyerah. Apa ini sebuah akhir untuknya?

 

 

 

Ia kembali mencoba meraih gadis itu.Tapi jarak masih memisahkan keduanya.

 

 

 

“Ji Hyun-ah….”

 

 

 

“Aku mencintaimu. Aku mohonjangan pernah tinggalkan aku,”

Previous Chapter 

 

Advertisements

7 thoughts on “The Pieces of Memory Chapter 2 End

  1. kaaannn nangis ㅠㅡㅠ
    kl aq jd jihyun pst g mau sia”in namja sbaik taehyung yg kdang ngeselin tp cnta bgt sm jihyun smpe lkuin apapun jg ngorbanin diri sndiri,
    min bgs bgt ffnya! jjang sdh bikin sy mkin cnta sm taehyung, keep writing author~

    Like

  2. akhirx ff ini post jg chapter endingx sdh nunggu loh.
    gilaaa sumpah ini kasian v, aku kira bakal ending sm v tp jin pdhl keduax bias q cm dr ceritax lbh bgs ending sm v,
    overall suka bnget nget sm ff di wp ini.

    Like

  3. nangis endingnya jjang…
    kl mnurutku ending lbh bgs sm jin>\\\<
    bnr kasihan v tp pas bca epilog jin namja yg paling cocok bwt jihyun,
    mgkin krn jihyun sm v seusia jd jihyun cari namja yg lbh dwsa ky jin hehehehe keepwriting ^^

    Like

  4. taehyuuuung knp di epilog ngeselin bnget??? pantesan jihyun lari lbh milih jin. cuma taehyung bae bnget uda relain smuanya buat jihyun, endingnya ga terduga bgs thor…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s