Chaptered · Drama · Family · PG 17+ · Romance

TIMELEES Chapter 1


339784449248

Author : ts_sora 

CAST : Kim Jong In or Kai

              Jung Hyo Jin as you or girl

              Jung Soo Jung or Krsytal

              Xi Luhan or Luhan

Genre: Romance, Drama

Lenght : Chaptered, series

Rating : PG 17

Chapter 1 / 2 / 3 / 4

 

Seorang pria berjalan tergesa-gesa. Langkahnya menuntuntun dirinya menuju sebuah tempat. Ya, sebuah pohon yang sudah cukup berumur. Ia mencoba mengatur nafasnya dan sesekali mengusap keluhnya. Senyumnya seketika menghilang saat ia tak melihat sosok yang ia ingin temui. Ia membuang nafasnya berat.

“Ku tahu, kau tak akan kemari..” ucapnya lemas. Ia berjalan mendekati pohon tua itu dan memandangnya miris. Tangan kanannya menyentuh lembut sebuah ukiran disana.

“Jongin and Hyo Jin,” ucapnya pelan. Ia tersenyum sesekali mengikuti arah ukiran tersebut. Pandangannya beralih pada sebuah pemandangan yang tepat berada di depannya kini. Ya, sebuah sungai yang tak terlalu besar tapi cukup indah.

“Tak seindah dulu, bukankah seperti itu?” tambahnya saat mataya menatap ukiran itu lagi. Ia tersenyum.

Ia duduk dekat pohon besar itu. Menutup matanya sebentar. Membiarkan angin membelai rambut juga wajahnya perlahan.

“Apa kau mengingatku?”

Sebuah kalimat yang sederhana, telah menuntunnya ke sebuah dunia tanpa batas. Ya, mimpi.

—-

“ya! Bangunlah!”sebuah suara membuat pria itu seikit terjungkal.

Sebut saja pria itu Kai. Ia menatap kesal ke arah asal suara. Dilihatnya seorang gadis berpakaian sedikit acak-acakan menatapnya sedikit kesal.

“Apa?” tanya Jongin santai tanpa mengubah cara duduknya.

“Jangan tidur di sini. Ini tempatku,” jawab gadis itu sedikit bersemangat. Jongin hanya tersenyum.

“Ini tempat semua orang. Kau tak bisa seenaknya bilang ini tempatmu,”

Tanpa babibu, gadis itu menarik lengan Jongin paksa dan menyingkirkan Jongin dari tempat ia duduk.

“Ya!” ucap Jongin menggertak. Wajahnya menjadi kesal. Gadis itu tak menghiraukan sedikit pun apa yang diucapkannya

Gadis itu menghampiri sebuah gundukan tanah yang berada sangat dekat dengan dimana Jongin duduki tadi yang bahkan Jongin tidak mengetahuinya.

Gadis itu mulai duduk dan memandangi gundukan tanah itu. Ia menyatukan kedua telapak tangannya dan mulai menutup matanya. Ia berdoa.

Jongin sedikit heran saat gadis itu berdoa di sana. Tapi ia memilih untuk diam.

Beberapa menut berlalu, gadis itu akhirnya membuka matanya dan meletakkan setangkai bunga yang awalnya ia taruh di tepi cupingnya. Ia tersenyum.

“Lain kali, jangan tidur di sana! Itu tempat dimana anjingku kukuburkan,” ucap gadis itu sedikit kesal.

“Ah, seharusnya kau bilang padaku,” balas Jongin santai. Gadis itu hanya melihat mata Jongin tajam lalu berlalu.

Jongin menatap jarum jam yang ia kenakan. Ya, hari mulai petang.

Ia melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu menuju apartement-nya. Ia melewati beberapa rumah yang dapat dikatakan cukup mewah di daerah tersebut. Tiba-tiba langkahnya terhenti di depan sebuah rumah dengan cat kuning yang sedikit kusam.

Ia memandang rumah itu cukup lama. Lalu ia tersenyum.

“Kau tak mungkin kembali Hyo Jin-ah,” ucapnya diiringi dengusan kesal.

Seorang gadis nampak membuka pintu rumah tersebut. Jongin sangat terkejut karenanya. Ia berjalan mendekati rumah itu lebih dekat.

“H-hyo Jin-ah..” ucapnya pelan saat melihat seorang gadis yang keluar dari rumah tersebut.

“H-hyo Jin-ah!” tambahnya kali ini sedikit keras, meski ia masih ragu mengucapkannya. Gadis itu berjalan mendekati Jongin perlahan. Hal ini membuatnya sedikit gugup.

“A-apakah dia Hyo Jin? A-apakah dia kembali?”

Batin Kai bergulat. Ia tak tahu apa yang pikirkan kali ini. Ia hanya ingin memastikan siapa  pemilik rumah itu.

Remang-remang lampu mengganggu pandangannya. Ia membutuhkan beberapa jarak lagi untuk melihat siapa gadis itu. Tapi tak mungkin, sebuah pagar yang berukuran sedang menghalanginya.

Gadis itu berjalan perlahan hingga akhirnya wajahnya nampak jelas di mata Jongin. Seulas senyuman seketika menghilang saat ia tahu wajah itu bukan yang ia inginkan.

“K-kau pria di dekat pohon itu?” gadis itu mulai bertanya. Jongin mengalihkan pandangannya. Ia sudah malas bertemu dengan siapa pun hari ini, kecuali sosok gadis itu, ya Hyo Jin.

“Aku yang tadi sore membangunkanmu. Kau ingat?” tambah gadis itu. Jongin mengangguk lemas.

“Baiklah aku akan pulang,”

“T-tunggu,” cegah gadis itu gugup.

“Ngg.. tidakkah kau mau mampir sebentar saja? Aku bisa membuatkanmu teh, jika kau mau,” tambahnya. Jongin membalikkan tubuhnya dan menatap gadis itu. Ia menghirup nafas sejenak hingga seulas senyum kembali di wajahnya.

“Baiklah,” ucapnya singkat.

Jongin kini duduk di salah satu kursi di ruang makan gadis itu. Ia memperhatikan gadis itu sedari tadi sesekali menghitup nafas panjang. Matanya menemukan sebuah piano di sana. Ya, ia ingat dahulu Hyo Jin pernah memainkan piano itu untuknya.

“Semuanya seperti dulu,” ucapnya pelan.

“Maaf?”

“Ah tidak. Oh, aku belum tahu siapa namamu. Aku Jongin, dan kau?”

“Jung Soo Jung” ucapnya sembari tersenyum. Ia meneguk teh hangatnya perlahan.

“Bukankah tadi kau ingin menemui seseorang, kau mencari siapa?” tanyanya. Jongin hanya tersenyum. Lalu ia meletakkan cangkir teh yang ia pegang sedari tadi.

“Dia.. adalah pemilik rumah ini. Pemilik piano itu. Apa kau mengenalnya?”

Gadis itu terdiam sejenak. Ia mengalihkan pandangannya pada sebuah piano yang sengaja tidak ia pindahkan sejak ia berada di rumah itu.

Lalu ia menggelengkan kepalanya sangat pelan. Entah apa yang ia pikirkan.

Jongin sedikit heran dengan responnya. Tapi ia memilih untuk diam. Ya, ia tahu gadis yang berada di depannya mengetahui siapa Hyojin sebenarnya dan tahu alasan yang membuatnya pindah dari rumah itu tanpa memberitahunya.

“…….

…….Ayo mendekatlah,” ujar seorang wanita tua terhadap dua orang anak yang ada di depannya.

Seorang anak laki-laki meletakkan bonekanya, ia memandang anak perempuan yang berada di sebelahnya. Ia mendekatkan dirinya dengan anak perempuan itu.

“J-jongin, apa yang kau lakukan?”

Jongin, anak laki-laki itu mencium anak perempuan itu tepat di bibirnya.

.

.

.

.

Jongin membuka matanya perlahan saat sinar matahari mulai mengenai wajahnya. Ya, ia lupa menutup tirai jendela kamarnya kemarin malam. Di tangannya, ia membawa sebuah foto yang sedikit rusak akibat air hujan.

“Aku memimpikanmu tiap malam Hyojin-ah,”

“Jongin! Apa kau tidak pergi kuliah?”

Jongin tertawa saat ia mendengar jelas suara ibunya di balik pintu kamarnya. Ia mengusap matanya perlahan dan berjalan menuju dimana asal suara itu. Ia membukanya perlahan.

“Nde Eomma..” ucapnya malas. Nyonya Kim tersenyum saat anaknya membukakan pintu untuknya. Ia meraih pucuk kepala anaknya dan mengusapnya pelan.

“Cepatlah, Eomma sudah membuatkanmu sarapan,” ucap Nyonya Kim sembari tersenyum lalu ia berlalu.

“Kau tak apa?”

Jongin meletakkan sumpitnya dan memandang ibunya yang duduk tepat di depannya. Ia tersenyum, sebuah tanda bahwa ia tidak apa-apa. Lalu ia melanjutkan makannya. Nyonya Kim menghela nafas panjang.

“Apa kau tetap memikirkan gadis kecil itu?”

Jongin terdiam sejenak. Ia mengalihkan pandangannya.

“Jongin-ah, kalau kau seperti ini terus, bagaimana kau akan meneruskan hidupmu? Dia adalah masa lalumu,”

Jongin meletakkan kembali sumpitnya dan memandang ibunya cukup lama. Ia membersihkan bibirnya dengan sebuah kain yang berada di samping tangannya.

“Aku tak apa. Baiklah, kukira aku harus berangkat sekarang eomma,” jawab Jongin seraya beranjak dari kursi yang ia duduki. Seulas senyum tampak di wajahnya. Ia menunduk sebentar lalu mulai meninggalkan rumahnya.

~jongin POV~

“Melupakannya? Itu sedikit susah untukku. Tak semudah itu aku melupakannya. Tantang dahulu yang pernah ku lakukan dengannya?” batinku.

Aku berjalan menyusuri jalan sendiri hingga kakiku menemui sebuah halte bus.

Aku melihat sekelilingku.

“Apa ia kini ia juga menunggu bus di tempat yang aku bahkan tidak tahu? Apa ia juga menghabiskan sarapannya pagi ini?” aku tersenyum.

Aku payah. Ya, mungkin.

Beberapa tahun berlalu, tapi aku masih belum bisa melupakan gadis kecil itu.

“Bagaimana wajahnya kini? Apakah sama?”

Aku tertawa. Aku memang payah.

Kupejamkan sejenak mataku..

.

.

.

.

Aku ingat..

Saat ia meninggalkanku..

.

.

.

“Akan ku tunjukkan foto ini padanya nanti,”

Aku berjalan seraya membawa secarik foto di tangan kananku. Hari itu sedikit mendung. Sedut bibirku membentuk senyuman di wajahku. Tak sabar aku ingin menemui Hyo Jin.

Langkah kecilku kupercepat. Sesekali aku ayunkan kedua tanganku hingga membentuk sepasang sayap pesawat. Tak lupa kubuat suara pesawat dari bibir kecilku.

Sebuah mobil tertangkap di mataku saat itu. Ya, mobil ayah Hyo Jin terparkir di depan rumahnya. Aku tersenyum lebar saat melihatnya.

Kupercepat kakiku. Tak sabar aku ingin melihat reaksinya tentang apa yang aku bawa. Jarak rumah Hyo Jin berada tidak cukup jauh dari rumahku. Tapi mengingat tubuhku yang sangat kecil saat itu, ku tahu tak semudah itu aku tiba di sana.

“Hyo Jin-ah!” panggilku keras saat melihat sosoknya mulai berjalan mendekati mobilnya. Ia tak melihatku.

Hingga..

‘Bruk’

Aku terjatuh. Sakit ku tahan, tapi sayang foto yang ku pegang jatuh di kumbangan air yang berada dekat dengan dimana aku terjatuh. Sesegera kuambil, tanpa mempedulikan luka yang ada di lututku.

Hingga ku dengar suara mesin berasal dari mobil Hyo Jin, Hyo Jin mulai menaiki mobil tanpa melihatku. Aku tetap berusaha berlari mengejarnya.

“Hyojin-ah!”

Mobil itu mulai berjalan meninggalkan rumahnya. Kupercepat langkahku.

Hingga sosok mobil menghilang dari pandanganku..

.

.

.

“Ya!”

Aku membuka mataku paksa saat seseorang menggertakku dari belakang. Jung Soo Jung.

Ia terkekeh saat melihat ekspresi terkejutku. Aku mendengus kesal karenanya.

“Tak bisakah kau tidak mengagetkanku?” ucapku sedikit kasar. Aku berjalan menjauhinya.

“Kau menunggu bus kan?” ucapnya polos. Ia menunjukkan sebuah bus yang berada di depannya. Ia tersenyum.

“Naiklah, dia sudah menunggumu daritadi,” tambahnya. Aku menurut.

Aku menaiki bus tersebut dengannya. Aku memilih duduk berbeda bangku dengan gadis itu.

Aku memandang ke arah luar melalui jendela bus. Suasana begitu tenang mengingat ini masih terlalu pagi.

Sebuah mobil sport bewarna merah mampu mencuri perhatianku. Sepasang kekasih kiranya, menaiki mobil tersebut. Seorang gadis yang duduk tepat di sebelah bangku kendali sempat menoleh ke arahku.

T-tunggu..

“H-hyojin? H-hyojinkah itu? Dia disini?”

~Jongin’s POV ends~

gomawo yang udah mau baca jangan lupa komen ya

tunggu next partnya

Next 

Advertisements

5 thoughts on “TIMELEES Chapter 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s