Angst · Chaptered · Drama · PG · Two Shoot

The Pieces of Memory PART 1


1399277760496

Author:ts_sora

Cast:Kim Tae Hyung, Kim Seok Jin, and Choi Ji Hyun

Genre:drama, too much/?

Length:two-shoot

 

A/N:Sorry for adding too much drama ­čśŽ Terinspirasi darilagu Adele- Make You Feel My Love, dengan ending yang dirubahbeberapa kali hahah.Aku harap suka, beberapa jalan cerita drama sudahdikurangi. Ga pede sm ff nya -_- thanks~

Chapter 1 / 2 

“Ji Hyun-ah…….,”

 

 

 

“Aku mencintaimu. Aku mohonjangan pernah tinggalkan aku,”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Seoranggadis membuka matanya yang sekiranya sedikit berat. Cahaya lampudalam ruangan di mana ia berada membantunya untuk melihat seisiruangan tersebut. Ya, seorang pria tengah tertidur di sofa seberang.Gadis itu dengan sedikit kesusahan untuk beranjak dari ranjangnya, yasebuah selang infus sangat mengganggunya. Benar, gadis itu berada disalah satu kamar rumah sakit di Seoul. Ia tak tahu jelas apa penyebabia berada di sana, tapi sebuah luka yang masih terasa sakit dikepalanya yang membuatnya tinggal di rumah sakit untuk beberapa hari.

 

 

 

Gadisitu melangkahkan kakinya sedikit kesusahan. Dengan bersikeras iamembawa serta tiang penyangga botol infusnya. Energinya setidaknyamasih belum pulih, ia masih butuh rehat beberapa hari lagi diranjangnya. Ia tahu pria itu akan memarahinya jika ia tahu kalaugadisnya melanggar apa yang dianjurkan dokter padanya.

 

 

 

Kinijarak keduanya sangatlah dekat. Gadis itu tersenyum saat pria itumenggeliat pelan saat salah satu jemari gadis itu menyentuhnyalembut. Perlahan matanya terbuka, karena merasa terganggu olehsentuhan demi sentuhan yang diberikan seseorang untuknya. Dan benar,seorang gadis tengah memandanginya.

 

 

 

“A-ah,Ji Hyun-ah, kau sudah bangun?”

 

 

 

Gadisitu mengangguk pelan. Pria itu tersenyum singkat.

 

 

 

“Adayang kau butuhkan?”

 

 

 

“Tidak,aku hanya… M-maksudku, aku hanya ingin bilang, kalau akumemimpikanmu, oppa,” ucap gadis itu kali ini. Pria itu hanyatersenyum singkat sekali lagi. Ia beranjak dari sofanya danmembimbing gadis itu untuk pergi menuju ranjangnya sekali lagi.Memintanya untuk merebahkan tubuhnya sekali lagi.

 

 

 

“Kauharus istirahat lebih,” ucap pria itu singkat. Tapi sebuahlengan mencegahnya. Ya, lengan gadis itu. Pria itu menatap gadis ituheran. Senyum di gadis itu tak pernah hilang. Meski wajah gadis ituterlihat sangat pucat, tapi ia selalu berusaha untuk tersenyum.Sebuah perban sangat terlihat tengah diletakkan di kepala gadis itu.Ya, luka di kepalanya.

 

 

 

“Jinoppa, terima kasih kau selalu bersamaku,”

 

 

 

Mendengarnya,pria itu mengangguk pelan. Gadis itu melepaskan genggamannya danmembiarkan pria itu pergi.

 

 

 

“Akumencari minuman di luar sebentar,” ucap pria itu lalu beranjakpergi. Gadis itu mengangguk perlahan.

 

 

 

DiaKim Seok Jin. Ya, ia adalah kekasih gadis itu. Meski awalnya gadisitu masih kebingungan apa benar pria itu adalah kekasihnya ataubukan. Terasa aneh bukan?

 

 

 

Tidak.Luka di kepalanya. Ya, sebuah luka di kepalanya membuat apapun yangada di kepalanya terasa membingungkan. Ia mempunyai kekurangan dalammengingat. Ini adalah bentuk suatu shock akibat benturan dikepalanya.

 

 

 

Ibunyamengatakan bahwa ia mengalami sebuah kecelakaan. Saat itu ia menaikisebuah taxi. Dan sayangnya taxi tersebut mengalami kecelakaan, dengansi supir yang meninggal di tempat. Ibunya bilang, ia sangatdiberkati, sehingga ia masih hidup hingga saat ini.

 

 

 

Semingguberlalu saat kejadian itu. Gadis itu yakin bahwa kemampuanmengingatnya sudah kembali perlahan. Shock yang diakibatkan benturankiranya sudah menghilang. Dan bagaimanaia tahu bahwa pria itukekasihnya?

 

 

 

Gadisitu menelusupkan tangan kanan yang mana terbebas dari selang infus kebawah bantal yang ia gunakan. Ya, sebuah amplop bewarna merah jambusekiranya dapat terlihat sekarang. Gadis itu tersenyum tipis. Ya, iaingat saat pertama kali ia menemukan surat itu di dalam tas yang iakenakan.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Seorang gadis tengah memperhatikanseorang wanita yang sibuk merapikan ruangan dimana mereka berada. Ya,sebuah kamar di salah satu rumah sakit.

 

 

 

“Eomma, berapa hari aku tidur?”

 

 

 

Wanita itu menghentikan aksinya, iamenatap gadis yang berada si ranjangnya sejenak. Ia kemudianmelangkahkan kakinya menuju gadis itu.

 

 

 

“Kira-kira tiga hari. Apa kaumasih mengantuk?”

 

 

 

Gadis itu menggeleng kecil. Iakemudian tersenyum. Ya, tiga hari ia telah tertidur. Tapi gadis itutak pernah mengira bahwa ia tidur selama itu. Menurutnya, alammimpinya terasa begutu nyata.

 

 

 

Ya, mimpi yang sama tiap harinya. Didalam mimpinya, ia bersama dengan seorang pria. Pria yang entah siapanamanya. Pria yang selalu bersamanya. Dan ia merasa ia masihmendengar suara pria itu dengan jelas. Suara yang mana pria itu takmau ia tinggalkan. Apa ia adalah kekasihnya?

 

 

 

Hal ini diakibatkan karena sebuahkecelakaan yang telah ia alami. Ya, ibunya bilang bahwa saat itu taxiyang ia tumpangi mengalami kecelakaan yang cukup hebat. Kecelakaanyang membuat si supir taxi kala itu meninggal di tempat. Dan dia?

 

 

 

Ya, ibunya biilang, bila ia sangatberuntung bisa terselamatkan. Hanya saja sebuah benturan kerasmengenai kepalanya. Dokter bilang, bahwa ia hanya mengalami shockakibat benturan tersebut. Hal itu membuatnya kehilangan sedikitmemori. Untungmya, itu tak akan berjalan lama katanya.

 

 

 

Mata gadis itu tertuju pada sebuahamplop bewarna merah jambu yang mana diletakkan di meja seberang.

 

 

 

“Eomma itu apa?”

 

 

 

Wanita itu melihat ke arah apa yanganaknya tunjuk. Ia kemudian mengambilnya dan memberikannya kepadagadis itu.

 

 

 

“Aku menemukannya di tasmilikmu,”

 

 

 

Ji Hyun dengan sedikit rasa bingungdi dalam dirinya memperhatikan amplop tersebut. Ya, ia lupa denganamplop tersebut. Amplop apa sebenarnya? Jika itu ada di tas miliknya,pastinya itu miliknya. Ia membuka perlahan amplop tersebut.

 

 

 

 

 

‘To: Kim Seok Jin oppa

 

 

 

Oppa, bagaimana kabarmu? Aku baik.Apa kau juga? Hari ini aku membuatkanmu kimbap dan sengajamengantarnya menuju studio photo. Kau ada sesi pemotretan bukan?Jangan kau tanya dari mana aku mengetahui itu semua. Hehe

 

 

 

Aku harap kau mnyukai kimbapnya.

 

Jaga kesehatanmu. Saranghae~^^

 

 

 

Choi Ji Hyun’

 

 

 

 

 

Gadis itu tersenyum tipis. Iakembali melipat surat tersebut.

 

 

 

“Kim Seok Jin. Kim Seok Jinoppa,” ucapnya mengingat. Apakah pria itu yang ada di mimpinyaselama ini? Apa pria itu kekasihnya?

 

 

 

“Eomma, apa kau tidak mengabariKim Seok Jin oppa tentang keadaanku?”

 

 

 

“Kim Seok Jin oppa?” tanyawanita itu kebingungan. Gadis itu tersenyum tipis. Ia lalumengangguk.

 

 

 

“Bukankah, ia kekasihku? Akuingin bertemu dengannya,” tandasnya dengan senyum melebar.Wanita itu terkejut, ingin rasanya ia membuka mulutnya. Tapi niat ituia urungkan. Kemudian sebuah senyum lain di wajah wanita itu mulaiterbentuk. Ia mengangguk perlahan.

 

 

 

 

 

 

Gadisitu meraih ponsel yang berada di sampingnya. Ya, sebuah panggilanmasuk kiranya. Ia mengangkat panggilan tersebut dan mendekatkannyapada telinganya.

 

 

 

“Yeoboseo, Ji Hyun-ah. Kausudah makan?” ucap seorangpria yang ada di seberang. Gadis itu tersenyum tipis. Ia menganggukperlahan.

 

 

 

“Akusudah makan, oppa,” ucapnya. Ya, suara pria itu sangat familiaruntuknya. Dia, Kim Seok Jin.

 

 

 

“Mianhae aku berada di luarkota untuk beberapa hari. Kau akan pulang hari ini bukan?”

 

 

 

“Iya,jarum infus sudah dilepas sejak tadi pagi,”

 

 

 

“Baguslah. Eommamu akanmenjemputmu siang ini? Maaf aku tak bisa menjemputmu,”

 

 

 

“Takapa. Baiklah kau sibuk kan? Jangan lupa makan oppa,” ucap gadisitu mengakhiri panggilannya. Ya, Kim Seok Jin. Siapa yang takmengenal pria itu? Tapi setidaknya sedikit memori tentang pria itumulai kembali perlahan. Dia adalah salah satu member boyband yangcukup ternama, BangTan Boys. Ya, ia baru saja mengingat bahwa priaitu adalah seorang idola. Bukankah ia sangat bersyukur akan hal itu?

 

 

 

ChoiJi Hyun menatap majalah yang ia pegang sedari tadi. Ya, sebuah fotopria. yang tak lain adalah kekasihnya. Ia tersenyum tipis. Wajahnyabegitu tampan. Tapi, bagaimana dulu ia bertemu dengan pria itudulunya? Ya, setlidaknya ingatan itu masih belum kembali. Ia mencobamenerawang jauh. Mencoba mengumpulkan secercah memori saat awalpertemuannya dengan pria itu. Tapi, ia tak dapat mengingatnya.

 

 

 

JiHyun memegangi kepalanya yang terasa pening. Ya, ia tak seharusnyabanyak untuk mengingat atau berpikir. Dokter mengatakan, itu membuatluka di kepalanya terasa lebih sakit.

 

 

 

“Y-ya,gwenchana?”

 

 

 

JiHyun mengalihkan pandangannya menuju sumber suara. Dan benar, seorangpria tengah menatapnya dari pohon dekat jendela luar kamarnya. Priadengan warna rambut cerah. Ia terlihat khawatir.

 

 

 

“Ndo,nuguya?” ucap Ji Hyun sedikit terheran-heran. Ya, sejak kapanpria itu berada di sana? Pria itu tersenyum lebar. Ya, setidaknyagadis itu baik-baik saja. Dahan yang panjang membuatnya hampirmenjangkau jendela kamar di mana Ji Hyun berada. Ia mendekati bingkaijendela yang masih tertutup. Tapi Ji Hyun menghiraukannya.

 

 

 

“Ya,bukakan jendela ini untukku,” pekik pria itu memaksa.

 

 

 

“Kausiapa? Aku tidak mengenalmu,” ucap Ji Hyun gugup. Ya, bisa sajapria itu mau berbuat jahat padanya. Wajah pria itu masih terlihattenang. Ia kemudian mengetuk kaca jendela lebih keras. Ji Hyun yakindahan pohon tersebut tak bisa lama untuk menahan berat tubuh priaitu.

 

 

 

“Ya,turunlah. Kau bisa ja-”

 

 

 

“Ahh!”pekik pria itu saat dahan dimana ia berada mulai patah. Ya, ia jatuhhingga membentur tanah. Ji Hyun dengan sigap melihat ke arah jendela.Dan benar saja, pria itu tak beranjak dari dimana jatuh. Wajah JiHyun ketakutan. Untung, jarum infus sudah dilepaskan. Ji Hyun mencobadengan sekuat tenaga untuk keluar dari kamarnya, menaiki lift agar iasampai pada pria itu.

 

 

 

Danbenar, saja beberapa orang tengah mengerumuni pria tersebut. Priatersebut tertawa, tetapi ia juga merintih di dalam tawanya. Ya,sepetinya menyembunyikan rasa sakitnya kali ini.

 

 

 

 

 

 

“Bodoh,kenapa kau berada di atas sana eo?”

 

 

 

Priaitu tersenyum, sesekali terkekeh. Ji Hyun mendengus kesal pada apayang dilakukan pria itu. Aneh.

 

 

 

“Kaumemata-mataiku?”

 

 

 

“Mwo?Haha. Tentu tidak, aku.. menolong anak burung tadi,” ucapnyamengalihkan pandangannya. Ji Hyun menahan tawanya. Apa alasan itudapat dikatakan logis? Sama sekali tidak. Gadis itu beranjak daribangkunya dan hendak pergi.

 

 

 

“T-tunggu,kau tak mengenalku?” ucap pria itu tiba-tiba. Gadis itu menatappria itu heran. Menatapnya dari atas sampai bawah. Dan ia mulaimencoba untuk mengingat. Siapa pria itu sebenarnya? Pernahkah merekabertemu sebelumnya?

 

 

 

“Ah,j-jangan mengingat terlalu keras. Kepalamu akan sakit nantinya,”

 

 

 

JiHyun menatap pria itu sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan priaitu padanya.

 

 

 

“B-bagaimanakau tahu kalau aku tak bisa mengingat dengan baik?”

 

 

 

“I-ituperban di kepalamu, a-aku hanya menebak,” ucap pria itu gugup.Di akhir kalimat ia tersenyum lebar, membuat matanya semakinmenyipit.

 

 

 

“A-akuV. Salah satu member BangTan Boys. Dan kau tidak menyadarinya? Ckck,”

 

 

 

Gadisitu menahan tawanya saat mendengar apa yang dikatakan pria itupadanya. Ia menatap kembali pria itu dari atas hingga bawah. Dan iapun tertawa.

 

 

 

“Kaupasti bercanda, kau tidak seperti idola pada umumnya. Ah, hanya satuyang sama, rambut norakmu,” ucap gadis itu melanjutkan tawanya.Pria itu tersenyum tipis saat gadis itu tertawa karenanya.

 

 

 

“ChoiJi Hyun imnida,” tambah gadis itu seraya mengulurkan tangannya.Pria konyol itiu lantas mengikuti apa yang diakukan gadis itu. Merekaberjabat tangan untuk beberapa menit. Keduanya tersenyum.

 

 

 

“Akulapar, kau ingin makan? Aku akan mentraktirmu,”

 

 

 

Gadisitu mengangguk pelan. Ya, ia tak bisa menolak itikad baik seseorang.Pria itu tersenyum puas. Setidaknya, gadis itu tidak menolaknyakarena keanehan darinya.

 

 

 

 

 

 

“Duabulgogi dan sebotol soda, ahjussi,” ucap seorang pria denganmengangkat tangan kanannya pada pria yang lebih tua darinya. Si priayang lebih tua itu mengangguk, mengiyakan pesanan costumernya. Iatersenyum tipis.

 

 

 

Lainhalnya dengan Ji Hyun. Ia masih merasa bingung kenapa ia mengiyakanajakan pria itu yang padahal beerapa menit ia temui. Pria aneh, yangjatuh dari pohon. Yang mana katanya menolong seekor anak burung.

 

 

 

“Ya,apa benar kau member BangTan Boys,”

 

 

 

Priaitu mengangguk. Ia membenahi topi miliknya. Tapi yang tadi sengaja iabeli sebagai sebuah penyamaran. Menurut Ji Hyun, pria itu takmembutuhkan itu semua. Ya, ia bahkan tak mengenal pria itu. Mungkin.

 

 

 

“Ya,kau harusnya sangat bersyukur, karena idola sepertiku mengajakmumakan,”

 

 

 

Gadisitu menyeringai. Ia sama sekali tidak bisa disamakan sebagai seorangidola. Kim Seok Jin, kekasihnya, lebih layak bila disebut idoladaripada dirinya.

 

 

 

“Kaubilang kau member BangTan Boys, tapi, bukankah mereka berada di luarkota?”

 

 

 

Priaitu terdiam, ia lalu menatap Ji Hyun.

 

 

 

“A-aku…ada hal yang harus aku lakukan. Jadi, aku tidak ikut,”

 

 

 

Gadisitu tertawa kecil. Apakah orang itu sekali lagi berbicara tidaklogis? Alasan yang bodoh kiranya. Penampilannya terlalu biasa biladibandingkan dengan idola pada umumnya.

 

 

 

“Duabulgogi dan soda,” ucap seorang pelayan meletakkan dua nampan dimeja mereka berdua, ia lalu berlalu.

 

 

 

“Selamatmakan,” ucap pria itu bersemangat.Ia sudah siap dengan sumpitmiliknya dan bersiap untuk memakan bulgogi miliknya. Namun berbedadengan Ji Hyun. Ia melihat piring bulgogi miliknya. Ya, bulgogimemang enak. Tapi, ada sesuatu yang membatnya untuk berpikir sekalilagi. Ya, paprika. Ji Hyun tak menyukai sayur. Dan rasanya tak sopanbila ia tidak memakannya.

 

 

 

“Ah,aku lupa,” ucap pria itu santai. Ia lalu mengambil beberapapaprika yang ada di piring bulgogi milik gadis itu. Mengambilnyahingga tak tersisa. Lalu dengan santai memakan kembali bulgogimiliknya.

 

 

 

JiHyun menatap pria itu tak percaya. Bagaimana ia tahu apa yang ia taksuka, tanpa memberitahunya? Pria itu menatapnya santai.

 

 

 

“Kenapa?Jangan bilang kau tidak suka bulgogi,” ucap pria itu santaidengan beberapa kunyahan yang belum ia telan. Ia lalu melanjutkankegiatan makannya. Ji Hyun masih menatapnya tak percaya.

 

 

 

“K-kau,b-bagaimana kau tahu kalau aku tidak menyukai paprika? Bukankah inipertama kalinya kita bertemu?”

 

 

 

Priaitu terbatuk. Sekiranya makanan miliknya tertelan di sistempernapasannya. Ia menuangkan sebotol soda pada gelasnya danmeminumnya cepat, kegiatan itu ia ulangi. Ia menghindari kontak matadengan gadis yang ada di hadapannya.

 

 

 

“A-akuhanya menebak. Ya, menebak,” ucap pria itu yang kembali melahapbulgoginya. Dan tetap tidak melakukan kontak mata dengan gadis dihadapannya.

 

 

 

 

 

 

Seorangpria melangkahkan kakinya menuju salah satu ‘gift shop’ di salah satutempat perbelanjaan. Ia mengenakan kaca mata hitam juga sebuah topikiranya. Ya, ia tak ingin terlihat sebagai seorang idola. Ia melihatbeberapa boneka pada sebuah etalase. Ia memiringkan kepalanya,melihat apa yang akan cocok menjadi sebuah hadiah.

 

 

 

Priaitu lalu mengeluarkan sebuah lipatan kertas di saku celenanya. Iamenatap malas melihat lipatan kertas tersebut. Sebuah seringaiansekiranya terbentuk di bibirnya. Ia hendak merobek kertas tersebut,tapi niatnya ia urungkan. Ya, sesuatu mencegahnya. Bukan, melainkanlebih lebih tepatnya seseorang. Seseorang yang memberikan kertastersebut.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Seorang pria tengah berdiri padasalah satu ujung koridor. Ia memandang sekeliling dengan gelisah. Ditangannya terdapat sebuah lipatan kertas. Ia menatapnya sekilas lalumengedarkan pandangannya pada seisi koridor. Ia tersenyum saat iamelihat orang yang ia tunggu selama ini berjalan ke arahnya. Meskipria itu terlihat malas untuk melihatnya.

 

 

 

“H-hyung h-hyung tunggu,”ucap pria itu pada orang yang lebih tua darinya. Pria yang lebih tuadarinya pun menghentikan langkahnya. Membalikkan tubuhnya sekedarmelihat siapa yang memanggilnya.

 

 

 

“Ini. Jika kau membutuhkan ini,pakailah,” ucapnya sedikit memelas. Pria yang lebih tua darinyaitupun mengeluarkan nafasnya panjang dan ia berusaha untuk tersenyumpada pria yang ada di hadapannya. Ia menerima lipatan kertas itu danmemasukkannya pada saku celananya.

 

 

 

Pria yang lebih tua itupun kembalimelanjutkan langkahnya. Mengabaikan si muda. Pria yang lebih mudahanya tersenyum.

 

 

 

“Terima kasih hyung, terimakasih banyak,”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Iamengambil nafas panjangnya. Ia lalu memandang kertas tersebut sekalilagi.

 

 

 

“Bonekabebek?” ucapnya dengan senyum tipis. Ia memandang etalase dimanabeberapa boneka diletakkan. Dan ya, ia beruntung karena sebuah bonekabebek berada di sana. Ia mengambil boneka tersebur dan membawanya ketempat untuk membayar barang tersebut.

 

 

 

“Perlukami bungkus atau tidak, tuan?”

 

 

 

“Ahtidak perlu,” ucap pria itu santai. Pegawai kios tersebutmemandangi pria itu, lalu ia tersenyum lebar.

 

 

 

“KimSeok Jin oppa? Kim Seok Jin oppa Bangtan Boys?” ucap gadis ituyang tak lain adalah pegawai kios dimana ia berada kegirangan. Priaitu melangkah menjauh. Ia menunduk, menutupi wajahnya dengan topimiliknya. Ia tersenyum tipis lalu beranjak pergi.

 

 

 

 

 

 

‘Toktoktok’

 

 

 

Seorangwanita melangkahkan kakinya menuju pintu. Ya, setidaknya seseorangtengah mengetuknya. Ia tersenyum saat sesosok pria tengah berdiri disana.

 

 

 

“Jin,silakan masuk. Ji Hyun menunggumu,” ucap wanita menyilahkan priaitu memasuki rumahnya. Seorang gadis baru saja keluar dari kamarnya.Wajahnya terlihat sangat bahagia, meski wajahnya masih terbilangsangat pucat.

 

 

 

“Jinoppa, akhirnya kau datang,” ucap gadis itu seraya memeluk tubuhpria yang ada di hadapannya. Pria itu hanya tersenyum tanpamengeluarkan sepatah katapun.

 

 

 

“Bagaimanakeadaanmu?”

 

 

 

“Sudahlebih baik,” ucap gadis itu dengan senyum melebar. Ia memandangisebuah kantung kertas yang di sembunyikan pria itu di balikpunggungnya.

 

 

 

“Itu?”

 

 

 

“Ah,iya. Ini untukmu,” ucap pria itu memberikan kantung kertas padagadis itu. Senyum gadis itu semakin mengembang. Ya, setidaknya sebuahboneka bebek yang akan menjadi salah satu koleksinya. Gadis itumemeluk boneka tersebut erat.

 

 

 

“Gomawo.Oppa, ikut aku,” ucap gadis itu seraya menarik lengan pria itudan mengajaknya menuju dalam kamarnya. Pria itu terlihat canggung,mengingat ia memasuki sebuah kamar perempuan. Ya, pengalamanpertamanya.

 

 

 

“Lihatlah,”

 

 

 

Ya,pria itu kini memandang dinding kamar gadis itu. Dinding yangdipenuhi oleh beberapa poster dirinya. Juga beberapa poster satugroupnya. Ia memandang gadis itu tidak percaya.

 

 

 

“Kaubisa lihat bukan? Ternyata aku adalah salah satu fans-mu,”ucapnya senang. Pria itu tersenyum lebar. Ia meraih pucuk kepalagadis itu dan mengelusnya perlahan. Ya, ia tidak main-main mengatakania adalah salah satu penggemarnya.

 

 

 

Priaitu memandang atas ranjang gadis itu. Ranjang dipenuhi pernak-pernikbebek di atasnya. Ya, kertas itu tak main-main. Gadis itu benar-benarmenyukai bebek.

 

 

 

“Oppa,bisa kau beritahu siapa saja member di poster itu?”

 

 

 

Jinmemandang salah satu poster yang berukuran cukup besar di dinding. Iatersenyum tipis. Setidaknya ingatan gadis itu belum pulih sepenuhnya.

 

 

 

“Ituyang paling kiri setelah diriku, Suga, lalu Jimin, kemudian RapMonster. Dan setelahnya, magnae kita, Jung Kook. Lalu dia..”ucap pria itu menggantung. Gadis itu memperhatikan wajah Jin heran.Apa mungkin pria itu melupakan nama satu groupnya?

 

 

 

Gadisitu memperhatikan satu member yang belum disebut. Wajahnya nampakmanly dengan warna rambut sedikit…berlebihan.

 

 

 

“ItuV dan yang terakhir, j-hope,” imbuh pria itu. Gadis itu kembalimengamati seorang member dengan warna rambut berlebihannya. V?Bukankah pria itu yang ia temui di rumah sakit? Ya, setidaknya priaitu tak main-main mengatakan bahwa ia salah satu member BangTan Boys.Gadis itu terkekeh mengingat apa yang dilakukan pria itu waktupertemuan pertama mereka.

 

 

 

 

 

 

“Peganglah tanganku. Jangantakut, aku disini,” ucap seorang pria dalam kegelapan. sebuahremang cahaya membentuk siluet tubub pria yang ada di hadapannya.Pria itu tersenyum, itu terlihat dari kilap bibirnya yang mengembangmembentuk sebuah senyum.

 

 

 

Pria itu menggenggam tangan seoranggadis erat. Genggamannya terasa begitu hangat, sehingga gadis itumerasa aman dengan keberadaan pria itu.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

JiHyun membuka matanya perlahan saat suara dari teko yang ia gunakanuntuk memanaskan air berbunyi. Ia menatap sekeliling. Sekiranya tekotersebut bergoyang akibat air di dalamnya yang mendidih. Ia beranjakdari bangku makannya dan mematikan api kompornya. Ia menggeliatpelan. Ia menatap layar ponsel miliknya.

 

 

 

“ApaJin oppa sibuk?” ucapnya sambil mengutak-atik ponselnya. Iamenekan nomor pada ponselnya lalu menempelkan ponselnya ditelinganya.

 

 

 

“Yeoboseo Ji Hyun-ah,”

 

 

 

“Ah,oppa, kau sibuk hari ini?”

 

 

 

“Eoh,”ucap pria itu di seberang terdengar sangat malas. Ji Hyun tahubeberapa sibuk pria itu setelah rutinitas untuk menungguinya di rumahsakit. Ia bisa mengerti itu.

 

 

 

“Aku masih ada schedule.Mungkin aku akan pulang jam 9 malam nanti,”

 

 

 

“Arrayo.Jangan lupa makan ne,” ucap gadis itu dan mengakhiripanggilannya. Ia menatap jarum jam dinding miliknya. Ia mendenguskesal. Ya, ia merindukan pria itu sekarang. Lalu bagaimana ia bertemudengannya?

 

 

 

Gadisitu membuka ponsel milknya. Sebuah wallpaper kekasihnya menyapadirinya. Ia tersenyum tipis. Tapi hal itu belum cukup untuk mengobatirasa rindunya. Sebuah ide muncul di otaknya. Ia memencet icon’pencarian’ di ponsel miliknya.

 

 

 

Iamencari makanan apa yang sekiranya pria itu sukai. Ya, kejadian itutelah menghapus separuh memorinya. Ia kesusahan untuk mengingatataupun berpikir. Semua orang menganjurkannya untuk berhenti terlalukeras menggunakan kepalanya untuk itu. Maka, hal itu ia lakukan untukmengetahui makanan apa yang pria itu sukai.

 

 

 

“Chickenstew?” ucap gadis itu dengan senyum mengembang. Ia menujukamarnya mengambil tas jinjing miliknya dan berjalan pergi. Ya,memasakkan pria itu chicken stew kenapa tidak?

 

 

 

 

 

 

JiHyun menapakkan kakinya hingga sampai pada sebuah apartment. Ya,sekiranya alamat itu yang telah diberikan kekasihnya. Sebuahapartment yang mana adalah dorm dimana kekasihnya tinggal. Gadis itumenekan tombol bel yang berada dekat dengan pintu bewarna merahtersebut. Tak ada jawaban.

 

 

 

Gadisitu menekannya berulang-ulang, berharap seseorang mendengarpanggilannya dan membukakan pintu untuknya.

 

 

 

“Ya!Bisa diam– Ji Hyun?” ucap seorang pria yang membukakan pintuapartment dengan emosi di ubun-ubun. Ji Hyun terkejut melihat siapayang membukakan pintu untuknya.

 

 

 

“Rambutberlebihan? pfft,” ucap gadis itu menahan tawanya. Pria itusedikit kesal kiranya.

 

 

 

“Apayang ingin kau lakukan disini?”

 

 

 

“Menemuiseseorang,” ucap gadis itu santai. Ia mengintip arah dalamapartment, tapi tubuh pria itu menutupi pandangannya. Pria itutersenyum lebar.

 

 

 

“Menemuiku?”ucap pria itu menggoda. Gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal.Dengan segala kekuatan, ia mendorong tubuh pria yang ada dihadapannya keras, hingga jalan lebar terbuka untuknya. Pria itumenggeram kesal. Tamu yang tak diundang.

 

 

 

“Y-ya,kau tidak sopan eo?” ucap pria itu menarik salah satu lengangadis itu. Dan denan refleks gadis itu menghentakkan lengannya kasar.Pria itu menyerah. Gadis itu menuju dapur dorm yang lumayanberantakan. Meletakkan beberapa kantung plastic yang ia bawa.

 

 

 

“Apayang akan kau lakukan?”

 

 

 

“Memasak,”ucap gadis itu santai dan bersiap melakukan aksinya. Pria itumenduduki salah satu bangku makannya malas. Ia menatap gadis itu darikejauhan. Ia tersenyum tipis melihat apa yang dilakukan gadis itu didapur miliknya.

 

 

 

“Kautidak ada schedule hari ini?”

 

 

 

“Akusakit. Jadi aku memilih di dorm, dan kau merusak jam istirahatku,”

 

 

 

Gadisitu tertawa lepas. Pria itu hanya menyeringai melihat respon gadisitu.

 

 

 

“Apayang akan kau masak?”

 

 

 

“Chickenstew dan japchae,” ucap gadis itu yang masih sibuk denganaksinya. Pria itu tersenyum mendengarnya. Ya, paling tidak salahsatunya adalah makanan favoritnya.

 

 

 

“Kaumemang sengaja kemari untuk memasakkanku sesuatu?”

 

 

 

Gadisitu menghentikan aksinya, membalikkan tubuhnya sejenak dan menatappria yang tengah memandanginya. Ia hendak melemparkan sebuah pahaayam pada pria itu. Pria itu hanya tersenyum lebar.

 

 

 

Semualampu di apartment tiba-tiba padam. Ji Hyun juga pria itu terkejutsaat mereka tak dapat melihat apapun di dalam apartment. Ji Hyunmencoba menenangkan dirinya yang sekiranya ketakutan karena padamnyalistrik.

 

 

 

“V?V? K-kau dimana?” ucap gadis itu mencoba melihat sekelilingnya.Tapi hasilnya nihil. Ada rasa takut di dalam dirinya. Ya, ia tak sukakegelapan. Ia akan merasa hilang karena itu. Ia merasa sendiri saatgelap.

 

 

 

“V?Dimana? Ya! Kau dimana?” ucap gadis itu sekali lagi. Ada getarandi suaranya. Ya, ia ketakutan. Bahkan ia teramat takut karenakegelapan. Sebuah tangan menangkap pergelangan tangannya erat. JiHyun terhenyak sejenak.

 

 

 

“Peganglahtanganku. Jangan takut, aku di sini,”

 

 

 

Gengamantangan itu menggiringnya untuk menggenggam sebuah telapak tangan.Gadis itu menggenggam telapak tangan tersebut kuat. Ya, ia tak mauditelan kegelapan. Ia sedikit tertatih mengikuti jejak si pemiliktangan. Tangan itu membimbingnya untuk melangkah menuju dekat bingkaikaca apartment. Cahaya bulan yang meremang membuat gadis itu sedikitdapat melihat

 

 

 

“Jangantakut, aku disini. Di sini sering sekali listrik padam, jadi jangantakut,” ucap pria itu sekali lagi.

 

 

 

Gadisitu terperangah saat siluet tubuh pria itu terlihat jelas olehmatanya. Sebuah kilap bibir yang membentuk sebuah senyuman membuatnyatersadarkan akan sesuatu. Pria itu, apa dia yang ada di dalammimpinya selama ini?

 

 Next Chapter 

 

 

Advertisements

7 thoughts on “The Pieces of Memory PART 1

  1. Taehyung-ah ga di real ga di ff tngkahnya sllu aneh/? kekekeke
    tp kasian itu knp jd gitu? chapter selanjutnya sy tnggu thor.sudah kpalang tnggung dbkin nangis sm taehyung TT-TT

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s