fluff · One Shoot · PG

Beautiful Target 2


Title: Beautiful Target
Cast: B1A4’s Baro, Choi Ji Hyun (OC)
Cameo: You’re gonna find it, hehe
Author: ts_sora
Genre: Fluff
Length: One-shoot
Disclaimer: ‘This is belong to me and the casts are belong to their entertainment company’

———————————————————————————————————————————————

“Ji Hyun-ah, aku pulang dulu ya?” ucap seorang gadis berambut pendek pada gadis lain. Ia mengayunkan tangannya pada gadis tersebut dan beranjak pergi. Gadis yang bernama Ji Hyun tersenyum tipis. Ya, nama gadis itu Choi Ji Hyun. Ia menghela nafasnya kemudian melangkahkan kakinya pergi.

Ya, seperti biasa, ia menghabiskan waktunya sendiri. Ia menghentikan langkahnya saat ia merasa seseorang tengah membuntutinya. Ia memutar tubuhnya. Seperti biasa, ia akan merasa selalu dibuntuti, meski ia tak tahu siapa. Kemudian ia memutuskan untuk melanjutkan langkahnya kembali.

Di lain tempat, terdapat seorang laki-laki yang tengah berusaha keras menyembunyikan dirinya. Ia bernafas lega setidaknya seorang gadis tak menangkap basah dirinya. Kedua ujung bibirnya terangkat, setidaknya sebuah senyum terlihat di wajahnya.

Ia kembali mengintip dari balik dinding untuk kembali membuntuti gadis yang ia buntuti tiap harinya.

“Ya! Gongchan-ah!” ucapnya terkejut. Ya, seorang laki-laki berada tepat di balik dinding. Membuatnya seribu kali terkejut bukan main. Laki-laki tersebut hanya tertawa kecil.

“Hyung, apa kau membuntutinya lagi eoh?” ucap laki-laki itu jahil. Laki-laki yang lebih tua tersebut sedikit bersungut. Agaknya terasa sia-sia karena kegiatannya terganggu sekali lagi dengan orang yang sama.

“Bagaimana? Apa berhasil?”

“Apanya?”

Laki-laki yang lebih muda menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal. Setidaknya, hyung-nya sedikit bodoh.

“Apa kau sudah memberikan minuman yang dibeli Jinyoung hyung dari paranormal terkenal itu?”
Benar, sebuah racikan minuman kemasan yang diberikan oleh laki-laki bernama Jinyoung tiga hari yang lalu. Sebuah minuman, yang (katanya) dapat membuat seorang yang meminumnya jatuh cinta dengan orang yang memberinya. Konyol. Tapi, beberapa mengaku itu berhasil.

“Ah, aku lupa,” ucap laki-laki yang lebih tua dari Gongchan tersebut, Baro. Laki-laki itu mengeluarkan sebotol minuman dari tas ransel miliknya. Ya, setidaknya itu adalah percobaan kelima yang dimintanya pada Jinyoung. Benar, beberapa cara magis sengaja ia lakukan untuk mendapatkan hati gadis yang ia incar selama ini.

“Ish! Kau harus memberikannya cepat. Kau tahu, kau telah membuang setahun dari hidupmu untuk tetap membuntuti gadis itu,”

“A-ah, ne. Aku akan mencobanya besok,”

“Baro-ah, cepat kau berikan sekarang!”

Laki-laki bernama Baro menata nafasnya. Ya, setidaknya ia terlalu gugup untuk mendekati seorang gadis yang berada di seberang jalan. Ia melangkahkan salah satu kakinya ke depan lalu ke belakang lagi. Dan ia melakukannya berulang-ulang kali. Terkadang ia ia menggelengkan tangannya juga mempererat genggamannya pada botol minuman yang ia genggam.

“C-nu h-hyung, aku tidak bisa,” ucapnya dengan beberapa getaran di ucapannya. Laki-laki yang berkaca mata tersebut memukul dahinya.

“Ini sudah seminggu, kau tak bisa menunggu lama,”

“T-tapi, dia bersama teman-remannya. B-bagaimana bisa aku memberikannya?” ucap Baro gugup. Benar, entah kenapa. Ia berubah menjadi seorang penakut di hadapan gadis itu. Gadis yang bahkan tak tahu siapa namanya. Ya, bahkan tak tahu keberadaannya selama ini.

Konyol rasanya. Tapi itulah Baro. Seorang pemain basket yang memiliki skill three point yang cukup tinggi, sang bintang lapangan yang sangat digilai banyak gadis, berubah menjadi Baro kecil yang bahkan lupa cara berjalan.

“Kau ingin sampai teman-temannya pulang? Atau efek magis dari minuman itu hilang?”

Baro mendengus kesal. Ia kemudian menurut saja. Ia bersiap untuk menyebrangi jalan srkarang. Ia menunggu traffic light berubah merah, sementara pikirannya merancang tiap kata yang akan ia ucapkan pada gadis itu nantinya, juga jantungnya yang sedang berpacu tak pasti.

‘Ayolah, kau harus bisa Baro,’

Baro menghirup nafasnya panjang. Ya, ia harus berani. Setidaknya ia tak mau membuat satu tahunnya terbuang sia-sia hanya untuk membuntuti seorang gadis tiap harinya.

Baro melangkahkan kakinya menuju seberang jalan saat traffic light mengubah warnanya. Ia menahan nafasnya saat jaraknya juga gadis itu semakin dekat. Baro terdiam saat ia juga gadis itu dekat sekarang. Tapi lidahnya tak bersahabat kini, bak seorang tuna wicara, sepatah kata sekiranya enggan keluar dari bibirnya. Ia bertatap cukup lama dengan gadis itu. Ya, pandangan kikuk juga terkesan, sedangkan pandangan gadis itu lebih terkesan apa-dia-gila. Beberapa teman wanita menatapnya sedikit bingung, tapi tatapan terkesan juga nampak di wajah mereka. Yup, Baro setidaknya memiliki pamor di kalangan gadis seusianya.

“Ada yang bisa kubantu?” ucap gadis yang setidaknya Baro tahu namanya adalah Ji Hyun. Baro yakin, wajahnya pucat kini, ya aliran darahnya tak mengalir di wajahnya mungkin. Ia menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya yang menggenggam erat sebuah botol minuman ia julurkan dengan kikuk. Ia membungkukkan setengah tubuhnya saat ia memberikan minuman tersebut.

“U-untuk-mu. T-terimalah,” ucapnya memberanikan diri. Ji Hyun, si gadis, hanya menerimanya tanpa sepatah kata, dan hanya menunjukkan pandangan aneh saja. Semua teman wanitanya melakukan hal yang sama.

Merasa tangannya bebas, Baro menegakkan kembali tubuhnya dengan salam yang ia berikan, ia pun kembali menyeberangi jalan menuju tempat asalnya.

“Bagaimana hyung? Aku berhasil bukan?” ucapnya yang kini bisa bernafas seribu kali lebih lega. Senyum mengembang terlihat di wajahnya. Bahkan ia mengacungkan kedua ibu jarinya, sebuah tanda bahwa sebuah misi berhasil diselesaikan.

Laki-laki berkacamata hanya mendengus pelan, kemudian menggelengkan kepalanya perlahan.

“Baro-ah, kau tolol,”

“Apa yang dia berikan padamu Ji Hyun-ah?”

“Iya, apa?”

Ji Hyun memperhatikan botol minuman yang ia genggam. Ya, botol air yang biasa. tak ada yang janggal. Tapi.. kenapa laki-laki itu memberikannya padanya?

“Ji Hyun-ah, kau tahu tadi itu siapa?”

Ji Hyun menghentikan langkahnya menatap salah satu gadis dari beberapa gadis yang kini tengah berjalan bersamanya. Gadis berkuncir itu mengangguk. Ia yakin, temannya itu tak menyadari siapa laki-laki tadi.

“Dia, mantan pemain basket SMA Daegu. Dia sangat popular, meski sekarang dia sudah lulus dari SMA Daegu setahun yang lalu,” ucapnya panjang lebar. Ji Hyun hanya memutar bola matanya. Ya, baginya itu tak penting, yang penting adalah alasan laki-laki itu memberikannya sebotol minuman hanya padanya.

“Dia menyukaimu mungkin,” ucap salah satu gadis yang sedikit tambun. Ji Hyun sedikit terkejut mendengarnya. Tapi, apa mungkin? Yang ia tahu, ia akhir-akhir ini mendapatkan barang-barang aneh saat dia membuka pintu rumahnya, dan kini barang yang entah ke berapa untuknya ia dapat secara langsung. Apakah selama ini laki-laki itu yang memberikan itu semua padanya? Tapi, ia bahkan tak mengingat apa ia pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya. Dan kecil kemungkinan, bila laki-laki tersebut menyukainya.

“Ji Hyun-ah!”

Ji Hyun membalikkan tubuhnya, sama dengan beberapa gadis lain yang bersamanya. Mata mereka tertuju pada seorang gadis lain yang tengah berlari ke arahnya. Ya, seorang gadis yang terlihat kelelahan juga sedikit marah kiranya.

“Berani kau meninggalkanku?”

“Aku kira kau yang meninggalkanku, T-tunggu..”

Ya terlambat. Setidaknya air dari botol minuman telah diteguk oleh temannya tersebut. Ji Hyun ingin menghentikannya, tapi ia tahu, temannya tidak akan mendengarkan sedikit saja apa yang ia katakan. Lagipula, ia yakin, temannya itu tidak akan terkena apa-apa, bilapun ada magis di dalamnya, itu tak akan menyerang temannya tersebut. Yup, temannya tidak akan mempercayai hal-hal berbau magis.

Ji Hyun dan beberapa temannya menatap gadis itu takjub. Ya, mereka menunggu apa yang akan terjadi pada gadis itu selanjutnya.

“K-kenapa?”

“Soo Hyun-ah, apa kau tidak tahu, minuman itu bisa saja mengandung racun atau mungkin mantra,” ucap Ji Hyun yang disambut anggukan beberapa temannya. Soo Hyun tertawa lepas mendengarnya. Ia memberikan botol minuman kosong pada temannya tersebut.

“Kau tahu, apapun itu, tak akan berpengaruh padaku. Kajja!”  ucapnya seraya menggandeng salah satu tangan Ji Hyun dan memulai kembali langkah mereka.

“Apa dia sudah datang hyung?”

“Belum. Sebentar lagi ia mungkin keluar dari rumahnya,”

Baro mengatur nafasnya. Ya, ia gugup. Hari ini, ia dan Jinyoung, yang membuat Baro terhubung dengan hal-hal berbau magis, tengah menunggu seorang gadis demi melihat pengaruh magis yang ditimbulkan minuman yang diberikan Baro dua hari lalu.

“Baro-ah, cepat keluarlah. Dia berjalan kesini,” ucap Jinyoung bersemangat. Baro yang kehilangan setidaknya setengah jiwanya akibat rasa gugup di dalam dirinya memberanikan diri untuk berjalan keluar dari bilik salah satu bangunan. Ya, kini ia berada pada sebuah jalan dimana gadis itu selalu lewati saat ia berangkat sekolah. Baro menahan nafasnya. Ya, jantungnya tak dapat ia kendalikan saat gadia itu beberapa langkah lagi berjalan ke arahnya. Hingga gadis itu melewatinya tanpa sebuah kata. Gadis itu tak mengetahui dimana ia berada.

“A-anyeong haseyo,” ucap Baru gugup saat gadis itu setidaknya mulai menjauh. Si gadis memutar tubuhnya dan dilihatnya Baro yang tengah memandanginya. Gadis itu sedikit memiringkan kepalanya, ya ia setidaknya tengah mengingat sesuatu hingga senyum muncul di wajahnya.

“Ah, oppa,” ucap gadis itu terlihat bersemangat. Gadis itu lalu berlari menuju Baro.

‘Ah, apa minuman itu bekerja?’

‘Bagaimana ini?’

Baro berusaha menyembunyikan rasa senangnya dengan mengumpatkan senyum miliknya. Senyum gadis itu mengembang saat jarak mereka sudah dekat. Gadis itu membungkuk memberikan salam.

“Terima kasih minumannya,”

Senyum Baro terasa pahit. Ia tersenyum kikuk hingga sebuah anggukan ia tunjukkan.

“Tapi maaf, kemarin, temanku yang meminum airnya. Ah, aku harus berangkat dahulu, mari,” ucap gadis itu kembali membungkuk memberikan salam lalu berlalu. Baro masih terdiam di tempatnya. Ya, ternyata salah. Minuman itu salah target.

‘Mission Failed’

“Bagaimana Baro ya?”

Baro menatap laki-laki yang tiba-tiba menyampinginya. Ia hanya menyeringai merespon pertanyaan laki-laki tersebut. Ya, Jinyoung. Jinyoung hanya membuang nafasnya pasrah.

“Sudah kubilang kau harus memulai untuk berbicara dengannya,” ucap seorang laki-laki termuda seraya menduduki bangku dimana seorang pria lain tengah duduk. Pria termuda, Gongchan merasa kasihan dengan hyung-nya yang terlihat miris akhir-akhir ini.
Ya, Baro. Ia hanya membuang nafasnya perlahan.

“Kau belum tahu bagaimana dia saat dia mendekati gadis itu? Ish, kau bahkan tak akan mau mengakuinya sebagai temanmu,” ucap pria CNu melempar bola bewarna orange pada ring menjulang dihadapannya dan yup, bola tersebut masuk dengan indahnya.

“Ya, bahkan ia kehilangan keahliannya dalam bermain basket,” ucap Jinyoung menimpali. Ia mengambil bola basket yang menggelinding ke arahnya dan melemparkannya pada Baro. Dan bola tersebut gagal dipegang Baro, dan hasilnya mengenai kepalanya.

“See? Dia benar-benar bodoh,”

“Hyung, kumohon. Apa tidak ada barang dari paranormal itu yang dapat membuatnya jatuh cinta padaku?”

“Mwoya?! Kau gila? Kau sudah mencobanya enam kali dan gagal,” ucap CNu sedikit geram. Baro tak menggubrisnya. Ada harapan di matanya saat ia memandang Jinyoung, hyungnya.

“Kau kira, aku ini paranormal? Jika bukan karenamu, aku tidak meminta adikku pergi ke paranormal untuk memenuhi permintaanmu,”

“Ayolah,” ucap Baro memelas kali ini. Jinyoung juga kedua temannya membuang nafasnya. Ya, setidaknya laki-laki itu tidak gentar.

“Baiklah, aku akan memintanya sekali lagi, tapi ingat ini yang terakhir,”

“Terakhir?” ucap Baro mengulang. Ya, akhir kalimat terasa sedikit berat untuknya. Jinyoung juga kedua temannya menatap dirinya pasti. Mereka mengangguk bersama.

“Ya, jika itu gagal. Kau harus memulai berbicara dengannya dan menyatakan cintamu padanya. Atau.. kau harus melupakannya,”

Baro tersenyum lemas. Ia kemudian mengangguk perlahan. Ya, setidaknya percobaan terakhir harus bisa diselesaikan. Dan kemudian ia bisa melihat hasilnya. Ya, ia harus mencoba.

‘Semprotkan cairan ini padanya, juga bunga yang nanti akan kau berikan padanya. Ia akan menyukaimu dengan cepat,’

Baro masih terngiang dengan apa yang diucapkan Jinyoung kemarin siang. Ya, hari ini, ia tak boleh gagal. Jika ia gagal, maka, ia akan memutuskan untuk tidak melakukan hal bodoh dengan cara mengikuti gadis itu lagi.

Baro menatap bouquet bunga yang ia genggam. Ya, mahkota mawar merah terlihat begitu indah. Baro kemudian meraih sesuatu dari kantung celana jeans yang ia kenakan. Sebuah botol ukuran sangat kecil dengan cairan memenuhi botol tersebut, kini terlihat. Ia menutup matanya sebentar.

‘Ya, ini harus berhasil,’

Baro kemudian membuka matanya. Cairan dari botol tersebut ia gunakan untuk membasahi mahkota bunga mawar miliknya. Tapi ia hanya menggunakan sedikit cairan itu. Ya mengingat ia akan memggunakannya pada gadis itu secara langsung.

Selesai. Ia menatap bangunan yang terlihat familiar untuknya. Benar, rumah gadis itu. Sekarang, ia hanya butuh menunggu gadis itu keluar dari rumahnya. Baro melangkahkan kakinya cepat menuju tepat di depan pintu rumah gadis itu. Benar, ia akan memberikan mawar itu pada gadis tersebut kemudian sedikit menyemprotkan cairan itu pada gadis itu. Yup, sangat mudah.

Klek. Knop pintu rumah gadis itu mulai bergerak. Tandanya gadis itu akan keluar dari peraduannya. Baro meraih botol yang diberikan Jinyoung padanya. Ia sudah siap sekarang. Dengan sebuah botol spray kecil yang ia genggam tepat di depan pintu.

Spat. Spat. Spat.

Baro menghentikan aksinya saat ia sadar gadis itu bukan gadis yang ia sukai selama ini. ia terdiam sejenak. Bertatapan cukup lama dengan gadis yang ada di hadapannya, yang entah siapa namanya.

“S-soo Hyun ah? Ada apa?” ucap gadis lain yang berasal dari dalam rumah. Ya, dia Ji Hyun. Ia memandang temannya juga laki-laki itu bingung. Benar, sejak kapan laki-laki itu berada di depan pintu dengan sebuah bouquet di tangannya.

“Maaf, a-ada yang bisa kubantu?”

Baro menggelengkan kepalanya, mencoba untuk sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan. Ekspresi wajahnya berubah saat ia tahu bahwa ia baru saja melakukan kesalahan besar. Dan benar saja, sekarang ia terlihat entah berapa kali lebih tolol dari pertemuan sebelumnya.

Baro kemudian memberikan bouquet bunga yang ia pegang pada Ji Hyun cepat.

“I-ini untukmu,” ucapnya bergetar. Ia tersenyum kikuk lalu ia berlari pergi.

Baro menatap lemas bingkai jendela bus dimana ia berada. Ia membuang napasnya malas. Setidaknya langit pun dapat merasskan hal yang sama saat ini.

“Apa yang kau lakukan disini hyung?” tanyanya pada laki-laki lain yang berada di sampingnya. Ia memandang malas laki-laki tersebut. Laki-laki yang tengah sibuk dengan komik yang ia genggam, menatap Baro tak kalah malasnya.

“CNu hyung memintaku untuk menjagamu,” jawab laki-laki itu santai. Ia kembali menyibukkan dirinya dengan komik yang ia genggam, tertawa kecil entah dunia mana ia berada saat ini.

“Sandeul hyung. Memangnya aku anak kecil? Aku bisa pergi ke kampus sendiri,”

Laki-laki bernama Sandeul memutar bola matanya saat laki-laki yang lebih muda darinya mengeluh dan mengeluh. Kemudian ia menutup komiknya kasar.

“Dengar, kami tak ingin, kau membuntuti gadis itu lagi. Kau harus tahu, kalau ia tak menyukaimu, bahkan ia tak tahu keberadaanmu. Jadi diamlah dan berangkat ke kampus denganku tiap harinya,” papar laki-laki itu frustasi. Ia meraih headphone miliknya dan meletakkannya pada kedua telinganya. Ia kemudian mencoba menenangkan pikirannya akibat penat yang ditimbulkan temannya tersebut.

“Apa kau lupa, kau bahkan sudah berjanji saat itu?” imbuh laki-laki itu tanpa menatap Baro yang ada di sampingnya. Ia kemudian membuang nafasnya perlahan dan menutup matanya.

Baro mengacak rambutnya frustasi. Setidaknya apa yang dikatakan hyung-nya tersebut benar adanya. Tapi, tak semudah itu berhenti memikirkan gadis itu yang bahkan tak memikirkannya. Ya, bila setahun yang lalu, ia tak bertemu dengannya, ini semua tak akan terjadi.

Baro menatap bingkai jendela bus sekali lagi. Ia memandanginya malas. Ia tersenyum saat sebuah titik air mulai terbentuk oleh berkabutnya langit. Tidak, melainkan beberapa. Hingga beberapa titik air berlomba untuk membasahi bumi.

Apa yang dilakukan gadis itu sekarang? Apa dia berangkat sekolah sendiri? Atau teman berambut pendek itu menemaninya kali ini? Apa dia membawa payungnya? Ya, bahkan sedikit pun ia tak bisa berhenti memikirkan gadis itu.

Bus menghentikan laju kendaraan pada salah satu halte. Ia memandangi pintu keluar bus malas. Beberapa orang keluar dari bus, juga beberapa orang yang baru menaiki bus dimana ia berada. Memenuhi beberapa bangku yang kosong. Sama seperti biasa orang lakukan. Hingga Baro memutuskan untuk menghentikan kegiatan membosankan tersebut.

“Ahjussi ijinkan kami naik,”

“Tidak bisa, apa kau tidak bisa lihat? Bus penuh, mana bisa kalian naik…”

Baro memandang kembali pintu bus saat riuh suara sedikit mengganggunya. Ya, sopir bus tengah berdebat dengan salah satu penumpang. Sang penumpang tak terlihat karena, ia bahkan belum memasuki bus tersebut.

“Ahjussi, kami harus naik. Sekolah kami cukup dekat, jika tidak hujan, kami pasti sudah berjalan kaki dan sampai di sana sedari tadi,”

Kemudian seorang gadis berseragam memasuki bus tersebut meski kehadirannya tak dikehendaki oleh sang sopir. Baro memandang gadis berseragam tersebut dengan seksama. Tunggu..

‘Choi Ji Hyun?’

Baro memutuskan untuk memperhatikan gadis tersebut dari bilik bangkunya. Sebuah senyum terbentuk di wajahnya. Ya, setidaknya kali ini ia bisa kembali melihat gadis itu. Baro menyembunyikan diri dengan menenggelamkan lebih topi yang ia kenakan, setidaknya ia tak ingin terlihat kali ini. Meski sebenarnya, itu tak penting.

“Ne, ahjussi, kami akan membayar dua kali kipat. Ijinkan kami naik saja, tak perlu bangku kosong. Kami mohon,” ucap seorang gadis lagi memasuki bus. Ya, seorang gadia berambut pendek yang selalu menemani Ji Hyun.

“Ku bilang tidak bisa, cepat kalian turun segera..”

“Ahjussi!” ucap Baro setengah berteriak. Semua mata memandangnya saat itu juga. Tak luput gadis itu. Ia menata topi yang ia kenakan dan mencoba untuk menutupi setengah dari wajahnya dengan topi miliknya. Kemudian ia menarik nafas panjangnya dan mengeluarkannya perlahan. Benar, hari ini, setidaknya gadis itu jangan mengetahui siapa dirinya. Meski ia tak yakin, gadis itu mengingatnya. Kali ini, ia ingin terlihat normal.

“Ya, apa yang akan kau lakukan?” ucap Sandeul setengah berbisik saat menyadari bahwa temannya itu berulah lagi. Baro hanya tersenyum tipis menanggapinya. Ia kemudian menarik laki-laki yang lebih tua darinya tersebut untuk ikut beranjak dari bangkunya. Si laki-laki tertua memilih untuk menurut.

“Ahjussi, kami turun disini,” ucap Baro singkat. Ji Hyun memperhatikan wajah Baro. Ya, setidaknya ia merasa familiar dengan laki-laki itu. Baro berusaha untuk tidak menunjukkan wajahnya pada gadis tersebut juga teman perempuannya. Ya, ia tak mau ketahuan.

Kemudian ia menatap Sandeul. Sandeul menatapnya lebih muda intens. Ya, perbuatan tolol apa lagi yang ia lakukan sekarang. Baro hanya mengembangkan senyumnya padanya, meski pandangan Sandeul sudah jauh berbeda.

“Ah, o-oppa, kau tidak perlu melakukan itu. A-ahjussi kita hanya..”

“Tidak, kami memang turun disini,” ucap Baro seperlunya. Ia berusaha untuk menata nafasnya dengan normal. Ya, ia tak ingin terlihat gagap atau semacamnya saat ia berusaha menjadi seorang pahlawan. Baro membungkuk sebagai salah satu salam yang diberikan. Kedua gadis itu membalas salamnya. Kemudian ia menarik lengan Sandeul paksa hingga mereka keluar dari bus dimana ia tumpangi tadi. Dan akhirnya bus tersebut menghilang dari pandangan keduanya.

“H-hyung..” panggil Baro pada laki-lski yang berada di sampingnya. Lak-laki yang terlihat sangat kesal hari ini.

“Ya, kau bodoh? Sekarang kita harus ke kampus dengan keadaan basah eoh?” ucap laki-laki itu dengan nada cukup tinggi. Sandeul mendengus kesal dan segera melindungi diri pada teduhnya halte.

Baro tersenyum masam. Ia tahu, ia bodoh kali ini. Tapi entah mengapa, ia mau melakukan itu hanya demi gadis itu. Apakah gadis itu sadar sekarang seberapa besar ia menyukainya?

“Apa kau lupa dengan janjimu? Aku bilang menyerahlah,”

Baro membuang nafasnya dan berusaha untuk tetap tersenyum pada salah satu laki-laki tertua diantara beberapa laki-laki yang berada pada lapangan basket dimana mereka berada sekarang.

“Aku kau tidak pernah berpikir kalau kau benar-benar kehilangan satu tahunmu?” imbuh laki-laki lain, Jinyoung. Baro mencoba untuk tak merespon apa yang dikatakan teman-temannya tersebut. Ia bukan seseorang yang bisa mundur dengan mudah.

“Ya, hyung. Dengarkan mereka,” ucap laki-laki termuda, Gong Chan. Wajahnya terlihat cemas saat ekspresi Baro datar. Atau mungkin lebih tepatnya menahan agar emosinya tidak keluar.

“Kau bahkan tak memulai untuk berbicara dengannya bukan? Kukira itu akan menjadi hal baik jika kau mulai berbicara dengannya,” imbuh laki-laki termuda itu. Ia mencoba untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Tapi tetap, Baro tak meresponnya.

Baro masih bergelut dengan permainan solonya dengan benda bundar yang ia mainkan. Ia tak peduli seberapa banyak respon yang diberikan oleh teman-temannya terhadap apa yang dilakukannya. Bukan, mungkin lebih tepatnya ia tahu bahwa selama ini teman-temannya bermaksud untuk membantu. Dan saat ini, sudah dirasa cukup untuknya berhenti. Tapi tak semudah itu.

“Ini tak lebih dari sebuah cinta konyol yang kau lakukan sepihak,” ucap laki-laki yang lebih tua darinya dengan mudahnya. Dia, Sanduel. Laki-laki itu selalu mengatakan apapun yang ada di Benar, sebuah racikan minuman kemasan yang diberikan oleh laki-laki bernama Jinyoung tiga hari yang lalu. Sebuah minuman, yang (katanya) dapat membuat seorang yang meminumnya jatuh cinta dengan orang yang memberinya. Konyol. Tapi, beberapa mengaku itu berhasil.

“Ah, aku lupa,” ucap laki-laki yang lebih tua dari Gongchan tersebut, Baro. Laki-laki itu mengeluarkan sebotol minuman dari tas ransel miliknya. Ya, setidaknya itu adalah percobaan kelima yang dimintanya pada Jinyoung. Benar, beberapa cara magis sengaja ia lakukan untuk mendapatkan hati gadis yang ia incar selama ini.

“Ish! Kau harus memberikannya cepat. Kau tahu, kau telah membuang setahun dari hidupmu untuk tetap membuntuti gadis itu,”

“A-ah, ne. Aku akan mencobanya besok,”

“Baro-ah, cepat kau berikan sekarang!”

Laki-laki bernama Baro menata nafasnya. Ya, setidaknya ia terlalu gugup untuk mendekati seorang gadis yang berada di seberang jalan. Ia melangkahkan salah satu kakinya ke depan lalu ke belakang lagi. Dan ia melakukannya berulang-ulang kali. Terkadang ia ia menggelengkan tangannya juga mempererat genggamannya pada botol minuman yang ia genggam.

“C-nu h-hyung, aku tidak bisa,” ucapnya dengan beberapa getaran di ucapannya. Laki-laki yang berkaca mata tersebut memukul dahinya.

“Ini sudah seminggu, kau tak bisa menunggu lama,”

“T-tapi, dia bersama teman-remannya. B-bagaimana bisa aku memberikannya?” ucap Baro gugup. Benar, entah kenapa. Ia berubah menjadi seorang penakut di hadapan gadis itu. Gadis yang bahkan tak tahu siapa namanya. Ya, bahkan tak tahu keberadaannya selama ini.

Konyol rasanya. Tapi itulah Baro. Seorang pemain basket yang memiliki skill three point yang cukup tinggi, sang bintang lapangan yang sangat digilai banyak gadis, berubah menjadi Baro kecil yang bahkan lupa cara berjalan.

“Kau ingin sampai teman-temannya pulang? Atau efek magis dari minuman itu hilang?”

Baro mendengus kesal. Ia kemudian menurut saja. Ia bersiap untuk menyebrangi jalan srkarang. Ia menunggu traffic light berubah merah, sementara pikirannya merancang tiap kata yang akan ia ucapkan pada gadis itu nantinya, juga jantungnya yang sedang berpacu tak pasti.

‘Ayolah, kau harus bisa Baro,’

Baro menghirup nafasnya panjang. Ya, ia harus berani. Setidaknya ia tak mau membuat satu tahunnya terbuang sia-sia hanya untuk membuntuti seorang gadis tiap harinya.

Baro melangkahkan kakinya menuju seberang jalan saat traffic light mengubah warnanya. Ia menahan nafasnya saat jaraknya juga gadis itu semakin dekat. Baro terdiam saat ia juga gadis itu dekat sekarang. Tapi lidahnya tak bersahabat kini, bak seorang tuna wicara, sepatah kata sekiranya enggan keluar dari bibirnya. Ia bertatap cukup lama dengan gadis itu. Ya, pandangan kikuk juga terkesan, sedangkan pandangan gadis itu lebih terkesan apa-dia-gila. Beberapa teman wanita menatapnya sedikit bingung, tapi tatapan terkesan juga nampak di wajah mereka. Yup, Baro setidaknya memiliki pamor di kalangan gadis seusianya.

“Ada yang bisa kubantu?” ucap gadis yang setidaknya Baro tahu namanya adalah Ji Hyun. Baro yakin, wajahnya pucat kini, ya aliran darahnya tak mengalir di wajahnya mungkin. Ia menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya yang menggenggam erat sebuah botol minuman ia julurkan dengan kikuk. Ia membungkukkan setengah tubuhnya saat ia memberikan minuman tersebut.

“U-untuk-mu. T-terimalah,” ucapnya memberanikan diri. Ji Hyun, si gadis, hanya menerimanya tanpa sepatah kata, dan hanya menunjukkan pandangan aneh saja. Semua teman wanitanya melakukan hal yang sama.

Merasa tangannya bebas, Baro menegakkan kembali tubuhnya dengan salam yang ia berikan, ia pun kembali menyeberangi jalan menuju tempat asalnya.

“Bagaimana hyung? Aku berhasil bukan?” ucapnya yang kini bisa bernafas seribu kali lebih lega. Senyum mengembang terlihat di wajahnya. Bahkan ia mengacungkan kedua ibu jarinya, sebuah tanda bahwa sebuah misi berhasil diselesaikan.

Laki-laki berkacamata hanya mendengus pelan, kemudian menggelengkan kepalanya perlahan.

“Baro-ah, kau tolol,”

“Apa yang dia berikan padamu Ji Hyun-ah?”

“Iya, apa?”

Ji Hyun memperhatikan botol minuman yang ia genggam. Ya, botol air yang biasa. tak ada yang janggal. Tapi.. kenapa laki-laki itu memberikannya padanya?

“Ji Hyun-ah, kau tahu tadi itu siapa?”

Ji Hyun menghentikan langkahnya menatap salah satu gadis dari beberapa gadis yang kini tengah berjalan bersamanya. Gadis berkuncir itu mengangguk. Ia yakin, temannya itu tak menyadari siapa laki-laki tadi.

“Dia, mantan pemain basket SMA Daegu. Dia sangat popular, meski sekarang dia sudah lulus dari SMA Daegu setahun yang lalu,” ucapnya panjang lebar. Ji Hyun hanya memutar bola matanya. Ya, baginya itu tak penting, yang penting adalah alasan laki-laki itu memberikannya sebotol minuman hanya padanya.

“Dia menyukaimu mungkin,” ucap salah satu gadis yang sedikit tambun. Ji Hyun sedikit terkejut mendengarnya. Tapi, apa mungkin? Yang ia tahu, ia akhir-akhir ini mendapatkan barang-barang aneh saat dia membuka pintu rumahnya, dan kini barang yang entah ke berapa untuknya ia dapat secara langsung. Apakah selama ini laki-laki itu yang memberikan itu semua padanya? Tapi, ia bahkan tak mengingat apa ia pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya. Dan kecil kemungkinan, bila laki-laki tersebut menyukainya.

“Ji Hyun-ah!”

Ji Hyun membalikkan tubuhnya, sama dengan beberapa gadis lain yang bersamanya. Mata mereka tertuju pada seorang gadis lain yang tengah berlari ke arahnya. Ya, seorang gadis yang terlihat kelelahan juga sedikit marah kiranya.

“Berani kau meninggalkanku?”

“Aku kira kau yang meninggalkanku, T-tunggu..”

Ya terlambat. Setidaknya air dari botol minuman telah diteguk oleh temannya tersebut. Ji Hyun ingin menghentikannya, tapi ia tahu, temannya tidak akan mendengarkan sedikit saja apa yang ia katakan. Lagipula, ia yakin, temannya itu tidak akan terkena apa-apa, bilapun ada magis di dalamnya, itu tak akan menyerang temannya tersebut. Yup, temannya tidak akan mempercayai hal-hal berbau magis.

Ji Hyun dan beberapa temannya menatap gadis itu takjub. Ya, mereka menunggu apa yang akan terjadi pada gadis itu selanjutnya.

“K-kenapa?”

“Soo Hyun-ah, apa kau tidak tahu, minuman itu bisa saja mengandung racun atau mungkin mantra,” ucap Ji Hyun yang disambut anggukan beberapa temannya. Soo Hyun tertawa lepas mendengarnya. Ia memberikan botol minuman kosong pada temannya tersebut.

“Kau tahu, apapun itu, tak akan berpengaruh padaku. Kajja!”  ucapnya seraya menggandeng salah satu tangan Ji Hyun dan memulai kembali langkah mereka.

“Apa dia sudah datang hyung?”

“Belum. Sebentar lagi ia mungkin keluar dari rumahnya,”

Baro mengatur nafasnya. Ya, ia gugup. Hari ini, ia dan Jinyoung, yang membuat Baro terhubung dengan hal-hal berbau magis, tengah menunggu seorang gadis demi melihat pengaruh magis yang ditimbulkan minuman yang diberikan Baro dua hari lalu.

“Baro-ah, cepat keluarlah. Dia berjalan kesini,” ucap Jinyoung bersemangat. Baro yang kehilangan setidaknya setengah jiwanya akibat rasa gugup di dalam dirinya memberanikan diri untuk berjalan keluar dari bilik salah satu bangunan. Ya, kini ia berada pada sebuah jalan dimana gadis itu selalu lewati saat ia berangkat sekolah. Baro menahan nafasnya. Ya, jantungnya tak dapat ia kendalikan saat gadia itu beberapa langkah lagi berjalan ke arahnya. Hingga gadis itu melewatinya tanpa sebuah kata. Gadis itu tak mengetahui dimana ia berada.

“A-anyeong haseyo,” ucap Baru gugup saat gadis itu setidaknya mulai menjauh. Si gadis memutar tubuhnya dan dilihatnya Baro yang tengah memandanginya. Gadis itu sedikit memiringkan kepalanya, ya ia setidaknya tengah mengingat sesuatu hingga senyum muncul di wajahnya.

“Ah, oppa,” ucap gadis itu terlihat bersemangat. Gadis itu lalu berlari menuju Baro.

‘Ah, apa minuman itu bekerja?’

‘Bagaimana ini?’

Baro berusaha menyembunyikan rasa senangnya dengan mengumpatkan senyum miliknya. Senyum gadis itu mengembang saat jarak mereka sudah dekat. Gadis itu membungkuk memberikan salam.

“Terima kasih minumannya,”

Senyum Baro terasa pahit. Ia tersenyum kikuk hingga sebuah anggukan ia tunjukkan.

“Tapi maaf, kemarin, temanku yang meminum airnya. Ah, aku harus berangkat dahulu, mari,” ucap gadis itu kembali membungkuk memberikan salam lalu berlalu. Baro masih terdiam di tempatnya. Ya, ternyata salah. Minuman itu salah target.

‘Mission Failed’

“Bagaimana Baro ya?”

Baro menatap laki-laki yang tiba-tiba menyampinginya. Ia hanya menyeringai merespon pertanyaan laki-laki tersebut. Ya, Jinyoung. Jinyoung hanya membuang nafasnya pasrah.

“Sudah kubilang kau harus memulai untuk berbicara dengannya,” ucap seorang laki-laki termuda seraya menduduki bangku dimana seorang pria lain tengah duduk. Pria termuda, Gongchan merasa kasihan dengan hyung-nya yang terlihat miris akhir-akhir ini.
Ya, Baro. Ia hanya membuang nafasnya perlahan.

“Kau belum tahu bagaimana dia saat dia mendekati gadis itu? Ish, kau bahkan tak akan mau mengakuinya sebagai temanmu,” ucap pria CNu melempar bola bewarna orange pada ring menjulang dihadapannya dan yup, bola tersebut masuk dengan indahnya.

“Ya, bahkan ia kehilangan keahliannya dalam bermain basket,” ucap Jinyoung menimpali. Ia mengambil bola basket yang menggelinding ke arahnya dan melemparkannya pada Baro. Dan bola tersebut gagal dipegang Baro, dan hasilnya mengenai kepalanya.

“See? Dia benar-benar bodoh,”

“Hyung, kumohon. Apa tidak ada barang dari paranormal itu yang dapat membuatnya jatuh cinta padaku?”

“Mwoya?! Kau gila? Kau sudah mencobanya enam kali dan gagal,” ucap CNu sedikit geram. Baro tak menggubrisnya. Ada harapan di matanya saat ia memandang Jinyoung, hyungnya.

“Kau kira, aku ini paranormal? Jika bukan karenamu, aku tidak meminta adikku pergi ke paranormal untuk memenuhi permintaanmu,”

“Ayolah,” ucap Baro memelas kali ini. Jinyoung juga kedua temannya membuang nafasnya. Ya, setidaknya laki-laki itu tidak gentar.

“Baiklah, aku akan memintanya sekali lagi, tapi ingat ini yang terakhir,”

“Terakhir?” ucap Baro mengulang. Ya, akhir kalimat terasa sedikit berat untuknya. Jinyoung juga kedua temannya menatap dirinya pasti. Mereka mengangguk bersama.

“Ya, jika itu gagal. Kau harus memulai berbicara dengannya dan menyatakan cintamu padanya. Atau.. kau harus melupakannya,”

Baro tersenyum lemas. Ia kemudian mengangguk perlahan. Ya, setidaknya percobaan terakhir harus bisa diselesaikan. Dan kemudian ia bisa melihat hasilnya. Ya, ia harus mencoba.

‘Semprotkan cairan ini padanya, juga bunga yang nanti akan kau berikan padanya. Ia akan menyukaimu dengan cepat,’

Baro masih terngiang dengan apa yang diucapkan Jinyoung kemarin siang. Ya, hari ini, ia tak boleh gagal. Jika ia gagal, maka, ia akan memutuskan untuk tidak melakukan hal bodoh dengan cara mengikuti gadis itu lagi.

Baro menatap bouquet bunga yang ia genggam. Ya, mahkota mawar merah terlihat begitu indah. Baro kemudian meraih sesuatu dari kantung celana jeans yang ia kenakan. Sebuah botol ukuran sangat kecil dengan cairan memenuhi botol tersebut, kini terlihat. Ia menutup matanya sebentar.

‘Ya, ini harus berhasil,’

Baro kemudian membuka matanya. Cairan dari botol tersebut ia gunakan untuk membasahi mahkota bunga mawar miliknya. Tapi ia hanya menggunakan sedikit cairan itu. Ya mengingat ia akan memggunakannya pada gadis itu secara langsung.

Selesai. Ia menatap bangunan yang terlihat familiar untuknya. Benar, rumah gadis itu. Sekarang, ia hanya butuh menunggu gadis itu keluar dari rumahnya. Baro melangkahkan kakinya cepat menuju tepat di depan pintu rumah gadis itu. Benar, ia akan memberikan mawar itu pada gadis tersebut kemudian sedikit menyemprotkan cairan itu pada gadis itu. Yup, sangat mudah.

Klek. Knop pintu rumah gadis itu mulai bergerak. Tandanya gadis itu akan keluar dari peraduannya. Baro meraih botol yang diberikan Jinyoung padanya. Ia sudah siap sekarang. Dengan sebuah botol spray kecil yang ia genggam tepat di depan pintu.

Spat. Spat. Spat.

Baro menghentikan aksinya saat ia sadar gadis itu bukan gadis yang ia sukai selama ini. ia terdiam sejenak. Bertatapan cukup lama dengan gadis yang ada di hadapannya, yang entah siapa namanya.

“S-soo Hyun ah? Ada apa?” ucap gadis lain yang berasal dari dalam rumah. Ya, dia Ji Hyun. Ia memandang temannya juga laki-laki itu bingung. Benar, sejak kapan laki-laki itu berada di depan pintu dengan sebuah bouquet di tangannya.

“Maaf, a-ada yang bisa kubantu?”

Baro menggelengkan kepalanya, mencoba untuk sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan. Ekspresi wajahnya berubah saat ia tahu bahwa ia baru saja melakukan kesalahan besar. Dan benar saja, sekarang ia terlihat entah berapa kali lebih tolol dari pertemuan sebelumnya.

Baro kemudian memberikan bouquet bunga yang ia pegang pada Ji Hyun cepat.

“I-ini untukmu,” ucapnya bergetar. Ia tersenyum kikuk lalu ia berlari pergi.

Baro menatap lemas bingkai jendela bus dimana ia berada. Ia membuang napasnya malas. Setidaknya langit pun dapat merasskan hal yang sama saat ini.

“Apa yang kau lakukan disini hyung?” tanyanya pada laki-laki lain yang berada di sampingnya. Ia memandang malas laki-laki tersebut. Laki-laki yang tengah sibuk dengan komik yang ia genggam, menatap Baro tak kalah malasnya.

“CNu hyung memintaku untuk menjagamu,” jawab laki-laki itu santai. Ia kembali menyibukkan dirinya dengan komik yang ia genggam, tertawa kecil entah dunia mana ia berada saat ini.

“Sandeul hyung. Memangnya aku anak kecil? Aku bisa pergi ke kampus sendiri,”

Laki-laki bernama Sandeul memutar bola matanya saat laki-laki yang lebih muda darinya mengeluh dan mengeluh. Kemudian ia menutup komiknya kasar.

“Dengar, kami tak ingin, kau membuntuti gadis itu lagi. Kau harus tahu, kalau ia tak menyukaimu, bahkan ia tak tahu keberadaanmu. Jadi diamlah dan berangkat ke kampus denganku tiap harinya,” papar laki-laki itu frustasi. Ia meraih headphone miliknya dan meletakkannya pada kedua telinganya. Ia kemudian mencoba menenangkan pikirannya akibat penat yang ditimbulkan temannya tersebut.

“Apa kau lupa, kau bahkan sudah berjanji saat itu?” imbuh laki-laki itu tanpa menatap Baro yang ada di sampingnya. Ia kemudian membuang nafasnya perlahan dan menutup matanya.

Baro mengacak rambutnya frustasi. Setidaknya apa yang dikatakan hyung-nya tersebut benar adanya. Tapi, tak semudah itu berhenti memikirkan gadis itu yang bahkan tak memikirkannya. Ya, bila setahun yang lalu, ia tak bertemu dengannya, ini semua tak akan terjadi.

Baro menatap bingkai jendela bus sekali lagi. Ia memandanginya malas. Ia tersenyum saat sebuah titik air mulai terbentuk oleh berkabutnya langit. Tidak, melainkan beberapa. Hingga beberapa titik air berlomba untuk membasahi bumi.

Apa yang dilakukan gadis itu sekarang? Apa dia berangkat sekolah sendiri? Atau teman berambut pendek itu menemaninya kali ini? Apa dia membawa payungnya? Ya, bahkan sedikit pun ia tak bisa berhenti memikirkan gadis itu.

Bus menghentikan laju kendaraan pada salah satu halte. Ia memandangi pintu keluar bus malas. Beberapa orang keluar dari bus, juga beberapa orang yang baru menaiki bus dimana ia berada. Memenuhi beberapa bangku yang kosong. Sama seperti biasa orang lakukan. Hingga Baro memutuskan untuk menghentikan kegiatan membosankan tersebut.

“Ahjussi ijinkan kami naik,”

“Tidak bisa, apa kau tidak bisa lihat? Bus penuh, mana bisa kalian naik…”

Baro memandang kembali pintu bus saat riuh suara sedikit mengganggunya. Ya, sopir bus tengah berdebat dengan salah satu penumpang. Sang penumpang tak terlihat karena, ia bahkan belum memasuki bus tersebut.

“Ahjussi, kami harus naik. Sekolah kami cukup dekat, jika tidak hujan, kami pasti sudah berjalan kaki dan sampai di sana sedari tadi,”

Kemudian seorang gadis berseragam memasuki bus tersebut meski kehadirannya tak dikehendaki oleh sang sopir. Baro memandang gadis berseragam tersebut dengan seksama. Tunggu..

‘Choi Ji Hyun?’

Baro memutuskan untuk memperhatikan gadis tersebut dari bilik bangkunya. Sebuah senyum terbentuk di wajahnya. Ya, setidaknya kali ini ia bisa kembali melihat gadis itu. Baro menyembunyikan diri dengan menenggelamkan lebih topi yang ia kenakan, setidaknya ia tak ingin terlihat kali ini. Meski sebenarnya, itu tak penting.

“Ne, ahjussi, kami akan membayar dua kali kipat. Ijinkan kami naik saja, tak perlu bangku kosong. Kami mohon,” ucap seorang gadis lagi memasuki bus. Ya, seorang gadia berambut pendek yang selalu menemani Ji Hyun.

“Ku bilang tidak bisa, cepat kalian turun segera..”

“Ahjussi!” ucap Baro setengah berteriak. Semua mata memandangnya saat itu juga. Tak luput gadis itu. Ia menata topi yang ia kenakan dan mencoba untuk menutupi setengah dari wajahnya dengan topi miliknya. Kemudian ia menarik nafas panjangnya dan mengeluarkannya perlahan. Benar, hari ini, setidaknya gadis itu jangan mengetahui siapa dirinya. Meski ia tak yakin, gadis itu mengingatnya. Kali ini, ia ingin terlihat normal.

“Ya, apa yang akan kau lakukan?” ucap Sandeul setengah berbisik saat menyadari bahwa temannya itu berulah lagi. Baro hanya tersenyum tipis menanggapinya. Ia kemudian menarik laki-laki yang lebih tua darinya tersebut untuk ikut beranjak dari bangkunya. Si laki-laki tertua memilih untuk menurut.

“Ahjussi, kami turun disini,” ucap Baro singkat. Ji Hyun memperhatikan wajah Baro. Ya, setidaknya ia merasa familiar dengan laki-laki itu. Baro berusaha untuk tidak menunjukkan wajahnya pada gadis tersebut juga teman perempuannya. Ya, ia tak mau ketahuan.

Kemudian ia menatap Sandeul. Sandeul menatapnya lebih muda intens. Ya, perbuatan tolol apa lagi yang ia lakukan sekarang. Baro hanya mengembangkan senyumnya padanya, meski pandangan Sandeul sudah jauh berbeda.

“Ah, o-oppa, kau tidak perlu melakukan itu. A-ahjussi kita hanya..”

“Tidak, kami memang turun disini,” ucap Baro seperlunya. Ia berusaha untuk menata nafasnya dengan normal. Ya, ia tak ingin terlihat gagap atau semacamnya saat ia berusaha menjadi seorang pahlawan. Baro membungkuk sebagai salah satu salam yang diberikan. Kedua gadis itu membalas salamnya. Kemudian ia menarik lengan Sandeul paksa hingga mereka keluar dari bus dimana ia tumpangi tadi. Dan akhirnya bus tersebut menghilang dari pandangan keduanya.

“H-hyung..” panggil Baro pada laki-lski yang berada di sampingnya. Lak-laki yang terlihat sangat kesal hari ini.

“Ya, kau bodoh? Sekarang kita harus ke kampus dengan keadaan basah eoh?” ucap laki-laki itu dengan nada cukup tinggi. Sandeul mendengus kesal dan segera melindungi diri pada teduhnya halte.

Baro tersenyum masam. Ia tahu, ia bodoh kali ini. Tapi entah mengapa, ia mau melakukan itu hanya demi gadis itu. Apakah gadis itu sadar sekarang seberapa besar ia menyukainya?

“Apa kau lupa dengan janjimu? Aku bilang menyerahlah,”

Baro membuang nafasnya dan berusaha untuk tetap tersenyum pada salah satu laki-laki tertua diantara beberapa laki-laki yang berada pada lapangan basket dimana mereka berada sekarang.

“Aku kau tidak pernah berpikir kalau kau benar-benar kehilangan satu tahunmu?” imbuh laki-laki lain, Jinyoung. Baro mencoba untuk tak merespon apa yang dikatakan teman-temannya tersebut. Ia bukan seseorang yang bisa mundur dengan mudah.

“Ya, hyung. Dengarkan mereka,” ucap laki-laki termuda, Gong Chan. Wajahnya terlihat cemas saat ekspresi Baro datar. Atau mungkin lebih tepatnya menahan agar emosinya tidak keluar.

“Kau bahkan tak memulai untuk berbicara dengannya bukan? Kukira itu akan menjadi hal baik jika kau mulai berbicara dengannya,” imbuh laki-laki termuda itu. Ia mencoba untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Tapi tetap, Baro tak meresponnya.

Baro masih bergelut dengan permainan solonya dengan benda bundar yang ia mainkan. Ia tak peduli seberapa banyak respon yang diberikan oleh teman-temannya terhadap apa yang dilakukannya. Bukan, mungkin lebih tepatnya ia tahu bahwa selama ini teman-temannya bermaksud untuk membantu. Dan saat ini, sudah dirasa cukup untuknya berhenti. Tapi tak semudah itu.

“Ini tak lebih dari sebuah cinta konyol yang kau lakukan sepihak,” ucap laki-laki yang lebih tua darinya dengan mudahnya. Dia, Sanduel. Laki-laki itu selalu mengatakan apapun yang ada di Benar, sebuah racikan minuman kemasan yang diberikan oleh laki-laki bernama Jinyoung tiga hari yang lalu. Sebuah minuman, yang (katanya) dapat membuat seorang yang meminumnya jatuh cinta dengan orang yang memberinya. Konyol. Tapi, beberapa mengaku itu berhasil.

“Ah, aku lupa,” ucap laki-laki yang lebih tua dari Gongchan tersebut, Baro. Laki-laki itu mengeluarkan sebotol minuman dari tas ransel miliknya. Ya, setidaknya itu adalah percobaan kelima yang dimintanya pada Jinyoung. Benar, beberapa cara magis sengaja ia lakukan untuk mendapatkan hati gadis yang ia incar selama ini.

“Ish! Kau harus memberikannya cepat. Kau tahu, kau telah membuang setahun dari hidupmu untuk tetap membuntuti gadis itu,”

“A-ah, ne. Aku akan mencobanya besok,”

“Baro-ah, cepat kau berikan sekarang!”

Laki-laki bernama Baro menata nafasnya. Ya, setidaknya ia terlalu gugup untuk mendekati seorang gadis yang berada di seberang jalan. Ia melangkahkan salah satu kakinya ke depan lalu ke belakang lagi. Dan ia melakukannya berulang-ulang kali. Terkadang ia ia menggelengkan tangannya juga mempererat genggamannya pada botol minuman yang ia genggam.

“C-nu h-hyung, aku tidak bisa,” ucapnya dengan beberapa getaran di ucapannya. Laki-laki yang berkaca mata tersebut memukul dahinya.

“Ini sudah seminggu, kau tak bisa menunggu lama,”

“T-tapi, dia bersama teman-remannya. B-bagaimana bisa aku memberikannya?” ucap Baro gugup. Benar, entah kenapa. Ia berubah menjadi seorang penakut di hadapan gadis itu. Gadis yang bahkan tak tahu siapa namanya. Ya, bahkan tak tahu keberadaannya selama ini.

Konyol rasanya. Tapi itulah Baro. Seorang pemain basket yang memiliki skill three point yang cukup tinggi, sang bintang lapangan yang sangat digilai banyak gadis, berubah menjadi Baro kecil yang bahkan lupa cara berjalan.

“Kau ingin sampai teman-temannya pulang? Atau efek magis dari minuman itu hilang?”

Baro mendengus kesal. Ia kemudian menurut saja. Ia bersiap untuk menyebrangi jalan srkarang. Ia menunggu traffic light berubah merah, sementara pikirannya merancang tiap kata yang akan ia ucapkan pada gadis itu nantinya, juga jantungnya yang sedang berpacu tak pasti.

‘Ayolah, kau harus bisa Baro,’

Baro menghirup nafasnya panjang. Ya, ia harus berani. Setidaknya ia tak mau membuat satu tahunnya terbuang sia-sia hanya untuk membuntuti seorang gadis tiap harinya.

Baro melangkahkan kakinya menuju seberang jalan saat traffic light mengubah warnanya. Ia menahan nafasnya saat jaraknya juga gadis itu semakin dekat. Baro terdiam saat ia juga gadis itu dekat sekarang. Tapi lidahnya tak bersahabat kini, bak seorang tuna wicara, sepatah kata sekiranya enggan keluar dari bibirnya. Ia bertatap cukup lama dengan gadis itu. Ya, pandangan kikuk juga terkesan, sedangkan pandangan gadis itu lebih terkesan apa-dia-gila. Beberapa teman wanita menatapnya sedikit bingung, tapi tatapan terkesan juga nampak di wajah mereka. Yup, Baro setidaknya memiliki pamor di kalangan gadis seusianya.

“Ada yang bisa kubantu?” ucap gadis yang setidaknya Baro tahu namanya adalah Ji Hyun. Baro yakin, wajahnya pucat kini, ya aliran darahnya tak mengalir di wajahnya mungkin. Ia menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya yang menggenggam erat sebuah botol minuman ia julurkan dengan kikuk. Ia membungkukkan setengah tubuhnya saat ia memberikan minuman tersebut.

“U-untuk-mu. T-terimalah,” ucapnya memberanikan diri. Ji Hyun, si gadis, hanya menerimanya tanpa sepatah kata, dan hanya menunjukkan pandangan aneh saja. Semua teman wanitanya melakukan hal yang sama.

Merasa tangannya bebas, Baro menegakkan kembali tubuhnya dengan salam yang ia berikan, ia pun kembali menyeberangi jalan menuju tempat asalnya.

“Bagaimana hyung? Aku berhasil bukan?” ucapnya yang kini bisa bernafas seribu kali lebih lega. Senyum mengembang terlihat di wajahnya. Bahkan ia mengacungkan kedua ibu jarinya, sebuah tanda bahwa sebuah misi berhasil diselesaikan.

Laki-laki berkacamata hanya mendengus pelan, kemudian menggelengkan kepalanya perlahan.

“Baro-ah, kau tolol,”

“Apa yang dia berikan padamu Ji Hyun-ah?”

“Iya, apa?”

Ji Hyun memperhatikan botol minuman yang ia genggam. Ya, botol air yang biasa. tak ada yang janggal. Tapi.. kenapa laki-laki itu memberikannya padanya?

“Ji Hyun-ah, kau tahu tadi itu siapa?”

Ji Hyun menghentikan langkahnya menatap salah satu gadis dari beberapa gadis yang kini tengah berjalan bersamanya. Gadis berkuncir itu mengangguk. Ia yakin, temannya itu tak menyadari siapa laki-laki tadi.

“Dia, mantan pemain basket SMA Daegu. Dia sangat popular, meski sekarang dia sudah lulus dari SMA Daegu setahun yang lalu,” ucapnya panjang lebar. Ji Hyun hanya memutar bola matanya. Ya, baginya itu tak penting, yang penting adalah alasan laki-laki itu memberikannya sebotol minuman hanya padanya.

“Dia menyukaimu mungkin,” ucap salah satu gadis yang sedikit tambun. Ji Hyun sedikit terkejut mendengarnya. Tapi, apa mungkin? Yang ia tahu, ia akhir-akhir ini mendapatkan barang-barang aneh saat dia membuka pintu rumahnya, dan kini barang yang entah ke berapa untuknya ia dapat secara langsung. Apakah selama ini laki-laki itu yang memberikan itu semua padanya? Tapi, ia bahkan tak mengingat apa ia pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya. Dan kecil kemungkinan, bila laki-laki tersebut menyukainya.

“Ji Hyun-ah!”

Ji Hyun membalikkan tubuhnya, sama dengan beberapa gadis lain yang bersamanya. Mata mereka tertuju pada seorang gadis lain yang tengah berlari ke arahnya. Ya, seorang gadis yang terlihat kelelahan juga sedikit marah kiranya.

“Berani kau meninggalkanku?”

“Aku kira kau yang meninggalkanku, T-tunggu..”

Ya terlambat. Setidaknya air dari botol minuman telah diteguk oleh temannya tersebut. Ji Hyun ingin menghentikannya, tapi ia tahu, temannya tidak akan mendengarkan sedikit saja apa yang ia katakan. Lagipula, ia yakin, temannya itu tidak akan terkena apa-apa, bilapun ada magis di dalamnya, itu tak akan menyerang temannya tersebut. Yup, temannya tidak akan mempercayai hal-hal berbau magis.

Ji Hyun dan beberapa temannya menatap gadis itu takjub. Ya, mereka menunggu apa yang akan terjadi pada gadis itu selanjutnya.

“K-kenapa?”

“Soo Hyun-ah, apa kau tidak tahu, minuman itu bisa saja mengandung racun atau mungkin mantra,” ucap Ji Hyun yang disambut anggukan beberapa temannya. Soo Hyun tertawa lepas mendengarnya. Ia memberikan botol minuman kosong pada temannya tersebut.

“Kau tahu, apapun itu, tak akan berpengaruh padaku. Kajja!”  ucapnya seraya menggandeng salah satu tangan Ji Hyun dan memulai kembali langkah mereka.

“Apa dia sudah datang hyung?”

“Belum. Sebentar lagi ia mungkin keluar dari rumahnya,”

Baro mengatur nafasnya. Ya, ia gugup. Hari ini, ia dan Jinyoung, yang membuat Baro terhubung dengan hal-hal berbau magis, tengah menunggu seorang gadis demi melihat pengaruh magis yang ditimbulkan minuman yang diberikan Baro dua hari lalu.

“Baro-ah, cepat keluarlah. Dia berjalan kesini,” ucap Jinyoung bersemangat. Baro yang kehilangan setidaknya setengah jiwanya akibat rasa gugup di dalam dirinya memberanikan diri untuk berjalan keluar dari bilik salah satu bangunan. Ya, kini ia berada pada sebuah jalan dimana gadis itu selalu lewati saat ia berangkat sekolah. Baro menahan nafasnya. Ya, jantungnya tak dapat ia kendalikan saat gadia itu beberapa langkah lagi berjalan ke arahnya. Hingga gadis itu melewatinya tanpa sebuah kata. Gadis itu tak mengetahui dimana ia berada.

“A-anyeong haseyo,” ucap Baru gugup saat gadis itu setidaknya mulai menjauh. Si gadis memutar tubuhnya dan dilihatnya Baro yang tengah memandanginya. Gadis itu sedikit memiringkan kepalanya, ya ia setidaknya tengah mengingat sesuatu hingga senyum muncul di wajahnya.

“Ah, oppa,” ucap gadis itu terlihat bersemangat. Gadis itu lalu berlari menuju Baro.

‘Ah, apa minuman itu bekerja?’

‘Bagaimana ini?’

Baro berusaha menyembunyikan rasa senangnya dengan mengumpatkan senyum miliknya. Senyum gadis itu mengembang saat jarak mereka sudah dekat. Gadis itu membungkuk memberikan salam.

“Terima kasih minumannya,”

Senyum Baro terasa pahit. Ia tersenyum kikuk hingga sebuah anggukan ia tunjukkan.

“Tapi maaf, kemarin, temanku yang meminum airnya. Ah, aku harus berangkat dahulu, mari,” ucap gadis itu kembali membungkuk memberikan salam lalu berlalu. Baro masih terdiam di tempatnya. Ya, ternyata salah. Minuman itu salah target.

‘Mission Failed’

“Bagaimana Baro ya?”

Baro menatap laki-laki yang tiba-tiba menyampinginya. Ia hanya menyeringai merespon pertanyaan laki-laki tersebut. Ya, Jinyoung. Jinyoung hanya membuang nafasnya pasrah.

“Sudah kubilang kau harus memulai untuk berbicara dengannya,” ucap seorang laki-laki termuda seraya menduduki bangku dimana seorang pria lain tengah duduk. Pria termuda, Gongchan merasa kasihan dengan hyung-nya yang terlihat miris akhir-akhir ini.
Ya, Baro. Ia hanya membuang nafasnya perlahan.

“Kau belum tahu bagaimana dia saat dia mendekati gadis itu? Ish, kau bahkan tak akan mau mengakuinya sebagai temanmu,” ucap pria CNu melempar bola bewarna orange pada ring menjulang dihadapannya dan yup, bola tersebut masuk dengan indahnya.

“Ya, bahkan ia kehilangan keahliannya dalam bermain basket,” ucap Jinyoung menimpali. Ia mengambil bola basket yang menggelinding ke arahnya dan melemparkannya pada Baro. Dan bola tersebut gagal dipegang Baro, dan hasilnya mengenai kepalanya.

“See? Dia benar-benar bodoh,”

“Hyung, kumohon. Apa tidak ada barang dari paranormal itu yang dapat membuatnya jatuh cinta padaku?”

“Mwoya?! Kau gila? Kau sudah mencobanya enam kali dan gagal,” ucap CNu sedikit geram. Baro tak menggubrisnya. Ada harapan di matanya saat ia memandang Jinyoung, hyungnya.

“Kau kira, aku ini paranormal? Jika bukan karenamu, aku tidak meminta adikku pergi ke paranormal untuk memenuhi permintaanmu,”

“Ayolah,” ucap Baro memelas kali ini. Jinyoung juga kedua temannya membuang nafasnya. Ya, setidaknya laki-laki itu tidak gentar.

“Baiklah, aku akan memintanya sekali lagi, tapi ingat ini yang terakhir,”

“Terakhir?” ucap Baro mengulang. Ya, akhir kalimat terasa sedikit berat untuknya. Jinyoung juga kedua temannya menatap dirinya pasti. Mereka mengangguk bersama.

“Ya, jika itu gagal. Kau harus memulai berbicara dengannya dan menyatakan cintamu padanya. Atau.. kau harus melupakannya,”

Baro tersenyum lemas. Ia kemudian mengangguk perlahan. Ya, setidaknya percobaan terakhir harus bisa diselesaikan. Dan kemudian ia bisa melihat hasilnya. Ya, ia harus mencoba.

‘Semprotkan cairan ini padanya, juga bunga yang nanti akan kau berikan padanya. Ia akan menyukaimu dengan cepat,’

Baro masih terngiang dengan apa yang diucapkan Jinyoung kemarin siang. Ya, hari ini, ia tak boleh gagal. Jika ia gagal, maka, ia akan memutuskan untuk tidak melakukan hal bodoh dengan cara mengikuti gadis itu lagi.

Baro menatap bouquet bunga yang ia genggam. Ya, mahkota mawar merah terlihat begitu indah. Baro kemudian meraih sesuatu dari kantung celana jeans yang ia kenakan. Sebuah botol ukuran sangat kecil dengan cairan memenuhi botol tersebut, kini terlihat. Ia menutup matanya sebentar.

‘Ya, ini harus berhasil,’

Baro kemudian membuka matanya. Cairan dari botol tersebut ia gunakan untuk membasahi mahkota bunga mawar miliknya. Tapi ia hanya menggunakan sedikit cairan itu. Ya mengingat ia akan memggunakannya pada gadis itu secara langsung.

Selesai. Ia menatap bangunan yang terlihat familiar untuknya. Benar, rumah gadis itu. Sekarang, ia hanya butuh menunggu gadis itu keluar dari rumahnya. Baro melangkahkan kakinya cepat menuju tepat di depan pintu rumah gadis itu. Benar, ia akan memberikan mawar itu pada gadis tersebut kemudian sedikit menyemprotkan cairan itu pada gadis itu. Yup, sangat mudah.

Klek. Knop pintu rumah gadis itu mulai bergerak. Tandanya gadis itu akan keluar dari peraduannya. Baro meraih botol yang diberikan Jinyoung padanya. Ia sudah siap sekarang. Dengan sebuah botol spray kecil yang ia genggam tepat di depan pintu.

Spat. Spat. Spat.

Baro menghentikan aksinya saat ia sadar gadis itu bukan gadis yang ia sukai selama ini. ia terdiam sejenak. Bertatapan cukup lama dengan gadis yang ada di hadapannya, yang entah siapa namanya.

“S-soo Hyun ah? Ada apa?” ucap gadis lain yang berasal dari dalam rumah. Ya, dia Ji Hyun. Ia memandang temannya juga laki-laki itu bingung. Benar, sejak kapan laki-laki itu berada di depan pintu dengan sebuah bouquet di tangannya.

“Maaf, a-ada yang bisa kubantu?”

Baro menggelengkan kepalanya, mencoba untuk sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan. Ekspresi wajahnya berubah saat ia tahu bahwa ia baru saja melakukan kesalahan besar. Dan benar saja, sekarang ia terlihat entah berapa kali lebih tolol dari pertemuan sebelumnya.

Baro kemudian memberikan bouquet bunga yang ia pegang pada Ji Hyun cepat.

“I-ini untukmu,” ucapnya bergetar. Ia tersenyum kikuk lalu ia berlari pergi.

Baro menatap lemas bingkai jendela bus dimana ia berada. Ia membuang napasnya malas. Setidaknya langit pun dapat merasskan hal yang sama saat ini.

“Apa yang kau lakukan disini hyung?” tanyanya pada laki-laki lain yang berada di sampingnya. Ia memandang malas laki-laki tersebut. Laki-laki yang tengah sibuk dengan komik yang ia genggam, menatap Baro tak kalah malasnya.

“CNu hyung memintaku untuk menjagamu,” jawab laki-laki itu santai. Ia kembali menyibukkan dirinya dengan komik yang ia genggam, tertawa kecil entah dunia mana ia berada saat ini.

“Sandeul hyung. Memangnya aku anak kecil? Aku bisa pergi ke kampus sendiri,”

Laki-laki bernama Sandeul memutar bola matanya saat laki-laki yang lebih muda darinya mengeluh dan mengeluh. Kemudian ia menutup komiknya kasar.

“Dengar, kami tak ingin, kau membuntuti gadis itu lagi. Kau harus tahu, kalau ia tak menyukaimu, bahkan ia tak tahu keberadaanmu. Jadi diamlah dan berangkat ke kampus denganku tiap harinya,” papar laki-laki itu frustasi. Ia meraih headphone miliknya dan meletakkannya pada kedua telinganya. Ia kemudian mencoba menenangkan pikirannya akibat penat yang ditimbulkan temannya tersebut.

“Apa kau lupa, kau bahkan sudah berjanji saat itu?” imbuh laki-laki itu tanpa menatap Baro yang ada di sampingnya. Ia kemudian membuang nafasnya perlahan dan menutup matanya.

Baro mengacak rambutnya frustasi. Setidaknya apa yang dikatakan hyung-nya tersebut benar adanya. Tapi, tak semudah itu berhenti memikirkan gadis itu yang bahkan tak memikirkannya. Ya, bila setahun yang lalu, ia tak bertemu dengannya, ini semua tak akan terjadi.

Baro menatap bingkai jendela bus sekali lagi. Ia memandanginya malas. Ia tersenyum saat sebuah titik air mulai terbentuk oleh berkabutnya langit. Tidak, melainkan beberapa. Hingga beberapa titik air berlomba untuk membasahi bumi.

Apa yang dilakukan gadis itu sekarang? Apa dia berangkat sekolah sendiri? Atau teman berambut pendek itu menemaninya kali ini? Apa dia membawa payungnya? Ya, bahkan sedikit pun ia tak bisa berhenti memikirkan gadis itu.

Bus menghentikan laju kendaraan pada salah satu halte. Ia memandangi pintu keluar bus malas. Beberapa orang keluar dari bus, juga beberapa orang yang baru menaiki bus dimana ia berada. Memenuhi beberapa bangku yang kosong. Sama seperti biasa orang lakukan. Hingga Baro memutuskan untuk menghentikan kegiatan membosankan tersebut.

“Ahjussi ijinkan kami naik,”

“Tidak bisa, apa kau tidak bisa lihat? Bus penuh, mana bisa kalian naik…”

Baro memandang kembali pintu bus saat riuh suara sedikit mengganggunya. Ya, sopir bus tengah berdebat dengan salah satu penumpang. Sang penumpang tak terlihat karena, ia bahkan belum memasuki bus tersebut.

“Ahjussi, kami harus naik. Sekolah kami cukup dekat, jika tidak hujan, kami pasti sudah berjalan kaki dan sampai di sana sedari tadi,”

Kemudian seorang gadis berseragam memasuki bus tersebut meski kehadirannya tak dikehendaki oleh sang sopir. Baro memandang gadis berseragam tersebut dengan seksama. Tunggu..

‘Choi Ji Hyun?’

Baro memutuskan untuk memperhatikan gadis tersebut dari bilik bangkunya. Sebuah senyum terbentuk di wajahnya. Ya, setidaknya kali ini ia bisa kembali melihat gadis itu. Baro menyembunyikan diri dengan menenggelamkan lebih topi yang ia kenakan, setidaknya ia tak ingin terlihat kali ini. Meski sebenarnya, itu tak penting.

“Ne, ahjussi, kami akan membayar dua kali kipat. Ijinkan kami naik saja, tak perlu bangku kosong. Kami mohon,” ucap seorang gadis lagi memasuki bus. Ya, seorang gadia berambut pendek yang selalu menemani Ji Hyun.

“Ku bilang tidak bisa, cepat kalian turun segera..”

“Ahjussi!” ucap Baro setengah berteriak. Semua mata memandangnya saat itu juga. Tak luput gadis itu. Ia menata topi yang ia kenakan dan mencoba untuk menutupi setengah dari wajahnya dengan topi miliknya. Kemudian ia menarik nafas panjangnya dan mengeluarkannya perlahan. Benar, hari ini, setidaknya gadis itu jangan mengetahui siapa dirinya. Meski ia tak yakin, gadis itu mengingatnya. Kali ini, ia ingin terlihat normal.

“Ya, apa yang akan kau lakukan?” ucap Sandeul setengah berbisik saat menyadari bahwa temannya itu berulah lagi. Baro hanya tersenyum tipis menanggapinya. Ia kemudian menarik laki-laki yang lebih tua darinya tersebut untuk ikut beranjak dari bangkunya. Si laki-laki tertua memilih untuk menurut.

“Ahjussi, kami turun disini,” ucap Baro singkat. Ji Hyun memperhatikan wajah Baro. Ya, setidaknya ia merasa familiar dengan laki-laki itu. Baro berusaha untuk tidak menunjukkan wajahnya pada gadis tersebut juga teman perempuannya. Ya, ia tak mau ketahuan.

Kemudian ia menatap Sandeul. Sandeul menatapnya lebih muda intens. Ya, perbuatan tolol apa lagi yang ia lakukan sekarang. Baro hanya mengembangkan senyumnya padanya, meski pandangan Sandeul sudah jauh berbeda.

“Ah, o-oppa, kau tidak perlu melakukan itu. A-ahjussi kita hanya..”

“Tidak, kami memang turun disini,” ucap Baro seperlunya. Ia berusaha untuk menata nafasnya dengan normal. Ya, ia tak ingin terlihat gagap atau semacamnya saat ia berusaha menjadi seorang pahlawan. Baro membungkuk sebagai salah satu salam yang diberikan. Kedua gadis itu membalas salamnya. Kemudian ia menarik lengan Sandeul paksa hingga mereka keluar dari bus dimana ia tumpangi tadi. Dan akhirnya bus tersebut menghilang dari pandangan keduanya.

“H-hyung..” panggil Baro pada laki-lski yang berada di sampingnya. Lak-laki yang terlihat sangat kesal hari ini.

“Ya, kau bodoh? Sekarang kita harus ke kampus dengan keadaan basah eoh?” ucap laki-laki itu dengan nada cukup tinggi. Sandeul mendengus kesal dan segera melindungi diri pada teduhnya halte.

Baro tersenyum masam. Ia tahu, ia bodoh kali ini. Tapi entah mengapa, ia mau melakukan itu hanya demi gadis itu. Apakah gadis itu sadar sekarang seberapa besar ia menyukainya?

“Apa kau lupa dengan janjimu? Aku bilang menyerahlah,”

Baro membuang nafasnya dan berusaha untuk tetap tersenyum pada salah satu laki-laki tertua diantara beberapa laki-laki yang berada pada lapangan basket dimana mereka berada sekarang.

“Aku kau tidak pernah berpikir kalau kau benar-benar kehilangan satu tahunmu?” imbuh laki-laki lain, Jinyoung. Baro mencoba untuk tak merespon apa yang dikatakan teman-temannya tersebut. Ia bukan seseorang yang bisa mundur dengan mudah.

“Ya, hyung. Dengarkan mereka,” ucap laki-laki termuda, Gong Chan. Wajahnya terlihat cemas saat ekspresi Baro datar. Atau mungkin lebih tepatnya menahan agar emosinya tidak keluar.

“Kau bahkan tak memulai untuk berbicara dengannya bukan? Kukira itu akan menjadi hal baik jika kau mulai berbicara dengannya,” imbuh laki-laki termuda itu. Ia mencoba untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Tapi tetap, Baro tak meresponnya.

Baro masih bergelut dengan permainan solonya dengan benda bundar yang ia mainkan. Ia tak peduli seberapa banyak respon yang diberikan oleh teman-temannya terhadap apa yang dilakukannya. Bukan, mungkin lebih tepatnya ia tahu bahwa selama ini teman-temannya bermaksud untuk membantu. Dan saat ini, sudah dirasa cukup untuknya berhenti. Tapi tak semudah itu.

“Ini tak lebih dari sebuah cinta konyol yang kau lakukan sepihak,” ucap laki-laki yang lebih tua darinya dengan mudahnya. Dia, Sanduel. Laki-laki itu selalu mengatakan apapun yang ada di
dalam pikirannya, tanpa harus memikirkannya berulang. Tapi, kali ini terasa berbeda.

“Apa kau tidak berpikir, apakah dia juga memiliki seseorang diluar sana? Oh, atau mungkin, kini ia juga tengah berusaha membuntuti orang lain sama seperti..”

Laki-laki termuda mencoba menghentikan apa yang dikatakan Sandeul. Sebelum suasana menjadi lebih memanas. Baro menyeringai saat mendengar apa yang dikatakan laki-laki itu padanya. Ia kemudian meletakkan benda bundar yang ia genggam pada titik tengah lapangan dimana mereka berada. Ia lalu beranjak menuju dimana ranselnya berada dan mengambilnya.

“Maaf, aku harus pergi,” ucap Baro singkat. Kemudian ia melanjutkan langkah kakinya untuk meninggalkan tempat tersebut.

Baro berusaha menyembunyikan dirinya pada balik sebuah mobil. Ia tersenyum saat sosok seorang gadis kembali terlihat. Ya, Choi Ji Hyun. Senyumnya mengembang saat gadis itu memberikan senyumnya pada salah satu teman perempuannya. Ya, seperti kesehariannya sejak setahun yang lalu. Mengikuti dan hanya melihat dari jauh. Itu saja. Ya, ia hanya butuh itu saja.

“Ji Hyun-ah, kajja,” ucap salah seorang teman perempuan dari gadis tersebut. Gadis itu menggeleng perlahan dengan sebuah senyum tetap terlihat di wajahnya. Penolakan secara halus.

“Ani, hari ini aku akan dijemput,”

Teman perempuannya, Ji Soo Hyun, menatap gadis yang ada di hadapannya tak mengerti.

“Dijemput? Ya, apakah kau akan dijemput kekasihmu?” tanya Soo Hyun menggoda. Ji Hyun tersenyum kikuk saat temannya mengatakan hal tersebut.

“A-apa maksudmu? S-sudahlah kau pulang sana,”

Melihat reaksi sedikit berlebihan yang ditunjukkan Ji Hyun padanya, Soo Hyun hanya tertawa geli. Ia kemudian mengangguk dan akhirnya beranjak pergi.

Di lain tempat, Baro masih terdiam di tempatnya. Ia sama sekali tak bergeming. Ya, semua pembicaraan dapat terdengar olehnya, karena jarak yang tidak terlalu jauh antara dirinya juga gadis tersebut. Baro tersenyum masam, saat sebuah kata tengah mengganggunya.

‘Kekasih?’ ucapnya dalam hati. Setidaknya kalimat tersebut tak dapat ia lupakan kali ini. Apakah gadis itu telah dimiliki seseorang yang bahkan entah dimana sekarang?

“Oppa!”

Baro kembali memandangi gadis tersebut. Kini seorang laki-laki terlihat gagah dengan sebuah mobil sedan tengah mendekati gadis tersebut. Baro tertegun untuk beberapa saat, ketika gadis itu memeluk laki-laki tersebut.

“Bogoshippo,” imbuh gadis itu kegirangan. Laki-laki yang entah siapa namanya, meraih pucuk kepala gadis tersebut dan mengelusnya hingga gadis itu mengembangkan senyumnya. Ya, hal yang bahkan tak pernah Baro lihat sebelumnya. Baro masih terdiam di tempatnya, kegiatannya tetap yaitu hanya memperhatikan gadis itu dari kejauhan.

“Ayo kita pulang,” ucap laki-laki itu membawa gadis tersebut menuju dalam mobilnya. Untuk sesaat, laki-laki itu terdiam dan tiba-tiba menatap tepat dimana Baro tengah bersembunyi. Membuat Baro mati-matian untuk menyembunyikan dirinya. Ya, sekiranya laki-laki itu yang sadar akan kehadirannya.

Laki-laki tersebut sukses membuat Baro bersembunyi untuk beberapa menit lamanya, hingga hal terakhir yang dapat Baro lihat adalah saat mobil sedan mewah tersebut berjalan menjauh.

‘Apa itu kekasihmu, Ji Hyun?’

Kini, Choi Ji Hyun tengah melahap spaghetti miliknya. Ia berada di sebuah rumah makan setidaknya. Ya, dengan seorang laki-laki yang kini duduk bersebrangan dengan dirinya. Laki-laki itu hanya tersenyum dan terus memperhatikan gadis itu melahap spaghetti miliknya.

“Ada apa? Makanlah spaghetti milikmu oppa. Spaghettinya enak,” ucap Ji Hyun di sela sibuknya ia melahap spaghetti miliknya. Laki-laki itu hanya tertawa kecil, ia meraih sebuah tissue dan membersihkan salah satu ujung bibir Ji Hyun.

“Oppa, jangan seperti itu di tempat umum, semua orang akan mengiramu kau-”

“Apa? Kekasihmu? Itu bagus bukan?” ucap laki-laki itu memotong. Dan sebuah cubitan berhasil diberikan Ji Hyun pada tangan laki-laki tersebut. Laki-laki tersebut hanya tertawa kecil menahan rasa sakit. Laki-laki itu Kim Seok Jin. Salah satu sepupu Choi Ji Hyun. Mereka memang sangat dekat, meski mereka hanya sebatas saudara sepupu.

“Oppa, kenapa kau mengunjungi dahulu? Apa kau sudah pulang ke rumah eoh?”

“Mungkin aku akan berada di Seoul beberapa hari saja, setelahnya aku akan kembali ke Amerika. Jadi aku mngunjungi dulu,” ucap pria itu seraya meminum minuman miliknya. Ji Hyun mengangguk mengerti. Kemudian ia melanjutkan kegiatannya.

“Ji Hyun-ah, apa kau tidak merasa kau sedang diikuti?” tanya laki-laki itu tiba-tiba. Ji Hyun menghentikan kegiatannya dan menatap laki-laki itu sedikit heran.

“Kenapa?”

“Hanya menebak. Kukira, seseorang memperhatikan kita saat aku menjemputmu. Kau harus berhati-hati, bisa saja seorang pria hidung belang mengikutimu selama ini,”

Choi Ji Hyun dapat merasakan bulu kuduknya merinding seketika.

“Y-ya! Jangan menakutiku! T-tak mungkin orang itu adalah pria hidung belang–” Ji Hyun menutup mulutnya saat ia yakin bahwa ia baru saja mengatakan hal yang salah. Laki-laki itu menatapnya serius kali ini. Ia menunggu kelanjutan kalimat dari gadis yang ada di hadapannya. Namun, Ji Hyun berlaga bahwa ia tak melakukan kesalahan apapun dan kembali melahap spaghettinya.

“Ji Hyun-ah, kau tahu bahwa selama ini kau dibuntuti kan? Apa kau tahu siapa orangnya?” ucap laki-laki itu seriys kali ini. Ji Hyun hanya menundukkan kepalanya. Ia tak tahu jawaban apa yang akan diberikan. Ya, ia tak mau laki-laki yang berada di hadapannya cemas karenanya. Ia yakin, orang yang membuntutinya bukanlah orang jahat. Ya, setidaknya itu yang ia rasakan sampai detik ini.

“Ji Hyun-ah–”

“Oppa, gantungan ponselku. Apa kau melihatnya?” ucap Ji Hyun tiba-tiba. Ji Hyun memperlihatkan ponsel miliknya pada laki-laki di hadspannya. Laki-laki itu hanya membuang nafasnya kalah. Sebuah pengalihan rupanya.

“Oppa, aku serius. Kau ingat dengan gantungan ponsel yang kau berikan saat itu? Aku kira gantungan itu hilang,”

Ji Hyun merogoh isi tas miliknya. Mengeluarkan beberapa barang yang ada di dalam tas tersebut. Wajahnya cemas, setidaknya barang kesayangannya tidak ia temukan. Kemudian ia menatap laki-laki yang ada di hadapanbya sedikit memelas.

“Ayolah oppa, kita kembali ke sekolah. Aku ingin mencari gantungan ponsel milikku. Bisakah?”

“Sudahlah, aku akan membelikanklmu yang baru, jadi–”

“Oppa! Itu barang kesayangan milikku! Aku mau kita menemukannya,” ucap Ji Hyun memotong. Wajahnya kali ini serius. Seok Jin paham gadis yang berada di hadapannya tak mudah untuk dibujuk. Ia hanya berdehem menanggapi apa yang dilakukan gadis di hadapannya tersebut.

“Ji Hyun-ah, kau sudah dewasa. Jangan merengek seperti itu. Aku janji pada ibumu untuk membawamu pulang setelah kita makan. Jadi, lupakan barang itu, aku akan membelikanmu yang baru,” papar laki-laki itu tenang. Ji Hyun terdiam seketika saat ia mengatakan hal tersebut. Ya, tak jauh berbeda untuk beberapa tahun yang lalu. Gadis yang manja sama seperti dulu.

‘Kapan kau akan berubah Ji Hyun-ah?’ ucap laki-laki itu dalam hati. Ada sedikit rasa menyesal saat gadis itu merespon apa yang dikatakannya. Tapi, itu memang harus dilakukan paling tidak. Ia tak mau gadis di hadapannya menjadi gadis yang manja selamanya.

“Ji Hyun–”

Belum habis apa yang dikatakan Seok Jin, Ji Hyun meninggalkannya dan memasuki rumahnya tanpa sepatah katapun. Ya, seperti biasa, ia marah dengan apa yang telah ia katakan pada gadis itu tadi. Bahkan di sepanjang perjalanan, gadis itu tak mengucapkan satu katapun.

“Baiklah,” ucap laki-laki itu memasuki mobilnya. Ia tersenyum tipis. Ya, setidaknya ia bisa membayar kesalahannya dengan menemukan gantungan ponsel milik gadis itu. Tapi niatnya ia urungkan, saat sosok seorang laki-laki mencuri perhatiannya. Ya, seorang laki-laki yang tengah membawa sesuatu di tangan kanannya dan berjalan menuju rumah Ji Hyun.

Seok Jin berusaha menyembunyikan dirinya dan tetap memperhatikan laki-laki asing tersebut. Kini, laki-laki asing tersebut berjalan mendekati pintu rumah Ji Hyun. Bukan mengetuk, laki-laki asing itu malah memandangi pintu rumah Ji Hyun tanpa mengetuknya.

Untuk beberapa menit kemudian, ia lantas meletakkan sesuatu tepat di depan pintu rumah Ji Hyun dan berjalan pergi. Seok Jin memutuskan keluar dari mobilnya dan melihat apa yang telah diletakkan laki-laki asing itu barusan.

“Ini?”

Seok Jin meraih benda tersebut. Ya, sebuah gantungan boneka yang pernah ia berikan pada Ji Hyun setahun yang lalu. Benar, sebuah gantungan yang mana gadis itu cari.

“Jangan-jangan–”

Seok Jin beranjak dari tempat dimana ia berada. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok laki-laki asing itu. Seok Jin yakin, laki-laki asing tersebut adalah orang yang memperhatikannya juga Ji Hyun saat di sekolah.

“Tunggu!” ucapnya setengah berteriak pada laki-laki yang tengah berjalan menjauh. Laki-laki asing itu membalikkan tubuhnya, tapi kemudian ia berlari setelah melihat wajah Seok Jin. Seok Jin mempercepat langkahnya tapi gagal. Ya, sebuah traffic light yang terasa tiba-tiba menghentikan langkahnya.

“Ya, dia yang membuntuti Ji Hyun selama ini,”
“Apa aku terlihat seperti eomma-mu?” imbuhnya dengan kekehan kecil. Ya, Choi Ji Hyun tengah berdiri di hadapannya. Baro tersenyum gugup. Ya, bak sebuah mimpi, gadis itu berada di hadapannya sekarang.

‘Tuhan, apakah ini mimpi?’

“Oppa, bagaimana demammu?”

“B-baik. M-maksudku sudah membaik,” ucap Baro sedikit terbata. Ji Hyun yang mendengarnya hanya terkekeh kecil. Ia kembali mengaduk sup buatannya. Ya, ia sengaja pergi ke supermarket untuk membeli beberapa bahan sup. Setidaknya hal itu adalah sebuah bentuk tanda terima kasih darinya.

“Jjang! Supnya sudah matang,” ucap Ji Hyun kegirangan. Ia membawa sebuah panci berukuran sedang di atas meja. Ia menuangkan beberapa sendok pada sebuah mangkuk yang ia berikan pada Baro.

“T-terima kasih,” ucap Baro yang terlihat masih saja gugup. Ji Hyun mengangguk pelan. Ia kemudian menduduki sebuah bangku tepat di hadapan Baro. Ya, sebuah tempat yang tepat untuknya juga Baro berbicara bukan?

“Oppa, maaf karena mengantarku, kau terkena demam,”

“A-ah tidak, hanya sedikit demam. Ini, bukan karenamu, iya. A-aku serius,” ucap laki-laki itu yang ingin menunjukkan bahwa ini bukan kesalahan gadis itu sepenuhnya. Ji Hyun yang masih berada di posisinya tersenyum tipis.

“Bagaimana kau tahu rumahku?”

“Ah, aku bertanya pada temanmu kemarin. Mereka bilang kau sakit, jadi…”

“M-mwo?!” ucap laki-laki itu sedikit tersedak. Bukan, tersedak sangat luar biasa. Kuah sup masuk dalam saluran pernapasannya secara paksa. Dan bau jahe terasa sangat menyengat.

Ya, setidaknya ia takut bila temannya menceritakan aibnya terhadap gadis itu. Ya, mungkin saja, karena seorang teman bisa saja membantunya dengan cara yang salah. Andwae! Jangan sampai.

“G-gwenchanayo? Ish, oppa, kau harus hati-hati,”

Ji Hyun beranjak dari bangkunya dan meraih sebuah kain yang berada tak jauh darinya. Ia berjalan menuju Baro dan membantu laki-laki itu membersihkan sisa sup di bajunya. Baro yakin, jantungnya lepas kendali sekarang. Ia menyingkirkan tangan Ji Hyun sedikit errr kasar, karena degup jantungnya tak terkendali. Ia meraih sebuah gelas yang terisi air dan meneguknya cepat.

Ji Hyun masih terlihat khawatir. Ia meraih dahi Baro. Setidaknya suhu tubuh laki-laki itu meningkat akibat kedatangannya yang tiba-tiba. Ji Hyun yang tak mengetahui hal tersebut, tetlihat lebih khawatir sekarang.

“Oppa, kau harus istirahat sekarang. Demammu memburuk,”

“T-tidak, aku baik-baik saja,” ucap Baro berkilah. Ia melambaikan kedua tangannya sebagai alat bahwa ia benar baik-baik saja, tapi berbeda dengan Ji Hyun. Ya, menurutnya laki-laki tersebut terkena demam karenanya, jadi ini adalah tanggung jawabnya.

Ia menggelengkan kepalanya tegas. Ya, sebuah penolakan keras. Nyatanya ia memiliki keteguhan hati yang keras dari apapun. Dan Baro, adalah sebuah saksi dari keteguhan hati gadis tersebut. Ia merasa kalah, hingga ia menuruti apa yang dikatakan gadis itu padanya.

“Oppa, buka mulutmu, ini suapan terakhir,” ucap Ji Hyun dengan sebuah sendok penuh sup di atasnya. Baro hanya menurut saja. Ia sungguh menghindari kontak mata dengan gadis itu.

“Dimana ibu oppa? Oppa sendirian?”

“Ah, i-iya. Dia ada urusan di Gangnam,”

Ji Hyun mengangguk mengerti. Ia meletakkan seperangkat alat makan pada meja di seberang. Ia tersenyum lebar saat ia Baro menatapnya.

“Oppa, sekarang kau bisa tidur,” ucapnya berjalan menuju sebuah bantal yang menjadi sandaran Baro untuk duduk. Ia menatanya tanpa izin si empunya. Ji Hyun sedikit terkejut, saat sekiranya tangan kanannya telah menyentuh sesuatu, kemudian gadis itu meraihnya. Ia sangat terkejut saat tahu bahwa benda itu adalah dompet miliknya yang hilang setahun yang lalu. Ia terdiam, ia yakin, ia terlihat seperti seorang pencopet sekarang.

“O-oppa, ini? Dompetku kan?”

“Ah maaf Ji Hyun-ah. A-aku tidak bermaksud menyembunyikannya atau mencurinya, h-hanya saja–‘

.
.
.
.
.
.
“Hyung, apa kau yakin ini rumahnya?”

“Ya, ini sama seperti apa yang ditulis di kartu tanda pengenalnya,” ucap pria bertubuh tinggi dengan kacamata yang dibenahi beberapa kali. Laki-laki bertopi kemudian melangkahkan kakinya menuju rumah yang berada di hadapannya, tapi niatnya ia urungkan saat seseorang membuka pintu rumah tersebut.

“Baro-ah, berikan dompetnya,” ucap pria bertubuh tinggi tersebut setengah berbisik. Ya, mereka berada pada seberang jalan dimana rumah itu berada. Baro terdiam, sebelah tangannya tengah menyembunyikan sebuah dompet bewarna hijau di balik punggungnya.

Ya, seorang gadis tengah berjalan keluar dari rumah tersebut. Gadis itu melambaikan tangannya pada salah seorang gadis lain yang berjalan menuju dirinya. Senyum mengembang indah terlihat di paras cantiknya, rambut hitam yang terlihat lembut bergoyang saat angin menyapanya. Baro tetap terdiam, seakan tak mau kehilangan sedetik pun apa yang ia lihat. Hingga gadis tu menghilang perlahan.

“Ya, Baro ah!” ucap laki-laki bertubuh tinggi dengan nada tinggi. Tak lupa, sebuah jitakan diluncurkan untuk dongsaengnya tersebut. Si laki-laki muda merasa kesakitan, ia tersenyum kikuk. Ia mengelus ujung kepalanya.

“Kapan kau akan mengembalikannya eoh?!”

“H-hyung, kau tahu bagaimana dia bukan? Dan kau tahu bagaimana aku bertindak?”

Laki-laki bertubuh tinggi menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Ia masih belum mengerti.

“Kau tahu, aku menyukai gadis itu. Dia cantik. Dia berbeda,” ucapnya dengan bersungguh-sungguh. Laki-laki berkacamata tersebut masih memandangnya tak mengerti.

“She’s my beautiful target!” ucapnya setengah berteriak. Ia kelihatan lebih riang kini. Ia juga mengelus dompet bewarna hijau tersebut.
.
.
.
.
.
.
“M-maksudku, dari awal aku tidak bisa berhadapan denganmu. K-kadang aku bertindak tolol bukan, j-jadi…”

Ji Hyun masih berada di posisinya, menunggu kelanjutan cerita dari laki-laki itu. Baro membuang nafasnya frustasi. Ia kehabisan akal. Ya kini ia harus memberitahu aibnya sekarang.

“A-aku menyukaimu. J-jadi aku tidak memiliki keberanian untuk memberikannya untukmu. T-tapi..”

“Lalu kau membuntutiku kemanapun aku pergi, juga meminta Jinyoung oppa untuk memberikan barang-barang berbau magis?”

Mata Baro membulat sempurna mendengar apa yang dikatakan gadis itu padanya. Bagaimana gadis itu bisa mengetahui hal sedetail itu. Gadis tersebut tersenyum hingga sebuah tawa terdengar dari bibirnya. Ia mencoba menahan tawanya, ia tidak ingin berniat buruk.

Ji Hyun mendudukkan dirinya pada tepi ranjang laki-laki itu. Ia tersenyum lebar.

“Oppa, kau tahu, satu-satunya barang pemberianmu yang aku simpan, adalah bouquet bunga. Dan nyatanya, semua barang berbau magis tak ada pengaruhnya. Ji Soo Hyun, adalah korbanmu, dan tak ada respon apapun atas barangmu,”

Senyum Ji Hyun menghilang perlahan saat ekspresi Baro berubah. Ya, ada rasa malu dan kecewa di matamya. Ji Hyun membuang nafasnya sebentar. Ia tahu, ekspresinya berlebihan kali ini. Tapi, bukan ekspresi itu yang ia inginkan.

“Apa mereka yang memberitahumu tentang ini semua?”

Ji Hyun mengangguk perlahan. Baro masih tak beranjak dari tempatnya. Wajahnya masih terlihat sama seperti sebelumnya. Hingga sebuah kecupan Ji Hyun berikan tepat pada salah satu pipi laki-laki itu. Membuat ekspresi Baro berubah drastis.

“Oppa, jika kau menunjukkan keberadaanmu setahun yang lalu. Jika kau menunjukkan bagaimana rasa sukamu padaku..”

Ji Hyun, tersenyum tipis. Ada rona merah di kedua pipinya.

“Membuntutiku adalah hal yang paling kusuka darimu. Oppa, aku menyukaimu,”

Baro terlonjak kaget kini. Hingga ia yakin kini ia tak bisa menutup mulutnya dengan sempurna.

“T-tapi, bagaimana dengan kekasihmu?”

“Kekasih?” ucap Ji Hyun sedikit tidak mengerti. Namun, sesegera mungku, sebuah senyum terkembang di wajahnya.

“Kau maksud Kin Seok Jin oppa? Dia adalah sepupuku. Kami tak ada hubungan yang lain selain itu,” imbuh gadis itu. Hal tersebut di sambut baik oleh Baro. Ya, sebuah senyum terlihat di wajahnya saat ini. Ada rasa senang yang tak bisa ia gambarkan sekarang. Ji Hyun beranjak dari dimana ia duduk. Ia membungkuk sebentar, lalu senyum di bibirnya mengembang sekali lagi.

“Oppa, istirahatlah yang cukup. Lalu, aku ingin kau membuntutiku lagi,” ucapnya dengan kekehan kecil. Baro tersenyum lebar mendengarnya, hingga anggukan kepalanya ia tunjukkan.

“Aku pulang dahulu. Anyeong!” ucap gadis itu riang. Ia melambaikan tangannya dan melangkah dari kamar laki-laki itu.

Baro melemparkan tubuhnya di ranjang miliknya. Senyum di wajahnya mengembang dan tak pernah hilang dari wajahnya. Kini, ia bisa tidur dengan senyum di wajahnya mulai sekarng.

Ji Hyun melangkahkan kakinya menuju sekolah dituju. Hari ini, ia terlihat berbeda dari hari-hari biasanya. Ia menghentikan langkahnya saat langkah miliknya terdengar ganda. Ia tersenyum lebar.

“Ya, Baro oppa, keluar dari sana eoh?”

Seorang laki-laki berjalan dari balik bangunannya. Ia tersenyum konyol. Ia menggaruk sisi belakang kepalanya yang terasa gatal.

Ji Hyun tersenyum lebar. Ia melambaikan tangannya pada laki-laki itu. Ia kemudian berlari menuju laki-laki itu.

“Oppa, akhirnya kau kembali membuntutiku,”

“Ya, ini karenamu,”

Ji Hyun tertawa kecil mendengarnya. Salah satu lengannya ia kaitkan pada lengan laki-laki itu. Ia mempererat kaitan lengannya. Baro sedikit merasa canggung akan hal itu. tapi ia berusaha mati-matian menyembunyikannya.

“Sekarang, kau harus membuntutiku tiap harinya, dengan memperlihatkan siapa dirimu. Otteh?”

Baro terkekeh mendengarnya, ia mengangguk kecil. Ji hyun mengangguk saat mendengarnya. ya, ia puas dengan jawaban laki-laki itu.

“Jadi, kau tidak membutuhkan oppa-mu ini?” ucap seorang laki-laki yang datang tiba-tiba. Ia kini menatap Baro juga Ji Hyun intens. Juga pada kaitan lengan yang dilakukan Ji Hyun terhadap laki-laki yang ada di sampingnya tersebut.

Baro yang bertemu secara langsung dengan laki-laki yang dulu hampir menangkap basah dirinya, tersenyum canggung. Ya, kini ia benar-benar telah tertangkap basah paling tidak.

“Oppa? Kau bilang kau akan kembali ke Amerika. Kau berbohong?”

Kim Seok Jin terkekeh melihat ekspresi keduanya.

“Benar, hari ini aku akan kembali. Ya! Kau!” ucapnya menunjuk Baro. Baro terdiam.

“Jagalah saudara sepupuku dengan baik,” imbuhnya. Baro dapat bernafas lega kali ini. Ia menganggukkan kepalanya perlahan sebagai pernyataan ya darinya. Kemudian keduanya saling tersenyum satu sama lain.

“Baiklah oppa, hati-hati dijalan ne? Baro oppa, ayo kita berangkat. Kajja kajja!” ucap gadis itu menarik lengan Baro agar laki-laki itu berjalan menyampinginya. Tak lupa, ia melambaikan tangannya pada saudsra sepupunya tersebut.

Ya, kini tk ada lagi membuntuti dengan sembunyi-sembunyi, tak ada lagi hal-hal magis yang membuatnya terlihat seperti orang bodoh, yang ada hanya sepasang kekasih baru yang mencoba untuk mengenal satu sama lain sekarang.

Baro tersenyum lebar memandang gadis yang ada di sampingnya tersebut. Ya, bak sebuah mimpi. Bukan, ini bukan hanya sebuah mimpi. Melainkan sebuah mimpi yang memang terwujud hanya untuknya.

-Fin-

Advertisements

2 thoughts on “Beautiful Target 2

    1. Annyeong Rania, hahaha iya ini ff temenku disitu ada kim seok jin juga versi baru ini beautiful targetnya, yg lama juga ada karya saya tapi udah lama banget.
      gomawo udah baca baca ff disini
      Saranghae readers :*

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s