Drama · One Shoot · PG · Romance · School Life

Especially For You


Author: Tsara Shofura

Cast: Lee Jonghyun (CN-Blue)

Choi Juniel

Title: Especially For You

 

 

 

 

 

 

Seorang gadis tengah melangkah di koridor gedung sekolahnya dengan santai. Terlihat lemas kiranya, mengingat ia terlalu pagi untuk datang ke sekolahnya. Tapi sebuahsenyum tiba-tiba terukir di wajahnya saat ia melihat sebuah ruang dimana ia biasanya mengenyam ilmu. Ya, ia mendapati seorang pria tengah duduk di tempat duduknya dengan sebuah buku non fiksi di tangannya. gadis itu memepercepat langkahnya agar iasampai di ruangan tersebut.

 

“Jonghyun-ah!” teriak gadis itu mencoba mengagetkan. Pria itu hanya tersenyum saatmelihat apa yang dilakukan gadisnya. Sedikit kecewa kiranya saat ia melihat reaksikekasihnya tersebut. Sebuah langkah berat ia ambil untuk sampai pada bangku yangbiasa ia duduki tiap paginya. Sebuah bangku yang sangat dekat dengan keasihnya tersebut. Gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal.

 

“Selamat pagi. Sekarang kau terlihat rajin untuk datang ke sekolah hm?” ucap pria ituseraya meraih pucuk kepala gadisnya dan mengelusnya perlahan. Semu merah nampak di wajah gadis mungil itu. Ia menata rambutnya yang sedikit berantaman karena elusan kekasihnya tersebut.

 

 

“Kau menjengkelkan. kau tahu itu?” imbuh gadis mungil itu. Sebut saja dia Juniel. ya, Bukankah gemas melihat sepasang kekasih yang masih duduk di bangku sekolah? Bukan. Mereka tidak menjalin sebuah hubungan khusus seperti kebanyakan. Tak ada satupun yang mengatakan, ‘aku menyukaimu’ atau cuma sekedar mengatakan ‘kau mau jadi kekasihku?’. Tapi bagi Juniel, Jonghyun adalah kekasihnya. Menghabiskan waktu bersama, saling percaya, kau tahu bagaimana sepasang kekasih menjalin hubungan bukan? Ya, itu yang dilakukan Juniel dan Jonghyun satu sama lain. Itu sudah cukup dari sebuah pengakuan kalau mereka menjalin sebuah hubungan lebih dari hubungan pertemanan.

 

“Ya, kau akan pergi ke karnaval lusa? Aku ingin pergi kesana,” ucap Juniel bersemangat. Ia menunggu jawaban pria yang kini duduk di hadapannya. Matanya berbinar seolah menagih sebuah jawaban iya dari pria itu. Beberapa detik berlalu dan pria itu sama sekali tak bergeming.

 

Oke. Apa yang ia baca kali ini? Apakah buku itu lebih mencuri perhatian Jonghyun daripada gadis yang menunggu jawaban ‘ya’. Juniel mulai malas. Nafas berat ia sengaja buang dengan jelas.

 

Jonghyun tertawa lepas dengan apa yang dilakukan gadisnya itu. Ia menutup bukunya sejenak. Ia mendekatkan wajahnya pada gadis yang ada di depannya tersebut. Menghilangkan beberapa senti demi senti jarak diantara keduanya. Juniel menahan nafas yang mulai terasa sesak ingin dikeluarkan. Apa yang akan ia lakukan? Sejenak Juniel memikirkan hal-hal yang mulai mengusik dalam pikirannya.

 

 

“Apa ini sebuah ajakan kencan?” ucap Jonghyun santai. Ia masih menyunggingkan senyum terbaiknya. Juniel mengangguk cepat. Ia bahkan tak berani menatap mata pria itu.

 

“Baiklah, akan aku pikirkan nanti,” ucap pria itu seraya menjauhkan wajahnya dari wajah Juniel. Sebuah nafas yang terdengar sangat lega keluar dari bibir mungil Juniel. sungguh, sebenarnya apa yang dipikirkan pria itu kini.

 

“Sebaiknya kau melihat bagaimana wajahmu sekarang. Kukira kau butuh cermin,” ucapJonghyun dengan seringaian miliknya. Matanya sempat menatap gadis itu sebentar lalu beralih kembali pada buku yang dari tadi ia bawa.

 

Juniel kelagapan. seketika ia mengambil cermin yang ada di sakunya.

 

“Omo!”

 

Benar saja, wajahnya merah akibat apa yang dilakukan Jonghyun tadi.

 

“Ini k-karenamu! A-aku akan ke t-toilet sebentar,” ucap gadis itu seraya mengambillangkah seribu menuju toilet terdekat. Ya, menyembunyikan wajah konyolnya kini sampai wajahnya kembali normal.

 

Jonghyun melihatnya dari jauh. Ia tersenyum lebar dengan tingkah Juniel barusan.

 

 

“Bosan…”

 

Rasanya gadis mungil itu ingin cepat-cepat menutup matanya dan pergi ke alam mimpi.Bagaimana tidak, pelajaran matematika selalu membuatnya mati kebosanan. Pelajaran yang menurutnya susah ini, dengan seorang pengajar (yang katanya) telah mengenyam studi di luar negeri, membuatnya ingin keluar dari kelas dari kelas secepatnya. Pengajar matematika yang satu ini menurutnya matematika adalah hidup yang harus diprioritaskan, sehingga semua murid harus mengikuti pelajarannya tanpa suatu suara apapun. Sayangnya, Juniel tidak setuju dengan itu semua.

 

Juniel menutup buku catatan miliknya perlahan, berharap si pengajar tidak mengetahui aksinya. Ucapan demi ucapan yang dikatakan si pengajar terkesan enggan untuk hinggap di otaknya saat ini.

 

Juniel menguap. Tunggu..

 

Juniel sangat tahu kalau kekasihnya juga tidak menyukai matematika sama sepertinya.ia mencuri pandang, setidaknya ia juga berhati-hati dengan si pengajar. Ia tak mau kalaugurunya memarahinya hanya karena hal sepeleh.

 

Juniel menahan tawanya saat ia mendapati kekasihnya tengah tertidur dengan posisiyang entah nyaman dan ditutupi dengan buku berukuran lumayan besar, sengaja pria ituberdirikan agar gurunya tidak mengetahuinya.

 

Sedikit merasa iba dengan apa yang dilakukan prianya itu. Jonghyun adalah orang yangpintar menurutnya. Hanya saja ia tak menyukai cara mengajar si pengajar tersebut.Terlalu bertele-tele dengan apa yang dijelaskan.

 

Juniel mengambil secarik kertas bewarna merah jambu. Ya, sebuah lembaran yang diberikan seseorang kemarin. Sebuah pemberitahuan tentang karnaval yang akan digelar di tengah kota untuk menyambut hari valentine. Juniel mengelusnya perlahan. Ya, hari valentine pertama yang akan ia jalani bersama kekasihnya, Jonghyun.

 

‘apa yang akan aku berikan padanya…’

 

‘cokelat? atau apa…’

 

Pikiran Juniel melayang sesaat. Bagaimana tidak, ia sangat antusias dengan datangnya hari valentine. Mungkin beberapa orang menganggap bahwa valentine adalah hal yang tidak penting untuk dirayakan dan hanya orang-oang naive saja yang akan merayakanhari tersebut. Tapi tidak untuk Juniel, menurutnya hari valentine adalah salah satumomentum yang bisa dirayakan oleh siapa saja untuk sekedar diingat oleh sepasangkekasih.

 

 

Juniel menatap kekasihnya yang masih terlelap di tengah bisingnya penjelasan guru matematika tercinta mereka. Ia tak bisa mengerti bagaimana bisa seseorang tidur selelap itu di tengah kebisingin. Seketika Juniel tersenyum, kiranya sebuah ide muncul di dalam pikirannya. Ia membalik kertas merah jambu itu, menjadi sebuah kertas putih bersih. Iamenuliskan sesuatu pada kertas tersebut. Ia meremas kertas tersebut menjadi sebuahbola kertas berukuran kecil. Juniel bersiap dan akhirnya..

 

‘bukk’

 

Bola kertas tersebut berhasil mengenai pucuk kepala Jonghyun.

 

“Ya!” Jonghyun berdiri dari bangkunya dengan mata yang berat. Semua siswa menatapnya kebingungan. Tak luput si guru.

 

“Tuan Kim, apa anda membentakku? Jika anda tidak menyukai pelajaran ini, silakan anda keluar,” ucap sang guru geram. Jonghyun membungkukkan kepalanya menyesal.Ia menatap Juniel yang sedang terkekeh. Baikah gadis itu menjahilinya kali ini.Jonghyun hanya tersenyum simpil mengambil bola kertas tersebut dan keluar dari kelas. Sungguh, apa yang dipikiran gais itu sekarang? Mengganggu tidurnya, atau sengaja untuk membuatnya keluar dari kelas. Senyum Jonghyun mengembamg tiap ia mengingat gadis itu.

 

Ia membuka bola kertas itu, nampak jelas kertas kusut bewarna merah jambu itu denganpemberitahuan dibukanya karnaval untuk memperingati datangnya hari valentine. Iaterkekeh. Ia membalik kertas merah jambu tersebut.

 

Ia menahan tawanya saat membaca tulisan bewarna biru di lembar bewarna putih tersebut.

 

 

‘Ya! Sleepyhead! Jangan lupa, kau harus datang lusa!’

 

 

Juniel melirik isi dompet yang ia genggam dari rumah. Beberapa won kiranya. Apa yangharus ia beli sekarang? Sebuah cokelat? Atau beberapa cokelat? Ia yakin Jonghyunsudah pernah mencoba semua jenis cokelat yang ada di etalase supermarket ini. Lalu apa yang akan membuat hadiahnya berbeda dengan cokelat yang ada di etalase ini.

 

‘Oh, cokelat bermerek buatan luar negeri?’

 

Ia tertawa. Tak mungkin baginya untuk membeli barang tersebut. Selain harga yangselangit, pengiriman juga menghabisan waktu yang lama. Oke, itu pilihan konyol.mengingat jadwal bertemu adalah besok.

 

Juniel melanjutkan langkahnya menuju etalase selanjutnya. Baiklah apa yang akan ia beli. Kue cokelat? tidak.

 

Tiba-tiba mata Juniel tertuju pada sebuah produk cokelat block.

 

Ia tersenyum. Baiklah sebuah ide lain sekali lagi hinggap di otaknya kali ini.

 

“Cokelat buatan sendiri, kenapa tidak?”

 

Juniel berlari mengambil sebuah trolly di tempat pertama ia berpijak di supermarket tersebut. Ia mendorongnya menuju bebetapa etalase yang menyediakan beberapa bahan untuk membuat cokelat yang mana akan diberikan untuk Jonghyun seorang. Ia berharap Jonghyun akan menyukai hadiah pertama yang ia berikan padanya di hari valentine. . . .Kini Juniel telah sampai di rumahnya. celemek bewarna kuning menghiasi tubuhnya. Iajuga tak lupa mengikat rambut panjangnya ke atas.

 

“Baiklah, mulai dari mana sekarang?” Juniel menggigit bibir bawahnya. Hal terburuk adalah ia tak pernah membuat cokelat atau bahkan memasak sekali pun. Ini haripertamanya di dapur untuk membuat sesuatu.

 

“Oke Juniel, kau lupa dengan resep,” Juniel memukul jidatnya. Konyol rasanya iamembeli beberapa bahan untuk membuat cokelat tanpa tahu apa yang akan dia buat.

 

“Juniel-ah, sedang apa kau di sini?”

 

Seorang wanita dengan pakaian tidur tengah berdiri di hadapan Juniel. Sedikit herankiranya, mengingat ini terlalu larut untuk berada di dapur dengan sebuah celemek.

 

“Kau tidak memasak kan?” ucap wanita itu. Ia mengernyitkan dahi sejenak. Ia hampirmengira kalau ia masih terlelap dan ini adalah salah satu dari mimpinya. Ia tahu bahkansangat paham bahwa Juniel bukann tipe seorang gadis yang suka menghabiskan waktunya di dapur.

 

“hehe.. aku akan membuat cokelat. Eomma bantulah aku ini yang tidak pernah menjajakan kakiku di dapur,” ucap Juniel setengah memohon. Ia memasang wajah sekasihan mungkin agar ibunya mau membantunya.

 

“Oh, untuk valentine? Haha anak eomma sudah besar ternyata. Baiklah,” tak ada pertimbangan lain yang harus dipikirkan. Ia tahu betul bahwa valrntine adalah ajang saling memberi cokelat untuk orang yang disayang. Ia tak harus bertanya siapa yangakan mendapatkan cokelat buatan anaknya tersebut. Ya, itu pasti Jonghyun. Juniel tak pernah bosan untuk menceritakan semua hal tentang pria yang satu itu.

 

 

Juniel melangkahkan kakinya setengah berlari. Sekiranya ia agak terlambat untukmemenuhi janjinya dengan Jonghyun kali ini. Ya, ia menghabiskan terlalu banyakwaktu untuk berdandan. Ia berharap Jonghyun akan terkesan dengan penampilan yang ia buat khusus di momen ini. Ia menggenggam sebuah kantong bewarna ungu. Ia menjaga agar kantong tersebit tak lepas dari tangannya.

 

Senyumnya menghilang saat ia tak menangkap sosok pria itu. Ia membuang nafasnyaperlahan karena kelelahan. Pria itu bisa saja datang dua kali lebih terlambat darinya.Tapi tak apa, mungkin saja pria itu srdang sibuk dan sekarang berada di perjalanan untuk menemuinya disini.

 

Juniel mengintip isi kantong ia bawa dari rumah tadi. Sebuah kotak yang ia bungkus rapi. Ya, cokelat buatannya. Bukan murni buatannya, beberapa persen adalah bantuan ibunya. Ia tersenyum. Ia membayangkan bagaimana reaksinya saat ia memberikancokelat ini untuk Jonghyun. mengingat cokelat tetsebut adalah cokelat pertama yang iabuat.

 

‘apa dia menyukainya?’

 

‘bagaimana reaksinya?’

 

Untuk beberapa saat ia menghabiskan waktu untuk mengkhayal bagaimana Jonghyunmerespon cokelat pemberiannya.

 

Baiklah, hampir setengah jam ia menunggu kedatangan Jonghyun. Ia mulai kebosannsekarang. Juniel mengambil ponsel miliknya, apa ia harus menelponnya?

 

Ia memasukkan kembali ponsel miliknya. Ia mengurungkan niatnya untuk menghubunhipria itu. Baginya, Jonghyun bukanlah tipe yang akan melupakan janjinya. Jika iamemang tidak bisa memenuhi janjinya, pastilah pria itu menghubunginya sejak satu jamyang lalu.

 

Mata Juniel melihat keadaan sekitar. Ia tersenyum tipis. Sedikit iri kiranya saat iamelihat beberapa pasang kekasih bermesraan di hadapannya. Menurutnya, ia yang akanmembuat mereka iri nantinya saat Jonghyun datang. Ia tak kalah mesra juga tak kalahmanisnya dengan gadis-gadis yang berada di sana.

 

“Juniel-ah”

 

Mata Juniel mencari asal suara dan benar saja, pria itu akhirnya datang. Senyumnyamelebar saat pria itu berjalan mendekat. Juniel menyimpan kantong yang ia bawadibalik punggungnya, berharap pria itu akan terkejut saat ia memberikannya padaJonghyun.

 

“Maaf aku terlambat,” ucap pria itu singkat. Senyum pria itu melebar saat mereka begitudekat. Juniel membeku. Matanya tertuju pada beberapa kantong yang Jonghyun bawa.

 

“itu?”

 

“Oh ini, tadi di perjalanan beberapa teman memberiku ini,” ucap Jonghyun santai. Junielterdiam. Kantong-kantong tersebut pastilah berasal dari gadis-gadis yang menyukaiJonghyun. Di momen valentine, semua gadis akan memberikan cokelat untuk pria yangia sukai. Perwujudan sebagai sebuah pengakuan bahwa gadis tersebut menyukainya atausekedar sebagai simbol bahwa si pria menarik dibmata gadia tersebut. Juniel tak bodohtentang itu. Ia tahu betul bagaimana beberapa teman wanitanya sangat mnyukaiJonghyun. Ia bukan seorang pria yang suka tebar pesona, keramahannya sangat digilaisiswi-siswi di sekolahnya.

 

“Hey, kau tak apa?”

 

Jonghyun melambaikan tangannya di depan wajah Juniel. Karena Juniel tidak jufabergeming dari tempat ia berdiri. Juniel merasa kesal karena Jonghyun tetap menerimahadiah-hadish tersebut dari gadis yang bahkan ia tidak tahu. Tapi untuk apa iamenerimanya? Jonghyun seharusnya sadar bahwa ia cemburu. Dan gadis-gadis tersebuttelah membuatnya menunggu kehadiran Jonghyun selama setengah jam.

 

“Aku mau pulang,” ucap Juniel singkat yanpa menatap Jonghyun yang berada didepannya. Jonghyun sempat mengernyitkan dahinya. bingung dengan respon Juniel saatini.

 

“T-tapi kau bilang..”

 

“Apa kau tuli? aku mau pulang,” Juniel mulai melangkahkan kakinya pergi. Sungguh iaingin berteriak tepat di telinga Jonghyun, kenapa ia sangat bodoh hari ini. Sungguh iamalas untuk bertemu dengan Jonghyun sekarang.

 

“Aku antar kamu pulang ya?” Jonghyun berusaha menyamakan langkahnya denganJuniel. Juniel menghentikan langkahnya. Menatap Jonghyun dengan tatapan begitukesal. Ia melemparkan kantong yang ia bawa sedari tadi di hadapan Jonghyun.Jonghyun nampaknya terhenyak dengan tingkah Juniel. Kali ini ia memilih untuk diam.Ia tak mau, mereka menjadi tontonan orang banyak karena ini.

 

“Terima kasih untuk hari ini,” ucap Juniel dengan penuh penekanan. Ia melanjutkanlangkahnya pergi. Ia tak peduli Jonghyun akan mengejarnya atau merespon bagaimana.Ia benar-benar kesal.

 

“Terima kasih untuk valentine pertamaku yang gagal,” . . .

 

Juniel mendengus kesal saat seorang pria tengah menungguinya di depan kelas. Ya, iasudah muak. Dia tak mau bertemu dengan pria itu untuk saat ini. Ya, Jonghyun sangatmenyebalkan. Di saat, gadis itu dengan sepenuh hati untuk membuatnya, pria itu malahmendapatkan cokelat entah dari siapa. Juniel melanjutkan langkahnya cepat. Ia takmenghiraukan Jonghyun sama sekali. Ia tak peduli dengan pria itu sekarang. Jonghyunhanya terdiam. Ia masih terdiam di ujung pintu, melihat gadis itu dari kejauhan. iamembuang nafasnya perlahan dan mulai menduduki bangku dimana ia biasa duduk.sungguh, ia ingin mengatakan sesuatu pada gadisnya itu. Mungkin hanya sekedarmenyapa? Tapi tak mungkin. Sudah hampir dua minggu, Juniel tidak menegurnya.

 

Jonghyun mengambil buku partitur miliknya. Ia membalik beberapa lembar bukutersebut dan tersenyum saat salah satu lembar buku tersebut menampilkan sebuah lagukesukaannya. Bukan, bukan hanya dia yang suka , tetapi Juniel juga menyukainya.Dahulu, mereka sering menyanyikannya bersama di kelas seni. Dan mereka seringdijuluki pasangan duet yang serasi.

 

Jonghyun menatap Juniel yang masih tidak menoleh ke arahnya. Baiklah, ia tahu dan iamengaku salah dengan apa yang ia sudah lakukan. Karena ia terlambat, kencan merekajadi batal. Apa hanya karena ia terlambat saja? Konyol kiranya bila Juniel membatalkankencan mereka hanya karena ia terlambat.

 

Baiklah, apa yang harus ia lakukan untuk membayar kesalahannya kali ini. Jonghyunmenghirup nafasnya dan membuangnya perlahan. Baklah, ia kira ia harus meminta maaftentang apa yang telah ia perbuat.

 

Ia beranjak dari bangkunya dengan langkah pasti ia berjalan menuju dimana Junielsedang terdiam.

 

“A-aku..”

 

Belum sempat apa yang dikatakan oleh Jonghyun. Juniel mulai beranjak dari bangkunyasaat pria itu mulai bicara dan mulai berjalan pergi.

 

“Aku minta maaf tentang apa yang terjadi saat itu,” tambah Jonghyun yang tak mauJuniel meninggalkannya tanpa mendengar penjelasan miliknya. Juniel sempatmenghentikan langkahnya. Hal baik untuk Jonghyun, karena Juniel maumendengarkannya kali ini.

 

“Aku tahu karena terlambat, kau telah menungguku lama, j-jadi..”

 

“Hanya itu?” tanya Juniel tiba-tiba. Ia sama sekali tidak membalikkan tubuhnya untuksekedar menghadap ke lawan bicaranya. Suasana kelas begitu sepi. Ya, mengingatmereka memang selalu datang lebih awal dari siswa yang lain.

 

Jonghyun sedikit bingung. Apa yang dimaksud Juniel tadi? Apa ia memiliki lebih darisatu kesalahan? Lalu yang lain?

 

“A-ada yang lain?”

 

Kini Juniel membalikkan tubuhnya. Wajahnya nampak kesal. Tapi sungguh, wajah kesaltersebut lebih terkesan lucu untuk Jonghyun. Gadis itu mengerucutkan bibirnya geram.

 

“Kau memang tidak peka! Jonghyun bodoh!” ucap gadis itu seraya menginjak-injakubin dengan keras. Ia kembali melanjutan langkahnya, meninggalkan Jonghun sendiriuntuk kesekian kalinya.

 

—Jonghyun terlihat lemas sekarang. Kiranya setengah energinya hilang sudah. Apalagikesalahan yang ia telah perbuat. Bahkan Juniel tidak mau mendengarkan penjelasan daridirinya. Jonghyun mengambil ponsel miliknya yang sedari tadi ia kantungi. Ia mengetiksebuah nama disana. Ya ‘Juniel’. Apa ia harus mengirimkan sebuah pesan permintaanmaaf untuk gadis itu. Baiklah, itu bukan style Jonghyun sama sekali.

 

Jonghyun melipat kedua tangannya di atas meja kesayangan miliknya. Ia sekedarmeletakkan kepalanya di atas lipatan tersebut dan menutup kedua matanya. Ia lelah. Ya,lelah dengan pertengkaran yang bahkan ia tak tahu apa kesalahannya.

 

“Ya, Jonghyun-ah!”

 

Jonghyun sungguh malas mendengar suara pria yang satu ini. Ia merapatkan keduamatanya, sehingga semua orang yang melihatnya menganggap ia tertidur.

 

pria yang baru saja datang tersebut mengambil salah satu bangku dan ia dekatkandengan bangku Jongyun. lalu ia menduduki bangku tersebut.

 

“Sampai kapan kau akan berpura-pura tidur eo?” imbuh pria itu menunggu Jonghyununtuk menghentikan aksinya. Baiklah, kini Jonghyun merasa kalah.

 

“Sudahlah hyung, mau apa kau kemari?” Jonghyun mulai menatap pria yang dudukdekat dengannya. Ya, pria tersebut lebih tua darinya.

 

“Bagaimana kabarmu dengan Juniel?” pria itu kembali bertanya. Sebut saja pria ituJungvYong Hwa. Senior Jonghyun juga Juniel di sekolah yang sama. Pria itu adalahteman satu ‘band’ Jonghyun. Sungguh, meski ia pria, tapi ia terlalu banyak bicara.

 

“Ini karenamu, jika waktu itu kau tidak menelpon, aku tidak akan terlambat,”

 

“Ya! Aku sudah memberimu imbalan bukan? Kembalikan sini, jika kau masihmenyalahkanku,” ucap Yong Hwa membela diri.

 

Jonghyun masih terdiam. Ia tahu, ia tak akan pernah menang melawan hyung nya yangsatu ini.

 

“Berikan sesuatu untuknya. Sebagai tanda permintaan maaf,”

 

Jonghyun masih terdiam. Ia bahkan tak tahu apa yang ia harus ia berikan pada gadisnyaitu.

 

 

“Apa dia juga memakan cokelat pemberianku?” tambah pria yang lebih tua dariJonghyun trsebut. Jonghyun melirik temannya itu lalu tersenyum.

 

“Hyung, aku tahu kenapa ia begitu marah padaku,” ucapnya dengan senyum melebar.pria yang lebih itu sempat mengernyitkan dahi.

 

“Karena kau terlibat ke dalam ini semua. Aku mau kau membantuku sekarang,”

 

“Membantumu?” ucap Yong Hwa yang masih belum mengerti dengan apa yangdikatakan juniornya tersebut.

 

Jonghyun mengangguk cepat. Ia mendekatkan wajahnya pada pria yang lebih tuadarinya tersebut. Ia membisikkan sesuatu pada pria itu.

 

beberapa anggukan, beberapa senyum, juga beberapa kali pria itu sempat mengernyitkandahinya atas apa yang dikatakan Jonghyun.

 

“Bagaimana?”

 

“Baiklah, aku alan membantumu,” jawab Yong Hwa cepat. Jonghyun pun tersenyumpuas.

 

—Juniel menghirup nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Ia mencobauntuk mengumpulkan semua keberaniannya kini. Keberanian untuk memasuki ruangkesenian sekolahnya sendiri. Ya, ia lupa. Ia lupa untuk membawa buku catatan partiturmiliknya. Ia mengintip salah satu jendela yang berukuran sedang. Seorang pria tengahmenghafalkan nada-nada yang ditampilkan buku partitur bewarna biru miliknya. Ya, diaJonghyun. Sebenarnya apa yang pria itu lakukan? Tak ada test yang diberikan gurukesenian mereka untuk beberapa minggu ke depan. Pria itu selalu berada di ruangkesenian setiap istirahat sekolah maupun saat sekolah berakhir.

 

“Okay, aku harus masuk,” ucap Juniel meyakinkan diri. Ia memasuki tuang keseniantersebut. Untuk beberapa menit Jonghyun sempat menatap kearahnya. Bahkan keduamata mereka saling bertatap. Jonghyun tetsenyum tipis. Tapi tidak untuk Juniel. Ia samasekali tidak membalas senyum Jonghyun.

 

Gadis itu kembali berjalan untuk menemukan buku partitur miliknya dan ya, akhirnyabukunya dapat ia temukan. Juniel terdiam sejenak. Ia kembali menatap Jonghyun yangkini tak menoleh ke arahnya. Rindu kiranya.

 

Sudah tiga minggu kiranya, mereka tak saling berbicara satu sama lain. Entahlah.mungkin karena ego besar miliknya yang kini menguasai dirinya.

 

Juniel sempat membuka mulutnya. Tetapi ia menutupnya kembali. Sekiranya ia inginsedikit mengucapkan salam pada pria itu atau sekedar menanyakan keadaan pria itu.

 

Ingin rasanya gadis itu memeluk pria itu dari belakang dan menumpahkan semua rasarindunya pada pria itu. Tapi itu terlalu konyol.

 

Ia yang memulai unruk menjauhi Jonghyun, berharap Jonghyun akan menyesali apayang telah buat. Tetapi malah dia yang tidak tahan atas perang dingin ini.

 

Tidak. Juniel bukanlah orang yang mudah menyerah tentang apa yang baru saja iaputuskan. Jika memang pada akhirnya Jonghyun tidak menyesali apa yang telah ia buat,lalu bagaimana?

 

Ya, salah satunya adalah menghentikan juga mengakhiri hubungan mereka. Tapisanggupkah ia melakukannya?

 

“Hey, sedang apa kau di sana?”

 

Sekejap Juniel kembali di dunia nyatanya. Ia melihat ke arah pria yang tengah dudukdengan sebuah gitar di pangkuannya. Pria itu sekali lagi tersenyum saat mata merekakembali bertatap.

 

“Bukan urusanmu,” ucap Juniel kesal. Pria itu sekali lagi hanya tersenyum menyikapireaksi gadis itu.

 

“Kau akan pulang sendiri, atau kita..”

 

“Aku bisa pulang sendiri,” ucap Juniel memotong. Ia benar-benar dingin kali ini. Junielmulai melanjutkan langkahnya menuju bilik pintu.

 

Jonghyun yang sedari tadi memperhatikannya hanya tersenyum.

 

“Hati-hati di jalan,” ucap pria itu saat Juniel mulai berjalan jauh. Sebenarnya ia khawatirterhadap gadisnya itu. Tapi, saat ini ia masih belum bisa melakukan apapun. Gadis itumasih geram kiranya.

 

 

Juniel memandang papan yang ada di hadapannya. Baiklah apa yang dikatakan gurunyasekarang? Ia tak punya semangat untuk kali ini. Hampir sebulan. Ya, setidaknya besokadalah hari yang menggenapkan perang dinginnya dengan Jonghyun. Genap satu bulan!Dia gila? Bukan. Hanya egonya saja yang tak bisa ia kalahkan. Ia merindukan pria itusangat. Sebulan lebih dari kata lama untuknya. Ini terlalu lama.

 

Juniel menutup matanya sebentar. Frustasi kiranya. Nilainya kini benar-benar menurun.Apa karena ia sering memikirkan pria itu?

 

Juniel membuka matanya perlahan. Apa yang sedang dilakukan pria itu sekarang? Apaia juga merasakan penat dan frustasi sama sepertinya?

 

Juniel perlahan menoleh ke arah dimana pria itu duduk Yup, dia salah. Pria itu terlihattenang dan bahkan menurutnya hidup pria itu damai tanpa merasa ada hal yangmengganjal.

 

Inii menyebalkan.

 

Rasanya Juniel ingin menangis sekarang. Apa pria itu tidak mencintainya? Lalu apaanggapan pria itu tentang dirinya? Tak ada penyesalan sama sekali? Apa ia tak merasakesepian? Atau jangan-jangan ia memiliki gadis lain?

 

Juniel mengusap matanya berair. Baiklah sangat berair hingga ia tak bisamenyembunyikan air matanya.

 

“Nona Juniel? Anda baik-baik saja?”

 

Juniel kini menatap Nyonya Lee (gurunya) yang sedang memperhatikannya saat ini.baiklah ia tertangkap basah. Semua orang menatapnya bingung. Juniel tak bisa lagimenutup rasa malunya. Sungguh, ini waktu yang tidak tepat.

 

“Nona Juniel?”

 

“Maaf, songsaenim..”

 

Juniel terkejut saat seorang pria angkat bicara. Pria itu berjalan mendekati bangku Juniel.Ia mengusap pucuk kepala Juniel perlahan.

 

“Maaf Songsaenim, mungkin hari ini ia tidak enak badan. Akan saya antarkan ia keruang kesehatan. Permisi,” ucap pria itu. Tanpa satu kata persetujuan dari Nyonya Lee,pria itu mulai membantu Juniel untuk keluar dari kelas mereka tersebut.

 

Juniel tak bisa berkata apa-apa sekarang. Ya, Jonghyun berada di sampingnya sekarang,memegangi kedua pundaknya, membantunya untuk berjalan. Tak ada satu katapun yangkeluar dari bibir keduanya.

 

Juniel berulang kali mengusap mata juga wajahnya yang sempat basah karena air matadengan sapu tangan miliknya. Juniel bahkan tak mau memandang pria yang adadisebelahnya.

 

Banyak alasan yang membuatnya tak bisa melakukan apa-apa. Ya, rasa gengsinyaselama ini, juga sedikit rasa bersalahnya yang memulai perang dingin ini.

 

“Baiklah, kau istirahat sana,” ucap pria itu saat keduanya tiba di depan ruang kesehatan.Juniel masih terdiam. Ia tak bisa melakukan apa-apa ataupun mengucapkan apa-apa.

 

“Ini,” tambah pria itu seraya menyerahkan sebuah lipatan kertas kepada Juniel. Junielkini mau mendongakkan kepalanya sekedar menatap Jonghyun. Pria itu tersenyum.

 

“Ambilah,” ucap pria itu sekali lagi. Dengan sedikit ragu, Juniel mengambilnya. Pria itutersenyum puas. Iamengayunkann telapak tangannya lalu berjalan pergi meninggalkanJuniel.

 

 

14 Maret. Bukankah ini sudah genap dimana Juniel dan Jonghyun melalui perang dingin?Ya, benar memang. Juniel menatap sebuah lipatan kertas yang diberikan Jonghyunkemarin pagi. Dan ia tidak pernah membukanya. Ia terlalu takut untuk membaca atausekedar mengetahui isi dari lipatan tersebut.

 

Sebuah permintaan maaf mungkin? Atau sebuah kalimat dimana dia mengakhirihubungan mereka dan mengatakan kalau dia memiliki gadis lain?

 

Baiklah, ia sebenarnya tidak suka menebak-nebak. Juniel memutuskan untuk membukalipatan kertas tersebut.

 

‘Juniel-ah.. Datanglah ke aula sekolah besok. aku akan menunggumu jam 7 malamdisana’

 

Kedua mata Juniel membulat. Jam 7 maam? Jam berapa sekarang?

 

Juniel melirik jam dinding berwarna merah muda miliknya. 18.50 kst. Baiklah ia belumterlambat kiranya untuk menemui pria itu sekarang. Ia beranjak dari tempat tidurnya,memakai scraf miliknya dan dengan cepat ia melangkahkan kakinya pergi. . . . . . . Junieltelah tiba di depan sekolahnya. Terlalu gelap kiranya untuk datang di gedung besar ini.Apalagi ia sendiri. Apa aula sekolah dibuka pada malam hari?

 

Sedikit aneh sekiranya, pria itu memintanya untuk bertemu di aula sekolah. denganyakin, gadis itu melangkahkan kakinya menuju aula sekolah. Ia sebenarnya takut beradadi tempat gelap, dan ia sangat membenci kalau ia harus berjalan di koridor sekolahsendirian. Tapi ia masih beruntung. Beberapa lampu sengaja dinyalakan oleh penjagasekolah. Cahaya bulan juga membantu pengelihatannya kini.

 

Beberapa cerita tentang hantu-hantu yang ada di sekolahnya, sempat membuatnya inginpulang ke rumah. tapi entahlah, sarafnya memintanya untuk tetap berjalan dan menemuipria itu. Tapi, apakah pria itu masih menunggunya?

 

Ini bukanlah pukul 7 malam, ia terlambat hampir setengah jam untuk sampai di sini.Juniel membuka aula sekolah yang terlihat sangat gelap tersebut perlahan. Ia sengajatidak menutup pintu, agar ia terbantu untuk melihat sekeliling aula.

 

Sepi. Ia tak menemukan orang lain selain dirinya disini. Bahkan ia bisa mendengarsuara tapak kaki miliknya.

 

“Jonghyun-ah.. kau dimana?” ucapnya yang kali ini merasa ketakutan. suaranyamenggema. Ya, mengingat aula ini terlalu besar untuknya juga hanya ia seorang beradadi sini

 

Oke, ini sama sekali tidak lucu. Untuk apa ia berada disini? Jonghyun keterlaluan.rasanya Juniel ingin berteriak, menangis, entahlah. Ia merasa frustasi. dimana Jonghyunsebenarnya?

 

“Juniel-ah..”

 

Juniel terbelalak saat ia mendengar seseorang memanggilnya. Ia mencari sumber suara.tapi hasilnya nihil. Ini terlalu gelap. Ia tak bisa melihat apapun di sini.

 

“Ya! jangan membuatku takut,” ucap Juniel setengah berteriak. Sekali lagi, dinding aulamemantulkan suara miliknya.

 

Tiba-tiba dua buah lampu sorot mulai bercahaya. Sangat tetang. Bahkan Juniel tak bisamenatap dua buah lampu sorot tersebut akibat sinarnya yang membuat matanya perih.Lampu sorot tersebut bergerak perlahan. Hingga cahayanya berhenti pada satu tempat.Ya, sebuah panggung aula sekolahnya.

 

Mulut Juniel sedikit menganga. Saat ia menangkap sosok pria di panggung tersebut.Sosok pria yang sangat ia kenal. Pria itu tengah duduk di sebuah kursi dengan gitarakustik di pangkuannya. Tangan kanannya sudah siap untuk memainkan sebuah nada.Sebuah penyangga mic juga tersedia di hadapan pria itu.

 

 

Juniel tak bisa mengatakan apa-apa sekarang. Terharu? Senang? Entahlah. Pria itutersebut tersenyum lebar. Dengan serius, ia mulai memainkan gitarnya. Sebuah alunanlagu yang tak asing bagi Juniel. Ya, lagu yang amat mereka sukai. Lagu yang seringmereka nyanyikan bersama.

 

‘gyeoul hyangi georie peojimyeon saehayan nuni naerigo nado moreuge geudaelhyanghan nae balgeoreum

 

deurama sok juingongcheoreom saehayan nunkkot gireseo du son kkok japgo durihamkke geotgo sipeo

 

eotteoke hamyeon geudae useojulkka (I think I love you, maybe is it real) eotteokehamyeon nae mam badajulkka (Is it love?)’

 

Suara merdu Jonghyun seakan membius Juniel. Ia tak bisa berbuat apa-apa sekarang.Terkadang ia tersenyum, tertawa, menangis, mengusap air matanya juga menutupwajahnya karena haru. Ya, ia terharu. Jonghyun tak pernah melakukan ini sebalumnya.Lagu ini. Ya, lagu ini sangat mereka sukai. ia ingat, ia dulu sering menyanyikannyabersama pria itu.

 

Sungguh, jantungnya berdebar tidak terkontrol saat ini. Pada setiap senyum yangdiberikan Jonghyun padanya, membuat dirinya melayang entah kemana.

 

nuni wa sarangi wa hayake naeryeowa keuriseumaseu seonmulcheoreom baradeongeudael mannage doen geojyo baby hangsang naega kkumkkudeon sarang neulgeuryeowatdeon sarang baro geudaejyo oh oh…’

 

Pria itu tersenyum lebar saat tangannya berhenti memainkan nada miliknya. Dan sekalilagi Juniel masih terdiam di tempat ia berdiri. Menatap pria itu seperti orang bodoh.Jonghyun meletakkan gitar miliknya dan berjalan menuju dimana Juniel berdiri. Sebuahsenyum muncul di wajah Juniel saat mereka sangat dekat.

 

“Kau menyukainya?” tanya pria itu dengan suaranya yang lembut. Beberapa anggukanJuniel tunjukkan. Air mata harunya masih enggan untuk berhenti. Juniel memukulpundak Jonghyun keras.

 

“Kau bodoh!” ucap Juniel kesal. Jonghyun hanya meringis sedikit kesakitan. Iamengelus pundaknya.

 

“Mianhae.. kau tak mau mendengarkan penjelasanku sama sekali,”

 

“Kau tahu, kau tidak peka!” ucap Juniel jauh lebih keras. Jonghyun hanya tertawamelihat reaksi gadis yang ada di hadapannya tersebut.

 

“Aku tahu. Maka dari itu, aku membawamu ke sini. Sebentar, Ya! Hyung! Keluarlah!”

 

Dan seketika sosok pria lain muncul pada salah satu sisi gelap di ruangan. Ia tersenyumlebar saat melangkahkan kakinya menuju Jonghyun juga Juniel. Ia membawa sertabeberapa kantong yang sempat Juniel lihat sebelumnya. Ya, sebulan yang lalu.

 

“Juniel-ah, maaf sebenarnya.. saat itu aku meminta Jonghyun untuk menemuiku. Kautahu, hidup sebagai orang terkenal memang susah,” ucap pria itu membanggakan diri. Iaterkekeh atas apa yang baru ia ucapkan. Ya, Jung Yong Hwa memang terkenal dikalangan siswi di sekolah. Ia seorang vocalist juga seorang guitarist. Siapa yang taksuka dirinya.

 

“Aku meminta Jonghyun untuk membantuku melarikan diri. Sebagai ucapan terimakasih, aku memberikan beberapa cokelat untuk Jonghyun,” imbuhnya. Juniel terdiamtapi sesegera mungkin sebuah senyum ia tunjukan. Ia senang. Kiranya Jonghyun takmendapatkan cokelat dari beberapa gadis di luar sana yang juga menyukai Jonghyun.

 

“Dimana cokelat pemberianku?” tanya Juniel tiba-tiba. Jonghyun mengeluarkan sebuahkotak kecil dari sakunya. Ia tersenyum.

 

“Aku sudah memakannya setengah. sebenarnya aku ingin berbagi denganmu, tapi kukiraini basi. menurutku, kau..”

 

Juniel memeluk Jonghyun erat. Terlalu banyak yang dikatakan pria itu saat ini. Ia takmau mendengarnya sekarang. Ia hanya mau menumpahkan rasa rindunya denganmemeluknya seerat ini. Ia tak tahu seberapa besar rasa rindunya, karena rasa itu terlalubesar. Ia tak peduli bila seniornya melihat adegan ini. Ia tak peduli.

 

Jonghyun tersenyum. Ia membalas pelukan gadisnya tersebut. Mengelus punggunggadis itu perlahan. Ia juga merindukan gadis ini. Lelah rasanya menunggu hari ini hanyauntuk menjelaskan semuanya.

 

“Maaf tentang valentine pertama kita yang gagal. Paling tidak aku bisa membayarnya dimomen white day ini,” ucap pria itu tenang. Juniel yang mendengarnya tersenyum puas.Ya, ia sangat bahagia sekarang.

 

“Happy white day Juniel-ah, aku mencintaimu,” tambah pria itu seraya mengecup pucukkepala gadisnya tersebut. Sungguh, kata itu yang sangat ingin Juniel dengar. Sebuahpernyataan yang mewakili perasaan pria yang ia peluk. Juniel mempererat pelukannya.Ia tak mau pria tersebut pergi. Pria itu hanya miliknya.

 

“Ya! kalian sedang apa! Ya! Ya!”ucap pria yang daritadi hanya memandangi sepasangkekasih tersebut. Kehadirannya seakan tak dibutuhkan sekarang. Sungguh ia nampajbodoh dengan tetap membawa kantong cokelat yang diminta Jonghyun. . . . .

 

 

 

 

-Tamat-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s