One Shoot · PG · Romance

Hey.. I Miss Yo…


Hey.. I Miss You

Cast: Kim Hyung Jun (SS501)

Choi Jihyun

Author: Tsara Shofura

Genre: Romance

Annyeong Readers!!! Admin back.. ff ini karya author Tsara.. yang mau baca silahkan dan harap tinggalkan komennya.. ^^

Seorangpria berjalan sedikit gusar melihat sekelilingnya. Sesekali iamengintip jarum jam tangan yang ia pakai. Ia menarik nafas panjangdan membuangnya keras.

“Haaaah..ish, bagaimana aku bisa sampai tepat waktu?” pria itu mengacakrambutnya kasar. Ia melanjutkan kembali langkahnya. Menarik koperberukuran sedang miliknya kasar. Tibalah ia pada antrian yang cukuppanjang. Ya, pembelian tiket pesawat keberangkatan terakhir hari itu.

“Ish..”ia menggerutu. Wajahnya tampak kesal juga cukup lelah kiranya. Iamenghirup udara dalam-dalam. Menutup matanya cukup lama. Mencobamenenangkan dirinya sebentar.

“Ahjussi,majulah! Perhatikan arah depan!” pria itu membuka matanya paksa.Ya, ia gagal menenangkan dirinya.

“ah,maaf maaf..” pria itu membungkuk tepat 90 derajat pada gadis yanglebih muda darinya itu. mencoba tersenyum walaupun serasa pahit,karena baru saja ia dipanggil ahjussi oleh gadis korea itu.

Iamaju selangkah lagi. meski ia bisa maju selangkah, tapi antrian inimasih cukup panjang untuknya.

“drrrdd..ddrrrddd”

Ponselpria itu bergetar, pertanda sebuah panggilan baru saja masuk.Wajahnya sedikit takut saat sebuah nama muncul pada layar ponselnya.

AnnyeonghasimnikkaKim Hyung Jun oppa. Kau ada dimana?”tanya seseorang di seberang sana. Seorang gadis kiranya. Suarasedikit parau tapi bisa terdengar sekaligus manja.

“a..anyeongJi Hyun ah. Baru saja bangun kah? Haha..” jawab nya yang mencobatidak terjadi apa-apa.

oppa,jangan bilang kau masih berada di Eropa sekarang?”

“hmm?Haha. E..em, bagaimana kau tahu?” ia mulai kelagapan. Setidaknyakeringat dingin mulai memenuhi jidatnya kini.

MWOYA?!Oppa! Aku sudah bilang aku ingin kita makan siang bersama hari ini!Aku ingin kau pulang cepat!…………….

……….…” panggilan terputus.

HyungJun mendengus. Sedikit berat untuknya hari ini. Ya, jadwalpekerjaannya yang cukup padat di Eropa hampir saja membunuhnya danlagi.. ya siapa lagi kalau bukan gadis yang ia sayangi itu.

“Ish….”Ia pasrah. Satu-satunya harapan adalah tiket pesawat yang ada padaujung antrian ini.

Matanyaseketika berbinar saat wajah sang petugas berada di depannya.

”Bisasaya bantu?” tanya seorang bertugas berambut blonde menyambutnya.

“Satutiket menuju Seoul. Masih adakah?” tanya Hyung Jun dengan bahasaasing yang cukup baik.

“Ya,tuan. Pesawat akan berangkat satu setengah jam lagi,”

“Mwo?Ish…” hari ini ia benar-benar menagalami hari terburuk dihidupnya.

“Bagaimana?”

“Ya,saya pesan satu,”

30menit berlalu..

HyungJun duduk di bangku tempat menunggu dengan menahan semua rasakantuknya. Ia menguap berkali-kali, tapi ia tetap berusaha untuktetap terjaga.

Iamengambil ponsel di saku kanannya dan menekan beberapa nomor.

“yaa..jagiya,jangan menutup telponnya seperti tadi,” ucapnya saat Ji Hyun calonistrinya menjawab panggilannya di seberang sana.

Oppa,aku merindukanmu..”

Iaterkekeh. Setidaknya suara gadis itu bisa membuat harinya sedikitmembaik.

“Nado..aku sangat sibuk di Eropa, aku memaksakan diri untuk pulang,”

Yaa!Jangan bilang kau pulang karena terpaksa!”

“Bu-bukan..ish, maksudku aku ingin pulang cepat. Jadi, aku meminta untuk pulanglebih awal,”

arasseo…”

HyungJun bisa bernafas lega sekarang.

Bagaimanakeberangkatannya?”

HyungJun menatap jam tangannya kembali.

“Satujam lagi. Disini sudah pukul 1 pagi,”

Ish..aku tidak mau tahu, kau harus cepat berada di sini. Jangan matikanponselmu, aku akan menelponmu lagi nanti…

.”

“Bagaimanabisa dia matikan telpon dengan sekejam itu lagi?” Wajah Hyung Junkembali kusut. Lemas rasanya dengan reaksi keakasihnya. Ia tak pernahsemarah itu sebelumnya

Ish..dia sedang datang bulan mungkin, pikirnya dalam hati. Ya, tak sepertibiasanya Choi Ji Hyun bertingkah seperti itu. mungkin karena iaterlalu bosan menunggunya selama ini.

Ting

……………………..

……….Maaf,untuk semua penumpang pesawat XX Airlines, karena terdapat gangguancuaca, keberangkatan akan kami undur sekurang-kurangnya satu jam.Kami mohon maaf sebesar-besarnya. Atas perhatiannya, kami ucapkanterima kasih……….

……………….

Ting…’

“Tuhan,kau sedang marah padaku? Aigoo…”

HyungJun menepuk dahinya berulang-ulang. Entahlah, ini sebuah hukuman/?Untuknya mungkin.

___

Setelahberjam-jam ia menahabiskan waktu untuk menunggu keberangkatanpesawatnya, setelah berjam-jam ia duduk di bangku pesawatnya dengantetap terjaga, akhirnya ia tiba di depan sebuah pintu bewarna merah.Ya, kamar apartment milik calon istrinya Choi Ji Hyun.

cklek’

JiHyun lupa mengunci pintunya mungkin, pikirnya dalam hati. Hyung Junmembuka pintu dengan sangan sangat perlahan. Bahkan ia tidak menarikkopernya, ia mengangkatnya agar tidak menciptakan suara apapun.

Suasanaapartment yang sedikit gelap, menghalangi pandangannya kini. Iameletakkan koper miliknya asal, dan mencoba menemukan Ji Hyun.iaberjalan menuju kamar milik Ji Hyun. Dan benar, ia melihat Ji Hyunsudah terlelap rupanya.

Iakini bisa bernafas lega.

Iakembali melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu. Ia melemparkantubuhnya pada sofa berwarna cream itu. menggeliat sebentar danmencoba menutup matanya.

“drrrdd…drrrddd..”

“Bisakahaku menutup mataku sejenak?!”

Iamerutuk oleh getaran yang dihasilkan ponselnya. Ia mengambilponselnya malas. Ternyata bukan sebuah panggilan, melainkan beberapasms yang masuk dengan terkesan meneror.

15messages..

Sebuhterror yang mengerikan yang tertuju padanya.

Oppa!Kau mematikan ponselmu eoh? Aku tidak mau tahu, kau harusmenghabiskan makan malam yang aku siapkan!’

HyungJun menelan ludahnya sedikit berat.

Ya,ia berada di pesawat beberapa menit yang lalu. Ia lupa memasangairplane mode, tapi ia malah meatikan ponselnya. Baiklah mungkintanpa sadar, karena ini hari yang sangat berat untuknya. Maka iatidak bisa fojkus sama sekali.

Iamenengok ke arah meja makan yang tidak terlalu jauh dari ruang tamu.Ia berjalan malas ke arahnya. Menarik sebuah kursi dan mendudukinya.

“makananyang sangat banyak Ji Hyun-ah..” bukanlah sebuah pujian, tapisebuah penyesalan. Ya, Ji Hyun memasakkan terlalu banyak makananuntuknya.

Iamulai menyantap bulgogi yang sekiranya sudah dingin dengan semangkukberisi nasi. Mencoba menghabiskannya sendiri.

“Aish..kimchipada tengah malam, huh?”

HyungJun mendengus kesal. Tapi ia tetap memakannya.

“Oppa..”

“Ah..J-Ji Hyun?”

JiHyun melangkah malas pada pria yang sibuk dengan sumpitnya. Iamengalungkan lengannya pada pria itu.

“Bogoshippo..kenapa kau meninggalkanku begitu lama?” ucapnya manja. Pria itutersenyum. Ia merasa lega karena Ji Hyun tidak marah lagi, mungkin.

“Mianhae..karena aku terlalu sibuk,”

“hmmm..oppa, apa kau lelah?” tanyanya melepaskan lengan miliknya pada priaitu. Hyung Jun mengangguk lemas. Matnya kusut.

“Maukupijat?” gadis itu berjalan menuju sofa ruang tamu muliknya.

HyungJun meletakkan sumpit dan sendok miliknya. Ia mengikuti langkah gadisitu menuju sofa. Dan mendudukkan dirinya disana.

Gadisitu memulai memijit telapak kaki pria itu pelan. Hyung Jun terlihatmenikmatinya.

“Kautahu, aku hampir mati kebosanan karena kau tidak ada,”

HyunJun terkekeh pelan.

“Mianhae..aku benar-benar sibuk. Aku bekerja keras, untuk segera mendapatkanpromotion pada kedudukan selanjutnya.”

“Kaulebih memilih promotion daripada aku?” Gadit itu memijit Hyung Junkeras. Pria itu terlihat kesakitan.

“a-aniyo..kita akan menikah segera bukan? Aku berusaha untuk mendapatkanpekerjaan yang lebih baik untukmu..” Hyung Jun menjawab denganpenuh hati-hati.

“Arasseo.. Jangan meninggalkanku lagi selama ini,” Gadis itu kembali memijat.Kini bpada bagian betis.

“Hehe..padahal sebulan lagi, aku akan pergi ke Cina dua minggu lamanya,”ucap Hyung Jun setengah berbisik. Ia mencoba menutup matanya.

“Ya!Berani kau meningglakanku lagi hm?” Gadis itu bersungut-sungut.Hyung Jun terbelalak karenanya.

“A..aniya,m-maksudku..” Hyung Jun kelagapan. Gadis itu beranjak dan berjalancepat ke arah kamarnya.

“Ja-jagiyaa..”

‘brukk’

Gadisitu membanting keras pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam.

“Ish..jangan marah padaku lagi,” Hyung Jun memelas. Jika bisa, ia inginmengangkat pintu kamar itu dengan kedua tangannya dan ia bisa tidurdengan Ji Hyun di kasur empuk itu bersama.

“Kautidur di luar!”

“Diluar? Ya! Ya!” Hyung Jun mengetuk pintu kamar itu berulang-ulang.Tapi Ji Hyun tidak menghiraukannya sama sekali.

HyungJun dengan perasaan yang berat berjalan meuju sofa cream itu,membuang tubuhnya pada sofa itu. merenggangkan tubuhnya. Dan mulaimenutup matanya.

“Palingtidak, aku bisa tidur..”

Denganperasaan berat, ia mencoba tidur.

“Hariini menyebalkan!!!” ucap Hyung Jun setengah berteriak. Ia mengacakrambutnya kesal.

“Berisik!”

“A-ah..mianhae… menyebalkan.” ucap Hyung Jun lebih pelan kali ini. Yangterkesan seperti berbisik.

.

.

.

ChoiJi Hyun menatap pintu kamarnya yang ia kunci tsedari tadi. Sudahsekitar 2 jam yang lalu, ia mengunci pintu itu dan meminta pria yang menyebalkan itu tidur di luar.

Ia mengusap matanya pelan. Berjalan perlahan menuju pintu kamarnya dan membukanya pelan. Ia memeandang pria yang terpulas di sofa cream miliknya. Pria itu terlihat kelelahan. Terkadang suara dengkuran terdengar dari bibir pria itu.

Gadis itu tersenyum. Ia sadar ia sudah keterlaluan hari ini. Tapi,merasakan kesepian adalah hal terburuk yang pernah ia rasakan.

Gadis itu mengambil sehelai selimut dari kamarnya dan menyelimutkannya padapria itu. Mengelus rambut pria itu dengan perlahan. Ia tak mau membangunkan pria itu. ya, ia tak mau hal itu terjadi.

Perlahania mengecup kening pria itu. Pria itu hanya menggeliat pelan. Sungguh reaksi yang sangat ia rindukan. Ia ingin memeluk pria itu. Tapi tak mungkin. Ia terlalu iba melihat pria itu kelelahan. Ya, ia tak mau mengganggu tidur pria itu.

Biasan cahaya mengenai wajah pria yang tengah terlelap. Ia menghalangi cahaya itu dengan selimut yang ia kenakan. Ia menggeliat pelan.Tunggu sebentar, selimut?

“Kau sudah bangun oppa?” suara seorang gadis menyadarkannya. Hyung Jun mencoba membuka matanya yang terasa sangat berat. Hyung Jun nengusap matanya, mengumpulkan kefokusannya. Ia melihat gadis yang berada didapur kini. gadis itu tengah menyiapkan sesuatu.

HyungJun memaksakan dirinya berjalan menuju gadis itu. memeluknya dari belakang dan menyandarkan kepalanya pada pundak gadis itu. sudah aman kiranya, itu menurut Hyung Jun. dan benar saja, gadis itu tidak melakukan penolakan.

HyungJun mengecup leher gadis itu pelan. Seakan ia sangat merindukan gadis itu.

Gadis itu tersnyum.

“Aku membuatkanmu Japjae, kau suka masakan ini kan?” gadis itu mengeluspucuk kepala pria itu lembut. Ia sama sekali tidak merasa risih tentang apa yang pria itu lakukan padanya.

Priaitu mengangguk pelan. Dengan suara manja yang sungguh seperti bukan dirinya. Gadis itu terkekeh.

“apakau ingin memelukku seperti ini terus? Aku harus meletakkan ini dimeja makan,” Pria itu tertawa kecil dan melepaskan pelukannya. Ia berjalan menuju bangku di meja makan dan mendudukinya. Wajahnya masih terlihat kelelahan.

“Oppa,mandilah dahulu. Barulah kau makan,” Choi Ji Hyun meletakkan masakannya di meja. Hyung Jun menurut dengan apa yang dikatakan ChoiJi Hyun padanya. Ia berjalan menuju kamar mandi.

HyungJun keluar dari kamar mandi dengan kaos yang sudah disiapkan Choi JiHyun sebelumnya. Ia mendekati Ji Hyun yang tengah duduk di mejamakan. Ia menduduki bangku yang berada pas di depan gadis itu.

“Maaf tentang apa yang aku lakukan. Aku membuatkan ini special untukmu. Buka mulutmu, aaahhh..” ucap Ji Hyun seraya mendekatkan sumpit dengan japjae disana. Hyung Jun membuka mulutnya dengan senang hati dan melahap japjae itu. Ia tersenyum saat rasa yang beran-benar enak memenuhi mulutnya.

Gadisitu tersenyum puas.

“Kau tahu, aku tidak suka sendirian. Itu bisa membunuhku secara perlahan..”

Gadis itu menutak-atik japjae yang ia bawa dengan sumpit miliknya. Ia mengerucutkan bibirnya.

“Tapi aku tahu aku salah. Menghukummu dengan berlebihan. Aku tahu ini untuk kebaikan kita…” tambah gadis itu dengan sedikit penyesalan dikata yang ia ucapkan. Matanya masih terfokus pada japjae yang ia bikin.

“Maka dari itu..” gadis itu geram saat mendapati pria yang adalah lawan bicaranya sedang tertidur pulas dengan beralaskan lipatan lengan miliknya.

“yaa!Oppa, kau menyebalkan!” Choi Ji Hyun berteriak. Membuat si pria terbangung secara paksa.

Gadis itu berjalan keluar dari kamar apartment miliknya tanpa memperdulikan pria itu.

JiHyun berjalan asal. Menendang-nendang batu-batu kecil yang menurutnya menghalanginya. Ya, mood nya tidak baik saat ini. Seharusnya ia lebih dewasa untuk menyikapi segala sesuatu yang dihadapinya, tapi HyungJun..

JiHyun mengerucutkan bibirnya kesal. Ia telah membuatkan sarapan untuk pria itu, tapi kenapa pria itu tetap bertingkah menyebalkan.

Kaki-kaki kecilnya membawa tubuhnya entah kemana. Kali ini pikiran dan kakinyatidak setuju untuk menentukan arah ia pergi. Ji Hyun membuang nafas panjangnya. Matanya menatap liar kearah sekelilingnya. Kini matanyatertuju pada sebuah taman bermain. Taman yang berukuran sedang.

JiHyun menapakkan kakinya menuju taman itu sendiri. Agak malas kiranya.Tapi ia butuh menenangkan hatinya kali ini.

JiHyun mendudukkan dirinya pada sebuah ayunan berwarna jingga itu. menggerakkan tubuhnya ke depan dan ke belakang perlahan. Keduatangannya memegang pegangan pada ayunan itu.

Ia ingat. Dulu sewaktu ia dan Hyung Jun masih duduk di bangku kuliah,mereka sering pergi ke tempat ini. Ya, tempat ini.

JiHyun tersenyum tanpa sadar.

.

.

.

Oppa!”

hehe..kejar aku kalau bisa!” Seorang pria berlari dengan kecepatan sedang. Kaki panjangnya membuat ia berlari jauh meski kecepatan yang ia miliki tak seberapa. Pria itu melihat ke arah belakang di mana seorang gadis yang lebih muda darinya, tengah mengatur nafasnya.

Pria itu menghentikan langkahnya. Berjalan menuju gadis itu.

Kau tahu kalau aku paling payah saat berlari? Aku bisa mati karena mengejarmu,” celetuk gadis itu kesal. Ia mengerucutkan bibirnya kesal.Ia tampak lucu saat melakukannya.

Priaitu mengusap pucuk kepala gadis itu pelan. Kemudian ia menundukkan tubuhnya dan membelakangi gadis yang lebih pendek darinya itu.

Mauku gendong?” tanya pria itu menggoda. Gadis itu tersenyum lebar saat pria itu yang yang tak lain adalah kekasihnya. Ia melompat girang ke punggung pria itu.

kajja!”

.

,

Ia sadar, dahulu ia sangat manja. Mungkin tidak hanya dulu, hingga sekarang. ia sangat bergantung pada pria itu. ia hanya ingin bersama dia. Bila ia hidup untuk kedua kalinya, ia tetap ingin bersamanya.

“Apa aku terlalu berlebihan kali ini?” tanyanya dalam hati. Ia tahu,Hyung Jun bahkan tidak pernah mengeluh sedikit pun saat ia kelelahan.Tak pernah mengeluh sedikit pun saat ia ingin sendirian. Tak pernahmengeluh sedikit pun saat ia sibuk.

JiHyun mengeluarkan ponsel miliknya. Sebuah gambar dirinya dan pria itumuncul di layar posel miliknya. Ia tersenyum. Ya, ia sangat merindukan pria itu. ia tak mau menghilangkan kesempatan untuk menghabiskan waktu dengan pria itu.

“Oppa…”Ji Hyun memasuki kamar apartmentnya. Ia mencari sosok pria itusekarang. ya, Hyung Jun. tapi tak ada jawaban setiap ia memanggil  nama pria itu.

Iameletakkan sebuah kotak berukuran sedang di meja makannya. Keadaanmeja makan sudah bersih. Mungkin Hyung Jun yang membereskannya, pikirnya.

JiHyun membuka pintu kamarnya yang tertutup. Membukanya perlahan dan iabisa melihat sosok pria tengah tertidur. Ya. Hyung Jun tukang tidur.Tak salah, ia bisa tidur selama itu.

JiHyun mendekati pria itu perlahan dan menidurkan tubuhnya tepat disamping pria itu. menarik selimut yang berada di tepi tempat tidurnya dan menyelimutkannya di tubuh pria itu juga tubuhnya.

HyungJun membuka matanya perlahan. Ia tersenyum.

“Sudahpulang hm?” tanya pria itu tenang. Gadis itu mengangguk pelan Ia membalikkan tubuhnya tepat kearah pria itu menatapnya. Pria itu kembali menutup matanya. Ji Hyun membelai rambut pria itu perlahan. Beberapa bulir keringat turun dari helai rambutnya. Bibir pria itu sedikit pucat kiraya.

“Oppa,kau sakit?” Ji Hyun sedikit terkejut saat punggung tangannyamenyentuh dahinya. Ya, demam. Hyung Jun tersenyum.

“Hanya demam. Mungkin aku terlalu lelah,” pria itu mengetatkan selimutnya.

JiHyun merasa bersalah karena memarahinya. Bersalah karena meninggalkannya tadi. Ji Hyun kemudian berjalan keluar dari kamar tersebut. Entah apa yang tengah ia lakukan.

Beberapa menit berlalu. Ji Hyun kembali ke kamar dengan sebuah nampan yang berisikan teh hangat juga sepotong cake tiramisu di atasnya.

“Oppa,kau sudah minum obat?” Ji Hyun meletakkan nampan itu di atas mejadekat tempat tidurnya. Ia mengambil segelas the dari sana.

HyungJun mengangguk pelan. Pria itu mendudukkan dirinya di tampat tidur.Menyandarkan punggungnya pada tepi tempat tidur. Ia terbatuk.

Airmuka Ji Hyun berubah. Sedih kiranya. Ia tak suka melihat pria itusakit.

“Minumlahoppa,” ia memberikan the hangat pada Hyuing Jun. Hyung Junmeneguknya perlahan.

“Terimakasih,” pria itu tersenyum saat cairan itu berhasil menghangatkantubuhnya.

“Akumembelikanmu cake favoritmu,” Ji Hyun kembali tersenyum sembarimembawa piring yang di atasnya terdapat cake bewarna cokelat mudairu. Ji Hyun memotong cake itu dengan garpu di tangannya.

“Aaa..”ia menyodorkan potongan kue itu di depan bibir Hyung Jun. pria itumembuka mulutnya dan melahapnya.

“Akuminta maaf karena sikapku, oppa..”

HyungJun tersenyum. Ia mengerti betul gadis di hadapannya kini. Mengerti  kalau gadis ini sangat manja dan sangat bergantung padanya. Hal itu mengganggu? Tidak. Baginya, ini yang membuat gadis ini mempesona.

HyungJun merebut piring yang ada di tangan gadis itu. memotong cake tiramisu itu dengan garpu. Ia menyodorkan potongan cake itu pada JiHyun. Dengan senang haati gadis itu membuka mulutnya. Ia senang kiranya, Hyung Jun tidak marah. Mungkin lebih tepatnya tak pernah marah atas apa yang selalu ia lakukan pada pria itu.

“Aku senang kau tidak marah,” Ji Hyun tersenyum puas. Melihat reaksi Hyung Jun kepadanya. Ya, Hyung Jun tak banyak bicara saat ini,mungkin karena kondisinya tidak baik saat ini.

HyungJun menyododorkan potongan kue kedua untuk gadisnya. Tak lupa sebuah  senyuman nampak di wajah masculine nya. Ji Hyun untuk kedua kalinyamembuka mulutnya dan melahapnya.

“Caketiramisu itu untukmu oppa, bukan untukku,” Ji Hyun mencoba berbicara dengan mulut yang terisi penuh saat ini. Hyun Jun tersenyum melihat bibir gadis itu berusaha keras mencegah cake itu keluar dari mulutnya.

“Kata siapa aku memberikannya untukmu?” Hyung Jun menaikkan salah satu ujung bibirnya jahil.

HyungJun mendekatkan wajahnya pada gadis itu dan menempelkan bibirnya perlahan. Ji Hyun sedikit terkejut saat Hyung Jun melakukannya. Sensasi hangat pada bibir Hyung Jun membuatnya merasa nyaman. Mungkin karena Hyung Jun demam. Ia melumat pelan bibir bawah gadis itu. berharap Ji Hyun membuka mulutnya. Ji Hyun membuka mulutnya sedikit sama seperti apa yang diinginkan pria itu. membagi potongan kue yang ada di mulutnya dengan Hyung Jun.

“Tiramisunya lebih enak bukan?” Hyung Jun tersenyum jahil saat melihat wajah JiHyun memerah saat ini.

“Oppa!”Ji Hyun memukul lengan pria itu pelan. Hyung Jun  hanya terkekeh. Priaitu meraih tubuh gadisnya dan memeluknya erat.

“Aku merindukanmu…” pria itu mengelus pelan punggung Ji Hyun. Ji Hyun menutup matanya perlahan. Merasakan kehangatan yang diberikan pria itu. ya, ia rindu pelukan pria itu.

“Nado oppa…”

.

.

.

.

-Tamat-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s